Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN PROSES

Pembuatan CuSO4 dari Limbah Tembaga


Dosen Pembimbing : Iwan Ridwan, ST., MT

Kelompok/Kelas : V / 1A-TKPB
Nama:

1. M Ridhwan Wira P

NIM : 151424019

2. Nabilla Amalia N S

NIM : 151424020

3. Nurlailatush Sholihah

NIM : 151424021

4. Nurul Aulia Muthmainnah NIM : 151424022

Tanggal Praktikum: 7 Juni 2016


Tanggal Pengumpulan Praktikum: 13 Juni 2016

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV


TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

Daftar Isi
Daftar isi........................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN
1
2

Latar Belakang..............................................................................................................1
Tujuan Percobaan..........................................................................................................1

BAB II LANDASAN TEORI


1

Dasar Teori.................................................................................................................2-4

BAB III METODELOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan..........................................................................................................5-6
3.2 Skema Kerja............................................................................................................7-11
3.3 MSDS
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan........................................................................................................12
4.2 Perhitungan....................................................................................................................
4.3 Pembahasan....................................................................................................................
BAB V KESIMPULAN...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Tembaga (II) sulfat mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan banyak manfaatnya di
laboratorium maupun di lingkungan. Garam tembaga banyak digunakan dalam bidang
pertanian, misalnya sebagai larutan Bordeaux yang mengandung 1-3% CuSO4 untuk
pembasmi jamur pada sayur dan tumbuhan buah, selain itu CuSO4 banyk digunakan di kolam
renang sebagai pembunuh atau penghambat pertumbuhan ganggang atau lumut, sehingga jika
CuSO4 dituangkan kedalam kolam renang menyebabkan air kolam berwarna jernih kebirubiruan. Di laboratorium tembaga (II) sulfat banyak digunkan untuk bahan praktikum dalam
beberapa modul, misalnya modul termokimia, stoikhiometri, elektrokimia, grvimetri. Oleh
karena itu, untuk kebutuhan teknis dapat disediakan oleh laboratorium dengan cara recovery
tembaga menjadi tembaga (II) sulfat pentahidrat,sehingga dapat memperkecil biaya.

1.2

Tujuan Praktikum:
1
2
3

Membuat Kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat dri limbah tembaga


Mengenal iat-sifat Kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat
Meganalisis produk dengan menghitung rendemen dan jumlah air Kristal (hidrat)
secara stoikhiometri

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Dasar Teori

Dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU), tembaga (Cu) termasuk ke dalam golongan 11.
Tembaga, perak dan emas disebut logam koin karena dipakai sejak lama sebagai uang dalam bentuk
lempengan (koin). Hal ini disebabkan oleh logam ini tidak reaktif, sehingga tidak berubah dalam
waktu yang lama. Tembaga adalah logam berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel
listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh
HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3 . Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu
kehilangan empat molekul airnya pada 110 C dan kelima-lima molekul air pada 150 C. Pada 650
C, tembaga (II) sulfat mengurai menjaditembaga (II) oksida (CuO), sulfur dioksida (SO2)
dan oksigen (O2).
Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Cu+ mengalami
disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan berarti larutan senyawa
Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada keadaan bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika
kita mencoba membuat (Cu+) cukup banyak pada larutan air, Cu 2+ akan berada pada jumlah banyak
(sebab konsentrasinya harus sekitar dua juta dikalikan pangkat dua dari Cu +. Disproporsionasi akan
menajdi sempurna. Di lain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang sedikit larut atau
ion kompleks mantap), Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi mantap.
Tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya untuk mebuat
campuran Bordeaux (sejenis fungisida) dan senyawa tembaga lainnya. Senyawa ini juga digunakan
dalam penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai bahan pengawet kayu. Bentuk anhidratnya
digunakan untuk mendeteksi air dalam jumlah kelumit. Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol
biru.
Sifat
Rumus molekul

CuSO4

Massa molar

159.62 g/mol (anhidrat)


249.70 g/mol (pentahidrat)

Penampilan

biru (pentahidrat)
abu-abu putih (anhidrat)

Densitas

3.603 g/cm3 (anhidrat)

2.284 g/cm3 (pentahidrat)


Titik lebur

110 C (4H2O)
150 C (423 K) (5H2O)
< 650 C decomp.
pentahydrate
316 g/L (0 C)
2033 g/L (100 C)

Kelarutan dalam
air

form unspecified
320 g/L (20 C)
618 g/L (60 C)
1140 g/L (100 C)
anhidrat
tidak bercampur pada etanol

