Anda di halaman 1dari 38

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

(Pembesaran Prostat Jinak)

Ivonne, Soeliono
Bidang Minat Farmasi Klinik dan Komunitas
Fakultas Farmasi
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

29/01/2016

Farmasi Klinik |2Konseling


Farmakoterapi
| BPH Obat

Kelenjar Prostat

Walnut-shaped gland that forms part of the male


reproductive system
Surrounds the urethra - the tube that carries urine
from the bladder out of the body

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Kelenjar Prostat (2)

Secretes semen which carries


sperm

Cairan prostat : poliamin,


plasminogen, enzim proteolitk,
asam fosfatase, elektrolit, zinc,
glukosa, asam sitrat, dll.

During orgasm, prostate


muscles contract and propel
ejaculate out of the penis

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Kelenjar Prostat (3)

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Kelenjar Prostat (4)

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Kelenjar Prostat (5)

Zona anatomi prostat. A: belahan sagittal dan B: belahan koronal menunjukkan


zona periferal, zona transisi, zona sentral, verumontanum, segmen urethral
proksimal, sphincter preprostatik, dan duktus ejakulator (Roehrborn, 2012).

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Manifestasi Klinik BPH


Pengisian/Penyimpanan
Frekuensi miksi
meningkat
Miksi sulit ditahan
(urgency)
Nokturia
Inkontinensia
(pengeluaran urine
secara involunter)
Nyeri pada kandung
kemih/urethra
Gangguan/hilangnya
sensasi pengosongan
urine

Pengosongan/Miksi
Harus menunggu pada
permulaan miksi (hesitancy)
Mengejan saat miksi
(straining to void)
Pancaran miksi yang lemah
(poor stream)
Miksi terputus
(intermittency)
Nyeri waktu miksi (dysuria)
Keluarnya sisa urine selama
beberapa detik pada akhir
miksi (terminal dribbling)

Gejala Setelah Miksi


Keluarnya sisa urine
setelah miksi (postmicturition
dribbling)
Perasaan
pengosongan
kandung kemih tidak
sempurna

Tubaro dan de Nunzio, 2011

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Manifestasi Klinik BPH

Tubaro dan de Nunzio, 2011

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Batasan BPH
suatu proses patologis yang menyebabkan
ketidakseimbangan pembelahan sel dan
apoptosis di dalam prostat

BPH bukan satu-satunya


penyebab LUTS

LUTS pada umumnya


berkaitan dengan BOO

BOO umumnya akibat BPE


BPE : kondisi histologis akibat BPH
LUTS: lower urinary tract symptoms; BOO: bladder outlet
obstruction; BPE: benign prostatic enlargement

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Sandhu, 2009; Moore dan Khastgir, 2010;


Albala et al., 2011; Ventura et al., 2011;
Roehrborn, 2012

Etiologi BPH

sindrom metabolik
inflamasi
faktor pertumbuhan
reseptor androgen
interaksi epithelial-stromal
gaya hidup

Yoo dan Cho, 2012; Goddard dan Turner, 2014

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Pasien dengan
hipogonadisma tidak
mengalami BPH

Diduga faktor
HORMONAL merupakan
faktor yang penting

10 10

10

10

Prevalensi BPH
Hasil autopsi menunjukkan bahwa tidak ada pria usia <30 tahun yang
memiliki histologi BPH, sedangkan >50% pria >60 tahun memiliki bukti
adanya BPH.

Prevalensi mencapai 90% pada usia dekade ke-9.


Pembesaran prostat tampaknya tidak dapat dihindari (kelenjar
prostat meningkat volumenya sebesar 2,4 cm3/tahun pada
usia 40 tahun) namun LUTS dan sequelae (gejala sisa) BPH tidak
hanya dikarenakan efek massa namun juga akibat disfungsi detrusor
terkait perbesaran prostat dan juga terkait usia.
Angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum pernah diteliti, tetapi
sebagai gambaran hospital prevalence di 2 RS besar di Jakarta yaitu
RSCM dan Sumberwaras selama 3 tahun (1994-1997) terdapat 1040
kasus.
Rahardjo, 1999; Sandhu, 2009; Pohlman et al., 2011; Ventura et al., 2011; Goddard
dan Turner, 2014
29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

11 11

11

11

2 macam jaringan Prostat:


1. glandular/epithelial - sekret prostat (termasuk PSA)
2. jaringan otot/stromal - kontraksi di sekitar urethra

Patofisiologi BPH
Testosteron (T) diproduksi sel Leydig di
testis dan sel korteks adrenal

T yang disekresi oleh testis dapat:


