Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Suatu mesin terdiri dari elemen-elemen yang jumlahnya relatif besar mencapai lebih dari ribuan.
Kesemuanya itu saling mendukung untuk menghasilkan suatu gerak yang terpadu. Untuk
terjadinya kesinambungan antar komponen mesin tersebut haruslah direncanakan terlebih
dahulu. Hal yang perlu untuk diperhatikan dalam perencanaan adalah kesesuaian antar
komponen, faktor keamanan, umur, efisiensi, dan biaya serta ketahanan komponen tersebut dapat
menjalankan fungsinya dengan baik.
Pada tugas perencanaan elemen mesin ini, kami mengambil

judul Perencanaan Roda Gigi

Kerucut Pada Mesin parut es balok .


Roda gigi adalah suatu komponen mesin yang berfungsi untuk meneruskan daya yang besar dari
roda gigi ke roda gigi yang lain untuk digerakkan dengan melalui motor.
Dalam ilmu elemen mesin dikenal beberapa cara pembuatan roda gigi atau penggabungan dua
atau lebih komponen mesin yang terpisah. Pada dasarnya roda gigi terbagi atas beberapa
terminologi utama, yaitu :
a. Adendum yaitu jarak radial antara bidang atas (top land) dengan lingkaran puncak.
b. Dedendum yaitu jarak radial dari bidang bawah (bottom land) dengan lingkaran puncak.
c. Circular Pitch (JarakLengkungPuncak)adalahjarak yang diukurpadalingkaranpuncak,
darisatutitikpadasebuahgigikesatutitik yangberkaitanpadagigisebelahnya.
Jadi, roda gigi termasuk juga pada jenis sambungan tidak tetap, karena roda gigi merupakan
pemindah daya dari putaran poros roda gigi yang dihasilkan oleh motor penggerak ke motor
yang digerakkan dan juga sebagai alat yang berfungsinya menghentikan roda gigi yang
digerakkan meskipun motor penggerak tetap bekerja.
Mesin Gerinda Tangan merupakan satu alat dari beberapa alat yang menggunakan perencanaan
roda gigi kerucut dengan pengerjaan mekanik. Dikatakan sebagai roda gigi kerucut Spiral karena
bentuk visualnya yang mirip dengan kerucut dan alur giginya yang berbentuk spiral. Selain itu

pada mesin gerinda parut es, ini bila ditinjau dari letak poros roda giginya adalah termasuk roda
gigi dengan poros berpotongan dengan sudut porosnya sebesar 90.

B. Tujuan dan Manfaat


1.

Tujuan Penulisan
a. Untuk memenuhi kurikulum mata kuliah Elemen Mesin III
b. Untuk menerapkan kajian teoritis yang diperoleh dari kuliah ke dalam bentuk rancangan
elemen mesin.
c. Untuk menghitung bagian-bagian roda gigi dan mengetahui cara kerjanya.

2.

Manfaat Penulisan
a. Melatih kami mendalami dan memahami fungsi dan karakteristik dari suatu elemen
mesin.
b. Mampu merencanakan elemen mesin (roda gigi) yang berdasarkan atas perhitunganperhitungan yang bersumber dari literatur.

C. Pembatasan Masalah
Dalam tugas perencanaan elemen mesin III ini kami hanya akan membahas mengenai
roda gigi kerucut Spiral (hipoid) pada mesin gerinda tangan.

D. Metode Penulisan
Pada tugas perencanaan ini pembahasan dilakukan dengan menggunakan literatur dan
buku-buku yang memuat data serta rumus-rumus yang berkaitan dengan masalah yang kami
bahas.

BAB II
PEMBAHASAN

Jika dari dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut yang saling bersinggungan pada
kelilingnya salah satu diputar, maka yang lainnya akan ikut berputar pula. Alat yang
menggunakan cara kerja semacam ini untuk mentransmisikan daya disebut roda gesek. Hal ini
untuk meneruskan daya kecil dengan putaran yang tidak perlu tepat.
Namun untuk menghasilkan daya yang besar dan putaran yang tepat, kedua roda gesek
ini harus dibuat bergigi pada kelilingnya sehingga penerusan daya dilkukan oleh gigi-gigi kedua
roda yang saling berkait. Roda gigi semacam ini, yang dapat berbentuk silinder atau kerucut
disebut roda gigi.
A.

