Anda di halaman 1dari 5

HUKUMAN CAMBUK

atau dera atau jilid merupakan satu hukum turunan Kitab Suci Alquran yang
menjadi kewajiban bagi muslim dan muslimah seantero alam. Hukuman
cambuk itu dikenakan kepada para pelaku zina ghairu muhshan baik lelaki
maupun perempuan (yang belum menikah) dengan jumlah 100 kali cambuk
(QS. An-Nur: 2). Hukuman ini juga dikenakan sebanyak 80 kali cambuk
kepada penuduh orang berzina, tetapi tidak sanggup menghadirkan empat
orang saksi dengan bukti nyata (QS. An-Nur: 4).
Selain perintah Allah Swt, hukuman cambuk di Aceh juga melaksanakan
kandungan qanun-qanun Aceh seperti Qanun No.12 Tahun 2003 tentang
Khamar dan sejenisnya, Qanun No.13 Tahun 2003 tentang Maisir, Qanun
No.14 Tahun 2003 tentang Khalwat, dan qanun-qanun lainnya. Semua qanun
ini merupakan turunan UU No.44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Keistimewaan Aceh, meliputi bidang agama (bebas menjalankan syariat
Islam untuk Aceh), bidang adat, bidang pendidikan dan bidang peran ulama
dalam pemerintahan Aceh. Ia juga diperkuat oleh UU No.11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh yang juga mengatur tentang pelaksanaan
syariat Islam di Aceh.
Dengan demikian, maka tidak ada alasan bagi siapa pun baik di Indonesia
maupun di dunia untuk menyalahkan implementasi syariat Islam terutama
hukuman cambuk di Aceh. Kalaupun ada maka ia termasuk dalam golongan
orang-orang yang mengedepankan emosional nafsu untuk melawan Allah
dan menentang UU. Kalau ada pendapat orang-orang tertentu yang
menyatakan hukuman cambuk di Aceh melanggar hak asasi manusia (HAM)
dan tidak manusiawi, maka pernyataan tersebut terbalik dan salah kaprah.
Yang dikatakan melanggar HAM adalah apabila sesuatu perbuatan dilakukan
dapat merugikan orang lain atau merusak tubuh badan seseorang tanpa
berdasarkan ketentuan hukum dan UU. Sementara cambuk di Aceh sama
sekali tidak demikian, lagi pun antara HAM yang lahir pada 1948 dengan
syariat Islam dan hukumnan cambuk yang lahir sejak zaman Nabi Ibrahim as
kemudian dilanjutkan oleh Rasulullah saw jauh lebih tua syariat Islam.
HAM lahir dari pikiran-pikiran manusia, sementara syariat Islam dan
hukuman cambuk lahir dari ketentuan Allah sendiri yang menciptakan
manusia termasuk manusia pencipta HAM. Maka bagaimana logis dan
objektif bagi seorang terpelajar berani menyalahkan ketentuan Allah dengan
membenarkan hukum buatan manusia. Yang benar adalah HAM sudah

banyak melanggar syariat Islam, seperti membebaskan zina, membebaskan


minum khamar, membebaskan free sex, free will, membolehkan homosexual
(liwath) dan lesbian, membolehkan kawin sesama lelaki serta sesama
perempuan dan lainnya yang dapat menghilangkan marwah dan martabat
kemanusiaan dan melekat martabat kehewanan.
Patut kita kritisi
Karena itu, patut kita kritisi pernyataan Koordinator KontraS Aceh, Destika
Gilang Lestari, yang menyebutkan Hukuman cambuk merupakan bentuk
hukuman yang kejam, tidak manusiawi, tidak mendidik, dan menimbulkan
efek psikis dan psikologis (acehterkini.com). Pernyataan semisal itu
mengandung nilai kebencian terhadap UU agama (Islam) dan UU negara
Indonesia yang diakui dan sah berlaku di Aceh.
Kalau dikatakan hukum cambuk kejam, maka mana lebih kejam antara
hukum cambuk yang hanya mencambuk orang-orang melanggar hukum
dengan beberapa kali cambuk saja, kemudian bebas untuk mencari rezeki
kepada keluarganya dibandingkan dengan hukum peninggalan Belanda yang
menahan berbulan-bulan dan bertahun-tahun seseorang berbuat salah
sementara anak isterinya di rumah dibiarkan oleh hukum tersebut tiada yang
memberi nafkah?
Kalau dikatakan hukuman cambuk tidak manusiawi, maka mana lebih
manusiawi kalau seorang pemabuk yang menjurus kepada gila dicambuk 40
kali cambuk, kemudian dia sadar dan jadi manusia kembali dibandingkan
seorang pemabuk yang dibiarkan oleh hukum buatan manusia, sehingga
sering membunuh manusia lain karena mabuknya itu? Kalau dikatakan tidak
mendidik; Maka, siapa lebih mendidik antara hukuman cambuk terhadap
kasus qazaf (menuduh orang lain berzina tanpa bisa menghadirkan empat
orang saksi), lalu si penuduh dicambuk 80 kali cambuk berbanding dengan
penuduh tanpa bukti dalam hukum buatan manusia yang oleh para hakim
cenderung memenangkan penuduh karena disuap dengan materi?
Kalau dikatakan menimbulkan efek fisikis dan psikologis, maka pertanyaan
yang muncul adalah mana buktinya hasil cambukan di Aceh menimbulkan
efek fisikis dan psikologis. Semua itu hanya rekayasa belaka karena
sipenuduh sudah terlanjur jahil terhadap hukum Islam, malah sebaliknya
yang terjadi adalah dengan hukuman cambuk banyak pelaku kejahatan yang
langsung sadar dan berjanji tidak mau mengulangi kesalahannya. Bukankah
itu bukti nyata bahwa hukuman cambuk di Aceh merupakan hukuman yang

