Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Stres
1. Definisi Stres
Secara umum stres dapat diartikan perasaan tertekan, cemas dan tegang.
Dalam bahasa sehari hari stres di kenal sebagai stimulus atau respon yang
menuntut individu untuk melakukan penyesuaian (Lazarus & Folkman 1986).
Stres adalah stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh
tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai
potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan
individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan tertekan, baik
secara fisik maupun psikologis ( Chapplin, 1999).
Stress terjadi karna adanya stressor penyabab ataupun hal-hal yang dapat
menyebabkan stress, stressor adalah sesuatu yang berpotensi menimbulkan
reaksi stress menurut (Green berg, 2004).
2. Faktor - Faktor Penyebab Stres
Faktor-faktor yang menyebabkan stress ada 3 faktor utama yang
menyebabkan stress yaitu:
a. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan
pengaruh pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap
karyawan. Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat
menimbulkan stress bagi karyawan yaitu ekonomi, politik dan teknologi.
Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian terhadap ketiga
hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena stress. Hal ini

dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi yang begitu cepat. Perubahan


yang baru terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan
pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat
terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat dengan adanya
teknologi yang digunakannya.
b. Faktor organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan
stress yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure
dan organizational leadership. Empat faktor organisasi di atas juga akan
menjadi batasan dalam mengukur tingginya tingkat stress. Pengertian dari
tingkat stress itu sendiri adalah muncul dari adanya kondisi-kondisi suatu
pekerjaan atau masalah yang timbul yang tidak diinginkan oleh individu
dalam mencapai suatu kesempatan, batasan-batasan, atau permintaanpermintaan dimana semuanya itu berhubungan dengan keinginannya dan
dimana hasilnya diterima sebagai sesuatu yang tidak pasti tapi penting.
c. Faktor individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam
keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan.
Hubungan pribadi antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan
akibat pada pekerjaan yang akan dilakukan karena akibat tersebut dapat
terbawa dalam pekerjaan seseorang. Sedangkan masalah ekonomi tergantung
dari bagaimana seseorang tersebut dapat menghasilkan penghasilan yang
cukup bagi kebutuhan keluarga serta dapat menjalankan keuangan tersebut
dengan seperlunya (Robbins, 2001).
3. Dampak dan Gejala Stres

Menurut Lazarus (1984) apabila stres tidak ditangani dan


dikelola dengan baik, maka akan memberikan efek jangka lama
akan berdampak pada timbulnya penyakit, gangguan somatik,
gangguan kesehatan, dan gangguan fungsi sosial.
Menurut Braham ( dalam Handoyo, 2001), gejala stres dapat
berupa tanda-tanda berikut ini:
a. Fisik, yaitu sulit tidur atau tidur tidak teratur, sakit kepala,
sulit buang air besar, adanya gangguan pencernaan,
radang usu, kulit gatal-gatal, punggung terasa sakit, uraturat

pada

bahu dan

leher

terasa

tegang,

keringat

berlebihan berubah selera makan, tekanan darah tinggi


atau serangan jantung, kehilangan energi.
b. Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung dn
terlalu sensitif, gelisah dan cemas, suasana hati mudah
berubah-ubah, sedih, mudah menangis

dan

depresi,

gugup,

dan

mudah

agresif

terhadap

orang

lain

bermusuhan serta mudah menyerang, dan kelesuan


mental.
c. intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikiran, daya ingat
menurun,

sulit

untuk

berkonsentrasi,

suka

melamun

berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja.

