Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN
Rutherford menemukan bahwa partikel sebagai salah satu unsur radiasi
yang teremisi oleh elemen radioaktif secara alami dan mengidentifikasi partikel
sebagai inti dari atom 4He (Z=2). Dua unsur lainnya dari radiasi ini adalah partikel
(elektron dengan energi tinggi) dan sinar (radiasi gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang yang sangat pendek). Pada awal tahun radioaktivitas,
perbedaan radiasi dibedakan oleh perbedaan daya serap pada materi. Lebih lanjut,
perilaku partikel- partikel tersebut pada medan magnet juga ditemukan perbedaan
yang ditunjukkan pada gambar 1. Sinar hanya terlihat dibelokkan sedikit oleh
medan magnet, sementara sinar terlihat lebih kuat dibelokkan, sinar tidak
dibelokkan sama sekali, hal ini menunjukkan bahwa sinar secara elektrik adalah
netral. Pembelokan sinar dan menunjukkan bahwa sinar tersebut adalah
partikel bermuatan listrik dan membawa muatan yang berlawanan. Pembelokan
yang kuat dari partikel menunjukkan bahwa partikel jauh lebih ringan
daripada partikel .

Gambar 1. Jalur sinar , dan dalam medan magnet.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Penentuan q/M dari partikel
Rutherford dan Robinson adalah yang pertama kali mengukur muatan spesifik
(perbandingan q/M dari muatan terhadap massa) dari partikel dengan susunan
yang ditunjukkan pada gambar 2. Metode tersebut sama dengan metode
pengukuran dari e/M untuk sinar katoda.

G1
S

d
G2

Gambar 2. Rancangan eksperimen untuk mengukur q/M dari partikel

S adalah sumber partikel berupa tabung kaca berdinding sangat tipis yang
mengandung gas radon dalam jumlah yang kecil. Sumber mengandung radon dan
produk peluruhannya, RaA, RaB, RaC, dan RaC.
Partikel dari sumber masuk ke ruang antara dua plat kaca G1 dan G2, bagian
dalam permukaan yang berlapis perak untuk menghubungkan keduanya. Beda
potensial A akan diaplikasikan antara G1 dan G2. Pada sisi luar plat G1 dan G2, plat
A dengan celah sempit melewatkan partikel menuju ke plat fotografi P yang
dibungkus aluminium foil tipis dan diletakkan 0,5 m disamping A. Seluruh
peralatan telah ditutup di dalam ruangan bertekanan yang dijaga sangat rendah.
Dengan tanpa adanya beda potensial (p.d.) diantara G 1 dan G2, partikelpartikel yang melewati celah di A datang di P pada bagian tengahnya dan
memproduksi sebuah garis gelap ketika pelatnya terbentuk.
Ketika sebuah beda potensial diaplikasikan diantara G 1 dan G2, partikelpartikel yang memasuki daerah diantara mereka dalam suatu arah yang paralel
terhadap mereka dibelokkan kearah atas atau kearah bawah dan mengenai salah
satu dari pelat-pelat ini, karena jarak diantara mereka sangat kecil.

Jadi partikel tersebut terhalangi dari jangkauan plat fotografi melalui celah.
Pada kasus lain, partikel memasuki daerah antar plat pada titik sudut yang
berjalan sepanjang jalur parabola dengan aksi medan listrik dan akan menembus
2

melalui celah pada A untuk meraih plat P pada titik dengan tipis di atas atau di
bawah garis tengah. Jadi garis gelap dibuat pada jarak d di atas (atau di bawah)
garis gelap disebutkan di atas. Dengan membalik medan listrik, garis gelap
lainnya diperoleh pada sisi lain dari garis tengah.
Sebenarnya sejumlah pasangan garis gelap diperoleh karena partikel
diemisi oleh unsur Rn yang berbeda, RaA dan RaC yang mempunyai kecepatan
yang berbeda. Karena hal ini dipecahkan dengan baik, pasangan- pasangan garis
gelap akan lebih mudah dibedakan.
Gaya yang bekerja pada partikel dari muatan q dan massa M akibat medan
listrik X adalah Xq yang menghasilkan percepatan sepanjang arah medan
diberikan oleh:
f

Xq
M

Jika l adalah panjang plat G1 dan G2 dan v adalah simbol dari kecepatan
partikel , lalu waktu yang dibutuhkan oleh partikel untuk berjalan pada jarak
antara ujung dari jalur parabola partikel- partikel dan celah adalah t = 1/2v
sehingga komponen dari kecepatan sepanjang X yang diperoleh dengan partikel ,
seperti partikel- partikel menembus melalui celah adalah:
u ft

Xq l
.
M 2v

Setelah menembus melalui celah, partikel berjalan terhadap P sepanjang


garis lurus tangensial ke jalur parabolik partikel- partikel pada celah. Jika L adalah
jarak antara A dan P, maka pembengkokan partikel pada plat P menjadi:
d e ut '

Xq l L Xq.l.L
. .
M 2v v
2 Mv 2

atau

2d e
q

...........................................................................
2
2 Mv
X .l.L
(1.1)

Di sini t = L/v adalah waktu yang dibutuhkan oleh partikel untuk berjalan
dari celah ke plat P.
Persamaan 1 melibatkan kecepatan v dari partikel . Rutherford dan
Robinson melakukan eksperimen pembengkokan magnetik untuk menghilangkan
v.
Prinsip pengukuran ditunjukkan pada gambar 3. Sumber S dari partikel
berupa kawat platinum tipis yang diletakkan di dalam gas radon untuk beberapa
hari. Sebagai hasil, kawat dilapisi dengan deposit aktif RaA, RaB, dan RaC dari
gas radon. Sumber yang paling utama adalah memberi partikel dari RaC.
Partikel melewati melalui celah A sejajar terhadap S dan jatuh pada plat
fotografi P. Peralatan dievakuasi dan diletakkan pada medan magnet uniform yang
kuat diterapkan tegaklurus terhadap bidang kertas. Jalur partikel adalah busur
dari lingkaran yang melewati melalui celah A dan memotong silang plat P pada
titik F di atas atau di bawah garis lurus SA memotong P di O. Ketika medan
magnet dibalik, partikel mengenai plat pada titik berlawanan secara simetri pada
sisi lain dari SAO. Seperti pada kasus sebelumnya, kita jadi memperoleh dua garis
gelap pada P.
F

S
A

O
P
F

Gambar 3. Penentuan q/Mv dari partikel . Medan magnet tegak lurus


terhadap bidang kertas.

Jika medan induksi magnet adalah B, maka gaya magnet adalah Bqv sehingga
kita dapat menulis:
Bqv

mv 2
R

Di sini R adalah radius dari lingkaran yang digambarkan oleh partikel .


Sehingga kita mendapatkan:

q
1

................................................................................
mv BR

(1.2)
Dari gambar 4, kita lihat bahwa jika tinggi vertikal dari titik tertinggi M dari
lingkaran adalah di atas celah A menjadi s, lalu:

2 R s s l / 2 2
Atau
2 Rs

l2
4

s 2 R ..................................................... (1.3)
A

S
L/2

L/2

R
O

Gambar 4. Penentuan radius dari jalur partikel dalam medan magnet.

Di sini l adalah jarak dari S ke A. Sejak medan magnet beraksi pada seluruh
peralatan dari S ke P, partikel adalah bertindak di atas oleh medan bahkan
setelah penembusannya melalui celah. Dari gambar, kita lalu mempunyai:

2 R s d m s d m

L
2

Disini dm adalah pembengkokan vertikal dari partikel dari garis SA ketika


partikel mengjangkau plat P. L adalah jarak dari celah ke plat sejak s + d m <<
2R, kita dapat menuliskan:
2 R s d m

l2
lL L2 ......................................................... (1.4)
2

Dari persamaan (3) dan (4), kita mempunyai:


2 Rd m lL L2

Atau
R

L l L
2d m

Maka dari persamaan (2) kita mendapatkan

L l L
............................................................................ (1.5)
2d m

Dari persamaan (1) dan (5) kita akhirnya mendapatkannya setelah


menghilangkan v2,

2 Xld m2
q
2
.............................................................. (1.6)
M B L(l L) 2 d e
q/M untuk partikel dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan (1.6).
Rutherford dan Robinson menemukan:
q
4820 x10 7 C / kg
M

Eksperimen di atas juga memberikan kecepatan dari partikel yang


ditemukan tinggi secara ekstrim, bahwa dari RaC menjadi 1,92 x 10 7 m/s yang
berhubungan terhadap energi dari 7,68 MeV.
2. Penentuan muatan dan massa dari partikel
Untuk menentukan identitas partikel , maka perlu untuk diketahui muatan
dan massanya secara terpisah. Jika muatan q ditentukan melalui eksperimen, lalu
dengan menggunakan nilai muatan spesifik yang telah ditentukan sebelumnya,
maka memungkinkan untuk menentukan massa M.
Rutherford dan H. Geiger adalah yang pertama menentukan muatan partikel
. Mereka pertama-tama mengukur jumlah partikel yang diemisikan oleh
sumber radioaktif perdetik. Lalu mereka mengukur jumlah total dari muatan yang
dibawa oleh partikel-partikel tersebut. Dari sini, muatan tiap-tiap partikel dapat
ditentukan.
Untuk menentukan tingkat/laju emisi dari partikel unsur radioaktif, maka
perlu untuk menghitung partikel tunggal. Bermacam-macam metode telah
dikembangkan untuk mendeteksi dan menghitung partikel tunggal terionisasi.
Ketika Rutherford dan Geiger melakukan eksperimen mereka pada permulaan
abad ini (1905), mereka telah menggunakan dua metode yang berbeda. Meskipun
metode ini adalah tidak sesensitif metode sekarang untuk menghitung partikel,
namun mereka mampu untuk membuat pengukuran akurat dengan peralatan
mereka.

Pada salah satu metodenya, mereka menggunakan layar berlapiskan ZnS.


Partikel memproduksi kilatan cahaya yang dikenal dengan kelipan
(scintillation) pada suatu layar. Sehingga jika unsur emisi diletakkan di depan
layar di dalam ruang gelap, layar akan menjadi bercahaya. Sejak partikel dalam
jumlah yang besar secara simultan menuju pada layar, tiap partikel menghasilkan
kilatan cahaya, efek keseluruhannya menyebabkan layar terlihat bercahaya secara
seragam. Jadi untuk mendeteksi partikel tunggal melalui kelipan yang
dihasilkannya, maka perlu menggunakan layar berukuran sangat kecil. Layar yang
dilapisi dengan ZnS dipasang pada bagian depan dari objektif mikroskop dan
diamati dari belakang. Karena sangat kecilnya area dari layar yang nampak
melalui lensa objektif, hal ini memungkinkan untuk mengamati produksi kelipan
partikel tunggal yang jatuh pada layar dari sumber yang diletakkan di
sampingnya. Rutherford dan Geiger menggunakan urutan/susunan itu untuk
menentukan jumlah dari partikel yang diemisikan oleh sumber tiap detik.
Rancangan eksperimen mereka ditunjukkan dalam gambar 5.
M
P

ke pompa
S

Gambar 5. Eksperimen Rutherford dan Geiger untuk menentukan jumlah


partikel dari sumber yang teremisi per detik.

Bila A adalah luasan dari layar P yang terlihat melalui mikroskop M, r jarak
dari layar dari sumber S dan N jumlah dari partikel diemisikan dari sumber tiap
detik. Maka jumlah partikel yang jatuh pada layar tiap detik adalah:
n

Ini memberikan

NA
4r 2

4r 2 n
..............................................................................
A

(2.1)
Pada metode kedua untuk menentukan jumlah partikel yang diemisikan dari
sumber, Rutherford dan Geiger menggunakan peralatan pencacah partikel yang
ditemukan oleh Geiger dan dikenal sebagai pencacah Geiger (Geiger counter).
Seperti didalam sebuah ruang ionisasi, pencacah tersebut tersusun dari sebuah
tabung katoda logam silindris tabung katoda silinder logam disepanjang sumbu
dari sebuah kawat logam tipis yang teregang, seluruh rancangan diletakkan dalam
sebuah ruang kedap udara dan dijaga pada tekanan yang sangat rendah. Salah satu
ujung ruang ruang ditutup dengan sebuah mika foil tipis, digunakan sebagai
jendela yang dilalui partikel untuk dapat masuk ke pencacah. Beda potensial
sekitar 1000 volt diaplikasikan antara anoda dan katoda. Ketika partikel
berenergi tinggi berjalan melalui tekanan udara rendah di dalam pencacah,
partikel tersebut mengionisasi molekul udara dan menghasilkan ion positif dan
negatif dalam jumlah yang besar di dalam ruang tersebut ruangan. Ion ini sekali
lagi memproduksi pasangan ion sekunder dengan bertumbukkan dengan molekul
udara. Semua ion ini tertarik oleh muatan elektroda secara berlawanan, seperti
hasil percikan sesaat yang diproduksi. Pada eksperimen Rutherford dan Geiger,
sumbu kawat anoda telah terhubung ke elektrometer kuadran yang ditunjukkan
oleh pembengkokan secara tiba-tiba ketika ion dalam jumlah yang besar yang
dihasilkan di dalam pencacah jatuh pada anoda. Jadi masukan dari tiap partikel
diindikasikan oleh pembengkokan jarum elektrometer. Dengan menghitung
besarnya pembengkokan, maka tingkat/laju dari partikel yang masuk kedalam
pencacah dapat ditentukan.
Dengan mengetahui luas jendela dan jarak sumber sebelumnya, maka
tingkat/laju emisi dari partikel oleh sumber akan ditentukan dengan bantuan
formulasi persamaan (2.1).
Kemudian Rutherford dan Geiger menggunakan kawat elektrometer dengan
periode waktu yang kecil pada tempat elektrometer kuadran (1912). Dengan
penggantian ini, pencacah menjadi lebih sensitif dan mereka mampu mencapai
catatan hingga 1000 partikel per menit yang masuk ke dalam pencacah.