Klasifikasi Roda Gigi

Klasifikasi Roda Gigi


No.

1.

2.

3.

Letak Poros

Roda Gigi

Roda gigi lurus (a)


Roda gigi miring (b)
Roda gigi dengan Roda gigi miring ganda (c)
Roda gigi luar
poros sejajar
Roda gigi dalam dan pinyon (d)
Batang gigi dan pinyon (e)
Roda gigi kerucut lurus (f)
Roda gigi kerucut spiral (g)
Roda gigi dengan Roda gigi kerucut Zerol
Roda gigi kerucut miring
poros
berpotongan
Roda gigi kerucut miring ganda
Roda gigi permukaan dengan poros
berpotongan (h)
Roda gigi dengan Roda gigi miring silang (i)
poros silang
Batang gigi miring silang
Roda gigi cacing silindris (j)
Roda gigi cacing selubung ganda
(globoid) (k)
Roda gigi cacing samping

Keterangan
(Klasifikasi atas dasar
bentuk alur gigi)
Arah putaran berlawanan
Arah putaran sama
Gerakan lurus dan berputar

(Klasifikasi atas dasar


bentuk jalur gigi)

Kontak titik
Gerakan lurus dan berputar

Roda gigi hiperboloid


Roda gigi hipoid (l)
Roda gigi permukaan silang

Tabel 1.
Klasifikasi Roda Gigi

Gambar 1.
Klasifikasi Roda Gigi
Roda gigi pada umumnya dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu :

a. Roda gigi lurus (Spurs gear)

Roda gigi lurus, yaitu suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus daya dan
putaran dari poros penggerak ke poros yang digerakkan tanpa terjadi slip, dimana sumbu kedua
poros tersebut terletak saling sejajar.
Roda gigi ini bersifat tetap yang mana dalam artinya tidak dapat dilepas pada saat mesin
dalam keadaan berputar.

b. Roda gigi miring (Helical)


Roda gigi miring yaitu elemen mesin yang mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir
pda siloinder jarak bagi, berfungsi sebagai penghubung antara roda gigi yang digerakkan dengan
roda gigi penggerak dengan putaran dan daya yang sama serta dapat dilepaskan dari kedua.
c. Roda gigi Cacing
Roda gigi ini meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi yang besar.Tetapi untuk
beban yang besar roda gigi cacing dapat dipergunakan dengan perbandingan sudut kontak yang
lebih besar.Roda gigi ini meliputi roda gigi cacing slindris,selubung ganda(globoid), roda gigi
cacing samping.
d. Roda gigi kerucut
Merupakan roda gigi yang paling sering dipaka tetapi roda gigi ini sangat berisik dengan
perbandingan kontak yang kecil,macam-macam roda gigi ini meliputi roda gigi kerucut lurus,
spiral, miring, Zerol.

B.

Tata Nama Roda Gigi


Terminologi dari roda gigi digambarkan pada (Gambar 2). Lingkaran Puncak (pitch

circle) dari sepasang roda gigi yang berpasangan adalah saling bersinggungan satu terhadap yang
lain.

Pinyon adalah roda gigi yang terkecil diantara dua roda gigi yang berpasangan. Yang
lebih besar sering disebut Roda Gigi (Gear).
Jarak Lengkung Puncak (circular pitch), p adalah jarak yang diukur pada lingkaran
puncak, dari satu titik pada sebuah gigi ke suatu titik yang berkaitan pada gigi di sebelahnya. Jadi
jarak lengkung puncak adalah sama dengan jumlah tebal gigi (tooth-thickness) dan lebar antara
(width of space).

d
m
N
p jarak lengkung puncak
d diameter puncak (mm)
N jumlah gigi
m mod ule (mm)
p

Modul (module), m adalah perbandingan antara diameter puncak dengan jumlah gigi.
Modul adalah indeks dari ukuran gigi pada standar SI.
d
N
m mod ule
m

Puncak diametral (diametral pitch), P adalah perbandingan antara jumlah gigi pada
roda gigi dengan diameter puncak. Atau kebalikan dari module. Puncak diametral dinyatakan
dalam jumlah gigi per inci (dalam satuan Inggris).

