Anda di halaman 1dari 15

Pembuatan Bioethanol

March 10, 2010 1 Comment


Disusun oleh Pendy patulasa
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah yang luas danmempunyai berbagai
kekayaan alam yang melimpah. Sumber daya alam minyak bumi adalah salah satu kekayaan
alam yang potensial untuk kepentingan masyarakat. Hasil dari minyak bumi sebagai sumber
energi digunakan untukberbagai kebutuhan masyarakat dan juga merupakan penunjang
kegiatanproduksi. Sehingga minyak bumi merupakan salah satu penunjang perekonomian
negara yang sangat besar. Kemajuan perekonomian sangat dipengaruhi hasil dari minyak
bumi sebagai sumber energi. Pada saat kebutuhan minyak bumi semakin meningkat ,
cadangan minyak bumi ternyata semakin menipis. Sehingga pada saat ini yang terjadi
produksi minyak bumi semakin menurun dan berakibat pada krisis energi, dimana minyak
bumi sebagai sumber energi menjadi barang yang langka dan mahal dimana harga minyak
mentah dunia berkisar pada level US$60 per barel (sumber: Agarwal, Progress in Energy and
Combustion Science 33, 2007). Bahkan menembus US$ 90 per barel (Kompas, 16 Februari
2008). Hal itu disebabkan minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat
terbarukan. Dengan munculnya krisis energi, maka semakin banyak berbagai permasalahan
dibidang energi.
Salah satu sumber energi alternatif yang dihasilkan dari pembuatan minyak nabati kita kenal
adalah biofuel yaitu bioetanol sebagai pengganti bensin. Dengan sumber daya alam nabati
yang sangat melimpah dan dengan kemajuan IPTEK maka dapat dimanfaatkan untuk
pembuatan energi alternatif. Pembuatan bioetanol sebagai energi alternatif untuk menjawab
permasalahan dibidang energi dimana kebutuhan bensin yang meningkat sehingga mendesak
untuk segera diproduksi bioethanol dalam skala besar.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN ETHANOL
Alkohol atau etanol adalah bahan kimia yang banyak digunakan dalam industri baik sebagai
pelarut atau solven dan juga sebagai bahan baku industri kimia yang lain seperti pembuatan
etil asetat. Hampir semua industri memerlukan etanol: farmasi, industri minuman/makanan,
bidang kdokteran, industri kimia dan lain-lain. Pada dua dasa warsa belakang ini, juga banyak
dipakai sebagai bahan bakar yang disebut gasohol yaitu campuran bensin dan ethanol dengan
komposisi 10% etanol dan 90% bensin. Salah satu program pemerintah dalam pemakaian
bioethanol sebagai campuran bensin (disebut bahan bakar gasohol) dalam bidang transportasi
akan meningkatkan pemakain bioethanol di Indonesia. Konsumsi BBM (bensin) untuk
transportasi sekitar 17,17 kilo liter, sementara itu produksi ethanol baru sekitar 1% dari
konsumsi bensin nasional sedangkan target pemerintah dalam pemakaian bioethanol sebesar
5% (Sumber: Dept. Energi dan sumber daya mineral, 2006). Disamping itu pemerintah
merencanakan pemakain bioethanol sebagai sumber bahan baker untuk pembangkit listrik
PLN (Sumber: Tempo 13 Februari 2008). Yang telah cukup lama menggunakan gasohol
secara nasional negara Brazil, di negara asia yang telah mempersiapakan adalah Thailand.
Produksi bioethanol di dunia hanya disuplai oleh beberapa negara : Brazil, Amerika Serikat,
India, Cina, Australia, Cuba, Thailand. Saat ini Brazil merupakan negara yang telah sukses
dalam pengembangan bioethanol dimana industri bioethanol menyumbang 3% GBP,
menyerap lapangan kerja sebanyak 4 juta orang dan berhasil mengembangkan mobil
berbahan bakar ethanol dengan industri automotif terkenal Fiat, Peugeot, VW, GM, Renault,
Ford. Penggunaan bioethanol sebagai bahan bakar automotif di Brazil tidak hanya
memberikan benefit dalam mengurangi ketergantungan pada bensin/BBM dari minyak fosil
tapi juga
memberikan keuntungan : membuka lapangan pekerjaan bagi petani, memanfaatkan lahan
pertanian menjadi lebih produktif disamping mengurangi efek samping pencemaran
lingkungan dan global warming (sumber: Oswaldo Lucon et al., Bioethanol The Way
Forward, 2006) . Ethanol yang dipakai untuk bahan bakar atau campuran bahan bakar
memerlukan konsentrasi yang tinggi (mendekati 100%). Untuk industri farmasi atau untuk
keperluan sterilisasi di bidang kedokteran, alkohol atau ethanol yang dipakai tidak perlu
konsentrasi yang tinggi (tidak perlu mendekati 100%), akan tetapi konsentrasi yang

