Anda di halaman 1dari 7

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX.

2SMP NEGERI 1 CENGAL MATA


PELAJARAN IPA MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN BERBENTUK GRAFIS
Oleh :
Suyitno,S.Pd
SMP Negeri 1 CENGAL
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa melalui media pembelajaran grafis hasil belajar siswa Kelas IX.2
pada mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Cengal dapat meningkat.
Untuk perkembangan aspek psikomotorik,siswa SMP menyangkut olah pikir juga memperhatikan olah tangan yang
berupa kerja praktek sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan proses IPA, kompetensi psikomotoriknya bahkan ada
kemungkinan juga dapat berkembangnya aspek afektif sehingga membentuk sikap jujur, objektif, rasa ingin tahu, teliti, disiplin,
dapat menghargai pendapat orang lain.
Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kuantitatif. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan (action
research). Menurut suryabrata (2003:37),Peneliti tindakan bertujuan mengembangkan ketrampilan baru untuk memecahkan
masalah dengan penerapan langsung.Metode penelitian tindakan kelas ini dimulai dari tahap : perencanaan,implementasi tindakan,
evaluasi dan refleksi.
Setelah siswa diberi tindakan sebanyak satu kali (tiga siklus), secara berdaur ulang kemampuannya menguasai maupun
pemahamannya terhadap materi baik pada mata pelajaran ilmu Pengetahuan Alam sangat (terbaik) tercatat siswa sudah
menguasai materi dengan baik
Kata Kunci : Pembelajaran Berbentuk Grafis.IPA
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah, IPA
dengan visi dan misinya yang antara lain berupaya mendidik
siswa berilmu dan berketerampilan unggul serta open
minded memiliki etos kerja, melatih melakukan penelitian
sesuai dengan proses/metode ilmiah dan belajar dengan
mengaplikaikan pengetahuan terbaiknya, mempunyai sikap
disiplin, jujur, dan bertanggungjawab. Disamping itu juga
bersikap peka,tanggap dan berperan aktif dalam
menggunakan IPA untuk memecahkan problem di
lingkungannya. Melalui pengusaan mata pelajaran IPA baik
proses, produk, maupun sikap yang baik, siswa diharapkan
mampu mengembangkan ilmunya, bertenggang rasa,
mampu membina kerjasama yang sinergis demi tercapainya
efesiensi dan efektivitas, kualitas serta kesuksesannya nyata
bagi siswa. Standar kompetensi yang harus dikuasai siswa
untuk menunjukan bahwa hasil belajar IPA yang berupa
pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu telah dapat
tercapai
Mata pelajaran IPA di SMP/MTs bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan seperti meningkatkan
keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam
ciptaanNya, mengembangkan pemahaman tentang berbagai
macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari, mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan
kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling
mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat, melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan
kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta
berkomunikasimeningkatkan kesadaran untuk berperan serta
dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan
serta sumber daya alam, meningkatkan kesadaran untuk
menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah
satu ciptaan Tuhan, meningkatkan pengetahuan, konsep, dan
keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Bahan kajian IPA untuk SMP/MTs merupakan


kelanjutan bahan kajian IPA SD/MI meliputi aspek-aspek
sebagai berikut.: makhluk hidup dan proses kehidupan,
materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, bumi dan
alam semesta.
Sebagai seorang pengajar, salah satu tugas serta
kewajiban yang harus dipenuhi adalah membantu
mempengaruhi kemampuan intelektual siswa agar dapat
berfungsi secara optimal, dan mencoba melengkapi program
pengajaran yang ditujukan bagi mereka yang lambat dalam
belajar namun kenyataannya karena saya mengajar dengan
metode demonstrasi hanya sedikit melibatkan siswa karena
keterbatasan waktu dan jumlah alat ternyata hasil belajar
siswa kurang memuaskan karena penulis kurang dapat
memberikan penekanan konsep-konsep agar bersifat relatif
permanen, tahan lama dan menetap.
Salah satu tujuan dari pembelajar IPA adalah
membantu siswa dapat menguasai pengetahuan tentang
keteraturan sains dalam bentuk fakta-fakta, konsep-konsep
dan generalisasi-generalisasi dan mampu memahaminya
maka peneliti mengubah metode pengajara yang selama
berpusat kepada guru ke siswa dengan harapan siswa dapat
memperoleh pengalaman secara langsung dengan
menggunakan panca indera kita sendiri maupun melalui
pengalaman orang lain sehingga hasil belajar menjadi
meningkat. Dengan metode belajar PAKEM yaitu
pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan bagi
siswa maka siswa lebih aktif. Dengan demikian Ketuntasan
belajar siswa baik secara individu maupun klasikal dapat
tercapai.
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka
peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan
menerapkan pembelajaran menggunakan media berbentuk
grafis.
Berdasarkan masalah yang dipaparkan diatas peneliti
memilih judul penelitian : MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA KELAS IX.2.2 SMP NEGERI 1
CENGAL MATA PELAJARAN IPA MELALUI MEDIA
PEMBELAJARAN BERBENTUK GRAFIS.