Setelah menentukan tingkat/laju emisi dari partikel dari jumlah yang


diberikan dari sumber radioaktif, Rutherford dan Geiger melanjutkan ke
pengukuran total jumlah muatan yang dibawa oleh partikel ini. Rancangan
eksperimen mereka ditunjukkan dalam gambar 6.
S adalah piringan dangkal, mengandung radium dengan jumlah yang
diketahui, ditutup oleh aluminium foil tipis yang membolehkan partikel untuk
melewatinya, tetapi menahan atom lain yang terpental. Partikel datang dari S
lalu melewati melalui diafragma tipis D dengan luasan tertentu menuju ke
kolektor plat P yang ditutupi oleh aluminium foil tipis. Plat kolektor terhubung ke
elektrometer yang mengukur muatan yang dikumpulkan oleh kolektor
(pengumpul).
Electrometer

P
D

Gambar 6. Pengukuran muatan total yang dibawa oleh sejumlah partikel .

Seluruh peralatan diletakkan di bawah vakum tinggi dan dikenakan medan


magnet yang kuat. Medan ini membelokkan partikel yang juga diemisikan dari
sumber S dan mencegahnya untuk mencapai kolektor plat P. Ini juga yang
menahan elektron yang tertolak dari P karena dampak dari partikel yang menuju
kesana (sinar ).
Jika luasan diafragma D adalah S1 dan jaraknya dari sumber adalah r1, maka
muatan yang dikumpulkan oleh P per detik adalah:

NS1q
4r12

Dimana N adalah jumlah dari partikel yang diemisi oleh sumber per detik,
jadi kita mendapatkan:

10

4r12Q
...............................................................................
NS1

(2.2)
Dengan menggunakan nilai N yang ditentukan dengan bantuan persamaan
(2.1), q dapat ditemukan dari persamaan (2.2).
Rutherford dan Geiger memperoleh muatan partikel sebesar:
q = 3,1 x 10-19 coulomb
Kemudian E. Regener menggunakan polonium sebagai sumber dan
menemukan nilai yang lebih akurat dari q:
q = 3,193 x 10-19 coulomb
Dari sini ini dapat dilihat bahwa muatan partikel hampir dua kali muatan
yang dibawa oleh elektron (1,6 x 10-19 coulomb).
Dari nilai q di atas, maka massa dari parikel dapat ditentukan menggunakan
nilai dari q/M pada sub-bab 1:
M = 6,62 x 10-27 kg
Nilai ini hampir empat kali massa dari atom hidrogen (1,67 x 10-27 kg).
Jadi partikel mempunyai massa yang sama dengan massa atom helium
dengan nomor massa A = 4 dan membawa dua muatan positif. Jadi kita dapat
menyimpulkan bahwa partikel adalah tidak ada tetapi dua muatan ion helium
He++. Sejak atom helium mempunyai dua orbital elektron, (nomor atomnya Z= 2).
Kita akhirnya menyimpulkan bahwa partikel adalah inti dari atom helium.
3. Identifikasi partikel dengan metode spektroskopi
Untuk mengkonfirmasi kesimpulan di atas, Rutherford dengan T. Royds
melakukan eksperimen spektroskopi yang sangat elegan pada tahun 1909.
Rancangan eksperimen ditunjukkan pada gambar 7.
P
C

Q
A

11

Gambar 7. Spektroskop identifikasi partikel Rutherford dan Royd.

A adalah tabung gelas tertutup yang sangat tipis yang mengandung sejumlah
gas radon (222Rn). Partikel diemisi oleh 222Rn melewati dinding A yang tertutup,
pada tabung gelas lainnya B mempunyai dinding yang lebih tebal. Dua tabung di
tutup bersamaan. Bagian atas B berakhir pada pipa kapiler sempit C yang
mempunyai dua elektroda P dan Q yang diberikan beda potensial. Bagian bawah
B diisi dengan merkuri. Sisi tabung D ada yang melekat pada B yang terhubung
ke tandon merkuri melalui tabung karet. Dengan menaikkan atau menurunkan
tandon ini, tingkat merkuri pada bagian bawah B dapat diatur sesuai keinginan.
Pada awal eksperimen, udara di dalam B dan C dikeluarkan. Partikel
diemisi oleh gas radon pada A melewati dinding bagian belakang masuk ke ruang
kosong di dalam B. Karena tekanan gas di dalam B sangat rendah partikel
membentur bagian dalam dinding B menangkap elektron untuk membentuk atom
helium netral, yang menyebar sedikit demi sedikit ke dalam ruang kosong di
dalam B sebagai gas helium. Setelah beberapa hari gas helium secukupnya
dikumpulkan ke dalam B, gas helium ini lalu di tekan menuju kapiler C.
Tegangan tinggi lalu diberikan antara elektroda P dan Q dalam C dan
pelepasan cahaya diproduksi diantaranya. Cahaya lalu diemisikan lalu dianalisis
dengan bantuan dari spektrometer.
Rutherford dan Royds menemukan kehadiran garis spektral helium pada
cahaya ini, yang terbukti meyakinkan bahwa partikel tersebut tidak ada tetapi
berupa muatan ganda ion helium (He++).
4. Penentuan kecepatan partikel
Kita telah melihat bahwa partikel diemisi dengan kecepatan yang sangat
tinggi dari unsur radioaktif. Keadaan yang ada kecepatan partikel RaC adalah
1,92 x 107 m/s atau sekitar 1/16 kali kecepatan cahaya. Kita juga melihat bahwa

12

eksperimen Rutherford dan Robinson pada penentuan q/M dari partikel


memberikan kecepatannya.
Kemudian S. Rosenblum merancang spektograf magnetik untuk mengukur
kecepatan partikel dari sumber yang berbeda dengan akurat. Instrumen ini sama
dengan yang digunakan untuk pengukuran spektrum sinar .
Dalam instrumen ini, sebuah kawat sangat tipis dimana tersimpan bahan
radioaktif, digunakan sebagai sumbernya. Partikel-partikel dari sumber
dikumpulkan menjadi berkas sejajar (collimated) oleh sebuah sistem dari celahcelah. Berkas sejajar tersebut (the collimated beam) dikenai sebuah medan
magnetik pada arah tegak lurus dari berkas sinar tersebut. Dibawah pengaruhnya,
sedikit berkas divergen partikel-partikel mendeskripsikan pola-pola semisirkular dan terfokus pada sebuah titik di pelat untuk suatu energi tertentu.
Sebenarnya karena celahnya berupa sebuah garis yang pendek, partikel-partikel
juga terfokus disepanjang sebuah garis pendek diatas pelat yang paralel dengan
celahnya. Partikel-partikel dari berbagai energi yang berbeda memproduksi
garis-garis demikian yang berbeda yang tampak seperti garis-garis dalam
spektrum-spektrum optik.
Dengan B sebagai medan induksi magnetik, v kecepatan dan R sebagai radius
jalur semi lingkaran dari partikel . Kita dapat tuliskan:
Bqv

Atau

Mv 2
R

BqR
..................................................................................
M

(4.1)
Rosenblum menggunakan induksi medan magnetik sampai 3,6 T (36.000
gauss). Kemudian Rutherford dan yang lainnya menggunakan peralatan yang
sama untuk mengukur kecepatan partikel , tetapi menggunakan ruang ionisasi,
malahan plat fotografi sebagai detektor . Pada tahun-tahun terakhir ini, lebih
dikembangkan lagi peralatan untuk mengukur kecepatan partikel dengan akurat.
Pengukuran ini telah memberikan hasil berikut:

13

Kecepatan partikel yang diemisi oleh unsur radioaktif berorde 107 m/s.
Untuk beberapa elemen radio, hanya satu garis yang diperoleh dalam spektrum
pada plat fotografi, menunjukkan bahwa mereka mengemisi partikel dari
kecepatan tunggal. Dalam beberapa kasus, jumlah garis paralel/sejajar yang
terpisah satu sama lain (spektrum diskrit) diperoleh, yang menunjukkan bahwa
jumlah yang berbeda dari partikel kelompok mono-energetik diemisikan oleh
unsur ini. Tiap kelompok mempunyai kecepatan tertentu, kelompok yang berbeda
memberikan kecepatan yang berbeda.
Energi kinetik partikel yang diemisi dari unsur radioaktif alami biasanya
dalam rentang 4-10 MeV.
5. Energi peluruhan
Pada saat emisi , inti teremisi secara normal saat diam dan mempunyai
momentum nol. Sehingga total momentum dari produk akhir pada peluruhan
juga harus menjadi nol. Karena partikel diemisi dengan energi kinetik tertentu,
maka partikel- partikel juga harus mempunyai momentum tersendiri. Maka inti
atom sisa peluruhan harus mempunyai momentum balik yang sama dan
berlawanan arah dengan momentum . Sehingga inti yang tersisa harus
mempunyai jumlah energi kinetik tertentu. Karena inti ini biasanya lebih berat
daripada partikel , energi kinetik partikel ini harus lebih kecil dibandingkan yang
belakangan/akhir (ER = p2/2M1).
Peluruhan dari inti X yang bernomor massa A dan nomor atom Z dapat
ditulis:
A
Z

X ZA42Y 24He

Di sini Y adalah Inti atom sisa dengan nomor massa A-4 dan nomor atom Z-2.
Jika massa dari partikel dan inti sisa masing-masing M dan M1, serta v dan
v1 untuk kecepatan masing-masing partikel, dengan kekekalan momentum
diperoleh bahwa:
M v M 1v1

14

Jika Q adalah energi peluruhan , yang merupakan energi total yang


dilepaskan dalam proses peluruhan, kita dapat menulis:
2

Q 12 M v 12 M 1v1
2 2
2
1
1 M v
2 M v 2
M1

M
2
12 M v 1
M1

Energi kinetik dari partikel adalah E 12 M v . Kita lalu mendapatkan:


M1 M
M1
Karena massa dari inti dalam satuan massa atom dekat terhadap nomor
Q E

massanya, kita dapat menulis M1 A-4 dan M 4, sehingga,


Q E

A
...........................................................................
A 4

(5.1)
Karena E dapat diukur melalui eksperimen, Q dapat ditentukan dari
persamaan (5.1). Dengan jelas Q > E. Sebagai contoh, untuk

Po, energi

210

adalah E = 5,305 MeV yang memberikan Q = 5,408 MeV.


Pengukuran akurat dari energi peluruhan -adalah penting dari tinjauan
teoritis. Energi yang dilepaskan selama transformasi nuklir berasal dari massa inti
yang bertransformasi tersebut. Sebagian dari massa ini dikonversi menjadi energi
menurut prinsip ekivalensi massa-energi Einstein. Jumlah yang besar dari energi
yang dilepaskan dalam proses peluruhan- tersebut juga mempunyai asal yang
sama. Sebagian dari massa inti yang meluruh tersebut dikonversi menjadi energi
sebagai energi peluruhan-. Peluruhan- dimungkinkan ketika massa M dari inti
induk yang meluruh lebih besar daripada jumlah massa dari partikel- dan inti
produknya.
M M M1

Energi peluruhan diberikan oleh:


Q M M M 1 c 2 .............................................................. (5.2)

15

Hal ini mungkin menyatakan bahwa massa pada persamaan di atas adalah
massa atom dan bukan massa inti meskipun emisi bertindak sebagai hasil dari
transformasi inti. Hal ini memungkinkan karena massa elektronik dikeluarkan
pada persamaan di atas.
Massa atom dari isotop stabil dapat ditentukan secara tepat dengan
menggunakan alat ukur spektroskop. Metode ini tidak dapat diaplikasikan secara
umum pada kasus isotop radioaktif. Meskipun pada kasus emisi partikel , massa
atom dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan (5.2) dengan pengukuran
yang akurat pada energi peluruhan partikel .
6. Jangkauan partikel
Kita telah melihat bahwa partikel- partikel dari elemen perbandingan alami
terserap dengan mudah pada materi. Partikel-partikel tersebut dapat lolos
melalui kertas tipis atau foil yang sangat tipis dari mika atau aluminium, tetapi
tidak mampu untuk menembus beberapa lapisan tersebut. Sama halnya partikel
dapat berjalan ke jarak beberapa sentimeter dari sumbernya pada keadaan suhu
dan tekanan udara standar. Partikel tersebut lalu kehilangan energi kinetiknya.
Jadi partikel monoenergetik dari sumber tertentu dapat berjalan melalui jarak
maksimum tertentu dari sumber di dalam unsur tertentu. Jarak ini diketahui
sebagai jangkauan dari partikel . Diukur dengan satuan panjang, jangkauannya
sangat kecil dalam zat padat atau dalam cair (10-3mm untuk energi untuk
beberapa MeV). Karena kerapatan gas yang rendah, rentang partikel pada gas
relatif lebih panjang (beberapa cm). Dalam kasus gas, rentang tergantung pada
suhu dan tekanan gas. Dengan meningkatnya tekanan, rentang menurun,
sementara jangkauan menjadi meningkat dengan meningkatnya suhu.
Jangkauan dapat juga dinyatakan dalam satuan massa bahan yang dilalui.
Seperti yang ditunjukkan pada gambar 8 jika kita menggambar sebuah silinder
dari luasan irisan dan panjangnya sama dengan jangkauan R didalam bahan,
jumlah materi yang terkandung didalamnya adalah r, dimana adalah kerapatan
bahan. Jadi satuan dari jangkauan dalam kasus ini adalah massa per satuan luas

16

(kg/m2). Dinyatakan dalam satuan ini, jangkauannya mempunyai orde (tingkatan)


jarak yang sama didalam berbagai bahan yang berbeda, padat, cair atau gas.

