Anda di halaman 1dari 18

Morfologi Sungai

Tugas Rekayasa Sungai

disusun oleh:
Nama :
Endala Siboro
NIM :
1307114585

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
SEPTEMBER 2016

MORFOLOGI SUNGAI

A. Pendahuluan
Permukaan bumi, seperti yang diungkapkan oleh Chorley (1984), secara alami
mengalami erosi begitu muncul ke permukaan. Salah satu faktor penting penyebab erosi
yang bekerja secara terus menerus untuk mengkikis permukaan bumi, hingga sama
dengan permukaan laut adalah air. Air adalah benda cair, yang senantiasa bergerak kearah

Rekayasa Sungai 201


6
tempat yang lebih rendah, yang dipengaruhi oleh gradien sungai dan gaya gravitasi
bumi.
Menurut Sandy (1985), dalam pergerakannya air selain melarutkan sesuatu, juga
mengkikis bumi, sehingga akhirnya terbentuklah cekungan dimana air tertampung
melalui saluran kecil dan atau besar, yang disebut dengan istilah alur sungai (badan
sungai). Saluran air kecil dan atau besar yang saling ketemu membentuk pola aliran
sungai tertentu, yang dipengaruhi oleh jenis batuan dan bentuk

morfologi medan

(Thornbury, 1954; Barstra, 1982).


Lebih jauh Sandy (1985) menyatakan bahwa jenis batuan dan morfologi medan
badan sungai, selain mempengaruhi kerapatan aliran sungai, juga dapat mencirikan
karakteristik sungai yang meliputi perkembangan profil, pola aliran dan genetis
sungainya. Bumi adalah dinamis, dan material serta pembentukannya terus menerus
diubah oleh berbagai gaya/energi, seperti gravitasi, panas, dll. Perubahan mempengaruhi
aktivitas air yang mengalir di permukaan.

Suatu sungai akan berkembang dengan

sendirinya untuk mencapai kondisi keseimbangan (rejim). Pebentukan dimensi sungai


pada suatu keseimbangan sangat dominan dipengaruhi oleh variabel aliran dan hasil
sediment, serta ukuran dan distribusi bed load.

Rekayasa Sungai 201


6

B.
Pengertian
Morfologi
sungai

adalah

ilmu

yang
mempelajari
tentang geometri yaitu berbentuk dan ukuran. Jenis, sifat dan perilaku sungai dengan
segala aspek dan perubahannya dalam dimensi ruang dan waktu. Morfologi sungai ini
akan menyangkut juga sifat dinamik sungai dan lingkungannya yang saling terkait rapat.
Sungai akan leluasa dalam menyesuaikan ukuran-ukuran dan bentuknya baik bentuk
geometri atau kekasaran dasar sungai. Bagian dasar dan tebing sungai akan dibentuk oleh

Rekayasa Sungai 201


6
material yang diangkut oleh aliran sungai yang berasal dari pelapukan geologi pada
periode yang panjang.
C. Jenis Jenis Sungai
a. Menurut Jumlah Airnya
1. Sungai Permanen

Sungai Permanen adalah sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap.
Contoh :
Sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakam di Kalimantan.
Sungai Musi, Batanghari dan Indragiri di Sumatera.

2. Sungai Periodik

Rekayasa Sungai 201


6

Sungai Periodik adalah sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada
musim kemarau airnya kecil.
Contoh :

Sungai Bengawan Solo dan Sungai Opak di Jawa Tengah.

Sungai Progo dan Sungai Code di DI Yogyakarta.

Sungai Brantas di Jawa Timur.

3. Sungai Episodik
Sungai Episodik adalah sungai yang pada musim kemarau airnya kering dan pada musim
hujan airnya banyak.
Contoh :
Sungai Kalada di Pulau Sumba.

