Anda di halaman 1dari 18

Kepribadian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Pemilihan pakaian dan gaya rambut adalah bagian dari ekspresi kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi
dengan individu lain.[1] Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa
diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.[1]

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Teori kepribadian psikodinamika


o 1.1 Teori Freud
o 1.2 Teori Jung

2 Faktor-faktor penentu kepribadian


o 2.1 Faktor keturunan
o 2.2 Faktor lingkungan

3 Sifat-sifat kepribadian

4 Cara identifikasi kepribadian


o 4.1 Myers-Briggs Type Indicator
o 4.2 Model Lima Besar

5 Menilai kepribadian

6 Sifat kepribadian utama yang memengaruhi perilaku organisasi


o 6.1 Evaluasi inti diri
o 6.2 Machiavellianisme
o 6.3 Narsisisme
o 6.4 Pemantauan diri
o 6.5 Kepribadian tipe A
o 6.6 Kepribadian proaktif

7 Referensi

[sunting] Teori kepribadian psikodinamika

Sigmund Freud, tokoh teori kepribadian psikodinamika

Carl Jung, tokoh teori kepribadian psikodinamika


Teori psikodinamika berfokus pada pergerakan energi psikologis di dalam manusia, dalam
bentuk kelekatan, konflik, dan motivasi.[2]

[sunting] Teori Freud


Sigmund Freud berpendapat bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem utama: id, ego, dan
superego. [2] Setiap tindakan kita merupakan hasil interaksi dan keseimbangan antara ketiga
sistem tersebut.[2]

[sunting] Teori Jung


Carl Jung pada awalnya adalah salah satu sahabat terdekat Freud dan anggota lingkaran
koleganya, tetapi pertemanan mereka berakhir dalam pertengkaran tentang ketidaksadaran.[2]
Menurut Jung, di samping ketidaksadaran individual, manusia memiliki ketidaksadaran
kolektif yang mencakup ingatan universal, simbol-simbol, gambaran tertentu, dan tema-tema
yang disebutya sebagai arketipe.[2]

[sunting] Faktor-faktor penentu kepribadian


[sunting] Faktor keturunan
Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu.[1] Tinggi fisik, bentuk wajah,
gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah
karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial,
dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis,
dan psikologis bawaan dari individu.[1]
Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap
argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian
seseorang.[1] Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen
anak-anak. [1] Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir.[1]
Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai
situasi.[1]
Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari
faktor keturunan.[3] Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut,
dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan.[3] Temuan ini
mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama
yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut.[3]
Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak
lahir dan dibesarkan secara terpisah.[4] Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir
setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak
kembar ternyata terkait dengan faktor genetis.[1] Penelitian ini juga memberi kesan bahwa
lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan
kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda
ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar
identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.[1]

[sunting] Faktor lingkungan


Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah
lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan
kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami.[1] Faktor
lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang.[1] Sebagai contoh,
budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang
secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur
yang lain.[1] Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan,
keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri
mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut
cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam
budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan
keluarga daripada pekerjaan dan karier.[1]

[sunting] Sifat-sifat kepribadian

Berbagai penelitian awal mengenai struktur kepribadian berkisar di seputar upaya untuk
mengidentifikasikan dan menamai karakteristik permanen yang menjelaskan perilaku
individu seseorang.[1] Karakteristik yang umumnya melekat dalam diri seorang individu
adalah malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia, dan takut.[5] Karakteristik-karakteristik
tersebut jika ditunjukkan dalam berbagai situasi, disebut sifat-sifat kepribadian.[5] Sifat
kepribadian menjadi suatu hal yang mendapat perhatian cukup besar karena para peneliti
telah lama meyakini bahwa sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses seleksi karyawan,
menyesuaikan bidang pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan pengembangan
karier.[5]

[sunting] Cara identifikasi kepribadian


Terdapat sejumlah upaya awal untuk mengidentifikasi sifat-sifat utama yang mengatur
perilaku.[6] Seringnya, upaya ini sekadar menghasilkan daftar panjang sifat yang sulit untuk
digeneralisasikan dan hanya memberikan sedikit bimbingan praktis bagi para pembuat
keputusan organisasional.[6] Dua pengecualian adalah Myers-Briggs Type Indicator dan
Model Lima Besar.[6] Selama 20 tahun hingga saat ini, dua pendekatan ini telah menjadi
kerangka kerja yang dominan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan sifat-sifat
seseorang.[6]