N
d
P puncak diametral ( gigi per inci )
P

maka:
pP

Addendum a adalah jarak radial antara bidang atas (top land) dengan lingkaran puncak.
Dedendum b adalah jarak radial dari bidang bawah (bottom land) ke lingkaran puncak. Tinggi
keseluruhan (whole depth) ht adalah jumlah addendum dan dedendum.
Lingkaran kebebasan(clearance circle) adalah lingkaran yang yang bersinggungan dengan
lingkaran addendum dari pasangan roda gigi tersebut. Kebebasan (clearance), c adalah anpunggung (bock-lash) adalah besaran yang diberikan oleh lebar antara dari satu roda gigi kepada
tebal gigi dari roda gigi pasangannya diukur pada lingkaran puncak.
A.

Roda Gigi Kerucut


Roda gigi yang termasuk dasar adalah roda gigi dengan poros sejajar, dan dari jenis ini
yang paling dasar adalah roda gigi lurus. Namun, bila diingini transmisi untuk putaran tinggi,
daya besar dan bunyi kecil antara dua poros sejajar, pada umumnya roda gigi yang dipakai
adalah roda gigi miring.
Sedangkan untuk roda gigi kerucut biasanya dipakai untuk memindahkan gerakan antara
poros yang berpotongan. Dengan sudut perpotongan antara kedua poros sebesar 90. Namun
roda gigi bisa dibuat untuk semua ukuran sudut. Giginya bisa dituang, dimilling, atau dibentuk.
Jarak Kebebasan pada roda gigi kerucut adalah merata (Uniform Clearance).
Roda gigi kerucut lurus adalah jenis roda gigi kerucut yang mudah dan sederhana
pembuatannya dan memberikan hasil yang baik dalam pemakaiannya bila dipasangkan secara
tepat dan teliti. Sama halnya dengan roda gigi lurus, roda gigi ini menjadi bising pada harga
kecepatan garis puncak yang tinggi.

Profil Roda Gigi Kerucut Lurus


Sepasang roda gigi kerucut yang saling berkait dapat diwakili oleh dua bidang kerucut
dengan titik puncak yang berhimpit dan saling menggelinding tanpa slip. Kedua bidang kerucut
ini disebut kerucut jarak bagi. Besarnya sudut puncak kerucut merupakan ukuran bagi putaran

masing-masing porosnya. Roda gigi kerucut yang alur giginya lurus dan menuju ke puncak
kerucut dinamakan roda gigi kerucut lurus.
Keterangan lebih lanjutnya dapat dilihat pada (Gambar 3).

Gambar 3 : Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut


Sumbu poros pada roda gigi kerucut biasanya berpotongan dengan sudut 90. Bentuk
khusus dari roda gigi kerucut dapat berupa roda gigi miter yang mempunyai sudut kerucut
jarak bagi sebesar 45 dan roda gigi mahkota dengan sudut kerucut jarak bagi sebesar 90.
Dimana diperlihatkan pada (Gambar 4).

Gambar 4 : Roda Gigi Kerucut Istimewa


Sudut puncak pada roda gigi kerucut dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
N
tan P
NG

dan

tan

NG
NP

dim ana : P pinyon


G roda gigi ( gear )

sudut puncak pinyon


sudut puncak roda gigi
Berikut ini adalah gambar roda gigi dan pinyon kerucut lurus :