R
Satuan Luas

Volume
Rx1 R

Gambar 8. Perhitungan massa persatuan luas dari sebuah foil

Jangkauan dari partikel tergantung pada kecepatan awal partikel atau energi
kinetik. Pengukuran akurat dari jangkauan partikel dari kecepatan yang berbeda
memberikan hubungan antara dua kuantitas: R = R(v)
Ada beberapa metode untuk pengukuran dari jangkauan dari partikel ,
beberapa diantaranya didiskusikan berikut ini:
(i) W.H. Bragg, di Inggris, adalah yang pertama menentukan jangkauan
dengan mengukur ionisasi yang dihasilkan mereka pada jarak yang berbeda dari
sumber sepanjang jalur mereka didalam medium. Rancangan eksperimennya
ditunjukkan pada gambar 9.
Partikel-partikel yang diemisikan oleh sumber S dikumpulkan menjadi
berkas sejajar oleh sebuah celah didalam pelat P. A dan B adalah dua buah kawatkasa (wire-gauzes) yang paralel dengan sebuah jarak yang sangat kecil diantara
mereka. Posisi kedua kawat-kasa ini dapat diubah tanpa mengubah jarak diantara
mereka.
A

Gambar 9. Metode Bragg untuk menentukan jangkauan partikel .

17

Berkas sejajar dari partikel-partikel memasuki daerah diantara A dan B.


seperti disebutkan diawal (3.1), sinar-sinar

dapat mengionisasi gas yang

mereka lalui. Selama perjalanan melalui suatu gas, sebuah partikel- menderita
tumbukan yang berulang-ulang dengan atom-atom gas. Pada setiap tumbukan,
sebuah fraksi kecil dari energinya ditransfer kepada atom-atom yang terionisasi
ini. Jadi, suatu jumlah yang sangat besar dari pasangan-pasangan ion dihasilkan
disepanjang lintasan partikel- tersebut. Karenanya, pasangan-pasangan ion yang
dihasilkan dintara A dan B tertarik menuju atom-atom ini karena beda potensial
yang diaplikasikan diantara mereka yang meningkatkan suatu arus ionisasi
diantara mereka. Arus ionisasi ini dapat diukur dengan bantuan dari sebuah
elektrometer. Beda potensial diantara A dan B begitu sesuai sehingga seluruh
pasangan-ion yang dihasilkan diantara mereka tertarik kepada mereka, dan dengan
demikian memproduksi suatu arus saturasi. Arus saturasi ini sudah tentu
sebanding dengan jumlah pasangan ion yang dihasilkan diantara A dan B.
Bragg memindahkan kawat-kawat kasa ke berbagai jarak yang berbeda dari
sumbernya dan mengukur arus-ion saturasi diantara mereka dan memplotnya
sebagai sebuah fungsi jarak rata-rata kawat-kawat kasa dari sumbernya. Sebuah
grafik yang demikian ditunjukkan dalam Gambar 4.10.
Dari gambar 10 ini dapat dilihat bahwa arus ion, yang merupakan ukuran
daya ionisasi dari partikel , meningkat dengan bertambahnya jarak perjalanannya
dari sumber. Peningkatan tersebut awalnya lambat, tetapi menjadi lebih cepat
kemudian. Setelah mencapai maksimum, arus ion dengan sangat cepat menurun
dan jatuh menjadi nol pada jarak tertentu dari sumber. Jarak ini diketahui sebagai
jangkauan dari partikel .
I
B

A
C
D
x

Gambar 10. Variasi arus ionisasi dengan jarak pada eksperimen Bragg.

18

Gambar 10 menunjukkan bahwa bagian jatuh/turun yang tajam dari grafik


arus ionisasi (BCD) yang menekuk/melengkung sedikit ke kanan (bagian CD)
sesaat sebelum arus menjadi nol. Bagian membungkuk muncul karena Jangkauan
yang terurai (straggling of range). Terurai sekitar 1% sampai 2% dari jangkauan.
Jika kita menarik garis singgung pada titik belok (inflection) dari bagian jatuh
tajam BCD dari grafik, maka garis ini memotong absis (sumbu x) yang
memberikan sesuatu yang disebut dengan jangkauan ekstrapolasi ionisasi (Ri).
Jumlah n/x dari pasangan-pasangan ion yang dihasilkan tiap satuan
panjang lintasan dari setiap partikel pada suatu gas pada kondisi satu tekanan
atmosfir dikenal sebagai ionisasi jenis (specific ionization). Disini n adalah
jumlah ikatan ion yang dihasilkan pada jarak x. Specific ionization tentunya
bergantung pada jarak yang dilalui oleh partikel dari sumber. Untuk partikel
RaC (E = 7,68 MeV), nilai maksimum dari specific ionization adalah sekitar 6000
pasangan ion tiap milimeternya.
Gambar 10 menunjukkan bahwa specific ionization meningkat seiring dengan
peningkatan jarak yang dilalui partikel dari sumber. Alasan untuk hal ini dapat
dengan mudah dimengerti. Seperti partikel bergerak jauh dari sumber,
kecepatannya menurun karena kehilangan energi oleh ionisasi dari atom gas.
Partikel yang lebih lambat menghabiskan waktu yang lebih lama mendekati
atom dalam gas. Jadi ada kemungkinan lebih besar dari interaksi mereka dengan
elektron dalam atom yang merupakan penyebab ionisasi dari atom. Untuk alasan
ini, maka ketika partikel mendekati akhir dari perjalanannya, specific ionization
bernilai maksimum.
(ii) Metode lainnya untuk menentukan jangkauan dari partikel adalah
mengambil fotografi dari lintasannya dalam ruang awan Wilson. Sebuah fotografi
ditunjukkan dalam gambar 11 yang menunjukkan jejak lintasan dari partikel
tunggal yang diemisi oleh sumber. Hal ini jelas dari gambar bahwa lintasan garis
lurus dari partikel adalah semuanya hampir sama panjang. Adanya sedikit
perbedaan antara panjang lintasan maing-masing disebabkan karena jangkauan

19

yang terurai (struggling of range) yang disebutkan di awal. Rata-rata dari panjang
lintasan memberikan jangkauan panjang dari partikel .
Gambar 11. Menunjukkan dua kelompok lintasan yang mempunyai panjang
tertentu. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa yang menjadi sumber pada kasus ini
merupakan campuran dari ThC dan ThC yang mengemisi partikel dengan dua
energi yang berbeda. Gambar tersebut secara jelas mengkonfirmasi pernyataan
bahwa jangkauan dari partikel adalah fungsi dari energi mereka atau kecepatan.

Gambar 11. Foto dari berkas partikel yang diperoleh dari ruang awan.

Ketebalan dari jejak lintasan partikel yang ditunjukkan pada foto ruang
awan merupakan suatu ukuran dari ionisasi jenis (specific ionization) yang
disebutkan diatas. Karena terdekat dengan akhir jalur partikel , maka jejak
lintasaanya adalah paling tebal dekat dengan akhir. Menipis kebawah pada akhir
jejak lintasan adalah karena penangkapan dan hilangnya elektron oleh partikel .
(iii)H.Geiger dan J.M. nuttall, dua rekan/kolega Rutherford menggunakan
metode yang berbeda untuk mengukur rentang partikel .
Rancangan eksperimen mereka ditunjukkan pada gambar 12. B adalah bola
lampu gelas bulat, pada pusat yang ditempatkan suatu sumber S dipasang pada
ujung batang logam. Bagian dalam permukaan bola lampu dilapisi perak tipis
sehingga beda potensial dapat diaplikasikan antara permukaan ini dan sumber.
B

Tekanan gas di dalam B dapat dikontrol seperti yang diinginkan.


C

20

Gambar 12. Metode Geiger dan Nuttall untuk menentukan jangkauan partikel .

Partikel yang diemisi dari S memproduksi pasangan ion melalui tumbukan


dengan atom gas seperti perjalanan partikel menuju C bagian dalam permukaan
dari bola lampu. Ion positif dan negatif tertarik oleh elektroda yang berlawanan,
sehingga arus ion yang diproduksi antara C dan S dapat diukur oleh elektrometer
E.
Variasi dari arus ion dengan tekanan gas dalam B ditunjukkan pada gambar
13. Hal ni menunjukkan bahwa pada tekanan lebih tinggi arus ion adalah konstan.
Ketika nilai kritis Pc , arus ion mulai berkurang. Pada tekanan ini jangkauan dari
partikel sama dengan radius dari bola lampu. Alasan untuk hal ini dapat
dimengerti dengan mudah.
U

P0

Gambar 13. Variasi arus ionisasi dengan tekanan gas pada


eksperimen Geiger dan Nuttall.

Pada tekanan gas yang lebih tinggi, ketika jangkauan jarak partikel lebih
kecil dibanding radius bola lampu, partikel menghasilkan pasangan ion dalam
jumlah maksimum yang memungkinkan partikel tersebut, melalui gas sisi
bagian dalam bola lampu. Meskipun tekanan gas berkurang, tidak terjadi
perubahan dengan jumlah ini, sehingga arus ion tetap konstan. Meskipun jika
tekanan gas berkurang sehingga jangkauan antar partikel menjadi lebih besar

21

dibandingkan radius bola lampu, kemudian partikel hanya menghabiskan sedikit


energi partikel dalam gas bagian sisi dalam bola lampu dan menghantam
permukaan dalam bola lampu dengan keseimbangan energi yang tetap partikel
miliki. Tentunya jumlah pasangan ion yang dihasilkan oleh partikel pada kasus
bagian dalam bola lampu lebih kecil dibandingkan nilai maksimum yang
memungkinkan. Sehingga arus ion berkurang dengan menurunnya tekanan pada
kasus ini. Pada tekanan kritis pc karena arus ion mulai berkurang, jangkauan
partikel menjadi sama dengan radius bola lampu yaitu a. Karena jangkauan
berbanding terbalik dengan tekanan gas

R l p , hal ini memungkinkan untuk

menentukan jangkauan pada keaadaan suhu dan tekanan standar, yakni saat
tekanan adalah ps :
R pc

a ps
Atau,
ap
R c
ps
Jangkauan standar dari partikel dianggap sama dengan jangkauan di udara

kering murni pada tekanan 76 cmhg dan suhu 150C.


(iv)Metode lain untuk pengukuran jangkauan partikel adalah menentukan
intensitas dari berkas sejajar dari partikel pada jarak yang berbeda terhadap
sumber. Hal ini tentunya tidak berubah terhadap jarak sampai akhir bagian
partikel . M.S Holloway dan M.G. Livingson menggunakan metode ini untuk
menentukan jangkauan sebenarnya partikel secara akurat dengan bantuan ruang
ionisasi yang rendah sebagai detektor partikel (1938). Lebih jelasnya lagi,
detektor kilatan digunakan untuk tujuan ini. Suatu jenis susunan eksperimen
ditunjukkan pada gambar 14 a. Berkas sinar sejajar partikel dari sumber tertentu
jatuh pada kelipan fosfor (misalnya ZnS) yang terletak pada tabung
photomultiplier yang mencatat arus sesaat untuk intensitas sinar .
Jarak antara sumber dengan detektor kelipan adalah secara bertahap
meningkat dan grafik dari intensitas - jarak diperoleh. Tampilan grafik
ditunjukkan pada gambar 14b,

grafik yang dikenal sebagai kurva integral

22

jangkauan (integral range curve). Untuk sinar monoenergetik dari partikel ,


intensitas jatuh secara mendadak ke nol pada jarak tertentu dari sumber, yang
disebut jangkauan dari partikel . Pada prakteknya, seperti ditunjukkan pada
gambar 14b, Penurunan intensitas I mengikuti garis lurus ABC yang meskipun
sangat curam mempunyai kemiringan yang terbatas. Jika semua partikel
mempunyai energi awal yang sama yang terjadi dari jumlah tumbukan yang
identik pada peredam, intensitas akan jatuh ke nol secara tiba-tiba pada jarak d
sama dengan jangkauan dari partikel . Bagian ABC dari grafik akan jatuh secara
vertikal kebawah. Kemiringan yang terbatas menunjukkan bahwa ada fluktuasi
statistik pada jumlah tumbukan yang diderita oleh partikel yang berbeda. Ekor
dari bagian bengkok (CD) adalah karena rentang yang terurai sebagaimana
disebutkan diatas.

Sumber

Photo
multiplier

Fosfor

(a)
Intensitas

A
B
Jangkauan
rata rata

(b)

D
Jangkauan Ekstrapolasi

Gambar 14. (a) Rancangan eksperimen untuk memperoleh kurva integral jangkauan.
(b) Variasi dari intensitas dengan jarak detektor dari sumber (kurva
integral jangkauan).

Ketika bagian linier ABC pada grafik diekstrapolasikan pada intensitas nol,
kita memperoleh jangkauan ektrapolasi (Rex) seperti yang ditunjukkan pada
gambar. Pada bentuk penanganan lain, jarak dari sumber dimana intensitas, adalah
setengah intensitas tertentu yang dikenal sebagai jangkauan rata- rata R yang
bernilai sekitar beberapa milimeter lebih pendek dari Rex. Jangkauan rata- rata
mempunyai suatu nilai sekitar 50% dari partikel pada sinar yang terbentuk yang

23

memiliki jangkauan lebih besar daripada R sementara 50% lainnya memiliki


rentang lebih kecil dari R.
Untuk energi tertentu dari partikel yang datang, jangkauan yang berbeda
yang dijelaskan di atas memiliki nilai yang berbeda secara jelas. Sebagai contoh,
untuk sinar- 210Po (E = 5, 3007 MeV), nilai-nilai yang diperoleh:
Jangkauan ionisasi yang terektrapolasi Ri = 3,870 cm; jangkauan yang
terektrapolasi Rex = 3,879 cm; jangkauan rata- rataanya R = 3,842 cm.
7. Hubungan jangkauan dan energi pada partikel
Dari pengukuran nilai jangkauan dan energi partikel , hubungan matematis
dua besaran (kuantitas) dapat ditetapkan:
3
2

R aE .................................................................................... (7.1)
Hubungan empirik ini valid pada jangkauan energi terbatas yang dikenal
sebagai Hukum Geiger.
Untuk E dalam MeV dan R dalam sentimeter, konstanta a = 0,315. Jika v
adalah kecepatan dalam cm/s lalu v E , kita dapat menulis:
R = bv3 ...................................................................................... (7.2)
Dimana b adalah konstanta lainnya: b = 9,416 x 10-28
Pada kasus padat, rentang Rs (dalam sentimeter) adalah berhubungan
terhadap jangkauan R dalam udara sebagai berikut:
1

0,312 RA 2
Rs

Dimana adalah kerapatan zat padat yang bernomor massa A.