1. langsung berdifusi memasuki sel dan
terikat pada reseptor androgen
2. dikonversi terlebih dahulu menjadi DHT

kompleks androgen-reseptor androgen


memasuki nukleus

T-R : regulasi gonadotropin,


spermatogenesis, dan stimulasi Wolffian
duct saat terjadi diferensiasi seksual
DHT-R : meregulasi virilisasi eksternal
dan maturasi seksual saat pubertas serta

pertumbuhan prostat
afinitas reseptor androgen terhadap DHT 2-5x T & T-R kurang stabil

Potensi DHT 10x T dalam menginduksi sinyal reseptor androgen

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Sandhu, 2009; Lee dan Sharifi, 2010;


Albala et al., 2011; Moore dan Khastgir, 2010;
Pohlman et al., 2011; Kang dan Chung, 2013

12 12

12

12

Ada 3 macam enzim 5-alfa-reduktase yang telah ditemukan


hingga saat ini:
tipe 1
dikode gen SRD5A1
dominan di kulit, hati, otak, dan prostat

tipe 2
dikode gen SRD5A2
terletak di prostat, vesikel seminal, dan kulit genital

tipe 3

Macam Enzim
5--reduktase

Feneley et al., 2010; Pohlman et


al., 2011; Kang dan Chung, 2013
29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

dikode gen SRD5A3


terekspresi pada kanker prostat dan sedang diteliti saat ini

Dibandingkan tipe 1, tipe 2 lebih dominan


diekspresikan di prostat sehingga tipe 2 lebih penting.
Tipe 1 dan tipe 3 terupregulasi pada kanker prostat dan
kanker prostat yang refrakter terhadap hormon.
Para peneliti menemukan adanya mRNA 5-alfareduktase tipe 1 dan 2 pada setiap zona di prostat.
Jika dibandingkan dengan jaringan prostat normal,
kedua tipe mRNA tersebut meningkat ekspresinya
pada jaringan BPH.
Sedangkan pada spesimen kanker prostat hanya
ekspresi mRNA 5-alfa-reduktase tipe 1 saja yang
meningkat

13 13

13

13

Macam
Reseptor
1-adrenergik

Ada 3 macam reseptor 1-adrenergik


1A
ditemukan di prostat

1B
ditemukan di prostat dan pembuluh darah

1D
Anatomi dan distribusi reseptor alfaadrenergik pada prostat, urethra, dan
kandung kemih (Murdock et al., 2009).

ditemukan di pembuluh darah


(Anderson, 2015)

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

14 14

14

14

Komplikasi BPH (Pre-OP)


Prostat membesar
Urethra prostatik terhambat & memanjang
Obstruksi aliran urine & hipertrofi otot detrusor
Berkas otot buli membentuk trabekula / diganti jar fibrous;
P intravesikal

Depresi antara berkas otot semakin dalam


Sakulasi/diverticula
Pengosongan diverticula buli (INFEKSI, BATU, TUMOR)
V residual urine bisa >1L & ada tekanan balik
Stewart dan Finney, 2012; Quick et al., 2014

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

Obstruksi progresif & dilatasi ureter (hidroureter) +


dilatasi sistem pelvicalyceal (hidronefrosis)
15 15

15

15

Komplikasi BPH (Post-OP)


Ansari (1998)
[31.249 tindakan
TURP]
Uchida et al.
(1999)
[3.861 pasien
TURP]
Mntener et al.
(2006) [1014
pasien TURP]
Kiptoon et al.,
(2007)
[85 pasien
prostatektomi
terbuka dan
TURP]:

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

hemorrhagi
retensi urine
infeksi (sepsis/ISK)
kerusakan ginjal
inkontinensia

morbiditas
(komplikasi)
pasca TURP
a.l.:

striktur uretra
perforasi buli/kapsul prostat
ekstravasasi
epididymitis akut
reseksi ulang akibat kontraktur
leher buli post-op
sindrom TURP

perubahan mental, mual,


muntah, HT, bradikardia,
gangguan penglihatan

16 16

16

16

Terapi BPH
Mengatasi LUTS

tujuan TERAPI
ukuran LUTS

International Prostate Symptom Score (IPSS)

Ringan/
Sedang

Medikamentosa
<30 g : -adrenoceptor blockers (AAB)
>30 g : AAB 5-reductase inhibitor (5-ARI)

Terapi Invasif
indikasi:
retensi urine akut, tidak responsif terhadap 5-ARI
batu saluran kemih/ISK yang berulang
azotemia
Sandhu, 2009; Albala et al., 2011;
Tubaro dan de Nunzio, 2011