Kelarutan

Indeks bias (nD)

pentahidrat
bercampur di metanol
10.4 g/L (18 C)
tidak bercampur di etanol
1.514 (pentahidrat

Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru, CuSO 4.5H2O triklini.
Pentahidratnya kehilangan 4 molekul air pada 1100 C dan yang ke lima pada 150 0C membentuk
senyawa anhidrat berwarna putih. Pentahidrat ini dibuat dengan mereaksikan tembaga (II) oksida atau
tembaga (II) karbonat dengan H2SO4 encer, larutannya dipanaskan hingga jenuh dan pentahidrat yang
biru mengkristal jika didinginkan. Pada skala industri, senyawa ini dibuat dengan memompa udara
melaluicampuran tembaga panas dengan H 2SO4 encer. Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga
(II) dikelilingi oleh empat molekul air pada setiap sudut segi empat, kedudukan kelima dan keenam
dari oktahedral ditempati oleh atom oksigen dari anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat
oleh ikatan hidrogen
Salah satu sifat dari logam tembaga yaitu tembaga tidak larut dalam asam yang bukan
pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO 3 sehingga tembaga larut dalam HNO3.
3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3(aq)
3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4H2O
Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfida (Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen.
Cu2S + 2O2
2CuO + SO2
2CuO + Cu2S

SO2 + 4Cu

Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk ion Cu(H 2O)42+. Jika
larutan ini ditambah amonia akan menghasilkan ion Cu(NH 3)42+yang berwarna biru pekat. Senyawa
CuCl2, Cu2Br2, Cu2I2 sukar larut dalam air dengan Ksp masing-masing 1,9.10 -7, 5.10-9, dan 1.1012
. Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat dibuat langsung dari unsurnya pada suhu tinggi. Kedua senyawa ini
cenderung nonstoikiometrik karena dapat pula sebagian membentuk CuO dan CuS.
2

Senyawa-senyawa Cu (I) berwarna putih kecuali oksidasinya merah.Sedangkan senyawa Cu (II)


hidratnaya biru dan anhidratnya abu-abu. Senyawa-senyawa Cu (II) lebih stabil dalam
larutan. Mereka beracun dan mengion yang berwarna gelap (biru gelap) yang terbentuk dengan
larutan amonia berlebihan. Cu digunakan buat kabel/kawat/peralatan listrik; dalam logam-logam
paduan; monel, perunggu kuningan, perak jerman, perak nikel untuk ketel dan lain-lain.

Secara umum garam tembaga (I) tidak larut dalam air dan tidak berwarna, perilakunya mirip
perilaku senyawa perak (I). Mereka mudah dioksidasi menjadisenyawa tembaga (II), yang dapat
diturunkan dari tembaga(II) oksida, CuO, hitam. Garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru,
baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air; warna ini benar-benar khas hanya untuk
ion tetraakuokuprat (II) [Cu(H2O)4]2+ saja. Batas terlihatnya warna ion kompleks tetraakuokuprat(II)
(yaitu, warna ion tembaga (II) dalam larutan air), adalah 500g dalam batas konsentrasi 1 dalam 10 4.
Garam-garam tembaga (II) anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO 4, berwarna putih (atau
sedikit kuning).
Larutan amonia bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit terbentuk
endapan biru suatu garam basa (tembaga sulfat basa). Bila dalam keadaan basah dibiarkan terkena
udara, tembaga (II) sulfida cenderung teroksidasi menjadi tembaga (II) sulfat, dan karenanya menjadi
dapat larut dalam air. Banyak sekali panas yang dilepaskan pada proses ini.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan:


No
1.

Nama Alat
Gelas kimia

Ukuran
250 mL

Jumlah
1

2.

Hot plate

3.

Gelas ukur

50 mL

4.

Bola hisap

5.

Botol semprot

6.

Batang pengaduk

7.

Spatula

Gambar

8.

Cawan arloji

9.

Pipet ukur

5 mL

10.

Magnetic Stirrer

11.

Neraca analitik

Bahan yang digunakan


No
1.

Nama Bahan
Limbah tembaga

2.
3.
4.
5.
6.

