Anda di halaman 1dari 9

JB Vol. 01 No.

01 Desember 2014
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH SISWA KELAS 7.1 SMP NEGERI 48 PALEMBANG
Laila Antenar
Guru SMP Negeri 48 Palembang Kota Palembang Sumatra Selatan
ABSTRAK
Abstrak : Telah dilakukan penelitian tindakan kelas terhadap siswa kelas 7.1 di SMP Negeri 48 Palembang,
dengan tujuan meningkatkan aktivitas siswa belajar IPS melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Make
A Match. Proses pembelajaran yang selama ini berlangsung untuk mata pelajaran IPS terjadi secara
konvensional, hal ini mengakibatkan hasil pembelajaran belum sesuai dengan yang diharapkan.
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama dua siklus dengan setiap siklus diadakan dua kali
pertemuan. Setiap kali pertemuan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif Tipe Make A Match. Sebagai alat pengumpul data adalah lembar observasi yang diisi oleh
observer, dengan langkah-langkah perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan
refleksi untuk setiap siklus.
Aktivitas siswa belajar IPS mengalami peningkatan secara signifikan pada semua indikator dari siklus
pertama ke siklus kedua, peningkatan juga terjadi pada hasil belajar siswa untuk semua indikator.
Perubahan ini menunjukkan bahwa aktivitas dan semangat belajar siswa semakin meningkat. Peningkatan
aktivitas siswa belajar IPS dari siklus pertama ke siklus kedua merupakan dampak dari pembelajaran
kooperatif Tipe Make A Match.
Kata kunci: Pembelajaran,IPS, Model Make A Match

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah
satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari
SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji
seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi
yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SMP/MTs
mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah,
Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS,
peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara
Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta
warga dunia yang cinta damai.
Berdasarkan masalah yang dipaparkan di atas peneliti
memilih
judul
penelitian
MENINGKATKAN
AKTIVITAS BELAJAR IPS MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A
MATCH SISWA KELAS 7.1 SMP NEGERI 48
PALEMBANG .
1.2 Identifikasi
Secara teoritis banyak faktor yang berpengaruh
terhadap minat siswa belajar IPS terpadu. Baik aktivitas
positif maupun aktivitas negatif, juga faktor dari dalam
diri siswa
sendiri seperti; motivasi, kecerdasan
emosional, kecerdasan spiritual, kreatifitas, cara belajar,
panca indra dan lainnya. Faktor dari luar seperti; metode,
sarana prasarana, sumber belajar, media pembelajaran
yang dipakai guru, model pembelajaran yang diterapkan,
interaksi antar guru dan siswa, ekonomi, bimbingan
belajar sesama siswa, sosial, budaya dan lainnya. Semua
itu dapat berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa

Alasan memilih model pembelajaran kooperatif dengan


model pembelajaran make a match, sebagai faktor yang
diduga memiliki pengaruh terhadap aktivitas belajar siswa
kelas 7.1 SMP Negeri 48 Palembang pada mata pelajaran
IPS Terpadu. Peningkatan model pembelajaran tipe make
a macth dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam proses
pembelajaran, sehingga siswa mampu menyelesaikan
berbagai persoalan dan kesulitan dalam belajar, dan pada
akhirnya nanti aktivitas belajar siswa akan meningkat.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas permasalahan dalam
penelitian ini adalah, Apakah model pembelajaran tipe
make a match dapat meningkatkan aktivitas belajar IPS
Terpadu, siswa kelas 7.1 SMP Negeri 48 Palembang?
Masalah tersebut akan dipecahkan dengan
menggunakan model pembelajaran tipe make a match, ini
sangat efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa.
1.5 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah
maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan
aktivitas belajar IPS melalui model pembelajaran tipe
make a match siswa dalam pembelajaran IPS Terpadu di
kelas 7.1 SMP Negeri 48 Palembang.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini
adalah
1.Bagi siswa :
Mendorong siswa untuk
mendapatkan
aktivitas
belajar
pada
setiap
pembelajaran di sekolah

1.3 Analisis masalah

1110-51

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


2.Bagi guru :

3.Bagi sekolah:

Memberikan informasi yang


positif kepada pendidik,
khususnya pendidik mata
pelajaran IPS dalam usaha
peningkatan aktivitas belajar
siswa dengan penerapan
model pembelajaran tipe
make a macth.
memiliki referensi contoh
penelitian yang mungkin
dapat dijadikan acuan bagi
guru mata pelajaran lain
yang dalam menghadapi
masalah yang sama

1.7 Hipotesis Tindakan


Model pemeblajaran tipe make a match dapat
meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa kelas 7.1 SMP
Negeri 48 Palembang.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar yang efektif melibatkan seluruh
kemampuan
siswa dalam menggunakan inderanya.
Semakin bayak indera yang digunakan semakin banyak
kegiatan pembelajaran yang diperoleh.
2.2 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Menurut Sapriya (2009:43) khusus IPS SMP
materi pelajaran dibagi menjadi tiga bagian, yaitu materi
sejarah, ekonomi, dan geografi. Materi pengetahuan sosial
meliputi lingkungan sosial, geografi, ekonomi, dan politik
atau pemerintahan sedangkan cakupan materi sejarah
meliputi sejarah lokal dan sejarah nasional. Tujuannya
adalah untuk mengembangkan pengetahuan siswa dan
keterampilan dasar yang akan digunakan dalam
kehidupannya serta meningkatkan rasa nasionalisme dari
peristiwa masa lalu hingga masa sekarang agar para siswa
memiliki rasa kebanggaan dan cinta tanah air.
2.3 Tujuan Mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial
Tujuan mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial
adalah agar siswa memiliki kemmapuan sebagai berikut:
1. Mengemal konsep-konsep yang berkaitan dengan
kehidupan mesyarakat dan lingkungannya.
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis
dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan
masalah, dan keterampilan dalam kehidupan
sosial
3. Memiliki komitmen dan kesadaran trehadap
nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4. Memiliki
kemampuan
berkomunikasi,
bekerjasam dan berkompetensi dalam masyarakat
yang majemuk, ditingkat lokal, nasional, dan
global (Direktorat Pendidikan, 2006:125-148).
2.4 Ruang Lingkup Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial Sekolah Menengah Pertama
Pelajaran IPS di Sekolah Menegnah Pertama
merupakan salah satu mata pelajaran yang tercantum
didalam struktur kurikulum 2006 KTSP. Dalam kurikulum