d. Interpersonal, yaitu acuh dan mendiamkan orang lain


menurut, mudah mengingkari janjipada orang lain, senang
mencari kesalahan orang lain atau menyerang dengan
kata-kata, menutupi diri secara berlebihan, dan mudah
menyalahkan orang lain.
Pendapat Taylor (2003) dan juga disebutkan oleh Davis dan
Nelson dapat disimpulkan bahwa tanda-tanda atau gejala stres
pada umumnya dapat dikelompokkan sebagai berikut di bawah
ini ( Agoes, dkk., 2003):
a. Aspek Emosional (Perasaan). Meliputi: merasa cemas
(feeling anxious), merasa ketakutan (feeling scared),
merasa mudah marah (feeling irratable), merasa suka
murung (feeling moody), dan merasa tidak mampu
menanggulangi (feeling of inability to cope)
b. Aspek Kognitif (Pikiran) . Meliputi: Penghargaan atas diri
rendah (low self esteem), takut gagal (fear failure), tidak
mampu berkonsentrasi (inability to concentrate), mudah
bertindak memalukan (embarrassing easily), khawatir
akan masa depannya (worrying about the future), Mudah
lupa (forgetfulness), dan emosi tidak stabil (emotional
instability)
c. Aspek perilaku sosial. Meliputi: Jika berbicara gagap atau
gugup dan kesukaran bicara lainnya (stuttering and other

speech difficulties), enggan bekerja sama (uncooperative


activities),

tidak

mampu

rileks

(inability

to

relax),

menangis tanpa alasan yang jelas (crying for no apparent


reason), bertindak impulsif atau bertindak sesuka hati
(acting impulsively), mudah kaget atau terkejut (startling
easily), menggertakkan gigi (grinding teeth), frekuensi
merokok meningkat (increasing smoking), penggunaan
obat-obatan dan alkohol meningkat (increasing use of
drugs and alcohol), mudah celaka (being accident prone),
dan

kehilangan

nafsu

makan

atau

selera

makan

berlebihan (losing appetite or overeating)


d.

Aspek

fisiologis.

(perspiration/sweaty),
(increased

heart

Meliputi:

detak

beat),

Berkeringat

jantung

menggigil

atau

meningkat
gemetaran

(trembling), gelisah atau gugup (nervous), mulut dan


kerongkongan kering (dryness of throat and mouth),
mudah letih (tiring easily), sering buang air kencing
(urinating frequently), mempunyai masalah dengan tidur
(sleeping problems), diare/ ketidaksanggupan mencerna/
muntah (diarrhea/ indigestion/ vomiting), perut melilit
atau

sembelit

(coil

arround

in

stomach),

sakit

kepala(headaches), tekanan darah tinggi (high blood

preasure), dan sakit pada leher dan atau punggung


bawah (pain in the neck and or lower back).

4. Manajemen Stres
Karena individu dengan jelas kesulitan mengatur stres
dengan

dirinya

sendiri,

sehingga

ahli

psikologi

kesehatan

mengembangkan teknik yang disebut manajemen stres yang


dapat diajarkan (Taylor, 2003). Manajemen stress adalah suatu
program untuk melakukan pengontrolan atau pengaturan stres
dimana

bertujuan

untuk

mengenal

penyebab

stress

dan

mengetahui teknik-teknik mengelola stres, sehingga orang lebih


baik dalam menguasai stress dalam kehidupan daripada dihimpit
oleh stress itu sendiri (Schafer, 2000). Manajemen stres lebih
daripada

sekedar

mengatasinya,

yakni

belajar

menanggulanginya secara adaptif dan efektif (Margiati, 1999).


Memanajemen stres berarti membuat perubahan dalam cara
berfikir dan merasa, dalam cara berperilaku dan sangat mungkin
dalam lingkungan individu masing-masing (Margiati, 1999).
Manajemen stress adalah metode yang dilakukan untuk merespon perubahan
dalam diri seseorang dengan cara mengindentifikasi stress, dan menghilangkan
stress negatif serta mengembangkan mekanisme koping individu yang efektif
untuk mampu mengendalikan respon konstruktif (Elsevier, 2009). Manajemen
stres menurut Taylor (2003) meliputi 3 tahap , yaitu:

a. Tahap pertama, partisipan mempelajari apakah stres itu


dan bagaimana mengidentifikasi stresor dalam kehidupan
mereka sendiri.
b. Tahap kedua, mereka memperoleh dan mempraktekan
ketrampilan untuk mengatasi (koping) stres.
c.