Pada tabel berikut, terdaftar jangkauan rata-rata dari partikel di udara dari
suatu elemen/unsur radioaktif dan energi kinetiknya. Pada kolom akhir, diberikan
rasio R/E3/2, yang ditemukan kira-kira konstan untuk unsur yang berbeda,
menunjukkan perkiraan validitas dari Hukum Geiger. Sebenarnya hukum tersebut
memberikan hasil yang baik antara energi 3 sampai 7 MeV. Untuk energi yang
lebih tinggi atau lebih rendah, hubungan yang lebih sesuai masing-masing adalah
R v4 dan R v3/2
Tabel 1

24

Rata-rata rentang R
(sentimeter)
3,842
4,051
4,657
5,004
5,240
5,292
6,457
6,907
7,793
8,570
9,04
9,724
11,58

Energi E (MeV)

Isotop Radioaktif
210

Po
Rn
218
Po(RaA)
220
Rn(ThEm)
219
Rn(AcEm)
..
215
Fo(AcA)
214
Po(RaC)
..
212
Po(ThC)
214
Po(RaC)
212
Po(ThC)
..

5,3007
5,4861
5,9982
6,2823
6,542
6,807
7,383
7,6804
8,2271
8,7801
9,0649
9,4923
10,5432

222

0,315
0,315
0,317
0,318
0,313
0,320
0,322
0,324
0,327
0,329
0,331
3,333
0,338

8. Hukum Geiger-Nuttall
Geiger dan Nuttall (1911) menemukan hubungan empirik antara jangkauan
dari partikel dan konstanta peluruhan dari unsur aktif alami yang
mengemisinya. Hal ini dikenal sebagai Hukum Geiger-Nuttall yang dapat
dinyatakan sebagai:
Log = A + B log R ............................................................... (8.1)
A dan B adalah konstanta. Menurut hukum ini, partikel yang diemisi oleh
unsur yang mempunyai konstanta peluruhan yang lebih besar (contoh waktu paruh
yang lebih pendek) mempunyai jangkauan lebih panjang dan sebaliknya.
Persamaan 8.1 menunjukkan bahwa grafik dari log dan log R adalah garis
lurus dengan kemiringan B. Untuk deret radioaktif yang berbeda diperoleh garis
lurus yang berbeda, yang sejajar satu sama lain, sehingga B adalah sama untuk
semua (lihat gambar 15).
Dengan menggunakan persamaan 8.1, hal ini memungkinkan untuk
menentukan konstanta peluruhan dan waktu paruh dari suatu unsur radioaktif
jika jangkauan partikel 12teremisi diketahui secara akurat.ThC
Karena jangkauan8 R E3/2, hukum Geiger-Nuttall
dapat pula dituliskan
RaC'
sebagai:

AcC

Log = C0 + D log E

ThA
RaC

Dimana C dan D adalah


dua konstanta yang lain.
4
RaA
Rn
RaF

Log
8

Ra
12
16

Io
U

Th
20
0.4

AcX
RaTh

Po
AcU
0.6

0.8

Log R

1 .0

25

Gambar 15. Variasi log dengan log R.

Karena waktu paruh = ln2/, hukum Geiger- Nuttall juga dapat dinyatakan
melalui suatu hubungan variasi dari log dengan log R atau log E . Pada kasus ini
kita akan memperoleh grafik garis lurus, tetapi dengan slop (kemiringan) negatif.
18

14

U(z 92)

10

Log (s)

Cm(z 96)
Ra(z 88)

2
-2

P0 (z 84)

-6
4.0

5.0

6.0

7.0

8.0

9.0

E (MeV)

Gambar 16. Variasi log dengan E untuk beberapa isotop genap-genap dari nilai Z
yang berbeda. Skala energi adalah proporsional dengan 1 / E .

Hal ini mungkin menjadi catatan bahwa jangkauan partikel dari isotopisotop radioaktif yang berbeda merupakan bentukan dari beberapa sentimeter di
udara. Waktu paruh isotop-isotop tersebut pada kondisi lain meningkat dari
kurang dari satu juta detik mencapai satu milyar (10 9) tahun. Sebagai contoh,
waktu paroh ThC adalah 3x10-7 s, sementara itu bahwa dari
1,39x1010

232

Th sebesar

tahun. Jangkauan partikel yang teremisi oleh isotop radioaktif

masing-masing sebesar 8,57 cm dan 2,49 cm. Energi yang sesuai untuk masingmasing sebesar 8,78 MeV dan 3,97 MeV. Hal ini menunjukkan bahwa untuk

26

peningkatan energi partikel dengan faktor 2,24, waktu paroh menurun dengan
faktor 1024. Misalnya sebuah perubahan tertentu waktu paroh secara relatif terkait
karena perubahan kecil energi partikel dapat dijelaskan melalui teori mekanika
quantum pada penetrasi potensial penghalang.
Hal ini menjadi catatan bahwa hukum Geiger- Nuttall tidak memberikan
representasi yang sangat akurat pada variasi waktu paroh dengan energi partikel
. Gambar 16 menunjukkan suatu plot (log ) untuk energi pada isotop Z
genap- N genap (N = jumlah neutron) untuk unsur yang berbeda (Z yang
berbeda). Gambar tersebut menunjukkan suatu keterkaitan linier dari (log ) pada
E-1/2.
Plot yang sama pada kasus Z ganjil N ganjil, Z ganjil N genap atau Z genap
N ganjil menunjukkan perlambatan oleh faktor sekitar 100, dibandingkan pada
inti- inti genap pada peluang emisi partikel .
9. Teori peluruhan
Eksperimen-eksperimen hamburan

partikel yang telah didiskusikan

sebelumnya menunjukkan bahwa sebuah partikel , saat mendekati inti,


diperlakukan pada tegangan repulsif muatan Vc1/r sampai pada permukaan inti.
Anomali hamburan partikel yang teramati pada sudut yang lebih besar untuk
kasus pada atom- atom yang lebih ringan menunjukkan bahwa sifat dasar gaya
(tenaga) berbeda dari penolakan muatan untuk jarak yang sangat jauh dari
sesungguhnya. Pada saat ini pengetahuan kita mengenai struktur inti menjelaskan
kepada kita bahwa neutron dan proton yang membentuk inti dari sebuah atom
sangatlah kuat ikatannya antara satu sama lain yang memunculkan struktur ikatan
yang kuat, yang dikenal sebagai inti atom. Gaya interaksi ini bekerja sampai pada
jarak dengan orde 2 x 10-15 m. oleh karena itu secara jelas gaya inti yang mengikat
neutron dan proton secara bersama merupakan gaya yang kuat pada jangkauan
yang pendek. Peluruhan partikel dari inti- inti berat menunjukkan bahwa dalam
inti- inti tertentu, dua proton dan dua neutron kadang- kadang membentuk suatu
kelompok (gumpalan) yang dinamankan sebagai partikel . Selama partikel
berada dalam inti, hal ini pastinya diperlakukan pada jangkauan yang sangat

27

pendek secara spesifik untuk gaya interaksi inti. Meskipun sekali lagi bahwa hal
ini berlaku pada bagian luar dari inti, tolakan muatan karena inti yang berkurang
pada muatan positif (Z-2) berlaku pada kasus ini, dimana +Ze merupakan muatan
inti sesungguhnya. Oleh karena itu energi potensial partikel pada jarak yang
bervariasi dari pusat atom memiliki tampilan seperti yang ditunjukkan pada
gambar 17.
V

Coulomb barrier

Emisi partikel
E
V0

V0
D

Gambar 17. Coulomb barrier potensial untuk peluruhan .

Pada

bagian

luar

inti,

energi

potensial

muatan

coulomb

sebesar

Vc

2 z 2 e 2
merupakan bilangan positif dan diwakili oleh garis AEB, dimana
4 0 r

109
merupakan nilai permivitas vakum. Untuk nilai r > R, jari- jari inti,
36 MF

terjadi perubahan yang mendadak menjadi potensial tarikan (attractive potential)


yang diwakili oleh garis BCD. Sifat eksak dari potensial ini tidak diketahui. Sifat
dasar yang sebenarnya dari potensial ini tidak diketahui. Kita hanya mengetahui
bahwa ini merupakan potensial tarikan yang kuat untuk rentang yang sangat
sempit. Sehingga potensial ini pastinya memiliki kemiringan positif, karena
gayanya berupa gradien negatif dari energi potensial: F V / r . Sehingga
untuk suatu kemiringan positif, gayanya berupa tarikan (negatif). Juga kecuraman
kurva potensial menunjukkan bahwa potensial pasti sangat kuat.

28

Transisi dari potensial Coulomb repulsif menjadi potensial tarikan pada inti
menandakan bahwa pada permukaan inti r = R, potensial Coulomb memiliki nilai
paling besar. (titik B pada gambar 17).
Vs

2 z 2 e 2
4 0 R

Untuk kasus unsur

Rn yang terbentuk selama peluruhan partikel dari

222

Ra (Z= 88), nilai Vs menjadi 34 MeV. Energi peluruhan sinar Q = 4,88 MeV

226

pada kasus ini sangatlah jauh lebih rendah dibanding Vs. Energi ini adalah energi
partikel yang memiliki inti peluruhan. Mekanika klasik mensyaratkan bahwa
untuk melepaskan diri dari inti atau dari luar masuk ke inti, energi partikel -nya
setidaknya harus sama dengan Vs. Jika energinya lebih rendah, kemudian pada
berbagai daerah antara dua kurva AB dan BC, energi potensial partikel akan
menjadi lebih tinggi daripada energi total keseluruhan. Wilayah ini merupakan
wilayah terlarang secara klasikal, karena energi kinetik partikel akan menjadi
bernilai negatif pada wilayah ini. Sebagai suatu contoh, jika energi peluruhan
partikel Q ditunjukkan pada garis FE, kemudian tentunya Q<Vs, selama
partikel berada di dalam inti (misalnya dalam daerah OR), atau di titik- titik
pada sebelah kanan dari EH bagian luar dari pada inti, energi potensialnya lebih
kecil daripada energi keseluruhannya, sehingga energi kinetiknya bernilai positif.
Bagaimanapun pada daerah RH, yang dinamakan sebagai daerah penghalang/
rintangan potensial, energi total dari partikel lebih rendah daripada energi
potensialnya. Energi kinetiknya bernilai negatif, sehingga daerah ini secara
klasikal merupakan daerah terlarang. Sebuah partikel dalam kasus ini, bukan
hanya tidak dapat lepas tetapi juga tidak dapat masuk ke dalam inti.
Meskipun dengan mekanika kuantum, fenomena klasik seperti daerah
terlarang dapat terjadi. Pada mekanika kuantum, partikel digambarkan sebagai
sebuah gelombang, yang memenuhi persamaan gelombang Schrodinger. Kita
dapat menuliskan persamaan gelombang pada daerah yang berbeda dengan
mensubsitusikan potensial yang sesuai yang bertindak pada partikel pada daerah
ini. Jika persamaan ini dibantu dengan kondisi keterikatan yang sesuai, akan
ditemukan bahwa partikel pada awalnya berada dalam inti memiliki peluang

29

tertentu untuk keluar dari inti tersebut. George Gamow, R. W. Gurney dan E. U.
Condon untuk pertama kalinya memberikan suatu penjelasan yang baik terhadap
peluruhan pada cara ini (1928) dengan bantuan mekanika kuantum. Kita dapat
menggambarkan pelepasan partikel dari inti dimana partikel- partikel
menerobos melalui terowongan pada potensial penghalang. Oleh karena itu, efek
ini dinamakan efek terowongan mekanika kuantum. Teori ini menjelaskan
hubungan matematika antara energi awal partikel dengan waktu paroh dari
peluruhan partikel . Kita perhatikan pada sub bab 8, dimana Geiger dan Nattall
menemukan hubungan dasar yang empirik. Teori pelebaran penghalang
memberikan penjelasan untuk hal ini.

V0
E

Gambar 18. Pembatas potensial persegi panjang.

Meskipun penghalang potensial yang aktual pada kasus peluruhan partikel


memiliki bentuk yang kompleks, seperti yang ditunjukkan pada gambar 17,
sebuah teori sederhana dapat dikembangkan dengan menggantinya dengan
penghalang persegi seperti yang ditunjukkan gambar 18. Teori penetrasi
penghalang persegi satu dimensi telah diselesaikan sebelumnya. Kita dapat
membagi keseluruhan ruang satu dimensi tersebut menjadi 3 daerah, seperti yang
digambarkan berikut:
Daerah I,

x<0:

V=0

Daerah II,

0<x<a:

V = V0

Daerah III,

x>a:

V=0

Asumsikan 1, 2, 3 sebagai fungsi gelombang pada tiga daerah, kita dapat


menuliskan persamaan Schrodinger untuk tiga daerah sebagai berikut:

1 " 2 1 0
..................................................... (9.1a)

....................

30

2 " 2 2 0

....................

..................................................... (9.1b)

3 " 2 3 0

....................

..................................................... (9.1c)
Pada persamaan di atas kita menuliskan

"

untuk 2 / x 2 dan

menguraikannya:
2 2ME / 2 , 2 2M V0 E / 2 ...................................... (9.2)

V0 dan a merupakan tinggi dan lebar dari penghalang. Persamaan 9-1 dapat
diselesaikan dengan mudah. Solusinya adalah :
1 A exp(ix) B exp(ix) ...............................................