1121-1

3.

1.2. Identifikasi Masalah


Secara teoritis banyak factor yang mempengaruhi
mengapa hasil belajar siswa sering kurang dari kkm
diantaranya faktor yang datang dari dalam diri siswa yaitu
sikap,rasa percaya diri, cara belajar, motivasi, minat, gaya
belajar, bakat, pola kerja otak, daya serap, emosional,panca
indera, kreatifitas, aktivitas, hasil belajar dan factor yang
datangnya dari luar diri siswa diantaranya kurikulum yang
berlalu,bahan ajar yang digunakan guru, sumber belajar
siswa, media pembelajaran, cara mengajar guru, metoda
guru mengajar, interaksi guru dansiswa , ekonomi,
intelektual siswa, lingkungan dan keluarga, waktu belajar,
sarana dan prasarana.
1.3. Analisis Masalah
Salah satu tujuan pembelajaran IPA adalah untuk
membantu agarsiswa dapat menguasai pengetahuan tentang
keteraturan IPA dalam bentuk fakta-fakta, konsep-konsep
dan generalisasi-generalisasi IPA. Dengan menguasai faktafakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi ini
diharapkan siswa mampu memahami fenomena alam yang
ada disekitarnya,Untuk dapat menyampaikan hal-hal diatas
selama ini sudah dilakukan peneliti berupa kegiatan
demonstrasi seperti pada materi cahaya, ternyata setelah
selesai pembelajarannya masih ada saja siswa yang belum
paham . ini penulis sadari karena keterbatasan alat-alat
praktikum serta waktu yang tersedia. Untuk itu peneliti
mencoba menerapkan media grafis yang harus dikerjakan
oleh siswa secara individu agar fakta-fakta dapat mereka
peroleh secara langsung sehingga konsep-konsep yang
diajarkan guru tidak salah dan dengan demikian hasil belajar
siswa mengalami peningkatan.
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian,
penulis merumuskan permasalahnnya sebagai berikut
Apakah melalui media pembelajaran berbentuk grafis dapat
meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX.2pada mata
pelajaran di SMP Negeri 1 Cengal?.
1.5. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa
melalui media pembelajaran grafis hasil belajar siswa
KELAS IX.2 pada mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1
Cengal dapat meningkat.

Sekolah,
sebagaibahanpertimbangandanmasukandalamupay
apeningkatankualitaskegiatanpembelajaran.

2. KAJIAN PUSTAKA
2.1. Hasil Belajar
Istilah belajar berarti proses perubahan tingkah
laku, pengetahuan dan keterampilan setelah terjalin interaksi
dengan sumber belajar yang dapat berupa buku, lingkungan,
guru atau teman sejawat.Untuk mengetahui sejauh mana
proses belajar mengajar mencapai tujuan pembelajaran
yang diharapkan, maka perlu diadakan tes hasil belajar.
Menurut pendapat Winata Putra dan Rosita (1997; 191) tes
hasil belajar adalah salah satu alat ukur yang paling banyak
digunakan untuk menentukan keberhasilan seseorang dalam
suatu proses belajar mengajar atau untuk menentukan
keberhasilan suatu program pendidikan. Adapun dasar-dasar
penyususan tes hasil belajar adalah sebagai berikut:
a. Tes hasil belajar harus dapat mengukur apa-apa
yang dipelajari dalam proses pembelajaran sesuai
dengan tujuan instruksional yang tercantum dalam
kurikulum yang berlaku.
b. Tes hasil belajar disusun sedemikian sehingga
benar-benar mewakili bahan yang telah dipelajari.
c. Bentuk pertanyaan tes hasil belajar hendaknya
disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar
yang diharapkan.
d. Tes hasil belajar hendaknya dapat digunakan untuk
memperbaiki proses belajar mengajar.
A. Tabrani (1992;3) mengatakan bahwa belajar
mengajar adalah suatu proses yang rumit karena tidak
sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan
berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan,
terutama bila diinginkan hasil yang lebih baik.
3. METODE DAN PELAKSANAAN PENELITIAN
3.1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif
kuantitatif. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan
(action research). Menurut suryabrata (2003:37),Peneliti
tindakan bertujuan mengembangkan ketrampilan baru untuk
memecahkan masalah dengan penerapan langsung.Metode
penelitian tindakan kelas ini dimulai dari tahap :
perencanaan,implementasi tindakan, evaluasi dan refleksi.
3.2. Fokus Penelitian
Penelitian ini dipokuskan untuk menyelidiki apakah
hasil belajar siswa kelas IX.2 pada pelajaran IPA meningkat
melalui media grafis di SMP Negeri 1 Cengal.

