Anda di halaman 1dari 14

BAB III

LAPORAN KASUS
3.1

3.2

Identitas Pasien
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Bangsa
Pekerjaan
Alamat

: Ny. Masuna Binti M. Yusuf


: 51 Tahun
: Perempuan
: Indonesia
: Ibu Rumah Tangga
: Lorong Terusan I RT 45, RW 12, Kelurahan 5 Ulu

Pendidikan
Agama

Palembang
: SMP
: Islam

Anamnesis
3.2.1

Keluhan Utama
Muncul bercak kemerahan pada paha kanan atas sejak sekitar 2
bulan yang lalu.

3.2.2

Keluhan Tambahan
Bercak-bercak terasa nyeri, demam dan bengkak.

3.2.3

Riwayat Perjalanan Penyakit


Sejak dua bulan yang lalu pasien mengeluh timbul bercak
kemerahan pada paha kanan. Bercak berjumlah satu buah,
berukuran lebih kurang sebesar koin. Bercak dirasakan nyeri.
Bercak tidak dirasakan gatal. Bercak semakin lama menyebar di
hampir seluruh bagian tubuh, mulai dari tangan, kaki dan
punggung. Sebelum bercak muncul, pasien merasa demam, demam
tidak terlalu tinggi
Pada satu bulan yang lalu, pasien merasa keluhan nyeri
semakin memberat. Nyeri dirasakan terutama di kaki dan sendisendi sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Pasien juga
mengeluh bengkak pada kaki dan merasa tebal. Pasien mengaku

29

tidak kesulitan untuk menggerakkan tangan dan kakinya. Awalnya,


bercak sejajar dengan kulit, namun sekarang bercak dirasakan lebih
tinggi dari kulit seperti bentol. Bercak juga dirasakan pasien
bertambah banyak.
3.2.4

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat menderita penyakit yang sama sebelumnya tidak ada
3.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga
1. Keluarga tidak ada yang menderita kusta.
2. Riwayat hipertensi tidak ada.
3. Riwayat DM disangkal
3.2.6 Riwayat kontak dengan penderita kusta
Tidak ada
3.3

Pemeriksaan Fisik
3.3.1

Status Generalis

Keadaan Umum
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan

: Sakit Sedang
: Compos Mentis
: Tidak diperiksa
:86 x/menit
: Tidak diperiksa
: 22 x/menit

Keadaan Spesifik
Kepala

: Normocephali (Lihat Status Dermatologis)

Wajah

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Mata

: Tidak ada kelainan pada bentuk. Lagoftalmus (-/-).

Hidung

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Telinga

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Mulut

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Leher

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Thoraks

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Abdomen

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas superior :

oedem

dermatologikus.

30

(-),

sianosis

(-).

Lihat

status

Ekstremitas inferior : dorsum pedis bilateral oedema, sianosis (-). Lihat


status dermatologikus.
3.3.2. Status Dermatologikus

Gambar 3.1 Regio bucalis dextra dan nasalis


Regio Bucalis dekstra dan nasalis terdapat plak eritema, multipel,
irreguler, plakat, diskret. Sensasi raba (-)

Gambar 3.2 Regio Brachialis posterior sinistra dan brachialis anterior


dextra

31

Gambar 3.3 Regio antebrachii dextra

32

Gambar 3.4 Regio antebrachii anterior dextra, antebrachii sinistra dan dorsum
manus sinistra
Pada Regio Brachialis posterior anterior dextra et sinistra, regio antebrachii dextra
et sinistra dan dorsum manus sinistra terdapat plak eritema, multipel,
irreguler,ukuran lentikuler-plakat, diskret. Sensasi raba (-).

Gambar 3.5 Regio subskapularis sinistra


Regio Subskapularis sinistra terdapat plak eritema, multipel, irreguler, lentikulerplakat, diskret. Sensasi raba (-).

33

Gambar 3.6 Regio femoris dekstra dan cruris dekstra

34

Gambar 3.7 Regio femoris sinistra dan genu sinistra


Regio femoris dekstra et sinistra, cruris dekstra et sinistra, dan genu sinistra
terdapat plak eritema, multipel, irreguler, lentikuler-plakat, diskret. Sensasi
raba (-).

