Anda di halaman 1dari 5

SI-4231 BANGUNAN AIR

TUGAS

Dosen
Prof. Ir. Indratmo Sukarno, M.Sc, Ph.D.
Dr. Ir. Sri Legowo Wignyo Darsono

Oleh
Revan Purnama Gunawan

15013122

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2016

PENGELOLAAN SEDIMENTASI BENDUNGAN

Bendungan Ir. H. Djuanda (Jatiluhur) didesain oleh konsultan perencana dan pengawas
berkebangsaan Perancis yaitu Coyne et Bellier. Pelaksanan konstruksi bendungan ini
dilaksankan oleh Compagnie Francaise dEnterprise, Paris.
Kegunaan utama pembangunan Bendungan Ir. H. Djuanda (Jatiluhur) adalah sebagai pasokan
air irigasi untuk lahan seluas 242.000 ha. Selain digunakan untuk pasokan air irigasi,
bendungan ini juga digunakan untuk berbagai kegunaan dan pemanfaatan yaitu Pembangkit
Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan daya sebesar 187,5 MW, pasokan air minum, pengendalian
banjir, perikanan darat, dan pariwisata
Pengelolaan bendungan terdiri dari pemantauan, operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi
bendungan.
1. Pemantauan
Pemantauan dilaksanakan skala waktu tertentu yaitu harian, dua minggu, bulanan, 6
bulanan dan tahunan. Secara harian dengan memantau data klimatologi, rembesan, tinggi
muka air, dan pemantauan debit aliran dengan menggunakan accelograph. Pemantauan
tekanan air pori dan rembesan di dalam menara yang dilakukan dalam jangka waktu dua
mingguan. Untuk deformasi tubuh bendungan dan tekanan air pori di Bendungan Pasir
Gombong dilakukan pemantauan secara bulanan. Deformasi tubuh Bendungan Pelana
Ubrug dan Ciganea dilakukan pemantauan secara 6 bulanan. Pemantauan secara tahunan
dilakukan untuk mendeteksi deformasi tubuh Bendungan Pelana Pasir Gombong.
2. Pemantauan instrumen
Pemantauan instrumen dilakukan dengan pemantauan gerakan eksternal yang meliputi
pemantauan terhadap kondisi bendungan. Selain itu, juga dilakukan pemantauan gerakan
internal, pengukuran tekanan air pori pada bendungan, rembesan dan pengukuran gempa.
3. Operasi
Pengoperasian Bendungan Jatiluhur berdasarkan pada Keputusan Gubernur Jawa
Barat tentang rencana tanam, SK Direksi PJT II tentang rencana pemberian air dan pola
operasi tiga waduk (waduk kaskade). Pengelolaan bendungan juga dilakukan dalam
bentuk waduk kaskade Citarum yang terdiri dari Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.
Pemantauan hidrologi dan klimatologi dilakukan dengan menghitung curah hujan, aliran,
penguapan dan data-data lainnya. Pembuatan pola operasi tahunan berdasarkan atas equal
dan sharing. Pelaksanaan operasi waduk mengacu pada pola operasi tahunan yang