Gambar 5 : Roda Gigi Dan Pinyon Kerucut Lurus


Gigi lurus standar dari roda gigi kerucut dipotong dengan menggunakan sudut tekan 20,
addendum dan dedendum yang tidak sama, dan kedalaman gigi yang penuh. Hal ini menambah
perbandingan kontak, menghindari kurang potong, dan menambah kekuatan dari pinyon.
Pada suatu pemasangan roda gigi kerucut yang khas yaitu satu diantara luar dari bantalan.
Ini berarti bahwa lendutan poros bisa lebih nyata dan mempunyai pengaruh yang lebih besar dari
pada persinggungan gigi tersebut. Kesulitan yang timbul dalam memperkirakan tegangan pada
gigi roda gigi kerucut adalah bahwa gigi ini berbentuk tirus. Jadi untuk mendapatkan
persinggungan garis yang sempurna melalui pusat kerucut gigi tersebut haruslah melentur yang
lebih besar dibandingkan pada ujung yang kecil. Untuk mendapatkan kondisi ini memerlukan
adanya keseimbangan yang lebih besar pada ujung yang besar. Karena variasi beban di sepanjang
muka gigi ini, maka dianjurkan untuk lebar muka sedikit pendek.
2. Cara Kerja Alat Pemarut Es

Cara pengoperasian alat pemarut es mekanik adalah dengan cara menghubungkan motor
dengan sumber arus, motor tersebut menghasilkan daya yang kemudian dittansmisikan ke pully
alat pemarut es melalui sabuk. Daya yang ditransmisikan oleh sabuk pemutar poros
horizontal.Roda gigi kerucut yang dipasang pada poros tersebut akan ikut berputar dan akan
mengerakkan pinyon yang terhubung dengan roda gigi. Pada diameter dalam dari pinyon
dimasukkan batang penekan dan diberi pasak. Batang penekan berulir memutar turun karena
diberi pasangan, yaitu roda gigi miring yang letaknya di atas pinyon dan dikunci oleh baut
pengunci roda gigi miring. Batang penekan berulir turun sambil memutar balok es. Pada
landasan tempat balok es tersebut diputar terdapat mata pisau bergigi pada suatu tempat dan
diberi lubang persegi empat untuk menurunkan potongan-potongan es.Balok es yang berputar
akan menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian akan turun melalui lubang ke tempat
penadah. Jika balok es sudah menjadi tipis, maka pedal gas akan dilepas untuk menghentikan
kerja dari alat tersebut. Kemudian baut pengunci dari roda gigi dikendurkan dan dengan memutar
roda kemudi yang dihubungkan dengan roda gigi miring pada pinyon sehingga akan memutar
batang penekan berlawanan arah kerja tadi, maka batang penekan berulir akan naik ke atas ke
posisi semula.

Gambar 6 : Alat Pemarut Es Mekanik


Keterangan gambar pemarut es mekanik adalah :
1. Roda gigi miring
5. Poros
2. Batang tekan
6. Pasak
3. Pinyon kerucut
7. Bantalan
4. Roda gigi kerucut

PERHITUNGAN
A.

Perencanaan Roda Gigi

Pada perencanaan roda gigi ini dipakai dua buah roda gigi kerucut lurus, dimana satu
roda gigi berfungsi sebagai roda gigi penggerak (gear) dan yang lainnya sebagai roda gigi yang
digerakkan (pinyon). Adapun bahan dari roda gigi dan pinyon adalah besi cor FC 18 dengan
kekuatan lentur 4,0 kg/mm2.
Data perencanaan adalah :
1. Putaran motor (nc)

1500 rpm

2. Daya motor (P)

0,24 kW

3. Reduksi transmisi

4. Reduksi roda gigi kerucut

1,5

5. Faktor koreksi (fc)

1 (untuk daya nominal)

6. Jumlah roda gigi kerucut (Ng)

27

7. Jumlah roda gigi pinion (Np)

18

8. Puncak diametral (P)

3 gigi/in

9. Sudut tekan ()

20o

Maka daya penggeraknya (Pd) adalah :


Pd

= P x fc
= 0,24 x 1
= 0,24 kW

Dari harga reduksi puli dan sabuk yang telah diketahui, maka putaran roda gigi kerucut
dapat diketahui pula, yaitu :

dimana :

nc
ni

nc = putaran motor listrik = 1500 rpm


ni = putaran roda gigi kerucut

I = reduksi puli = 5
Sehingga :
5

1500
ni

ni 300
rpm

Reduksi pada roda gigi kerucut :


