Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan meningkatnya populasi manusia di muka bumi ini maka
semakin meningkat pula kebutuhan hidupnya.Dibangunnya berbagai industri
untuk memenuhi kebutuhan manusia selain memberikan manfaat yang luar
biasa ternyata juga menimbulkan masalah lingkungan. Gas-gas yang
dikeluarkan oleh industri/pabrik apabila kadarnya melebihi batas kadar
normal, berada pada waktu yang tidak tepat merupakan zat pencemar yang
berpotensi menurunkan kualitas lingkungan (Nugroho, 2005).
Semakin meningkatnya IPTEK membuat semakin besarnya tuntutan
kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi, oleh karena itu sekarang
banyak tercipta industry yang mencoba memenuhi kebutuhan manusia, mulai
dari barang sederhana sampai barang ekslusif. Berbagai macam industri mulai
memproduksi barang-barang tersebut dengan baik agar permintaan dari para
konsumen dapat terpenuhi.Tentunya maka akan semakin banyak pula
pemanfaatan sumber daya alam yang ada di dunia ini yang salah satunya
adalah pemanfaaan logam sebagai bahan dasar ataupun bahan tambahan
untuk memproduksi berbagai kebutuhan.
Manusia sebagai makhluk hidup tertinggi di dunia dimana hidupnya
sangat bergantung pada sumber daya alam yang ada di sekitarnya.Pada zaman
batu,

manusia

menggunakan

batu

sebagai

sumber

pembuatan

peralatan.Kemudian di zaman yang semakin canggih, mausia menggunakan


berbagai

logam

untuk

dijadikan

alat

yang

dapat

mempermudah

kehidupannya.(Soemirat, 2005).Dengan adanya pencemaran tersebut maka


dapat mempengaruhi kualitas dari udara.Dimana kualitas udara adalah salah
satu indicator dasar dari keseluruhan kualitas lingkungan.Polusi udara telah
menjadi masalah dan isu global di kota-kota besar.Perkembangan peningkatan
aktivitas masyarakat telah menimbulkan peningkatan yang dignifikan dalam
polutan atmosfer yang memiliki dampak pada kesehatan manusia.
Pencemaran udara ialah jika udara di atmosfer dicampuri dengan zat
atau radiasi yang berpengaruh jelek terhadap organisme hidup. Jumlah

pengotoran ini cukup banyak sehingga tidak dapat diabsorbsi atau


dihilangkan. Umumnya pengotoran ini bersifat alamiah, misalnya gas
pembusukan, debu akibat erosi dan tepung sari yang terbawa angin.
Kemudian ditambah oleh manusia karena ulah hidupnya dan jumlah serta
kadar bahayanya makin meningkat. Tanpa gangguan ini alam biasanya
menyediakan unsur-unsur dasar yang diperlukan makhluk hidup dalam
jumlah cukup dan berkelanjutan.

Tetapi karena tambahan pengotoran

manusia itu maka udara tidak dapat lagi membersihkan dirinya lagi
Tingkat

pencemaran

udara

di

Indonesia

semakin

memprihatinkan.Bahkan salah satu studi melaporkan bahwa Indonesia


menjadi negara dengan tingkat polusi udara tertinggi ketiga di dunia. World
Bank juga menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar
polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City.
Rekor yang sangat membuat kita prihatin.Di Indonesia sendiri, sebagaimana
data yang dipaparkan oleh Pengkajian Ozon dan Polusi Udara Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Jawa Barat menduduki
peringkat polusi udara tertinggi di Indonesia.
Menurunnya kualitas udara akibat terjadinya pencemaran di suatu
wilayah seringkali baru dirasakan setelah dampaknya menyebabkan gangguan
kesehatan pada makhluk hidup terutama manusia (Nugroho, 2005).
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di
bidang kesehatan.Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam
kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat
memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara
optimal.Beberapa logam memang banyak digunakan dalam berbagai
keperluan.Oleh karena itu logam banyak diproduksi secara rutin dalam skala
indusri.Pemanfaatan logam tersebut dalam kehidupan sehari-hari, telah secara
langsung atau pun tidak langsung menyebabkan pencemaran pada
lingkungan.Pada beberapa kasus, beberapa logam sudah pada taraf
mencemari lingkungan.
Beberapa jenis logam yang telah mencemari lingkungan seperti, Timbal
(Pb), Merkuri (Hg), Arsenik (As), Cadmium (Cd), Chromium (Cr) dan Nikel

