Anda di halaman 1dari 4

Akal dan Hawa Nafsu

Senin, 10/06/2013 05:43:27 | Dibaca : 22158015

Allah Swt berfirman:







Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya (hukum-hukumNya) supaya
kalian memahaminya (QS. Al Baqarah 242)


















maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu
dari jalan Allah.. (QS. Al Shaad 26)

Ada kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat kaum muslimin, yakni


menempatkan masalah akal pada tempat yang seharusnya ditempati oleh
hawa nafsu. Sebagai contoh, ketika sebagian orang (ulama?) mengeluarkan
fatwa yang membolehkan riba dengan dalil-dalil tertentu, maka ada orang
yang menegur sang pemberi fatwa (mufti) itu dengan mengatakan, Dalil
yang anda gunakan itu bukan dari dalil syara, tetapi dari akal. Teguran
tersebut kurang tepat. Sebab sang mufti itu tidak membawa dalil baik dari
syara maupun dari akal, justru dia membawa dalil dari hawa nafsunya!
Sebab orang yang berakal dan berbicara atas nama akan menolak sistem
riba. Sebagaimana Aristoteles menyatakan bahwa uang itu tidak bisa
bertelor!

Fungsi Akal

Banyak sekalai ayat-ayat dalam Al Quran yang menebut kata-kata seputar


akal atau penggunaanya, yaitu berfikir. Misalnya yang hadir dalam bentuk
afala taqiluun (apakah kamu tdak mengerti) yang berulang sebanyak 13
kali. Atau dalam ungkapan laalakum taqiluun (agar kalian memahaminya)
berulang sebanyak 8 kali. Atau dalam ungkapan liqaumi yaqiluun (bagi
kaum yang berfikir) sebanyak 8 kali. Juga dalam ungkapan liqaumi
yatafakkaruun (bagi kaum yang memikirkan yang berulang sebanyak 7 kali.
Semua ungkapan tentang akal dalam ayat-ayat tersebut berkonotasi positif.

Kita tahu bahwa akal merupakan karunia Allah kepada manusia yang
membedakan dan melebihkannya dari seluruh makhluk yang lain. Dengan
akal itulah Allah memuliakan anak cucu Adam As., ini atas kebanyakan
ciptaanNya. Akal merupakan alat manusia untuk mentafakuri alam sehingga
ia mendapat petunjuk untuk beriman kepada Allah dan RasulNya. Akal
pulalah yang dipakai manusia sebagai alat untuk menggali ilmu-ilmu/sains
eksperimental dan rahasia-rahasia alam untuk dimanfaatkan buat
kepentingan manusia.

Dalam masalah-masalah diniyah (agama) akal berfungsi sebagai :


- Alat untuk memahami fakta (manath) dimana hukum syara diturunkan
terhadapnya;
- Alat untuk memahami nash-nash syarI (Kitab dan Sunnah) sekaligus
menggali darinya hukum-hukum syara.

Dalam poin ini akal tak melampaui batas kemampuannya. Ia tak mungkin
mengubah fungsinya sendiri, yakni dari memahami nash-nash syara dan
mengikatkan diri kepadanya, menjadi penilai dari nash-nash syara yang
kemudian mengubah dan menggantinya. Hal ini tidak mungkin dilakukan
oleh akal, sebab ia telah memahami nash-nash syara itu wahyu dari Dzat
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana yang tak mungkin terselip
kebathilan. Akal menyadari bahwa dirinya lemah, penuh kekurangan dan
bisa berbuat salah. Jika akal bertentangan dengan wahyu, dia menyadari
bahwa wahyulah yang benar dan akallah yang salah, sehingga ia mengoreksi
diri dan menundukkan diri dari wahyu. Ia pun menjadi tenteram dengannya.
Jika anda melihat manusia yang merasa lebih tinggi dari wahyu dan

menakwilkannya, mengoreksinya, lalu mengubahnya, ketahuilah bahwa


yang berfungsi dalam diri orang tersebut pada waktu itu bukanlah akalnya
melainkan hawa nafsunya.

Akal Tidak Mashum


Sekalipun akal cenderung kepada kebenaran, bukan berarti akal itu
mashum, terbebas dari kesalahan. Justru ia bisa keliru dan salah. Akal
terkadang berbuat salah sekalipun aktivitasnya terbatas di wilayahnya dan
batas-batas jangkauannya. Oleh karena itu, orang yang berakal
membutuhkan saran dan pendapat dari orang lain (yang berakal pula). Dan
kalau nyata kebenaran (dari yang lain) ia mesti kembali kepadanya.
Rasulullah Saw bersabda : Tidak akan menyesal orang yang
bermusyawarah

Hawa Nafsu Cenderung kepada Keburukan


Tidak terdapat kata al Hawa dalam Al Quran melainkan dalam konotasi
negatif. Sorang muslim tidak sempurna imannya, kecuali ia menundukkan
hawa nafsunya -yang cenderung negatif itu- dan mengikatnya dengan
syariat Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda :
tidak beriman salah seorang dari kalian, hingga ia mengikutkan
(menundukkan) hawa nafsunya dengan (Islam) yang aku bawa (HR. Imam
An Nawawi dalam Kitab Al Arbain An Nawawiyyah)

Dalam Al Quran terdapat kata nafsu yang berarti hawa atau hawa nafsu,
seperti :














Karena sesunguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS.
Yusuf 54)

Juga dalam firman-Nya :

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh


saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. (QS. Al Maidah 30)

Banyak di antara manusia yang berilusi bahwa sesuatu yang muncul dari
hawa nafsunya ia anggap berasal dari akal mereka, lantaran mereka puas
dengannya. Demikan pula mereka berilusi bahwa was-was (bisikan - bisikan
buruk) yang dibuat syaitan (dari kalangan jin maupun manusia) dalam
dirinya dan mereka puas dengannya, dia anggap dari akal mereka sendiri.
Padahal pada hakikatnya mereka itu telah dihiasi oleh syaitan, sehingga
memandang indah keburukan mereka dan merekapun menuruti hawa nafsu
tanpa bukti (hujjah syariyyah) dari Rabb mereka sebagaimana firman-Nya :














Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari
Tuhannya sama dengan orang yang syaitan menjadikan dia memandang baik
perbuatannya dan mengikuti hawa nafsunya. (QS. Muhammad 14)

Kita memohon kepada Allah Swt agar Dia melindungi kita dari buruknya
hawa nafsu dan bisikan-bisikan syaitan. Juga kita memohon agar Dia
menjadikan kita termasuk orang-orang yang berakal yang mendapat
petunjuk ke jalan-Nya yang lurus (ash shiroth al mustaqiim), Aamin!