1.6. Hipotesis Tindakan


Melalui media pembelajaran berbentuk grafis dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX.2 pada mata
pelajaran di SMP Negeri 1 Cengal.
1.7. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk:
1. Siswa, dapat memperoleh pengalaman sehingga
meningkatkan hasilbelajar.
2. Guru,dapatdijadikanbahanpertimbangandalammela
ksanakanpembelajaranyangbermutu.

1121-2

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di kelas IX.2 SMP
Negeri 1 Cengal pada mata pelajaran IPA pada
tahun pelajaran 2015/2016.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dari bulan Maret 2016
sampai dengan bulan Mei pada tahun pelajaran
2015/2016, terhadap siswa kelas IX.2 mata
pelajaran IPA semester genap. PenelItian ini
dilaksanakan disesuaikan dengan jadwal dan jam
pelajaran fisika pada kelas yang dijadikan objek
peneliti.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil Penelitian Siklus I
Penelitian ini berlangsung waktu dalam tiga siklus.
Pada siklus pertama alokasi waktu 2 jam pelajaran
dilakukan dalam tiga pertemuan. Dalam setiap pertemuan
siswa dibimbing untuk menggambar benda yang berada
didepan cermin datar, sehingga dari kegiatan ini siswa dapat
menganalisa hasil yang diperolehnya dengan teori yang ada
sehingga mereka memperoleh pengalaman sendiri.
Berdasarkan hasil ulangan harian siklus pertama diperoleh
data hasil belajar seperti tabel dibawah ini:
Tabel 1
Distribusi Perolehan Hasil Ulangan Yang dicapai Siswa
Siklus I
No

Nilai

1
2
3
4
5
6
Jumlah

< 44
45 54
55 60
65 - 74
75 - 80
85 100

Jumlah
Siswa

Tuntas

6
5
5
5
2
23

dengan siswa yang mengalami kesulitan serta membantu


temannya yang mengalami kesulitan tersebut.
4.2. Hasil Penelitian Siklus II
Pada siklus II ini seperti langkah-langkah siklus I
namun materinya
adalah tentang sifat cahaya yang
mengalami pemantulan. Pada kegiatan ini siswa akan
menggambar keadaan benda yang berada di depan cermin
cekung dan cermin cembung diharapkan hasil yang mereka
peroleh dapat membuktikan sifat-sifat bayangan secara
benar dan jika siswa membaca suatu soal yang masih
berhubungan dengan materi ini mereka dapat menafsirkan
sifat hasil bayangan tanpa harus menggambar. Hasil yang
didata dari ulangan harian siklus II seperti tabel dibawah
ini:

Tak Tuntas

6
5
5
5
2
7

16

Dengan melihat data yang diperoleh ternyata masih


banyak siswa yang belum berhasil dalam pembelajaran
melalui media grafis ini, namun usaha mereka sudah ada
seperti siswa masih banyak yang meminta kepada guru
untuk mengulangi kembali cara-cara menggambar juga cara
menyelesaikan soal-soal yang memerlukan keterampilan
menghitung menggunakan pecahan, ada diantara siswa yang
masih belum bisa menyesaikan perhitungan dikarenakan
kelemahan matematikanya, ini terlihat siswa yang
memperoleh nilai diatas kkm yaitu 75 sebanyak 23 siswa
atau baru mencapai ketuntasan secara klasikal sebesar 61%
sedangkan yang belum berhasil mencapai kkm sebanyak 15
orangatau 39% siklus pertama secara rinci dapat dilihat
seperti gambar dibawah ini.

