Anda di halaman 1dari 43

Kuliah ke-4

STERILISASI DALAM FERMENTASI

Tujuan Instruksional Khusus :

Mahasiswa mampu menjelaskan


sterilisasi dalam proses fermentasi

Produk fermentasi diperoleh bila mikroorganisme tumbuh


pada media yang sesuai

Bila terkontaminasi, maka :


Produktivitasnya menurun akibat kompetisi
mikrobia
Kontaminan mendominasi kultur dan mengganti
mikrobia yang diinginkan.
Mempengaruhi kualitas produk, misalnya pada
produksi protein sel tunggal.
Kesulitan dalam ekstraksi produk
Kontaminan akan mendegradasi produk, misalnya
pada produksi antibiotik.
Kontaminan berupa bakteriofag dapat
menyebabkan sel mikrobia menjadi lisis.

Usaha-usaha untuk menghindari kontaminasi :


Penggunaan kultur murni
Tergantung
Sterilisasi medium
proses
fermentasi
Sterilisasi tangki fermentasi
dan derajat
Sterilisasi bahan tambahan
konsekwensi
Pemeliharaan kondisi aseptik.

Cara-Cara Sterilisasi
Metode kimia
Untuk peralatan yang sensitif terhadap panas
ethylene oxide (gas untuk alat
70% ethanol-air (pH=2) untuk
alat/permukaan
3% sodium hypochlorite untuk alat
Proses pemanasan
Radiasi
UV untuk permukaan
Sinar X untuk cairan
Metode umum : pemanasan basah atau kering

Cara-Cara Sterilisasi ......


Sonikasi (sonik /getaran ultrasonik)
Sentrifugasi kecepatan tinggi
Filtrasi untuk bahan yang sensitif panas dan
udara

Proses Sterilisasi
Dilakukan pada reaktor baik dalam kondisi
kosong maupun yang sudah diisi dengan
media
Reaktor dipanaskan engan uap jenuh (suhu
121 -141oC) menggunakan sistem pindah
panas (double jacket atau alat penukar panas
lainnya) dengan waktu sesuai dengan yang
diinginkan reaktor didinginkan

Waktu dan Suhu Sterlisasi dari beberapa


mikroorganisme

STERILISASI MEDIUM
Caranya : - dengan filtrasi presipitasi
- dengan pemanasan yang utama

pemanasan basah mudah, ekonomis

KINETIKA KEMATIAN TERMAL MIKROBA


1. Laju Kematian
Terdiri atas : - laju kematian logaritmik
- laju kematian non logaritmik
a. Laju Kematian Logaritmik
Terdapat pada kultur murni
Laju kematian logaritmik secara matematik :

dN
kN .Pers.1
dt
N= konsentrasi mikrobia (jumlah/ml)
k = konstanta laju kematian spesifik
(menit-1)
t = waktu (menit)

Integrasi dari persamaan (1) dengan batasan N = No


dan t = to menghasilkan :
............Pers 2) atau
Nt
kt
No

Nt
ln
kt..Pers 3)
No

No = jumlah mikrobia pada awal sterilisasi


Nt = jumlah mikrobia pada akhir sterilisasi

Nt
No

Nt
ln
No

Waktu (t)

Slope = k

Waktu (t)

Gambar 1. Proporsi sel hidup pada mikrobia yang


mengalami sterilisasi berdasarkan
persamaan 2 dan 3.

Slope kurva = k Nilai absolut k =


pengukuran resistensi termal organisme,
semakin kecil nilai k maka resistensi mikroba
terhadap aktivitas termal semakin tinggi.