sangat mendidik, sangat manusiawi, tidak kejam, dan tidak berefek kepada
fisik?
Menurut Destika Gilang Lestari; pengesahan Qanun Hukum Jinayat yang ikut
mengatur hukuman cambuk dan denda emas bagi pelanggar syariat Islam,
mencederai hukum positif dan menghilangkan nilai-nilai keadilan serta
demokrasi di Indonesia, khususnya di Aceh. Ia menilai, berlakunya qanun itu
kepada warga non-muslim dinilai sebagai kemunduran HAM di Aceh.
Dengan berlakunya Qanun Jinayah untuk Aceh yang disahkan DPRA pada 28
September 2014 lalu, dapat memberikan pencerahan kepada umat manusia
bahwa hukum Islam itu jauh lebih objektif dibandingkan hukum buatan
manusia lainnya. Hukum positif itu adalah hukum yang sudah sah berlaku
untuk negara Indonesia, karena hukum Islam sudah sah dan disahkan
berlaku di Aceh sebagai bagian dari wilayah Indonesia, maka hukum Islam di
Aceh otomatis dapat dianggap sejajar dan sama dengan hukum positif dan ia
langsung atau tidak sudah menjadi hukum positif.
Sementara hukum positif yang lama seperti Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP) merupakan hukum peninggalan Belanda yang memang dari
dulunya sudah cedera, tidak lengkap, tidak sempurna. Karenanya bukan
disebabkan berlaku hukum Islam di Aceh lalu membuat hukum positif
Indonesia menjadi cedera, ia memang hukum cedera maka kemana pun
dibawa tetap saja akan cedera sebelum diganti dengan hukum Islam.
Kalau dikatakan dengan berlakunya Qanun Jinayah di Aceh dapat
menghilangkan keadilan serta demokrasi di Indonesia khususnya di Aceh,
maka pernyataan tersebut merupakan halusinasi dan ilusi tanpa bukti.
Sesungguhnya hukum positif itulah yang sering berlaku tidak adil.
Contohnya, ketika seorang koruptor di Medan mengambil harta negara Rp 1
milyar dihukum 3 tahun penjara, sementara koruptor dengan nilai korupsi
yang sama dan cara yang serupa di Jakarta, di Menado, dan di Bali hanya
dihukum 2 tahun, 4 tahun dan 1 tahun penjara; Apakah begini yang
dikatakan sebuah keadilan di Indonesia?
Sedangkan hukum Islam, ketika seorang pezina muhshan dicambuk 100 kali
di Aceh, pezina muhshan di Jakarta, di Bandung, di Malaysia, di Amerika juga
dicambuk 100 kali cambuk tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Ketika
pencuri mencuri harta orang sampai nisab di Aceh dipotong tangannya, lalu
pencuri di Jakarta, di Kalimantan, di Arab Saudi, dan di mana-mana tetap
hukumannya dipotong tangan walaupun tempatnya berbeda. Apakah ini

bukan keadilan yang sangat amat adil dari hukum Islam ciptaan Allah Swt?
Lalu, demokrasi mana yang dilanggar oleh hukum Allah? Sebaliknya,
demokrasi itu sendiri tidak lebih sebagai alat negara-negara kuat untuk
menjajah negara-negara lemah khususnya negara-negara mayoritas muslim.
Sangat amat lembut
Sebagai bahan perbandingan buat penuduh hukuman cambuk di Aceh
kejam, tidak manusiawi, dan melanggar demokrasi. Ketahuilah bahwa
pelaksanaan hukum cambuk di Aceh sangat amat lembut apabila
dibandingkan dengan hukum cambuk yang berlaku di Negara-negara lain di
belahan dunia ini. Di Aceh, proses hukuman cambuk bagi lelaki dalam posisi
berdiri dan bagi perempuan dalam posisi duduk, tidak diikat, tidak dipegang
dan bebas mandiri dan dicambuk di bagian belakang tubuh yang terbalut
dengan pakaian.
Sementara proses cambuk di Malaysia dan Singapura, para tersangka diikat
di tangga yang letaknya miring dalam keadaan berpakaian dengan
punggungnya terbuka. Di bagian punggung yang terbuka itulah dicambuk,
sehingga berwarna merah dan terkadang sampai mengeluarkan darah.
Maka, mana lebih manusiawi hukum cambuk di Aceh dengan hukum cambuk
di luar Aceh? Kalau dikatakan hukum cambuk tidak sesuai dengan HAM dan
demokrasi, maka mengapa hukuman cambuk di Aceh saja yang
dipermasalahkan KontraS. Bagaimana dengan hukum cambuk di Malaysia, di
Singapura, di Afghanistan, di Sudan, di Arab Saudi, di Somalia, dan di manamana di seluruh dunia; Apakah di sana sesuai dengan HAM dan demokrasi?
Islam adalah agama Allah, hukum Islam juga hukum Allah, ketika bangsa
Aceh memeluk Islam berarti memeluk agama Allah yang sah di mata Allah
satu-satunya, dan ketika bangsa Aceh menjalankan hukum Islam bermakna
mereka menjalankan hukum Allah. Allah adalah pencipta langit dan bumi
serta isi keduanya termasuk manusia. Maka sadarilah bahwa kita semua
diciptakan dan milik Allah, sementara HAM, demokrasi dan gender itu
ciptaan manusia yang tidak mengikuti Allah. Ketika kita meninggalkan atau
melawan hukum Islam dengan mengagung-agungkan HAM, demokrasi dan
gender bermakna kita melawan Allah yang telah menciptakan dan
memberikan hidup, rezeki, dan kesehatan kepada kita.
* Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA., Ketua Umum Dewan
Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fak Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry.
Email: diadanna@yahoo.com