dibutuhkan kurang lebih sekitar 70-80% saja dengan impuritas air. Etanol untuk keperluan ini
dikategorikan sebagai alkohol food grade, untuk itu mulai bahan baku, bahan pembantu dan
juga pengencer bahan baku (yang berupa air) serta bahan aditive yang dipakai haruslah yang
food grade, baik pada saat fermentasi (proses pembuatan ethanol) maupun pada saat distilasi
(proses pemurnian ethanol).
Produksi bioetanol dari bahan baku molases meliputi beberapa tahapan proses
sbb:
1. Pengolahan awal
Bahan baku yang mudah dikonversikan menjadi alkohol adalah bahan yang mengandung
gula. Pada rancangan ini digunakan bahan baku molasses (tetes). Untuk memproduksi
ethanol 4 Kiloliter/hari dibutuhkan bahan baku molasses sebanyak 9000 L/hari. Bahan baku
tetes diperoleh dari hasil samping pabrik gula. Bahan baku molasses dengan kadar minimal
50 Brix bisa digunakan untuk memproduksi alkohol. Bahan baku molases selain digunakan
untuk proses fermentasi juga digunakan untuk pembiakan yeast (seed fermenter). Pada proses
pembuatan adonan/bibit dilakukan dengan pengenceran molasses, penambahan pupuk dan
asam sulfat.
2. Fermentasi
Fermentasi dilakukan dengan menambahkan yeast pada bahan yang sudah dilakukan
pengolahan awal dan reaksi berlangsung 50 jam. Konversi alkohol menghasilkan mesh yang
mengandung etanol degan kadar 10-12 %. Proses peragian ini berjalan baik pada suhu 50 C,
dan dilakukan di dalam reaktor fermenter yang dilengkapi dengan pendingin untuk mencegah
kenaikan suhu saat fermentasi berlangsung.
3. Distilasi
Distilasi ini adalah tahapan yang sangat penting pada produksi bioetanol dimana proses
pemurnian etanol dilakukan dengan pemanasan. Pada tahapan ini etanol dimurnikan sampai
mencapai grade yang dinginkan. Pemurnian etanol dengan distilasi ini melalui dua tahapan
dimana setiap alat distilasi dilengkapi dengan unit pendukung seperti condensor, heat
exchanger termasuk boiler yang digunakan untuk membangkitkan uap yang digunakan pada

distilasi ini. Pada distilasi pertama, untuk pemanasan digunakan uap bersuhu 120-140 C
yang dimasukkan langsung (open steam) untuk memisahkan etanol dari komponen organik,
katalis, dan impuritas yang lain sampai kemurniannya mencapai 45 60% . Distilasi kedua
memisahkan etanol dari impuritas lain, seperti besi, magnesium, minyak fusel dll. Pada hasil
atas diperoleh etanol dengan kadar sekitar 96 %. Tangki tangki penampung (storage)
disiapkan untuk menampung produk ethanol disamping tangki untuk menampung bahan baku
molasses.
2.2 KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR ETHANOL
Salah satu bahan bakar yang dapat digunakan untuk menggantikan bensin adalah ethanol.
Ethanol yang sering juga disebut etil alkohol rumus kimianya adalah , bersifat cair pada
temperature kamar. Ethanol dapat dibuat dari proses pemasakan, fermentasi dan distilasi
beberapa jenis tanaman seperti tebu, jagung, singkong atau tanaman lain yang kandungan
karbohidatnya tinggi. Bahkan dalam
beberapa penelitian ternyata ethanol juga dapat dibuat dari selulosa atau limbah hasil
pertanian (biomassa). Sehingga ethanol memiliki potensi cukup cerah
sebagai pengganti bensin. Bebarapa karakteristik bahan bakar yang
mempengaruhi kerja mesin bensin adalah :
Bilangan Oktan
Ethanol memiliki angka oktan yang lebih tinggi daripada bensin yaitu research octane 108
dan motor octane 92. Angka oktan pada bahan bakar mesin Otto menunjukkan
kemampuannya menghindari terbakarnya campuran udara bahan bakar sebelum waktunya.
Jika campuran udara bahan baker terbakar sebelum waktunya akan menimbulkan fenomena
knocking yang berpotensi menurunkan daya mesin, bahkan bisa menimbulkan kerusakan
serius pada komponen mesin.
Nilai Kalor
Nilai kalor suatu bahan bakar menunjukkan seberapa besar energi yang terkandung
didalamnya. Nilai kalor ethanol sekitar 67% nilai kalor bensin, hal ini karena adanya oksigen

