Anda di halaman 1dari 23

PEMANTAUAN DAN BIMBINGAN TEKNIS

PENERAPAN CPIB DAN CBIB


DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

Oleh :
Devi Ilma Handayani
Romayanti D.Hutasoit

BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR


TAWAR SUKABUMI
DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
2013

PEMANTAUAN DAN BIMBINGAN TEKNIS


PENERAPAN CPIB DAN CBIB
DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
Abstrak
Salah satu perangkat agar kegiatan usaha budidaya dapat berdaya saing dan berkelanjutan
adalah dengan melakukan tata cara budidaya yang baik dan bertanggung jawab dimulai dari kegiatan
pembenihan hingga pembesaran, sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor KEP.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan Yang Baik, yang merupakan salah
satu program Direktorat Jenderal Perikanan, yaitu Sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)
dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) . BBPBAT Sukabumi sebagai salah satu UPT di bawah DJPB
memiliki tugas da fungsi dalam membantu program tersebut, melakukan bimbingan teknis penerapan
CPIB dan CBIB yang dilaksanakan oleh pejabat fungsional pengawas perikanan bidang
pembudidayaan ikan dengan mengambil lokasi salah satunya adalah di Kabupaten Bandung.
Pemantauan dan bimbingan teknis di Kabupaten Bandung dilakukan pada 16 unit usaha, yang
terdiri dari tig aunit usaha pembenihan dan 13 unit usaha pembesaran. Penerapan CPIB pada 3 unit
usaha pembenihan yang dipantau berkisat antara 61,2-81,6%, sementara penerapan CBIB pada unit
usaha pembesaran yang dipantau berkisar antara 51,28-95,7%. Bimbingan teknis telah dilakukan
terhadap ke-16 unit usaha tersebut di atas, dengan cara diskusi dan pemberian contoh-contoh
penerapan CPIB/CBIB di masing-masing unit usahanya. Selain itu diberikan pula contoh SPO, Form isian
untuk merekam/mencatat data kegiatan budidaya dan daftar obat, pakan dan unit pembenih yang
teregistrasi KKP dan terdapat 10 unit yang mengajukan sertifikasi.
Kata Kunci : Sertifikasi, bimbingan teknis, CPIB, CBIB, Pemantauan

I.
1.1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dengan meningkatnya persaingan usaha perikanan antar negara, maka mutu produk

adalah sesuatu hal penting yang harus diutamakan sebagai modal awal untuk dapat
bersaing dalam dunia bisnis perikanan global. Selain itu, tingkat pengetahuan dan daya beli
masyarakat dalam negeri semakin membaik sehingga meningkatkan tingkat selektifitas,
kesadaran terhadap pentingnya jaminan mutu dan keamanan produk.
Dalam rangka mendukung Program Direktorat Jendral Perikanan Budidaya untuk
menumbuhkan
berkelanjutan,

dan

mengembangkan

usaha

budidaya

yang

berdaya

maka produk perikanan diharapkan aman untuk

saing

dikonsumsi

dan

sesuai

persyaratan yang dibutuhkan pasar. Hal tersebut berkaitan dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.
Salah satu perangkat agar kegiatan usaha budidaya dapat berdaya saing dan
berkelanjutan adalah dengan melakukan tata cara budidaya yang baik dan bertanggung
jawab dimulai dari kegiatan pembenihan hingga pembesaran, sebagaimana diatur dalam
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya
Ikan Yang Baik.
Oleh karena hal-hal di atas, maka perlu dilakukan pemantauan dan bimbingan teknis
penerapan CPIB, CBIB di unit-unit usaha pembudidayaan ikan di wilayah pengembangan
BBPBAT Sukabumi. Salah satu di antaranya adalah Kabupaten Bandung yang merupakan
sentra produksi ikan nila, mas dan lele.
1.2.

Tujuan
Mengetahui tingkat penerapan CPIB, CBIB pada unit-unit usaha pembudidayaan ikan

II.

Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman CPIB, CBIB di tingkat pembudidaya

TINJAUAN PUSTAKA

2.1
KEAMANAN PANGAN PADA USAHA PEMBESARAN IKAN (Kepmen No. Kep
02/MEN/2007)
A. Persyaratan Keamanan Pangan
1.
Cara budidaya ikan yang baik harus memperhatikan persyaratan keamanan
pangan, antara lain:
a. mencegah tercemarnya produk oleh cemaran biologis, kimia dan benda lain
yang mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia dari
udara, tanah, air, pakan, pupuk, dan obat ikan atau bahan lain mulai dari
proses pra produksi, produksi sampai dengan panen;
b. memenuhi persyaratan sanitasi.
2. Persyaratan keamanan pangan diterapkan pada:
a.
sarana dan/atau prasarana;
b.
penyelenggaraan kegiatan pembudidayaan ikan.
3. Keamanan pangan pada sarana dan/atau prasarana diterapkan pada desain dan
konstruksi bangunan, tata letak, peralatan dan instalasi, fasilitas sanitasi hygiene,
dan fasilitas lain yang secara langsung atau tidak langsung digunakan pada usaha
pembudidayaan ikan.
4.
Keamanan pangan pada penyelenggaraan kegiatan pembudidayaan ikan
diterapkan pada usaha pembesaran, panen, penanganan, dan pendistribusian
hasil pembudidayaan ikan.
B. Keamanan Pangan Pada Usaha Pembesaran
1. Keamanan pangan pada usaha pembesaran diterapkan pada proses pra produksi
dan produksi termasuk penggunaan pakan, bahan kimia, dan bahan biologis,
serta obat ikan.
2.
Proses praproduksi meliputi: pemilihan lokasi; penentuan tata letak dan
konstruksi; dan pemilihan wadah.
3. Pemilihan lokasi harus memenuhi persyaratan:
a. ) dibangun pada lokasi yang terhindar dari kemungkinan terjadinya
pencemaran, jauh dari permukiman, industri, serta lahan pertanian dan
peternakan; b.) kualitas air sumber sesuai dengan peruntukannya, tidak
mengandung residu logam berat, pestisida, organisme patogen, cemaran, dan
bahan kimia berbahaya lainnya;
4. Penentuan tata letak dan konstruksi mencakup:
a.) saluran pasok dan saluran buang; b.)tandon pasok pada budidaya udang
intensif dan semi intensif;
c. ) tempat penyimpanan pakan, pupuk, obat ikan, pestisida, bahan bakar minyak,
dan peralatan budidaya; d.) fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), toilet, dan septic
tank.
5. Pembangunan saluran pasok dan saluran buang memenuhi persyaratan:
a.) dibuat terpisah; b.) tidak melalui daerah pemukiman, daerah industri, serta
lahan pertanian dan peternakan.
6. Tempat penyimpanan pakan, pupuk, obat ikan, pestisida, bahan bakar minyak,
dan peralatan budidaya memenuhi persyaratan:
a.) dibuat terpisah; b.) terletak di tempat yang aman dan tertutup dengan
sirkulasi udara yang baik; c.) bebas hama dan binatang peliharaan; d.) dilengkapi
dengan fasilitas pencucian tangan.
7. Pembangunan fasilitas MCK, toilet, dan septic tank terletak minimum 10 meter
dari petak pemeliharaan dan saluran.
8. Pemilihan wadah budidaya tidak terbuat dari bahan yang beracun dan berbahaya
dan berpotensi mencemari produk serta tidak mudah korosif.
9.
Proses produksi pada usaha pembesaran meliputi persiapan lahan/wadah
budidaya, penumbuhan pakan alami, pemilihan benih, pengelolaan air,

penggunaan pakan, obat ikan, pupuk, probiotik, desinfektan, dan bahan kimia lain
serta pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan.
10. Persiapan lahan/wadah memenuhi persyaratan:
a) . tidak menggunakan pupuk, probiotik, pestisida, dan desinfektan terlarang; b.)
penggunaannya sesuai dengan peruntukan serta sudah memiliki nomor
pendaftaran.
11. Penumbuhan pakan alami tidak menggunakan pupuk dan bahan additive serta
penggunaannya sesuai dengan peruntukkannya dan sudah memiliki nomor
pendaftaran.
12. Pengelolaan air dilakukan sebelum, selama, dan setelah proses produksi dengan
tidak menggunakan probiotik terlarang serta bila diperlukan dilakukan filterisasi
dan upaya pengendapan dalam wadah tandon tersendiri.
13. Pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan dengan menerapkan pengamanan
biologi (biosecurity), pemulihan kualitas air dengan tidak menggunakan probiotik
dan bahan kimia terlarang.
14. Pengamanan biologi mencakup antara lain bebas hama/patogen dan binatang
peliharaan serta tindakan isolasi terhadap ikan yang terserang penyakit.
15. Pemilihan benih berasal dari unit pembenihan yang bersertifikat.
2.2
PENGGUNAAN PAKAN, PUPUK, PROBIOTIK, DESINFEKTAN, SERTA OBAT
IKAN, DAN BAHAN KIMIA LAINNYA
A. Penggunaan Pakan Ikan
1. Penggunaan pakan ikan pada proses produksi harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a.) mengandung nutrisi yang terdiri dari sumber kalori dan protein sesuai
kebutuhan dari masing-masing jenis dan umur ikan; b.)
meningkatkan
pertumbuhan atau keindahan penampilan (eksotika) ikan secara optimal; c.) tidak
mengandung zat beracun, bahan pencemaran yang berbahaya bagi ikan dan/atau
manusia, atau yang mengakibatkan penurunan produksi atau menyebabkan
pencemaran/kerusakan lingkungan; d.) tidak mengandung antibiotik dan hormon;
e.) pakan telah terdaftar atau bersertifikat; f.) masih layak digunakan melalui
proses uji mutu; g.) tidak mengalami perubahan fisik (tekstur, warna, dan bau);
h.) kemasan, wadah, atau pembungkusnya tidak rusak; i.) menggunakan bahan
baku, pelengkap pakan, dan imbuhan pakan yang memenuhi persyaratan.
2. Pemberian pakan tidak dicampur dengan antibiotik dan hormon.
3. Bahan baku pakan, pelengkap pakan, dan imbuhan pakan, tidak membahayakan
ikan, manusia, dan lingkungan, serta harus memenuhi standar mutu yang
ditetapkan.
4. Bahan baku pakan, pelengkap pakan, dan imbuhan pakan, sebelum digunakan
harus dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium terhadap kandungan bahan
asing, bahan kimia, mikro-organisme, dan zat beracun.
B. Penggunaan Pupuk, Probiotik, Desinfektan, Serta Obat Ikan Dan bahan
Kimia Lainnya
Penggunaan pupuk, probiotik, desinfektan, serta obat ikan, dan bahan kimia
lainnya pada proses produksi, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.) memiliki nomor pendaftaran yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal; b.)
sesuai dengan ketentuan dan petunjuk pada etiket dan brosur; c.) etiket harus
menggunakan Bahasa Indonesia; d.) tidak mengalami perubahan fisik (tekstur,
warna, dan bau); e.) kemasan, wadah, atau pembungkusnya tidak rusak f. sesuai
dengan peruntukkannya g. tidak kadaluarsa; h.) obat ikan yang termasuk
golongan obat keras, penggunaannya harus dengan petunjuk dokter hewan; i.
obat ikan yang termasuk golongan obat bebas terbatas dan/atau obat bebas,
penggunaannya mengikuti petunjuk pemakaian yang telah ditetapkan.
2.3
KEAMANAN
PANGAN
PADA
SAAT
PANEN,
PENANGANAN,
DAN
PENDISTRIBUSIAN HASIL
A. Keamanan Pangan Pada Saat Panen
1.
Kegiatan pembudidayaan ikan diterapkan pada saat panen, penanganan, dan
pendistribusian hasil.
2. Panen meliputi peralatan dan cara panen.
3.
Peralatan panen harus menggunakan bahan yang tidak merusak fisik, tidak
terbuat dari bahan yang beracun dan berbahaya serta berpotensi mencemari
produk, tidak mudah korosif, dan mudah dibersihkan.