2006 bahwa mata pelajaran IPS terdiri dari sejarah,


geografi, sosiologi, dan ekonomi yang sekarang ini di
sekolah kami sudah belajar IPS Terpadu.
2.6 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
1.
Setiap metode atau strategi pembelajaran
mempunyai beberapa kelebihan dan beberapa kekurangan.
Demikian juga dengan strategi pembelajaran kooperatif
mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.
Menurut Sanjaya (2006: 249) strategi pembelajaran
kooperatif mempunyai beberapa keunggulan dan
kelemahan. Keunggulan pembelajaran kooperatif antara
lain:
1.
Melalui pembelajaran kooperatif siswa
tidak terlalu menggantungkan pada guru akan
tetapi
dapat
menambah
kepercayaan
kemampuan berpikir sendiri, menemukan
informasi dari berbagai sumber, dan belajar
dari siswa yang lain.
2.
Pembelajaran
kooperatif
dapat
membantu memberdayakan setiap siswa untuk
lebih bertanggung jawab dalam belajar.
3.
Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan
prestasi akademik sekaligus kemampuan
sosial, termasuk mengembangkan rasa harga
diri, hubungan interpersonal yang positif
dengan
yang
lain,
mengembangkan
keterampilan membagi waktu, dan sikap positif
terhadap sekolah.
4.
Interaksi selama kooperatif berlangsung
dapat meningkatkan motivasi dan memberikan
rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna
untuk proses jangka panjang.
2.7 Model Pembelajaran Make a Match
Make a match dikembangkan oleh Larno Current
(1994). Make a match atau mencari pasangan merupakan
salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa,
make a match (mencari pasangan) adalah salah satu dari
model-model pembelajaran learning yang efektif
diterapkan dalam pembelajaran. Make a match merupakan
pembelajaran yang menggunakan kartu-kartu. Kartu-kartu
tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyan dan
kartu-kartu yang berisi jawaban dari pertanyaan tersebut
(Suprijono, 2011:94). Model pembelajaran kooperative
learing (MPCL), beranjak dari dasar pemikiran getting
better together. Yang menekankan pada pemberian
kesempatan yang luas dan suasana yang konduksif kepada
siswa untuk memperoleh dan mengembangkan
pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan
sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat.
Melalui MPCL siswa tidak hanya belajar dan menerima
apa yang disajikan oleh guru dalam proses belajar
mengajar, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya,
dan
sekaligus
mempunyai
kesempatan
untuk
membelajarkan siswa yang lain. Proses pembelajaran
dengan MPCL ini mampu merangsang dan menggugah
potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar pada
kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2 atau 6 oarng.

1110-52

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


2.7.2 Kelebihan dan Kekurangan dari Make a Match
Tidak ada model pembelajaran yang terbaik.
Setiap model pembelajaran pasti mempunyai kelebihan
dan kekurangan. Bisa jadi, suatu model pembelajaran
cocok untuk materi dan tujuan tertentu, tetapi kurang
cocok untuk materi atau tujuan lainnya. Make a match
demikian juga, mempunyai kelabihan dan kekurangan.
2.8 Hasil Penelitian Relevan
Penelitian terdahulu yang berkenaan dengan
penelitian ini adalah;
Rani Gusti (2002) meneliti tentang aktivitas dan daya
serap hasil belajar IPS siswa kelas XII SMA Negeri
05
Padang
Dengan
Judul
UPAYA
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN DAYA
SERAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XII SMA
NEGERI 05 PADANG MELALUI MODEL MAKE A
MATCH. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa
pembelajaran IPS Terpadu dengan
menggunakan Model Pembelajan make a match, dapat
meningkatkat aktivitas dan hasil belajar IPS siswa
kelas XII SMA Negeri 05 Padang.
2.7 Kerangka Berfikir
Aktivitas belajar IPS masih rendah di antaranya
disebabkan suasana belajar yang kurang menyenangkan
sehingga membuat pelajaran IPS dirasa membosankan dan
siswa malas untuk mempelajarinya. Aktivitas belajar yang
rendah tentunya dapat mempengaruhi hasil belajar siswa,
jika minat belajar rendah maka hasil belajar siswa juga
rendah. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang
tepat dan mendukung.
Salah satu model pembelajaran kooperatif tipe
Make a Match. Make a matc merupakan salah satu tipe
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Pada
proses pembelajarannya siswa ditempatkan dalam tim
belajar yang merupakan campuran menurut tingkat
kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan
pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk
memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai
pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis
tentang materi itu dengan catatan saat kuis berlangsung
mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran
inilah yang peneliti terapkan dalam pembelajaran IPS di
kelas 7.1 SMP Negeri 48 Palembang. Dengan
pembelajaran kooperatif tipe Make a Match diharapkan
aktivitas belajar siswa meningkat minimal menjadi 75%
dari siswa yang berjumlah 32 siswa dan memenuhi nilai
Kriteria ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran IPS
yakni 70. Peningkatan aktivitas belajar ditunjukkan dalam
proses pembelajaran yaitu meningkatnya aktivitas belajar
siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
Penggunaan model pembelajaran make a match
sangat tepat digunakan karena model pembelajaran
inovatif yang bertujuan untuk menciptakan suasana
belajar yang aktif dan menyenangkan dan pada akhirnya
aktivitas belajar, serta haisl belajar siswa meningkat.
3. METODE DAN PELAKSANAAN PENELITIAN
3.1 Pendekatan penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian
tindakan ( Action Reseach ).