dalam struktur ethanol. Berarti untuk mendapatkan energi yang sama jumlah ethanol yang
diperlukan akan lebih besar. Adanya oksigen dalam ethanol juga mengakibatkan campuran
menjadi lebih miskin/lean jika dibandingkan dengan bensin, sehingga campuran harus
dibuat lebih kaya untuk mendapatkan unjuk kerja yang diinginkan.
Volatility
Volatility suatu bahan bakar menunjukkan kemampuannya untuk menguap. Sifat ini penting,
kerena jika bahan bakar tidak cepat menguap maka bahan bakar akan sulit tercampur dengan
udara pada saat terjadi pembakaran. Zat yang sulit menguap tidak dapat digunakan sebagai
bahan bakar mesin bensin meskipun memiliki nilai kalor yang besar. Namun demikian bahan
bakar yang terlalu mudah menguap juga berbahaya karena mudah terbakar.
Panas Laten Penguapan
Ethanol memiliki panas penguapan (heat of vaporization) yang tinggi. Ini berarti ketika
menguap ethanol akan memerlukan panas yang lebih besar, dimana panas ini akan diserap
dari silinder sehingga dikhawatirkan temperaturnya puncak akan rendah. Padahal agar
pembakaran terjadi secara efisien maka temperatur mesin tidak boleh terlalu rendah. Pada
kenyataannya karena pembakaran berlangsung sangat cepat panas tersebut tidak akan sempat
terserap, sehingga dengan bahan bakar ethanol penurunan temperatur hanya berkisar antara
20-40 F.
Emisi gas buang
Ethanol memiliki satu molekul OH dalam susunan molekulnya. Oksigen yang inheren
didalam molekul ethanol tersebut membantu penyempurnaan pembakaran antara campuran
udara bahan bakar dalam silinder. Semakin sempurna pembakaran maka emisi UHCnya akan
semakin rendah. Ditambah dengan rentang keterbakaran (flammability) yang lebar yakni 4.319 vol dibandingkan dengan gasoline yang memiliki rentang keterbakaran 1.4 7.6 vol,
pembakaran campuran udara ethanol menjadi lebih baik. Hal inilah yang dipercaya sebagai
factor penyebab relatif rendahnya emisi CO dibandingkan dengan pembakaran udaragasolin..
Karena temperatur puncak dalam silinder lebih rendah dibanding dengan pembakaran bensin,
maka emisi NO, yang dalam kondisi atmosfer akan membentuk NO2 yang bersifat racun,
juga akan turun. Selain itu pendeknya rantai karbon pada ethanol menyebabkan emisi UHC