4. Cara panen dilakukan dengan cepat dan cermat.


B. Keamanan Pangan Pada Penanganan Hasil
1. Penanganan hasil meliputi:
a. Pemilihan lokasi penanganan hasil memenuhi persyaratan:
1.) dekat dengan unit pembudidayaan ikan; 2.) cukup tersedia air bersih; 3.)
tersedianya fasilitas pengelolaan limbah cair ataupun padat; 4.) terhindar dari
kemungkinan terjadinya pencemaran.
b. Sarana dan prasarana yang meliputi desain dan konstruksi bangunan, tata
letak, peralatan, dan instalasi harus memenuhi persyaratan:
1.) sesuai dengan komoditas yang ditangani; 2.) tersedia peralatan penanganan
hasil dalam jumlah yang cukup; 3.) tidak berpotensi mencemari produk dan
mudah dibersihkan; 4.) bersih dan higienis, bebas dari binatang antara lain tikus,
burung, serangga, dan lain-lain.
c. Penanganan hasil harus dilakukan dengan cara:
1.) dilakukan dengan cepat dan cermat; 2.) membuang dan membersihkan
sumber pembusukan pada ikan dengan cara dan peralatan yang sesuai dengan
komoditas yang ditangani; 3.) tidak menggunakan bahan tambahan yang dilarang
sesuai dengan peraturan yang berlaku; 4.) menerapkan sistem rantai dingin; 5.)
dilakukan secara saniter.
d. Es atau air yang didinginkan menggunakan air tawar atau air laut bersih
dengan mutu sesuai peraturan yang berlaku.
e. Bahan dan cara pengemasan hasil produk, memenuhi persyaratan:
1.) bahan pengemas tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan cemaran
yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia; 2.) cara pengemasan
sesuai dengan komoditas yang akan dikemas. 3.) cara pengemasan, meliputi
pengemasan ikan hidup dan/atau ikan segar/mati.
f. Pengemasan ikan hidup dapat dilakukan dengan cara basah dan cara kering.
Cara basah dengan menggunakan air dan oksigen yang cukup dan/atau diberi es
curah di luar kantong/plastik pembungkus. Cara kering tidak menggunakan air,
namun dapat menggunakan serbuk
gergaji yang diberi es dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan yang tidak
menggunakan obat dan
bahan kimia terlarang.
g. Pengemasan ikan segar/mati, dengan pemberian es curah/es kering.
C. Keamanan Pangan Pada Pendistribusian Hasil
1. Sarana pendistribusian hasil meliputi wadah dan alat pengangkut.
2. Wadah meliputi:
a.)
wadah pengangkut terbuka yang dilengkapi dengan aerator; b.) wadah
pengangkut tertutup yang mempunyai pendingin atau cool box.
3. Alat pengangkut harus memenuhi persyaratan sanitasi dan hygiene, aman dalam
pengangkutan, dapat
mempertahankan kualitas, tahan terhadap korosi, dan
memenuhi standar sesuai ketentuan yang berlaku.
2.4
VERIFIKASI, TINDAKAN KOREKSI, DAN PENCATATAN PADA USAHA
PEMBUDIDAYAAN IKAN
A. Verifikasi
1. Verifikasi dilakukan untuk memastikan bahwa semua kegiatan usaha
pembudidayaan ikan yang terkait
telah dilakukan sesuai dengan cara budidaya yang
baik.
2. Verifikasi dilakukan oleh otoritas kompeten.
B. Tindakan Koreksi
Tindakan koreksi dilakukan apabila terjadi penyimpangan dan/atau kesalahan pada
kegiatan usaha
pembudidayaan ikan.
C. Pencatatan
1. Kegiatan usaha pembenihan, pembesaran, panen, penanganan, dan
pendistribusian hasil harus
menerapkan pencatatan yang menjamin penelusuran
kembali produk pembudidayaan ikan.
2. Pencatatan dilakukan pada setiap tahap pembudidayaan yaitu mulai proses pra
produksi, produksi
sampai dengan panen dan penanganan hasil, termasuk tindakan koreksi dan
verifikasi.

3. Pencatatan dilakukan terhadap alat, wadah, pengelolaan air, benih, induk,pakan,


bahan kimia, bahan
biologis, dan obat ikan yang digunakan.
4. Pencatatan dilakukan oleh penanggung jawab pada unit usaha pembudidayaan
ikan yang telah
mengikuti pelatihan atau yang berkompeten.
5. Penanggung jawab ditentukan berdasarkan sistem manajemen dan struktur
organisasi di unit usaha
pembudidayaan ikan.
2.5
PERSYARATAN PEMBENIHAN IKAN
2.5.1 Kelayakan Bioteknis
Faktor penentu keberhasilan dan keberlanjutan usaha pembenihan ikan adalah
kondisi unit pembenihan yang memenuhi kelayakan bioteknis yang meliputi lokasi,
sumber air, tenaga kerja dan kelayakan fasilitas. Faktor tersebut di atas merupakan
persyaratan penting untuk menjamin kelancaran manajemen operasional serta
menghindari risiko kegagalan usaha pembenihan.
A. Lokasi
Lokasi untuk unit usaha pembenihan ikan, harus berada di daerah yang terbebas
dari banjir, pengikisan daerah pantai serta terhindar dari cemaran limbah
industri, pertanian, pertambangan dan pemukiman. Kelayakan lokasi tersebut
dimaksudkan untuk menghindari risiko kerugian dan kegagalan operasional suatu
unit pembenihan akibat adanya kontaminasi cemaran dari lingkungan sekitar.
Pembenihan ikan sebaiknya tidak terletak dekat dengan kawasan budidaya. Hal
ini dimaksudkan untuk menghindari risiko terjadinya infeksi penyakit pada induk
dan benih di unit pembenihan apabila di kawasan budidaya tersebut terjadi
wabah penyakit ikan. Bagi unit pembenihan yang berdekatan dengan kawasan
budidaya harus memiliki sarana pengolahan dan sterilisasi air. Untuk lebih
menjamin kelancaran kegiatan operasional, maka lokasi unit pembenihan ikan
harus berada di daerah yang mudah dijangkau serta tersedia sarana dan
prasarana penunjang seperti jaringan listrik, sarana komunikasi dan transportasi.
B. Sumber Air
Persyaratan air yang digunakan dalam proses produksi benih harus layak dan
sesuai dengan kebutuhan hidup dan pertumbuhan ikan yang dipelihara (sesuai
SNI). Kualitas dan kecukupan sumber air akan berdampak langsung terhadap
mutu benih ikan dan keberlangsungan usaha pembenihan. Sumber air yang
digunakan untuk proses produksi benih ikan harus tersedia sepanjang tahun
serta bebas cemaran mikroorganisme pathogen, bahan organik dan bahan kimia.
Bagi unit pembenihan yang memperoleh air dari sumber air yang keruh, maka
unit pembenihan tersebut harus memiliki sarana filtrasi/pengendapan air.
C. Tenaga Kerja
Untuk menjamin keberhasilan usaha pembenihan ikan maka unitpembenihan
harus memiliki tenaga kerja yang kompeten, berdedikasi tinggi serta jumlah
sesuai kebutuhan. Pengalokasian tenaga kerja harus disesuaikan dengan
pembagian kegiatan dalam unit pembenihan tersebut.
2.5.2 Kelayakan Fasilitas
Kelayakan fasilitas suatu unit pembenihan ikan menjadi faktor yang cukup penting
dalam penerapan CPIB, karena kelayakan fasilitas akan mempengaruhi operasional
unit pembenihan secara optimal. Kelayakan fasilitas dimaksud adalah kesesuaian
ketersediaan fasilitas/sarana pembenihan yang mencakup jumlah, kondisi dan
kemampuan (daya dukung).
A. Bangunan
Kelayakan fasiltas bangunan bagi unit pembenihan ikan dalam rangka penerapan
CPIB antara lain:
a. Ruang laboratorium
b. Ruang mesin
c. Bangsal panen
d. Tempat penyimpanan pakan : .
e. Tempat penyimpanan bahan kimia dan obat-obatan : Tempat penyimpanan
bahan kimia dan barang lain, terjaga kebersihannya serta terkontrol
kondisinya.
f. Tempat penyimpanan peralatan berfungsi untuk menyimpan peralatan agar
terjaga kebersihannya. g.
Kantor/ruang administrasi; berfungsi untuk
melakukan kegiatan pencatatan administrasi dan penyimpanan dokumen
serta transaksi jual beli atau menerima tamu.