[sunting] Myers-Briggs Type Indicator


Myers-Briggs Type Indicator (MBTI)[7] adalah tes kepribadian menggunakan empat
karakteristik dan mengklasifikasikan individu ke dalam salah satu dari 16 tipe kepribadian.
Berdasarkan jawaban yang diberikan dalam tes tersebut, individu diklasifikasikan ke dalam
karakteristik ekstraver atau introver, [sensitif]] atau intuitif, pemikir atau perasa, dan
memahami atau menilai[6]. Instrumen ini adalah instrumen penilai kepribadian yang paling
sering digunakan.[8] MBTI telah dipraktikkan secara luas di perusahaan-perusahaan global
seperti Apple Computers, AT&T, Citgroup, GE, 3M Co., dan berbagai rumah sakit, institusi
pendidikan, dan angkatan bersenjata AS.[8]

[sunting] Model Lima Besar


Myers-Briggs Type Indicator kurang memiliki bukti pendukung yang valid, tetapi hal tersebut
tidak berlaku pada model lima faktor kepribadian -yang biasanya disebut Model Lima Besar.
[6]
Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah besar penelitian mendukung bahwa lima dimensi
dasar saling mendasari dan mencakup sebagian besar variasi yang signifikan dalam
kepribadian manusia.[9] Faktor-faktor lima besar mencakup ekstraversi, mudah akur dan
bersepakat, sifat berhati-hati, stabilitas emosi, dan terbuka terhadap hal-hal baru.[9]

[sunting] Menilai kepribadian

Sepuluh kartu yang digunakan dalam Rorschach Inkblot test


Alasan paling penting mengapa manajer perlu mengetahui cara menilai kepribadian adalah
karena penelitian menunjukkan bahwa tes-tes kepribadian sangat berguna dalam membuat
keputusan perekrutan.[1] Nilai dalam tes kepribadian membantu manajer meramalkan calon
terbaik untuk suatu pekerjaan.[1]
Terdapat tiga cara utama untuk menilai kepribadian[1]:

Survei mandiri

Survei peringkat oleh pengamat

Ukuran proyeksi (Rorschach Inkblot test dan Thematic Apperception Test)

[sunting] Sifat kepribadian utama yang memengaruhi


perilaku organisasi
[sunting] Evaluasi inti diri
Evaluasi inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka
sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan apakah mereka
merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas [lingkungan]] mereka.[10] Evaluasi inti diri
seorang individu ditentukan oleh dua elemen utama: harga diri dan lokus kendali.[10] Harga

diri didefinisikan sebagai tingkat menyukai diri sendiri dan tingkat sampai mana individu
menganggap diri mereka berharga atau tidak berharga sebagai seorang manusia.[10]

[sunting] Machiavellianisme
Machiavellianisme adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan
jarak emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses.[10] Karakteristik
kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo Machiavelli, penulis pada abad
keenam belas yang menulis tentang cara mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.[10]

[sunting] Narsisisme
Narsisisme adalah kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan diri yang
berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri sendiri.[1] Sebuah
penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis berpikir mereka adalah pemimpin
yang lebih baik bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya
menilai mereka sebagai pemimpin yang lebih buruk.[1] Individu narsisis seringkali ingin
mendapatkan pengakuan dari individu lain dan penguatan atas keunggulan mereka sehingga
individu narsisis cenderung memandang rendah dnegan berbicara kasar kepada individu yang
mengancam mereka.[1] Individu narsisis juga cenderung egois dan eksploitif, dan acap kali
memanfaatkan sikap yang dimiliki individu lain untuk keuntungannya[1].