pada pembakaran ethanol relative lebih rendah dibandingkan dengan bensin yakni berselisih
hingga 130 ppm (Yuksel dkk, 2004)
2.3 CAMPURAN ETHANOL DENGAN BENSIN
Pemakaian ethanol murni secara langsung pada mesin bensin akan sulit karena diperlukan
banyak modifikasi. Pada temperatur rendah ethanol akan sulit terbakar, sehingga dengan
ethanol murni mesin akan sulit starting. Pencampuran ethanol dengan bensin akan
mempermudah starting pada temperatur rendah. Sifat ethanol murni yang korosif dapat
merusak komponen mesin seperti alumunium, karet , timah, plastik dll. Mencampur ethanol
dengan bensin akan menghasilkan gasohol. Komposisi campuran dapat bervariasi. Selama ini
pabrikan mobil Ford telah mengembangkan mobil berbahan bakar ethanol mulai dari E20
sampai E85, E20 berarti 20% ethanol dan 80% bensin. Keuntungan dari pencampuran ini
adalah bahwa ethanol cenderung akan menaikkan bilangan oktan dan mengurangi emisi CO2.
Berdasarkan penelitian B2TP BPPT gasohol dengan porsi bioethanol hingga 20% bisa
langsung digunakan pada mesin otomotif tanpa menimbulkan masalah teknis dan sangat
ramah lingkungan. Kadar C dari hasil uji pada rpm 2500 untuk gasohol 20% tercatat 0.76%
CO, sedangkan premium 3.66% dan pertamax 2.85. Satu hal yang harus diteliti lagi adalah
pada kondisi tertentu bensin agak sulit bercampur dengan ethanol karena molekul ethanol
yang bersifat polar akan sulit tercampur secara merata dengan bensin yang bersifat non polar
terutama dalam kondisi cair. Dan ethanol juga cenderung menyerap air yang juga bersifat
polar.
2.4 PENGARUH PEMAKAIAN ETHANOL TERHADAP UNJUK KERJA

MESIN

Mesin yang berbahan bakar alkohol secara teoritis akan memiliki unjuk kerja yang lebih
tinggi atau minimal sama dengan yang berbahan baker bensin. Hal ini disebabkan karena
ethanol memiliki bilangan oktan yang lebih tinggi sehingga memungkinkan penggunaan rasio
kompresi yang lebih tinggi pada mesin Otto. Korelasi antara efisiensi dengan rasio kompresi
berimplikasi pada fakta bahwa bahwa mesin Otto berbahan bakar ethanol (sebagian atau
seluruhnya ) memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar bensin
(Yuksel dkk, 2004), (Al-Baghdadi, 2003). Untuk rasio campuran ethanol :bensin mencapai
60:40 tercatat peningkatan efisiensi hingga 10% ( Yuksel dkk, 2004). Tingkat keekonomisan
suatu bahan bakar secara langsung tergantung dari seberapa kaya campuran udara bahan
bakarnya dan hal ini tergantung dari seberapa besar ukuran main jet pada karburator . Ethanol

memerlukan campuran yang lebih kaya daripada bensin, tetapi karena bilangan oktannya
yang lebih tinggi maka pembakaran ethanol lebih efisien. Untuk mengetahui secara detail
tingkat keekonomisan ethanol jika dibandingkan dengan bensin tentunya diperlukan kajian
dan penelitian yang lebih mendalam. Dari penelitian B2TP BPPT konsumsi bahan bakar
dengan menggunakan gasohol 20% angkanya mecapai 23.25 gr/jam, sedangkan pada
premium mencapai 23 gr/jam dan pertamax 20.57 gr/jam.
2.5 MODIFIKASI MESIN
Secara umum ada beberapa modifikasi yang harus dilakukan pada mesin berbahan bakar
ethanol atau gasohol, salah satunya adalah karburator. Diameter main jet orifice menunjukkan
seberapa miskin atau kaya campuran yang akan masuk ruang bakar, semakin kecil lubangnya
campuran semakin miskin. Karena ethanol memerlukan campuran yang lebih kaya maka
lubang tersebut harus diperbesar. Selain itu mungkin akan diperlukan tambahan alat yang
memungkinkan pencampuran ehanol dengan bensin agar lebih merata. Untuk memperoleh
keuntungan dari sifat antiknocking yang dimiliki ethanol maka ignition timing harus diubah.
Jika pada umumnya mesin yang 101 berbahan bakar bensin waktu penyalaan adalah 8-10
sebelum TMA, karena ethanol memiliki bilangan oktan lebih tinggi maka ignition timing
dapat dimajukan.
Masih terkait dengan bilangan oktan hal lain yang dapat dimodifikasi adalah perbandingan
kompresi. Agar lebih optimal perbandingan kompresi dapat dinaikkan menjadi 14-15 atau
minimal 12. Namun pengubahan perbandingan kompresi juga memperhatikan kekuatan
material lain seperti connecting rod, bearing, dll.
2.6 KENDALA DAN UPAYA PENGEMBANGAN PRODUKSI BIO-ETHANOL
Produksi ethanol/bio-ethanol harus mempertimbangkan keekonomiannya dari dua sisi
kepentingan, yaitu sisi produsen ethanol/bio-ethanol yang memerlukan bahan baku produksi
tanaman dengan harga rendah, dan dari segi petani penghasil bahan baku yang menginginkan
produksi tanamannya dibeli dengan harga tinggi dan biaya produksi paling rendah. Hal
tersebut disebabkan nilai produksi tanaman adalah sebagai biaya pengeluaran untuk
pembelian bahan baku bagi produsen ethanol/bio-ethanol. Oleh karena itu, keekonomian
program pemanfaatan ethanol/bio-ethanol untuk bahan bakar kendaraan bukan saja