B. Sarana Filtrasi, Pengendapan dan Bak Tandon


Unit pembenihan ikan yang memperoleh air dari perairan umum (laut, sungai,
saluran irigasi), diharuskan memiliki sarana pengendapan, filtrasi dan bak tandon
(sesuai SNI), yang berfungsi untuk mengendapkan, menyaring dan menyimpan
air, sehingga diperoleh air yang bermutu dalam jumlah yang cukup. Unit
pembenihan ikan yang memperoleh air dari sumur dan mata air langsung, tidak
diharuskan memiliki sarana filtrasi.
C. Bak karantina
Bak karantina berfungsi sebagai tempat pemeliharaan sementara induk baru
yang akan digunakan, guna mencegah masuknya penyakit bawaan induk baru
yang berasal dari luar. Bak karantina ditempatkan pada ruang yang terpisah dari
bak untuk proses produksi. Bak karantina harus terbuat dari material yang kokoh,
kedap air dan mudah dibersihkan. Jumlah dan volume bak karantina disesuaikan
dengan kebutuhan unit pembenihan.
D. Bak/kolam pemeliharaan induk
Bak/kolam pemeliharaan induk harus terbuat dari material yang kokoh, kedap air
dan mudah dibersihkan.Bentuk, jumlah dan volume bak/kolam induk harus
disesuaikan dengan sifat biologi dan persyaratan sebagaimana SNI masingmasing komoditas.
E. Wadah pemijahan dan penetasan
Wadah harus ditempatkan pada ruang khusus yang terkontrol kondisinya. Wadah
harus terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan serta mempunyai
konstruksi/bentuk yang memudahkan pemanenan.
F. Bak/kolam pemeliharaan benih
Bak/kolam pemeliharaan harus terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan,
tahan terhadap bahan kimia pembersih serta mempunyai konstruksi/bentuk yang
memudahkan pemanenan.
G. Bak kultur pakan hidup
Bak harus ditempatkan terpisah, tidak mudah terkontaminasi, mudah dibersihkan
serta mempunyai konstruksi/bentuk yang memudahkan pemanenan.
H. Wadah penampungan benih
Wadah penampungan benih berfungsi sebagai tempat penampungan sementara
benih dalam jumlah banyak untuk dikemas lebih lanjut, dengan media air yang
bersih dan cukup oksigen serta memudahkan dalam pemanenan dan
pengemasan.
I. Sarana pengolah limbah
Tersedianya sarana pengolah limbah di unit pembenihan merupakan suatu
keharusan, dalam rangka menetralkan limbah yang berasal dari unit karantina,
unit produksi dan unit laboratorium. Sarana pengolah limbah dapat berupa bak,
kolam peresapan maupun saluran. Sarana pengolah limbah merupakan tempat
perlakuan terakhir dari proses penetralan limbah sebelum dibuang keluar
lingkungan unit pembenihan.
J. Mesin dan peralatan kerja
Kelayakan fasilitas tersebut antara lain : a.) Peralatan produksi di setiap ruang
pemeliharaan harus tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan.
Material peralatan produksi tidak membahayakan/menimbulkan dampak negatif
terhadap benih yang dipelihara, terjaga kebersihannya serta mudah
dioperasionalkan. b.) Bahan dan peralatan panen dan pengemasan benih harus
tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Peralatan panen harus
terbuat dari bahan yang tidak membahayakan/menimbulkan dampak negatif
terhadap benih yang dipanen, mudah dibersihkan serta mudah didapat. c.)
Peralatan mesin harus tersedia dalam jumlah dan daya yang cukup sesuai
kebutuhan unit pembenihan. Peralatan mesin harus selalu dirawat secara berkala
dan terjaga kebersihannya. Mesin harus diletakkan pada tempat yang tepat agar
tidak menimbulkan dampak negatif bagi benih ikan yang dipelihara. d.)
Peralatan laboratorium harus tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai
kebutuhan pengamatan minimal unit pembenihan. Peralatan laboratorium harus
selalu dirawat dan dikalibrasi secara berkala. Peralatan laboratorium harus
diletakkan/disimpan di tempat yang aman dan terhindar dari kontaminasi bakteri
pathogen.
K. Sarana biosecurity

Kelayakan sarana biosecurity merupakan keharusan dalam penerapan CPIB di


unit pembenihan ikan, khususnya guna mendukung proses produksi benih
bermutu di unit pembenihan tersebut. Sarana yang diperlukan untuk penerapan
biosecurity tersebut antara lain : a.) Pagar : Pagar pada unit pembenihan
bertujuan untuk secara fisik membatasi keluar dan masuknya manusia, hewan
dan kendaraan yang dapat membawa organisme pathogen ke dalam lingkungan
unit pembenihan. Pagar dapat terbuat dari material seperti besi, tembok, bambu
atau material lainnya yang kokoh dan rapat; b.) Sekat antar unit produksi : Untuk
menghindari kontaminasi maka antar unit produksi harus terpisah secara fisik,
baik melalui penyekatan maupun ruangan/bangunan tersendiri. Sekat antar
ruang dapat terbuat dari tembok, papan, triplek atau anyaman bambu yang
dilapisi plastik; c.) Sarana sterilisasi kendaraan di pintu masuk unit pembenihan.
Pada pintu masuk utama unit pembenihan, harus disediakan sarana sterilisasi
bagi roda kendaraan yang akan masuk ke dalam lingkungan unit pembenihan.
Sarana celup roda umumnya terbuat dari semen/beton dengan ukuran luas dan
kedalaman disesuaikan dengan lebarnya jalan serta kendaraan. Sarana celup
dibuat di bagian dalam atau di belakang pagar pintu gerbang lingkungan unit
pembenihan. Bahan sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah cairan
Kalium Permanganat (KMnO4), Timsen atau Khloramin T (Halamid); d.)
Sarana sterilisasi alas kaki (foot bath) : Sarana sterilisasi alas kaki (foot bath)
merupakan tempat untuk sterilisasi alas kaki personil yang akan masuk ke dalam
ruang produksi. Sarana sterilisasi alas kaki dapat terbuat dari bak semen maupun
bahan lain dengan ukuran sesuai ukuran pintu masuk. Sarana sterilisasi berada
di depan pintu masuk ruang produksi. Bahan sterilisasi yang aman digunakan
antara lain adalah cairan klorin, Kalium Permanganat (KMnO4), Timsen atau
Khloramin T (Halamid). Penggunaan bahan sterilisasi disesuaikan dengan
spesifikasi bahan; e.) Sarana sterilisasi tangan : Sarana sterilisasi tangan
merupakan tempat untuk sterilisasi tangan personil yang akan masuk ruang
produksi. Sarana sterilisasi tangan dapat berupa wastafel atau alat penyemprot
yang ditempatkan di depan pintu masuk ruang produksi. Bahan sterilisasi yang
umum dipakai adalah cairan alkohol 70 % atau sabun antiseptik; f. Pakaian dan
perlengkapan kerja personil unit produksi: Pakaian dan perlengkapan kerja
personil unit produksi merupakan pakaian dan perlengkapan yang khusus
digunakan oleh personil di ruang produksi. Pakaian dan perlengkapan kerja ini
harus tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai jumlah personil. Pakaian dan
perlengkapan kerja harus terbuat dari bahan yang tidak membahayakan
pemakainya dan harus selalu bersih.
2.5.3 PROSES PRODUKSI
Persyaratan proses produksi pada pembenihan ikan harus mengacu pada SNI
perbenihan/juknis/pedoman, antara lain : (1) Manajemen induk; (2) Manajemen
benih; (3) Manajemen air; (4) Pengemasan dan distribusi hasil panen;
2.5.3.1
Manajemen induk : Tujuan manajemen induk adalah untuk menghasilkan
benih ikan yang bermutu. Induk yang digunakan dalam pembenihan ikan harus
merupakan induk yang memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI. Beberapa
tahapan kegiatan yang harus dilakukan dalam manajemen induk adalah (1)
Pemilihan induk; (2) Karantina induk; (3) Pemeliharaan induk.
A. Pemilihan induk : Induk yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
a.) Umur dan ukuran siap pijah sesuai SNI; b.) Bebas penyakit dan tidak cacat;
c.) Merupakan induk
unggul hasil pemuliaan atau domestikasi; d.) Kejelasan asal
usul induk. Induk yang berasal dari dalam
negeri harus dibuktikan dengan Surat
Keterangan Asal (SKA), sedangkan untuk induk yang berasal dari
luar negeri harus
dibuktikan dengan surat keterangan bebas pathogen berdasarkan uji kesehatan oleh
pihak karantina dan dilengkapi dengan dokumen : (1) Rekomendasi impor dari
Direktorat Jenderal
Perikanan Budidaya, (2) Certificate of Origin dari negara asal,
dan (3) Certificate of Health dari negara
asal.
B. Karantina induk :Induk yang berasal dari tempat lain atau berasal dari luar
negeri, harus dilakukan tindakan karantina terlebih dahulu sebelum digunakan
dalam proses produksi benih, dengan cara melakukan pengamatan terhadap
kondisi dan kesehatan induk. Tujuan perlakuan karantina adalah untuk
menemukan dan mengidentifikasi pathogen potensial yang dibawa oleh induk