3.2 Fokus penelitian


Penelitian ini difokuskan untuk menyelidiki apakah
model pembelajaran kooperatif tipe make a match
dapat meningkatkan aktivitas belajar IPS Terpadu,
siswa kelas 7.1 SMP Negeri 48 Palembang?
3.3 Lokasi dan Waktu penelitian
3.3.1 Lokasi penelitian
Lokasi penelitian adalah SMP Negeri 48
Palembang dengan sampel siswa kelas 7.1
mata pelajaran IPS tahun pembelajaran
2012/2013
3.3.2 Waktu penelitian
Waktu penelitian dari bulan Januari sampai
bulan April tahun 2013 terhadap siswa kelas
7.1 mata pelajaran IPS semester genap
tahun pembelajaran 2012 / 2013 SMP
Negeri
48
Palembang.
Penelitian
dilaksanakan tiap hari Kamis sesuai dengan
jam pembelajaran IPS pada kelas 7.1 yang
dijadikan objek penelitian.
3.4 Subjek Penelitian
Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas 7.1
SMP Negeri 48 Palembang,yang berjumlah 32
orang, yang terdiri laki-laki 16 orang dan 16
perempuan. Siswa kelas ini diambil sebagai subjek
penelitian karena di kelas ini aktivitas belajar
siswa di setiap ulangan harian sangat rendah
dengan nilai ulangan harian hanya sebagian kecil
mencapai KKM. Selain itu, sebagain besar siswa
pasif dalam pembelajaran IPS, faktor ini diduga
sebagai faktor penyebab rendahnya aktivitas belajar
IPS siswa.
3.5 Instrumen pengumpul data dan pengukurannya.
Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah
perangkat tes dengan soal-soal bentuk pilihan
ganda.
Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah
berupa instrumen akivitas belajar.
3.6. Teknik analisis data yang digunakan.
Teknik analisa data menggunakan rumus teknik
proporsi ( Sudjana, 2010 ) yaitu :
1.Untuk Hasil belajar siswa
D = [Y/N]
D = Nilai rata rata hasil belajar siswa
Y = jumlah nilai siswa keseluruhan
N = jumlah total siswa
2. Untuk Prosentasi Aktivitas Rata-rata belajar
siswa
A = [ Y / N ] x 100 %
A = Prosentase Aktivitas belajar siswa
Y = Jumlah siswa yang aktif
N = Jumlah total siswa
Hasil analisis data disajikan dalam bentuk data,
tabel, dan grafik. Untuk lebih memudahkan dalam
membaca data dan memprediksikan apa kesimpulan dari
perlakuan yang diberikan

1110-53

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


2.6 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan pada penelitian tindakan kelas ini
yaitu meningkatnya meinat siswa belajar IPS.
Persentase siswa berminat ditentukan dengan acuan dari
Arikunto (1991) dan Fatimah (2008) sebagai berikut.
76 % - 100% minat belajar siswa sangat baik
51% - 75% minat belajar siswa baik
48% - 50% minat belajar siswa sedang
15% - 25% minat belajar siswa kurang

dikatakan baik. Aktivitas mencatat kesimpulan


siswa pada pertemuan ke pertama 65.63%
Pertemuan ke dua 67,50%. Dengan demikian
aktivitas mencatat kesimpulan rata-rata siswa pada
siklus pertama 58,75%. Dengan demikian siswa
pada siklus 1 dapat dikatakan sedang.
Dari uraian data dan tabel diatas bahwa
aktivitas positif siswa belajar IPS, ada yang
mengalami peningkatan dan ada yang perlu
ditingkatkan. aktivitas belajar siswa yang telah
tinggi yaitu : aktivitas siswa membaca LKS baik
(64.06 %), aktivitas siswa mencatat kesimpulan
baik (68,75% ). Sedang aktivitas belajar yang perlu
ditingkatkan yaitu: aktivitas siswa dalam
berdiskusi kurang (42.19%), aktivitas siswa dalam
menanggapi pendapat teman kurang ( 41,25% ),
aktivitas menjawab pertanyaan guru kurang (43.75
%), aktivitas menjawab pertanyaan guru sedang
(40,00%).
Dengan demikian rata-rata aktivitas
siswa belajar IPS masih rendah yaitu sebesar
(57,55 %). Sedangkan aktivitas negatif yang perlu
diturunkan sehingga menjadi lebih efektif yaitu
siswa yang acuh tak acuh
(81.25%) dan
mengganggu
teman (54.69%) serta
sering
minta izin keluar (26,26%). Hal ini menunjukkan
bahwa masih adanya aktivitas negatif dalam proses
pembelajaran sebesar 54.17%. Secara rinci dapat
dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Persentase Aktivitas Siswa Belajar
IPS Pada Siklus I dan Rata-rata