(Ni).Logam-logam ini telah diketahui dapat tersimpan dalam tubuh organisme


dan berada di dalamnya dalam jangka waktu yang lama sebagai racun yang
terakumulasi.
Berdasarkan baku mutu udara ambien (Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No 41 tahun 1999), salah satu parameter pencemaran udara adalah
sulfur dioksida (SO2). Sulfur dioksida terutama dihasilkan dari pembakaran
bahan bakar fosil seperti batubara atau minyak bumi. Sulfur dioksida (SO2)
di udara mempunyai pengaruh langsung terhadap manusia terutama karena
sifat iritasi dari gas itu sendiri. Lebih dari 95 % dari SO2 dengan kadar tinggi
yang dihirup melalui pernafasan akan diserap oleh bagian atas saluran
pernafasan. Karena sifatnya yang dapat mengganggu pernafasan, SO2 ini
dapat membuat penderita bronchitis, emphisemia dan lain lain penderita
penyakit saluran pernafasan menjadi lebih parah keadaannya. Karena eratnya
hubungan antara kadar SO2 di udara dengan gejala gejala pernafasan inilah
maka WHO menyatakan SO2 sebagai salah satu pencemar udara yang paling
berbahaya.
Sulfur dioksida adalah salah satu spesies dari gas-gas oksida sulfur
(SOx). Udara yang tercemar Sulfur Oksida (SOx)menyebabkan manusia akan
mengalami gangguan pada sistem pernafasannya. Hal ini karena gas SO x yang
mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung,
tenggorokan, dan saluran nafas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas
SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena.
Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi sistem
pernafasan.SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama
terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada
sistem pernafasan dan kardiovaskular.Dari berbagai penjelasan di atas dapat
dikatakan bahwa bahan tambahan berupa sulfur dioksida yang berbahaya bagi
kesehatan manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya baik dari
manusia maupun teknologi agar dapat mengurangi paparan sulfur dioksida
bagi kesehatan manusia
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

Mengetahui mekanisme masuknya sulfur dioksida (SO2) dan efek


kesehatan yang ditimbulkan akibat paparan sulfur dioksida (SO2)
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi sulfur dioksida (SO2) dan efek yang
ditimbulkan
b. Siapa yang beresiko terkena paparan sulfur dioksida (SO2)
c. Kapan sulfur dioksida (SO2) dapat masuk ke dalam tubuh manusia
d. Dimana sulfur dioksida (SO2) dapat ditemukan
e. Mengapa sulfur dioksida (SO2) berbahaya bagi kesehatan
f. Bagaimana mekanisme sulfur dioksida (SO2)
dalam tubuh

BAB II METODE (ANALISA LITERATUR)