ditentukan oleh harga bahan bakar premium saja, tetapi ditentukan pula oleh harga bahan
baku pembuatan ethanol/bio-ethanol dalam hal ini produksi tanaman.
2.7 Kendala Pengembangan Produksi Bio-Ethanol
Dalam memenuhi program pemanfaatan ethanol/bio-ethanol untuk bahan bakar kendaraan,
pemerintah telah membuat road map teknologi bio-ethanol, yaitu pada periode tahun 20052010 dapat memanfaatkan bio-ethanol sebesar 2% dari konsumsi premium (0.43 juta kL),
kemudian pada periode tahun 2011-2015, persentase pemanfaatan bio-ethanol ditingkatkan
menjadi 3% dari konsumsi premium (1.0 juta kL), dan selanjutnya pada periode tahun 20162025, persentase pemanfaatan bio-ethanol ditingkatkan menjadi 5% dari konsumsi premium
(2.8 juta kL). Namun untuk merealisasikan road map teknologi bio- Prospek Pengembangan
Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak ethanol harus melibatkan banyak pihak baik
dari sisi Pemerintah maupun Swasta.
Mengingat sampai saat ini belum ada sinergi yang diwujudkan dalam satu
dokumen rencana strategis yang komprehensif dan terpadu, sehingga akan timbul
beberapa kendala yang harus diatasi. Beberapa kendala tersebut, meliputi:
Rencana pengembangan lahan untuk tanaman penghasil bahan baku bioethanol
yang dibuat oleh Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan belum terkait langsung
dengan rencana pengembangan bioethanol di sektor energi.
Rencana Pemerintah dalam pengembangan energi dan instrument kebijakan yang
diperlukan dalam pengembangan bio-ethanol belum terkait langsung dengan rencana dari
para pihak pelaku bisnis bio-ethanol dan pengelola lahan pertanian yang sangat luas untuk
menghasilkan bahan baku; dan
Ketidakpastian resiko investasi dalam komersialisasi pengembangan bioethanol
dan belum terbentuknya rantai tata niaga bio-ethanol. Agar kendala tersebut dapat diatasi
harus didukung adanya kebijakan Pemerintah mengenai pertanian dan kehutanan yang terkait
dengan peruntukan lahan, kebijakan insentif bagi pengembangan bio-ethanol, tekno-ekonomi

