Anda di halaman 1dari 3

Nama : Inna Zahara

NIM : 15/391641/PEK/21087

KADER INDUSTRY (THAILAND) COMPANY


Kader Industry (Thailand) Company terletak di Bangkok, Thailand. Ini adalah perusahaan
patungan yang dimiliki 40 persen oleh kader Holdings Co dari Hongkong, 40 persen oleh
perusahaan terkait dengan thailand yang Chareon Pokphand Group, dan 20 persen sisanya oleh
investor Taiwan. Pabrik ini mempekerjakan 3.000 pekerja, sebagian besar perempuan mudayang membuat boneka mainan untuk ekspor.
Kader Industrial (Thailand) Company pertama kali terdaftar pada tanggal 27 Januari
1989. Namun setengah tahun berselang terjadi bencana kebakaran pada pabrik yang baru
dibangun. Kemudian kebakaran ini menyebabkan lisensi dicabut pada tanggal 21 November
1989. Kader Industrial (Thailand) Company dibuka kembali 04 Juli 1990. Seperti di banyak
negara berkembang, pencurian menjadi masalah terbesar. Oleh karena itu pada umumnya
dalam menjaga keamanan pintu terkunci antar bangunan untuk mencegah terjadinya
pencurian. Jadi, setelah pergantian shift dimulai, pintu masuk pabrik terkunci sehingga tidak
aka ada orang yang dapat menyelinap keluar atau masuk untuk melakukan pencurian. Pekerja
yang bekerja di pabrik tersebut diberikan upah antara $ 120 dan $ 160 per bulan
Peristiwa kebakaran pada Kader Industrial adalah contoh dari lax regulations yang kadangkadang ditambah dengan korupsi yang menyebabkan pekerja dihadapkan bahaya di tempat
kerja pada perkembangan ekonomi Asia yang cepat. Tingkat pertumbuhan kecelakaan sangat
tinggi di Asia. Kongres serikat buruh Malaysia mengklaim bahwa 1985-1990 jumlah kecelakaan
industri di dalam negeri hampir dua kali lipat, dari 61.724 ke 121.104 kejadian. Kebakaran
Kader adalah kebakaran yang terburuk sepanjang sejarah. Rekor sebelumnya dipegang oleh
Triangel Shirtwaist Factory pada 25 Maret 1911, ketika 146 pekerja garmen wanita terkunci di
loteng pabrik di kota new York.

Jawaban Atas Pertanyaan :


1. Stakeholder dalam kasus ini adalah pekerja, konsumen, kreditur, investor, masyarakat lingkungan
sekitar dan pemerintah Thailand.
2. Peringkat prioritas yang diberikan kepada tiap stakeholder adalah :
Pihak yang dirugikan : Pertama adalah Pekerja, karena merupakan pihak yang paling dirugikan
dalam peristiwa kebakaran Kader Industrial (Thailand) Company. Pekerja tidak dijamin keselamatan
dan kesehatan kerja. Kedua, konsumen karena telah melakukan pemesanan produk. Ketiga,
masyarakat sekitar karena dampak dari asap kebakaran. Keempat, perusahaan Kader Industri sendiri
karena menanggung kerugian yang amat besar. Kelima, Investor karena Investor memeroleh
kewenangan untuk memberikan masukan kepada manajemen terkait kewajiban perusahaan terhadap
pekerja. Keenam, Kreditur karena kader industry dimungkinkan tidak dapat memenuhi kewajibannya
kepada kreditur.
Pihak yang bertanggung jawab : dalam urutannya dimulai dari Kader Industrial (Thailand)
Company dan pemerintah Thailand.
3. Norma etika yang dilanggar :

Nama : Inna Zahara


NIM : 15/391641/PEK/21087

4.

5.

6.

7.