[sunting] Pemantauan diri


Pemantauan diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan
faktor situasional eksternal.[11] Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi
menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan faktorfaktor situasional eksternal[11]. Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat
pemantauan diri yang tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pandai
menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat pemantauan diri
yang rendah.[11]

[sunting] Kepribadian tipe A

Donald Trump adalah individu berkepribadian tipe A

Kepribadian tipe A adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk
mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang
menentang dari orang atau hal lain.[12] Dalam kultur Amerika Utara, karakteristik ini
cenderung dihargai dan dikaitkan secara positif dengan ambisi dan perolehan barang-barang
material yang berhasil.[12] Karakteristik tipe A adalah:[12]

selalu bergerak, berjalan, dan makan cepat;

merasa tidak sabaran;

berusaha keras untuk melakukan atau memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan;

tidak dapat menikmati waktu luang;

terobsesi dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang
bisa mereka peroleh.

[sunting] Kepribadian proaktif


Kepribadian proaktif adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak,
dan tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif menciptakan
perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau halangan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian

Psikologi Kepribadian - Document Transcript


1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seandainya dalam semua segi, setiap
orang sama seperti kebanyakan atau bahkan semua orang lain, kita bisa tahu apa yang
diperbuat seseorang dalam situasi tertentu berdasarkan pengalaman diri kita sendiri.
Kenyataannya, dalam banyak segi, setiap orang adalah unik, khas. Akibatnya yang
lebih sering terjadi adalah kita mengalami salah paham dengan teman di kampus,
sejawat di kantor tetangga atau bahkan dengan suami/istri dan anak-anak dirumah.
Kita terkejut oleh tindakan di luar batas yang dilakukan oleh seseorang yang biasa
dikenal alim dan saleh, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, kita membutuhkan
sejenis kerangka acuan untuk memahami dan menjelaskan tingkah laku diri sendiri
dan orang lain.kita harus memahami defenisi dari kepribadian itu, bagaimana
kepribadan itu terbentuk. Selain itu kita membutuhkan teori-teori tentang tingkah
laku, teori tentang kepribadian agar tembentuk suatu kepribadian yang baik. Sehingga
gangguan-gangguan yang biasa muncul pada kepribadian setiap individu dapat
dihindari. B. Rumusan Masalah Adapun rumsan masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini, yaitu: 1. Bagaimana konsep-konsep kepribadian? 2. Menjelaskan jenisjenis gangguan kepribadian. C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk memahami konsep-konsep kepribadian. 1

2. 2. Untuk memahami jenis-jenis gangguan kepribadian. D. Sistematika Penulisan


Adapun sistematika penulisan makalah ini, yaitu: 1. Pendahuluan 2. Pembahasan 3.
Penutup 2
3. BAB II PEMBAHASAN
A. Defenisi Kepribadian Kata kepribadian (personality) sesungguhnya
sesungguhnya berasal dari kata latin: pesona. Pada mulanya kata personaini
menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman
romawi dalam memainkan perannya. Lambat laun, kata persona (personality)
berubah menjai satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang
diterima oleh individu dari kelompok masyarakat, kemudian individu tersebut
diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial
yang diterimanya. Kepribadian (Allport, 1971) adalah organisasi-organisasi
dinamis dari sistem- sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan
cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Karena tiap-tiap kepribadian adalah unik, maka sukar sekali dibuat gambaran
yang umum tentang kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba
mengenal seseorang dengan mengetahui struktur kepribadiannya. Struktur
kepribadian ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap sejarah hidup,
cita- cita, dan persoalan-persoalan yang dihadapi seseorang.
B. Pembentukan Kepribadian Mengenai pengalaman-pengalaman yang ikut membentuk
kepribadian, kita dapat membedakannya dalam dua golongan : 1. Pengalaman yang umum,
yaitu yang dialami oleh tiap-tiap individu dalam kebudayaan tertentu. Pengalaman ini erat
hubungannya dengan fungsi dan peranan seseorang dalam masyarakat. Misalnya, sebagai
laki-laki atau wanita seseorang mempunyai hak dan kewajiban tertentu. Beberapa dari peran
itu 3 dipilih sendiri oleh orang yang bersangkutan tetapi masih tetap terikat pada normanorma masyarakat, misalnya jabatan atau pekerjaan. Meskipun demikian, kepribadian
seseorang tidak dapat sepenuhnya diramalkan atau dikenali hanya berdasarkan pengetahuan
tentang struktur kebudayaan dimana orang itu hidup. Hal ini disebabkan karena : a. Pengaruh
kebudayaan terhadap seseorang tidaklah sama karena medianya (orang tua, saudara, media
massa dan lain-lain) tidaklah sama pula pada setiap orang. Setiap orang tua atau media massa
mempunyai pandangan dan pendapatnya sendiri sehingga orang-orang yang menerima
pandangan dan pendapat yang berbeda-beda itu akan berbeda-beda pula pendiriannya. b. Tiap
individu mempunyai pengalaman-pengalaman yang khusus, yang terjadi pada dirinya sendiri.
2. Pengalaman yang khusus, yaitu yang khusus dialami individu sendiri. Pengalaman ini tidak
tergantung pada status dan peran orang yang bersangkutan dalam masyarakat. Pengalamanpengalaman yang umum maupun yang khusus di atas memberi pengaruh yang berbeda-beda
pada tiap individu-individu itu pun merencanakan pengalaman-pengalaman tersebut secara
berbeda-beda pula sampai akhirnya ia membentuk dalam dirinya suatu stuktur kepribadian
yang tetap (permanen). Proses integrasi pengalaman-pengalaman ke dalam kepribadian yang
makin lama makin dewasa, disebut proses pembentukan identitas diri. Proses pembentukan
identitas diri harus melalui berbagai tingkatan. Salah satu tingkat yang harus dilalui adalah
identifikasi, yaitu dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, misalnya
dengan ayah, ibu, kakak, saudara, guru, dan sebagainya. Pada masa remaja, tahap identifikasi
ini dapat menyebabkan kebingungan dan kekaburan akan peran sosial, karena remaja-remaja
cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan beberapa tokoh sekaligus, misalnya dengan
ayahnya, bintang film kesayangannya, tokoh politik favoritnya dan sebagainya. 4