baru tersebut. Perlakukan karantina dapat dilakukan dengan cara uji stress dan
uji sanding. Apabila ditemukan penyakit/pathogen yang dapat disembuhkan,
maka induk harus diberi perlakuan pengobatan dengan cara dan bahan yang
direkomendasikan. Sedangkan apabila ditemukan penyakit/pathogen yang tidak
dapat disembuhkan maka induk harus dimusnahkan.
C. Pemeliharaan induk: Beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam
melakukan penanganan dan pemeliharaan induk antara lain adalah sebagai
berikut: a.) Kondisi ruangan dan wadah pemeliharan harus disesuaikan dengan
persyaratan teknis bagi induk; b.) Selama pemeliharaan induk, harus dilakukan
pengelolaan air dengan baik; c.) Pakan yang diberikan kepada induk harus sesuai
dengan kebutuhan induk baik dalam jenis, dosis, frekuensi pemberian, serta
kandungan nutrisi, yang sesuai bagi perkembangan gonad dan kualitas telur,
bebas dari bahan kimia dan obat-obatan yang dilarang serta bebas kontaminan,
memperhatikan aturan pakai dan tanggal kadaluwarsa sebagaimana tercantum
pada label pengemas pakan, disimpan dalam wadah/tempat yang bersih,
terhindar dari kontaminan serta pengaruh sekitar yang mempercepat
pembusukan; d.) Induk yang terinfeksi suatu penyakit dapat diobati dengan
bahan kimia dan obat-obatan yang direkomendasikan dan atau terdaftar di KKP,
dengan memperhatikan aturan pakai serta tanggal kadaluwarsa sebagaimana
tercantum pada label pengemas obat. Bahan kimia dan obat-obatan harus
disimpan di tempat yang bersih dan terhindari dari pengaruh yang mempercepat
kerusakan; e.) Pengamatan terhadap perkembangan gonad dan kesehatan induk
harus dilakukan dengan baik secara periodik; f.) Selama proses pemijahan dan
penetasan telur harus dilakukan
penanganan dengan baik.
2.5.3.2
Manajemen Benih
Unit pembenihan yang hanya melakukan pemeliharaan larva/nauplius menjadi
benih/postlarva maka
larva/nauplius harus diperoleh dari unit pembenihan yang telah
lulus sertifikasi CPIB/sistem mutu
perbenihan atau diperoleh dari UPT Lingkup
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Beberapa hal
penting
yang
harus
dilakukan dalam setiap tahapan pemeliharaan benih adalah: a.) Aklimasi benih harus
dilakukan sebelum benih ditebar ke dalam wadah pada tahapan pemeliharaan benih
berikutnya; b.)
Selama pemeliharaan benih harus dilakukan manajemen air dengan
baik agar air media pemeliharaan
memenuhi
persyaratan
mutu
air
bagi
pemeliharaan benih; c.) Pakan yang diberikan kepada benih baik
pakan
hidup
maupun pakan buatan harus sesuai dengan jenis, dosis dan frekuensi pemberian pakan,
serta kandungan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Pakan
tersebut harus bebas
dari bahan kimia dan obat-obatan yang dilarang serta
kontaminan. Penggunaan pakan buatan
harus memperhatikan aturan pakai dan tanggal kadaluwarsa sebagaimana
tercantum pada label
pengemas pakan, disimpan di tempat khusus sebagaimana
petunjuk pada label
pengemas atau petunjuk
teknis
guna
menghindari
kontaminan serta terjaga kualitasnya. d.) Benih yang terinfeksi suatu penyakit
dapat
diobati dengan bahan kimia dan obat-obatan yang direkomendasikan dan atau terdaftar
di KKP, dengan memperhatikan aturan pakai serta tanggal kadaluwarsa sebagaimana
tercantum pada
label pengemas obat. Bahan kimia dan obat-obatan harus
disimpan di tempat yang
bersih dan terhindari dari
pengaruh
yang
mempercepat kerusakan; e.) Perkembangan, aktivitas dan kesehatan benih harus
dimonitor secara rutin baik melalui pengamatan visual maupun mikroskopis.
2.5.3.3
Manajemen Air
Air sebagai media hidup ikan merupakan sarana yang vital dalam proses produksi
benih. Oleh karena itu air yang akan digunakan untuk media pemeliharaan induk,
penetasan telur, pemeliharaan benih dan
kultur pakan alami harus memenuhi
standar baku mutu air, yaitu bersih, bebas hama dan parasit serta organisme
pathogen. Untuk memperoleh standar baku air tersebut dapat dilakukan melalui proses
pengendapan, filtrasi dan perlakuan air (water treatment) baik secara fisik, kimiawi
maupun biologi. Pada
pembenihan yang sumber airnya berasal dari perairan umum
yang keruh, pengendapan air mutlak diperlukan, kemudian dilakukan filtrasi dan
perlakuan air dengan tujuan untuk mengeliminasi organisme
pathogen
dan
mereduksi kandungan logam berat. Bahan yang digunakan untuk perlakuan air antara

lain
klorin, ozon, karbon aktif, UV, EDTA, HCl dan Natrium tiosulfat
(Na2(S2O3).5H2O).
2.5.3.4
Panen, pengemasan dan distribusi benih
A. Panen
Beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam pemanenan benih adalah:
a.) Benih yang dipanen harus pada umur dan ukuran sesuai SNI; b.) Panen
dilakukan dengan hati-hati, cepat dan cermat; c.)
Peralatan panen yang
digunakan harus bersih, steril dan sesuai dengan kebutuhan panen; d.) Sebelum
benih dipanen, harus dilakukan pengecekan mutu benih terlebih dahulu, antara
lain melalui: (1) Pemeriksaan visual; (2) Pemeriksaan mikroskopis; (3)
Pengecekan infeksi organisme pathogen; (4) Khusus udang dilakukan PCR untuk
mendeteksi adanya virus; (5) Khusus untuk komoditas ekspor, perlu dilakukan
pengecekan residu antibiotik.
B. Pengemasan dan distribusi benih
Setelah benih dipanen dan ditampung, selanjutnya dilakukan pengemasan
benih. Kemasan benih ikan harus menjamin bahwa benih dapat sampai di tempat
tujuan dengan aman, terhindar dari kontaminan dan mempertahankan sintasan
benih yang tinggi. Untuk itu beberapa hal yang harus dilakukan dalam pengemasan
benih adalah sebagai berikut: a.) Peralatan untuk pengemasan yang digunakan
harus bersih dan steril, dengan ukuran dan jumlah yang sesuai dengan jumlah benih
yang akan
dipanen. Kepadatan benih yang dikemas tergantung dari jenis ikan, umur, ukuran
dan waktu tempuh; b.) Bahan pengemasan yang dapat dipakai adalah kantong plastik
sebagai wadah benih, air dan oksigen, kardus atau styrofoam sebagai pengaman bagi
transportasi jarak jauh. Untuk menurunkan metabolisme
benih
dan
mengurangi
aktivitas benih dapat dilakukan dengan cara pemberian es batu maupun bahan
anestesi yang direkomendasikan; c.) Distribusi benih dapat dilakukan melalui darat,
air maupun udara.
2.5.4 PENERAPAN BIOSECURITY
Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam suatu usaha
pembenihan ikan adalah kemampuan dalam mengendalikan masuknya dan
berkembangnya organisme pathogen pada unit pembenihan tersebut. Hal ini hanya
dapat dipenuhi melalui penerapan biosecurity yang sistematis dan
konsisten. Penerapan biosecurity dapat dilakukan secara fisik melalui : (1)
Pengaturan tata letak, (2) Pengaturan akses masuk ke lokasi unit pembenihan, (3)
Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan, (4) Sanitasi lingkungan, dan (5)
Pengolahan limbah hasil kegiatan pembenihan.
2.5.4.1
Pengaturan Tata Letak : Pengaturan tata letak yang baik di suatu
unit pembenihan dapat mencegah menyebarnya oganisme pathogen dan
kontaminasi bahan kimia yang tidak diinginkan dari satu area ke area lainnya.
Oleh karena itu harus dilakukan pengaturan tata letak sub unit pembenihan
berdasarkan alur produksi, dilakukan pemagaran/penyekatan dan pengaturan
penyimpanan sarana produksi pada tempat yang sesuai dengan fungsinya
masing-masing.
A. Pengaturan berdasarkan alur produksi : menata tata letak serta
aliran input di masing-masing sub unit secara berurutan mulai dari sub
unit karantina, induk, pemijahan dan penetasan, pemeliharaan benih,
penyediaan pakan hidup, sampai pemanenan benih sehingga mencegah
kontaminasi pathogen antar sub unit.
B. Pemagaran dan penyekatan : Untuk membatasi masuknya orang yang
tidak berkepentingan dan hewan yang berpotensi membawa organisme
pathogen dan pencemar ke dalam unit pembenihan, pemagaran atau
penyekatan antara area sub unit produksi yang satu dengan lainnya
mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
C. Penyimpanan
Penurunan mutu bahan biologi dan bahan kimia akibat penyimpanan yang
tidak baik dapat mengakibatkan proses pembenihan yang dilakukan tidak
efektif. Oleh karena itu pakan, bahan kimia dan obat-obatan harus
disimpan di tempat yang terpisah dengan kondisi sesuai petunjuk teknis.