Z1
1,5
Z2

Z 1 n1

Z 2 n2
Dimana :
n1 = putaran roda gigi kerucut
n2 = putaran pinion
Maka :

1,5 = n1/n2
n2 = 300 x 1,5
n2 = 450 rpm

Torsi pada roda gigi kerucut :


T = 9,74 x 105 x Pd/n1
Sehingga :

T = 9,74 x 105 x 0,24/300


= 97,79 kg mm

1. Sudut puncak pinion


tan-11 = Np/Ng
= 18/27
1 = 33,6
2. Sudut Puncak roda gigi

tan-12 = Ng/Np
= 27/18
2 = 56,3
3. Diameter puncak pinion (dp)
Dp

= Np/P
= 18/3
= 6 in
= 152,4 mm

4. Diameter puncak roda gigi (dg)


dg

= Ng/P
= 27/3
= 9 in
= 228,6 mm

5. Lebar muka gigi (F)


F

= 10/P
= 10/3
= 3,33 in
= 84,67 mm

6. Faktor perubahan kepala (X1 dan X2)


X1

= 0,46 [1-(18/27)2]
= 0,46 [1-0,4]
= 0,276

X2

= - 0,276

7. Untuk pinion
Tinggi kepala (Adendum)
hk1 = (1 + X1) m
Dimana : m = modul
= dp/Np
= 152,2 /18 = 8,46 mm
hk1 = (1 + 0,276) 8,46 = 10,8 mm
Tinggi kaki (dedendum)
hf1 = (1 0,276) m + Ck
Dimana : Ck = kelonggaran puncak

Ck =

0,188 P 0,0508 mm
0,188 3 0,0508 mm

= 0,11 mm
hf1 = (1 0,276) x 8,46 + 0,11
= 6,23 mm
8. Untuk roda gigi
Tinggi kepala (adendum)
hk2 = (1 X1) m
= (1 0,276) 8,46
= 6,12 mm
Tinggi kaki (dedendum)

hf2 = (1 + X1) m + Ck
= (1 + 0,276) 8,46 + 0,11 = 10,9 mm
9. Diameter lingkaran kepala pinion
dp1 = dp + 2hk1 cos 1
= 152,4 + 2 .10,8 cos 33,6
= 170,3 mm
10. Diameter lingkaran roda gigi
dg2 = dg + 2hk2 cos 2
= 228,6 + 2 . 6,12 cos 56,3
= 235,33 mm
11. Jarak dari puncak kerucut sampai puncak luar gigi untuk pinion
X1 = (dp/2) hk1 sin 1
= (152,4/2) 10,8 sin 33,6
= 70,26 mm
12. Jarak kerucut (R)
R = dp/2 sin 1
= 152,4/2 sin 33,6
= 138,5 mm
13. Pemeriksaan keamanan terhadap tegangan dan kekuatan lentur
Wt = 60 . 103 . H/ dn
H = P . fc
= 0,25 kW
Wt = 60 . 103 . 0,25/3,14 . 12 . 1500

= 0,26 kN

14. Diameter puncak rata-rata dari roda gigi besar


dav = dg F sin 2
= 228,6 84,67 sin 56,3
= 158,16 mm = 6,23 in
15. Kecepatan garis puncak pada puncak rata-rata
V = dav . . n/12
= 6,23 . 3,14 . 300/12
= 489,06 ft/menit
16. Faktor kecepatan

Kv =

50 / 50 V
50 / 50 489,56

=
= 0,693
17. Tegangan lentur pada roda gigi
= Wt . P/kv . F . J
J = 0,22 ; untuk faktor geometri

0,22.3 gigi / in.1 / 25,4.10 3


0,693.84,67.0,22.10 3
=
= 0,698 kPa
18. Tegangan yang diizinkan :
a = 4 kg/mm2

4 x 9,81 kg
1.10 6 m 2

= 3,924 . 104 kPa


Karena < a maka roda gigi dalam keadaan sangat aman.
A.