produksi dan pemanfaatan bio-ethanol, sehingga ada kejelasan informasi bagi pengusaha
yang tertarik dalam bisnis bio-ethanol.
3.2 Upaya Pengembangan Bio-Ethanol
Dalam upaya pengembangan bio-ethanol diperlukan adanya beberapa langka yang harus
dilakukan, yaitu:
Menyusun agenda bersama untuk mendapatkan konsensus terhadap program yang
komprehensif dan terpadu agar supaya memberikan hasil yang konkret dan maksimal, antara
lain melalui penetapan sasaran dan upaya pencapaiannya untuk produksi, distribusi dan
pemakaian bio-ethanol serta penjabaran agenda dan program implementasi yang konkret.
Melakukan inventarisasi dan evaluasi secara rinci berbagai peluang dan tantangan untuk
investasi bio-ethanol, khususnya berbagai insentif yang diperlukan
Membangun rantai tata niaga bio-ethanol secara bertahap yang difasilitasi oleh Pemerintah
Menyatukan semua rencana pengembangan bio-ethanol dari berbagai pihak
terkait dalam suatu Blueprint Pengembangan Bio-fuel yang dapat dijadikan pegangan bagi
para stakeholder.
BAB III
PROSES PEMBUATAN BIOETHANOL
Produksi ethanol/bio-ethanol (alkohol) dengan bahan baku tanaman yang mengandung pati
atau karbohydrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut.
Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat
pembantu yang dipergunakan, yaitu Hydrolisa asam dan Hydrolisa enzyme. Berdasarkan
kedua jenis hydrolisa tersebut, saat ini hydrolisa enzyme lebih banyak dikembangkan,
sedangkan hydrolisa asam (misalnya dengan asam sulfat) kurang dapat berkembang,
sehingga proses pembuatan glukosa dari pati-patian sekarang ini dipergunakan dengan
hydrolisa enzyme. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air
dilakukan dengan penambahan air dan enzyme; kemudian dilakukan proses peragian atau

fermentasi gula menjadi ethanol dengan menambahkan yeast atau ragi. Reaksi yang terjadi
pada proses produksi ethanol/bio-ethanol secara sederhana ditujukkan pada reaksi 1 dan 2.
H2O
(C6H10O5)n -! N C6H12O6 (2)
enzyme
(pati) (glukosa)
(C6H12O6)n ! 2 C2H5OH + 2 CO2. (3)
yeast (ragi)
(glukosa) (ethanol)
Selain ethanol/bio-ethanol dapat diproduksi dari bahan baku tanaman yang
mengandung pati atau karbohydrat, juga dapat diproduksi dari bahan tanaman yang
mengandung selulosa, namun dengan adanya lignin mengakibatkan proses penggulaannya
menjadi lebih sulit, sehingga pembuatan ethanol/bio-ethanol dari selulosa tidak perlu
direkomendasikan. Meskipun teknik produksi ethanol/bioethanol merupakan teknik yang
sudah lama diketahui, namun ethanol/bio-ethanol untuk bahan bakar kendaraan memerlukan
ethanol dengan karakteristik tertentu yang memerlukan teknologi yang relatif baru di
Indonesia antara lain mengenai neraca energi (energy balance) dan efisiensi produksi,
sehingga penelitian lebih lanjut mengenai teknologi proses produksi ethanol masih perlu
dilakukan. Secara singkat teknologi proses produksi ethanol/bio-ethanol tersebut dapat dibagi
dalam tiga tahap, yaitu gelatinasi, sakharifikasi, dan fermentasi.
Proses Gelatinasi
`Dalam proses gelatinasi, bahan baku ubi kayu, ubi jalar, atau jagung dihancurkan dan
dicampur air sehingga menjadi bubur, yang diperkirakan mengandung pati 27-30 persen.
Kemudian bubur pati tersebut dimasak atau dipanaskan selama 2 jam sehingga berbentuk gel.
Proses gelatinasi tersebut dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