Demikian pula peralatan produksi harus disimpan dengan baik di tempat


yang terpisah, bersih dan siap pakai sesuai dengan peruntukannya.
2.5.4.2
Pengaturan akses masuk ke lokasi : Masuknya personil,
kendaraan, bahan dan peralatan ke lokasi unit pembenihan dapat menjadi
sumber transmisi organisme pathogen masuk ke unit pembenihan.
Pengaturan akses masuk ke lokasi unit pembenihan dapat dilakukan dengan
membatasi akses masuk hanya satu pintu dan menyediakan sarana
sterilisasi. Demikian pula untuk masing-masing sub unit produksi sebaiknya
melalui satu pintu dengan menyediakan sarana sterilisasi.
2.5.4.3
Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan : yang meliputi
sterilisasi, wadah pemeliharaan, peralatan kerja dan ruangan/bangsal tempat
bekerja. Tujuan sterilisasi ini adalah untuk mengeliminasi semua organisme
pathogen yang berpotensi menyebabkan penyakit yang dapat merugikan
usaha pembenihan.
2.5.4.4
Desinfeksi wadah pemeliharaan : Pencucian wadah pemeliharaan
dengan desinfektan harus dilakukan setelah digunakan dan setiap memulai
pemeliharaan baru untuk memastikan bahwa sumber penyakit tidak
berkembang dari siklus pemeliharaan sebelumnya. Jenis desinfektan yang
digunakan harus berupa bahan yang direkomendasikan dan memperhatikan
prosedur penggunaan dan penetralannya.
2.5.4.5
Desinfeksi peralatan dan sarana produksi : Peralatan dan sarana
yang digunakan dan berhubungan langsung dengan air media pemeliharan
dapat menjadi media berkembangnya organisme pathogen. Oleh karena itu
peralatan operasional yang digunakan harus didesinfeksi baik sebelum
maupun setelah digunakan dalam operasional pembenihan. Sedangkan
sarana pipa pengairan dan aerasi harus diberi desinfektan dan dikeringkan
setiap selesai satu siklus produksi. Selain menggunakan bahan desinfektan
dapat dibantu dengan penjemuran sinar matahari.
2.5.4.6
Sterilisasi ruangan produksi: bertujuan memutus siklus hidup
organisme yang tidak dikehendaki, dilakukan pada lantai, dinding, atap dan
sudut-sudut ruangan yang sulit dibersihkan dengan cara fumigasi atau
penyemprotan bahan desinfektan oksidatif yang direkomendasikan.
2.5.4.7
Sanitasi Lingkungan Pembenihan: Lingkungan yang mempunyai
sanitasi yang baik dapat memperkecil peluang berkembangnya organisme
pathogen. Upaya sanitasi lingkungan pembenihan ini harus didukung oleh
tersedianya fasilitas pendukung kebersihan yang memadai, antara lain:
peralatan kebersihan, tempat sampah dan toilet. Di masing-masing sub unit
produksi harus tersedia tempat sampah tertutup dan selalu dibersihkan setiap
hari. Toilet ditempatkan terpisah dari unit produksi benih dengan septic tank
berjarak minimal 10 meter dari sumber air. Toilet harus dilengkapi dengan
sabun antiseptik.
2.5.4.8
Pengolahan limbah : Air yang digunakan untuk pemeliharaan induk
dan benih, setelah tidak dipakai dan dibuang akan membawa bahan kimia
atau bahan biologi yang dipakai dalam proses produksi yang berpotensi
mencemari lingkungan perairan sekitarnya. Oleh karena itu, air buangan dari
proses produksi ini sebelum sampai ke perairan umum atau lingkungan
sekitarnya harus diolah terlebih dahulu agar menjadi netral kembali. Untuk
maksud ini maka setiap unit pembenihan harus mempunyai bak/petak
pengolah limbah untuk bahan organik, mikroorganisme dan bahan kimia.
2.5.4.9
Pengaturan personil/karyawan : Dalam penerapan biosecurity di
suatu unit pembenihan, pengaturan personil/karyawan menjadi sangat
penting agar penerapan biosecurity dapat berjalan efektif dan aman bagi
personil/karyawan yang terlibat di dalamnya dan berkomitmen untuk
melaksanakannya. Upaya pengaturan dimulai dengan pemahaman bahwa
personil/karyawan yang terlibat dalam proses pemeliharaan/produksi
mempunyai potensi menjadi pembawa organisme pathogen. Cara yang dapat
dilakukan dalam pengaturan personil/karyawan tersebut antara lain adalah
sebagai berikut :
A. Pakaian dan perlengkapan kerja
Pakaian dan perlengkapan kerja personil/karyawan yang tidak bersih
dapat menjadi sumber kontaminan atau agen transmisi organisme

pathogen bagi benih. Untuk sterilisasi dan melindungi kesehatan


personil/karyawan maka pemakaian sepatu boot merupakan keharusan
selama dalam bekerja. Setiap personil/karyawan sebaiknya menggunakan
sarung tangan dan menggunakan penutup hidung bila bekerja dengan
bahan kimia dan obat-obatan.
B. Sterilisasi alas kaki dan tangan
Pada saat memasuki sub unit produksi, karyawan sebaiknya untuk
melakukan sterilisasi alas kaki dan tangannya sebelum dan setelah
melakukan pekerjaan. Dalam melakukan pekerjaan di unit pembenihan
seringkali digunakan bahan kimia, bahan biologi dan obat obatan yang
dapat berpotensi berbahaya bagi personil/karyawan yang terlibat di
dalamnya. Agar bahan tersebut tidak meracuni personil/karyawan maka
sebaiknya bagi personil/karyawan untuk cuci tangan/kaki segera setelah
selesai melakukan pekerjaan.
III.

METODE

3.1

Waktu dan Tempat


Kegiatan ini dilakukan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat sebanyak dua kali

kunjungan, yaitu pada bulan April dan September.


3.2

Bahan dan Alat


Alat dan bahan yang digunakan pada kegiatan ini adalah : Kuisioner, ATK, Lap top,

Kamera, Dokumen acuan panduan CPIB dan CBIB, cek list CPIB dan CBIB, Form isian
rekaman data produksi, Contoh SPO, daftar obat terlarang, daftar pakan teregistrasi, daftar
unit pembenih tersertifikasi.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Data Unit Usaha

Pemantauan dan bimbingan teknis CPIB, CBIB di Kabupaten Bandung ini dilakukan terhadap
16 kelompok/unit usaha budidaya ikan baik pembenih maupun pembesar yang berada di 7
kecamatan sebagai berikut :
Tabel 1. Responden Kegiatan Pemantauan dan Bimbingan Teknis CPIB dan CBIB
No/
Kod
e

Unit Usaha

1.

Balistik (Ba)

2.

Mina Perkasa (MP)

3.

Mina Lio Motekar


(MLM)

4a.
4b.

Running water
UPTD Kab.
Bandung (RwN)
Running water
UPTD Kab.
Bandung (RwM)

5.

Kusuma (K)

6.

Macakal (M)

Alamat
Kp. Cinunu, Ds.
Tanjungwangi,
Kec. Pacet
Ds. Sagara
Cipta,
Kec. Ciparay
Kp. Lio, Ds.
Ciparay, Kec,
Ciparay
Ds. Karya
Laksana, Kec.
Ibun
Ds. Karya
Laksana, Kec.
Ibun
Ds. Cikoneng,
Kec. Ciparay
Kp. Pasir kaliki,

Ketua

Jumlah Tahun
Anggot Berdir
a
i

Jenis
usaha

Komodita
s

Asep Haedar

15

2006

Pembeniha
Lele
n

Asep Sukarsa

10

2006

Pembeniha
Mas
n

Zaenal M.

20

2005

Pembeniha
Nila
n

Atep Dedi
Kurnia

15

1975

Pembesara
Nila
n

Atep Dedi
Kurnia

15

1975

Pembesara
Mas
n

12

Pembesara
Lele
n
2012 Pembesara Lele

Yusuf Mulyana
Asep

No/
Kod
e

Unit Usaha

7.

Tani Bakti (TB)

8.

Bakti Mekar Jaya


(BMJ)

9.

Bendrad (Be)

10.

Mekarsari (Ms)

11.

DAB Subur Farm

12.

H. AT. Supratman

13.

Kel. Mekar Rahayu

14.

Lukman

15.

Kel. Harapan
Sejahtera

16.

Makmur

4.2

Alamat
Ds. Jagabaya,
Kec. Cimaung
Ds.Ciapus, Kec.
Banjaran
Ds. Warga
Mekar,
Kec. Bale Endah
Ds. Wangi
Sagara,
Kec.Majalaya
Ds. Neglasari,
Kec. Majalaya
Ds. Gajah
Mekar,
Kec. Soreang
Ds. Sadu,
Kec.Soreang
Ds. Jati Sari
Kec. Cangkuang
Ds. Bumi Wangi,
Kec. Ciparay
Ds. Mekar
Laksana,
Kec.Ciparay
Ds. Pangaupan,
Kec. Pacet

Ketua

Jumlah Tahun
Anggot Berdir
a
i

Saepuloh

Jenis
usaha

Komodita
s

Ahmad Ruslan

10

2010

Pembesara
Lele
n

Iyan Sofyan

20

1982

Pembesara
Lele
n

Alam S.

