Anda di halaman 1dari 13

1

SEFALOMETRI

A. Gambaran Umum Sefalometri


Foto sefalometri (sefalogram) merupakan rekam ortodonti yang sangat
berguna untuk menentukan kelainan skeletal, letak gigi, profil dan lain-lain.
Sefalometri dimulai sekitar awal tahun 1930 oleh Hofrath di Jerman dan
Broatbent di Amerika Serikat untuk penelitian maloklusi dan disproporsi
rahang. Pada awalnya sefalometri lebih banyak digunakan untuk mempelajari
pertumbuh kembangan kompleks kraniofasial kemudian berkembang sebagai
sarana yang sangat berguna untuk mengevaluasi keadaan klinis misalnya
membantu diagnosis, merencanakan perawatan dalam bidang ortodontik,
mempelajari pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial (Rahardjo, 2012).
Foto rontgen sefalometri hanya diperlukan pada kasus-kasus tertentu,
untuk perawatan dengan modifikasi pertumbuhan, perawatan komprehensif
dan perawatan bedah ortogenatik. Foto sefalometri mutlak diperlukan karena
posisi insisivus dan relasi rahang tidak mungkin dapat diketahui dengan tepat
tanpa foto sefalometri, sedangkan pada perawatan yang membutuhkan
gerakan gigi sedikit atau pada perawatan penunjang foto sefalometri tidak
diperlukan. Foto sefalometri posteroanterior (PA) hanya digunakan pada kasus
asimetri muka (Raharjo, 2012).
Alat yang digunakan untuk pembuatan sefalometri terdapat dua jenis
yaitu broadbent balton dan higley. Broadbent balton menggunakan dua
tabung sinar X, dua pemegang kaset, pasien tidak perlu bergerak jika dibuat
proyeksi lateral atau postero anterior. Higley menggunakan satu tabung sinar
X dan satu pemegang kaset, sefalostat dapat diputar sehingga pasien dapat
diatur untuk beberapa macam proyeksi yang diperlukan (Amiatun, 2013).

Gambar 1 Sefalostat (Hausamen, 2004).


B. Teknik Pengambilan Sefalometri
Teknik pengambilan foto radiografi sefalometri terdiri dari dari tiga
jenis yaitu proyeksi lateral atau profil, proyeksi postero anterior, oblique
sefalogram
1. Proyeksi lateral atau profil
a. Pengambilan foto menggunakan teknik ini, pasien diinstruksikan
untuk oklusi sentrik.
b. Kepala pasien difiksir pada sefalometer.
c. Bidang midsagital terletak 60 inchi atau 152,4 cm dari pusat sinar X
dan muka sebelah kiri dekat dengan film.
d. Pusat sinar X sejajar sumbu transmeatal (ear rod) dari sefalostat.
e. FHP sejajar lantai, pasien duduk tegak, kedua telinga setinggi ear
road.

Gambar 2 Teknik proyeksi lateral atau profil (Hausamen, 2004).


2. Proyeksi postero anterior
a. Pengambilan foto menggunakan teknik ini pasien dalam oklusi sentrik,
kepala tegak.

b. FHP sejajar lantai.


c. Tube diputar 900 sehingga arah sinar X tegak lurus sumbu transmeatal.

Gambar 3 Teknik proyeksi postero anterior (Hausamen, 2004).


3. Oblique sefalogram
a. Oblique sefalogram sering digunakan untuk analisis pada periode mix
dentition.
b. Oblique sefalogram kanan dan kiri dibuat dengan sudut 450 dan 135o
terhadap proyeksi lateral.
c. Arah sinar X dari belakang.
d. FHP sejajar lantai.
C. Landmark Sefalometri
Landmark merupakan suatu titik yang dapat dipakai sebagai petunjuk
untuk pengukuran. Titik landmark yang ideal berlokasi tepat di tulang
kranium dan menunjukkan konsistensinya selama masa pertumbuhan.
Pengetahuan tentang anatomi kraniofasial perlu untuk menginterpretasikan
suatu hasil sefalometri radiografi (Bhattarai dan Shrestha, 2011).
Struktur tulang kadang-kadang lebih mudah ditandai pada tulang anakanak dan remaja daripada orang dewasa, sebab densitas struktur tulang orang
dewasa kadang-kadang kabur, misalnya pada daerah prosesus mastoid dan
sinus frontalis akan berubah selama masa pertumbuhan. Jaringan lunak seperti
dinding pharyngeal, jaringan adenoid, lidah, hidung dan fasial merupakan
bagian yang dapat di analisis melalui hasil sefalometri radiografi (Bhattarai
dan Shrestha, 2011).

