Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI

A. Pengertian
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana
klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu
penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan
yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren:
persepsi palsu (Maramis, 2005).
Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan
baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat
menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata
lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya
dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2003).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah
(Stuart, 2007).
Kesimpulannya bahwa halusinasi adalah persepsi klien melalui
panca indera terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan
yang nyata.
B. Jenis-Jenis Halusinasi
Halusinasi dapat diklasifikasikan menjadi sepuluh yaitu (Maramis,
2005)
1) Halusinasi Pengelihatan (visual, optic) : stimulus visual dalam
bentuk kiiasan cahaya, gambar, geometris, gambar kartoon,
bayangan rumit atau kompleks. Bayangan bisa menyenangkan
atau menakutkan seperti melihat monster.
2) Halusinasi pendengaran (audiotory) : mendengar suara-suara
atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk
kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas
menyebut klien, sampai percakapan lengkap antara dua orang
atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran

yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien


disuruh

untuk

melakukan

sesuatu

kadang-kadang

dapat

membahayakan.
3) Halusinasi Penciuman (olfaktorik) : membaui bau bauan tertentu
seperti bau darah, urin atau feses, umumnya bau-bauan yang
tidak menyenangkan.
4) Halusinasi Pengecap (gustatorik) : merasa/mengecap sesuatu
seperti rasa darah, urin atau feses.
5) Halusinasi Peraba (taktil) :

mengalami

nyeri

atau

ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Merasa diraba,


disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada ulat bergerak dibawah
kulit.
6) Halusinasi Kinestik : merasa badannya bergerak dalam suatu
ruangan, atau anggota tubuhnya bergerak.
7) Halusinasi Visceral : perasaan tertentu timbul dalam tubuhnya.
8) Halusinasi hipnagogik : terdapat ada kalanya pada seseorang
yang normal, tepat sebelum tertidur, sensori persepsi bekerja
salah.
9) Halusinasi hipnopompik : seperti pada no.8 teteai terjadi setelah
terbangun sama sekali dari tidurnya. Disamping itu ada pola
pengalaman halusinasi dalam impian yang normal.
10) Halusinasi histerik : timbul pada saat histerik karena konflik
emosional.
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang ditimbulkan pada individu yang mengalami
halusinasi menurut Stuart dan Laraia (2001) :
1. Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah,
kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada
hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress.
Cara ini menolong untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol
kesadarannya dan mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi
meningkat.
Perilaku klien :
a Tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai
b Menggerakkan bibir tanpa bersuara
c Pergerakan mata cepat

Respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan

halusinasinya dan suka menyendiri.


2. Fase Kedua / condemning / halusinasi menjadi menjijikkan
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman
internal dan eksternal, klien berada pada tingkat listening pada
halusinasi. Pemikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara
dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas klien
takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu
mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi
dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang
lain.
Perilaku Pasien :
a. Meningkatnya tanda-tanda system syaraf otonom akibat
ansietas otonom akibat ansietas seperti peningkatan denyut
jantung,pernafasan, dan tekanan darah.
b. Rentang perhatian menyempit.
c. Asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dan realita.
3. Fase Ketiga (Controlling)
Halusinasi menonjol, menguasai dan mengontrol pasien menjadi
terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi
kesenangan dan rasa aman yang sementara.
Perilaku Pasien :
a. Kemauan yang dikendalikan halusinasi akan lebih diikuti.
b. Kesukaran berhubungan dengan orang lain.
c. Rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit.
d. Adanya tanda-tanda fisik ansietas berat : berkeringat, tremor,
tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat (Conquerting)
Pasien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari
kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan
berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi, pasien
tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk
dengan halusinasinya. Pasien mungkin berada dalam dunia yang