(9.3a)
2 D exp( x) F exp( x ) ............................................... (9.3b)
3 C exp(ix) ..................................................................... (9.3c)

Fungsi exp(ix) dan exp( ix) menjelaskan dua gelombang bidang yang
menjalar dari kanan dan kiri masing-masing sepanjang sumbu x. Gelombang
pertama 1 tentunya merupakan gelombang datang pada penghalang dari kiri (in)
sementara gelombang kedua merupakan gelombang pantul. Dalam 3, kita hanya
memiliki gelombang yang berjalan ke arah kanan (gelombang transmisi tr).
Perbandingan tr

in

merupakan ukuran peluang penetrasi

penghalang

(koefisien transmisi) yang dapat dihitung melalui penentuan amplitudo A dan C


dengan menyesuaikannya dengan solusi (pers. 9.3) pada batasan- batasan x = 0
dan x = a. Ketika hal ini diselesaikan, maka kita memperoleh koefisien transmisi:

16 E (V0 E )
exp(2 a ) ....................................................
2
V0

(9.4)
dengan pendekatan E << V0
Persamaan (9.3) dan (9.4) menunjukkan bahwa koefisien transmisi sangatlah
dipengaruhi oleh ketebalan penghalang a dan energi E dari partikel untuk
ketinggian penghalang tertentu V0, karena keduanya a dan E bernilai

31

eksponensial. Perubahan kecil

pada kedua-duanya mengubah nilai T dengan

faktor yang sangat besar, menunjukkan secara kualitatif terhadap alasan pada
variasi yang sangat besar terhadap peluang peluruhan partikel karena variasi
kecil dari energi .
Mari kita mengambil sebuah contoh yang numerik. Pertimbangkan kasus V0=
15 MeV, a = 2 x 10-14 m dan E = 5 MeV, jika M = M = 4 x 1,66 x 10-27 kg,

2M
V0 E
2
2x4x1.66x10-27

x10x1.6x10-13
-34 2
(1.05x10 )
1.927 x10 30

2 55.53

dan
dan

1.388x1015

exp( 2) 7.649 x10 25

T 16 x 5 x

10
x 7.649 x 10 25
15x15

2.72 x10 24
Perhitungan di atas menunjukkan bahwa partikel memiliki peluang sekitar 2,7
dalam 1024 kali tumbukan terhadap sumur penghalang untuk bisa menembus
penghalang tersebut.
Untuk menggunakan pertimbangan di atas pada persoalan peluruhan partikel
dari suatu inti, kita perhatikan bahwa partikel dengan kecepatan vin di dalam
inti yang berjari- jari R = 10-14m membutuhkan waktu t = 2R/ v in untuk melalui
satu inti ke inti lainnya. (perhatikan gambar 19).
V0

Gambar 19. Peluruhan melalui pembatas persegi panjang.

32

vin adalah kecepatan partikel di dalam inti, yang tentunya tidak sama
dengan kecepatan yang tak terbatas, meskipun partikel tersebut memiliki bentuk
atau jumlah yang sama :
vin 1.552 x10 7

7.76 x10 20 s 1
2R
2 x10 14
Sehingga peluang terlepasnya partikel setiap detiknya, yang sama nilainya
n

dengan konstanta peluruhan yaitu P = = nT. Penentuan nilai numerik dari


variabel n dan T yang dihitung berdasarkan persamaan di atas, kita memperoleh,
7.76 x10 20 x 2.72x10 -24 2.11x10 3

Sehingga waktu hidup rata- rata pada peluruhan adalah


m

1
103

474 s 7 menit 54 sekon


2.11

Jika ketebalan penghalang ditingkatkan sebanyak 20% (a = 2.4x10-14 m),


kemudian 2 = 66.63 hal ini memberikan nilai hidup rata-rata sebesar
m 3.13x10 7 sekon 0.993

Nilai ini sekitar 6.6 x 10m kali lebih besar dibandingkan kasus sebelumnya.
Pada perlakuan lain, jika energi partikel adalah 20% lebih kecil, kemudian kita
memperoleh m=9.018 sekon = 2 jam 30.3 menit yang berkisar 19 kali lebih besar.
Perhitungan ini mendekati dengan nilai yang sebenarnya dimana sinar
berubah baik pada ketebalan maupun penghalang maupun pada energi partikel,
membuat perubahan yang jauh berbeda pada nilai waktu hidup rata-rata m dan
juga pada konstanta peluruhan . Pada kasus bentuk penghalang yang lebih
relistik yang ditunjukkan pada gambar 17, perubahan pada energi partikel juga
mengubah ketebalan penghalang (RH pada gambar). Karena itu waktu rata-rata
hidup peluruhan partikel secara jelas diubah dengan perubahan yang kecil pada
energi partikel , sesuai dengan hukum Geiger- Nuttala.
10. Teori realistis lainnya dari peluruhan
Penghalang potensial persegi merupakan suatu suatu bentuk penghalang yang
ideal. Pada proses nyata peluruhan partikel dari suatu inti, penghalang potensial,
dimana partikel mengalami penetrasi, merupakan hal yang lebih kompleks dan

33

mempunyai bentuk pendekatan yang diperlihatkan pada gambar 17. Sebelum kita
memutuskan penetrasi penghalang potensial dalam kasus ini, terlebih dahulu kita
mempertimbangkan penyebaran penghalang dari suatu bentuk yang tidak tetap
yang ditunjukkan pada gambar 20.
Permasalahan ini paling baik diperlakukan dengan metode pendekatan secara
semi-klasikal (metode W.K.B.). Metode ini mampu diaplikasikan pada kasus
dimana potensial berubah dengan sangat lambat sehingga perubahan pada panjang
gelombang Broglie lebih kecil dibandingkan pada itu sendiri pada jarak
tertentu untuk bentuk panjang gelombang de Broglie. Peluang penyebaran
penghalang potensial dari bentuk tak tetap diberikan sebagai berikut:
T exp(G )

..........................................................................

(10.1)
2b

G 2 M V ( x) E dx ............................................
a

dimana
(10.2)

Dimana penghalang dari x = a sampai x = b


V(x)
I
EV

III
EV

II
EV

Gambar 20. Pembatas potensial dari bentuk yang berubah-ubah.

Penggantian x dengan r, akan menghantarkan kita pada kasus tertentu:


V V (r )

( Z 2e 2 )
2 0 r

Ze merupakan muatan inti induk yang mengalami peluruhan. Kemudian kita


memperoleh:

( Z 2) e 2

2
G 2M
E
r
2 0 r

1/ 2

dr

34

b
1
2 M ( Z 2e 2 )
2 p 0 E

............................... (10.3)

4 0
r ( z 2)e 2

r
Batasan integrasinya adalah dari r = R sampai r = b, titik dimana energi

muatan coulomb sama dengan energi partikel , sehingga


2( Z 2)e 2
E
4 0b

Yang memberikan

2 0 E
1

b ( Z 2)e 2

Oleh sebab itu kita memperoleh


1/ 2 b

2 M ( Z 2)e 2
G

2 M ( Z 2)e 2

1/ 2

R
cos

1 1
dr
r b

1/ 2

R R2

2
b b

1/ 2

R R2

2
b b

1/ 2

...... (10.4)

Biasanya b>> R sehingga R/b << 1. Pada kasus ini, bentuk (R/b-R2/b2)1/2
pada sisi sebelah kanan dari penjabaran di atas dapat diabaikan.
Juga untuk cos-1(R/b)1/2 /2. Sehingga kita peroleh
2 M ( Z 2)e 2b
G

1/ 2

M ( Z 2)e 2b

2
0

Jika v merupakan kecepatan , kita memperoleh


E

( Z 2) e 2
0bMv 2

M ( Z 2)e 2b

1/ 2

( Z 2)e 2
x
2
0 Mv

( Z 2) e 2 ( Z 2) e 2

0 v
0 v

1/ 2

................................................

(10.6)
Sehingga peluang penetrasi penghalang menjadi
( Z 2) e 2

0 v

T exp(G ) exp

Sebagai sebuah contoh, untuk E= 5 Mev, kita mendapatkan


v

............... (10.5)

1
( Z 2) e 2
Mv 2
2
2 0b

Yang memberikan b

dan

1/ 2

2E
1.55x10 7 m / s
M

35

Kemudian untuk Z-2 = 86, kita peroleh


G

86 x (1.6 x 10 -19 ) x 36
153
10 9 x 1.05 x 10 -34 x 1.55 x 10 7

Pada penyelesaian lain untuk E = 10 Mev, kita peroleh


v

2 x 1.55 x 10 7 2.19 x 10 7 m / s

G'

dan

153
108
2

Sehingga rasio peluang emisi pada dua kasus adalah


T10 exp(G ' )

exp(G G ' )
T5
exp(G )
exp(45) 3.49 x 109

Sehingga untuk suatu peningkatan energi dengan faktor 2 akan


meningkatkan peluang emisi dengan faktor sekitar 3.5 x 1019. Hal ini secara
kualitatif sesuai dengan hukum Geiger-Nuttall.
Meskipun pernyataan untuk peluang penetrasi penghalang yang diberikan
diatas menjelaskan secara kualitatif ketergantungan waktu paroh peluruhan
terhadap energi partikel , perhitungan kuantitatif tidak menghasilkan kembali
waktu paroh pada kasus nyata.
Seperti pada kondisi permasalahan penetrasi penghalang persegi yang
didiskusikan baru- baru ini, kita dapat menuliskan konstanta peluruhan sebagai
berikut:

Sehingga,

vin
exp(G )
2R

ln ln

vin
v
( z 2)e 2
G ln in
2R
2R
0 v

Dengan menggunakan persamaan 10.6


Karena keduanya vin dan R tidak berubah banyak pada pengemisi diantara
deretan radioaktivitas secara alami, v/2R mungkin dapat dijadikan konstanta yang
kita buat sama dengan A. Sehingga kita peroleh:
ln A

B ( z 2)
v

Dimana B e 2 / dengan 0 = konstanta

36

Persamaan 10-9 dapat dipandang sebagai sebuah bentuk teori dari aturan
Geiger-Nuttall, plot dari ln terhadap kebalikan dari kecepatan akan
memberikan satu garis lurus untuk Z tertentu. Hal ini tentunya akan ditemukan
pada kasus untuk nilai Z genap dan isotop A yang genap pula (perhatikan gambar
21.a). Alternatif lain, hasil ini dapat juga ditunjukkan dengan memplot log
terhadap energi peluruhan , seperti pada gambar 21.b dimana merupakan
waktu paruh. Dengan menggunakan persamaan (10.9), dengan mudah dapat
dilihat bahwa:
B'
E

log A'

Dimana A dan B merupakan tetapan dan E merupakan energi peluruhan ,


dengan mengasumsikan vin= v.
Grafik hasil yang ditunjukkan pada

gambar 21 a dan b

memberikan

konfimasi yang sangat detail terhadap teori- teori yang telah dibahas sebelumnya.
6
4
2
0
2
4
6
log
8
10
12
14
16
18

Polonium
Emanation
Curium
Plutonium

0.55
1/V

0.45

Log T1/2 tahun


0

0.65

0.75

(a )

232 U
238
Th

Thorium

Uranium

12

Radium

236

PU
242
230 234
Ra
226

240

Cm
232 238

Cr

Po
244 250
208
228 236242 248
210
Fm
230 240 246
Rn
252
222 224Bn
210
254
226
Po
244
212
218
220 222

216

218
214

12

212
4.0

5.0

6.0

T , MeV
(b)

7.0

8.0

9.0

37

Gambar 21. (a) Variasi dari log dengan 1/v untuk Z konstan.
(b) Variasi dari log T dengan energi peluruhan .
11. Modifikasi

dari

teori

sederhana;

faktor-faktor

penghalang

dan

pembentukan
Teori sederhana di atas membutuhkan modifikasi pada tiga perhitungan:
(i) Efek perubahan momentum sudut: hal ini diamati bahwa meskipun teori
yang telah didiskusikan di atas memberikan kesesuaian dengan hasil pengamatan
untuk inti genap-genap, ada perbedaan besar untuk genap-ganjil, ganjil-genap, dan
inti ganjil-ganjil. Sebagai contoh, pada kasus dari intil genap-ganjil, waktu paruh
dalam kebanyakan kasus adalah 100 sampai 1000 kali lebih besar daripada untuk
inti genap-genap dari Z yang sama dan energi yang sama. Tidak ada kasus dimana
waktu paruh lebih pendek dari pada hal tersebut untuk korespondensi nilai genapgenap. Perbandingan dari waktu paruh yang sebenarnya dengan prediksi untuk
nuklida genap-genap adalah dikenal sebagai faktor hambatan (hindrance faktor):
hindrance faktor

obs ee

ee obs

Pola untuk inti ganjil-genap dan inti ganjil-ganjil adalah sama. Faktor
hambatan rata-rata untuk yang terakhir mungkin lebih besar daripada
pembentuknya.
Dalam kasus kasus peluruhan sebuah inti genap-genap pada keadaan dasar
yang mengarah ke pembentukan inti genap-genap dalam keadaan dasar, partikel
yang terpancar tidak membawa momentum sudut orbital (I = 0), karena kedua
inti induk dan inti produk memiliki l = 0 dan kemurnian yang sama. Dalam kasuskasus di mana sebuah partikel-partikel yang diemisikan dengan l bukan nol,
partikel tersebut tunduk kepada tindakan dari potensi sentrifugal (V) di samping
potensial Coulomb Vl di mana

38

Vl

2 l (l 1)
2( z 2)e 2
,
V

........................................
c
2M r 2
4 0 r

(11.1)
Biasanya Vl << Vc

sehingga dapat dengan mudah diperiksa dengan

menghitung rasio = Vl << Vc untuk zat radioaktif yang secara alami Z terletak
pada kisaran 80-92. Dengan mengambil Z = 88 dan r l0-14 m kita dapatkan

Vl 2 0l (l 1)

0.0021 l (l 1)
Vc Me 2 r ( z 2)

Sehingga untuk nilai yang biasanya pada l (<10), << 1. Sehingga efek
potensial sentrifugal jauh lebih kecil. Untuk menghitung peluang peluruhan ,
kita harus menetapkan potensial total V = Vl + Vc pada persamaan 10.2 untuk
peluang penyebaran penghalang yaitu T sebesar:
2

1/ 2
T exp(G ) exp 2 M Vc Vl E dr

Sehingga
2( z 2) e 2

2
2 l (l 1)
G
2M

E
2

2M r
4 0 r

1/ 2

dr ...............