Rekayasa Sungai 201


6

b. Menurut Pola Alirannya

1. Pola Aliran Radial (Menjari)


aliran ini berbentuk seperti jari, dibedakan menjadi dua yaitu radial sentrifugal dan radial
sentripetal.
2. Pola Aliran Dendritik
Pola aliran ini tidak teratur, biasanya terdapat di daerah dataran atau daerah pantai.
3. Pola Aliran Trelis
Pola aliran sungai ini menyerupai sirip. Sungai semacam ini terdapat di daerah pegunungan
lipatan.
4. Pola Aliran Rectanguler
Pola aliran sungai ini saling membentuk sudut siku, pada daerah patahan atau pada batuan
yang tingkat kekerasannya berbeda.
5. Pola Aliran Anular

Rekayasa Sungai 201


6
Pola aliran ini merupakan pola aliran yang semula merupakan aliran radial sentrifugal,
selanjutnya muncul sungai subsekuen yang sejajar, sungai obsekuen, dan resekuen. Pola aliran
ini terdapat di daerah dome stadium dewasa.

D. Morfologi Sungai
Menurut Shen (1976) :
f{v, D, S, , , g, d, , s, sf, sR, sC, fs, cT} = 0
cT = konsentrasi angkutan bahan dasar,
v = kecepatan alir,
D = depth,
S = kemiringan garis energi,
= rapat massa campuran alir-sedimen,
= angka kekentalan dinamik aliran,
g = gaya percepatan karena gravitasi,
d = diameter bahan dasar (yang dianggap mewakili), ukuran/faktor
gradasi bahan dasar,
s = rapat massa sedimen,
Sf = faktor bentuk butiran,
Sr = faktor bentuk alur sungai,
Sc = faktor bentuk tampang sungai,
fs = gaya rembesan pada dasar sungai
Faktor bentuk alur sungai Sr merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan
karena adanya kehilangan energi akibat ketidak-beraturannya aliran pada sungai,
terutama oleh karena adanya belokan ataupun variasi kekasaran dan bentuk tebing
sungai .

Rekayasa Sungai 201


6

Berat Volume

(Density) pada sungai

sangat bervariasi sesuai dengan temperaturnya.

Kekentalan

dinamis

kekentalan

kinematis

merupakan

fungsi

temperatur dan pengaruh temperatur ini sangat signifikan.


Berikut merupakan kalsifikasi sungai berdasarkan morfologi sungai itu sendiri.
1. Straight
2. Braided
3. Meandering
4. Anastomosing

dan
dari

Rekayasa Sungai 201


6
Minnesota, USA

Sunwapta, Canada

Straight

Braided

Yukon, Canada

Colombia River, Canada

Mendering

Anastomosing

E. Pengaruh air dan sedimen pada morfologi sungai


Hubungan sederhana antara angkutan bahan dasar (Qs), diameter partikel sediment
(d50) dan kemiringan dasar sungai I seperti yang ditunjukkan oleh lane (1955) adalah
Qs x d50 = Q x I

Minnesota,

Tegangan geser yang terjadi pada sedimen di sepanjang dasar dan tebing sungai
merupakan faktor yang paling dominan terhadap terjadinya erosi
Apabila debit sungai bertambah, akan bertambah besar melampaui tegangan geser
ijin 0 dan erosi akan mulai terjadi. Pada keadaan ini air akan mulai mengikis dasar,
butir tanah akan terangkat oleh aliran air, di bawa ke arah hilir.
Pada pertambahan debit selanjutnya erosi akan menjalar ke seluruh tampang basah
sungai. Dan pada saat debit berubah menjadi kecil, bahan yang terangkut tadi akan
turun ( settling ) ke dasar sungai.

Rekayasa Sungai 201


6
Dengan demikian kemiringan dasar sungai akan selalu berubah karena proses
kontinyu erosi dan pengendapan tersebut.
Selama siklus ke tidakstabilan ini dimensi-dimensi geometri sungai akan cenderung
menyesuaikan aliran. Selain itu siklus erosi juga akan menimbulkan perubahan
kapasitas debit untuk membentuk kestabilan sementara.
Suatu kondisi di mana air tidak lagi mengangkut lebih dari batas tertentu disebut
kondisi aliran telah mencapai STC (satuan gram/liter/detik).
Apabila suatu aliran telah mengangkut beberapa meteral, aliran tersebut akan
meneruskan keaktifan mengerosi sampai tingkat STC. Dengan demikian air bersih
akan mempunyai daya erosi lebih besar daripada air keruh, sebaliknya pada saat STC
dicapai dan kecepatan rerata rendah.
F. Bentuk Sungai
Bentuk sungai biasanya dibedakan menjadi 3 yaitu :
Bentuk tampang lintang sungai
Bentuk tampang memanjang sungai
Pandangan atas sungai
Bentuk sungai tidak tetap, selalu berubah mengikuti karakteristik alami yang
merupakan faktor penting dalam konstribusi pembentukan sungai.