Ga
mbar 4 Struktur
anatomi

pada

lateral sefalometri radiografi (Staley dan


Raske, 2011)

D. Lokasi titik sefalometri

Gambar 5 lokasi titik sefalometri (Staley dan Raske, 2011)

Titik pada basis cranium :


1. S (Sella)
: Titik tengah dari sella tursika
2. P (Porion)
: Terletak pada titik tengah kontur atas dari kanal
auditory external atau dapat digambarkan pula terletak
pada titik paling posterior dari ear road.
3. N (Nasion)
: Terletak pada posisi yang terendah, yaitu titik anterior
dari pertemuan antara tulang frontal dengan sutura
frontal nasalis.
4. O (Orbitale)
: Titik terendah pada tepi orbita, terletak dibawah pupil
mata dengan posisi penderita lurus ke depan.
Ba (Basion)

: Titik paling bawah pada tepi anterior dari foramen


magnum pada migsagital plane.

Bo (Bolton)

: Titik tertinggi pada permukaan taju (norches)


posterior dari condyl pada os Ocipitalis.

(Raharjo, 2012).
Titik pada maksila dan mandibular
Pterygomaxillary fissure (Ptm) terletak pada apeks dari bentukan airmata
(teardrop shaped) pada fisura pterygomaxillary.
1. ANS (Anterior Nasal Spin)
: Ujung dari spina nasalis anterior
2. PNS ( Posterior Nasal Spine )
: Titik paling posterior pada palatum
durum
3. Subsspinale (A)
: Titik terdalam pada kontur premaksila
diantara spina nasalis anterior dan gigi
Insisivus
4. Supramentale (B)
: Titik terdalam pada kontur dari

Pogonion (Pog)

proyeksi alveolar diantara infradentale


dan pogonion. Titik ini biasannya
terletak anterior setinggi apeks dari
insisif dan merupakan batas antara
tulang alveolar dan tulang basal.
: Titik pada dagu yang paling anterior
dan yang paling menonjol.

Menton (Me)
Gnation (Gn)
Gonion (Go)

Articulare (Ar)

: Titik terendah pada tinggi muka


: Terletak di antara pogonion dan
menton yang terletak pada garis tepi
sympisis
: Titik terendah dan terluar dari sudut
mandibular. Go didapatkan dengan
dengan jalan membagi dua sudut yang
dibentuk oleh garis singggung bagian
inferior dan bagian posterior dari
mandibular. Bila kedua sudut
mandibular kiri dan kanan terlihat
pada profil X-ray, maka titik yang di
pakai ialah titik tengah antara Go kiri
dan Go kanan.
: Titik pertemuan dari garis batas bawah
Ramus dengan batas bawah dari basis
cranium.

(Raharjo, 2012).
Bidang referensi yang umum digunakan yaitu sebagai berikut.
1. Bidang Frankfort horizontal : bidang melalui porion kanan dan kiri
dengan titik orbital kiri.
: garis horizontal melalaui titk sella dan
nasion.
Bidang ini merupakan referensi dan semua pengukuran. Kemiringan

2. Bidang sella-nasion

sudut ini dengan bidang frangfort horizontal antara 6o-8o. Bidang sella-nasion
dengan bidang Frankfort horizontal mendekati pararel maka sudut yang
dibentuk oleh garis vertical dari nasion ke maksila dan ke mandibular akan
menjadi lebih besar. Bila bidang sella-nasion lebih miring keatas dalam area
nasion, maka sudut yang dibentuk garis vertical terhadap maksilla dan
mandibular akan kecil (Staley dan Raske, 2011).
1. Bidang fasial merupakan bidang yang terbentuk dari garis yang
menghubungkan nasion pogonion
2. Bidang mandibulla terbentuk dari garis singgung tepi bawahmandibula
dan menton ke bagian posterior dari ramus. Bidang ini akan tepat
digambarkan bila penderita pada waktu pengambilan x-ray exposure
dalam keadaan oklusi sentris.