Hasil analisis data disajikan dalam bentuk data,


tabel, narasi dan grafik untuk lebih memudahkan dalam
membaca data dan memprediksikan apa kesimpulan dari
perlakuan yang diberikan.
4. HASIL PENELITIAN
4.1. Hasil Penelitian Siklus I
Hasil penelitian yang diperoleh pada
siklus I, berupa tiga jenis data yang memuat
aktivitas belajar siswa selama dua kali pertemuan
dan satu jenis data Hasil belajar siswa sebagai data
pendukung penelitian yang diadakan setelah
penelitian siklus I berakhir.
4.1.1. Data Akktifitas Siswa Belajar IPS Siklus
I
Berdasarkan data hasil observasi
diperoleh persentase aktivitas siswa pada siklus I
dari pertemuan pertama sampai kedua dapat
dilihat pada tabel 2.
Dari tabel 1 di atas, dapat dijelaskan
bahwa pada siklus 1 Aktivitas positif Membaca
LKS siswa pada peretemuan pertama 62.50%
.Pertemuan kedua 65,25 % dengan aktivitas
membaca LKS rata rata pada siklus 64.06% dengan
demikian aktivitas membaca siswa pada siklus 1
dapat dikatakan baik. Aktivitas positif aktif
berdiskusi siswa pada peretemuan
pertama
43.75% Pertemuan kedua 40.625% . Aktifitas
berdiskusi rata-rata siswa pada siklus pertama
42.19 % dengan demikian aktivitas berdiskusi
siswa pada siklus 1 dapat dikatakan kurang,
aktivitas positif bertanya pada guru siswa pada
peretemuan pertama 56.25%, pertemuan ke dua
53.125%. Dengan demikian aktivitas bertanya
siswa pada pakar rata rata siswa pada siklus
pertama 54.69%. Dengan demikian
aktifitas
bertanya pada guru siswa pada siklus 1 dapat
dikatakan kurang. Aktivitas positif menjawab
pertanyaan guru siswa pada pertemuan pertama
40.63%, pertemuan kedua 46.875%. Dengan
demikian aktifitas menjawab pertanyaan pakar rata
rata siswa pada siklus pertama 43.75%. Dengan
demikian siswa aktivitas menjawab pertanyaan
guru pada siklus 1 dapat dikatakan sangat kurang.
Aktivitas menanggapi pendapat teman siswa pada
pertemuan kepertama 68,75, pertemuan kedua 75
%
Dengan demikian aktivitas menanggapi
pendapat teman rata-rata siswa pada siklus
pertama 71.88%.
Dengan demikian siswa
menanggapi pendapat teman pada siklus 1 dapat

80%
60%
40%

Pertemuan ke
1

20%

Pertemuan ke
2

0%

Rata-rata

-20%
-40%

4.1.2. Data Daya Serap Belajar Siswa pada


Penelitian Siklus I
Data hasil belajar siswa merupakan data
pendukung pada penelitian tindakan kelas yang
mengacu pada aktivitas belajar siswa.Berdasarkan
data hasil belajar siswa, maka diperoleh Tabel 2
Tabel 3. Data Daya serap Belajar Siswa pada Akhir
Siklus I dengan KKM 70%
NO
Nilai
Jumlah siswa

1110-54

Tuntas

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


1
2
3
4
5
6
Jumlah

< 49

50-59
60-69
70-79
80-89
90-100

2
11
6
10
2
32

4.

Pada tabel 2 di atas menunjukkan siswa


yang memdapat nilai < 49 ada 1 orang , siswa yang
mendapat 50 sd 59 sebanyak 2 orang, siswa yang
memdapat nilai 60 sd 69 sebanyak 11 orang, siswa
yang mendapat nilai 70-79 sebanyak 6 orang, siswa
yang mendapat nilai 80 sd 89 sebanyak 10 orang,
siswa yang memdapat nilai 90 sd 100 sebanyak 2
orang. Dari 32 orang siswa pada siklus 1 siswa
yang tuntas 18 orang dan siswa yang belum tuntas
14 orang dengan daya serap belajar siswa setelah
siklus I
telah memenuhi standar ketuntasan
belajar minimum (70) sebesar 56.25 % dengan
nilai rata-rata 72.5, maka dapat dikatakan pada
siklus I belum optimal dan oleh karena itu perlu
ditingkatkan

Kebayakan siswa belum memahami model


pembelajaran make a match dalam kelompoknya.
5. Pada saat kegiatan penyampaian materi,
kebanyakan anggota kelompok masih kurang
mempersiapkan diri dalam mengikuti jalannya
diskusi kelompok.
6. Masih ada anggota kelompok yang merasa ragu
dalam mengemukan pendapat.
4.2. Hasil Penelitian Siklus II
Sama halnya dengan penelitian pada siklus
I, hasil penelitian yang diperoleh pada siklus II, berupa
tiga jenis data yang memuat aktivitas belajar siswa
selama dua kali pertemuan dan satu jenis data hasil
belajar siswa sebagai data pendukung penelitian yang
diadakan setelah penelitian siklus II berakhir.
4.2.1. Data Akktifitas Siswa Belajar IPS
Berdasarkan hasil pengamatan diproleh
data-data persentase aktivitas siswa belajar IPS
pada siklus I dari pertemuan pertama sampai
kedua yang dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.