Rekayasa Sungai 201


6

Oleh perlakuan atau campur tangan manusia bentuk sungai lebih cepat mengalami
perubahan bentuk.Karakteristika alami tersebut adalah iklim dan fisiografi daerah di
wilayah sungai yang ditinjau, yang secara pembagian besar terdiri dari:
Topografi daerah aliran sungai
Formasi batuan (erosilitas tampang basah)
Iklim river basin/catchment area/daerah tangkapan hujan,
serta vegetasi river basin.
Berdasar lokasi sungai pada arah memanjang, maka tampang lintang sungai yang
berlokasi di bagian hulu relatif mempunyai bentuk V, sedangkan di bagian hilir relatif
mempunyai bentuk U.
Pada sungai yang berlokasi di bagian tengah, yang merupakan transisi dari dari
sungai terjal dan sungai landai, tampang lintang sungai dapat berbentuk V ataupun U.
Proses erosi vertikal lebih banyak terjadi di sungai yang berlokasi di bagian hulu, dan
sebaliknya proses erosi lateral lebih banyak terjadi di sungai bagian tengah/ hilir.
Belokan sungai lebih banyak dijumpai di sungai bagian tengah, di mana pada bagian ini
erosi lateral akan lebih berperan, dan sangat mengkontribusi pembentukan pulau
sedimen.
Perubahan bentuk akan lebih mungkin terjadi karena pemanfaatan sungai, misalnya :
scouring/gerusan pada pilar jembatan,
erosi pada bagian bawah/hilir bendungan,
garis pembendungan karena adanya pemanfaatan bataran sungai sehingga
tampang basah sungai menjadi berkurang.

Rekayasa Sungai 201


6
Sungai akan leluasa dalam menyesuaikan ukuran dan bentuknya, sebagai reaksi oleh
adanya perubahan kondisi dasar dan tebing.
Bagian dasar dan tebing sungai akan dibentuk oleh material yang diangkut oleh aliran
sungai, berasal dari pelapukan geologi pada periode yang panjang.

Ukuran dan bentuk sungai (tampang melintang, memanjang, dan pandangan atas) disebut
morfologi sungai.

Dinamis secara alami

Sifat iklim (hujan, cuaca, dll)

Kondisi lahan (struktur tanah, hutan penutup, dll)

Dinamis secara anthropogenic

Pemanasan bumi karena peningkatan aktivitas di bumi

Tekanan terhadap lahan (logging, pengembangan kawasan dan infrastruktur)

Rekayasa Sungai 201


6
G. Perilaku Belokan
Bentuk sungai secara umum dapat berupa salah satu dari berikut : meandering, lurus
dan braided.Sungai yang berbentuk meander adalah sungai yang mempunyai belokan
yang secara (kurang lebih) teratur membentuk fungsi sinus pada bidang datarannya.
Biasanya terdiri dari beberapa seri belokan yang dihubungkan oleh bagian yang lurus
yang disebut dengan crossing.
Meander sungai akan mempunyai kemiringan dasar yang sangat landai.Dasar sungai
pada sisi luar belokan umumnya akan lebih dalam karena adanya kecepatan yang lebih
besar pada sisi luar belokan tersebut.Gaya centrifugal pada belokan akan menyebabkan
timbulnya arus melintang sungai, dan bersama-sama dengan aliran utama membentuk
aliran helicoidal.
Besarnya kecepatan arus melintang berkisar antara 10 15% dari kecepatan pada
arah utama aliran (Kinori, 1984 dan Legono,1986), dengan ciri bahwa di dekat
permukaan, arus melintang bergerak ke arah belokan dalam. Pada sungai yang
bermeander, secara umum erosi akan terjadi pada sisi luar belokan, dan pengendapan
akan terjadi pada sisi dalam belokan. Dampak utama akibat aliran helikoidal ini adalah
terjadinya serangan pada tebing sungai pada sisi luar belokan, serta pengendapan atau
sedimentasi pada dasar sungai didekat sisi dalam belokan. Harus diperhatikan pada
kegiatan penetapam tata letak bangunan yang pemanfaatan sungai direncanakan (misal
bangunan sadap atau intake, dll.), sebaiknya ditempatkan pada sisi luar belokan.
Besarnya kecepatan air pada arus sekunder akan tergantung pada :
1. Re = Reynolds Number
2. Posisi dibelokan ( pada awal belokan atau akhir belokan atau di antara belokan
awal dan belokan akhir
3. Perbandingan antara radius kelengkungan dengan lebar sungai
4. Aspect ratio yaitu perbandingan antara lebar dengan kedalaman air sungai