3. Bidang ramus dibentuk antara garis singing melalui titik inferior dan titik
posterior terus sampai articulare dari tepi ramus.
(Staley dan Raske, 2011).
E. Komponen dalam analisis sefalometri
Terbagi menjadi komponen skeletal dan komponen dental
1. Komponen skeletal
Pengukuran skeletal merupakan pengukuran maksila dan mandibular
terhadap
kranium. Tujuan
pembuatan
analisis skeletal
untuk
menentukan
klasifikasi
fasial,
mempelajari

pola

pertumbuhan muka.
2. Komponen dental
Pengukuran dental untuk mengetahui hubungan inklinasi gigi di maksila
dan gigi di mandibula, hubungan insisif maksila dengan basis kranium,
hubungan insisif mandibular dengan bidang mandibular, hubungan
maksila dan mandibular dan hubungan maksila dan mandibular dengan
kranium.
(Bhattarai, dan Shrestha., 2011).
F. Sudut skeletal
Sudut skeletal yang sering dipakai dalam posisi lateral adalah

Gambar 6 Sudut Skeletal (Staley dan Raske, 2011).

1. Sudut SNPog
Sudut yang dibentuk oleh sella-nasion-pogonion menggambarkan
hubungan posisi dagu terhadap basis kranium anterior.
2. Sudut SNA
Sudut yang dibentuk sella-nasion-titik A yang menggambarkan hubungan
letak maksila terhadap basis kranium anterior.
3. Sudut SNB
Sudut yang dibentuk sella-nasion-titik B, menggambarkan hubungan letak
mandibula terhadap basis kranium anterior.
4. Sudut ANB
Sudut yang dibentuk titik A-nasion-titik B9ANB) menjelaskan hubungan
posisi

maksila

dengan

mandibular. Sudut

ANB merupakan

hasil selisih antara

besarnya

SNA dengan sudut

SNB. Pada kasus

maloklusi kelas II

angle

mempunyai

ANB

sudut

sudut

positif

besar. Pada kasus

maloklusi kelas

III

mempunyai

angle

sudut negatif besar.


(Amiatun, 2013).
5. Sudut fasial
Facial angle, sudut yang dibentuk oleh bidang FH-N-Pog yang
menggambarkan posisi dagu terhadap bidang Frankfort horizontal.

Gambar 7 Hubungan mandibular dengan basis kranium


(Staley dan Raske, 2011).

6. MPSN
Merupakan sudut yang dibentuk oleh bidang mandibular dengan garis
sella-nasion menggambarkan hubungan antara bidang mandibular dengan
garis kranium anterior.
7. MPFH atau FMA
Sudut yang dibentuk oleh bidang mandibula dengan bidang Frankfort
horizontal.
(Amiatun, 2013).
G. Sudut geligi

Gambar 8 Sudut gigi geligi

terhadap

basis kranium (Staley dan Raske, 2011).