Bubur pati dipanaskan sampai 130oC selama 30 menit, kemudian didinginkan sampai
mencapai temperature 95oC yang diperkirakan memerlukan waktu sekitar jam. Temperatur
95oC tersebut dipertahankan selama sekitar 1 jam, sehingga total waktu yang dibutuhkan
mencapai 2 jam.
Bubur pati ditambah enzyme termamyl dipanaskan langsung sampai mencapai temperatur
130oC selama 2 jam. Gelatinasi cara pertama, yaitu cara pemanasan bertahap mempunyai
keuntungan, yaitu pada suhu 95oC aktifitas termamyl merupakan yang paling tinggi,
sehingga mengakibatkan yeast atau ragi cepat aktif. Pemanasan dengan suhu tinggi (130oC)
pada cara pertama ini dimaksudkan untuk memecah granula pati, sehingga lebih mudah
terjadi kontak dengan air enzyme. Perlakuan pada suhu tinggi tersebut juga dapat berfungsi
untuk sterilisasi bahan, sehingga bahan tersebut tidak mudah terkontaminasi. Gelatinasi cara
kedua, yaitu cara pemanasan langsung (gelatinasi dengan enzyme termamyl) pada
temperature 130oC menghasilkan hasil yang kurang baik, karena mengurangi aktifitas yeast.
Hal tersebut disebabkan gelatinasi dengan enzyme pada suhu 130oC akan terbentuk triphenyl-furane yang mempunyai sifat racun terhadap yeast. Gelatinasi pada suhu tinggi
tersebut juga akan berpengaruh terhadap penurunan aktifitas termamyl, karena aktifitas
termamyl akan semakin menurun setelah melewati suhu 95oC. Selain itu, tingginya
temperature tersebut juga akan mengakibatkan half life dari termamyl semakin pendek,
sebagai contoh pada temperature 93oC, half life dari termamyl adalah 1500 menit, sedangkan
pada temperature 107oC, half life termamyl tersebut adalah 40 menit (Wasito, 1981). Hasil
gelatinasi dari ke dua cara tersebut didinginkan sampai mencapai 55o C, kemudian ditambah
SAN untuk proses sakharifikasi dan selanjutnya difermentasikan dengan menggunakan yeast
(ragi) Saccharomyzes ceraviseze.
Fermentasi
Proses fermentasi dimaksudkan untuk mengubah glukosa menjadi ethanol/bio-ethanol
(alkohol) dengan menggunakan yeast. Alkohol yang diperoleh dari proses fermentasi ini,
biasanya alkohol dengan kadar 8 sampai 10 persen volume. Sementara itu, bila fermentasi
tersebut digunakan bahan baku gula (molases), proses pembuatan ethanol dapat lebih cepat.
Pembuatan ethanol dari molases tersebut juga mempunyai keuntungan lain, yaitu
memerlukan bak fermentasi yang lebih kecil. Ethanol yang dihasilkan proses fermentasi
tersebut perlu ditingkatkan kualitasnya dengan membersihkannya dari zat-zat yang tidak
diperlukan.

Alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi biasanya masih mengandung gasgas antara
lain CO2 (yang ditimbulkan dari pengubahan glucose menjadi ethanol/bio-ethanol) dan
aldehyde yang perlu dibersihkan. Gas CO2 pada hasil fermentasi tersebut biasanya mencapai
35 persen volume, sehingga untuk memperoleh ethanol/bio-ethanol yang berkualitas baik,
ethanol/bio-ethanol tersebut harus dibersihkan dari gas tersebut. Proses pembersihan
(washing) CO2 dilakukan dengan menyaring ethanol/bio-ethanol yang terikat oleh CO2,
sehingga
dapat diperoleh ethanol/bio-ethanol yang bersih dari gas CO2). Kadar ethanol/bio-ethanol
yang dihasilkan dari proses fermentasi, biasanya hanya mencapai 8 sampai 10 persen saja,
sehingga untuk memperoleh ethanol yang berkadar alkohol 95 persen diperlukan proses
lainnya, yaitu proses distilasi. Proses distilasi dilaksanakan melalui dua tingkat, yaitu tingkat
pertama dengan beer column dan tingkat kedua dengan rectifying column. Definisi kadar
alkohol atau ethanol/bio-ethanol dalam % (persen) volume adalah volume ethanol pada
temperatur 15oC yang terkandung dalam 100 satuan volume larutan ethanol pada temperatur
tertentu (pengukuran). Berdasarkan BKS Alkohol Spiritus, standar temperatur pengukuran
adalah 27,5o C dan kadarnya 95,5% pada temperatur 27,5 o C atau 96,2% pada temperatur
15o C (Wasito, 1981).
Pada umumnya hasil fermentasi adalah bio-ethanol atau alkohol yang mempunyai kemurnian
sekitar 30 40% dan belum dpat dikategorikan sebagai fuel based ethanol. Agar dapat
mencapai kemurnian diatas 95% , maka lakohol hasil fermentasi harus melalui proses
destilasi.
Distilasi :
Sebagaimana disebutkan diatas, untuk memurnikan bioetanol menjadi berkadar lebih dari
95% agar dapat dipergunakan sebagai bahan bakar, alkohol hasil fermentasi yang mempunyai
kemurnian sekitar 40% tadi harus melewati proses destilasi untuk memisahkan alkohol
dengan air dengan memperhitungkan perbedaan titik didih kedua bahan tersebut yang
kemudian diembunkan kembali.
Untuk memperoleh bio-ethanol dengan kemurnian lebih tinggi dari 99,5%