Gambar 2 Grafik Daya serap Belajar Siswa pada


Akhir Siklus I
16
14
12
10
8

Junlah Siswa

Tuntas

Tak Tuntas

2
0

4.1.3. Refleksi Siklus I


Berdasarkan hasil pengamatan dari
pelaksanaan pembelajaran ditemukan hal-hal seperti
di bawah ini.
1. Penjelasan dan pelayanan guru dengan model
pemeblajaran tipe make a match merupakan
barang baru bagi siswa, sehingga kesiapan siswa
masih kurang.
2. Minat dan motivasi belajar meningkat walaupun
di sini masih kelihatan guru kerepotan mengatur
siswa dalam kelompok diskusi atau kelompok
belajar.
3. Sebagian besar siswa kurang mengikuti jalannya
diskusi, mash menganggap bahwa kelompoknya
dalam berdiskusi

1110-55

Dari tabel 3 di atas, dapat dijelaskan bahwa


pada siklus 2 aktivitas positif membaca LKS siswa
pada pertemuan ke pertama 80,00 %, pertemuan
kedua 100%. Dengan aktifitas membaca LKS ratarata pada siklus dua 90,00 %. Dengan demikian
aktivitas membaca siswa pada siklus 2 dapat
dikatakan sangat aktif. Aktivitas positif aktif
berdiskusi siswa pada pertemuan ke pertama
87,50%, pertemuan ke dua 95,00 %. Aktifitas
berdiskusi rata-rata siswa pada siklus kedua 91,25
%. Dengan demikian aktivitas berdiskusi siswa pada
siklus 2 dapat dikatakan baik sekali. Aktivitas
positif bertanya pada pakar siswa pada pertemuan ke
pertama 62,50 % Pertemuan ke dua 92,50 %.
Dengan demikian aktivitas bertanya siswa pada guru
rata-rata siswa pada siklus dua 77,50 % Dengan
demikian aktifitas bertanya pada guru siswa pada
siklus 2 dapat dikatakan baik sekali. Aktivitas positif
menjawab pertanyaan guru siswa pada peretemuan
ke pertama 67,50%, pertemuan ke dua 87,50%.
Dengan demikian aktifitas menjawab pertanyaan
pakar rata-rata siswa pada siklus kedua 77,50 %
Dengan demikian siswa
aktivitas menjawab
pertanyaan guru pada siklus 2 dapat dikatakan baik
sekali. Aktivitas menanggapi pendapat teman siswa
pada pertemuan ke pertama 87,50%, pertemuan ke
dua 95,00%. Dengan demikian aktivitas menanggapi
pendapat teman rata- rata siswa pada siklus dua
91,25 %. Dengan demikian siswa menanggapi
pendapat teman pada siklus 2 dapat dikatakan baik
sekali. Aktivitas mencatat kesimpulan siswa pada
pertemuan ke pertama 75,00 %, pertemuan ke dua
95,00 %. Dengan demikian aktivitas mencatat
kesimpulan rata rata siswa pada siklus dua 85,00%.
Dengan demikian siswa pada siklus 2 dapat
dikatakan baik sekali.
Dari uraian data dan tabel diatas
menunjukkan bahwa aktivitas siswa belajar IPS
mengalami peningkatan untuk semua indikator
yaitu aktivitas membaca LKS baik sekali ( 90 % ),
aktivitas berdiskusi baik ( 91,25% ), aktivitas

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


bertanya pada pakar baik sekali (77,50 %),
aktivitas menjawab pertanyaan pakar baik
(77,50%), aktivitas menanggapi pendapat teman
baik ( 91,25% ) dan aktivitas mencatat kesimpulan
baik sekali ( 85,00% ).
Aktivitas negatif mengalami penurunan
artinya siswa mulai aktif mengikuti pembelajaran
dengan model pembelajaran make a match secara
serius, hal ini nampak pada semua indikator yaitu
acuh tak acuh cukup baik (1,5%), mengganggu
teman baik sekali (5%) dan sering minta izin baik
sekali (2,5%).
Berdasarkan data yang tertera pada
Tabel 3 dan pengamatan observer menunjukkan
siswa semakin serius, tekun dan tertib dalam
mengikiti proses pembelajaran dalam kelompok
untuk menggali pengetahuan. Peneliti juga
mencatat, siswa semakin tertib dalam berdiskusi,
bertanya pada guru, menjawab pertanyaan guru
maupun teman dalam kelompok, menanggapi
pendapat teman, tidak begitu acuh dan tidak
terlihat siswa mengganggu teman
apalagi
melamun.
Secara rinci kenaikan aktivitas siswa
belajar IPS pada silus II dapat dilihat seperti pada
Gambar 3 dibawah ini..
Gambar 3. Persentase Aktivitas Siswa Belajar IPS
pada Siklus II dan Rata-rata

Pada Tabel 4, menunjukkan Siswa yang


mendapat nilai 50 sd 59 sebanyak 2 orang , Siswa
yang memdapat nilai 60 sd 69 sebanyak 3 orang,
siswa yang mendapat nilai 70 sd 79 sebanyak 5
orang, siswa yang memdapat nilai 80 sd 89
sebanyak 13 orang, siswa yang mendapat nilai 90
sd 100 sebanyak 9 orang. Pada siklus kedua siswa
yang tuntas 27 orang dan siswa yang belum tuntas
5 orang dengan persentase Daya serap belajar
siswa sebesar 86 %, dengan nilai rata-rata 77,5,
hasil belajar siswa sudah dapat dikatakan telah
optimal.
Gambar 4 Grafik Peningkatan Daya Serap dan Hasil
Belajar IPS Siswa Akhir Siklus II
15
10
5
0
< 49

80%
60%
1

20%

2
Rata - rata

0%
-20%

4.2.2. Data Hasil Belajar Siswa pada Penelitian


Siklus II
Data hasil belajar siswa merupakan data
pendukung pada penelitian tindakan kelas yang
mengacu pada aktivitas belajar siswa. Berdasarkan
data hasil belajar siswa, maka diperoleh tabel 5.
Tabel 5. Data Peningkatan Daya Serap dan Hasil
Belajar IPS Siswa Akhir Siklus II
No
Nilai
Jumlah siswa
Tuntas
1
2
3
4
5
6