Gambar 3.8 Regio pedis dekstra


Regio Pedis Dektra terdapat Patch hiperpigmentasi, Multiple, irreguler, numularplakat, Diskret. Terdapat skuama tipis berwarna putih.

35

Gambar 3.9 Regio pedis sinistra


Regio Pedis sinistra terdapat patch hiperpigmentasi, Multiple, irreguler, numularplakat, Diskret. Terdapat skuama tipis berwarna putih.
3.3.3. Pemeriksaan Saraf
Pemeriksaan Saraf sensoris
Palmar dekstra dan sinistra : hipoestesi pada daerah hipotenar,digiti IV-V.
Plantar pedis dekstra dan sinistra. Anastesia pada semua daerah plantar
pedis
Pemeriksaan saraf Motorik
Nervus facialis : Lagoftalmus dekstra (-) sinistra (-)
Nervus ulnaris : Kekuatan digiti V dekstra sinistra sedang (lemah)
Nervus radialis : Baik
Nervus medianus kekuatan otot : Baik
Nervus peroneus kekuatan otot: Baik
Pemeriksaan saraf otonom
Pemeriksaan tidak dilakukan
Pemeriksaan Penebalan saraf
Nervus auricularis magnus :penebalan saraf auricularis magnus dekstra (+)
Nervus ulnaris : Tidak ada penebalan saraf
Nervus radialis : Tidak ada penebalan saraf
Nervus medianus : Tidak ada penebalan saraf
Nervus peroneus : Tidak ada penebalan saraf

36

Nervus tibialis posterior : Tidak ada penebalan saraf


Nervus facialis : tidak diperiksa
(Pemeriksaan saraf dan POD ada dilampiran)
3.4

Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 16 4 - 2016
Morbus Hansen :
BI : 2,8
MI : 75 %

3.5

Diagnosis Kerja
Morbus Hansen tipe Multi Basiler dengan Reaksi Tipe I + Parese Jari V

3.6

Penatalaksanaan
Non-medikamentosa
a. Edukasi mengenai penyebab penyakit dan pengobatan yang dijalani akan
lama, yaitu sekitar 2 tahun.
b. Mengedukasi pasien mengenai kaki yang mengalami gangguan pada
raba bahwa menganjurkan pasien memakai alas kaki untuk mencegah
luka, dan meminta pasien setiap hari mengecek telapak kakinya untuk
melihat apakah ada bengkak, kemerahan ataupun luka.
Medikamentosa

3.7

Prednison dosis 40-80 mg/hari (tappering off / 2-4minggu) 1 x 40 mg /

hari
Rifampisin 600 mg/Bulan
Klofazimin 300 mg/Bulan
Diaminodifenil Sulfon (DDS) 100mg/Hari
Prognosis

Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia

Quo ad sanationam

: dubia

37

BAB IV
ANALISA KASUS
Dari anamnesis pada kasus didapatkan sejak 2 bulan yang lalu
pasien mengeluh timbul bercak kemerahan pada paha kanan. Bercak
dirasakan nyeri. Bercak tidak dirasakan gatal. Bercak semakin lama
menyebar di hampir seluruh bagian tubuh.Sebelum bercak muncul,pasien
merasa demam, demam tidak terlalu tinggi.
Sekitar satu bulan yang lalu, pasien merasa keluhan nyeri semakin
memberat. Nyeri paling dirasakan dikaki dan sendi-sendi sehingga
mengganggu aktifitas sehari-hari. Pasien juga mengeluh bengkak pada
kaki dan merasa tebal. Pasien mengaku tidak kesulitan untuk
menggerakkan tangan dan kakinya. Awalnya, bercak sejajar dengan kulit,
namun sekarang bercak dirasakan lebih tinggi dari kulit seperti bentol.
Berdasarkan status dermatologikus, pada regio bucalis dekstra,
nasalis, brachialis posterior sinistra, brachialis anterior dextra, regio