10
1
N/No

T=54oC

10-1
T=56oC

10-2
10-3

T=58oC

10-4

T=60oC

10-5
0

10

Waktu (Menit)

Gambar 2. Laju kematian tipikal bagi sel-sel vegetatif E.coli

b. Laju Kematian Non Logaritmik


Sering terdapat pada spora bakteri
Penyebab penyimpangan : germinasi spora, teknik
eksperimen yang belum baik.
ln N

ln

Waktu

Nt
No

ln

Waktu

Nt
No

Waktu

.............. = Kultur murni


________ = Organisme Sensitif
- - - - - - - = Organisme Resisten

Gambar 3. Penyimpangan kurva pada proses sterilisasi


akibat kultur campuran dan aktivasi spora

Urutan kejadian untuk model kematian non


logaritmik diusulkan oleh Prokop and
Humprey (1970) inaktivasi spora terjadi
dengan cara :
kR

kR

NR Ns
Spora
resisten

intermediet
sensitif

ND
mati

Persamaan diferensial untuk model ini :


dN R
k R N R
dt

.4)

dN s
k R N R ks N s
dt

...5)

NR = konsentrasi spora resisten (jumlah/ml)


Ns = konsentrasi spora sensitif (jumlah/ml)
ND = spora yang mati (jumlah/ml)
kR = laju inaktivasi spesifik spora resisten (menit-1)
ks = laju inaktivasi spesifik spora sensitif (menit-1)
t = waktu (menit)

Penyelesaian persamaan (5) :


N
kR
ks
t

[exp( kst ) exp( k R )]


No k R ks
kR

Pers 6)

N = kosentrasi sel hidup yang dapat diperoleh


kembali setiap saat = Ns+ NR (jumlah/ml)
No = konsentrasi sel hidup awal (jumlah/ml)

Pada sterilisasi medium fermentasi, kosentrasi


dan tipe mikrobia seringkali tidak diketahui,
sehingga digunakan resistensi termal relatif
mikrobia untuk merancang siklus sterilisasi

Tabel 1. Resistensi relatif dari berbagai mikrobia


terhadap panas uap air.
Mikrobia
Bakteri vegetatif dan khamir
Spora bakterial

Spora Kapang
Virus dan Bakteriofag

Resistensi Relatif
1.0
3 x 106

2 10
1-5

spora bakteri lebih resisten terhadap panas uap air siklus


sterilisasi dirancang berdasarkan destruksi spora bakteri

2. Pengaruh Suhu Terhadap Kinetika Kematian


Teori yang sering digunakan : Teori Arrhenius

k Ae

E / RT

E
ln k ln A
RT

..Pers (7)
..Pers (8)

E = energi aktivasi kematian (kal/mol)


R = konstanta gas (kal/molo K)
T = suhu (oK)
A = konstanta Arrhenius (menit-1)

Kombinasi persamaan (3) dan persamaan (7)


menghasilkan :
No
ln
A..e E / RT
Nt
No
ln
N

..Pers 9)

= kriteria sterilisasi atau Del factor = V


= suatu destruksi sel mikrobia terhitung akibat
kenaikan suhu pada waktu tertentu.

V A.t.e

( E / RT )

E
V
ln t
ln( )
RT
A

Pers 10) atau

Pers 11)

3. Sterilisasi Media Secara Batch


Informasi yang diperlukan :
a) Profil peningkatan dan penurunan suhu dalam
media
b) Jumlah mikrobia awal
c) Karakteristik kurva destruksi mikrobia oleh
panas. Pada umumnya dipilih spora bakeri yang
tahan panas yaitu Bacillus stearothermophillus.
d) Resiko/derajat kontaminasi yang ditoleransi,
misalnya 1 sel dalam 1000 atau Nt = 10-3 sel
hidup.

Bila jumlah mikrobia awal pada media = 1011 sel


hidup, dan derajat kontaminasi yang ditoleransi 10-3,
maka harga del factor :
No
1011
V ln
ln 3
Nt
10

= ln 1014 = 32.2

diperoleh sejak pemanasan, sterilisasi sampai pendinginan,


sehingga :
Vtotal = Vpemanasan + Vsuhu sterilisasi + Vpendinginan

Perhitungan del factor selama pemanasan dan


pendinginan :
Dari persamaan 10 : V A.t.e( E / RT )
Pada periode ini suhu dianggap konstan
sehingga perubahan hanya terjadi pada suhu
sterilisasi.
Perubahan suhu secara grafis digambarkan
sebagai berikut :
Suhu

t1

t2

t3

t4

t5

t6

Waktu
Gambar 4. Metode grafis yang digunakan untuk menggambarkan
hubungan waktu dan suhu serta perhitungan harga V.