dapat masuk ke

2.1 Pengertian Sulfur Dioksida (SO2)


Sulfur dioksida adalah gas tak terlihat yang berbau sangat tajam,
mempunyai sifat tidak mudah terbakar, tidak mudah meledak, menyerang
system pernafasan manusia dan dapat membunuh penderita asma. Senyawa
ini terdiri dari molekul sederhana SO2.
Pengertian lainsulfur dioksida adalah salah satu spesies dari gas-gas
oksida sulfur (SOx). Gas ini sangat mudah terlarut dalam air, memiliki bau
namun tidak berwarna. Sebagaimana O3, pencemar sekunder yang terbentuk
dari SO2, seperti partikel sulfat, dapat berpindah dan terdeposisi jauh dari
sumbernya.
SO2 dan gas-gas oksida sulfur lainnya terbentuk saat terjadi pembakaran
bahan bakar fosil yang mengandung sulfur. Sulfur sendiri terdapat dalam
hampir semua material mentah yang belum diolah seperti minyak mentah,
batu bara, dan bijih-bijih yang mengandung metal seperti alumunium,
tembaga,seng,timbal dan besi. Di daerah perkotaan, yang menjadi sumper
sulfur utama adalah kegiatan pemangkit tenaga listrik, terutama yang
menggunakan batu bara ataupun minyak diesel sebagai bahan bakarnya, juga
gas buang dari kendaraan yang menggunakan diesel dan industri-industri
yang menggunakan bahan bakar batu bara dan minyak mentah.
Sulfur menggunakan empat electron terluarnya untuk memebnetuk ikatan
rangkap dengan oksigen, menyisakan dua electron yang tidak berpasangan
pada sulfur. Bentuk bengkok dari SO2 adalah akibat dari adanya pasangan
electron bebas tersebut.
Senyawa ini (SO2) terbentuk dari proses pembakaran (batubara atau
diesel), asap dari kegiatan industry, proses metalurgi atau ketika sulfur bubuk
berwarna kuning keemasan yang terdapat di batubara atau minyak terbakar.
Setelah berjam-jam atau berhari-hari tercampur di udara, sulfur dioksida
membentuk partikel yang sangat halus yang disebut sulfat, yang dapat
menembus bagian terdalam paru-paru.
2.2 Sifat-Sifat Sulfur Dioksida (SO2)
Belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri atas gas Sulfur
Dioksida (SO2) dan gas Sulfur Trioksida (SO3) yang keduanya mempunyai

sifat berbeda. Pada dasarnya, semua Sulfur yang memasuki atmosfer dirubah
dalam bentuk SO2 dan hanya 1%-2% saja sebagai SO3.Gas SO2 berbau
tajam dan tidak mudah terbakar.Cairan SO2 melarutkan banyak senyawaan
organik dan anorganik dan digunakan sebagai pelarut dalam pembuatan
reaksi.Cairannya tidak melakukan pengionan-diri dan hantarannya terutama
merupakan cermin bagi kemurniannya.
Sulfur dioksida mempunyai pasangan-pasangan menyendiri dan dapat
bertindak sebagai basa lewis. Meskipun demikian, ia juga bertindak sebagai
asam Lewis menghasilkan kompleks, misalnya dengan amina seperti
Me3HSO2, dan dengan kompleks logam transisi yang kaya elektron. Dalam
senyawa kristal SbF5SO, yang menarik karena penggunaan SO2 sebagai
pelarut bagi sistem super-asam. SO2 sangat larut dalam air; suatu larutan
yang memiliki sifat asam, telah lama dikenal sebagai larutan asam sulfit,
H2SO3.Gas SO2 diudara bereaksi dengan uap air atau larut pada tetesan air
membentuk H2SO4 yang merupakan komponen utama dari hujan asam.
Beberapa sifat dari sulfur dioksida (SO2) adalah sebagai berikut :
a. Suatu yang tidak berwarna dan berbau sangat tajam
b. Tidak mudah terbakar
c. Mudah larut dalam air
d. Dalam udara atmosfer, sulfur dioksida akan bereaksi dengan oksigen dan
membentuk sulfur trioksida (SO3)
e. Beberapa oksida logam dapat secara langsung mengoksidasi sulfur
dioksida dan membentuk sulfat
f. Sulfur trioksida (SO3) bereaksi dengan uap air dan membentuk asam
sulfat
g. Kehabisan gas NO2 dan partikel-partikel hidrokarbon dalam udara
atmosfer dapat mempengaruhi proses oksidasi gas (SO2)
h. Selain oksida-oksida logam, ion-ion logam seperti mangan (Mn) dan besi
(Fe) merupakan katalis yang baik pada proses oksidasi sulfur dioksida
i. Lebih berat dari udara
j. Sulfur dioksida bereaksi dengan air dan membentuk asam sulfit