Tahap

terakhir,

partisipan

mempraktekkan

teknik

manajemen stres mereka yang ditargetkan situasi penuh


stres mereka dan memonitor efektivitas teknik itu.
Dalam melakukan manajemen stres terdapat beberapa cara yang
digunakan untuk
dapat mengelola stres. Berikut ini adalah beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk
mengelola stres (dalam Wade dan Tavris, 2007: 302-310).
a. Strategi Fisik
Cara

yang

paling

cepat

untuk

mengatasi

tekanan

fisiologis dari stres adalah dengan menenangkan diri dan


mengurangi rangsangan fisik tubuh melalui meditasi atau
relaksasi. Menurut Scheufele, relaksasi progresif adalah
belajar untuk secara bergantian menekan dan membuat
otot-otot menjadi santai, juga menurunkan tekanan darah
dan hormon stres (Wade dan Tavris, 2007:302).
b. Strategi Emosional

Merupakan suatu strategi yang berfokus pada emosi yang


muncul akibat masalah yang dihadapi, baik marah,
cemas, atau duka cita (dalam Wade dan Tavris, 2007:
303). Beberapa waktu setelah bencana atau tragedi
adalah hal yang wajar bagi individu yang mengalaminya
untuk merasakan emosi-emosi tersebut. Pada tahap ini,
orang sering kali butuh untuk membicarakan kejadian
tersebut secara terus-menerus agar dapat menerima,
memahami, dan memutuskan akan melakukan hal apa
setelah kejadian tersebut selesai (dalam Wade dan Tavris,
2007). Emotion focused coping adalah sebuah strategi
koping 6 stres yang lebih menekankan pada usaha untuk
menurunkan

emosi

negatif

menghadapi

masalah

atau

yang

dirasakan

tekanan,

ketika

mengalihkan

perhatian dari masalah (dalam Tanti, 2007).


c. Strategi Kognitif
Dalam strategi kognitif yang dapat dilakukan adalah
menilai kembali suatu masalah dengan positif (positive
reappraisal problem). Strategi positive reappraisal yaitu
merupakan

usaha

kognitif

untuk

menganalisa

dan

merestrukturisasi masalah dalam sebuah cara yang


positif sambil terus melakukan penerimaan terhadap
realitas situasi (dalam Solichatun, 2011). Menurut Lazarus

dan

Folkman

(1984)

mengatakan

bahwa

appraisal

merupakan reaksi terhadap stres sangat tergantung pada


bagaimana individu itu menafsirkan atau menilai (secara
sadar

atau

tidak

sadar)

arti

dari

peristiwa

yang

mengancam atau menantang dirinya. Masalah dapat


diubah menjadi tantangan dan kehilangan dapat diubah
menjadi keuntungan yang tidak terduga. Selain itu teknik
lain yang dapat digunakan untuk mengubah kognitif
adalah dnegan affirmasi positif. Afirmasi adalah cara yang
paling

mudah

dan

sederhana

untuk

mempengaruhi

pikiran bawah sadar seseorang (Fyrzha, 2011). Afirmasi


adalah sejumlah kalimat yang positif disusun baik itu
hanya sebatas pikiran, atau dituangkan kedalam tulisan,
diucapkan dengan cara berulang-ulang (Nazmy, 2012).
Afirmasi ini berupa pernyataan pendek dan sederhana
yang disampaikan terus menerus dan berulang-ulang
kepada diri sendiri. Pada saat melakukan afirmasi,
sesungguhnya

seseorang

sedang

mempengaruhi

keadaan pikiran bawah sadar. Afirmasi harus bersifat


positif dan diwujudkandengan kata-kata yang singkat.
d. Strategi Sosial
Dalam strategi sosial seorang individu untuk menurunkan
stres dapat melakukan hal berikut ini, seperti mencari

kelompok dukungan. Kelompok dukugan (support group)


terutama sangat membantu, karena semua orang dalam
kelompok

pernah

mengalami

hal

yang

sama

dan

memahami apa yang dirasakan. Kelompok dukungan


dapat memperlihatkan kepedulian dan kasih sayang.
Mereka

dapat

membantu

seseorang

menilai

suatu

masalah dan merencanakan hal-hal yang dapat dilakukan


untuk

mengatasinya.

