Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PRAKTIKUM ORAL MEDICINE

LAPORAN KASUS

GEOGRAPHIC TONGUE

DI DORSUM LIDAH

PADA PENDERITA

DENGAN FAKTOR
RESIKO STRES
Oleh:
A.A. Istri Puspita Sari Dewi
121611101087

Pembimbing:
drg. Leni Rokhma Dewi, Sp.PM
Praktikum Putaran I
Semester Ganjil Tahun Ajaran 2016

BAGIAN ILMU PENYAKIT MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

Laporan Kasus
GEOGRAPHIC TONGUE DI DORSUM LIDAH PADA PENDERITA
DENGAN FAKTOR RESIKO STRES
A.A. Istri Puspita Sari Dewi (121611101087)
Pembimbing: drg. Leni Rokhma Dewi, Sp.PM
Bagian Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember
Jln. Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto, Jember
Oktober 2016
0

Abstrak
Geographic tongue merupakan suatu peradangan jinak pada lidah. Geographic
tongue ditandai dengan daerah kemerahan, berbentuk seperti pulau-pulau, atropi
papila, dengan tepi yang jelas, dan meninggi berwarna putih kekuningan. Salah
satu faktor predisposisi pencetus geographic tongue adalah stres. Gambaran pada
kasus ini adalah pasien laki-laki berusia 19 tahun dengan kondisi lidah tampak
daerah kemerahan, atropi papila, bentuk tidak teratur seperti pulau, multipel, tepi
berbatas jelas, dan terdapat peninggian berwarna putih. Diagnosa akhir pada
pasien tersebut adalah Geographic tongue pada dorsum lidah. Penatalaksanaan
yang diberikan yaitu pemberian antiinflamasi, antibakteri, dan anastesi topikal
untuk meredakan gejala simptomatis, serta pemberian multivitamin sebagai terapi
suportif untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien.

Pendahuluan
Geographic tongue merupakan kelainan yang bersifat jinak, melibatkan
permukaan dorsum lidah dan ditandai dengan daerah depapilasi dengan tepi yang
jelas dan meninggi berwarna putih kekuningan atau keabu-abuan namun kadangkadang dapat memiliki batas tidak jelas. Lesi ini dapat menghilang pada suatu
daerah lidah dan dapat muncul kembali di daerah lain dengan sangat cepat, oleh
karena itu lesi ini juga disebut benign migratory glossitis [1].
Geographic tongue tidak memberikan keluhan apapun pada pasien,
walaupun dapat menimbulkan sensasi terbakar ringan pada lidah, pedih, dan sakit
ketika mengkonsumsi makanan pedas atau minuman berkarbonasi, alkohol serta
ketika merokok [2]. Kondisi ini terbatas dan dianggap sebagai perubahan rekuren
1

yang kurang berbahaya. Tidak ada bukti terjadinya perubahan perkembangan


kearah malignansi pada pasien yang memiliki geographic tongue selama beberapa
tahun [3].
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diduga ada hubungan antara
geographic tongue dengan genetik, defisiensi nutrisi, atopi dan lesi ini sering
dilaporkan muncul pada periode stres atau gangguan emosional. Suatu penelitian
menunjukkan bahwa prevalensi geographic tongue dapat terjadi enam kali lebih
tinggi pada mahasiswa dalam keadaan sakit secara psikologi akibat gangguan
emosional [4].
Laporan Kasus
Laki-laki berusia 19 tahun yang merupakan mahasiswa STIKES
Soebandi Jember datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas
Jember dengan keluhan lidah yang terasa sakit. Keadaan ini telah dirasakan pasien
sejak bulan Agustus 2016. Pasien belum pernah mengobati keluhan tersebut.
Pasien mengaku lidahnya terasa sakit saat mengkonsumsi makanan dan minuman
yang panas. Pasien tidak mengetahui penyebab keluhan tersebut. Pasien belum
pernah mengalami keluhan tersebut sebelumnya, pasien mengaku ini adalah
pertama kalinya mengalami keluhan tersebut.
Pemeriksaan Body Mass Index (BMI) pasien adalah obesitas. Pasien
tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu dalam 6 bulan terakhir. Keadaan
sosial pasien diketahui baik. Pasien tidak memiliki kebiasaan buruk merokok,
konsumsi obat-obatan maupun minum alkohol. Selain itu, baik pasien maupun
keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit sistemik ataupun alergi.
Pada pemeriksaan klinis ekstra oral tidak ditemukan adanya kelainan.
Pemeriksaan klinik intra oral pada dorsum lidah tampak adanya daerah
kemerahan, atropi papila, multipel, bentuk tidak teratur seperti pulau, tepi berbatas
jelas dan terdapat peninggian berwarna putih (Gambar 1). Selain itu, pada dorsum
lidah juga terdapat fissure multipel, kedalaman 1 mm, dan dasar kemerahan
(Gambar 1).