Perencanaan Poros dan Pasak


Puli

D = 100 mm
I =5
Dimana : D = diameter puli
I = reduksi puli
Maka : d = D/I
= 100/5 = 20
Sehingga : V = . d . n/(60x1000)

3,14 x 20 x1500
60000

= 1,57 m/s

F1 F 2V
Po =

102

Dimana : Po = Daya yang direncanakan


Po = 0,25 kW
V = kecepatan

F1 F 21,57
Maka : 0,25 =

102

F1-F2 = 16,24
Sabuk

Panjang sabuk (L) dipilih panjang 1016 mm


Jarak sumbu C dapat diketahui dengan menggunkan persamaan sebagai berikut :

C=

b b 2 8 D d
8

Dimana :
b = 2L (100 + 20)
b = 2L (100 + 20)
= 2(1016) 3,14(120)
= 2032 376,8
= 1655,2
Maka :

C=

b b 2 8 D d
8

1655,2

1655,2 2 8100 20 2
8

= 411,85
Besarnya sudut kontak adalah :
57(D d)
C
57(100 20)
180 o
411,85
180 o

168,93 o

169o
Maka :
F1/F2 = e.
Dimana : = koefisien gesek = 0,2
F1/F2 = e.
F1/F2 = e0,2.169
F1/F2 = e33,8
F1 = 4,78 F2
16,24 = F1 F2
16,24 = (4,78 F2 F2)
16,24
3,78
F2 4,30 kg
F2

F1 20,54 kg

Sehingga jumlah sabuk yang diperlukan adalah :

Pd
Po .K

0,25
0,25 x 0,97

N 1,03 1 buah

Dengan jenis sabuk yang dipakai adalah sabuk V dengan tipe sabuk sempit 3 V.

1.

Perencanaan Poros
Wt = T/rav

Dimana rav = dav/2

dp F sin 1
2
152,4 84,67 sin 33,6
2

= 52,77 mm
Wt = 811,6/52,77
= 15,4 kg
Wa = Wt tan sin
= 15,4 tan 20 sin 33,6
= 3,10 kg
Wr = Wt tan cos
= 15,4 tan 20 cos 33,6
= 4,67 kg

Momen di titik C
F1 . CD + Wr . AC + Rby . BC = Wa . AE

Rby = Wa . AE Wr . Ac F1 . CD

Rby =

3,10 x5,277 4,67 x14 18,64 x32


9

= - 12,07 kg

fy = 0
Wr + Rby + Rcy = Ftot
Rcy = 18,64 4,67 + 12,07
= 26,04 kg
Mcz = 0
Rby . BC = Wt . AC

Rbz =

15,4.14
9

= 24 kg

Fz = 0
Rby + Rcz = Wt
Rcz = 15,4 24
= -8,6 kg

T = 0
T = Wt . AE (dimana AE = rav)
= 15,4 . 52,77
= 804,96 kg.mm

Rby 2 Rbz 2

Rb =

12,07 2 24 2
=
= 26,8 kg
Rcy 2 Rcz 2

Rc =

26,04 2 8,6 2
=
= 25,5 kg

W=

Wt 2 Wr 2

= 16,09 kg

Selanjutnya :
Wt = T/rav
T = 811,6 kgmm = 70,46 lb.in
n = 2,6
(233,5) 2 (770) 2 804,63 kg.mm 69,93 Ib.in

Mtot =
Dengan perencanaan :
Bahan G 10500 AISI 1050 ditarik dingin
Sut = 100 kpsi
Sy = 84 kpsi
Ka = 0,75
Kb = 0,865
Kc = 0,868 , faktor keandalan 95 %

Kd = Ke = 1
Kf = 1,33
Se = 0,5 Sout = 50 kpsi
Se = KaKbKcKdKeKfSe
= 0,75.0,865.0,868.1.1.1,33.50
= 37,45 kpsi

48n T S

ds =

M Se

1/ 3
2 1/ 2

48x2,6 / 3,1470,46 / 84x10

3 2

69,93 / 37,45 x 10 3

2 1/ 2 1/ 3

= 0,43 in = 10,92 mm 11 mm

2.