atau yang umum disebut fuel based ethanol, masalah yang timbul adalah sulitnya
memisahkan hidrogen yang terikat dalam struktur kimia alkohol dengan cara destilasi biasa,
oleh karena itu untuk mendapatkan fuel grade ethanol dilaksanakan pemurnian lebih lanjut
dengan cara Azeotropic destilasi.
BAB IV
KESIMPULAN
1. Alkohol/bio-ethanol dapat diproduksi dari tanaman yang mengandung pati atau
karbohydrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larutair.
Proses pembuatan glukosa dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan,yaitu
Hydrolisa asam dan Hydrolisa enzyme. Selanjutnya dilakukan proses peragian ataufermentasi
gula menjadi ethanol dengan menambahkan yeast atau ragi.
2. Keekonomian program pemanfaatan ethanol/bio-ethanol untuk bahan bakar kendaraan
bukan saja ditentukan oleh harga bahan bakar premium saja, tetapi ditentukan pula oleh harga
bahan baku pembuatan ethanol/bio-ethanol, oleh karenanya produksi ethanol/bioethanol
harus mempertimbangkan keekonomiannya dari dua sisi kepentingan, yaitu sisi produsen
ethanol/bio-ethanol dan dari segi petani penghasil bahan baku.
3. Sampai saat ini belum ada sinergi yang diwujudkan dalam satu dokumen rencana strategis
yang komprehensif dan terpadu, sehingga akan timbul beberapa kendala yang harus
diselesaikan. Namun agar kendala tersebut dapat diatasi harus didukung adanya kebijakan
Pemerintah mengenai pertanian dan kehutanan yang terkait dengan peruntukan lahan,
kebijakan insentif bagi pengembangan bio-ethanol, tekno-ekonomi produksi dan pemanfaatan
bio-ethanol, sehingga ada kejelasan informasi bagi pengusaha yang tertarik dalam bisnis bioethanol.
4. Karena ethanol memiliki angka oktan yang lebih tinggi daripada bensin maka
perbandingan kompresi yang bisa dipakai juga lebih tinggi, dan efisiensi thermal teoritisnya
akan lebih tinggi, sehingga secara teoritis pencampuran ethanol dengan bensin akan
meningkatkan efisiensi mesin.

5. Dari sifat fisisnya ethanol dapat terbakar lebih sempurna, sehingga gas buang lebih ramah
lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Arismunandar, Wiranto, 2000, Penggerak Mula: Motor Bakar Torak, Penerbit ITB,
Edisi kelima cetakan kesatu, Bandung.
2. Arends, BPM., dan Barendschot, H. ,2000,Motor Bensin, Penerbit Erlangga Jakarta.
3. Cengel, Yunus A., dan Boles, Michael A., 1994,Thermodynamic: AnEngineering
Approach,Mc. Graw-Hill Inc., United State of America.
4. Anonim, 2004, Petunjuk Praktikum Motor Bakar, Laboratorium Konversi Energi ,
JurusanTeknik Mesin, Fakultas Teknik UGM.
5. Indartono, Yuli, 2005, Bio-ethanol Alternatif Energi Terbarukan: Kajian Prestasi
Mesin dan Implementasi di Lapangan,http:/www.energi.lipi.go.id.
6. www. Wikipedia.com, Alcohol Fuels.
7. www.afdc.doe.gov.
8. www.energi.lipi.go.id
9. www.ethanol.org
10. http://journeytoforever.org/biofuel_library/ethano
11.

BPPT, Kajian Lengkap Prospek Pemanfaatan Biodiesel Dan BioethanolPada

SektorTransportasi Di Indonesia. 2005.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi


Bahan Bakar Minyak
12. Balai Besar Teknologi Pati-BPPT, Kelayakan Tekno-Ekonomi Bio-Ethanol Sebagai
Bahan Bakar Alternatif Terbarukan, 27 Januari 2005.
13. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Blue Print Pengelolaan Energi Nasional
2005-2025, Pola Pikir Pengelolaan Energi Nasional, 2005.

14 . Ir. Sutijastoto, MA, Kebijakan Energi Mix, Juni 2005.