Anda di halaman 1dari 1

Terus Melatih Anak Menyelesaikan Masalahnya Sendiri

Kita sering menemukan sekolah atau kita sebagai orang dewasa


mengajarkan agar anak meminta minta maaf. Meminta maaf atas
kesalahannya.Tentu hal tersebut baik, dan memang perlu ditanamkan.
Saya pernah dengar cerita dari orangtua ada seorang guru menunda
kepulangan seorang siswa karena menunggu agar si anak meminta maaf
atas kesalahannya. Akhirnya guru mengalah, karena kata maaf tidak juga
keluar dari si anak.
Memahami suatu hal itu adalah salah bagi anak usia kelas 1 SD dan di
bawahnya, bukan hal mudah. Bisa jadi proses minta maaf dan memaafkan
bagi mereka tidak berarti apa pun.
Cuma sekadar kata maaf dan berjabat tangan.
Kita sebagai ayah dan bunda bisa jadi kaget saat anak kita bercerita tentang
hal yang tidak nyaman dialami anak saat bersama temannya. Jangan
diabaikan; terlalu baper juga jangan. Anak terkadang menggunakan kata
yang bersifat hiperbola (gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara
berlebihan) dan mendramatisasi.
Mengajarkan anak cara untuk memecahkan masalah mereka dengan teman
mereka, jauh lebih bermanfaat ketimbang prosesi maaf dan memaafkan.
Prosesi maaf dan memaafkan terjadi setelah kejadian. Bila anak mampu
memecahkan masalah dengan temannya, prosesi maaf dan memaafkan tidak
akan terjadi. Tidak ada yang terluka; secara verbal ata fisik.
Saat anak bercerita tentang temannya yang negatif, ajarkan anak tentang
banyak kemungkinan. Andai anak mengatakan bahwa ia dipukul, kita bisa
mengatakan, bisa jadi terpukul; tidak sengaja. Coba kamu tanya baik-baik,
apa benar temanmu sengaja melakukannya? Memilihkan kata yang lebih
halus kepada anak juga perlu kita ajarkan.
Memang memaafkan tanpa menunggum maaf, bukan hal mudah. Tapi itu
bisa kita mulai dengan membiasakan anak untuk berpikir banyak
kemungkinan untuk suatu hal.