Perencanaan Pasak
Dalam pasak poros transmisi baja karbon AISI 1010 diroll panas
ut = B = 47.000 psi
B = 33,06 kg/mm2
diameter poros 11 mm
penampang pasak b x h = 3mm x 3mm
tegangan geser yang diijinkan pada pasak
ka = b/ Sfk 1 . Sfk 2
Sfk 1 = 6
Sfk 2 = 2,5 ; untuk tumbukan ringan
ka = 33,06/(6.2,5) = 2,2 kg/mm2

Panjang pasak (li) berdasarkan tegangan geser pasak yang diizinkan


T = 811,6 kg.mm
F = T/r
= 2T/d
= 811,6 . 2 / 11
=147,56 kg
ka F/li . b
2,2 147,56 / li . 3
li 22,4 mm
panjang pasak (l2) berdasarkan tekanan permukaan yang diizinkan :
2

Pa = 8kg / mm
t1 = 2,5 mm
F
l .t1

Pa
8 147,56 / l2 . 2,5
l2 7,4 mm
Maka dapat diambil ketentuan
a. Ukuran pasak = b x h = 5 x 5 (mm)
b. Lebar pasak adalah = 5 mm
c. Panjang pasak yang dipakai adalah L = 15 mm
Lk/ds = 13/11 = 1,2

B.

Perencanaan Bantalan

(0,75 <1,36< 1,5 adalah baik)

Dalam perencanaan ini jenis bantalan yang digunakan yaitu bantalan gelinding bola tunggal.
1.

Bantalan pada titik B


Beban ekivalen dinamis (Pr)
Pr = XVFr + Yfa
Dimana : Fr = beban radial = 24,4 kg
Fa = beban aksial = 3,10 kg
X= 1;V= 1;Y= 0
e Fa / V. Fr
= 3,10 /1 . 24,4
= 0,13
Pr = 1 . 1 . 24,4 + 0,310
Pr = 24,4 kg
Umur bantalan : L = 60 . n2 . Lh
Dimana : Lh = 5 x 365
= 1825 jam
Maka L = 60. 450 . 1825
= 49,275 . 106 rev
C/Pr = L1/3
C = Pr.L1/3
= 24,4(49,275)1/3
= 89,45 kg

2.

Bantalan di titik C

3.

Beban ekvivalen dinamis (Pr)

Pr = XVFr + Yfa
Dimana : Fr = beban radial = 13,6 kg
Fa = beban aksial = 3,10 kg
X= 1;V= 1;Y= 0
e Fa/VFr = 3,10/13,6.1 = 0,227
Pr = 1.1.13,6 + 0.3,10
= 13,6 kg
Umur bantalan : L = 60.n2. Lh
Dimana : Lh = 5 x 365 = 1825 jam
Maka : L = 60.450.1825 = 49,275. 106 rev
C / Pr = L1/3
C = Pr. L1/3 = (49,275)1/3.13,6
C = 49,85 kg

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perhitungan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan mengenai ukuran bagian-bagian roda gigi pada mesin gerinda tangan , yaitu sebagai
berikut :
1. Alat penggerak
Daya motor

= 0,25 kW

Putaran motor

= 1500 rpm

Reduksi transmisi sabuk

=5

Reduksi transmisi roda gigi

= 1,5

2. Roda gigi kerucut


Jumlah roda gigi (gear)

= 27 gigi

Jumlah roda gigi (pinion)

= 18 gigi

Modul

= 8,46 mm

Bahan roda gigi

= FC 18

Kekuatan tegangan izin

= 3,924.104 kPa

3. Poros
Bahan poros

= G 10500 AISI 1050 ditarik dingin

Panjang poros

= 172 mm

Diameter poros

= 11 mm

4. Pasak
Penampang pasak

= 5 x 5 (mm)

Panjang pasak

= 15 mm

Kedalaman pada poros

= 3 mm

Kedalaman pada naf

= 2 mm

5. Bantalan
Bahan bantalan

= JIS 6001

Umur bantalan

= 49,275 , 106 rev

Beban dinamis

= 69,65 kg