Harga V untuk setiap bagian : V1 = k1t, V2 = k2t,


V3
= k3t dst.
Nilai k1, k2 dst dicari dengan persamaan Arrhenius
sedangkan harga t dapat dilihat dari kurva seperti pada
Gambar 4.
Dengan menggunakan persamaan Arrhenius, maka
nilai k untuk spora B.stearothermophillus dapat dilihat
pada Gambar 5.

Gambar 5. Korelasi antara kecepatan kematian spesifik (k) spora


B.stearothermophilus dengan suhu pemanasan

Contoh : Diketahui suhu sterilisasi 121oC dengan


total del factor 32.2. Jika kenaikan suhu dari 100oC
ke 121oC dicapai selama 30 menit dan penurunan
suhu dari 121oC ke 100oC dicapai dalam waktu 17
menit, berapakah total waktu sterilisasi?
Jawab : Dari Tabel 2 diperoleh nilai del factor pada
suhu 121oC = 12.549, maka :
Vpemanasan 100-121oC = 12.549 x30 = 17.93
21

Vpendinginan 121-100oC =
Vsuhu sterilisasi 121oC =
V121oC

k121oC.t121oC

12.549 x17
21

= 10.16

32.2 17.93 10.16 = 4.11


t121oC

4.11
= 1.62 menit
2.54

total waktu sterilisasi = 30 + 1.62 + 17 = 48.62 menit

Perhitungan waktu pada suhu sterilisasi (121oC)


Vtotal = Vpemanasan + Vsuhu sterilisasi + Vpendinginan
Misal : Vtotal = 32.2
Vpemanasan = 9.8, Vpendinginan = 10.1, maka :
Vsuhu sterilisasi = 32.2 9.8 10.1 = 12.3
Diketahui nilai k untuk B.stearothermophillus pada
suhu 121oC adalah 2.54/menit, maka waktu untuk
suhu sterilisasi adalah :
V = kt t = V/k = 12.3/2.54 = 4.84 menit pada suhu
121o C
Bila kontribusi pemanasan dan pendinginan
diabaikan selama proses sterilisasi, maka :
= 12.68 menit pada 121oC.
Vtotal 32.2
t

12.68
k
2.54

Gambar 7. Proses Sterilisasi Secara Batch

Perencanaan Dalam Proses Sterilisasi Media


Asumsi :
Kerusakan bakteri terjadi di atas suhu 100oC
Penetrasi panas atau pendinginan di atas suhu
100oC adalah linier.
o Scale up proses sterilisasi secara Batch :
Dasar perhitungan del factor : total kontaminan
yang ada dalam media dan bukan volume media
Jika ukuran fermenter bertambah maka total
sel awal juga naik, tapi probabilitas sel yang
digunakan untuk mencapai tingkat sterilisasi
tertentu harus tetap sehingga nilai V akan naik.

Contoh :
Proses sterilisasi skala pilot plant dengan 1000
l tangki media mengandung kontaminan
106/ml, diinginkan proses sterilisasi dengan
probabilitas kontaminan 1/1000 maka :
(106 x103 x103 )
15
V ln

ln
10
34.5
3
10

Bila digunakan tingkat sterilisasi yang sama


tetapi pada skala produksi 10.000 l media,
(106 x103 x104
maka
:
V ln
ln 1016 36.8
103

4. Sterilisasi Kontiniu
Keuntungan :
1) Mudah dalam pengawasan proses
2) Reduksi kapasitas uap
3) Reduksi waktu siklus sterilisasi
4) Potensial dalam pengembangan hasil produk
fermentasi
Cara :
Medium dipanaskan secara tidak langsung dalam
pipa atau plat dan penyangga panas
Dengan injeksi uap