4. Kalau kekaburan akan peranan sosial ini tidak dapat dihapuskan sampai remaja itu
menjadi dewasa, maka besar kemungkinannya ia akan menderita gangguan- gangguan
kejiwaan pada masa dewasanya. Karena itu penting sekali diusahakan agar remaja
dapat menentukan sendiri identitas dirinya dan berangsur-angsur melepaskan
identifikasinya terhadap orang-orang lain untuk akhirnya menjadi dirinya sendiri. C.
Teori-Teori Kepribadian Ada empat teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu
saja berbeda, yakni teori kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat (trait), teori
kepribadian behaviorisme, dan teori psikoligi kognitif.
1. Teori Kepribadian Psikoanalisis Dalam mencoba mamahami sistem kepribadian
manusia, Freud membangun model kepribadian yang saling berhubungan dan
menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian
tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan
instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, dan
superego. Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera
impuls biologis; ego mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai bisa
dicapai dengan cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati nurani;suara hati)
memiliki standar moral pada individu. Jadi jelaslah bahwa dalam teori psikoanalisis
Freud, ego harus menghadapi konflik antara id ( yang berisi naluri seksual dan agresif
yang selalu minta disalurkan) dan super ego (yang berisi larangan yang menghambat
naluri-naluri itu). Selanjutnya ego masih harus mempertimbangkan realitas di dunia
luar sebelum menampilkan perilaku tertentu.
5. Namun, dalam psikoanalisis Carl Gustav Jung, ego bukannya menghadapi konflik
antara id dan superego, melainkan harus mengelola dorongan-dorongan yang datang
dari ketidak sadaran kolektif (yang berisi naluri-naluri yang diperoleh dari
pengalaman masa lalu dari masa generasi yang lalu) dan ketidaksadaran pribadi yang
berisi pengalaman pribadi yang diredam dalam ketidaksadaran. Berbeda dengan
Freud, Jung tidak mendasarkan teorinya pada dorongan seks. Bagi erikson, misalnya
meskipun ia mengakui adanya id, ego, dan superego, menurutnya, yang terpenting
bukannya dorongan seks dan bukan pula koflik antara id dan superego. Bagi Erikson,
manusia adalah makhluk rasional yang pikiran, perasaan, dan perilakunya
dikendalikan oleh ego. Jadi ego itu aktif, bukan pasif seperti pada teori freud, dan
merupakan unsur utama dari kepribadian yang lebih banyak dipengarihi oleh faktor
sosial daripada dorongan seksual.
2. Teori-Teori Sifat (Trait Theories) Teori sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type
theories) yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau
menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau
sifat- sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara
tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku relatif tetap
dari situasi ke situasi. Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan
kecenderungan pribadi (personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat yang
dapat membandingkan individu satu sama lainnya. Kecenderungan pribadi
dimaksudkan sebagai pola atau konfigurasi unik sifat-sifat yang ada dalam diri
individu. Dua orang mungkin sama-sama jujur, namun berbeda dalam hal kejujuran
berkaitan dengan sifat lain. Orang pertama, karena peka terhadap perasaan orang lain,
kadang-kadang menceritakan kebohongan putih bagi orang ini, kepekaan
sensitivitas adalah lebih tinggi dari kejujuran. Adapun orang orang kedua menilai
kejujuran lebih tinggi, dan mengatakan apa adanya walaupun hal itu melukai orang