(11.2)
Kalkulasi numerik dengan menggunakan persamaan 11.2 menyebabkan nilai
faktor hambatan 0/1 = 1/0 juga ikut terpengaruh pada kasus Z = 88 dan E =
4,88 MeV untuk nilai yang berbeda pada l (lihat pada Theoritical Nuclear Physics
oleh Blatt dan Weisskopf).
l
0/1

0
1

1
1,43

2
2,7

3
7,3

4
27

5
141

6
909

Perhitungan ini menunjukkan bahwa konstanta peluruhan partikel dengan l


= 0, 1, 2,dan 3 adalah sama antara satu terhadap yang lainnya dengan
kemungkinan terdapat kesalahan secara teoritis untuk l = 0.
(ii) Efek potensial non-sferis: alasan yang paling penting untuk hambatan
peluruhan terletak pada sifat inti non sferis ketika mengalami peluruhan .
Seperti yang akan dibahas di Bab IX nukleon-nukleon di non-sferis, bergerak
dalam potensial non-sferis, yang dikenal sebagai potensial Nilsson. Dalam sebuah

39

potensial yang demikian bilangan kuantum K yang mewakili komponen


momentum anguler disepanjang sumbu simetri dari sebuah inti spheroidal
kebetulan adalah sebuah bilangan kuantum yang bagus untuk keadaan dasar
(ground state = keadaan stabil energi suatu sistem yang paling rendah) dan untuk
semua level rotasional. Dalam kasus ini peluruhan dengan tanpa rintangan berlaku
untuk K yang tak berubah. Untuk inti yang genap-genap, inilah yang selalu
berlaku.
Situasi ini berbeda untuk inti A ganjil. Beberapa inti tak berpasangan dapat
memiliki nilai K yang berbeda pada keadaan dasar untuk inti yang dihasilkan dan
inti induk. Namun, jika salah satu inti rendah terletak pada keadaan tereksitasi dari
inti hasil memiliki K yang sama untuk nukleon tidak berpasangan dimana inti
pada kondisi dasar dari inti induk, maka peluruhan pada kondisi ini akan terjadi
tanpa hambatan, dibandingkan dengan peluruhan pada kondisi dasar seperti inti
ganjil A.
Peluruhan dari

241

Am (Z = 95) merupakan sebuah contoh dari kasus ini.

Inti ganjil terakhir dalam inti menempati keadaan dasar (5/2 -). misalnya, K = 5/2
dan paritas ganjil untuk keadaan ini. Dalam inti hasil

237

Np, nukleon tanpa

pasangan terakhir menempati tingkat (5/2+) dalam keadaan dasar. Kedudukan


(5/2-) adalah sebuah keadaan tereksitasi dalam inti ini. Jadi peluruhan dari
keadaan dasar (5/2-) dari

241

Am ke keadaan dasar dari inti hasil

237

Np(5/2+)

sangatlah terusik. Transisi sebagian besar menempati untuk kondisi tereksitasi


(5/2-). Rasio dari dua peluang transisi adalah 85 ke 39.
(iii) Faktor pembentukan: Tentunya bahwa partikel bukanlah pengikut inti
yang permanen. Pada tiap keadaan nuklir yang diberikan, konfigurasi nukleon
adalah berubah secara kontinu. Beberapa konfigurasi akan mempunyai
kemungkinan lebih besar daripada yang lainnya. Jika i menjadi fungsi
gelombang untuk konfigurasi i lalu fungsi gelombang dari kedudukan nuklir
adalah

; p
i

merupakan peluang untuk konfigurasi i. Pada beberapa

konfigurasi lainnya, dua neutron dan dua proton akan bersatu untuk membentuk
suatu partikel untuk beberapa saat dan terdapat peluang kecil bahwa penyatuan
ini tentunya akan teremisi. Peluang emisi dari suatu partikel pada energi Ei dari

40

konfigurasi i dapat terbagi dalam dua bagian: i pi 0i dimana 0i merupakan


peluang dari emisi pada partikel pada energi Ei. pi dikenal sebagai faktor
0
pembentuk. i sama dengan untuk inti- inti genap. Kita telah mengetahui

bagaimana inti ini dapat teremisi. Pandangan pada hasil percobaan diperoleh jika
kita mengasumsikan pi =1, R = roA1/3 dengan ro = 1,57 fm dan suatu potensial inti
sumur pada kedalaman Vo tentunya menjadi E + Vo = 0,52 MeV. Nilai ini
ditentukan menjadi lebih tinggi dibandingkan yang diperkirakan dari elektron
berdasarkan percobaan ro 1,2 fm. Pandangan nilai yang diukur untuk dapat
diperoleh dengan mengasumsikan partikel bukanlah suatu partikel titik. Dengan
menuliskan R = R + roA1/3 dengan ro 1,2 fm, partikel ini ditentukan bahwa radius
partikel R= 2,2 fm memberikan pandangan antara nilai teori dan hasil
eksperimen pada dengan pi = 1. Untuk menurunkan pi , nilai R diasumsikan
bahwa akan menjadi tinggi.
12. Struktur halus dari spektrum sinar ; partikel dengan jangkauan
yang panjang
Kita telah membahas bahwa emisi partikel oleh unsur radioaktif yang
biasanya mono-energetik. Ini menunjukkan bahwa partikel- partikel tersebut
diemisi dari keadaan satu tingkatan energi tertentu dari inti induk menjadi produk
dengan keadaan energi tertentu.
Pada kasus dari beberapa inti, lebih dari satu kelompok partikel dengan
tingkatan energi masing-masing, ditemukan teremisi oleh unsur radioaktif yang
sama. Hal ini dapat terjadi karena transisi dari keadaan diskrit yang berbeda dari
inti induk menjadi keadaan diskrit yang berbeda dari inti produk. Kita dapat
menggolongkan transisi tersebut ke dalam dua kelas:
(a) Pada peristiwa transisi kedudukan dari keadaan eksitasi yang berbeda dari inti
induk AX menuju keadaan dasar dari inti hasil
pada gambar 22.

A
z

E' ' E'

A 4
z 2

A-4

Y seperti yang ditampilkan

41

Gambar 22. Asal-usul dari rentang panjang partikel .

Energi dari partikel- partikel (E, E, ....) memiliki energi yang lebih
tinggi daripada energi E dari kelompok partikel yang utama yang
dihasilkan oleh transisi dari keadaan dasar inti induk menuju keadaan inti
hasil. Semua ini dinamakan partikel pada rentang panjang (long- range

-particles). Intensitas partikel- partikel tersebut lebih kecil dibandingkan


dengan intensitas kelompok utama. Partikel tersebut terserap pada
peluruhan partikel dari isotop RaC, ThC dan lain sebagainya, yang
memiliki waktu hidup yang sangat pendek. Sebagai contoh, ThC ( =
3x10-7s) memancarkan kumpulan partikel seperti yang ditunjukkan pada
tabel 4.2.
Tabel 4.2
Energi (MeV)

Intensitas Relatif

8,947
9,673
10,744

106 (kelompok utama)


34
190

Tabel tersebut menunjukkan bahwa intensitas dari kelompok kedua dan


ketiga partikel lebih kecil dibandingkan terhadap kelompok utama energi
8,947 MeV. Energi pembentuk lebih tinggi dibandingkan energi dari
kelompok utama (asal).
Alasan dari kenyataan di atas dapat dipahami sebagai berikut.
Eksitasi inti induk biasanya kembali ke keadaan dasarnya melalui
pemancaran sinar pada energi yang berbeda, baik secara langsung maupun
secara berangsur- angsur, seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.22 dan
kemudian mengalami peluruhan partikel . Peluang dari transisi sinar yang
lebih tinggi dibandingkan daripada pancaran sinar dari kedudukan ini

42

secara langsung ke keadaan dasar pada inti produk (inti hasil). Waktu hidup
rata- rata dari suatu inti yang membangkitkan kedudukan transisi sinar
adalah 10-13/s, sementara waktu paroh peluruhan sinar dari inti adalah
bentuk dari 10-4 sampai 10-7s. Karena waktu paroh pancaran partikel dari
ThC adalah =10-7s perbandingan peluang dari pancaran partikel ke
partikel akan menjadi
: = : = 10-13: 10-7 = 1: 106
Secara kualitatif ini sesuai dengan perbandingan intensitas pada kelompok
utama dan yang lainnya yang teramati.
Tentunya tipe dari emisi dari keadaan inti tereksitasi dapat terjadi hanya
jika waktu paroh dari peluruhan partikel sangat pendek seperti hasil C pada
deretan radioaktif. Karena deretan- deretan ini memiliki waktu hidup lebih
pendek, maka energi partikel yang sesuai pasti tinggi berdasarkan pada
hukum Geiger- Nuttall. Karena itu, dalam kasus partikel memiliki rentang
yang panjang.
(b) Pada beberapa kasus emisi bertempat dari keadaan dasar dari inti induk AX
menjadi inti hasil

A-4

Y pada keadaan yang berbeda seperti yang ditunjukkan

pada gambar 23. Jika inti hasil dibentuk dari keadaan tereksitasi pada
transformasi, partikel ini memancarkan sinar untuk membentuk transisi ke
keadaan dasarnya.
A
z

E' ' E' E


A 4
z2

Gambar 23. Struktur yang halus dari spektrum partikel .

43

Peluang dari emisi kelompok sinar yang berbeda adalah sebanding dalam
peristiwa ini sehingga kelompok partikel memiliki intensitas yang sesuai
seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.3. Sinar- sinar menyebabkan
meningkatnya sesuatu yang dinamakan struktur halus dari spektrum sinar .
Kelompok sinar yang utama dalam kasus ini muncul karena transisi antara
kedudukan dasar dari inti induk, dan inti- inti hasil (produk) dan memiliki
energi yang paling tinggi. Sebagai contoh, kelompok sinar dari ThC (=60,5
menit) memiliki energi dan intensitas seperti yang ditampilkan pada tabel 4.3 .
Tabel 4.3
Energi (MeV)
6,200
6,160
5,872
5,782
5,708

Intensitas Relatif
27,2 (kelompok utama)
69,8
1,80
0,16
1,10

Pada kedua kasus yang telah dibahas di atas, teramati adanya keterkaitan
tertentu antara energi sinar dan sinar yang terkait. Kita dapat membahas
hal ini pada bab- bab berikutnya.
13. Energi-hilang pada partikel dengan muatan berat pada suatu materi
Kita telah membahas bahwa partikel dari unsur radioaktif secara alami yang
menghasilkan ionisasi yang kuat dalam materi. Karena itu partikel tersebut hanya
dapat berjalan/berproses pada jarak yang sangat pendek dalam materi, karena
cepat kehilangan energi oleh ionisasi. Ini merupakan karakteristik dari semua
partikel bermuatan berat energetik, contoh proton, deutron, ion 3H dan 3He pada
tambahan ke partikel . Jadi dalam bagian ini kita harus menyelidiki teori
kehilangan-energi oleh partikel bermuatan berat dalam materi. Teori ini pertama
kali dikerjakan oleh Niels Bohr, yang kemudian dikembangkan oleh Hans Bethe,
Felix Bloch dan yang lainnya melalui aplikasi mekanika kuantum.
Ketika sebuah partikel bermuatan berat bergerak melalui materi, ada interaksi
elektrostatik sesaat antara partikel dan elektron dalam atom dengan yang berlalu.
Akibatnya, setiap elektron memperoleh beberapa momentum dan energi kinetik.
Dengan menghitung jumlah total energi yang diperoleh oleh semua elektron di

44

sekitar jalur perjalanan ion melalui medium, adalah mungkin untuk menghitung
laju energi yang hilang oleh ion.
Misalkan sebuah ion berat dengan muatan Ze, massa M dan kecepatan v
berjalan sepanjang garis lurus X X seperti ditunjukkan pada Gambar. 4.24.
Misalkan m dan -e menjadi massa diam dan muatan elektron. Kita mengambil
M>>m.
Misalkan ion melintas melalui sebuah elektron Q yang terikat dalam sebuah
atom dan O berada pada kaki pada garis tegak lurus digambar di jalur perjalanan
ion dari titik Q. Kemudian QO = b adalah parameter dampak (impact). Misalkan
O diambil sebagai asal sistem koordinat dan R posisi ion pada waktu t sesaat.
Kemudian jarak ion dari elektron pada waktu t sesaat adalah
QR r

x2 b2

r
b

X'

Ze
M

X
R

Gambar 24. Jalur dari partikel bermuatan berat melewati elektron dengan
parameter dampak b.