Tabel 2
Distribusi Perolehan Hasil Ulangan Yang dicapai Siswa
Siklus II
Jumlah
Siswa

No

Nilai

1
2
3
4
5
6

< 44
45 54
55 60
65 - 74
75 - 80
85 100

Jumlah

Tuntas

2
2
1
10
8

10
8

23

18

Tak Tunta
2
2
1

Adapun pada siklus II ini sudah ada peningkatan


dimana siswa-siswa pada siklus pertama sebanyak 17 belum
berhasil maka pada siklus II ini sudah mengalami penurunan
sebesar 21% artinya siswa yang berhasil sebanyak 30 siswa
mengalami peningkatan sebesar 79% dan daya serap siswa
sebesar 79% dengan nilai hasil belajar siswa dengan ratarata 79 secara rinci dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II


Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I
80
60

Nilai

Jumlah Siswa

Nilai

Tuntas

TidakTuntas

Jumlah Siswa

Daya Serap

Nilai Rata-Rata

Tuntas

40

TidakTuntas

20

Daya Serap

Nilai Rata-Rata

Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I


Refleksi Siklus I
Untuk itu pada siklus kedua guru mencoba
memberikan kesempatan kepada siswa yang belum mengerti
untuk bertanya dan selalu menggali apa yang diperoleh
siswa yang telah berhasil untuk membagi pengalaman

Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II


Refleksi Siklus II
Dalam siklus II ini memang nilai hasil blajar anak
belumlah memuaskan ini disebabkan siswa masih terkendala
dengan soal-soal hitungan yang berkaitan dengan
matematikanya dan saat menentukan ruang-ruang benda
masih perlu dijelaskan batasan-batasannya untuk
menggambar sudah ada kemajuan dimana gambar yang
mereka buat sudah rapi dan benar. Jadi untuk siswa yang
belum berhasil akan diberi latihan-latihan terutama soal-soal
hitungan sedangkan siswa yang sudah berhasil diberikan
pengayaan

1121-3

4.3. Hasil Penelitian Siklus III


Pada siklus ini siswa belajar sifat cahaya yaitu
pembiasan pada lensa cembung dan lensa cekung yang
banyak dimanfaatkan pada kacamata, lup, teropong dimana
titik fokusnya ada dua yaitu titik fokus aktif dan titik fokus
pasif . Siswa akan menggambar benda yang berada didepan
lensa selanjunya dari hasil gambar akan terbentuk bayangan
benda dengan sifat-sifatnya. Dari ulangan harian siklus III
ini diperoleh data seperti dibawah ini:
Tabel 2
Distribusi Perolehan Hasil Ulangan Yang dicapai Siswa
Siklus II

3
4
5
6
Jml

0
17
4
21

0
0
18
12
30

0
0
1
8
9

3
10
0
0
17

3
4
0
0
8

0
-6
0
0
-9

Keterangan
Nilai
1. <44
2. 45-54
3. 55-64
4. 65-74
5. 75-84
6. 85-100
Jumlah
No
Nilai
Tuntas
Tak Tuntas
Siswa
Berdasarkan data tersebut siswa yang tuntas belajar
1
< 44
dari siklus 1 dan siklus II ada peningkatan dari 21 siswa
2
45 54
menjadi 30 siswa yang berarti ada 9 anak yang berhasil
3
55 60
1
1
ditahap II ini terlihat dari penurunan siswa yang tadinya ada
4
65 - 74
2
2
17 siswa yang tidak tuntas namun setelah pelaksanaan
5
75 - 80
12
12
pembelajaran dengan media grafis disiklus II menjadi 8
siswa dan daya serap siswa terhadap pembelajaran
6
85 100
8
8
meningkat dari 55% menjadi 79% berarti meningkat sebesar
Jumlah
23
20
3
24% dengan keberhasilan ini maka nilai rata-rata hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPA pun meningkat yang
Berdasarkan data diatas diperoleh hasil belajar
tadinya 71 menjadi 79.
yang telah mencapai standar ketuntasan minimal atau kkm
Seperti yang diharapkan dalam penelitian tindakan
sebanyak 35 siswa dengan persentase 92% artinya
kelas
ini
adanya peningkatan berarti adanya keberhasilan
ketuntasan individu secara klasikal melebihi 75% dengan
dalam
pelaksanaan
penelitian melalui media grafis
rata-rata nilai hasil belajar sebesar 88 dan siswa yang belum
walaupun
keberhasil
seperti
ini belum besar namun upaya
berhasil sebanyak 3 siswa 8% berarti pada siklus III ini
kearah
perbaikan-perbaikan
akan terus diusahakan pada
sudah diktakan berhasil meningkatkan hasil belajar siswa
siklus III. Untuk memperjelas perbandingan siklus I dan
pada matapelajaran IPA secara rinci dapat dilihat pada :
siklus II dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Hasil Belajar Siswa Pada Siklus IIIPerbandingan Hasil Belajar Siswa Antara Siklus I dan Siklus II
Nilai