Sudut insisif maksila-SN (1-SN) merupakan sudut yang dibentuk oleh
sumbu axial insisif maksila dengan bidang SN menggambarkan hubungan
posisi gigi insisif maksila terhadap basis kranium anterior. Sudut interinsisal
merupakan sudut yang dibentuk oleh sumbu axial insisif maksila dengan
insisif mandibula. Bila inklinasi insisif lebih protrusi maka besarnya sudut
akan menjadi berkurang atau kecil. Bila inklinasi insisif lebih tegak, maka
besarnya sudut akan menjadi lebih besar (Raharjo, 2013).
FMIA merupakan sudut yang dibentuk oleh bidang Frankfort
horizontal dengan insisif mandibular. Sudut ini dapat dipercaya, bila posisi

10

porion da orbitale tepat. IMPA merupakan gambaran sudut yang dibentuk


oleh bidang mandibular dengan insisif mandibular. Sudut ini dipengaruhi oleh
morfologi dari mandibula. Bila sudut yang dibentuk oleh bidang mandibular
SN berkurang, maka sudut IMPA menjadi lebih bertambah. Demikian
sebaliknya bila sudut yang dibentuk oleh bidang mandibular dengan bidang
SN bertambah, maka sudut IMPA menjadi berkurang, harus memperhatikan
jarak gigitan pada kasus gigitan terbalik ketika memeriksa sudut inklinasi
insisif mandibula (Raharjo, 2013).
Terdapat lima komponen yang biasannya dipelajari dalam analisis
sefalometri pada arah horizontal dan vertical, yaitu basis kranial, rahang atas
dan rahang bawah, gigi atas dan gigi bawah. Menganalisis sefalometri perlu
ditentukan garis referensi yang biasannya digunakan yaitu garis SN (Sella
Nasion) yang relatif mudah untuk menentukan titik-titiknya dan dianggap
stabil. Macam-macam analisis sefalometri yaitu sebagai berikut (Raharjo,
2013).
1. Analisis Skeletal
Letak maksila dan mandibular dapat dilihat pada sudut SNA, SNB
dan ANB. Sudut SNA merupakan sudut yang dibentuk oleh garis SN dan
titik A. Sudut ini menyatakan posisi maksila yang di awali titik A terhadap
basis kranial (SN). Besar sudut SNA untuk populasi Surabaya rata-rata
84o. Besar sudut dipengaruhi letak titik A dalam arah sagital apakah lebih
lebih anterior atau posterior sedangkan garis SN bila dianggap stabil
letaknya. Bila sudut SNA lebih besar daripada 84o berarti maksila terletak
lebih ke anterior demikian sebaliknya (Raharjo, 2013). Sudut SNB
merupakan sudut yang dibentuk oleh garis SN dan titik B yang rataratanya untuk populasi Surabaya Surabaya sebesar 81 o. Sudut ini
menyatakan posisi mandibula terhadap basis kranial. Besar sudut yang
dipengaruhi letak titk B dalam arah sagittal apakah lebih anterior atau

11

posterior. Bila sudut SNB lebih besar daripada 81o berarti mandibular
terletak lebih ke anterior semikian sebaliknya (Raharjo, 2013).
Sudut ANB merupakan perbedaan perbedaan antara sudut SNA dan
SNB dan menyatakan relasi maksila dengan mandible yang besarnya
dalam

keadaan

normal

untuk

populasi

Surabaya

adalah

3o.

menginterpretasi sudut ANB harus diketahui besar sudut SNA dan SNB
karena hanya dengan melihat besar sudut ANB belum tentu dapat
diketahui rahang amana yang tidak normal. Bila hanya diketahui besar
sudut ANB hanya diketahui kecenderungan maloklusi yang terjadi yaitu
bila besarnya lebih dari 4o cenderung terdapat maloklusi kelas II
sedangkan bila besarnya lebih kecil dari 00 (missal -20) berarti terdapat
maloklusi kelas III. Semakin besar sudut ANB semakin besar perbedaan
letak maksila dan mandibular (Raharjo, 2013).
a. Sudut kecembungan muka (Angle of confexity)
Sudut ini ditentukan oleh perpotongan garis NA dan PoA.
Rerata untuk populasi Surabaya 60 yang menampakkan profil muka
yang

cembung

sedangkan

rerata

untuk

kaukasoid

0 0 yang

menunjukkan profil muka lurus. Besar sudut ini dipengaruhi letak titik
A dan Po dalam jurusan sagittal. Sudut yang negatif menunjukkan
muka yang cekung sedangkan sudut positif menunjukkan muka yang
cembung. Sudut negative dapat disebabkan titik A yang terletak
posterior atau titik Po yang terletak anterior sedangkan sudut yang
positif menunjukkan keadan sebaliknya (Raharjo, 2013).