lain. Orang mungkin pula memilki sifat yang sama, tetapi dengan motif berbeda.
Seseorang mungkin berhati-hati karena ia takut terhadap pendapat orang lain, dan
orang lain mungkin hati-hati karena mengekspresikan kebutuhannya untuk
mempertahankan keteraturan hidup. Termasuk dalam teori-teori sifat berikutnya
adalah teori-teori dari Willim Sheldom. Teori Sheldom sering digolongkan sebagai
teori topologi. Meskipun demikian ia sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe
ini. Menurutnya, manusia tidak dapat digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan
tetapi, setidak-tidaknya seseorang memiliki tiga komponen fisik yang berbeda
menurut derajat dan tingkatannya masing-masing. Kombinasi ketiga komponen ini
menimbulkan berbagai kemungkinan tipe fisik yang isebutnya sebagai somatotipe.
Menurut Sheldom ada tiga komponen atau dimensi temperamental adalah sebagai
berikut : a. Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai viscerotonia yang tinggi,
memiliki sifat-sifat, antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang
toleran, lamban, santai, pandai bergaul. b. Somatotonia. Individu dengan sifat
somatotonia yang tinggi memiliki sifat- sifat seperti berpetualang dan berani
mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan aktivitas fisik yang menantang, agresif,
kurang peka dengan perasaan orang lain, cenderung menguasai dan membuat gaduh.
c. Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat
tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada orang
lain, serta memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bila sedang di rundung masalah, Ia
memiliki reaksi yang cepat dan sulit tidur.
3. Teori Kepribadian Behaviorisme 7
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan
tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan
tempat kedudukan atau suatu poin yang faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang
khas secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada
individu tersebut. Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada
penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai
konsekuensi yang diperkuatnya. Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah
teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Tekhnik tersebut antara lain adalah
sebagai berikut : 1) Pengekangan fisik (psycal restraints) Menurut skinner, kita
mengntrol perilaku melalui pengekangan fisik. Misalnya, beberapa dari kita menutup
mulut untuk menghindari diri dari menertawakan kesalahan orang lain. Orang
kadang-kadang melakukannya dengan bentuk lain, seperti berjalan menjauhi
seseorang yang tealh menghina ita agar tidak kehilangan kontrol dan menyerang
orang tersebut secara fisik. 2) Bantuan fisik (physical aids) Kadang-kadang orang
menggunakan obat-obatan untuk mengontrol perilaku yang tidak dinginkan.
Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengatuk saat
menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan untuk memudahkan
perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang yang memiliki masalah penglihatan
dengan cara memakai kacamata. 3) Mengubah kondisi stimulus (changing the
stimulus conditions)
Suatu tekhnik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggunggung jawab.
Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari
hadapannya sehingga dapat mengekang diri sendiri. 4) Memanipulasi kondisi
emosional (manipulating emotional conditions) Skinner menyatakan terkadang kita
mengadakan perubahan emosional dalam diri kita untuk mengontrol diri. Misalnya,