100

Jumlah Siswa

80

Tuntas

60

TidakTuntas

100
50
0
-50

Daya Serap

40

Nilai Rata-Rata

20

1 2 3

5 6 Jumlah

Berdasarkan gambar diatas terlihat siswa sudah dapat


megikuti kegiatan pembelajaran melalui media gambar atau
grafis ini berarti dengan teknik ini telah memberikan
pengalaman yang bermakna bagi siswa.

Gambar Perbandingan Hasil Belajar Siswa Antara


Siklus I dan Siklus II

4.4. Pembahasan Siklus I dan Siklus II


Data dibawah ini adalah perbandingan antara data
yang diperoleh pada siklus I dan siklus II
Tuntas
Nilai
SI
1
2

0
0

S
II
0
0

Peningkat
an

Tidak
Tuntas

katan

SI

0
0

O
4

S
II
0
1

Penin
g

Daya
Serap

kanat

SI

0
-3

55

4.5. Pembahasan Siklus II dan Siklus III


Data dibawah ini adalah perbandingan antara data
yang diperoleh pada siklus II dan siklus III
Tabel
Perbandingan Antara Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II dan
Siklus III

S
II
79

Tuntas
Nilai
1

1121-4

Pening

S
II
0

S
III
0

katan
0

Tidak
Tuntas
S
II
O

SI
II
0

Pening

Daya
Serap

kanat

S II

79

S
III
92

2
0
3
0
4
0
5
18
6
12
Jml
30
Keterangan
Nilai
1. <44
2. 45-54
3. 55-64
4. 65-74
5. 75-84
6. 85-100

0
0
0
7
28
35

0
0
0
-11
16
5

1
3
4
0
0
8

1
2
0
0
0
3

0
-1
-4
0
0
-5

100
80
60

1
2
3

40

4
5

20
0

Berdasarkan data tersebut siswa yang tuntas belajar


dari siklus II dan siklus III ada peningkatan dari 30 siswa
menjadi 35 siswa yang berarti ada 5 anak yang berhasil
ditahap II atau meningkat sebesar 13.2%.Ini terlihat dari
penurunan siswa yang tadinya ada 8 siswa yang tidak tuntas
namun setelah pelaksanaan pembelajaran dengan media
grafis disiklus III menjadi 3 siswa atau menurun 7.9% dan
daya serap siswa terhadap pembelajaran meningkat dari
79% menjadi 92% berarti meningkat sebesar 13% dengan
keberhasilan ini maka nilai rata-rata hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPA pun meningkat yang tadinya 79 menjadi
82 berarti nilai rata-rata meningkat 3%.
Seperti yang diharapkan dalam penelitian tindakan
kelas ini adanya peningkatan berarti adanya keberhasilan
dalam pelaksanaan penelitian melalui media grafis
walaupun keberhasil seperti ini belum besar namun upaya
kearah perbaikan-perbaikan akan terus diusahakan pada
siklus III. Untuk memperjelas perbandingan siklus II dan
siklus III dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Perbandingan Hasil Belajar Siswa