< 49
50-59
60-69
70-79
80-89
90-100
Jumlah

2
3
5
13
9
32

5
13
9
27

Tuntas

Tak Tuntas

4.2.3. Refleksi Siklus II


Secara umum aktivitas siswa belajar IPS pada siklus
kedua mengalami meningkat dibanding dengan siklus
pertama. Pada siklus kedua ini tampak siswa
mengalami peningkatan pemahaman materi yang
dipelajari. Kemampuan siswa mengembangkan materi
lebih luas tampak dari hasil karya yang dihasilkan. Hal
ini menunjukan siswa sudah memahami bagaimana
belajar dengan menggunakan model pembelajaran tipe
make a match. Berdasarkan pengamatan terhadap
aktivitas siswa belajar IPS, maka pada siklus kedua
ditemukan hal-hal seperti berikut ini.
1. Siswa merasa lebih leluasa berinteraksi dalam
kelompok sehingga keberanian mengemukakan
pendapat sudah muncul dengan baik
2. Siswa menyampaikan gagasan yang bervariasi
sehingga dalam penentuan final yang digunakan
dalam memecahkan masalah cukup alot dan
memerlukan waktu yang lebih lama.
3. Siswa
sudah
terbiasa
dengan
model
pembelajaran
koperatif
dengan
model
pembelajaran kooperatif tipe make a match,
sehingga keberlangsungan pembelajaran sudah
sesuai
dengan
rencana
pelaksanaan
pembelajaran.
4. Pemberian penghargaan kepada siswa/kelompok
yang
mempunyai
aktivitas
terbesar
menumbuhkan semangat dan mendorong
terhadap penguasaan materi.

100%

40%

Junlah
Siswa

4.3 Pembahasan Siklus 1


1. Peningkatan Aktivitas Siswa Belajar IPS dari
Pra Siklus ke Siklus I
Proses
pembelajaran
yang
sudah
dilakukan, sedikit
mengalami peningkatan
aktivitas siswa. Berdasarkan hasil pengamatan
pada pra siklus dan siklus pertama pada penelitian
tindakan kelas ini, pembelajaran dengan model
pembelajaran koperatif tipe make a match

1110-56

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


menunjukkan adanya peningkatan aktivitas positif
siswa belajar IPS.dan telah terjadi penurunan
aktifitas negatif siswa hal itu dapat kita lihat pada
tabel 6.
Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa
aktivitas siswa belajar IPS mengalami peningkatan
walau belum besar aktivitas positif membaca LKS
pada pra siklus 30,00%, sedangkan pada pada
siklus pertama 58,75 % mengalami paningkatan
28,75%, aktivitas positif aktif berdiskusi pada pra
siklus 25,75 % sedangkan pada pada siklus
pertama 46,25% mengalami paningkatan 20,50%,
aktivitas positif bertanya pada pakar pada pra
siklus 27,00 % sedangkan pada pada siklus
pertama 35,00% mengalami paningkatan 8,00%,
aktivitas positif menjawab pertanyaan pakar pada
pra siklus 28,25 % sedangkan pada pada siklus ke
pertama 40,00% mengalami paningkatan 11,75%,
aktivitas positif menanggapi pendapat
teman
pada pra siklus 13,75 % sedangkan pada pada
siklus pertama 41,25% mengalami paningkatan
27,50 %, aktivitas positif mencatat kesimpulan
pada pra Siklus 30,50% sedangkan pada pada
siklus pertama 58,75% mengalami peningkatan
28,25%, telah terjadi peningkatan aktivitas positif
siswa pada semua indikator rata-rata sebesar
20,79%.
Pada tabel 5 juga terlihat, aktivitas
negatif siswa juga juga mengalami penurunan
seperti sikap acuh tak acuh pada pra siklus 5,5%
pada siklus pertama 2,5 % mengalami penurunan
3%, sedangkan sikap mengganggu teman
mengalami penurunan dari 3,50% menjadi 0,5%
terjadi penurunan sebesar 3 %, semantara itu sikap
sering minta izin keluar saat belajar mengalami
penurunan dari 8,00% menjadi 2,5% turun sebesar
0,5% secara keseluruhan aktifitas negatif siswa
menurun rata-rata 2,17 %
Ganbar 4. Aktivitas Siswa Belajar IPS pada Pra
Siklus
dan Siklus I Serta
Peningkatannya

80%
60%
40%
20%
0%
-20%

Pra Siklus

Proses
pembelajaran
yang
sudah
dilakukan, telah mengarah pada peningkatan
aktivitas siswa. Berdasarkan hasil pengamatan
pada siklus pertama dan kedua pada penelitian
tindakan kelas ini, pembelajaran dengan model
pembelajaran koperatif tipe make a match
menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa
belajar IPS. Informasi yang dapat dilihat ketika
kegiatan
pembelajaran
yang
berlangsung
diantaranya tingkat aktivitas dan interaksi sisa
selama pembelajaran berlangsung sangat baik,
siswa menjadi lebih kreatif dan inovatif, untuk
memenuhi rasa ingin tahunya.
Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa aktivitas siswa
belajar IPS mengalami peningkatan secara signifikan.
Pada beberapa indikator aktivitas siswa, menunjukkan
hal-hal positif yaitu peningkatan secara signifikan dari
siklus pertama ke siklus kedua. Peningkatan aktivitas
siswa terlihat pada semua indikator ini menunjukkan
model pembelajaran make a match berhasil membawa
ketertarikan siswa pada materi pembelajaran sudah
tumbuh dan semua aktivitas mengalami peningkatan
dengan rata-rata 38,75% untuk semua indikator aktivitas
siswa, hal ini menunjukkan kelas dalam suasana yang
hidup.
Hal ini sesuai dengan skenario rencana
pelaksanaan pembelajaran kooperatif dengan tipe make a
match
yang
menekankan
kerja
sama
untuk
mengembangkan ketrampilan sosial. Jika dilihat lebih
jauh proses pembelajaran yang berlangsung secara
keseluruhan aktivitas siswa menunjukkan pembelajaran
yang melaksanakan ketrampilan proses di mana siswasiswa aktif terlibat dalam pembelajaran.
Pada Tabel 5 juga terlihat, aktivitas negatif
menurun secara tajam dari 2,17 % menjadi 0,5%, hal ini
menunjukkan bahwa minat dan semangat belajar siswa
terjaga. Proses pembelajaran sudah menumbuhkan sikap
dan persepsi siswa yang positif terhadap iklim belajar
dengan menekankan aspek-aspek internal siswa dengan
suasana mental yang kondusif dari pada aspek-aspek
eksternal. Aspek internal nampak dengan jelas pada saat
diskusi kelompok, penerimaan oleh guru dan teman dalam
bentuk kontak mata, pengetahuan, humor, dll disertai
dengan kenyamanan fisik di dalam kelas ketika
berdiskusi. Hal ini sangat mendukung persepsi yang
positif
dalam
menghadapi
tugas-tugas
dengan
memberikan pemahaman akan nilai tugas, kejelasan tugas,
dan kejelasan sumber.
Ganbar 5. Persentase Aktivitas Siswa Belajar
IPS pada Siklus 1 dan Siklus II
serta Peningkatannya