10

2011

Pembesara
Nila
n

H. Momon
Mulyana

10

2007

Pembesara
Nila
n

Daru Aryo
Bimo

3 orang

2011

Pembesara
Lele
n

H. AT.
Supratman
Entar Odin
Koharudin
Lukman
Nuron
Makmur

Pembesara
Nila
n
Pembesara
17 orang 2011
Nila
n
Pembesara
10 orang
19
Nila
n
1 orang

1980

15 orang 2006
2 orang

2005

Pembesara
Nila
n
Pembesara
Ikan Mas
n

Penerapan CPIB/CBIB di Kabupaten Bandung


Dari 17 unit usaha yang berhasil dikunjungi terdiri dari 3 unit pembenihan dan 1 unit

pembesaran. Grafik penerapan CPIB dan CBIB disajikan pada Gambar 1 dan 2. Sementara
tingkat penerapan CPIB dan CBIB di Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Lampiran 1 dan
2.
100

69.1

80

73.1

81.6

61.2

60
40
20
0
Ba

MP

MLM1

MLM2

Gambar 1. Grafik Penerapan CPIB pada Unit Usaha Pembenihan di Kabupaten Bandung :
Balistik (Ba), Mina perkasa (MP), dan Mina Lio Motekar (MLM)
Dari Gambar 1 di atas diketahui bahwa tingkat penerapan CPIB di ke-3 unit
pembenih di Kabupaten Bandung berkisar antara 61,2 % hingga 81,6 %. Dimana terdapat
peningkatan penerapan CPIB pada saat kunjungan ke-2 di Kelompok Mina Lio Motekar
(MLM). Berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan terdapat beberapa ketidaksesuaian atau
kekurangan terhadap persyaratan CPIB di antaranya sebagai berikut :

1). Sebagian unit pembenih tidak memiliki ruang administrasi dan pengemasan khusus,
begitu pula dengan ruang pakan dan peralatan masih menyatu dan kurang tertata rapi.
2).Belum ada hasil di uji laboratorium untuk E.coli dan logam berat. 3).Belum ada
tempat/wadah untuk mengkarantina induk dalam rangka pencegahan masuknya pathogen,
hanya sebatas untuk treatment sebelum pemijahan. 4). Belum tersedia fasilitas biosecurity
seperti: pemagaran unit pembenihan dengan pintu masuk satu pintu, penyekatan antar unit
produksi untuk meminimalisir kontaminasi silang, stelirisasi roda kendaraan, disinfeksi alas
kaki, pencuci tangan. 5). Belum terkelolanya pelaksana kegiatan produksi. 6). SPO/IK belum
ada/lengkap. 7).Tidak ada rekaman data sarana produksi, penggunaan pakan, obat & bahan
kimia/biologi, kesehatan ikan, kualitas air, pertumbuhan, produksi dan distribusi serta
keluhan/kepuasan pelanggan. 8).Belum dilakukannya pengolahan limbah.
100
90
80
70
60

9696
73
59 59

66 6565
52

58585858

51

50
Penerapan CBIB (%)

40
30
20
10
0

Gambar 2. Grafik Penerapan CBIB (%) di Unit Usaha Pembesaran di Kabupaten Bandung:
Runningwater Nila dan Mas UPTD Benih Ikan Kab. Bandung (RwN dan RwM),
Kusuma (Ku), Macakal /A. Ruslan Farm (M), Tani Bakti (TB), Bakti Mekar Jaya (BMJ),
Mekarsari (Ms), Bendrad (Be), Daru Aryo Bimo (DAB), H. AT Supratman (HATS),,
ukman (L), Harapan Sejahtera (HS), dan Makmur (MKR).
Dari Gambar 2 di atas diketahui bahwa tingkat penerapan CBIB di ke-8 unit usaha
budidaya di Kabupaten Bandung berkisar antara 51 % hingga 96 %. Kekurangannya adalah
sebagai berikut :
1).Tata letak sebagian unit budidaya bersebelahan dg sawah dan sebagian terdapat
kandang ternak pada area budidaya sehingga, berpotensi terjadinya kontaminasi silang.
2).Sebagian besar belum memiliki tandon air pasok dan pembuangan juga tidak memiliki
tempat sampah. 3). Sebagian unit budidaya belum ada upaya pencegahan terhadap
binatang dan hama dengan cara pemagaran. 4). Beberapa unit usaha masih menggunakan
obat ikan yang dilarang penggunaannya dan belum terdaftar di KKP 5).Sebagian unit usaha
belum melakukan upaya pengelolaan air pasok contohnya dengan pengendapan atau
filterisasi. 6) Beberapa unit usaha belum menggunakan benih dari UPR bersertifikat dan
atau yang memiliki surat keterangan. 7) Belum melakukan pengelolaan limbah. 8). Tidak

ada catatan/rekaman penggunaan sarana produksi (pakan, benih, obat, bahan kimia/biologi,
pupuk, kapur), penggunaan pakan, kualitas air, kejadian penyakit, panen dan distribusi. 9).
Sanitasi dan kebersihan lingkungan belum terkelola. 10) sebagian unit usaha belum
melakukan pemberian pakan sesuai dosis yang dianjurkan
4.3

Bimbingan Penerapan CPIB CPIB di Kelompok/Unit Usaha Budidaya Ikan


Setelah melakukan cheklist (pengamatan dan pemeriksaan) terhadap lokasi areal

lahan budidaya, sarana prasarana dan fasilitas kegiatan pembenihan dan atau pembesaran
ikan, maka diketahui apa yang menjadi kekurangannya dari yang dipersyaratkan CPIB CBIB.
Kemudian dilakukan bimbingan penerapan CPIB CBIB dengan memberikan contoh secara
langsung baik teknis maupun administrasi.
Dari 17 unit usaha budidaya yang mendapat bimbingan penerapan CPIB CBIB di Kabupaten
Bandung, 10 unit mengajukan sertifikasi dan 6 unit telah lulus sertifikasi CBIB (DJPB,2013).
Unit-unit tersebut tercantum dalam Tabel 2
Tabel 2. Data Kelulusan Sertfikasi CPIB/CBIB di Kabupaten Bandung.
No.
1.
2.
3.
4a
.
4b
.
5.
6.
7.
8.
9.
10
.

V.
5.1

Balistik
Mina Perkasa
Mina Lio Motekar
KAD UPTD Kab.
Kusuma (Lele)

Ds.
Ds.
Ds.
Ds.
Ds.

Kusuma (Nila)
Macakal,
Tani Bakti
A. Ruslan Farm
Bakti Mekar Jaya,
Bendrad
Mekarsari

Tanjungwangi, Kec. Pacet, Kab. Bandung


Sagaracipta, Kec. Ciparay, Kab. Bandung
Ciparay, Kec. Ciparay, Kab. Bandung
Karya Laksana, Kec. Ibun, Kab.Bandung
Cikoneng, Kec. Ciparay, Kab.Bandung

CBIB
CPIB
CPIB
CBIB
CBIB

B
B

Ds. Cikoneng, Kec. Ciparay, Kab.Bandung

CBIB

Ds.
Ds.
Ds.
Ds.
Ds.
Ds.

CBIB
CBIB
CBIB
CBIB
CBIB
CBIB

C
B
B

Jagabaya, Kec. Cimaung, Kab. Bandung


Ciapus, Kec. Ciceret, Kab. Bandung
Ciapus, Kec. Ciceret, Kab. Bandung
Warga Mekar, Kec. Bale Endah, Kab.Bandung
Wangi Sagara, Kec. Majalaya, Kab. Bandung
Neglasari, Kec. Majalaya, Kab. Bandung

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan, pengukuran dan wawancara, tingkat penerapan CPIB di ke-

3 unit pembenihan ikan berkisar antara berkisar antara 61,2 % hingga 73,1 %. Sedangkan
tingkat penerapan CBIB di ke-8 unit pembesaran ikan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat
berada pada kisaran berkisar antara 51,28 % - 95,7 % %.

Bimbingan

teknis

telah

dilakukan terhadap ke-16 unit usaha tersebut di atas, dengan cara diskusi dan pemberian
contoh-contoh penerapan CPIB/CBIB di masing-masing unit usahanya. Selain itu diberikan
pula contoh SPO, Form isian untuk merekam/mencatat data kegiatan budidaya dan daftar
obat, pakan dan unit pembenih yang teregistrasi KKP dan terdapat 10 unit yang mengajukan
sertifikasi.

5.2. Rekomendasi
Beberapa rekomendasi yang perlu dilakukan untuk perbaikan meliputi :
1). Kandang ternak pada area budidaya agar dipindahkan, agar tidak berpotensi adanya
kontaminasi silang;

2). Melakukan pengendapan atau filterisasi air pasok, dan perlakuan terhadap air buangan
(pengelolaan limbah);
3). Penyimpanan pakan sebaiknya dipisahkan dengan penyimpanan peralatan;
4). Melakukan upaya pencegahan terhadap binatang dan hama dengan cara pemagaran;
5). Menggunakan pakan dan obat ikan yang sudah terdaftar di Kementerian Kelautan dan
Perikanan;
5). Melakukan pemeriksaan kualitas air (minimal suhu dan pH) secara berkala, terutama
bagi unit pembenihan;
6). Menggunakan benih dari UPR bersertifikat dan atau yang memiliki surat keterangan;
7). Melakukan pencatatan/pembuatan rekaman penggunaan sarana produksi (pakan, benih,
obat, bahan
kimia/biologi, pupuk, kapur), penggunaan pakan, kualitas air, kejadian penyakit, panen
dan distribusi;
8). Sanitasi dan kebersihan lingkungan belum terkelola dengan menempatkan tempat
sampah pada area
budidaya.
VI.

DAFTAR PUSTAKA

Kepmen No. Kep 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik. Direktorat Perikanan
Budidaya. Jakarta. 11 halaman
Pedoman Umum CPIB. 2008. Direktorat Jendera Perikanan Budidaya. Jakarta. 30 halaman
Daftar Registrasi Perusahaan Pakan Ikan/Udang. 2012. Direktorat Jendera Perikanan
Budidaya. Jakarta.