menakutkan dalam waktu yang singkat, beberapa jam atau


selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.
Perilaku Pasien :
a. Perilaku teror akibat panik.
b. Potensi kuat suicide (bunuh diri) atau homicide (membunuh
orang lain)
c. Aktivitas fisik merefleksikan isi halusinasi seperti perilaku
kekerasan, agitasi, menarik diri, atau katatonia.
d. Tidak mampu merespon terhadap perintah yang kompleks.
e. Tidak mampu berespon lebih dari satu orang.
D. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi pada halusinasi antara lain :
a. Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya
kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu
mandiri sejak kecil , mudah frustasi , hilang percaya diri , rentan
terhadap stres.
b. Faktor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi
akan merasa disingkirkan , kesepian , dan tidak percaya pada
lingkungannya.
c. Faktor biokimia
Adanya stres yang berlebihan dialami seseorang maka dalam
tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia. Akibatnya stres yang berkepanjangan menyebabkan
teraktivasi neurotransmiter otak.
d. Teori psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggungjawab mudah
terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh
terhadap ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan
tidak tepat.
e. Teori genetik dan pola asuh
Anak sehat yang diasuh oleh orang tua skizofrenia cenderung
mengalami skizofrenia. Faktor keluarga menunjukkan hubungan
yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

2. Faktor Predisposisi
Kaji gejala-gejala pencetus neurobiologis meliputi :
1) Kesehatan : nutrisi kurang, kurang tidur, kelelahan, infeksi ,obat
ssp, hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
2) Lingkungan : lingkungan yang memasuki, masalah dirumah
tangga, sosial, tekanan kerja, kurangnya dukungan sosial,
kehilangan kebebasan hidup.
3) Sikap/ perilaku merasa tidak mampu( harga diri rendah), putus asa
merasa gagal, kehilangan rendah diri, merasa malang, prilaku
agresif, perilaku kekerasab, ketidakadekuatan pengobatan.

E. Rentang Respon Neurobiologis


Menurut Stuart & Sundeen (1998) Halusinasi merupakan salah satu
respon

maladaptive

individu

yang

berada

dalam

rentang

respon

neurobiologist. Rentang respon neurobiologist dari keadaan persepsi adaptif


hingga persepsi maladaptive, dapat dilihat pada bagian di bawah ini.

Respon Adaptif

Respon Transisi

Respon Maladaftive

Pikiran Logis

Pikiran kadang
menyimpang

Kelainan Pikiran/ Delusi

Persepsi akurat

Ilusi

Halusinasi

Emosi Konsisten dengan


pengalaman

Reaksi emosional berlebihanKetidakmampuan untuk


atau kurang
mengalami emosi

Perilaku sesuai

Perilaku ganjil

Ketidakberaturan perilaku

Hubungan Sosial

Menarik diri

Isolasi Sosial

Respon adaftif merupakan respon yang masih dapat diterima oleh normanorma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku di masyarakat dan
individu dalam menyelesaikan masalahnya, dengan kata lain respon adaptif adalah
respon atau masalah yang masih dapat di toleransi atau masih dapat di selesaikan
oleh kita sendiri dalam batas yang normal. Adapun bagian bagian dari respon
adaptif adalah :
1. Pikiran logis
Pendapat atau pertimbangan yang dapat diterima akal.
2. Persepsi akurat
Pandangan dari seseorang tentang suatu peristiwa secara cermat.
3. Emosi konsisten dengan pengalaman
Kemantapan perasaan jiwa sesuai dengan peristiwa yang pernah dialami.
4. Perilaku sesuai
Kegiatan individu atau sesuatu yang berkaitan dengan individu tersebut
diwujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan yang tidak bertentangan
dengan moral.
5. Hubungan sosial
Hubungan seseorang dengan orang lain dalam pergaulan di tengah-tengah
masyarakat.
Respon transisi merupakan respon diantara adaptif dan maladaptive.
Adapun rentang respon transisi adalah :
1. Pikiran kadang menyimpang
Kegagalan dalam mengambil kesimpulan
2. Ilusi
Persepsi atau respon yang salah terhadap stimulus sensori.
3. Reaksi emosi berlebihan atau berkurang
Emosi yang diekspresikan dengan sikap yang tidak sesuai.
4. Perilaku aneh atau tak lazim
Perilaku aneh yang tidak enak dipandang, membingungkan, kesukaran
mengolah dan tidak kenal orang lain.
5. Menarik diri

Perilaku menghindar dari orang lain.