2.3 Sumber-Sumber Sulfur Dioksida (SO2)


Sumber utama pencemaran gas SO2 adalah pembakaran batu arang,
minyak bakar, gas dan kayu. Sumber SOx yang lain yaitu dari proses-proses
industri seperti industri pemurnian petroleum, industri asam sulfat dan
industri peleburan baja. Transportasi terutama kendaraan bermotor juga
memberikan kontribusi sebagi penyebab pencemaran SOx. Sebagian SO2
akan diubah menjadi SO3 setelah berada di atmosfer, oleh proses-proses
fotolitik dan katalitik. Jumlah SO2 yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi
oleh beberapa faktor termasuk jumlah air yang tersedia, intensitas, waktu dan
distribusi spektrum sinar matahari, dan jumlah bahan katalik. Pada malam
hari atau pada kondisi lembab atau selama hujan, SO2 atmosfer diabsorbsi
oleh droplet air alkalin dan bereaksi pada kecepatan tertentu untuk
membentuk sulfat di dalam droplet.
2.4 Mekanisme masuknya bahan toksikan ke dalam tubuh
Rute pajanan SO2 ke tubuh manusia yang utama adalah melalui
inhalasi.SO2 mudah larut dalam air sehingga dapat terabsorbsi di dalam
hidung dan sebagian besar juga ke saluran pernafasan.Partikulat sulfat dalam
gas buang kendaraan bermotor berukuran kecil sehingga partikulat tersebut
dapat masuk sampai ke dalam alveoli paru paru dan bagian lain yang
sempit.SO2 dapat menyebabkan irtasi terhadap saluran pernafasan. Kondisi
ini akan menjadi lebih parah bagi kelompok yang rentan seperti penderita
penyakit jantung atau paru paru dan para lanjut usia (Satriyo, 2008).
SO2 yng masuk melalui inhalasi akan menyebabkan manusia mengalami
gangguan pada system pernafasanna. Hal ini karena gas sulfur dioksida yang
mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lender pada hidung,
tenggorokan dan saluran pernafasan sampai paru paru. Serangan gas sulfur
dioksida tersebut menyebakan iritasi pada bagian tubuh yang terkena seperti
iritasi saluran pernfasan bagian atas. Gas sulfur dioksidadapat masuk ke
dalam saluran pernafasan melalui mulut atau waktu menarik nafas. Daya larut
gas sulfur dioksida yang tinggi mengiritasi dinding bronkus sehingga dapat
terjadi peradangan dan meningkatnya produksi lender (Wardhana, 2001).

SO2 masuk ke tubuh manusia selain melalui pernafasan juga melalui


pencernaan (gastrointestinal), kemudian didistribusikan ke dalam darah dan
terikat pada sel darah.Sebagian komponen pencemaran udara disimpan dalam
jaringan lunak dan tulang, sebagian diekskresikan lewat kulit, injal dan usus
besar.Komponen pencemaran udara tersebut bersirkulasi dalam darah setelah
diabsorbsikan dari usus, terutama berhubungan dengan sel darah merah
(eritrosit).Pertama didistribusikan ke dalam jaringan lunak dan berinkorporasi
dalam tulang, gigi dan rambut untuk dideposit (storage).
Selain melalui inhalasi, gas ini juga dapat memajan manusia melalui kulit
dan mata terutama di konisi lingkungan yang lembab.Gejalan pada iritasi
kulit oleh SO2, adalah rasa gatal, nyeri, dan kulit menjadi kemerahan. Apabila
gas ini mengiritasi mata akan menyebabkan nyeri dan peradangan pada
jaringan mata dan juga berpotensi pada kebutaan.
2.5 Tanda dan Gejala Terpapar Oleh Sulfur Dioksida (SO2)
a. Pemaparan akut

Iritasi pada hidung dan tenggorokan (nasopharyngitis, laryngitis)