Lampiran 1. Penerapan CPIB di ke-3 Unit Usaha Pembenihan Ikan di Kabupaten Bdung
No
A.
I.
1
2
3
4
II.
III.
1

Persyaratan

PERSYARATAN TEKNIS
Lokasi Pembenihan
Bebas banjir
Mudah dijangkau
Tersedia sumber energy/listrik
Sarana komunikasi dan transportasi
Sumber Air :Tersedia sepanjang tahun
Sarana Prasarana/Fasilitas
Ruangan/Tempat
Pengemasan
Administrasi
Mesin
Penyimpanan peralatan
Penyimpanan pakan, bahan kimia dan obat-obatan
2 Wadah/Bak
Pengendapan/ filter/tandon
Karantina induk
Pemeliharaan induk
Pemijahan dan Penetasan (untuk yang menggunakan induk)
Pemeliharaan benih
Kultur pakan hidup*
Penampungan benih hasil panen
3 Peralatan dan mesin
Peralatan produksi
Peralatan laboratorium (minimal Termometer dan PH meter/PH paper)
IV. Pengelolaan Air
1 Dilakukan pengendapan/filtrasi/sterilisasi
2 Dilakukan pengukuran kualitas air (minimal suhu dan pH)
V.
Pengelolaan Induk*
1 Pemilihan Induk :
Umur, ukuran dan kualitas sesuai persyaratan
Memiliki SKA (utk induk lokal)
2 Karantina induk : untuk mencegah masuknya organisme pathogen
3 Pemeliharaan induk: kondisi ruangan dan wadah sesuai untuk
pematangan gonad, perkawinan, pemijahan, ferlilisasi dan penetasan
VI. Asal Naupli Larva - telur: berasal dari unit pembenihan yang
bersertifikat CPIB
VII. P a k a n
1 Pakan Komersial
Pakan yang digunakan terdaftar di KKP
Kandungan nutrisi pakan sesuai kebutuhan nutrisi induk/benih
Kemasan mencantumkan kandungan nutrisi, cara penyimpanan dan tgl
kadaluarsa
Penyimpanan sesuai persyaratan
Penyimpanan terpisah dari bahan kontaminan berbahaya
Pemberian pakan sesuai jenis, dosis dan frekuensi
2 Pakan Formula Buatan sendiri *
Menggunakan bahan yang tidak berbahaya dan tidak dilarang;
kandungan nutrisi pakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi induk dan
benih; penyimpanan sesuai dengan jenis pakan; Pemberian pakan sesuai
dengan jenis, dosis dan frekuensi
3 Pakan Hidup
Pakan hidup yang dikultur*
Kultur pakan hidup terpisah dengan bagian lainnya dan tidak mudah
terkontaminasi
Pupuk/bahan yang digunakan tidak dilarang
Pakan hidup dari alam*
Dilakukan treatment (desinfeksi, UV dan bahan lain yang tidak dilarang)
4 Pakan Segar
Penyimpanan pakan segar harus pd lemari pembeku (freezer)/coolbox
VIII Pengelolaan Benih
1 Aklimasi benih di setiap tahapan pemeliharaan
2 Pengamatan pertumbuhan, sintasan, keseragaman dan abnormalitas
secara berkala
3 Pengamatan kesehatan dilakukan secara berkala
IX
Pemanenan benih
1 Peralatan dan bahan panen bersih dan sesuai kebutuhan
2 Pemanenan benih dilakukan dengan baik untuk mencegah kerusakan fisik
dan stress
X
Pengemasan benih
1 Peralatan dan bahan pengemasan bersih dan sesuai kebutuhan
2 Kepadatan benih sesuai jenis, umur dan ukuran ikan serta waktu tempuh
XI
Sarana dan Penerapan Biosecurity
1 Melakukan pengaturan tata letak sesuai dengan peruntukkannya (ruang
produksi, tempat penyimpanan pakan, obat-obatan dan bahan kimia
serta toilet)

Unit Usaha Pembenihan


Ikan(Kode)
1
2
3a
3b
Ba
MP MLM1 MLM2

V
V
V
V
V

V
V
V
V
V

v
v
v
v
v

V
V
V
V
V

V
V
X
X
V

V
X
X
V
V

V
V
X
V
V

V
V
X
V
V

V
V
V
V
V
X
V

V
X
V
V
V
X
V

v
V
V
V
V
X
V

V
V
V
V
V
X
V

V
V

V
X

V
V

V
V

V
V

X
V

V
V

V
V

V
V
X

V
V
X

V
V
X

V
X
X

V
V

V
V

V
V

V
V

V
V
V

V
V
V

V
V
V

V
V
V

V
V

V
V

V
V

V
V

No
2
3
4
5
B.
I.
1
2

3
4
II.
1

C.
I.
1
2
II.
1
2
3
D.
1
2

Persyaratan

Unit Usaha Pembenihan


Ikan(Kode)
1
2
3a
3b
Ba
MP MLM1 MLM2

Melakukan pemagaran unit pembenihan dengan pembatasan akses


X
masuk satu pintu
Melakukan penyekatan antar ruang/unit produksi
V
Memperlakukan disinfeksi terhadap alas kaki pada footbath dan
pencucian tangan personil/karyawan yang masuk ke unit produksi (dalam
X
ruangan)
Melakukan desinfeksi wadah, peralatan dan ruangan
V
PERSYARATAN MANAJEMEN
Struktur Organisasi dan SDM
Melakukan pengaturan personal/karyawan
V
Pelaksana produksi personal yang melakukan fungsi:
Manajemen Induk*
V
Produksi dan pemasaran benih
V
Produksi pakan hidup*
X
Pemeriksa kualitas air dan kesehatan ikan
X
Mekanik*
Administrasi
V
Kompetensi personil sesuai masing-masing fungsi (MPM tdkmerangkap
V
manajer produksi)
Pimpinan dan karyawan mempunyai kesadaran terhadap mutu dan
V
keamanan pangan
Dokumentasi
SPO/IK proses produksi :
Lengkap, absah dan mutakhir
X
Mudah didapatkan
X
Rekaman :
Lengkap, absah dan mutakhir
X
Mudah didapatkan
X
Jenis rekaman:
Pembelian/pengadaan sarana produksi
X
Penggunaan pakan, obat-obatan dan bahan kimia
X
Pengamatan kualitas air
X
Pengamatan kesehatan/ pertumbuhan ikan
X
Produksi dan distribusi benih
X
Keluhan dan kepuasan pelanggan
X
PERSYARATAN KEAMANAN PANGAN
Sumber Air
Bebas cemaran mikro organisme pathogen (E.coli 5000 sel/100ml)
X
logam berat (Cd=0,01 ppm; Pb=0,03 ppm dan Hg=0,002 ppm)
X
Obat Ikan, Bahan Kimia dan Bahan Biologi
Obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi yang digunakan terdaftar di
KKP atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Jenis &cara penggunaan obat, bahan kimia & bahan biologi yg digunakan
sesuai SPO
Penyimpanan obat, bahan kimia dan bahan biologi sesuai label kemasan
Penyimpanan obat, bahan kimia dan bahan biologi terpisah dengan
bahan lainnya
PERSYARATAN LINGKUNGAN
Melakukan Sanitasi lingkungan
V
Melakukan pengolahan limbah di unit produksi benih
X
Jumlah Kesesuaian
47
Jumlah ketidaksesuaian
21
Tingkat Penerapan (%)
69,1

V
V
X
X
V

V
V
X
V
V

V
V
V
V
V
V
V
V

X
X

X
X

X
X

X
X

X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X

V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V

X
X

X
X

X
X

V
X
41
26
61,2

V
X
49
18
73,1

V
X
49
9
81,6

,6

Keterangan :

v sesuai persyaratan CPIB


x Tidak sesuai persyaratan CPIB
- Persyaratan CPIB tersebut tidak dilakukan atau tidak ada dalam kegiatan/proses/tahapan produksi

Lampiran 2. Penerapan CBIB di ke-14 Unit Usaha Budidaya Ikan di Kabupaten Bandung
Unit Usaha Pembesaran Ikan (Kode)
No
1.

2.

3
3.1
3.2
3.3

3.4

3.5

4
4.1
4.2
4.3

4.4

4.5

5
5.1
5.2

6
6.1

6.2

Persyaratan
LOKASI
Unit usaha budidaya berada pada
lingkungan yang sesuai di mana
resiko keamanan pangan dari
bahaya kimiawi, biologis dan fisik
diminimalisir.
SUPLAI AIR
Unit usaha mempunyai sumber
air yang baik dan air pasok
terhindar dari sumber polusi.
TATA LETAK DAN DESAIN
Area usaha budidaya hanya
digunakan untuk pembudidayaan
ikan
Unit usaha budidaya mempunyai
desain dan tata letak yang dapat
mencegah kontaminasi silang.
Toilet, septic tank, gudang dan
fasilitas lainnya terpisah dan
tidak berpotensi
mengkontaminasi produk
budidaya.
Unit usaha budidaya memiliki
fasilitas pembuangan limbah cair
ataupun padat yang
ditempatkan di area yang sesuai.
Wadah budidaya seperti karamba
dan jaring didesain dan dibangun
agar menjamin kerusakan fisik
ikan yang minimal selama
pemeliharaan dan panen
KEBERSIHAN FASILITAS &
PERLENGKAPAN
Unit usaha budidaya dan
lingkungannya dijaga kondisi
kebersihan & higienis.
Dilakukan tindakan pencegahan
terhadap binatang dan hama
yang menyebabkan kontaminasi.
BBM, bahan kimia (desinfektan,
pupuk, reagen), pakan dan obat
ikan disimpan dalam tempat
yang terpisah dan aman.
Wadah, perlengkapan dan
fasilitas budidaya dibuat dari
bahan yang tidak menyebabkan
kontaminasi.
Fasilitas dan perlengkapan dijaga
dalam kondisi higienis,
dibersihkan sebelum dan sesudah
digunakan; serta (bila perlu)
didesinfeksi dg desinfektan yang
diizinkan.
PERSIAPAN WADAH BUDIDAYA
Wadah budidaya dipersiapkan
dengan baik sebelum penebaran
benih
Dalam persiapan wadah dan air,
hanya mengguna kan pupuk,
probiotik dan bahan kimia yang
direkomendasikan.
PENGELOLAAN AIR
Dilakukan upaya filterisasi air
atau pengendapan serta
menjamin kualitas air yang
sesuai untuk ikan yang
dibudidayakan.
Monitor kualitas air sumber
secara rutin untuk menjamin
kesehatan & kebersihan ikan
yang dibudidayakan.
BENIH

