Anda di halaman 1dari 7

PelaksanaanAnggaran

Budgeting is one of the fundamental decision-making processes in organizations. Duringbudget


formulation, officials determine the portion of the organizations resources that themanager of
each unit will be authorized to spend. . . budgets often establish performancegoals for the unit in
terms of costs, revenues, and/or production.(Vinten, Fruitticher et al. 2005)
A. LandasanHukumPelaksanaanAnggaran
Pengelolaankeuangan

di

Indonesia

mengacu

undangdibawahinisejakberlakunyaketentuanperaturanUndang-Undang

pada

ketigaundang-

di

bidangkeuangan

negara, yakni:
Undang-UndangNomor 17 tahun 2003 tentangKeuangan Negara(RepublikIndonesia 2003)
Undang-UndangNomor 1 tahun 2004 tentangPerbendaharaan Negara
Undang-UndangNomor
15
tahun
2004
tentangPemeriksaanPengelolaan
dan
TanggungjawabKeuangan Negara
Peraturan yang mengaturlebihrinci atas pengelolaankeuangan negara meliputi:
(1)

Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2004 tentang

(2)

Rencana Kerja Pemerintah.


Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2004 tentang

(3)

Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.


Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2005 tentang
Badan Layanan Umum.

(4)

Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang

Standar Akuntansi Pemerintah.


(5)
Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sebagaimana
telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 72 tahun 2004.
(6)
Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, sebagaimana telah
diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 2004.
(7)
Peraturan
Menteri
Keuangan
(8)

Nomor

134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN.


Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.06/2005

tentang Bagan Perkiraan Standar.


(9)
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.05/2007
tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian Negara/Lembaga dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan
Pelaksanaan DIPA Tahun 2008.
(10)
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor
PER-66/PB/2005 Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban APBN.
Pelaksanaananggaranmerupakansalahsatutahapdarisiklusanggaran,
yaitusetelahtahappenyusunandanpenetapananggaransampaidengantahappertanggungjawabanang
garan.Kegiatanpelaksanaananggaran yang berkaitandengankegiatanpengelolaankeuangannegara
yang

dilakukanolehparapejabatinstansikementrian

Negara/lembagaselakupenggunaanggaran/kuasaanggaranmaupun

di

intansikementriankeuanganselakubendaharaumumnegara/kuasabendaharaumum

Negara,

menurutketentuanperundang-undangan yang berlaku.


Thus, every budgeting system must be tailor-made and its success should be measured
by the extent to which it provides the necessary motivation for individuals to make their
maximum contribution to the achievement of organization goals.(Raghunandan, Ramgulam et
al. 2012)
Setelah APBN ditetapkan dengan undang-undang, rincian pelaksanaannya dituangkan
lebih lanjut dengan Peraturan Presiden tentang rincian APBN. Kemudian Menteri Keuangan
memberitahukan kepada menteri/pimpinan lembaga agar menyampaikan dokumen pelaksanaan
anggaran untuk masing-masing kementerian negara/lembaga. Menteri/pimpinan lembaga
menyusun

dokumen

pelaksanaan

anggaran

untuk

kementerian

negara/lembaga

yang

dipimpinnya, berdasarkan alokasi anggaran yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden tentang
rincian APBN.
Dalam dokumen pelaksanaan anggaran diuraikan:

sasaran yang hendak dicapai,


fungsi,
program,
rincian kegiatan anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut,
rencana penarikan dana tiap-tiap satuan kerja, serta

pendapatan yang diperkirakan.


Pada Dokumen pelaksanaan anggaran juga dilampirkan rencana kerja dan anggaran badan
layanan umum dalam lingkungan kementerian negara/lembaga.
Dokumen anggaran yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan kemudian disampaikan
kepada menteri/pimpinan lembaga, BPK, Gubernur, Direktur Jenderal Anggaran, Direktur
Jenderal Perbendaharaan, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan terkait, Kuasa
Bendahara Umum Negara (KPPN) terkait, dan Kuasa Pengguna Anggaran.
Dalam hal mengajukan dana, masing-masing penanggung jawab kegiatan mengeluarkan
surat perintah membayar kepada Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum
Negara, yang kemudian melaksanakan fungsi pembebanan kepada masing-masing bagian
anggaran serta fungsi pembayaran kepada yang berhak melalui jalur penyaluran dana yang
ditetapkan dengan mekanisme giralisasi.
Dokumen-dokumen penting dalam pelaksanaan APBN adalah Surat Keputusan
Otorisasi/Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, Surat Permintaan Pembayaran, Surat Perintah
Membayar, dan Surat Perintah Pencairan Dana.
Menteri/Pimpinan Lembaga selaku pengguna anggaran mempunyai kewenangan dan
bertanggungjawab atas penyusunan kegiatan dan perhitungan biaya yang tertuang dalam
dokumen pelaksanaan anggaran. Kewenangan dan tanggungjawab tersebut dilimpahkan kepada
kepala satker pusat/unit pelaksana teknis/satker khusus/satker non vertikal tertentu/satker
sementara, dan dikuasakan kepada gubernur untuk menunjuk satker perangkat daerah selaku
kuasa pengguna anggaran.
Satker kementerian negara/lembaga tersebut menyusun dokumen pelaksanaan anggaran
mengacu kepada rencana kerja dan anggaran (RKA-KL) dan peraturan presiden tentang rincian
APBN. Hasil penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran tersebut disebut konsep DIPA yang
memuat uraian