Rekayasa Sungai 201


6
Pengalaman lain menunjukan bahwa arus sekunder yang terbesar justru terjadi pada
debit medium, sedang pada debit yang sangat besar dan sangat kecil arus sekunder
tersebut akan lebih kecil . Untuk keperluan

analisis geometri tampang secara

keseluruhan, beberapa kelompok debit kadang perlu dipisahkan dari kelompok debit yang
lain, karena pengaruhnya terhadap perubahan geometri tampang relatif kecil. Meander
sungai juga mempunyai tingkatan yang diistilahkan dengan indeks meander ( M )
Sungai lurus biasanya juga merupakan penghubung dari meander-meander (crossing),
sehingga seolah-olah

merupakan bagian transisi dari meander satu ke meander

berikutnya. Kedalaman air pada crossing relatif lebih dangkal dibandingkan dengan
kedalaman air pada bagian meander. Sebagian material hasil erosi pada sisi luar belokan
kadang juga terbawa ke crossing oleh arus melintang, karena pengaruh arus melintang,
karena pengaruh arus melintang masih terasa / belum hilang pada saat memasuki bagian
lurus.
Perlu di ingat bahwa sesungguhnya arus melintang ( biasa juga disebut arus
sekunder), dapat terjadi pada sembarang bentuk saluran /sungai. Sebab-sebab terjadinya
arus melintang pada bagian sungai yang lurus masih menjadi obyek spekulasi ilmiah. Ada
yang menyatakan bahwa arus melintang pada sungai lurus timbul karena perbedaan
kosentrasi sedimen dan temperatur air. Seberapa jauh pengaruhnya masih terbuka untuk
diperdebatkan, namun untuk keperluan praktis, hal tersebut mungkin kurang penting.

H. Klasifikasi Sungai Berdasarkan Pertemuan Sungai

Klasifikasi Menurut Kern (1994)


Adalah klasifikasi berdasarkan orde sungai, misalnya sungai paling kecil di hulu
dalam suatu DAS disebut sungai orde 1. Pertemuan sungai orde 1 menghasilkan
sungai orde 2, selanjutnya pertemuan antara sungai orde 2 menghasilkan sungai orde
3, dan seterusnya. Sementara pertemuan antara sungai dengan orde yang berbeda
tidak menghasilkan orde sungai berikutnya, namun tetap menjadi sungai orde terbesar

Rekayasa Sungai 201


6
dari kedua sungai yang bertemu tersebut. Klasifikasi ini tidak selalu dikaitkan dengan
besar-kecilnya, lebar-sempitnya, atau dalam-dangkalnya suatu sungai.

Metode Strahler (1975)


Orde sungai adalah nomor urut setiap segmen sungai terhadap sungai induknya.
Metode penentuan orde sungai yang banyak digunakan adalah Strahler.
Sungai orde 1 menurut Starhler adalah anak-anak sungai yang letaknya paling
ujung dan dianggap sebagai sumber mata air pertama dari anak sungai tersebut.
Segmen sungai sebagai hasil pertemuan dari orde yang setingkat adalah orde 2,
dan segmen sungai sebagai hasil pertemuan dari dua orde sungai yang tidak setingkat
adalah orde sungai yang lebih tinggi.