Siklus I
Peningkatan

4.4 Pembahasan Siklus 2


1. Peningkatan Aktivitas Siswa Belajar IPS
dari Siklus I ke Siklus II

1110-57

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


100%
80%
60%
40%
20%

Siklus I
Siklus II
Peningkatan

0%
-20%

Pada tabel 6, dapat dilihat daya serap pada siklus I


sebesar 56 % daya serap pada siklus II sebesar 86 %
terjadi peningkatan daya serap belajar siswa sebesar 30 %
peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I
sebesar 73 dan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada
siklus II sebesar 77.5. Peningkatan daya serap, nilai ratarata hasil belajar dan daya serap hasil belajar yang tejadi
dikarenakan adanya penelusuran proses pembelajaran
yang sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
learning dengan model make a match, dan setiap akhir
pembelajaran di setiap pertemuan dan di akhir siklus
mengecek kembali kelemahan-kelemahan yang dialami
peserta didik dalam proses pembelajaran sebelumnya.
4.5 PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Pada Gambar 4, nampak bahwa peningkatan


aktivitas siswa belajar IPS dari siklus pertama dan siklus
kedua, naik secara tajam. Kenaikan aktivitas ini
menunjukkan bahwa:
1.
sikap positif siswa lebih dominan dibandingkan
dengan sikap negatifnya.
2.
sikap tutor sudah berhasil memotivasi temantemannya yang berada pada level bawah untuk bisa lebih
aktif dalam berdiskusi dan bertanya.
3.
interaksi antar siswa dalam diskusi semakin baik
dan meningkat
Aktivitas siswa belajar IPS lebih diinginkan dari
aktivitas fisik. Siswa sering bertanya pada tutor, aktif
berdiskusi, menanggapi pendapat teman merupakan tandatanda peningkatan aktif mental siswa, sehingga siswa
tidak merasa takut dalam proses pembelajaran IPS,
dengan model pembelajaran tipe make a match ini dapat
menjadi cara untuk menghilangkan penyebab rasa takut,
baik datangnya dari guru sendiri maupun dari temannya.
Pada Gambar 4 menunjukan bahwa aktivitas siswa
belajar fisika pada siklus kedua lebih tinggi dari aktivitas
siswa belajar IPS pada siklus pertama. Oeh karena itu,
salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar IPS
adalah dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe make a match. Meskipun ada faktor lain
yang mempengaruhi, namun pembelajaran dengan model
make a match perlu diterapkan untuk mencapai proses
pembelajaran yang bermakna dan berkualitas di SMP
Negeri 48 Palembang.
2 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Akhir Siklus I
dan Siklus II
Daya serap dan hasil belajar IPS siswa dan
persentase ketuntasan klasikal pada siklus I dan siklus II
dapat dilihat pada tabel 8 seperti dibawah ini.
Tabel 8. Data Daya Serap, Nilai Rata-rata Hasil
Belajar IPS Siswa, dan Ketuntasan Belajar
Klasikal Siswa dan Peningkatannya.
Daya Serap
Akhir Siklus I
56.%
Akhir Siklus II
86%
Peningkatan
30%

Dari data hasil penelitian ditemukan bahwa model


pembelajaran koperatif tipe make a match dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas 7.1 SMP
Negeri 48 Palembang, hal tersebut sesuai dengan pendapat
make a match merupakan pembelajaran yang
menggunakan kartu-kartu. Kartu-kartu tersebut terdiri dari
kartu berisi pertanyaan-pertanyan dan kartu-kartu yang
berisi jawaban dari pertanyaan tersebut (Suprijono,
2011:94).
Peningkatkan aktivitas belajar siswa terlihat dalam
kegiatan diskusi serta tanya jawab antara siswa maupun
antara siswa dengan guru. Nampak kelompok siswa
membantu secara khusus kepada temannya. Peningkatan
aktivitas siswa dalam belajar IPS secara nyata terlihat dari
kegiatan yang dialami untuk semua indikator aktivitas
positip meningkat secara tajam.dan semua indikator,
aktivitas negatif menurun secara signifikan. Proses
pembelajaran yang berlangsung dengan menggunakan
model make a match membuat siswa paham dan bukan
hanya sekedar tahu. Dalam proses siswa telah melihat,
mendengar, melakukan secara langsung kegiatan
pembelajaran sebagai pengalaman pribadi yang
membekas
sehingga
dapat
memahami
materi
pembelajaran secara tuntas. Kemampuan siswa secara
individu diperdayakan semaksimal mungkin sesuai
dengan perannya. Siswa dengan kemampuan daya serap
tinggi mampu menjelaskan materi pada temannya sedang
siswa yang berkemampuan daya serap rendah
mengoptimalkan pengetahuannya dalam berdiskusi
kelompok. Sebagai dampak dari
Sebagai dampak
meningkatnya aktivitas Belasjar siswa meningkat pula
daya serap belajar siswa dari siklus ke siklus secara tajam.
Hal ini di mungkinkan karena adanya perlakukan dalam
proses pembelajaran dengan tipe model make a mtach.
. Hal tersebut senada dengan apa yang
dikemukakan McKeachie dalam Semiawan (2002), yanng
mengatakan aktivitas belajar yang efektif melibatkan
seluruh kemampuan siswa dalam menggunakan
inderanya. Semakin banyak indera yang digunakan,
semakin banyak kegiatan pembelajaran yang diperoleh
siswa dan semakin banyak pula peningkatan aktivitas
belajar yang dialami siswa dan semangkin meningkat pula
daya serap belajar siswa.