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

hematuria yang persisten


17 17

17

17

Algoritma
BPH
di
Indonesia
DRE : digital rectal examination
IPSS : international prostatic symptom score
QoL: quality of life
IVP : intravenous pyelography
PVR : post voiding residual urine
TAUS : transabdominal ultrasonography
TRUS: transrectal ultrasonography
BPO: benign prostatic obstruction

Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

Skor 0-6

Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

40-49 tahun:
0-2,5 ng/ml
50-59
tahun:0-3,5
ng/ml
60-69
tahun:0-4,5
ng/ml
70-79 tahun:
0-6,5 ng/ml

Uroflometri : pencatatan tentang


pancaran urine selama proses miksi secara elektronik
Tujuan: mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif
Hasil :
informasi mengenai volume miksi, pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave),
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum, dan lama pancaran.
tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urine (pancaran urine
yang lemah dapat disebabkan BOO/kelemahan otot detrusor

Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

Residual urine / post voiding residual urine (PVR) :


sisa urine yang tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi.
N : 0,09-2,24 mL (rata-rata 0,53 mL)
78% pria normal RU < 5 mL dan semua pria normal
mempunyai RU 12 mL
Invasif (pengukuran langsung sisa urine melalui
kateterisasi uretra setelah pasien berkemih)
Non invasif (pengukuran sisa urine melalui USG /
bladder scan)
Urodinamika / pressure flow study :
dapat membedakan pancaran urine
yang lemah disebabkan karena
obstruksi leher buli-buli dan uretra
(BOO) atau kelemahan kontraksi otot
detrusor

Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

Manajemen BPH (Watchful Waiting)


Pasien tidak mendapatkan terapi apapun

Perkembangan penyakitnya tetap diawasi;


Diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang
mungkin dapat memperburuk keluhannya, misalnya:
jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi / alkohol
setelah makan malam;
kurangi konsumsi makanan atau minuman yang
menyebabkan iritasi pada buli-buli (kopi / cokelat);
batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung
fenilpropanolamin;
kurangi makanan pedas dan asin;
jangan menahan kencing terlalu lama.
Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

22 22

22

22

Manajemen BPH (Watchful Waiting) - 2


Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk datang kontrol
untuk ditanya dan diperiksa tentang:
perubahan keluhan yang dirasakan;
IPSS;
pemeriksaan laju pancaran urine;
volume residual urine.
Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya,
mungkin perlu dipikirkan untuk memilih terapi yang lain.

Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

23 23

23

23

Manajemen BPH (Medikamentosa)


Diberikan pada saat BPH mulai menyebabkan perasaan
terganggu / membahayakan kesehatan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:


dasar pertimbangan terapi medikamentosa;
jenis obat yang digunakan;
pemilihan obat;
evaluasi selama pemberian obat.
Perlu dijelaskan pada pasien bahwa harga obat-obatan yang
akan dikonsumsi tidak murah dan akan dikonsumsi dalam
jangka waktu lama.
Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

24 24

24

24

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 2


Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk:
mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai
komponen dinamik;
mengurangi volume prostat sebagai komponen statik.
Jenis obat yang digunakan adalah:

1. Antagonis adrenergik reseptor


2. Inhibitor 5 redukstase
3. Fitofarmaka

Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, tanpa tahun

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

25 25

25

25

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 3


Ada 2 golongan obat :
1. Antagonis reseptor -adrenergik (A-ARA)
Paling banyak dipakai
Untuk terapi aspek dinamik BPH
sangat efektif & OOA
Dinamik = pe tonus otot polos
cepat (perbaikan
simptom 7-10 hari)
Jadi : me tonus saluran kemih yang dimediasi
sistem saraf simpatis RU , aliran urine membaik
Bila ukuran prostat <30 g
2. Inhibitor 5--reduktase (5-ARI)
Perbaikan simptom
Untuk terapi aspek statik BPH
terlihat setelah 12 bulan
Statik = pe ukuran fisik prostat
Jadi : me volume prostat RU , aliran urine membaik (terjadi lebih lambat)
Bila ukuran prostat >30 g, bisa dikombinasi dengan A-ARA

BILA DIKOMBINASI :
PERBAIKAN SIMPTOMATIK + MENCEGAH PROGRES BPH
Murdock et al., 2009; Sandhu, 2009; Ventura et al., 2011; Goddard and Turner, 2014; Anderson, 2015