Larutan HNO3 40%


Larutan H2SO4 98%
Aquadest
Kertas saring
Kertas timbang

3.2 Skema Kerja

Menimbang 5 gr Cu yang sudah dipotong kecil


Memasukkan 10 mL larutan H2SO4 98% ke dalam gelas kimia
Memasukkan Cu yang telah ditimbang ke dalam gelas kimia
Memasukkan 15 mL larutan HNO3 40%
Memasukkan magnetic stirrer
Memanaskan campuran dengan suhu 100C hingga Cu terlarut
Menyaring campuran dalam keadaan panas
Mendinginkan larutan hingga terbentuk kristal
Menyaring larutan agar kristal terpisah dari larutan kemudian menimbangnya
Mengeringkan kristal dengan cara memasukkannya ke dalam oven
Menimbang kristal yang telah kering
Menghitung rendemen yang terbentuk

3.3 MSDS
1.

H2SO4

Menyebabkan iritasi parah dan luka bakar. Mungkin berbahaya jika tertelan. Hindari
menghirup uap atau debu. Gunakan dengan ventilasi yang memadai. Hindari kontak dengan
mata, kulit, dan pakaian. Cuci sampai bersih setelah menangani. Simpan wadah tertutup.
PERTOLONGAN PERTAMA:
KULIT: Cuci daerah yang terkena dengan sabun dan air. Jika terjadi iritasi, dapatkan bantuan
medis.
MATA: Cuci mata dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit, angkat tutup sesekali.
Mencari Bantuan Medis.
TERHISAP: Hapus untuk udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika
sulit bernapas, berikan oksigen
Tertelan: Berikan beberapa gelas susu atau air. Muntah dapat terjadi secara spontan, tapi
TIDAK MENYEBABKAN! Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang
yang tidak sadar.
Berat jenis 1.84 Titik Didih: 534-590 C Volatile oleh Volume Persen: <5 Tekanan Uap:
Tidak tersedia informasi Tingkat Penguapan: Tidak Berlaku Kepadatan uap: Tidak tersedia
informasi Penguapan Standar: Tidak Berlaku Kelarutan dalam Air: Larut Auto pengapian
Suhu: Tidak Berlaku Penampilan dan Bau: Tidak berwarna keruh menjadi cair sedikit kuning
Turunkan Flamm. Batasi di Udara: Tidak Berlaku Titik Nyala: Tidak mudah terbakar Atas
Flamm. Batasi di Udara: Tidak Berlaku
2. HNO3
Potensi Efek Kesehatan Akut Sangat berbahaya jika terjadi kontak langsung dengan kulit
(korosive, iritatif), kontak dengan mata (korosive, iritatif), gangguan pencernaan dan
gangguan pernafasan. Dalam bentuk cairan atau spray bisa menyebabkan iritasi mata
Potensi Efek Kesehatan Kronis Efek karsinogenik : tidak ada Efek mutagenik : tidak ada Efek
teratogenik : tidak ada Senyawa ini dapat meracuni paru-paru, membran mukosa, sistem
pernafasan bagian atas, kulit, mata, dan gigi. Jika terlalu lama atau berulang-ulang terkena,
maka dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh. Jika terlalu lama mengalami kontak
dengan uap, maka dapat menimbulkan iritasi mata kronis dan menyebabkan beberapa iritasi
kulit. Jika terlalu lama atau berulang-ulang terkena uap, dapat menyebabkan infeksi
pernafasan.