Rasa panas pada mata, pengeluaran air mata yang berlebihan

Pilek

Batuk

Bersin

Sesak napas

Dada terasa sakit

Pengeluaran dahak yang berlebihan

Ronchi

Konstriksi pada bronchus

Chemical bronchopneumonia

b. Pemaparan yang menahun/ kronik

Peradangan yang menahun pada hidung dan tenggorokan

Batuk yang menahun dan berdahak

Pendarahan hidung

Sesak napas dan rasa penuh di dada

Batuk darah

Kelelahan

Meningkatnya kepekaan terhadap iritan lain

Menurunnya kemampuan untuk membau dan merasa

2.6 Pengaruh Sulfur Dioksida (SO2) Terhadap Lingkungan


1. Pengaruh Sulfur Dioksida Terhadap Tanaman
Tanaman dapat rusak karena pencemar SO2.Kerusakan tanaman terjadi
pada daunnya.Lapisan jaringan daun ditutupi oleh lapisan epidermis atas dan
bawah.Stomata (mulut daun) terdapat pada umumnya di bagian bawah lembar
daun.Diantara lapisan epidermis terdapat juga jaringan spons dan jaringan
tiang (palisade) yang mengandung klorofil (photosintetic cells).Stomata
merupakan mulut daun tempat masuknya CO2 yang berguna untuk proses
fotosintetis. SO2 ikut masuk bersama CO2 dan menyebabkan kerusakan pada
jaringan daun. Kerusakan ini bisa nekrosis (kematian jaringan), klorosis
(hilang

atau

berkurangnya

klorofil),

absisi

(rontoknya daun) dan epinasti (melengkungnya daun ke bawah).


Dalam konsentrasi yang lebih besar dari 0.5 ppm gas ini menyebabkan
kerusakan daun dalam waktu yang pendek.Karena gas ini dapat bereaksi
dengan air, maka air hujan yang mengandung asam sulfat atau sulfit
menyebabkan peristiwa yang disebut hujan asam. Hal ini akan menyebabkan
rusaknya beberapa jenis tanaman (Sarudji, 2010).
Beberapa jenis tanaman berdaun lebar memberikan respon terhadap SO 2
yang memiliki konsentrasi 0,9 ppm dengan menunjukkan gejala luar, warna
dedaunan berubah menjadi kuning dan berbintik. Contoh tanaman berdaun
lebar yang sangat sensitif terhadap SO2 adalah Pinus silvestri (pinus ) dan
Fagus (cemara). Kandungan sulfur pada batang pohon cemara dapat memberi
petunjuk terjadi pencemaran SO2 yang meliputi wilayah yang cukup luas
(Nugroho, 2005).

2. Pengaruh Sulfur Dioksida Terhadap Bahan Lain


Harta benda dapat juga terpengaruh oleh SO2.Gedung-gedung yang
mempunyai arti sejarah, patung-patung bernilai seni dapat rusak karena SO 2
mudah menjadi H2SO4 yang sangat korosif. Dulu, sewaktu cat tembok masih
mengandung PbO, maka SO2 dapat beraksi dengannya dan membentuk PbS
yang berwarna hitam.
Benda-benda yang terbuat dari karet seperti ban mobil bila terpapar
H2SO4 akan cepat rusak, menjadi retak atau terbelah-belah (Slamet, 2009).
Terbentuknya asam sulfat juga menyebabkan korosi pada logam (Sarudji,
2010). Laju korosi beberapa jenis logam, terutama besi, baja dan seng
dirangsang pada kondisi lingkungan yang terkontaminasi SO2, disamping
beberapa jenis partikel, kelembaban udara yang tinggi dan suhu juga berperan
penting dalam proses korosi tersebut (Kristanto, 2002).
3. Pengaruh SO2 Terhadap Kesehatan Manusia
SO2 mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kesehatan yang akut dan
kronis, dalam bentuk gas SO2 dapat mengiritasi sistem pernafasan, pada
paparan yang tinggi (waktu singkat) mempengaruhi fungsi paru-paru
(Istantinova, 2012).
Udara yang telah tercemar SOx menyebabkan manusia akan mengalami
gangguan pada sistem pernafasan. Hal ini karena SOx yang mudah menjadi
asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, dan
saluran nafas yang lain sampai ke paru-paru. Iritasi pada saluran pernafasan
dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan dapat terhenti,
sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan, hal ini dapat
meningkatkan produksi lendir dan penyempitan saluran pernafasan.
Akibatnya terjadi kesulitan bernafas, sehingga benda asing termasuk bakteri/
mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan dan hal
ini memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan (Mukono, 2000).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa iritasi pada tenggorokan
terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa
individu yang sensitif, iritasi terjadi pada konsentrasi 1-2 ppm. SO 2 dianggap
polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap manusia usia lanjut

dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan dan
kardiovaskular. Individu dengan gejala tersebut sangat sensitif jika kontak
dengan SO2 walaupun dengan konsentrasi yang relatif rendah, misalnya 0.2
ppm atau lebih (Kristanto, 2002).
Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan adalah
sebagai berikut :
Konsentrasi (ppm)
3-5

Pengaruh
- Jumlah

minimum

yang

dapat

yang

segera

dideteksi dari baunya


8-12

Jumlah

minimum

mengakibatkan

iritasi

pada

tengorokan
20

Jumlah

minimum

yang

mengakibatkan iritasi pada mata


-

Jumlah yang segera mengakibatkan


batuk

50-100

Jumlah

maksimum

yang

diperkenankan untuk kontak dalam


-

400-500

Maksimum

yang

diperbolehkan

untuk kontak singkat (30 menit)


-

Berbahaya meskipun kontak secara


singkat

PencegahanAgar TidakKeracunan Sulfur Dioksida


Terdapat beberapa pencegahan yang bisa dilakukan apabila terpapar dari
Sulfur Dioksida (SO2) yaitu: ventilasi tempat kerja yang memadai; hygiene
perorangan yang baik; pemakaian alat oelindung diri seperti kacamata
pengaman, sarung tangan dan sepatu kerja; pemeriksaan kesehatan sebelum
kerja, berkala dan secara khusus; pekerja yang menderita penyakit mata, kulit,
penyakit saluran pernapasan/ paru dan jantung agar dihindarkan dari
pemaparan Sulfur Dioksida (SO2).

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN


Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat potensial bagi penjualan
kendaraan bermotor berbagai jenis dan merk, hal ini dapat dilihat dari besarnya
tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor yang menembus angka 10% atau 9,7
juta kendaraan (mobil, bus, truk dan sepeda motor) per tahun (BPS, 2013).
Pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi didukung oleh jumlah penduduk
Indonesia yang besar (240) juta dan regulasi pemerintah yang tidak melakukan
pembatasan terhadap pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia.
Tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi, di satu sisi dapat
mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi, akan tetapi di sisi lain dapat
menimbulkan dampak lingkungan yang sangat serius. Dampak lingkungan yang
ditimbulkan di antaranya kemacetan, kebisingan hingga pencemaran atau polusi
udara yang diakibatkan oleh emisi gas buang yang dihasilkan oleh mesin
kendaraan bermotor. Selain itu, kendaraan bermotor akan mengeluarkan berbagai
jenis gas maupun partikulat yang terdiri dari berbagai senyawa anorganik dan
organik dengan berat molekul yang besar yang dapat langsung terhirup melalui
hidung dan mempengaruhi masyarakat.
Saat ini emisi gas buang hasil pembakaran mesin kendaraan bermotor
lebih dekat dengan masyarakat, dibandingkan dengan gas buang dari cerobong
industri yang tinggi. Dengan demikian, masyarakat yang tinggal atau melakukan
kegiatan lainnya di sekitar jalan yang padat lalu lintas kendaraan bermotor
dan mereka yang berada di jalan raya seperti para pengendara bermotor, pejalan
kaki, petugas parkir dan polisi lalu lintas sering kali terpajan oleh bahan pencemar
dari hasil pembakaran mesin dengan bahan bakarnya yang kadarnya cukup tinggi.
Estimasi dosis pemajanan sangat tergantung kepada tinggi rendahnya
pencemar yang dikaitkan dengan kondisi lalu lintas pada saat tertentu. Beberapa
senyawa yang dinyatakan dapat membahayakan kesehatan adalah berbagai oksida
sulfur, oksida nitrogen, dan oksida karbon, hidrokarbon, logam berat tertentu dan
partikulat. Pembentukan gas buang tersebut terjadi selama pembakaran bahan
bakar fosil-bensin dan solar didalam mesin. Dibandingkan dengan sumber
stasioner seperti industri dan pusat tenaga listrik, jenis proses pembakaran yang