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

26 26

26

26

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 4


Ada 2 golongan obat :
1. Antagonis reseptor adrenergik (alpha-blocker = AB)
Silodosin (Urief, Rapaflo)
Alfuzosin (Xatral / Uroxatral)
Doxazosin (Cardura)
Tamsulosin (Flomax / Alna / Harnal)
Terazosin (Hytrin)
2. Inhibitor 5--reduktase (5-ARI)
Dutasteride (Avodart/ Avolve)
Finasteride (Proscar)
Kombinasi AB + 5-ARI : dutasteride +
tamsulosin, finasteride + doxazosin
Murdock et al., 2009; Sandhu, 2009; Ventura et al., 2011; Goddard and Turner, 2014

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

27 27

27

27

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 5

Murdock et al., 2009

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

28 28

28

28

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 6

Alfuzosin, Tamsulosin, Silodosin absorpsi meningkat dengan adanya makanan.


Some adverse effects
commonly observed with
nonselective -blockers
Cohen and Parsons, 2012; Anderson, 2015
29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

29 29

29

29

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 7


Perbandingan Finasteride dan Dutasteride

Finasteride and dutasteride are also used for alopecia, since a


reduction in scalp and serum DHT prevents hair loss.
Lee and Sharifi, 2010; Anderson, 2015
29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

30 30

30

30

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 8


Perbandingan A-ARA & 5-ARI
A-ARA

5-ARI

Tidak

Ya

2-4 minggu

6-12 bulan

Tidak

Ya

Disfungsi Seksual

++

Efek Hipotensi

++

Tamsulosin, alfuzosin

Finasteride, dutasteride

Pe Ukuran Prostat
Peak onset
Penurunan PSA

Obat yang Sering Digunakan

Anderson, 2015

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

31 31

31

31

Manajemen BPH (Medikamentosa) - 9


Phosphodiesterase-5 inhibitor
PDE-5 is present in the prostate and bladder.
Tadalafil is the only PDE-5 inhibitor approved
for the treatment of BPH.
Result : vasodilation and relaxation of the
smooth muscle of the prostate and bladder
improves symptoms of BPH.

Anderson, 2015

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

32 32

32

32

Manajemen BPH dengan RU

Manajemen
RU Akut

Manajemen
RU Kronik

Sedasi / warm bath untuk meningkatkan mikturisi


Kateterisasi
Foley 16Fr + urine bag
suprapubic cystostomy
Ambil specimen kultur urine
positif
tx antibiotik
12 jam kemudian kateter dilepas
Masih RU
TURP

Kondisi baik, tidak ada gangguan


hematologis/biokimia
jadwalkan prostatektomi
Gangguan SE/balans cairan
koreksi dulu +
kateterisasi
Gagal ginjal
kateterisasi jangka panjang/TURP
Stewart dan Finney, 2012

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

33 33

33

33

Terapi Invasif BPH

Massa prostat
Restriksi aliran urine

tujuan TERAPI

Invasif Minimal
(di luar OK)

Invasif Minimal
(di OK)

Invasif

transurethral microwave therapy (TUMT)


transurethral needle ablation of the prostate (TUNA)

Transurethral resection of the prostate (TURP)


Transurethral incision of the prostate (TUIP)

Terapi laser
photoselective vaporization of the prostate
holmium laser prostatectomy

Open prostatectomy
Sandhu, 2009; Ventura et al., 2011; Yoo dan Cho, 2012

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

34 34

34

34

TURP

Gold Standard of care for BPH


Uses an electrical knife to surgically cut and remove
excess prostate tissue
Effective in relieving symptoms and restoring urine flow