Pertolongan Pertama
Kontak Mata : Jika kontak dengan mata , basuh mata dengan air paling tidak selama 15
menit. Gunakan air dingin. Dan segera cari pertolongan medis.
Kontak Kulit : Jika kontak, bilas bagian yang terkena asam Nitrat dengan air paling tidak 15
menit sambil melepas pakaian yang terkontaminasi. Cuci pakaian yang terkontaminasi
sebelum dipakai lagi.
Kontak serius dengan kulit : Cuci dengan sabun desinfektan dan oles kulit yang
terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Carilah segera pertolongan medis.
Penghirupan Jika terhirup: lepaskan ke udara segar. Jika terjadi gangguan pernapasan,
berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Segera cari pertolongan
medis.
Penghirupan Serius : Evakuasi korban ke daerah yang aman sesegera mungkin. Jika terfjadi
kesulitan bernafas, longgarkan pakaian korban dan berikan oksigen. Jika korban tidak
bernafas, berikan nafas buatan. AWAS: hal ini mungkin berbahaya bagi orang yang
memberikan nafas buatan sebab bahan-bahan beracun dan korosif dapat terhirup. Segera cari
pertolongan medis.
Pencernaan : Jika tertelan jangan dimuntahkan kecuali diarahkan oleh ahli medis. Jangan
memberikan sesuatu pada mulut korban yang tidadk sadar. Loggarkan pakaian korban.
Segera cari pertolongan medis.
Yang perlu diwaspadai : Wadah tetap terkunci, dan kering. Jauhkan dari panas. Jauhkan dari
sumber api dan material yang mudah terbakar. Jangan dimakan. Jangan menghirup gas/asap/
uap. Jangan menambahkan air ke bahan ini. Jika ventilasi tidak baik gunakan peralatan
pernafasan yang baik. Jika tertelan, segera cari pertolongan medis dan tunjukkan label bahan.
Hindari kontak dengan kulit dan mata, jauhkan dari bahan pereduksi, bahan mudah terbakar,
bahan organik, logam, asam, alkali, dan panas matahari. Dapat merusak permukaan logam.
Simpan dalam drum logam atau drum papan fiber yang terlapisi menggunakan bagian dalam
yang terlapisi polyethylen yang kuat.
Penyimpanan : Jaga wadah dalam keadaan tertutup rapat. Tempatkan wadah di ruang
berventilasi dan dingin. Pisahkan dari asam, alkali, agen pereduksi, dan bahan mudah
terbakar.

Sifat
Rumus
molekul

HNO3

Massa molar 63,012 g/mol


Penampilan

Cairan bening tidak berwarna

Densitas

1,51 g/cm (20 C)

Titik lebur

42 C (231 K)

Titik didih

83 C (356 K) (120.5 C (larutan


68%))

Kelarutan
dalam air

tercampurkan

Viskositas

1,092 mPa.s (0 C); 0,746 mPa.s


(25 C); 0,617 mPa.s (40 C)

Momen dipol 2,17 0,02 D

3.

CuSO4

TINJAUAN DARURAT Warna: biru. Sensitif terhadap air. Peringatan! Berbahaya jika
tertelan. Dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan iritasi saluran pernafasan dengan
luka bakar. Menyebabkan iritasi mata dan kulit dan luka bakar. Higroskopis. Mutagen.
Kemungkinan sensitizer.
Sasaran Organ: Darah, ginjal, hati.
Mata: Paparan partikulat dapat menyebabkan kelainan kornea. Menyebabkan iritasi
mata dan luka bakar. Segera siram mata dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit,
sesekali mengangkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit: Dapat menyebabkan kulit menjadi sensitif, alergi, yang akan terlihat jelas pada
paparan bahan ini. Dapat menyebabkan gangguan pada kulit dan luka bakar. Dapat
menyebabkan gatal pada kulit. Dapatkan bantuan medis. Siram kulit dengan banyak air
dan sabun setidaknya selama 15 menit saat mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi
dan sepatu. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.
Penelanan: Berbahaya jika tertelan. Dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan
ditandai dengan mual dan muntah. Penelanan garam tembaga dalam jumlah besar dapat
menyebabkan tinja berdarah dan muntah, tekanan darah rendah, sakit kuning dan
koma. Menelan senyawa tembaga dapat menghasilkan efek toksik sistemik pada ginjal
dan hati dan eksitasi saraf pusat diikuti oleh depresi. JANGAN memancing muntah. Jika
korban sadar, beri 2-4 cupfuls susu atau air. Jangan pernah memberikan apapun melalui

11

mulut kepada orang yang tidak sadar. Dapatkan bantuan medis dengan segera.