38

antebrachii

dextra,

antebrachii

sinistra,

dorsum

manus

sinistra,

subskapularis sinistra, femoris dekstra et sinistra, cruris dekstra et sinistra,


genu sinistra terdapat Plak Eritema, Multipel, irreguler, lentikuler-plakat,
diskret. Sensasi raba (-). Pada Regio Pedis Dektra dan sinistra terdapat
Patch hiperpigmentasi, Multiple, irreguler, numular-plakat, Diskret.
Terdapat skuama tipis berwarna putih.
Pada pemeriksaan fisik pasien didapatkan pembesaran saraf
auricularis magnus. Untuk pemeriksaan sensoris, didapatkan hipoestesi
pada hipotenar dan jari ke IV-V dekstra dan sinistra serta anestesi pada
plantar pedis dekstra dan sinistra. Untuk pemeriksaan motorik, didapatkan
kekuatan jari V dekstra dan sinistra mengalami kelemahan.
Berdasarkan dari anamnesis, status dematologikus dan pemeriksaan
fisik dapat disimpulkan bahwa diagnosis pasien ini adalah kusta.
Berdasarkan teori, untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari
tanda-tanda utama atau tanda kardinal (cardinal signs) yaitu : (1) Kelainan
lesi kulit yang mati rasa, dapat berbentuk bercak putih (hipopigmentasi)
atau kemerahan (eritema) yang mati rasa. (2) Penebalan saraf tepi yang
disertai dengan gangguan fungsi saraf . Gangguan fungsi saraf ini
merupakan akibat dari peradangan saraf tepi (neuritis perifer) kronis.
Gangguan saraf ini bisa berupa gangguan fungsi sensoris berupa mati rasa,
gangguan fungsi motoris berupa kelemahan (paresis) atau kelumpuhan
(paralisis) otot, gangguan fungsi otonom berupa kulit kering dan retakretak. (3) Adanya basil tahan asam (BTA)di dalam kerokan jaringan kulit
(slit skin smear). Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana
terdapat satu dari tanda-tanda utama diatas.
Klasifikasi kusta pada pasien ini adalah multi basiler (MB).
Berdasarkan klasifikasi WHO yaitu :
Tanda Utama
PB
Bercak kusta
Jumlah 1-5
Penebalan saraf tepi disertai Hanya 1 saraf
gangguan fungsi (mati rasa
dan atau kelemahan otot,
didaerah yang dipersarafi saraf
yang bersangkutan)

39

MB
Jumlah > 5
Lebih dari 1 saraf

Kerokan jaringan kulit


BTA negatif
BTA positif
Bila salah satu dari tanda utama MB ditemukan, maka pasien
diklasifikasikan sebagai kusta MB.
Tanda lain yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan
klasifikasi penyakit kusta adalah sebagai berikut :
Kelainan kulit dan
hasil pemeriksaan
bakteriologis
1. Bercak (Makula)
a. Ukuran
b. Distribusi

Tipe PB

Kecil dan besar


Unilateral atau bilateral
simetris
c. Konsistensi
Kering dan kasar
e. Batas
Tegas
f.Kehilangan rasa pada Selalu ada dan jelas
bercak
g.Kehilangan
Selalu ada dan jelas
kemampuan
berkeringat,
rambut
rontok pada bercak
2. Infiltrat
a. Kulit

Tidak ada

b. Membran mukosa Tidak pernah ada


(hidung
tersumbat
pendarahan dihidung)
3. Ciri-ciri

Central
healing
penyembuhan ditengah

4. Nodulus

Tidak ada

5. Deformitas

Terjadi dini

Tipe MB

Kecil-kecil
Bilateral, simetris
Halus, berkilat
Kurang tegas
Biasanya tidak jelas,
jika ada, terjadi pada
yang sudah lanjut.
Biasanya tidak jelas,
jika ada, terjadi pada
yang sudah lanjut.
.
Ada, kadang-kadang
tidak ada
Ada, kadang-kadang
tidak ada
-

Punched
out
lesion (lesi seperti
donat)
- Madarosis
- Ginekomastia
- hidung pelana
- suara sungau.
Biasanya
simetris,
terjadi lambat
Biasanya
simetris,
terjadi lambat