b. Sudut muka (Facial angle)


Sudut ini merupakan perpotongan garis FH-NPo dan
menunjukkan apakah mandibular protusif atau retrusif. Sudut ini
sangat dipengaruhi letak dagu, bila dagu lebih menonjol sudut ini

12

bertambah besar. Rerata untuk populasi Surabaya yaitu 84,8 o (Raharjo,


c.

2013).
Sumbu pertumbuhan (Growth axis = Y axis)
Sumbu pertumbuhan merupakan perpotongan garis FH dan
SGn yang menunjukkan besarnya pertumbuhan dagu ke bawah, depan
atau belakang. Bila sudut ini lebih besar daripada rerata terdapat
tendens pertumbuhan kelas II dan bila lebih kecil daripada rerata
menunjukkan

tendens

pertumbuhan

kelas

III

dan

terdapat

pertumbuhan arah horizontal yang lebih banyak daripada vertical.


Rerata untuk populasi Surabaya 650 (Raharjo, 2013).
2. Analisis Dental
Letak insisiv atas dapat dibaca pada sudut yang merupakan
perpotongan sumbu gigi insisiv atas (garis yang menghubungkan
insisal dan apeks) dengan garis SN,FH dan maksila. Rerata sudutnya
untuk populasi Surabaya berturut-turut 1170 114, 1110. Letak insisif
rahang bawah dapat dilihat pada perpotongan sumbu gigi insisiv
bawah dengan garis GoGn atau garis mandibular (garis yang
menyinggung tepi bawah mandibular melewati menton). Besarnya
sudutnya masing-masing 980, 95o untuk populasi Surabaya. Insisif atas
maupun bawah maupun bawah sudut yang lebih besar daripada rerata
menunjukkan

letak

insisif

yang

protusif.

Sudut

yang

kecil

menunjukkan letak insisif yang retrusif 9Raharjo, 2013).


Perpotongan sumbu insisif atas dan bawah membentuk sudut
antarinsisiv, reratanya 118o untuk populasi Surabaya. Sudut yang lebih
besar menggambarkan letak insisif yang lebih tegak dan lebih kecil
berarti insisif protusif (Raharjo,2013).
3. Analis Jaringan Lunak
Analisis ini penting untuk membantu menentukan diagnosis dan
merencanakan perawatan pada pasien yang membutuhkan tindakan
othognatic surgery. Selain Analisis skelet dan gusi juga terdapat banyak
analisis jaringan lunak. Salah satunya adalah analiss menurut rickets.
Analisis menurut rickets pertama ditarik garis dari jaringan lunak dagu ke

13

ujung hidung yang disebut garis E(E line = Esthetic line). Bila bibir
terletak di posterior garis E diberi tanda negatif. Pada ras kaukasoid
dengan wajah yang seimbang maka bibir bawah terletak -2 mm dan bibir
atas terletak -4 mm dari garis ini (tanda negative berarti di posterior garis).
(Raharjo, 2013).
H. DAFTAR PUSTAKA
Amiatun, M.S.M., 2013, Sefalometri Radiografi Dasar, Sagung Seto Jakarta.
Bhattarai, P., Shrestha, R.M., 2011, Tweeds Analysis of Nepalese People,
Nepal Med Coll Journal, 13(2): 103-106.
Hausamen, E., 2004, Three Dimentional Cephalometry: A Color Atlas and
Manual, Flip Schutyser, Jang.
Raharjo, P., 2012, Diagnosis Ortodontik, Airlangga University Press,
Surabaya
Raharjo, P., 2012, Ortodonti Dasar, Airlangga University Press, Surabaya.
Staley, R.N., Reske, N.T., 2011, Essentials of Orthodonties Diagnosis and
Treatment 1 th ed, Blackwell Publishing, Ltd.