5
Rw
RwN
M

TB

BMJ

10
Be

11
Ms

12

13

DABS HATS

14

15

MR

LKN

16
HS

MKR

17

Unit Usaha Pembesaran Ikan (Kode)


No
7.1

8
8.1

8.2

8.3

8.4

8.5
8.6

9
9.1
9.2

9.3
9.4

9.5

9.6

10
10.1

10.2
10.3
10.4
11
11.1
11.2

Persyaratan
Benih yang ditebar dalam kondisi
sehat dan berasal dari unit
pembenihan ber sertifikat & tidak
mengandung penyakit berbahaya
maupun obat ikan
PAKAN
Pakan ikan yang digunakan
memiliki nomor pendaftaran/
sertifikat yang dikeluarkan oleh
Direktur Jenderal atau surat
jaminan dari Institusi yang
berkompeten.
Pakan ikan disimpan dengan baik
dalam ruang yang kering dan sejuk
untuk menjaga kualitas serta
digunakan sebelum tanggal
kadaluarsa
Pakan tidak dicampur bahan
tambahan seperti antibiotik, obat
ikan, bahan kimia lainnya atau
hormon yang dilarang dan bahan
tambahan harus terdaftar.
Pakan buatan sendiri harus
dibuat dari bahan yang
direkomendasikan oleh DJPB dan
tidak dicampur dengan bahanbahan terlarang (antibiotik,
pestisida, logam berat)
Pemberian pakan dilakukan
dalam efisiensi sesuai dengan
dosis yang direkomendasikan.
Pakan berlabel/memiliki informasi
yang mencantumkan komposisi,
tanggal kadaluarsa, dosis dan
cara pemberian dengan jelas
dalam bahasa Indonesia.
PENGGUNAAN BAHAN KIMIA,
BAHAN BIOLOGI DAN OBAT
IKAN
Hanya menggunakan obat ikan,
bahan kimiawi dan biologis yang
diizinkan (registrasi dari DJPB)
Penggunaan obat yang diizinkan
sesuai petunjuk dan pengawasan
(obat keras harus digunakan di
bawah pengawasan petugas
yang berkompeten)
Obat ikan, bahan kimia dan biologis
disimpan dengan baik sesuai
spesifikasi.
Penggunaan obat ikan, bahan
kimia dan bahan biologis sesuai
instruksi dan ketentuan/petunjuk
pada label.
Dilakukan test untuk mendeteksi
residu obat ikan dan bahan kimia
dengan hasil di bawah ambang
batas
Obat ikan, bahan kimia dan
bahan biologi yang digunakan
mempunyai label yang
menjelaskan: dosis dan aturan
pemakaian, tanggal kadaluarsa
dan masa henti obat yang ditulis
dalam bahasa Indonesia.
PENGGUNAAN ES DAN AIR
Air bersih digunakan dan tersedia
dalam jumlah yg cukup untuk
panen, penanganan hasil dan
pembersihan.
Es hanya berasal daari pemasok
yg disetujui& menggunakan air
bersih
Es diterima dalam kondisi saniter
Es ditangani dan disimpan dalam
kondisi higienis
PANEN
Perlengkapan & peralatan mudah
dibersihkan dan dijaga dalam
kondisi bersih dan higienis
Panen dipersiapkan dengan baik

5
Rw
RwN
M

TB

BMJ

10
Be

11
Ms

12

13

DABS HATS

14

15

MR

LKN

16
HS

MKR

17

Unit Usaha Pembesaran Ikan (Kode)


No

11.3

11.4

12
12.1

12.2
12.3

12.4

13
13.1

13.2

13.3

13.4

14
14.1

15
15.1

15.2

15.3

15.4

15.5
15.6
16

Persyaratan
untuk menghindari pengaruh
temperatur yang tinggi pada
ikan.
Pada saat panen dilakukan upaya
untuk menghindari terjadinya
penurunan mutu&kontaminasi
ikan
Penanganan ikan dilakukan
secara higienis dan efisien
sehingga tidak menimbulkan
kerusakan fisik
PENANGANAN HASIL
Peralatan dan perlengkapan
untuk penanganan hasil mudah
dibersihkan dan didisinfeksi (bila
perlu) serta selalu dijaga dalam
keadaan bersih
Ikan mati segera didinginan dan
diupayakan suhunya mendekati
0 C
di seluruh bagian.
Proses penanganan seperti
pemilihan, penimbangan,
pencucian, pembilasan, dll
dilakukan dg cepat dan higienis
tanpa merusak produk.
Berdasarkan persyaratan yang
berlaku, bahan tambahan & kimia
yang dilarang tidak digunakan
pada ikan yang diangkut
PENGANGKUTAN
Peralatan dan fasilitas
pengangkutan yang digunakan
mudah dibersihkan dan selalu
terjaga kebersihannya (boks,
wadah, dll)
Pengangkutan dalam kon disi
higienis untuk meng-hindari
kontaminasi (seperti udara,
tanah, air, bahan kimia, dll) dan
kontaminasi silang.
Suhu produk selama
pengangkutan mendekati suhu
cair es (0C) pada seluruh bagian
produk
Tambahan Pertimbangan untuk
penanganan dan pengangkutan
ikan hidup
Ikan hidup ditangani dan dijaga
dalam kondisi yg tidak
menyebabkan kerusakan fisik
atau kontaminasi
PEMBUANGAN LIMBAH
Limbah (cair, padat dan
berbahaya) dikelola (dikumpulkan
& dibuang) dengan cara yang
higienis dan saniter untuk
mencegah kontaminasi
PENCATATAN
Dilakukan rekaman pada jenis
dan asal pakan (pakan pabrikan)
serta bahan baku pakan ikan
(untuk pakan buatan sendiri).
Penyimpanan rekaman
penggunaan obat ikan, bahan
kimia dan bahan biologi atau
perlakuan lain selama masa
pemeliharaan.
Penyimpanan rekaman kualitas
air (air sumber, air pasok, air
pemeliharaan dan limbah cair)
sesuai kebutuhan (lihat poin 6).
Penyimpanan rekaman kejadian
penyakit yg mungkin berdampak
pd keamanan pangan produk
perikanan
Rekaman panen disimpan dg
baik.
Catatan/ Rekaman pengangkutan
Ikan disimpan dengan baik
TINDAKAN PERBAIKAN

5
Rw
RwN
M

TB

BMJ

10
Be

11
Ms

12

13

DABS HATS

14

15

MR

LKN

16
HS

MKR

17

Unit Usaha Pembesaran Ikan (Kode)


No

Persyaratan

16.1 Tindakan perbaikan (atas bahaya


kemanan pangan) dilakukan
sebagai kegiatan yang rutin dan
terkendali.
Tindakan perbaikan dilakukan
dengan tepat dan segera sesuai
dengan masalah yang ditemukan.
17
PELATIHAN
17.1 Pemilik unit usaha atau pekerja
sadar dan terlatih (pelatihan,
seminar, workshop, socialization,
dsb) dalam mencegah dan
mengendalikan bahaya
keamanan pangan dalam
perikanan budidaya.
18
KEBERSIHAN PERSONIL
18.1 Pekerja yang menangani ikan
dalam kondisi sehat.
Jumlah Kesesuaian
Jumlah ketidaksesuaian
Tingkat Penerapan (%)

Keterangan :

5
Rw
RwN
M

TB

BMJ

10
Be

11
Ms

12

13

DABS HATS

14

15

MR

LKN

16
HS

MKR

17

30

27

29

31

26

26

17

19

19

19

19

20

11

19

20

16

14

14

16

14

14

14

14

19

73
,2

58
,7

59
,2

65

51,5
1

57,5
7

57,5
7

57,5
7

57,5
7

51,2
8

V
44
2
95
,7

4
4
2
9
5,
7

66

65

v sesuai persyaratan CBIB


x Tidak sesuai persyaratan CBIB
- Persyaratan CBIB tersebut tidak dilakukan atau tidak ada dalam kegiatan/proses/tahapan produksi

Lampiran 3. Dokumentasi Bimbingan Teknis Penerapan CPIB-CBIB

Gb. 1 Kelompok Macakal : a) Bimbingan teknis; b) areal perkolaman; c) sanitasi lingkungan


sebaiknya lebih diperhatikan

Gb. 2 Kelompok Tani Bakti : a) Bimbingan teknis; b) areal perkolaman; c) sanitasi lingkungan
sebaiknya lebih diperhatikan, kandang ternak sebaiknya dipindahkan, karena dikhawatirkan
menyebabkan adanya kontaminasi

Gb. 3 Kelompok Bakti Mekar Jaya : a) Bimbingan teknis; b) areal perkolaman; c) sanitasi lingkungan
sebaiknya lebih diperhatikan, kandang ternak sebaiknya dipindahkan, karena dikhawatirkan
menyebabkan adanya kontaminasi

Gb. 4 Kelompok Tani Bakti : a) Bimbingan teknis; b) areal perkolaman yang tersambung secara seri
dikhawatirkan menyebabkan adanya kontaminasi silang, terutama apabila terdapat serangan
penyakit; c) sanitasi lingkungan

sebaiknya lebih diperhatikan, kandang ternak sebaiknya

dipindahkan dikhawatirkan menyebabkan adanya kontaminasi

Gb. 5 Kelompok Mekarsari : a) Bimbingan teknis; b) areal perkolaman; c) Areal budidaya yang
bersebelahan dengan pesawahan sebaiknya dibuat dengan kontruksi permanen untuk
meminimalisir kontaminasi apabila terdapat potensi pencemaran pestisida