Pada kasus, pasien ini sudah mengalami reaksi kusta tipe 1 dengan reaksi
berat. Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta

40

yang merupakan suatu reaksi kekebalan (seluler respon) atau reaksi antigen
antibodi ( Humoral respon) dengan akibat merugikan penderita, terutama pada
saraf tepi yang bisa menyebabkan gangguan fungsi (cacat) yang ditandai dengan
peradangan akut baik di kulit maupun saraf tepi. Jenis reaksi sesuai proses
terjadinya dibedakan atas 2 tipe yaitu reaksi tipe 1 dan reaksi tipe 2.
No
1.

2.

3.

4.

Gejala / Tanda
Keadaan umum

Reaksi tipe 1
Umumnya
baik,
demam ringan (sub
febril) atau tanpa
demam
Peradangan di kulit
Bercak kulit lama
menjadi
lebih
meradang
(merah)
dapat timbul bercak
baru
Saraf
Sering
terjadi,
umumnya
berupa
nyeri tekan saraf
dan/atau
gangguan
fungsi saraf
Peradangan
pada Hampir tidak ada
organ lain

5.

Waktu timbulnya

6.

Tipe kusta

7.

Faktor pencetus

Reaksi tipe 2
Ringan sampai berat disertai
kelemahan
umum
dan
demam tinggi
Timbul nodul kemerahan,
lunak dan nyeri tekan.
Biasanya pada lengan dan
tungkai. Nodul dapat pecah
(ulcerasi)
Dapat terjadi

Terjadi pada mata, kelenjar


getah bening, sendi, ginjal,
testis, dll.
Biasanya
segera Biasanya
setelah
setelah pengobatan
mendapatkan
pengobatan
yang lama, umumnya lebih
dari 6 bulan
Dapat terjadi pada Hanya pada kusta tipe MB
kusta tipe PB maupun
MB
Emosi, kelelahan dan stress fisik lain, kehamilan,
pasca persalinan, obat-obat yang meningkatkan
kekebalan tubuh penyakit infeksi lainnya

Gejala reaksi tipe I dibagi dua menurut keadaanya yaitu reaksi berat dan reaksi
ringan
Gejala
Kelainan kulit

Reaksi ringan
Tambah aktif, menebal,
merah, teraba panas dan
nyeri tekan. Makula yang
menebal
dapat
sampai

41

Reaksi berat
Kelainan
membengkak
sampai ada yang pecah,
merah, teraba panas dan nyeri
tekan. Ada kelainan kulit

membentuk plaque
Saraf tepi

baru, tangan dan kaki


membengkak,
sendi-sendi
sakit.
Tidak ada nyeri tekan saraf Nyeri
tekan,
dan/atau
dan gangguan fungsi
gangguan fungsi, misalnya
kelemahan otot

Penatalaksanaan pada kasus ini berupa non-medikamentosa dan


medikamentosa yang sudah sesuai dengan teori, yaitu:
Non-medikamentosa
a. Edukasi mengenai penyebab penyakit dan pengobatan yang dijalani
akan lama, yaitu sekitar 2 tahun.
b. Mengedukasi pasien mengenai kaki yang mengalami gangguan pada
raba bahwa menganjurkan pasien memakai alas kaki untuk mencegah
luka, dan meminta pasien setiap hari mengecek telapak kakinya untuk
melihat apakah ada bengkak, kemerahan ataupun luka.
Medikamentosa
Prednison dosis 40-80 mg/hari (tappering off / 2-4minggu) 1 x 40 mg /
hari digunakan karena pasien ini mengalami reaksi kusta tipe 1 berat
Rifampisin 600 mg/Bulan
Klofazimin 300 mg/Bulan
Diaminodifenil Sulfon (DDS) 100mg/Hari
Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad bonam untuk vitam karena
keadaan umum pasien masih baik. namun dubia untuk fungsionam dan
sanatiam, karena mungkin dapat terjadi kecacatan, demikian pula untuk
kejadian berulangnya.

42