1110-58

JB Vol. 01 No. 01 Desember 2014


Dalam hal ini K. Yamamoto dalam Gugus Setyobo (2006),
menyatakan bahwa ada dua keaktifan yaitu keaktifan guru
dan keaktifan siswa. Keaktifan siswa dapat berupa
keaktifan yang direncanakan secara sengaja dan keaktifan
yang dilakukan sewaktu-waktu. Dan dari keaktifan kedua
belah pihak antara guru dan siswa, akan optimal hanya
mungkin dicapai apabila siswa dan guru melakukan
keaktifan yang dilakukan secara sengaja yang dapat
meningkatkan aktivitas belajar IPS dan daya serap belajar
siswa .
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari
berbagai data yang telah dibahas dapat
diperoleh kesimpulan bahwa model pembelajaran
koperatif tipe make a match dapat meningkatkan
aktivitas belajar IPS siswa kelas 7.1 SMP Negeri 48
Palembang.
5.2 Saran
Berdasarkan temuan yang diperoleh dalam
penelitian ini, dikemukakan saran-saran sebagai
berikut :
1. Model pembelajaran koperatif melalui model make
a match cukup efektif untuk
meningkatkan
aktivitas belajar IPS siswa kelas 7.1 SMP Negeri
48 Palembang.
Berdasarkan hal itu, disarankan kepada para guru
untuk menggunakan model pembelajaran
koperatif melalui model make a match dalam
pembelajaran IPS.
Penulis berharap para guru IPS di SMP mau
melaksanakan ujicoba
model pembelajaran
koperatif melalui model make a match baik di
sekolah masing-masing atau secara bersamasama dalam kegiatan MGMP serta meminta
penilaian dan tanggapan dari siswa terhadap
model pembelajaran koperatif tipe make a match
yang baru yang diuji cobakan. Hasil ujicoba
diharapkan dapat menjadi bahan gambaran,
bahwa model pembelajaran koperatif tipe make a
match efektif meningkatkan aktivitas belajar dan
daya serap belajar IPS siswa SMP. Selanjutnya
harapan penulis anggota MGMP guru IPS SMP
Kota Madya Palembang mau menerapkan model
pembelajaran koperatif tipe make a match di
tempat tugas masing masing dan bahwa model
pembelajaran koperatif tipe make a match
relevan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar IPS siswa .
2 Penelitian ini hanya terbatas pada variabel bebas
metoda pembelajaran yang terdiri dari model

pembelajaran koperatif tipe make a match dan


variabel terikat aktivitas belajar siswa SMP
kelas 7.1 mata pelajaran IPS dengan lokasi
penelitian di SMP Negeri 48 Palembang, dengan
demikian penelitian ini
tidak terlepas dari
berbagai keterbatasan dan kelemahan. Oleh
karena itu, agar dapat memperoleh data empirik
dan pengetahuan yang lebih luas tentang
pengaruh model pembelajaran koperatif tipe
make a match dalam meningkatkan aktivitas dan
daya serap belajar siswa SMP diharapkan ada
peneliti lain yang mau mengadakan penelitian
serupa dengan jumlah sampel yang lebih besar,
pada mata pelajaran lain, dan kelas yang
berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Jamal Makruf. Aplikasi Paikem (Pembelajaran
Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Jakarta:
DIVA Press.
Direktorat Pendidikan Pada Madrasah, 2006. Standar Isi...
Setyobo,Gugus, 2006. Peningkatan Aktivitas Siswa
Belajar Fisika Melalaui Model Pembelajaran
Berbasis
Permasalahan.
Makalah.Tidak
dipublikasikan.
Gusti, Rani.(2002). Upaya Meningkatkan Aktivitas dan
Daya Serap Hasil Belajar Siswa Kelas XII SMA
Negeri 05 Padang Melalui Metode Tutor Sebaya.
Huda, Mifitahul.2012. Cooperatif Learning. Jogyakarta:
Pustaka Belajar.
Nur, Muhammad, 2005. Pembelajaran Kooperatif.
Surabaya : Unessa Pers
Rusman.
2011.
Model-Model
Pembelajaran
Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:
Raja Grafindo.
Semiawan, Conni. 2000. Pendekatan Ketrampilan Proses.
Jakarta. Gramedia
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Aplikasi
dan Paikem. Jogyakarta: Bima Bayu Atijah.
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning. Jogyakarta:
Pustka Belajar.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif
Berorientasi Kontruktivisme. Surabaya: Pustka
Belajar.
http://s4ifulblogspotcom/2011/02/strategi-make -tujuanpersiapan-dan html dalam google.com. Diakses pada
pukul 20.00 WIB, tanggal 24 Mei 2014.

1110-59