8.

a. Utilitarianisme : kebakaran yang terjadi membawa dampak yang sangat berisiko kepada pekerja.
Di sini Kader Industry tidak memperhatikan risiko keselamatan pekerja ketika pekerja telah
memberikan tenaga dan pikirannya untuk perusahaan. Sehingga manfaat yang diperoleh oleh
pekerja lebih sedikit daripada pengorbannanya yg telah diberikan.
b. Hak : Konstruksi bangunan yang buruk, tidak adanya perlatihan evakuasi bencana ataupun faktor
lain, pembangunan gedung yang tidak memperhatikan proses evakuasi yang menjadi kewajiban
perusahaan juga diabaikan merupakan faktor-faktor yang melanggar hak para pekerja.
c. Keadilan : perusahaaan tidak memberikan manfaat yang setara dengan apa yang telah pekerja
berikan kepada perusahaan. Seharusnya perusahaan tidak hanya berpandangan pada gaji saja,
namun pada kenyamanan lingkungan bagi pekerja.
d. Perhatian : Perusahaan mengabaikan keselamatan para pekerja dengan tidak memfasilitasi
lingkup kerja dan bangunan yang tidak layak untuk dipakai bekerja.
Keputusan yang dibuat sehingga menempatkan pekerja dalam risiko adalah perusahaan melakukan
efisiensi biaya produksi untuk memaksimalkan labanya. Perusahaan tersebut tidak memberikan
jaminan keselamatan bagi para pekerjanya dengan tidak menyediakan peralatan penanggulangan
bencana yang yang memadai seperti alat pendeteksi asap dan alarm kebakaran. Ditambah lagi,
perusahaan tidak melatih para pekerja apa yang harus dilakukan saat terjadi
kebakaran, tidak pernah melakukan simulasi kebakaran, dan tidak memberikan
arahan rencana evakuasi.
Yang bertanggung jawab melindungi pekerja dari malapetaka ini adalah pertama, manajemen dari
Kader Industri, karena perusahaan harus memberikan segala fasilitas untuk melindungi dan
memberikan kenyamanan para pekerjanya di lingkungan kerja. Hal ini dilakukan karena pekerja
memiliki hak atas dasar perjanjian kontraktual (perjanjian kerja bersama) antara pemberi dan
penerima pekerjaan. Kedua, pemerintah Thailand, karena pemerintah perlu melakukan perlindungan
kepada warganya yang tertimpa musibah dan memastikan hak para pekerja telah diterima dari
perusahaan kader insdustri.
Dimensi keputusan yang menjadi prioritas dalam proses pengambilan keputusan adalah isu sosial, isu
etika dan isu ekonomi. Perusahaan berusaha memberikan kompensasi yang cukup besar pada pekerja
yang menjadi korban. Hal ini dilakukan supaya perusahaan kembali mendapatkan citra yang baik dari
masyarakat dan pihak-pihak lain yang bekepentingan. Dengan mengembalikan citra baik perusahaan,
diharapkan perusahaan tetap dapat melanjutkan bisnisnya dan mendapatkan keuntungan baik jangka
panjang maupun jangka pendek.
Budaya perusahaan yang dimiliki oleh Kader Industri adalah Budaya Pasar (Market Culture) yang
dikemukakan James Gibson (2006) yaitu perusahaan menekankan pertumbuhan penjualan,
peningkatan pangsa pasar, stabilitas keuangan dan keuntungan. Perusahaan dan pekerja memiliki
hubungan sebatas kontraknya dengan perusahaan. Dalam kasus ini Hubungan antara Kader Company
dengan pekerjanya hanya sebatas hubungan berdasar kontrak dimana pekerja memberikan jasa pada
perusahaan dan perusahaan akan memberikan imbalan atas jasa mereka.
Tanggung jawab yang dimiliki pelanggan Kader untuk memastikan bahwa pekerja Kader terlindungi
adalah pelanggan Kader dapat menambahkan klausul dalam perjanjian kontrak jual beli dengan Kader,
misalnya pelanggan hanya akan membeli produk dari Kader bila kriteria perlindungan pada pekerja
Kader terpenuhi. Bila pelanggan mengetahui bahwa kondisi tersebut dilanggar, pelanggan akan
membatalkan kontraknya dengan Kader. Tindakan ini tidak sepenuhnya dapat memastikan
perlindungan pada pegawai Kader karena pelanggan tidak melakukan pengawasan sepenuhnya pada

Nama : Inna Zahara


NIM : 15/391641/PEK/21087
proses operasi Kader. Setidaknya hal inilah yang dapat dilakukan pelanggan Kader untuk
menunjukkan bahwa mereka memiliki moral dan selalu melindungi hak asasi manusia (HAM).