Berdasarkan serangkain pemeriksaan diatas, maka dapat ditegakkan


diagnosa pada pasien yaitu geographic tongue dan scrotal tongue pada dorsum
lidah.

Gambar 1. Kondisi dorsum lidah saat pertama kali kunjungan. Secara klinis,
tampak adanya daerah kemerahan, atropi papila, multipel, bentuk tidak teratur
seperti pulau, tepi berbatas jelas dan terdapat peninggian berwarna putih pada
dorsum lidah (a). Fissure multipel, kedalaman 1 mm, dan dasar kemerahan
pada dorsum lidah (b).
Tata Laksana Kasus
Penatalaksanaan kasus Geographic tongue pasien pada kunjungan
pertama adalah sebagai berikut :
a.
b.

pasien diinstruksikan untuk berkumur dengan air


pasien berkumur dengan larutan Tantum Verde sebanyak 15 mL selama 60

c.

detik tanpa diencerkan


setelah berkumur, dibuang
Pengobatan yang diberikan pada pasien yaitu Tantum Verde oral rinse dan

multivitamin yaitu Becomzet yang mengandung vitamin B kompleks, asam folat,


vitamin C, vitamin E, dan zinc. Selain itu, instruksi juga diberikan kepada pasien
antara lain menginstruksikan pasien untuk menjaga kebersihan rongga mulut,
3

makan teratur dan makan-makanan bergizi seimbang, konsumsi obat sesuai


anjuran (berkumur dengan Tantum verde 15 mL 2 kali/hari dan selama 20-30
menit tidak boleh minum dan makan, Becomzet 1 kali/hari setelah makan),
istirahat yang cukup, dan kontrol 1 minggu kemudian.
Kontrol I dilakukan setelah 7 hari perawatan. Berdasarkan anamnesa,
pasien mengaku kondisi lidah sudah membaik dan pasien sudah tidak merasakan
sakit pada lidahnya saat mengkonsumsi makanan dan minuman yang panas.
Tantum Verde masih sedikit dan Becomzet yang diberikan sudah habis.
Berdasarkan pemeriksaan klinis pada ekstra oral tidak ada abnormalitas.
Berdasarkan pemeriksaan intra oral terdapat bentukan seperti pulau, dasar
kemerahan, tepi berbatas jelas, peninggian berwarna putih, dan tidak sakit
(Gambar 2). Pasien diberikan resep obat lagi yaitu Aloe vera gel. Instruksikan
pada pasien untuk menjaga kebersihan rongga mulut, makan teratur dan makanmakanan bergizi seimbang, konsumsi obat sesuai anjuran (oleskan aloe vera
gel/aloclair gel pada lesi geographic menggunakan cotton pellet steril 3 kali/hari,
dan selama 20-30 menit tidak boleh minum dan makan), istirahat yang cukup, dan
kontrol 3 hari kemudian.