terjadi pada mesin kendaraan bermotor tidak sesempurna di dalam industri dan
menghasilkan bahan pencemar pada kadar yang lebih tinggi, terutama berbagai
senyawa organik dan oksida nitrogen, sulfur dan karbon (Tugaswati, 2007).
Gangguan yang lazim dikenal akibat emisi kendaraan bermotor adalah
gangguan saluran pernafasan, sakit kepala, iritasi mata, mendorong terjadinya
serangan asma, ispa, gangguan fungsi paru dan penyakit jantung. Polisi lalu lintas
juga dapat menerima risiko yang bertugas di jalan raya karena pada tempat
tersebut dilakukan pengaturan kendaraan bermotor yang mesinnya masih hidup.
Begitu pula petugas parkir dimana kendaraan bermotor yang masuk dan keluar
area parkir basement mengeluarkan berbagai zat pencemar, diantaranya CO
(karbon dioksida) dan SO2 (sulfur oksida). Orang yang dalam pekerjaannya selalu
terpapar oleh substansi tertentu, seperti karbonmonoksida, timbal, sulfur dioksida
dan nitrogen dioksida, maka substansi tersebut akan masuk melalui hidung dan
atau rongga mulut yang selanjutnya dapat mengendap di paru sehingga dapat
mengakibatkan perubahan fungsi paruparu terutama rasa sesak napas (Mahardika,
2012).
Berdasaran penelitian yang diterbitkan dalam jurnal di Surabaya
menunjukkan lama paparan Polantas Polrestabes Surabaya terhadap emisi gas
buang yang paling tinggi ialah 26 tahun dengan jumlah jam kerja setiap hari ialah
8 jam. Durasi paparan yang tinggi terhadap Polantas bisa saja berakibat pada
tingginya risiko keracunan dari beberapa emisi gas kendaraan bermotor. Risiko ini
dapat terjadi karena pengakumulasian emisi gas kendaraan bermotor yang masuk
ke dalam tubuh melalui inhalasi yang semakin lama semakin meningkat.
Sementara dalam jurnal di Pekanbaru, petugas parkir memiliki resiko
tercemar oleh asap kendaraan yang di keluarkan. Asap kendaran memiliki
kandungan Bahan pencemar yang terutama adalah CO, berbagai senyawa
hidrokarbon, berbagai NO2 dan SO2, dan partikulat debu termasuk timbel (Pb)
(Tugaswati, 2007). Dampak paparan SO2 terhadap rasa sakit terbukti tidak
memberikan dampak yang signifikan terhadap illnes petugas parkir, hal ini
dikarenakan kondisi kendaraan yang parkir di Mall SKA Pekanbaru merupakan
kendaraan baru yang sudah bebas emisi sehingga kurang mengeluarkan SO2.