beberapa orang menggunakan tekhnik meditasi untuk mengatasi stess. 5) Melakukan


respons-respons lain (performing alternativeresponses) Menurut Skinner, kita juga
sering menahan diri dari melakukan perilaku yang membawa hukuman dengan
melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri agar tidak menyerang orang yang
sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan tindakan yang tidak berhubungan
dengan pendapat kita tentang mereka. 6) Menguatkan diri secara positif (positif selfreinforcement) Salah satu teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku
menurut Skinner, adalah positive self-reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri
atas perilaku yang patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri
karena telah belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan
menonton film yang bagus. 7) Menghukum diri sendiri (self punishment) Akhirnya,
seseorang mengkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai tujuan diri sendiri.
Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri karena gagal melakukan
ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan giat.
4. Teori Psikologi Kognitif Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat
dikatakan berawal dari pandangan psikologi Gestalt. Mereka berpendapat bahwa
dalam memersepsi 9 lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada
apa yang diterima dari penginderaannya, tetapi masukan dari pengindraan itu, diatur,
saling dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya
dijadikan awal dari suatu perilaku. Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa
organisasi kepribadian manusia tidak lain adalah elemen-elemen kesadaran yang satu
sama lain saling terkait dalam lapangan kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur
psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena keduanya termasuk dalam kognisi
manusia. Bahkan, dengan teori ini dimungkinkan juga faktor-faktor diluar diri
dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologis atau lapangan kesadaran seseorang.
D. Tipe-Tipe Kepribadian Pada dasarnya setisp orang memiliki kepribadian yang
berbeda satu sama lain. Penelitian tentang kepribadian manusia dilakukan para ahli
sejak dulu kala. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus yang mengemukakan bahwa
manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada
dalam tubuhnya. 1) Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak
empedu hitamnya, sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau
muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga. 2) Sanguinicus (sanguinisi), yakni
orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu
menunjukkan wajah berseri-seri, periang atau selalu gembira, dan bersikap optimistis.
3) Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang- orang
seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis,
pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah. 10
6. 4) Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang bertipe ini
bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya
garang dan agresif. C.G. Jung, seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat
pembagian tipe manusia dengan cara lain lagi. Ia menyatakan bahwa perhaian
manusia tertuju pada dua arah, yakni keluar dirinya yang disebut extrovert, dan
kedalam dirinya yang disebut introvert. Jadi, menurut jung tipe manusia bisa dibagi
menjadi dua golongan besar, yaitu : 1) Tipe extrovert, yaitu orang-orang yang
perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang-orang lain dan kepada
masyarakat. 2) Tipe introvert, orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah pada
dirinya. Orang yang tergolong tipe extrovert mempunyai sifat-sifat: berhati terbuka,
lancar dalam pergaulan, ramah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali.

Mereka mudah memegaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya.