Kita dapat membuat asumsi sebagai berikut:


(a) Kecepatan elektron pada orbit atom ve < < v, kecepatan ion. Jika Ee dan Ei
adalah energi dari elektron dan ion, kondisi di atas menjelaskan kepada
kita bahwa
Ei
E
EM
e atau Ei e
M
m
m
Sebagai contoh jika mediumnya adalah gas nitrogen, kemudian energi dari
elektron K adalah sekitar 400 ev. Jadi untuk proton (M / m = 1836),
kondisi di atas mensyaratkan bahwa energi minimum ion harus lebih besar
daripada 1 MeV.
(b) Tumbukan antara ion dan elektron dapat diperlakukan secara klasik. Jika pi
adalah momentum ion, maka kondisi di atas mengharuskan pi x b
dimana h / 2 , h adalah konstanta Planck. Ini berarti bahwa
momentum ion dan parameter dampak (impact) keduanya harus besar. Jika

45

kondisi di atas tidak berlaku, sehingga pi x b , maka efek dari prinsip


ketidakpastian akan datang memainkan perannya, sehingga tumbukan
harus diperlakukan secara quanturn mekanis.
(c) Energi ikat (binding energies) dari elektron dalam orbit atom lebih kecil
dibandingkan dengan energi ion yang datang, sehingga elektron dapat
dipandang bebas.
(d) Kehilangan energi oleh ion pada setiap tumbukan sangat kecil
dibandingkan dengan energi datang, sehingga kecepatannya v dapat
dianggap konstan.
Dari gambar 4.24 kita melihat bahwa pada t kejadian, gaya elektrostatik yang
bekerja pada elektron atomik di Q sebesar
ze 2
4 0 r 2
Komponen x pada gaya ini adalah
F

Fx F cos F cos

Dimana adalah sudut yang dibentuk oleh QR dengan sumbu x dan =-


Jika kita mempertimbangkan dua titik pada garis XOX yang berjarak sama
dari O di kedua sisi, maka komponen x gaya yang bekerja pada elektron pada dua
kedudukan dari ion yang sama dan berlawanan, akan menghilangkan satu sama
lainnya. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa karena kecepatan yang tinggi
dari ion, gaya pada elektron oleh ion pada kedua kedudukan bertindak pada waktu
yang hampir bersamaan. Jadi jika kita mengambil pasangan yang berbeda tersebut
dari ujung yang sama jaraknya dari O pada sumbu-x, maka komponen gaya pada
elektron karena ion untuk setiap pasangan tersebut saling meniadakan, sehingga
total komponen gaya pada elektron menjadi nol. Oleh karena itu kita harus
mempertimbangkan hanya komponen tegak lurus gaya ke sumbu-x (Fs).
Dari gambar 24 kita peroleh :
ze 2
Fs F sin F sin
sin
4 0 r 2
Momentum yang diperoleh oleh elektron karena gaya yang bekerja selama
ze 2 dx
sin
waktu dt = dx/v adalah Fs dt
4 0 r 2 v

46

Karena x = b/tan = -b/tan, dx = b d/sin2, juga karena r = b/sin, kita


peroleh:
Fs dt

ze 2 sin d
4 0bv

..............................................................

(13.1)
Persamaan (13.1) ketika diintegrasikan dari = 0 ke = memberikan
momentum yang diperoleh oleh elektron tertentu ke bagian ion :

q
0

ze 2
ze 2
sin d
...............................................
4 0bv
2 0bv

(13.2)
Pertimbangkan dua silinder koaksial dengan radius masing- masing b dan
(b+db) dan panjang kedua silinder tersebut x (gambar 25). Setiap elektron
dengan daerah batasan antara dua silinder memiliki jumlah momentum q dan
energi yang diberikan oleh:

q2
z 2e 4

...........................................................
2m 8 2 0 2 mb 2 v 2
(13.3)
Karena volume dari batasan daerah panjang silinder antara dua silinder
koaksial adalah 2bdbx, jumlah elektron dalam volume ini adalah dn=
2nbdb.x. Sehingga energi yang diperoleh oleh seluruh elektron pada ketebalan
x dari medium akan menjadi:

E .dn 2nx

z 2 e 4bdb
2
8 2 0 mv 2b 2

z 2 e 4 nx

2
4 0 mv 2

bmax

0 min

db
b

bmax
z 2 e 4 nx
ln
2
4 0 mv 2 bmin

db
b

................................................ (13-4)

47

Gambar 25. Elektron di dalam cincin antara dua silinder


koaksial dari radius b dan b+db.

Ini juga merupakan jumlah energi hilang oleh partikel yang datang

pada

ketebalan x dari unsur. Jika N merupakan jumlah atom per satuan volume dan Z
adalah nomor atom medium, kemudian n = NZ. Maka laju energi yang hilang per
satuan ketebalan dari unsur adalah

b
dE
z 2e 4

NZ ln max .............................................. (132


2
dx 4 0 mv
bmin
5)
Laju energi yang hilang dikenal sebagai sebagai energi hilang jenis (specific
energy loss) atau daya penghenti (stopping power) dari medium S(E). Untuk
menentukan S(E) dari persamaan 13-5. Penting untuk diketahui bmin dan bmax,
(i) Pertama kali mari kita tentukan bmax : jika kita menentukan waktu tumbukan
b/v, kemudian karena kecepatan elektron lebih kecil dibandingkan pada
kecepatan ion, kita menuliskan
-

b
2
Te
v
e

Dimana Te = 2/, merupakan periode waktu revolusi dari elektron dalam


lintasannya, e merupakan kecepatan sudut. Nilai maksimum dari b sesuai
dengan kondisi
b max
1

v
e

atau

bmax

v
v
v

............................................................
e e
I

(13-

6)
Dimana I= e merupakan energi ionisasi elektron dalam atom- atom
sederhana.
Jika kecepatan ion- ion sangat tinggi, efek relativistik harus dimasukkan dalam
perhitungan, sehingga medan muatan Coulomb dari ion terkompresi dalam
arah kecepatan dari ion. Sebagai hasilnya, komponen tegak lurus dari medan

48

meningkat dengan faktor = (1-2)-1/2. Durasi impuls yang lebih pendek


diberikan pada elektron, sehingga kita dapatkan

b
1 2
v

1/ 2

................................................................ (13-7)

Atau
bmax

e 1
(ii) Kita tentukan bmin :

v
I 1 2

............................................... (13-8)

Pertama kali kita menaksir bmin dengan metode yang bersifat klasik. Dalam
hal ini, kita menentukan kecepatan maksimum yang dipindahkan ke elektron
dalam tumbukan ion-elektron.
Misalkan ion dengan massa M dan kecepatan v bertumbukan secara elastis
dengan elektron dengan massa m yang diam. Setelah tumbukan, elektron dan
ion berpindah pada arah yang membentuk sudut dan masing-masing
Arah tumbukan dengan kecepatan ve dan vi seperti yang ditunjukkan pada
gambar 26. Kita mempertimbangkan tumbukan secara klasikal.
Ve

m
M

Vi

Gambar 26. Tumbukan elastis ion-elektron menurut mekanika klasik.

Dengan menerapkan hukum kekekalan energi dan momentum, kita


memperoleh
1
1
1
2
2
Mv 2 Mvi Mve ................................................... (13.9)
2
2
2
Mv Mvi cos mve cos ............................................... (13.10)

0 Mvi sin mve sin .................................................. (13.11)

Dari persamaan (13.10) dan persamaan (13.11) kita peroleh dengan


mengkuadratkan dan menjumlahkan:

M 2vi Mv mve cos mve sin


2
M 2 v 2 m 2ve 2Mmvve cos
2

49

m
m
2
ve 2
vve cos ................................. (13.12)
M
M

vi v 2

Kemudian dari persamaan (13.9) kita peroleh


m 2
ve ............................................................ (13.13)
M

vi v 2

Bandingkan persamaan (13.12) dengan persamaan (13.13), kita dapatkan:


2

m 2
m
m
2
2
v
ve v
ve 2
vve cos
M
M
M
m

ve 1 2v cos
M

Atau

ve

2 Mv cos
.................................................................. (13-14)
mM

Kecepatan maksimum elektron yang sesuai pada = 0


ve vmax

2 Mv
........................................................... (13.15)
mM

Saat M > > m, kita peroleh


vmax 2v .......................................................................... (13.16)

Selanjutnya besar energi yang dipindahkan pada elektron pada suatu tumbukan
untuk parameter tertentu b seperti yang diberikan pada persamaan 13.3 adalah:

z 2e4
2
8 2 0 mb 2 v 2

Untuk kecepatan maksimum yang dipindahkan, hal ini harusnya sama pada

1
m(2v) 2 2mv 2 .......................................................
2

(13.17)
Persamaan ini memberikan:
ze 2
(bmin ) cl
.............................................................
4 0 mv 2

(13.18)
Persamaan ini bersifat non relativistik. Dengan koreksi relativistik, persamaan ini
menjadi
(bmin ) cl

ze 2 1 2
...................................................... (13.18a)
4 0 mv 2

50

Kita memperkirakan bmin dengan pertimbangan mekanika kuantum. Jika


asumsi (b) yang dibentuk pada permulaan dari tahap ini, kemudian kita dapat
menetapkan bahwa b harusnya lebih besar dibandingkan pada panjang gelombang
de Broglie = h/q dari elektron dimana q adalah momentum yang diperoleh
sebelumnya karena mendapatkan dampak (impact).
Sekarang dengan kerangka acuan di mana ion yang datang berada dalam
keadaan diam, kecepatan elektron sama dengan v, Dimana = h/mv, sehingga
diperoleh
(bmin ) qm

........................................................... (13-19)
mv

Dengan adanya faktor koreksi yang relatif, persamaannya menjadi


(bmin ) qm

1 2
..................................................... (13-19a)
mv

Perbandingan antara persamaan 13-19 dengan 13-18 menghasilkan


(bmin ) qm
(bmin ) cl

4 0 mv 2 4 0 c v
x

mv
ze 2
ze 2 c

2
Dimana e / 4 o c 1 / 137 merupakan konstanta dengan bentukan tertentu.

Untuk = 0,1 (merupakan kasus pada proton dengan energi 10 MeV), kita
dapatkan perbandingan sebagai 13,7/z. untuk ion dengan yang tidak terlalu berat,
misalnya p, d, dan seterusnya, kita harus menggunakan (bmin)qm sebagai batas
terendah pada integral (13.4)
Kemudian kita dapatkan, dengan menggunakan persamaan 13.8 dan 13.19a
bmax
v
mv
mv 2

................................ (13.20)
bmin
1 2 1 2
I 1 2

Kemudian dari persamaan 13-5 kita peroleh daya pemberhenti sebagai berikut
S (E)

dE
z 2 e 4 NZ
mv

ln
................................. (13.21)
dx 4 0 mv 2
I 1 2

Pada kecepatan yang lebih rendah, bentuk (1-2) pada persamaan di atas
dapat dihilangkan dan selanjutnya dapat kita peroleh persamaan berikut

S (E)

dE
z 2e 4 NZ
mv 2

ln
.................................. (13.22)
dx 4 0 2 mv 2
I

51

Persamaan 13.22 dikenal sebagai persamaan Bohr untuk ionisasi tertentu.


Selanjutnya Bethe mengaplikasikan pertimbangan mekanika kuantum untuk
memperoleh tampilan S(E) untuk partikel yang bermuatan berat :

S (E)

dE z 2 e 4 NZ 2mv 2
ln
2 .........................
2
2
2
dx 4 0 mv I (1 )

(13.23)
Seperti dinyatakan sebelumnya, I merupakan potensial ionisasi rata- rata pada
elektron dalam medium penyerapan. Suatu pendekataan untuk I yang diajukan
oleh F.Bloch yang menggunakan model distribusi elektron Fermi Thomas pada
atom diberikan sebagai berikut
I = kZ ............................................................................. (13-24)
Dimana k = 11 eV dan Z merupakan nomor atom dari suatu atom dalam medium.
Pada atom- atom yang sangat berat dan sangat ringan, terdapat ketergantungan k
pada Z.
Karena S(E) z2, partikel dengan muatan yang besar/tinggi, laju kehilangan
energinya juga lebih besar. Sebagai contoh, partikel dari muatan 2e kehilangan
energi empat kali per satuan panjang daripada muatan proton atau deutron yang
memiliki kecepatan yang sama.
Selanjutnya pada persamaan (13.22) menunjukkan bahwa S(E) sebanding
dengan Z secara linier, yang merupakan nomor atom medium. Oleh karena itu,
variasi penyerapan dari S(E) dengan Z menjadi lebih rendah, karena kehadiran I
pada persamaan bentuk logaritma, I seimbang terhadap Z (perhatikan persamaan
13.24). Persamaan ini menjadikan

S (E)

sesuai dengan pengamatan.

Karena S(E) 1/v2, terjadi penurunan secara teratur dengan peningkatan


kecepatan (yaitu dengan meningkatnya energi) pada energi yang paling rendah,
seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.27 pada bagian BC. Setelah mencapai
titik minimum pada E = 2mc2, S(E) meningkat secara perlahan pada kecepatan
yang tinggi karena bentuk logaritmik (bagian CD).
Pada energi yang lebih besar, efek polarisasi medium oleh medan dari partikel
yang terlewatkan harusnya dimasukkan ke dalam perhitungan untuk menghitung
daya penghenti. Gaya dari setiap elektron dipengaruhi oleh gaya simultan dari
elektron- elektron lainnya yang berada di dekatnya. Elektron- elektron tersebut

52

pada daerah tertentu berpindah dengan cara tertentu dimana medan listrik di luar
daerah tersebut berkurang. Efek screening meningkat dengan bertambahnya berat
jenis elektron. Perubahan S(E) karena efek ini sangatlah kecil.
B

S(E)

D
C
E

Gambar 27. Variasi dari kerugian ionisasi dengan energi.

Pada energi yang sangat rendah, grafik S(E) terhadap E menunjukkan suatu
titik maksimum pada titik B seperti yang terlihat pada gambar. Pada kecepatan
yang tetap rendah, terdapat penurunan S(E) dengan menurunnya kecepatan
(bagian BA pada grafik) yang bukan merupakan prediksi pada persamaan 13-22.
Penurunan ini tentunya dikarenakan penangkapan elektron dengan mendatangkan
ion yang mengurangi daya ionisasi elektron. Sebagai contoh, suatu partikel (H+
+

) dapat berubah menjadi He+ karena penangkapan sebuah elektron, yang

kemudian dapat menangkap elektron lain dan menjadikan sebuah atom helium
yang netral. Atom- atom tersebut dapat melepaskan elektron dan menjadi He + dan
He++.
Proses kehilangan energi telah dibahas sebelumnya yang dikenal sebagai
kehilangan ionisasi (ionization loss) atau kehilangan tumbukan (collision loss).
Jika merupakan energi hilang rata- rata setiap tumbukan dan n(E) adalah jumlah
pasangan ion yang dihasilkan per satuan panjang lintasan medium, sehingga dapat
kita tuliskan:
S (E)

dE
n( E ) ........................................................ (13.25)
dx

merupakan variabel bebas dari kecepatan partikel. Persamaan ini bergantung


pada sifat medium. Dapat dicatat bahwa partikel yang datang tidak hanya
mengionisasi atom dalam medium, tetapi juga mengeksitasi mereka dalam
beberapa tumbukan. Selanjutnya elektron yang dibebaskan dalam tumbukan

53

pengion memiliki energi kinetik. Ionisasi juga dapat berlangsung dari orbit atom
yang berbeda. Untuk semua alasan tersebut, biasanya jauh lebih tinggi daripada
potensial ionisasi pertama dari atom medium. Di udara memiliki nilai sekitar 35
eV.
14.