Gambar 8. Proses sterilisasi secara kontiniu

Flow diagram of a typical continuous injector flash cooler steriliser


Cooling
water in

Cooling
water out

Unsterile
medium in

Steam in

Venturi
valve

Cooling heat
exchanger

Pre- heat
heat
exchanger
Expansion
valve

Sterile
medium out

Holding coil

Expansion
chamber

6. Sterilisasi Fermenter

Jika media disterilisasi terpisah, maka fermenter juga


harus disterilisasi
Cara :
Mengalirkan uap panas pada suhu 121oC selama
20 menit
Semua bagian yang kontak langsung dengan
media harus disterilisasi

7. Sterilisasi Udara

Pada proses fermentasi aerob diperlukan aliran udara


steril ke dalam media secara kontiniu.
Cara : - dengan pemanasan
- dengan filtrasi lebih umum di industri
Ada 2 jenis filter :
1. Filter absolut :
ukuran pori lebih kecil dari partikel/mikroba
yang disaring. Contoh : 0.2
Efisien, tapi cepat mengalami pressure drop
sehingga harus sering diganti.

2. Filter fibrous :
Ukuran pori lebih besar dari partikel/mikroba
yang disaring. Misal : 0.5 1.5
Banyak digunakan untuk sterilisasi udara pada
industri fermentasi
Terbuat dari kapas, kapas gelas atau kapas baja.

8. Perencanaan Sterilisasi Udara


Contoh : dibutuhkan udara steril untuk fermenter
berukuran 10 m x 60 m x 100 m proses fermentasi. Dari
percobaan sebelumnya diperoleh kecepatan aliran udara
optimum 0.15 m/detik pada nilai k = 1.535/cm.
Dimensi filter =

N
ln
kx
NO
Udara dalam pabrik mengandung
200 mikroba/m3,
sehingga :
No = total mikroba = volume udara x 200
= 10 x 60 x 100 x 200
= 12 x 106 mikroba

Derajat kontaminasi yang ditoleransi = N = 10-3


10-3
ln
= - kx ln 8.33 x 10-11 = -1.535 x
12x106
x = 15.12 cm tebal filter = 15.12 cm
Luas area filter yang digunakan =
Volume aliran udara
kecepatan linier
10
r2 =
m2 radius (r) filter = 0.59 m
0.15 x 60

SOAL
Hitunglah waktu yang dibutuhkan untuk proses sterilisasi media fermentasi
berikut :
Jumlah awal bakteri pada media : 5 x 1012 per m3, dan jumlah akhir yang
diinginkan adalah 1 per 1000.
Volume media 40 m3 dengan suhu awal 25oC. Media disterilisasi dengan sistem
pemanasan langsung menggunakan uap jenuh dalam sebuat fermentor. Uap
dengan tekanan 345 kPa (tekanan absoult) diinjeksikan dengan kecepatan 5,000
kg/jam, dan injeksi uap dihentikan ketika suhu sudah mencapai 122oC.
Suhu media ditahan pada 122oC. Panas yang hilang selama waktu pemanasan
dapat diabaikan, kemudian media didinginkan dengan cara melewatkan air suhu
20oC dengan kecepatan 100 m3/jam melalui koil pendingin hingga suhu akhir
media mencapai 30oC. Luas permukaan koil adalah 40 m3, and laju pindah
panas overall (U) = 2500 kJ/jam.m2.K.
Resistensi panas spora bakteri adalah :
kdo = 5.7 x 1039 per jam
Ed = 2.834 x 105 kJ / kmol
Nilai Panas spesifik media (c) = 4.187 kJ/kg.K dan densitasnya () = 1000 kg/m3

Studi Kasus 1

Carilah proses persiapan media fermentasi


untuk pembuatan Bir (dari Wort)
Bandingkan dengan persiapan media
untuk produksi penisilin

Studi Kasus 2
Cari perbedaan antara proses sterilisasi
dengan sistem pemanasan langsung dan
sistem pemanasan tidak langsung
(menggunakan alat penukar panas)
Berikan contoh aplikasi masing-masing
pada industri pangan.

Beri Nilai