Klasifikasi Menurut Leopold et al. (1964)


Leopold et al. (1964) mengklasifikasikan sungai kecil dan sungai atau sungai
besar berdasarkan lebar sungai, tinggi sungai, kecepatan aliran sungai, dan debit
sungai.
Ini terlihat jika lebar sungai cukup besar tapi debit air kecil maka sungai tersebut
merupakan sungai kecil. Sedangkan sebaliknya jika lebar sungai tidak terlalu besar
namun debitnya besar maka biasanya disebut sebagai sungai atau sungai besar, karena
kedalaman maupun kecepatan aliran sungai tersebut besar.
Untuk penggunaan di Indonesia, dimana ditemukan jenis sungai dengan berbagai
variasi lebar dan kedalaman serta debit alirannya, maka klasifikasi menurut Leopold
et al. (1964) ini sangat cocok.
Fenomena pertemuan sungai disebabkan karna Adanya pencampuran air sejenis,
Kondisi air tidak tercampur, karena perbedaan suhu, salinitas, kandungan sedimen,
ataupun bahan terlarut,Pertambahan debit,Dan Peningkatan pencemaran air, karena
kualitas air yang berubah.
Metode ODonnel dan Muskingum-Cunge ODonnel (1985), ODonnel (1985)
menganggap bahwa jika ada aliran lateral yang masuk sebesar aI, pada penelusuran banjir
sungai, pertambahan aliran lateral tersebut dapat langsung dijumlahkan pada aliran
masukan (I), sehingga alirannya menjadi I(1+ a).
IS hi i = IS hu i + IAS i
dengan
Ihi I = debit aliran sungai di hilir pertemuan sungai pada waktu ke i,
Ihu I = debit aliran sungai di hulu pertemuan sungai pada waktu ke i,

Rekayasa Sungai 201


6

IAs I = debit aliran anak sungai yang masuk ke sungai pada waktu ke i.

Rumus-rumus yang digunakan dalam penelusuran sama dengan penelusuran banjir cara
Muskingum-Cunge pada suatu penggal sungai. Metode ini memasukkan parameter
kecepatan aliran untuk setiap debit yang ditelusur. Penerapan metode ini pada DAS
Goseng memberikan hasil yang cukup baik.
Pada pertemuan antara sungai kecil ( tyributary) dengan sungai utamanya, peristiwa
sedimentologi kadang menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Deposisi / Pengendapan

Pada kondisi
aliran seperti

ini

akan

terjadi

fenomena
backwater

h1
h2

dan Draw Down Curve

h1
h2
I. Bifurkasi Sungai

Curve

Rekayasa Sungai 201


6
Merupakan percabangan sungai di mana sungai terpisah menjadi dua
Beberapa hal yang merupakan perbedaan penting adalah :
Pada bifurkasi, geometri dan tinggi muka air pada hasil percabangannya langsung
merupakan parameter untuk memperoleh besarnya Q2 dan Q3,
Biasanya tidak ada pengaruh pembendungan pada bifurkasi, selain itu
pengurangan transpor sedimen pada bifurkasi sungai juga dipengaruhi oleh
geometri (terutama sudut) bifurkasinya.

J. Delta Sungai
Bila sungai mencapai laut, maka hampir semua tenaga traktifnya akan hilang,
akibatnya semua fraksi sedimen (bahkan lumpur yang terhalus serta lempung) akan
diendapkan di muara sungai. Delta adalah fenomena alamiah yang sangat dinamik karena
merupakan hasil proses interaksi antara aliran sungai dengan laut yang berlangsung
secara kontinyu. Aliran sungai mengendapkan sedimennya dengan proses yang lebih
cepat dari aktivitas dispersi gelombang laut dan arus laut yang membawa sedimen
tersebut ke arah laut.
Proses fisik yang menggambarkan perilaku morfologi sungai :
Sistem sungai tidak dapat diasumsikan sebagai unit tunggal. Keterkaitan antara
daerah aliran sungai dengan hidraulika sungai (saluran beserta variabel-variabel
yang berpengaruh), akan saling tergantung satu sama lain dan secara kontinyu
mencari kesetimbangan morfologinya.
Dengan demikian sistem sungai akan merupakan sistem yang sangat dinamik, dari segi
pandang matematika akan merupakan fungsi yang non-linier.

Rekayasa Sungai 201


6