Gambar 2. Kondisi dorsum lidah pasien saat kontrol I. Secara klinis, terlihat
bentukan seperti pulau, dasar kemerahan, tepi berbatas jelas, dan peninggian
berwarna putih.
Kontrol II dilakukan setelah 10 hari perawatan. Berdasarkan anamnesa,
pasien sudah tidak merasakan sakit pada lidahnya saat mengkonsumsi makanan
dan minuman yang panas. Aloe vera/aloclair gel masih tersisa. Berdasarkan
pemeriksaan klinis pada ekstra oral tidak ada abnormalitas. Berdasarkan
pemeriksaan intra oral terdapat bentukan seperti pulau, dasar kemerahan, tepi
berbatas jelas, peninggian berwarna putih, dan tidak sakit (Gambar 3). Pasien
diberikan multivitamin Becomzet. Instruksikan pada pasien untuk menjaga
kebersihan rongga mulut, makan teratur dan makan-makanan bergizi seimbang,
konsumsi multivitamin sesuai anjuran (Becomzet 1 kali/hari setelah makan), dan
istirahat yang cukup. Berdasarkan kondisi tersebut maka terapi dinyatakan selesai.

Gambar 3. Kondisi dorsum lidah pasien saat kontrol II. Secara klinis, tampak
bentukan seperti pulau, dasar kemerahan, tepi berbatas jelas, dan peninggian
berwarna putih.
Pembahasan
Diagnosa akhir pada kasus ini adalah Geographic tongue. Diagnosa ini
ditegakkan berdasarkan anamnesa dengan pasien untuk didapatkan informasi
terhadap keluhan kondisi lidahnya dan pemeriksaan klinis. Pada anamnesa
didapatkan adanya keluhan rasa sakit pada lidah saat mengkonsumsi makanan dan
minuman yang panas. Hal ini terjadi sejak bulan Agustus 2016 dan belum pernah
diobati. Pemeriksaan klinis dilakukan untuk memastikan keluhan yang dirasakan
pasien, didapatkan adanya gambaran berupa bentukan seperti pulau-pulau,
berwarna kemerahan, multipel, tidak beraturan, dibatasi oleh garis atau pita
keratotik berwarna putih. Bercak kemerahan menunjukkan atrofi papilla
filiformis. Batas putih terdiri dari papilla filiformis yang bergenerasi dan
campuran keratin serta neutrofil [5].
Penyebab timbulnya Geographic tongue pada pasien tersebut diduga
karena adanya faktor stres. Stres akan meningkatkan kadar kortisol darah melalui
sumbu HPA. Hantaran stres ini menyebabkan pengeluaran Corticotropin
Releasing Factor (CRF) dari hipotalamus. CRF melalui HPA akan memicu sekresi
dan pelepasan hormon lain, yaitu adrenocorticotropin (ACTH) dari kelenjar
pituitary. Hormon ini akan mengikuti aliran darah dan mencapai kelenjar adrenal
serta memicu sekresi hormon stres, yaitu glukokortikoid. Glukokortikoid
mempunyai

peranan terhadap kompensasi tubuh terhadap stes dengan

mempengaruhi kerja sistem imun. Efek glukokortikoid yaitu imunosupresi,


sehingga mengganggu fungsi normal sel tubuh. Mekanisme ini yang
menyebabkan geographic tongue timbul pada pasien yang mengalami stres [6].
Tujuan dari terapi atau pengobatan yaitu menghilangkan gejala
simptomatis, mempercepat proses penyembuhan, dan meningkatkan daya tahan
tubuh. Terapi yang diberikan adalah Tantum Verde oral rinse, Aloe vera gel, dan
multivitamin Becomzet. Tantum Verde merupakan golongan Nonsteroidal anti6