Namun, penelitian yang dilakukan oleh Nurdin Zakaria, R. Azizah (2013)


judul: Analisis Pencemaran Udara (SO2), Keluhan Iritasi Tenggorokan Dan
Keluhan Kesehatan Iritasi Mata Pada Pedagang Makanan Di Sekitar Terminal
Joyoboyo Surabaya menunjukkan bahwa kontributor terbesar polusi adalah
substansi, kendaraan pribadi Substansi yang dimaksud adalah sulfur oksida (SOx)
yang bersumber dari pengeluaran gas SO2 dan gas lainnya.
Sesak napas dan atau batuk-batuk merupakan salah satu dari penyakit yang
dialami Polantas akibat pekerjaan. Polantas juga mengeluhkan waktu terberat saat
bertugas di jalan raya yang penuh dengan asap kendaraan ialah saat setelah hujan
deras dan menyisakan rintik-rintik air hujan. Pada kondisi demikian ini biasanya
terjadi kemacetan disejumlah ruas jalan dimana Polantas menunaikan tugasnya.
Sehingga asap kendaraan yang sangat padat bercampur dengan kondisi udara yang
lembab membuat Polantas mengeluhkan sesak napas yang begitu berat.
Penelitian yang dilakukan Riski (2013) juga menuliskan bahwa masuknya
asap kendaraan bermotor beserta debu ke dalam saluaran pernafasan dan
mengendap dalam paru dalam jangka waktu yang lamaakan menyebabkan
gangguan kesehatan seperti gangguan pernafasan, ISPA, TBC, asma, Bronchitis,
dan ganguan pernafasan lainya yang berpengaruh pada kesehatan pekerja dan
produktifitas kerja.
Polantas selain mengalami keluhan sesak napas dan atau batuk-batuk,
mereka pun mengeluhkan iritasi mata dan atau mata memerah ketika duduk di
dalam pos penjagaan lalu lintas dan atau ketika bertugas di jalan raya. Seperti
yang telah kita tahu sebelumnya, bahwa kandungan dari emisi kendaraan
bermotor sangat beragam, dari ketiga parameter akan berdampak dalam tubuh
manusia. Hal tersebut merupakan sebuah akumulasi terhadap pencemar yang
diterima oleh Polantas.
Konsentrasi parameter emisi kendaraan bermotor yang telah diukur oleh
Balai Lingkungan Hidup (BLH) meliputi parameter karbon monoksida (CO),
sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2). Dari ketiga parameter
tersebut
diketahui dari hasil penelitian bahwa tidak ada parameter yang memiliki
konsentrasi tinggi saat malam hari. Seperti halnya yang ditulis oleh

Kusminingrum dan Gunawan (2008) bahwa pada malam hari tekanan udara
cenderung lebih stabil daripada waktu pagi, siang ataupun sore hari. Pada malam
hari terjadi pemancaran radiasi matahari yang diserap oleh bumi, sehingga
temperatur permukaan bumi lebih tinggi dari pada di udara, keadaan ini
mengakibatkan tekanan di permukaan bumi rendah sehingga udara akan bergerak
ke permukaan bumi sampai dengan kondisi udara cukup stabil.
Berdasarkan Pergub Nomer 10 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Ambient
Untuk Industri atau Kegiatan Usaha Lainnya, batasan aman untuk sulfur dioksida
(SO2) dengan waktu pemaparan 24 jam ialah 0,1 ppm atau setara dengan
0,262mg/m3. Dengan demikian konsentrasi parameter pencemar udara sulfur
dioksida (NO2) di kota Surabaya masih berada di bawah nilai ambang batas.
Penghitungan Risk Quotient (RQ) dari parameterSO2 yang diteliti adalah < 1.
Dengan demikian parameter SO2 menunjukkan bahwa toksisitas bahan pencemar
tersebut belummenunjukkan dampak risiko bagi tubuh.
Sedangkan untuk paparan SO2 terhadap illness petugas parkir pada Mall
SKA Pekanbaru. Diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,122 dan nilai t hitung
1.586 untuk paparan SO2 terhadap illness petugas parkir pada Mall SKA
Pekanbaru ini menunjukkan lebih besar dibandingkan dengan nilai alpha yang
artinya paparan SO2 tidak berdampak terhadap illness petugas parkir pada Mall
SKA Pekanbaru. hal ini dikarenakan kondisi kendaraan yang parkir di Mall SKA
Pekanbaru merupakan kendaraan baru yang sudah bebas emisi sehingga kurang
mengeluarkan SO2.

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA