Anda di halaman 1dari 5

ACARA I

PERKECAMBAHAN DAN PENGARUH ASAL LETAK BIJI DALAM


BUAH TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI BIJI KAKAO
A. Pelaksanaan Praktikum
Hari, Tanggal : Rabu, 21 September 2016
Waktu
: 08.30 10.30 WIB
Tempat
: Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
B. Tujuan Praktikum
Mengetahui pengaruh letak biji dalam buah terhadap pertumbuhan semai biji
kakao.
C. Dasar Teori
Theobroma cacao adalah nama biologi yang diberikan pada pohon kakao oleh
Linnaeus dalam edisi pertama dari buku terkenal berjudul Species Plantarum yang
terbit tahun 1753. Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek
menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara
terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama
dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka
tingkat produksi dan kualitas akan rendah (Susanto, 1994).
Kakao merupakan tanaman perkebunan di lahan kering, dan jika diusahakan
secara baik dapat berproduksi tinggi serta menguntungkan secara ekonomis.
Sebagai salah satu tanaman yang dimanfaatkan bijinya, maka biji kakao dapat
dipergunakan untuk bahan pembuat minuman, campuran gula-gula dan beberapa
jenis makanan lainnya bahkan karena kandungan lemaknya tinggi biji kakao dapat
dibuat cacao butter / mentega kakao, sabun, parfum dan obat-obatan (Siregar dkk,
1989).
Biji di bungkus oleh daging buah (pulpa) yang berwarna putih, rasanya asam
manis dan diduga mengandung zat penghambat perkecambahan. Di sebelah dalam
daging buah terdapat kulit biji (testa) yang membungkus dua kotiledon dan poros
embrio. Biji kakao tidak memiliki masa dorman. Meskipun daging buahnya
mengandung zat penghambat perkecambahan, tetapi kadang-kadang biji

berkecambah di dalam buah yang terlambat dipanen karena daging buahnya telah
kering (Prawoto et. al,. 1994).
Saat biji kakao dikeluarkan dari buah, biji diselimuti oleh lendir putih atau
pulp. Pulp pada mulanya steril, tetapi dengan adanya gula dan keasaman yang
tinggi (pH 3,5) karena kandungan asam sitrat. Kondisi ini ideal untuk
mikroorganisme. Kontaminasi skala luas bisa terjadi karena adanya aktivitas lalat,
lalat buah, dan kontaminasi langsung dari kotak fermentasi (Wahyudi, 2008).
Cara perbanyakan tanaman kakao ada dua yaitu perbanyakan
secara generatif dan perbanyakan secara vegetatif. Perbanyakan
tanaman kakao secara generatif dengan menggunakan biji
sedangkan

perbanyakan

vegetative

tanaman

kakao

dapat

dilakukan dengan cara okulasi, stek atau kultur jaringan.


Perbanyakan vegetatif yang lazim dilakuka adalah okluasi karena
penyetekan masih sulit dilakukan di tingkat perkebunana dan
kultur jaringan masih dalam penelitian. Okulasi dilakukan dengan
menempelkan mata kayu pada kayu batang bawah yang telah
disayat kulit kayunya dengan ukuran tertentu, diikat dan
dipelihara sampai menempel dengan sempurna walaupun tanpa
ikatan lagi (Puslitkoka, 2010).
Kelebihan dari perbanyakan

tanaman secara

vegetative

adalah menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat sama


dengan

induknya

dan

cepat

berbuah,

namun

tingkat

keberhasilannya rendah. Cara perbanyakan secara generative,


walaupun tingkat keberhasilannya tinggi, tanaman baru yang
dihasilkan sering menunjukkan sifat yang berbeda dari induknya,
selain itu diperlukan waktu yang lama untuk berbuah.
Benih kakao tidak mempunyai masa dormansi (istirahat) dan
daya kecambahnya cepat menurun. Oleh karena itu benih kakao
harus segera disemaikan. Bila benih yang disemai sudah
berkecambah maka benih yang berkecambah dapat langsung
ditanam di polybag. Pada benih kakao ada bagian yang disebut
radikel yaitu tempat keluarnya akar. Bila dengan mata sulit

ditemukan, maka umumnya bagian itu berada pada bagian benih


yang ujungnya besar (Ardiansyah, 2009).
D. Alat dan Bahan
1. Buah kakao
2. Bak semai biji
3. Larutan kapur/serbuk gergaji
4. Fungisida
5. Pisau
6. Pasir dan pupuk kandang
E. Cara Kerja
1. Cara mengambil biji dari buah:
a. Memilih buah masak, memecah

dengan

alat

pemukul

sampai

terbelah/potong membujur.
b. Mengeluarkan/mengambil biji, dan memisahkan biji yang tengah
(perlakuan 1) dan menyatukan biji ujung dan pangkal sebagai perlakuan 2.
c. Biji yang dilapisi daging buah (pulp) direndam dalam larutan kapur 2,5%
atau dengan serbuk gergaji, dengan cara diremas-remas.
d. Mencuci dengan air bersih, daging buah dan kulit biji dikupas, dicuci lagi.
e. Untuk melindungi biji dari serangan jamur, merendam dalam larutan
fungisida selama 5-10 menit, kemudian biji dikeringkan anginkan.
2. Menyiapkan media perkecambahan terdiri dari campuran pasir/tanah porous
dan pupuk kandang 1:1
3. Menanam biji dalam media semai hingga kedalaman setengahnya biji (bagian
yang rata menghadap ke media).
4. Melakukan pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, dan pengendalian
hama dan penyakit hingga tanaman siap disapih (umur 1 minggu setelah
perkecambahan).

F. Hasil dan Perhitungan


G. Pembahasan
H. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah. 2009. Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao. L)
terhadap Lumpur Kering Limbah Domestik dan Pupuk NPK pada Tanah
Subsoil. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
Prawoto A.A dan Iskandar Abdul Karneni, 1994. Pengaruh Tinggi Tempat
Penanaman Kakao Terhadap Kadar Lemak dan Komposisi Asam Lemak.
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember. Indonesia.
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2010. Buku Pintar Budi Daya Kakao.
AgroMedia. Jakarta.
Siregar,Tumpal H.S, dkk. 1989. Budidaya, Pengelolaan dan Pemasaran
Coklat. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Susanto, F.X. 1994. Tanaman Kakao. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Wahyudi, T., T.R Pangabean., dan Pujianto. 2008. Panduan Lengkap Kakao
Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.