Sedangkan Respon maladaptif merupakan respon yang diberikan individu
dalam menyelesaikan masalahnya menyimpang dari norma- norma dan
kebudayaan suatu tempat atau dengan kata lain di luar batas individu tersebut.
Adapun rentang maladaftive adalah :
1. Kelainan Pikiran/ Delusi
Keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan walau tidak
diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita sosial.
2. Halusinasi
Persepsi yang salah terhadap rangsang.
3. Ketidakmampuan untuk kontrol emosi
Ketidakmampuan atau menurunnya kemampuan untuk mengalami
kesenangan, kebahagiaan, keakraban dan kedekatan.
4. Ketidakteraturan perilaku
Ketidakselarasan antara perilaku dan gerakan yang ditimbulkan.
5. Isolasi sosial
Suatu keadaan kesepian yang dialami seseorang karena orang lain
menyatakan sikap yang negatif dan mengancam.
F. Penatalaksanaan Medis
Halusinasi termasuk kedalam kelompok penyakit skizofrenia, maka jenis
penatalaksanaan medis yang biasa dilakukan adalah :
a Psikofarmako
Psikofarmako adalah terapi dengan menggunakan obat, tujuannya
untuk mengurangi/menghilangkan gejala gangguan jiwa. Berdasarkan
khasiat obat yang tergolong dalam pengobatan psikofarmako antara lain:
1) Clorpromazine (CPZ)
a) Aturan pakai : 3 x 25 mg/hari, kemudian dinaikan sampai dosis
optimal.
b) Indikasi : Untuk pengobatan psikosa untuk mengurangi gejala
anemis
c) Efek samping : Hipotensi, aritmis kordis, takikardi, penglihatan
kabur.
2) Tritopirazine (Stelazine)
a) Aturan pakai : 3 x 1 samapi 5 mg dosis tertinggi 50 mg/hari.

b) Indikasi : Diberikan pada pasien gangguan mental organic dan


gejala spikotik yang menarik.
c) Efek samping : Gejala extrapiramidal.
3) Diazepam
a) Indikasi : Psikoneuronesis anxietas
b) Efek samping : Mengantuk, mual, kadang-kadang konstipasi.
4) Triheksifenidil HCL (Arxne)
a) Indikasi : Berbagai bentuk parkinsonisme
b) Aturan pakai : Hari pertama diberikan 1 mg, hari ke 1 diberikan 2
mg/hari sehingga mencapai 6-10 mg/hari yang diberikan 3-4 kali
pada waktu makan.
5) Amitripilin (Laxori)
a) Indikasi : Dosis awal 75-100 mg/hari, pemulihan 25-75 mg/hari.
b) Aturan pakai : Diberikan pada klien dengan gejala depresi akibat
b

keluhan somatic.
Terapi Okupasi
Terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi
seseorang dalam melakukan aktivitas/tugas yang sengaja dipilih dengan
maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri
seseorang. Terapi okupasi menggunakan pekerjaan atau kegiatan sebagi
media. Pelaksanaan terapi okupasi sesuai dengan keadaan klien dan jenis

kegiatan atau pekerjaan disesuaikan minat klien.


Psikoterapi
Psikoterapi membutuhkan waktu yang relatif lama dan merupakan bagian
penting dalam proses terapeutik. Upaya dalam psikoterapi ini meliputi ;
memberikan rasa nyaman dan tenang, menciptakan lingkungan yang tenang,
bersikap empati, menerima klien apa adanya, motivasi klien untuk dapat

mengungkapkan perasaan secara verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur.


Therapy Kejang Listrik ( Electro Convulsive Therapy)
ECT adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang granmall secara
artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang
satu atau dua temples. Therapi kejang listrik diberikan pada skizofrenia
yang tidak mempan denga terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi

kejang listrik 4-5 joule/detik. (Maramis, 2005).


Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah berbagai pendekatan penanganan klien gangguan
jiwa yang bervariasi, yang bertujuan untuk mengubah perilaku klien dengan

gangguan jiwa denga perilaku mal adaptifnya menjadi perilaku yang


f

adaptif.
Terapi Aktivitas Kelompok
Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu upaya untuk memfasilitasi
psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama untuk
memantau dan meningkatkan hubungan antar anggota. Terapi aktivitas
kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat
kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang
sama. Aktivitas digunakan sebagi terapi, dan kelompok digunakan sebagai
target asuhan.

G. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
tanggal MRS (masuk rumah sakit), informan, tanggal pengkajian, No
Rumah Sakit dan alamat klien.
2. Keluhan utama
Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga
datang ke rumah sakit. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi
masalah, dan perkembangan yang dicapai
3. Faktor predisposisi
Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan
jiwa pada masa lalu, pernah melakukan atau mengalami penganiayaan
fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan
tindakan criminal. Dan pengkajiannya meliputi psikologis, biologis, dan
social budaya.
4. Aspek fisik/biologis
Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, Pernafasan, TB, BB)
dan keluhan fisik yang dialami oleh klien.
5. Aspek psikososial
a

Genogram yang menggambarkan tiga generasi

Konsep diri

Hubungan social dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan,


kelompok, yang diikuti dalam masyarakat

Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah

6. Status mental
Nilai klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik
klien, afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi, proses pikir, isi
pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentrasi, dan berhitung.
7. Kebutuhan persiapan pulang
a

Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan alat


makan kembali.

Kemampuan BAB, BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta


membersihkan dan merapikan pakaian.

Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi.

Istirahat tidur klien, aktivitas didalam dan diluar rumah.

Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum

8. Mekanisme koping
Malas beraktivitas, sulit percaya dengan orang lain dan asyik dengan
stimulus

internal,

menjelaskan

suatu perubahan persepsi dengan

mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.


9. Masalah psikososial dan lingkungan
Masalah berkenaan dengan ekonomi, dukungan kelompok, lingkungan,
pendidikan, pekerjaan, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
10. Pengetahuan
Didapat dengan wawancara klien dan disimpulkan dalam masalah.
11. Aspek medik
Diagnose medis yang telah dirumuskan dokter, therapy farmakologi,
psikomotor, okopasional, TAK dan rehabilitas.
12. Analisa Data
Jenis Halusinasi

Data Subjektif

Data Objektif

Halusinasi Dengar

Mendengar
suara
menyuruh melakukan

Mengarahkan telinga
pada sumber suara

Halusinasi Penglihatan

sesuatu
yang
berbahaya.
Mendengar suara atau
bunyi.
Mendengar suara yang
mengajak bercakapcakap
Mendengar
seorang
yang sudah meninggal
Mendengar suara yang
mengancam diri atau
orang lain.

Bicara atau tertawa


sendiri
Marah marah tanpa
sebab
Menutup telinga
Mulut komat kamit

Melihat

Ketakutan pada objek

seseorang

yang

sudah

yang dilihat

meninggal , melihat
makhluk

tertentu

melihat

bayangan,

hantu, sesuatu yang


menakutkan.
Halusinasi Penciuman

Halusinasi Perabaan

Halusinasi Pengecapan

Mencium
sesuatu
seperti bau mayat ,
darah , bayi ,masakah ,
parfum
yang
menyenangkan
Klien
sering
mengatakan mencium
bau sesuatu
Klien mengatakan ada
sesuatu
yang
menggerayangi tubuh
seperti
tangan,
binatang
kecil
,
makhluk halus.
Merasakan
sesuatu
dipermukaan kulit ,
seperti panas , dingin
atau tersengat aliran
listrik
Klien seperti sedang
merasakan makanan

Ekspresi wajah seperti


mencium

sesuatu

dengan gerakan cuping


hidung , mengarahkan
hidung

pada

tempat

tertentu.