29/01/2016

Farmakoterapi 2 | BPH

35 35

35

35

Daftar Pustaka

Albala, D.M., Morey, A.F., Gomella, L.G., Stein, J.P. (Eds.), 2011. Oxford American Handbook of
Urology, Oxford University Press, Inc., New York.
Anderson, 2015, Drugs for Urologic Disorders, in: Whalen, K., Finkel, R., Panavelil (Eds.),
Pharmacology, 6th ed., Wolters Kluwer, Philadelphia, 418-421.
Ansari, M.Z., MacIntyre, C.R., Ackland, M.J., Chandraraj, E., Hailey, D., 1998, Predictors of
Length of Stay for Transurethral Prostatectomy in Victoria, Australian and New Zealand
Journal of Surgery, 68, 837-843.
Cohen, S. a, Parsons, J.K., 2012. Combination pharmacological therapies for the management
of benign prostatic hyperplasia. Drugs Aging 29, 27584.
Feneley, M., Mundy, A.R., Emberton, M., 2010, The Prostate and Benign Prostatic Hyperplasia,
in: Mundy, A.R., Fitzpatrick, J.M., Neal, D.E., George, N.J.R. (Eds.), The Scientific Basis of
Urology, Informa Healthcare, London, 316318.
Goddard, J., Turner, A.N., 2014, Kidney and urinary tract disease, in: Walker, B.R., Colledge,
N.R., Ralston, S.H., Penman, I.D. (Eds.), Davidsons Principles & Practice of Medicine, Elsevier
Limited, 514515.
Kang, D.I., Chung, J.I., 2013, Current status of 5-reductase inhibitors in prostate disease
management, Korean Journal of Urology, 54, 2139.
Kiptoon, D.K., Magoha, G.A.O., Owillah, F.A., 2007, Early Postoperative Outcomes of Patients
Undergoing Prostatectomy for Benign Prostatic Hyperplasia at Kenyatta National Hospital,
Nairobi, East African Medical Journal, 84(9), S40-S44.
Lee, M., Sharifi, R., 2010, Benign Prostatic Hyperplasia, in: Chisholm-Burns, M.A.,
Schwinghammer, T.L., Wells, B.G., Malone, P.M., Kolesar, J.M., DiPiro, J.T. (Eds.),
Pharmacotherapy Principles & Practice, The McGraw-Hill Companies, Inc.

53

Daftar Pustaka

Moore, K., Khastgir, J., 2010. LUTS/Benign Prostatic Hyperplasia, in: Shergill, I.S., Arya, M., Grange,
P., Mundy, A.R. (Eds.), Medical Therapy in Urology, Springer-Verlag, London, 7375,83.
Mntener, M., Aellig, S., Kttel, R., Gehrlach, C., Hauri, D., Strebel, R.T., 2006, Peri-operative
Morbidity dan Changes in Symptom Scores After Transurethral Prostatectomy in Switzerland:
Results of an Independent Assessment of Outcome, BJU International, 98, 381-383.
Murdock, N., Solbing, R., Liday, C., 2009, Benign Prostatic Hyperplasia, in: Linn, W.D., Wofford,
M.R., OKeefe, M.E., Posey, L.M. (Eds.), Pharmacotherapy in Primary Care, The McGraw-Hill
Companies, Inc., 338, 341344.
Pedoman Penatalaksanaan BPH di Indonesia, 2003.
Pohlman, G.D., Pohlman, E.A., Crawford, E.D., 2011, Dutasteride: A Review of its Use in the
Management of Prostate Disorders, Clinical Medicine Insights: Therapeutics, 171.
Quick, C.G.R., Reed, J.B., Harper, S.J.F., Saeb-Parsy, K., 2014, Essential Surgery, 5th ed., Churchill
Livingstone Elsevier, Edinburgh, 447.
Rahardjo, D., 1999, Prostat: Kelainan-kelainan jinak, diagnosis, dan penanganan, Asian
Medical, Jakarta, 15.
Roehrborn, C.G., 2012, Benign Prostatic Hyperplasia: Etiology, Pathophysiology, Epidemiology, and
Natural History, in: McDougal, W.S., Wein, A.J., Kavoussi, L.R., Novick, A.C., Partin, A.W.,
Ramchandani, P. (Eds.), Campbell-Walsh Urology, Elsevier Inc., 2570.
Sandhu, J.S., 2009, Therapeutic options in the treatment of benign prostatic hyperplasia, Patient
Preference Adherence, 3, 21323.

54

Daftar Pustaka

Stewart, L.H., Finney, S.M., 2012, Urological Surgery, in: Garden, O.J., Bradbury, A.W., Forsythe,
J.L.R., Parks, R.W. (Eds.), Principles & Practice of Surgery, 6th ed., Elsevier Churchill Livingstone,
Edinburgh, 414-416.
Tubaro, A., de Nunzio, C., 2011, Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), in: Chapple, C.R., Steers, W.D.
(Eds.), Practical Urology: Essetial Principles and Practice, Springer-Verlag, London, 362, 368.
Uchida, T., Ohori, M., Soh, S., Sato, T., Iwamura, M., Ao, T., Koshiba, K., 1999, Factors Influencing
Morbidity in Patients Undergoing Transurethral Resection of The Prostate, Urology, 53(1), 98-105.
Ventura, S., Oliver, V.L., White, C.W., Xie, J.H., Haynes, J.M., Exintaris, B., 2011, Novel drug targets
for the pharmacotherapy of benign prostatic hyperplasia (BPH), British Journal of Pharmacology,
163, 891907.
Yoo, T.K., Cho, H.J., 2012, Benign prostatic hyperplasia: from bench to clinic, Korean Journal of
Urology, 53, 13948.

57