sasaran yang akan dicapai, fungsi, program, dan rincian kegiatan, rencana

penarikan dana setiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan.
Konsep DIPA diajukan kepada Direktur Jendaral Perbendaharaan atau kepada Kepala
Kanwil Ditjen PBN untuk memperoleh pengesahan. Sebelum melakukan pengesahan Konsep

DIPA tersebut, Dirjen PBN dan Kanwil Ditjen PBn mengadakan penelaahan terhadap konsep
DIPA, apakah telah sesuai dengan peraturan presiden tentang rincian APBN dan ketentuan
perundang-undangan

yang berlaku.

Apabila telah selesai kemudian Direktur Jendaral

Perbendaharaan atau kepada Kepala Kanwil Ditjen PBN menerbitkan SP DIPA. SP DIPA dan
konsep DIPA tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan disebut DIPA.
Apabila dalam pelaksanaan DIPA terdapat hal-hal yang mengharuskan adanya perubahan
isi yang tercantum dalam DIPA, maka satker kementerian negara/lembaga dapat mengajukan
revisi DIPA kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kanwil Ditjen PBN untuk
memperoleh pengesahannya. Mengenai pengesahan revisi DIPA ini ada yang langsung
diputuskan oleh Direktur Jendaral Perbendaharaan atau kepada Kepala Kanwil Ditjen PBN,
namun ada yang harus terlebih dahulu mendapat persetujuan prinsip dari Direktur Jenderal
Anggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
B. Persyaratan administratif untuk dapat membebani anggaran belanja
Petunjukpengisiandokumentandabuktipengeluaranmeliputi:
(1)

Kuitansi

a. Nama wajib bayar yang tertulis dalam kuitansi harus atas nama jabatan.
Contoh : Sudah terima dari Pejabat Pembuat Komitmen
b. Nama yang berhak menerima yang tertulis dalam kuitansi adalah nama dan jabatan
orang yang menerima pembayaran sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan/pekerjaan
dan ditandatangani oleh yang bersangkutan. Untuk Badan Hukum (perusahaan)
diberikan pula stempel perusahaan. Apabila yang menerima adalah kuasa penerima,
maka harus didukung dengan Surat Kuasa dari orang yang berhak kepada yang
dikuasakan di atas kertas bermaterai Rp.6.000,c. Tanda tangan lunas oleh penyimpan uang/kasir dan tanda tangan setuju dibayar oleh
Pemegang Kas.
d. Uraian pembayaran memuat uraian mengenai obyek kegiatan/ pekerjaan yang
dilaksanakan.
e. Jumlah yang dibayarkan harus sama antara yang tertulis dengan angka dan huruf.

f. Tahun anggaran dan pasal/mata anggaran keluaran yang tertulis dalam kuitansi adalah
tahun anggaran berjalan dan pasal/mata anggaran sesuai dengan pembebanan anggaran.
g. Bea materai tempel

Rp.6.000,-untuk SPK/Kontrak. Untuk kuitansi dengan

nilai

Rp.250.000,- s/d Rp.1.000.000 dikenakan Rp.3.000,- Bila bernilai nominal di atas


Rp.1.000.000,-dikenakan Rp.6.000.000
h. NPWP pihak rekanan harus dicantumkan dalam kuitansi pembayaran
i. Dalam

redaksi penulisan pada kuitansi tidak dibenarkan adanya coretan/

hapusan/tindisan khususnya penulisan jumlah uang dengan angka dan jumlah uang
dengan huruf.
(2)

SuratPerintahKerja (SPK)

Sekurang-kurangnyaharusmemuatketentuan:
a. Pejabat yang memerintahkanmempunyaikewenangan.
b. SPK ditandatanganioleh yang memberiperintahdanpihakyang menerimaperintah.
c. Pokok/bidang,

ruanglingkupdanspesifikasiteknispekerjaan

yang

disepakatiolehkeduabelahpihak.
d. Harga yang pastisertasyaratpembayaran.
e. Jangkawaktupenyelesaianpekerjaan
f.