Mengusap
,
menggaruk-garuk
meraba-raba
permukaan
kulit.
Terlihat
menggerakgerakkan badan seperti
merasakan
suatu
rabaan.

Seperti
sesuatu.

mengecap
Gerakan

Halusinasi Kinestik

tertentu , rasa tertentu


atau
mengunyah
sesuatu.
Klien
melaporkan
bahwa
fungsi
tubuhnya tidak dapat
terdeteksi
misalnya
tidak adanya denyutan
di otak , atau sensasi
pembentukan
urine
dalam tubuh , perasaan
tubuhnya
melayang
diatas bumi.

mengunyah , meludah
atau muntah.

Klien terlihat menatap


tubuhnya sendiri dan
terlihat
merasakan
sesuatu yang aneh
tentang tubuhnya.

H. Diagnosa Keperawatan
Dari pohon masalah diatas , maka daftar diagnosa yang mungkin muncul
dalam halusinasi adalah :
a. Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan
b. Perubahan sesnsori persepsi halusinasi
c. Isolasi sosial menarik diri

K. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien disesuaikan
dengan prioritas masalah yang telah disusun. Pelaksanaan tindakan
keperawatan merupakan realisasi dari perencanaan yang telah dibuat. Yang
paling penting pelaksanaan mengacu pada intervensi yang telah ditentukan
dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal
L. Evaluasi

Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan


kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Kemampuan yang harus
dimiliki perawat pada tahap ini adalah memahami respon terhadap intervensi
keperawatan. Kemampuan mengembalikan kesimpulan tentang tujuan yang
dicapai

serta

kemampuan

dalam

menghubungkan

tindakan-tindakan

keperawatan pada kriteria hasil.


Pada tahap evaluasi ini terdiri 2 kegiatan yaitu:
a. Evaluasi formasi menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat
memberikan intervensi dengan respon segera.
b. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan
analisis status klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang
direncanakan pada tahap perencanaan. Disamping itu, evaluasi juga
sebagai alat ukur suatu tujuan yang mempunyai kriteria tertentu
yang membuktikan apakah tujuan tercapai, tidak tercapai atau
tercapai sebagian.
1) Tujuan Tercapai
Tujuan dikatakan teracapai bila klien telah menunjukkan
perubahan kemajuan yang sesuai dengan keiteria yang telah
ditetapkan
2) Tujuan tercapai sebagian
Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak
tercapai secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari
berbagai masalah atau penyebabnya, seperti klien tidak. mau
mengungkapkan halusinasinya , klien tidak mau menyapa
perawat dan menjabat tangan perawat dan lain-lain.
3) Tujuan tidak tercapai
Dikatakan tidak tercapai apabila tidak menunjukkan adanya
perubahan kearah kemajuan sebagaimana kriteria yang
diharapkan.
Dalam evaluasi yang digunakan adalah format SOAP , Adapun isi dari SOAP
tersebut adalah :
S : Subjective = Pernyataan atau keluhan dari pasien setelah diberikan
tindakan.
O : Objective = Data yang diobservasi oleh perawat atau keluarga.
A : Analisys = Kesimpulan dari objektif dan subjektif

P : Planning = Rencana tindakan yang akan dilakuakan berdasarkan


analisis

Daftar Pustaka
Keliat,Budi Anna dan Akemat.2012.Model Praktek Keperawatan Profesional
Jiwa.Jakarta : EGC.
Maramis, W. F. (2004). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga
University Press.
Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga
University Press.
Nasution, Saidah, S. 2003. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan
Perubahan Sensori Persepsi: Halusinasi
Stuart dan Laraia. (2007). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi
6. St. Louis: Mosby Year Book.
Stuart dan Sundeen . 2005 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC
Stuart, Gail Wiscarz, Sandra J Sundeen. (2007). Buku Saku Keperawatan
Jiwa Edisi 5. Jakarta : EGC
Yosep, Iyus.(2009). Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung. Refika
Aditama