11

Inhalasi: Dapat menyebabkan ulserasi dan perforasi septum hidung jika dihirup dalam
jumlah berlebihan. Dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan dengan luka bakar.
Hapus dari paparan udara segar segera. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan
bantuan medis. JANGAN menggunakan mulut ke mulut resusitasi. Jika pernapasan telah
berhenti menerapkan pernapasan buatan menggunakan oksigen dan perangkat mekanis
yang sesuai seperti tas dan masker.
Kronis: kontak mata yang lama atau berulang-ulang dapat menyebabkan konjungtivitis.
Dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Dapat menyebabkan anemia dan
kelainan darah lainnya sel. Tembaga yang terakumulasi dalam berbagai jaringan dan
dapat mengakibatkan kerusakan pada hati, kerusakan ginjal, dan otak. Dapat
menyebabkan reaksi alergi kulit pada beberapa individu.
Penanganan: Cuci sampai bersih setelah memegang. Hubungi dokter dan cuci sebelum
digunakan kembali. Gunakan hanya di daerah berventilasi baik. Minimalkan debu dan
akumulasi. Hindari kontak dengan mata, kulit pakaian, dan. Simpan wadah tertutup
rapat. Hindari konsumsi dan inhalasi. Jangan menelan atau menghirup. Menangani
bawah suasana inert. Simpan dilindungi dari udara.
Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat. Simpan di, daerah sejuk dan
kering, berventilasi baik jauh dari zat-zat yang tidak kompatibel. Jangan mengekspos ke
udara. Simpan dilindungi dari kelembaban. Simpan di bawah suasana inert.
Bentuk: Kristal
Penampilan: biru
Bau: berbau
pH: Tidak tersedia.
Tekanan Uap: 7.3 mm Hg @ 25 deg C
Kepadatan uap: Tidak tersedia.
Tingkat Penguapan: diabaikan.
Viskositas: Tidak tersedia.
Titik Didih: 150 deg C (Desember)
Pembekuan / Melting Point: 110 deg C (Desember)
Swa-sulut/suhu penyulutan otomatis Suhu: Tidak dipakai.
Titik Nyala: Tidak dipakai.
Suhu Dekomposisi: Tidak tersedia.
NFPA Rating: (perkiraan) Kesehatan: 2; mudah terbakar: 0; Reaktivitas: 0
Ledakan Batas, Lower: Tidak tersedia.
Atas: Tidak tersedia.
Kelarutan: Larut.
Spesifik Gravity / Densitas: 2.2840g/cm3
Molecular Formula: CuO4S.5H2O
Berat Molekul: 249,68

11

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 DATA PENGAMATAN


N
O
1
2

PEOSEDUR PERCOBAAN

HASIL PENGAMATAN

Dimasukan asi kedalam gelas kimia


Ditambah 10 ml H2SO4 pekat

3
4

Ditambah 5 gr tembaga
Ditambah 15 ml HNO3

5
6

Dilakukan pengadukan terus


menerus selama 30 menit
Dipanaskan

Disaring

Didiamkan dan ditimbang Kristal


yang terbentuk

12

Volume = 50 ml
Sedikit mengeluarkan gas, larutan
berwarna bening
Larutan berwarna bening
Mengeluarkan gas berwarna
kecoklatan,larutan perlahan berubah
warna menjadi biru muda, kemudian
menjadi biru tua
Serbuk tembaga perlahan-lahan
melarut
Suhu sistem= 100C, serbuk tembaga
perlahan lahan melarut,larutan tetap
berwana biru tua bening
Filtrat berwarna biru dan merupakan
liquid serta terbentuk butiran butiran
Kristal di dalam larutan, residu
berbentuk endapan dan merupakan
zat pengotor sehingga yang
digunakan adalah filtratnya
Setelah didiamkan selama 1 hari,
Kristal yang terbentuk semakin
banyak, selanjutnya disaring
kemudian Kristal ditimbang,berat
Kristal sebesar 25.48 gram

DAFTAR PUSTAKA
Buku Bahan Ajar Praktikum Satuan Proses.
Harahap, Novri Oksianus (2012). MSDS CuSO 4 (Tembaga (II) Sulfat Pentahydrate.
Dari http://www.mbingboo29.com/2012/10/msds-cuso4.html, diakses pada 13 Juni
2016.
Keenan, Kleinfelter, Wood. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jilid 2. Edisi Keenam.
Erlangga. Jakarta.
Syabatini, Annisa (2008). Pembuatan CuSO4.5H2O.
Dari

https://annisanfushie.wordpress.com/2008/12/16/pembuatan-cuso45h2o/,

diakses pada 11 Juni 2016.


Vogel, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro,
ed.5,Pt.Kalman Media Pustaka ,Jakarta.
WikiPedia (2016). Asam Nitrat. Dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Asam_nitrat, diakses pada 13 Juni 2016.
WikiPedia (2016). Tembaga (II) Sulfat. Dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga(II)_sulfat, diakses pada 13 Juni 2016.
Yanafuad (2011). Lembar Data Keselamatan Bahan MSDS HNO3. Dari
https://yanafuad.wordpress.com/2011/11/05/lembar-data-keselamatan-bahan-msdshno3/, diakses pada 13 Juni 2016.

14