disusun dengan pengelola Waduk Saguling dan Cirata untuk pemenuhan kebutuhan air di
hilir semaksimal mungkin apabila terjadi kekurangan air dari sumber setempat.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan untuk konservasi bendungan, pemeliharan bendungan,
pemeliharaan bangunan khusus, pengendalian tumbuhan air secara rutin, pemeliharaan
sabuk hijau, dan pemeliharaan rutin yang dilakukan untuk babadan rumput, cabutan di
riprah, dan pengecatan pada bendungan.
5. Rehabilitasi
Rehabilitasi dilakukan pada tahun 1996 s.d. 2000 oleh Departemen Pekerjaan Umum
(IBRD Loan No. 3742-IND). Rehabilitasi dilakukan untuk pelandaian lereng udik dan
hilir bendungan utama, pemasangan pengukur rembesan di kaki bendungan, perbaikan
dan peningkatan jalan inspeksi dan pemantauan, perbaikan lereng Ubrug dan Pasir
Gombong Saddle Dam.
Pengaruh Sedimentasi Terhadap Ketersediaan Air Irigasi pada Bendungan Ir. H.
Djuanda
Sedimentasi pada Bendungan Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal dengan sebutan Waduk
Jatiluhur tergolong sangat kecil. Kenaikan sedimentasi pada bendungan hanya sekitar 0.5 cm
atau 5 mm per tahun. Kecilnya tingkat sedimentasi yang ada pada bendungan ini tentunya
tidak memiliki pengaruh terhadap ketersediaan air, khususnya untuk saluran irigasi yang ada
pada bendungan Ir. H. Djuanda. Rendahnya tingkat sedimentasi pada Bendungan Ir. H.
Djuanda dikarenakan adanya dua bendungan lainnya yang terletak di hulu sungai Citarum
yaitu Bendungan Saguling dan Cirata. Sebelum dibangunnya dua bendungan tersebut, tingkat
sedimentasi pada bendungan Ir. H. Djuanda tergolong tinggi yaitu sekitar 12,2 juta ton per
tahun. Hal inilah yang akhirnya mendorong pemerintah untuk membangun Bendungan
Saguling dan Cirata. Sejak dibangunnya dua bendungan tersebut, kini bendungan Ir. H.
Djuanda merupakan waduk yang paling bersih dan sedimentasi yang tertinggi terdapat pada
Bendungan Saguling yang terletak paling hulu dari ketiga bendungan yang ada pada Sungai
Citarum. Berdasarkan hasil prediksi yang dilakukan pada tahun 2000 s.d. 2009 tingkat erosi
permukaan dan hasil outlet pada Bendungan Cirata yang ada pada Bendungan Ir. H. Djuanda
adalah sebesar 20.553.040 m3
Tingkat sedimentasi memang tidak terlalu mempengaruhi ketersediaan air pada
Bendungan Ir. H. Djuanda. Namun, banyaknya jumlah keramba jaring apung yang ada pada
bendungan ini mengakibatkan tingkat pencemaran yang tinggi dengan kualitas air yang

menurun. Hal ini diakibatkan karena adanya buangan rumah tangga dan limbah manusia yang
dibuang ke bendungan ini. Selain itu, adanya pakan ikan yang berlebihan mengakibatkan
kerusakan atau korosi pada turbin sehingga mengurangi umur pakai turbin. Pencemaran yang
ada pada bendungan ini berdampak negatif terhadap pasokan air untuk di hilir dan
mengganggu sirkulasi air yang ada pada bendungan.
Sedimentasi Terhadap Kapasitas Tampungan Bendungan Ir. H. Djuanda
Bendungan Ir. H. Djuanda pada tahun 1967 memiliki kapasitas tampungan sebesar 3
milyar m3. Pada tahun 2000, kapasitas tampungan menurun sekitar 500 juta m3. Sehingga
setelah 40 tahun beroperasi, kapasitas tampungan bendungan menjadi 2,44 milyar m3.
Adanya penurunan kapasitas tampungan disebabkan adanya sedimentasi pada bendungan.
Akan tetapi, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, setelah beroperasinya
Bendungan Saguling pada tahun 1985 dan Bendungan Cirata pada tahun 1987
mengakibatkan tingkat sedimentasi pada Bendungan Ir. H. Djuanda mengalami penurunan.
Secara umum, tingginya tingkat sedimentasi akan mempengaruhi kapasitas tampungan yang
ada pada Bendungan Ir. H. Djuanda.
Seberapa Sering Pengambilan Sedimen Dilakukan untuk Meningkatkan Kinerja
Bendungan Ir. H. Djuanda
Pengambilan/pengerukan sedimentasi pada Bendungan Ir. H. Djuanda belum pernah
dilakukan. Hal ini dikarenakan tingkat sedimentasi yang masih tergolong rendah, sehingga
pengerukan/pengambilan sedimen yang dilakukan kurang efisien dan buangan sedimen juga
masih belum bisa dipikirkan secara mendalam.
Pengaruh Sedimentasi Terhadap Kinerja Bendungan Ir. H. Djuanda
Adanya sedimentasi yang ada pada Bendungan Ir. H. Djuanda memiliki pengaruh
terhadap kapasitas tampungan bendungan. Hal ini diketahui berdasarkan adanya penurunan
kapasitas tampungan sebesar 500 juta m3 setelah 40 tahun dioperasikan.

Referensi :
https://www.academia.edu/7692478/Laporan_Kunjungan_ke_Bendungan_Ir._H._Djuanda