Sanksidalamhal yang menerimaperintahtidakmemenuhikewajibannya

g. Diberi materai tempel Rp.6.000.(3)

Surat perjanjian/Kontrak

Sekurang-kurangnyamememuatketentuansepertipada SPK ditambahdengan:


a.

Jaminanteknishasilpekerjaan yang diserahkan.

b.

Penyelesaianperselisihan

c.

Hakdankewajibanparapihak yang terikatdalamperjanjian yang bersangkutan

d.

Penggunaanbarangdanjasaproduksidalamnegerisecarategasdanterincidalamlampirankon
trak.

e.

Rumusanmengenaipenyesuaianhargakontrak (price adjusment).

f.

Ketentuanmengenaipemberianuangmuka.
(4)

Berita Acara Penyerahan Barang/Pekerjaan.

Sekurang-kurangnyamemuathal-hal

a. Nama, jabatan dan alamat kedua belah pihak.


b. Prestasi fisik pekerjaan yang akan diserahkan.
c. Hari dan tanggalpembuatanberitaacara.
d. Dasarpembuatanberitaacarapenyerahanpekerjaan.
e. Pernyataanbesarnyapembayaran yang berhakditerimaolehrekanan.
f.

Nama dan tanda tangan kedua belah pihak.


(5)

Berita Acara Pembayaran, sekurang-kurangnya memuat :

a.

Nama, jabatan dan alamat kedua belah pihak.

b.

Hari dan tanggalpembuatanberitaacara.

c.

Dasarpembuatanberitaacarapenyerahanpekerjaan.

d.

Hargakontrak.

e.

Perhitunganpembayaranmeliputi:
-

Jumlah yang telahdibayarkansampaidenganangsuran yang lalu

Jumlahangsurandalamberitaacara

PerhitunganUangmukadanpotonganlainnya

Jumlah yang berhak diterima dengan berita acara pembayaran ini.

C. Belanja Negara
Anggaran belanja negara merupakan semua pengeluaran negara yang digunakan untuk
membiayai belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah. Belanja pemerinah pusat
dikelompokkan atas belanja pemerintah pusat menurut organisasi/bagian anggaran, belanja
pemerintah pusat menurut fungsi, dan belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja. Belanja
untuk daerah adalah semua pengeluaran untuk membiayai dana perimbangan serta dana otonomi
khusus dan penyesuaian. Dana perimbangan adalah semua pengeluaran Negara yang
dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi, yang terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus.
Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah semua pengeluaran negara yang
dialokasikan kepada kementrian negara/lembaga, sesuai dengan program-program yang akan
dijalankan.
Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah semua pengeluaran Negara yang
digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum, fungsi pertahanan, fungsi ketertiban dan

keamanan, fungsi ekonomi, fungsi lingkungan hidup, fungsi perunmahan dan fasilitas umum,
fungsi kesehatan, fungs pariwisata dan budaya, fungsi agama, fungsi pendidikkan, dan fungsi
perlindungan sosial.
Belanja pemerintah menurut jenis belanja adalah semua pengeluaran negara yang
digunakan untuk mebiayai belanja pegawai, belanja barang, bealnja modal, pembayaran bunga
utang, subsidi, belanja hibah, bantuan sosial, dan belanja lain-lain.
Dalam Peraturan Menteri Keuanga Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran
Dalam Pelaksanaan APBN di pasal 2 ayat (4) dinyatakan bahwa dalam rangka pelaksanaan
APBN, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPKN) melaksanaan penerimaan dan
pengeluaran negara secara giral.
Semua pengeluaran negara atas beban rekening kas Negara/kas umum negara harus
melalui transfer dana atau pemindahbukuan dana antar rekening bank, termasuk membayar
tagihan pihak ketiga yang dilakukan oleh kantor/satuan kerja kementrian Negara/lembaga.
Dengan demikian, penyaluran dana APBN kepada yang berhak dilakukan transfer dana atau
pemindahbukuan dana langsung dari rekening kas negara/kas umum negara ke rekening yang
berhak pada bank. Pengecualian diberikan untuk pembelian atau pengadaan barang/jasa
keperluan kantor/satuan kerja kementerian negar/lembaga yang nilainya kecil-kecil sampai
dengan Rp 10 juta dapat dibayar melalui uang persediaan yang dkelola Bendahara Pengeluaran.

Referensi
Raghunandan, M., et al. (2012). "Examining the behavioural aspects of budgeting
with particular emphasis on public sector/service budgets." International Journal of
Business and Social Science3(14).
RepublikIndonesia, P. (2003). UU Nomor 17 Tahun tentang Keuangan Negara.
Vinten, G., et al. (2005). "Budget practices case studies." Managerial Auditing
Journal20(2): 171-178.