Antara Siklus II dan Siklus III

Jumlah

Perbandingan Hasil Belajar Siswa Antara Siklus II dan


Siklus III

6
Jumlah

-20
Perbandingan Hasil Belajar Siswa dari Siklus I, Siklus II,
Siklus III
4.6. Pembahasan Hasil Penelitian
Dari
hasil
penelitian
ditemukan
bahwa
pembelajaran IPA menggunakan/melalui media grafis dapat
memberikan pemahaman siswa pada materi cahaya sehingga
hasil belajar siswa dapat meningkat dari siklus kesiklusnya
jika dibandingkan dengan guru hanya menjelaskan materi
tersebut tanpa melibatkan aktivitas siswa.
Ini tampak dari siklus ke siklus berikutnya daya
serap siswa selalu mengalami peningkatan begitu pula hasil
belajar dan pada setiap kegiatan pembelajaran semua siswa
antusias untuk mencoba menggambar dan menghubungkan
dengan teori serta perhitungan yang mereka selesaikan
dengan rumus-rumus yang berkaitan dengan materi cahaya
dan bila hasilnya berhubungan dan tepat meraka semangat
namun bila belum benar mereka masih terus mencoba
Hal ini senada dengan apa yang di kemukakan oleh
Nasution (2009:194) menyatakan bahwa guru adalah
sumber utama yang memberikanstimulus kepada siswa agar
belajar, akan tetapi disamping guru masih ada lagi berbagai
macam media lainnya seperti benda-benda, demonstrasi,
model, bahasa tertulis, gambar-gambar, film dan televise,
mesin belajar (teaching machine) yang semuanya berfungsi
memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat
verbalistis, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya
indera serta penggunaan media pendidikan secara tepat dan
variasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik, sedang
menurut Apriyanto menggambar adalah proses kreasi yang
harus dilakukan secara intensif dan terus menerus bahkan
menggambar merupakan wujud eksplorasian teknis dan
gaya, penggalian gagasan dan kreativitas, bahkan biasa
menjadi sebuah ekspresi dan aktualisasi diri. Selain
memiliki fungsi praktis dan psikologis karena pada intinya
menggambar merupakan perpaduan keterampilan (skill),
kepekaan rasa (teste), kreativitas, ide, pengetahuan, dan
wawasan (1999:1)

1121-5

5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisis pembahasan masalah. Dalam
penelitian ini dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut:
1. Penggunaan metode demonstrasi pada materi
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dalam
rangka
untuk
meningkatkan
kemampuan
penguasaan dan pemahaman
siswa dengan
beberapa tahapan. Tahapan yang dimaksud adalah:
(a) persiapan, (b) aktivitas belajar mengajar, dan (c)
tahap pelaksanaan tindakan.
2. Setelah siswa diberi tindakan sebanyak satu kali
(tiga siklus), secara berdaur ulang kemampuannya
menguasai maupun pemahamannya terhadap
materi baik pada mata pelajaran ilmu Pengetahuan
Alam sangat (terbaik) tercatat siswa sudah
menguasai materi dengan baik
3. Kesimpulan ini menunjukkan tingkat keberhasilan
yang ditandai dengan telah tercapainya indikator
keberhasilan penelitian, yakni siswa yang memiliki
kemampuan penguasaan materi dan pemahaman
sangat baik minimal 75%. Sementara itu,
berdasarkan data yang diperoleh ditunjukkan
bahwa siswa yang menguasai materi sudah di atas
70%.
5.2. Saran
1. Agar memiliki nilai guna yang optimal, semua
hasil penelitian ini harus segera disosialisasikan
dan ditindaklanjuti. Terutama yang berhubungan
dengan bagaimana memanfaatkan berbagai
strategi pembelajaran, salah satunya adalah
dengan metode pemberian tugas.
2. Guru harus terus menggiatkan pelaksanaan
penelitian tindakan semacam ini, sehingga

nantinya akan diperoleh berbagai strategi dalam


upaya peningkatan kualitas pembelajaran, yang
pada akhirnya akan dapat meningkatkan kualitas
dan kredibilitas suatu sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Dahar,

Ratna Wilis,1988, Teori-Teori Belajar,Dirjen


Pendidikan Tinggi Depdikbud, Jakarta
Degeng, S Nyoman,1989,Taksonomi Variabel ,IKIP Malang,
Malang.
Depdikbud, 2002, Pendekatan Kontekstual, Balai Pustaka,
Jakarta
Dimyati Dkk,2002, Belajar Dan Pembelajaran, PT. Rineka
Cipta, Jakarta.
Haryanto, 2003, Sains Untuk SD Kelas VI, Erlangga, Jakarta
Mulyasa, 2003, Kurikulum Berbasis Kompetensi, PT Rosda
Karya, Bandung
Puskur,
2003,
KD
Sains
SD,
http://www.puskur.net/inc/sd/PengetahuanAlam
.pdf.
Suharsimi Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian suatu
pendekatan Praktek, PT. Rineka Cipta.Jakarta.
Undang-undang No. 20 tahun 2003, Sistem Pendidikan
Nasional, www.depdiknas.go.id
Wahyudi, 2001, Tingkatan Pemahaman Siswa Pada Materi
Pelajaran,
Editorial
Pendidikan
Dan
Kebudayaan Edisi 36, Depdiknas, Jakarta
Sudjana, Nana. 2002. Dasar Dasar Proses Belajar
Mengajar. Cetakan keenam. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.
Suryabrata, Sumadi. 2003. Metodologi Penelitian. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.

1121-6