inflammatory drug (NSAID) yang mengandung Benzydamine HCl Aethanolum


SaCTBenzvdamine HCl. Fungsi dari obat ini adalah sebagai antiinflamasi,
antibakteri, dan anastesi topikal. Antiinflamasi pada obat ini bekerja dalam
menghambat biosintesa prostaglandin yang merupakan mediator penting dalam
inflamasi [7].
Aloe vera/aloclair gel diresepkan pada pasien karena pada penggunaan
Tantum Verde selama 7 hari tidak terjadi perubahan yang signifikan pada lesi
geographic di dorsum lidah pasien. Aloe vera/aloclair gel mengandung ekstrak
aloe vera, sodium hyaluronate, glycyrhettinic acid, polyvinylpyrrolidone (PVP),
dan natrium benzoat. Aloe vera/aloclair gel memberikan efek antiinflamasi,
analgesik, antiseptik, dan mempercepat proses penyembuhan. Obat ini
membentuk suatu film pelindung pada lesi dan menjadikannya suatu barier
mekanik sehingga akan menghilangkan nyeri yang diakibatan paparan terhadap
ujung persarafan. Kandungan asam hyaluronate dan aloe vera mendukung
terjadinya proses penyembuhan yang alami dari jaringan yang mengalami
kerusakan [7].
Multivitamin Becomzet diberikan sebagai terapi suportif. Vitamin B
kompleks memegang peranan penting sebagai koenzim pada berbagai reaksi
biokimia dan metabolisme karbohidrat yang memperlancar metabolisme tubuh
manusia, dan meningkatkan stamina tubuh secara umum. Zinc berperan penting
dalam proses pembentukan sel-sel darah merah. Asam folat menaikkan
penyerapan zat besi oleh tubuh dan sintesa hemoglobin. Vitamin E bersifat
sebagai antioksidan yang akan mencegah terjadinya oksidasi bagian sel yang
penting atau mencegah terbentuknya hasil oksidasi yang toksik. Vitamin C
berperan penting sebagai kofaktor pada hidroksilasi residu prolin, penting dalam
sintesis kolagen, proteoglikan dan bahan-bahan antarsel, serta memelihara
jaringan konektif pada saat terjadi penyembuhan [8].
Kesimpulan
Geographic tongue merupakan suatu kelainan pada lidah dimana terlihat
daerah kemerahan karena adanya atropi papilla filiformis, dikelilingi daerah putih
hiperkeratosis menyerupai gambaran pulau yang dapat hilang dan muncul
kembali. Faktor resiko dari kasus ini adalah stres, dimana setelah dilakukan
7

perawatan dengan instruksi yang benar selama 10 hari terjadi perbaikan pada lesi
dan rasa sakit pada dorsum lidah hilang.

Daftar Pustaka
1. Greenberg M, Glick M, and Ship J. 2008. Burkets Oral Medicine. Ed 12th.
India: BC Deker Inc.
2. Regezy JA, Scluba JJ. 1989. Oral pathology clinical pathologic
correlations. Philadelphia: W.B. Saunders Co.
3. Grossman LI. 1958. Handbook of Dental Practice, Ed. 3th. Philadelphia:
J.B. Lippincott Co.
4. Redman RS, Shapiro BL, and Gorlin RJ. 1972. Hereditary Component in
The Etiology of Benign Migratory Glositis. Amer J Hum Genet. 24: 124133.
5. Langlais, Robert P and Miller, Craig S. 2000. Color Atlas of Common
Oral Diseases. Jakarta: Hipokrates.
6. Hokardi, Cindy Aryani. 2013. Pengaruh Stress Akademik Terhadap
Kondisi Jaringan Periodontal dan Kadar Hormon Kortisol dalam Cairan
Krevikular Gingiva. Tesis. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia.

7. Langlais Robert P, Bricker Steven L, Cottone James A, Baker Bill R. 1984.


Oral diagnosis, oral medicine, and treatment planning. Philadelphia: W.B.
Saunders Co.
8. Singh S. 2007. Pharmacology for dentistry. New Delhi: New Age
international (P) Ltd. P. 383-90.