Perhitungan teoritis dari jangkauan partikel bermuatan berat


Kita telah melihat bahwa partikel dengan energi awal yang sama berjalan

melewati jarak yang sama dalam materi, yang dikenal sebagai jangkauan partikel.
Hal ini juga berlaku untuk partikel bermuatan berat lainnya, seperti deutron dan
proton.
Persamaan (13.22) dapat digunakan untuk menentukan jangkauan ion dalam
medium.
R

R dx
0

E0

E0 dE
dE

C
dE / dx
S (E)

Dimana E0 merupakan energi partikel. Ketika partikel berada pada akhir


perjalanannya, misalnya pada x = R, E = 0. Karena E = Mv2/2, dE = Mv dv,
sehingga kita dapatkan:
dE
dv z 2
S (E)
Mv

f (v )
dx
dx v 2
Dari persamaan (13.22). Dimana f(v) merupakan fungsi variasi kecepatan v. jika

kita mengambil nilai rata- rata dari f(v), kemudian dapat dituliskan

E0

v0
v 2 dE
1

Mv 3dv
2
2

0
z f (v ) z f (v )

M
v0
2
z f (v ) 4

.........................................................

(14.1)

Sebagai contoh dari penerapan persamaan (14.1), perbandingan rentang pada


partikel , detron dan proton pada kecepatan yang sama, menjadi:
M
2
z

R : Rd : R p

M
2
z

M
2
z

1: 2 :1

:
d

Jika kita menganggap massa partikel M sama dengan nomor massa partikelpartikel tersebut. Tentunya perbandingan energi dari partikel tersebut untuk v0
yang sama
E : Ed : E p 4 : 2 : 1

54

Sebagaimana dinyatakan di atas, secara teoritis hubungan jangkauankecepatan tidak berlaku di semua daerah energi. Hubungan empiris yang
didasarkan pada nilai-nilai jangkauan terukur untuk partikel berbeda di daerah
energi yang diperluas telah diusulkan oleh para ahli.
Kehilangan/rugi energi jenis (specific energy loss) formulasi (13.22) berlaku
ketika kecepatan partikel yang lebih besar dari 2vo mana vo = 2,2 x 106 m / s
adalah kecepatan elektron dalam orbit Bohr. Batasan ini sesuai dengan 0,1 Mz2
MeV sebesar 100 keV untuk proton dan 1,6 MeV untuk partikel-. Karena
perubahan yang terus-menerus dari muatan partikel oleh proses penangkapan dan
kerugian yang disebutkan di atas, kita harus menggunakan muatan efektif
(z*) untuk partikel berenergi rendah di tempat z yang telah diperkirakan oleh Bohr
dan besarnya diberikan oleh:
1

v
v0
dimana kecepatan partikel adalah v
z* z 3

Sebagaimana dinyatakan di atas, untuk v >> 2zv0, z*= z. Secara umum, daya
penghenti pada persamaan (13.22) dimodifikasi dengan mengganti z2 dengan
<z2> yang merupakan kuadrat muatan rata-rata partikel diberikan oleh <z2> = az2
di mana a adalah sebuah konstanta yang bergantung pada kecepatan ion.
Pernyataan Semi-empiris untuk a yang telah diusulkan dapat memberikan
penjelasan yang memuaskan tentang perilaku dari daya penghenti pada energi
yang rendah. Pada kecepatan yang sangat rendah (E <10 keV per nukleon)
elektron yang ditangkap oleh ion hampir selesai, sehingga tumbukan yang terjadi
adalah antara ion yang dinetralkan dengan orbital elektron dalam atom medium.
Tumbukan ini sebahagian besar adalah elastik dalam kerangka pusat massa. Ada
juga beberapa kontribusi dari kehilangan energi akibat hamburan Rutherford dari
inti pada energi rendah yang menjadi penting bagi ion berat.
15. Jangkauan yang terurai (straggling of range)
Kita telah melihat bahwa meskipun partikel dengan energi awal sama
mempunyai lebih atau kurang jangkauan yang sama pada materi, ada penyebaran
kecil nilai disekitar jangkauan rata-rata, yang diketahui sebagai jangkauan yang
terurai (straggling of range). Gambar 11 menunjukkan foto ruang awan dari jalur

55

partikel dengan jelas menunjukkan bukti penguraian, perbedaan jalur pada


kelompok yang sama mempunyai sedikit perbedaan panjang. Jika jangkauan
dari semua partikel dari energi yang sama mempunyai jangkauan yang sama,
versus intensitas jarak pada gambar 14 akan turun secara tiba-tiba ke nol pada x
= R. Perilaku yang sama dari kurva kerapatan ionisasi versus jarak pada gambar
10 juga akan sama. Tingkat kemiringan dari kurva yang dekat dengan ujung/akhir
adalah karena efek penguraian.
Jangkauan yang terurai dari partikel muatan berat terjadi terutama karena dua
alasan: (i) pertama ada fluktuasi statistik pada jumlah tumbukan yang diderita
oleh partikel yang berbeda tentang nilai rata-rata pada perjalanan melalui jarak
tertentu. Jadi partikel yang berbeda akan bergerak melalui jarak yang berbeda
dalam rangka untuk menurunkan seluruh energi awal mereka; (ii) kedua energi
yang hilang tiap tumbukan juga mempunyai fluktuasi statistik tentang nilai ratarata.
Faktor penentu lainnya untuk mengurai termasuk multi penyebaran dari
partikel selama tumbukan (yang adalah syarat penting pada produksi mengurai
jangkauan dari partikel ), kerapatan yang tidak homogen dari medium
penyerapan dan penangkapan dan hilangnya elektron oleh partikel bergerak.
Jika kita asumsikan distribusi normal untuk jangkauan yang terurai, lalu
jumlah partikel dengan jangkauan antara x dan x + dx adalah diberikan oleh:
dn

n0
2
exp ( x R ) 2 / 2 R dx .......................... (15.1)
R 2

Dimana 2R2 disebut parameter terurai dan <R> adalah jangkauan rata-rata,
R adalah standar deviasi pada rentang yang diberikan oleh:
2

R R 2 R 2

z 2 e 4 NZ
2
4 0

dE

dx

dE ............................................... (15.2)

56

yang memberikan

R m 1
2 2
R M ln(2mv / I)

..................................... (15.3)

Untuk partikel 5 MeV, kita mendapatkan R/<R> 0,95% sementara untuk


proton yang mempunyai kecepatan sama (E = 1,25 MeV), R/<R> 1,9% di
dalam udara.
Penggabungan dari persamaan (15.1) memberikan kurva jumlah- jarak dari
gambar 14. Pada x = <R>, faktor eksponensial adalah satu kesatuan sehingga
kemiringan dari kurva jumlah-jarak pada titik ini adalah:
1 dn

n0 dx

R 2

........................................................ (15.4)

x = <R>, adalah titik balik, seperti yang terlihat dengan mendiferensialkan


persamaan (15.1). Dari sifat distribusi normal, hal ini diketahui bahwa jumlah
partikel dengan jangkauan kurang atau lebih dari kisaran rata-rata <R> adalah
masing-masing setengah dari jumlah total. Hal ini diilustrasikan pada gambar 28,
grafik yang menunjukkan bagian akhir a dari jumlah versus jarak dari gambar
14. Juga ditunjukkan pada gambar yang sama adalah differensial dari grafik di
atas b, yang mempunyai bentuk Gaussian (normal). Setengah dari lebar kurva
differensial jangkauan pada (1/e)th dari maksimunya adalah R/2.
c

b
C

Rex

Gambar 28. Jangkauan yang terurai.

57

Simetri dari grafik tersebut berada pada titik x = <R> menunjukkan bahwa
separuh dari keseluruhan partikel memiliki rentang yang lebih besar daripada
<R>, sementara separuhnya lagi memiliki rentang kurang dari <R>.
Dengan asumsi penurunan jumlah titik ABC versus jarak , kurva menjadi
linier, dengan kemiringan sama terhadap titik x = <R> seperti yang diberikan oleh
persamaan 15-4, kita dapat memperoleh rentang Rex yang ter-ekstrapolasi dimana
nilai dari absis yang berada pada garis ABC memotong sumbu x. Karena titik
ordinat pada <R> merupakan setengah dari jumlah partikel sesungguhnya, kita
dapat menuliskan kemiringan garis sebagai berikut

R 2
Atau

0,5
Rex R

Rex R

v
R 2
2

R ..................................... (15.5)
2

Sebagai contoh, untuk energi sinar

210

Po, E = 5,3007 MeV, nilai secara

eksperimen dari R=0,044 yang memberikan

R
3,842 0,055
2
3,897 cm

Rex R

Hal ini menunjukkan bahwa Rex yang bernilai sekitar 1,4 % lebih besar
daripada jangkauan rata- rata <R> yang merupakan ukuran dari jangkauan yang
terurai.

58

BAB III
KESIMPULAN
1.

Besarnya rasio q/M dari partikel yang diperoleh Rutherford dan Robinson
adalah 4820x107 C/kg dengan menggunakan persamaan akhir:

2.

q
2 Xld m2

m B 2 L(l L) 2 d e
Besarnya muatan partikel yang diperoleh E. Regener melengkapi temuan
Rutherford dan Geiger adalah senilai 3,193 x 10- 19 coulomb dengan
menggunakan persamaan akhir:
4r12Q
q
NS1
Dengan menggunakan nilai q dan perbandingan q/M, diperoleh massa partikel

sebesar 6,62 x 10-27 kg


3.

Dengan metode spektroskopi, Rutherford dan Royds menemukan kehadiran


garis spektral helium, yang membuktikan bahwa partikel sebenarnya tidak
ada tetapi berupa muatan dobel ion helium (He++).

4.

Kecepatan partikel yang diemisi oleh unsur radioaktif umumnya berorde


107 m/s.dengan energi kinetik dalam rentang 4 -10 MeV.

5.

Dengan diketahuinya energi kinetik melalui kegiatan eksperimen, maka


Energi peluruhan bisa dihitung dengan menggunakan persamaan:
Q E

6.

A
A 4

Jangkauan dari partikel bisa diketahui melalui beberapa metode


diantaranya:
a.

Mengukur ionisasi yang dihasilkan mereka pada jarak yang berbeda


dari sumber sepanjang jalur mereka di dalam medium (metode Bragg)

b.

Mengambil fotografi dari lintasan partikel dalam ruang awan Wilson

c.

Menggunakan bola lampu gelas bulat yang dilapisi perak tipis (metode
H.Geiger dan J.M. nuttall,)

59

d.

Menentukan intensitas dari berkas sejajar dari partikel pada jarak


yang berbeda terhadap sumber (metode M.S Holloway dan M.G.
Livingson)

7.

Hubungan antara jangkauan dan energi partikel , secara matematis dapat


56

dituliskan sebagai: R = aE3/2


8.

Hukum Geiger-Nuttall dinyatakan dengan: Log = A + B log R ; A dan B


adalah konstanta. Menurut hukum ini, partikel yang diemisi oleh unsur
yang mempunyai konstanta peluruhan yang lebih mempunyai jangkauan lebih
panjang dan demikian pula sebaliknya.

9.

Waktu rata-rata hidup peluruhan partikel berubah dengan perubahan kecil


pada energi partikel , sesuai dengan hukum Geiger- Nuttala.

10.

Metode pendekatan secara semi-klasikal mampu diaplikasikan pada kasus


dimana potensial berubah dengan sangat lambat sehingga perubahan pada
panjang gelombang Broglie lebih kecil dibandingkan pada itu sendiri
pada jarak tertentu untuk bentuk panjang gelombang de Broglie.

11.

Teori sederhana tentang faktor hambatan dan pembentukan memerlukan


modifikasi pada tiga perhitungan yakni: (i) Efek perubahan momentum sudut
(ii) Efek potensial non-sferis dan (iii) Faktor pembentukan.

12.

Lebih dari satu kelompok partikel dengan tingkatan energi masing-masing,


ditemukan teremisi oleh unsur radioaktif yang sama dapat terjadi karena
transisi dari keadaan diskrit yang berbeda dari inti induk menjadi keadaan
diskrit yang berbeda dari inti produk.

13.

Ketika sebuah partikel bermuatan berat bergerak melalui materi, ada interaksi
elektrostatik sesaat antara partikel dan elektron dalam atom dengan yang
berlalu

yang

mengakibatkan

setiap

elektron

memperoleh

beberapa

momentum dan energi kinetik. Dengan menghitung jumlah total energi maka
kita bisa untuk menghitung laju energi yang hilang oleh ion.
14.

Pada kecepatan yang sangat rendah (E <10 keV per nukleon) elektron yang
ditangkap oleh ion hampir selesai, sehingga tumbukan yang terjadi adalah
antara ion yang dinetralkan dengan orbital elektron dalam atom medium.

60

15.

Jangkauan yang terurai dari partikel muatan berat terjadi terutama karena : (i)
adanya fluktuasi statistik pada jumlah tumbukan yang diderita oleh partikel
dan (ii) adanya energi yang hilang tiap tumbukan. Faktor penentu lainnya
kerapatan yang tidak homogen dari medium penyerapan, penangkapan dan
hilangnya elektron oleh partikel bergerak.
DAFTAR PUSTAKA

Ghoshal, S.N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi; S. Chand & Company LTD.

58