Mereka

merupakan

sumber

kelekatan dan hubungan yang dibutuhkan oleh setiap


orang sepanjang hidup. Memiliki teman adalah hal yang
menyenangkan dan hal ini bahkan dapat meningkatkan
kesehatan seseorang.

5. Stres Akademi
Pelajar adalah sebutan yang diberikan kepada peserta didik yang sedang
mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengembangkan dirinya
melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Peserta didik dalam arti luas adalah
setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangkan
dalam arti sempit adalah setiap pelajar yang belajar disekolah (Sinolungan, 1997).
Stress pada pelajar disebut juga dengan stress akademi yang
menggambarkan respon yang muncul disebabkan karna tuntutan dan tugas yang
harus dikerjakan (Olejnik dan Holschuh, 2007). Stress akademi adalah stress yang
muncul karena adanya tekanan dan beban untuk menunjukkan prestasi dan

keunggulan dalam ruang lingkup persaingan akademik yang semakin lama


semakin meningkat sehingga terbebani oleh tuntutan dan tekanan (Alvin, 2007).

B. Konsep Dasar Pesantren


Secara etimologi, pesantren berasal dari kata santri yang mendapat
awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal santri. Sedangkan
ensiklopedi Islam memberikan gambaran yang berbeda, yakni bahwa pesantren
itu berasal dari bahasa Tamil yang artinya guru mengaji atau dari bahasa India
shastri dan kata shastra yang berarti buku-buku kecil, buku-buku agama atau
ilmu pengetahuan. Secara terminologi pesantren merupakan sebuah pendidikan
agama Islam yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar (Ahamad
Muthohar AR, 2007:12).

2. Tujuan Pendidikan di Pesantren


Menurut M. H. Arifin yang dikutip oleh Mahmud (2011:193), terbentuknya
pesantren dapat dilihat pada dua tujuan yaitu:
a. Tujuan umum; membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang
berkepribadian Islam.
b. Tujuan khusus; mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam
ilmu agama yang dianjurkan oleh Kiyai yang bersangkutan
dan mengamalkannya dalam masyarakat

Dalam operasionalisasinya, menurut Amin Rais (dalam Mahmud, 2011:193)


pondok pesantren memiliki keunikan jika dibandingkan dengan lembaga
pendidikan lainnya, yaitu:
a. Memakai sistem tradisional yang memiliki kebebasan penuh dibandingkan
sekolah modern.
b. Kehidupan di pesantren menampakan semangat demokrasi karena mereka
praktis bekerja sama mengatasi problema sendiri.
c. Para santri tidak mengidap penyakit simbolis, karena sebagian besar pesantren
tidak mengeluarkan ijazah.
d. Sistem

pondok

pesantren

mengutamakan

kesederhanaan,

idealisme,

persamaan, persaudaraan, rasa percaya diri dan keberanian hidup.


Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah
kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai
khusus di malam Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan
pengawasan para guru pembimbing (Maknun, 2006).
Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan
teknologi secara intensif sedangkan selama di lingkungan asrama mereka ditempa
untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai khusus serta mengespresikan rasa
seni dan ketrampilan hidup di hari libur. Hari-hari mereka adalah hari-hari
berinteraksi dengan teman sebaya dan para guru. Rutinitas kegiatan tersebut
berlangsung dari pagi hingga malam sampai bertemu pagi lagi. Mereka

menghadapi makhluk hidup yang sama, orang yang sama, lingkungan yang sama.
dinamika dan romantika yang sama juga (Maknun, 2006).

C.

PENGARUH MANAJEMEN STRESS PADA PELAJAR DI DAYAH


MODREN DARUL ULUM BANDA ACEH
2014

Oleh:

ZAHRUL FUAD
NIM. 1307101020155

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA


BANDA ACEH
2014