Adapun orang-orang yang tergolong introvert memiliki sifat-sifat : kurang pandai
bergaul, pendiam, sukar diselami batinnya, suka mnyendiri, bahkan sering takut
kepada orang lain. Kretschmer, ahli penyakit jiwa berkebangsaan Jerman,
mengemukakan adanya hubungan yang erat antara tipe tubuh dengan sifat dan
wataknya. Ia memebagi manusia dalam empat golongan menurut tipe atau bentuk
tubuhnya masing-masing, yaitu berikut ini : 1) Atletis, dengan ciri-ciri tubuh: besar,
berotot kuat, kekar dan tegap, berdada lebar. 2) Astenis, dengan ciri-ciri: tinggi, kurus,
tidak kuat, bahu sempit, lengan, dan kaki kecil. 3) Piknis, dengan ciri-ciri: bulat,
gemuk, pendek, muka bulat, leher pejal. 4) Displastis, merupakan bentuk tubuh
campuran dari ketiga tipe diatas. 11
7. Tipe watak orang yang berbentuk atletis dan astenis adalah schizothim, yang menurut
Kretschmer mempunyai sifat-sifat, antara lain : sulit bergaul, mempunyai kebiasaan
yang tetap, sukar menyesuaikan diri dengan situasi baru, kelihatan sombong, egoistis
dan bersifat ingin berkuasa, kadang-kadang optimis, kadang pula pesimis, selalu
berpikir terlebih dahulu masak-masak sebelum bertindak. Lain halnya dengan orang
yang memiliki bentuk tubuh piknis, atau tipe wataknya sering disebut siklithim. Sifat
orang-orang ini adalah mudah bergaul, suka humor, mudah berubah-ubah stemmingnya, mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang baru, lekas memaafkan kesalahan
orang lain, tetapi kurang setia, dan tidak konsekuen. Menurut teori Sheldon, manusia
bisa digolongkan menjadi tiga macam tipe yaitu : a. Tipe Endomorp Menurut
Sheldon, orang yang komponen endomorp-nya tinggi, sedangkan kedua komponen
lainnya rendah, ditandai oleh alat-alat dalam dan seluruh sistem digestif (yang berasal
dari endoderm) memegang peranan penting. Sheldom menyebut tipe endomorph
dengan kecenderungan pada kebulatan, keluwesan, kehalusan, dan gemuknya tubuh,
serta tangan-kaki yang lembut dan kecil. b. Tipe Mesomorph Dalam pandangan
Sheldon, orang yang bertipe mesomorph, komponen mesomorphnya tinggi,
sedangkan komponen lainnya lagi rendah. Karena itu, bagian-bagian tubuhnya yang
berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik ketimbang yang lain-lain;
misalnya: otot-ototnya dominan, pembuluh- pembuluh darah kuat, jantung juga
dominan. Orang tipe ini punya kecenderungan kokoh, keras, otot tampak bersegi-segi,
tahan sakit. Termasuk pada golongan tipe ini, misalnya, para olahragawan, pengelana,
dan tentara. c. Tipe Ectomorph 12
8. Orang-orang yang termasuk pada golongan tipe ectomorph ini adalah organ- organ
mereka berasal dari ectoderm yang terutama berkembang, yaitu kulit, sistem saraf.
Kecenderungan tipe entomorph adalah pada tangan dan kaki yang lurus, tubuhnya
tampak lemah dan langsing, jangkung, dada pipih, dan otot- otot hampir tidak tampak
berkembang. E. Pengukuran-Pengukuran Kepribadian Sifat kepribadian biasa diukur
melalui angka rata-rata pelaporan dari (self- report)kuesioner kepribadian (untuk sifat
khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya (personality inventory, serangkaian
instrumen yang menyingkap sejumlah sifat). Ada beberapa macam cara untuk
mengukur atau menyelidiki kepribadian. Berikut ini adalah beberapa diantaranya : 1.
Observasi Direct Observasi direk berbeda dengan observasi biasa. Observasi direk
mempunyai sasaran yang khusus , sedangkan observasi biasa mengamati seluruh
tingkah laku subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat
diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti, sedangkan
observasi biasa mungkin tidak merencanakan untuk memilih waktu. Observasi direct
diadakan dalam situasi terkontrol, dapat diulang atau dapat dibuat replikasinya.

Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan sebagainya.Ada tiga tipe metode
dalam observasi direk yaitu: a. Time Sampling Method Dalam time sampling method,
tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Hal yang diobservasi mungkin
sekadar muncul tidaknya respons, atau aspek tertentu. b. Incident Sampling Method
13
9. Dalam incident sampling method, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku dalam
berbagai situasi. Laporan observasinya mungkin berupa catatan-catatan dari Ibu
tentang anaknya, khusus pada waktu menangis, pada waktu mogok makan, dan
sebgainya. Dalam pencatatan tersebut hal- hal yang menjadi perhatian adalah tentang
intensitasnya, lamanya, juga tentang efek-efek berikut setelah respons. c. Metode
Buku Harian Terkontrol Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku
harian tentang tingkah laku yang khusus hendak diselidiki oleh yang bersangkutan
sendiri. Misalnya mengadakan observasi sendiri pada waktu sedang marah. Syarat
penggunaan metode ini, antara lain, bahwa peneliti adalah orang dewasa yang cukup
inteligen dan lebih jauh lagi adalah benar-benar ada pengabdian pada perkembangan
ilmu pengetahuan. 2. Wawancara (Interview) Menilai kepribadian dengan wawancara
(interview) berarti mengadakan tatap muka dan berbicara dari hati ke hati dengan
orang yang dinilai. Dalam psikologi kepribadian, orang mulai mengembangkan dua
jenis wawancara, yakni: a. Stress interview Stress interview digunakan untuk
mengetahui sejauh mana seseorang dapat bertahan terhadap hal-hal yang dapat
mengganggu emosinya dan juga untuk mengetahui seberapa lama seseorang dapat
kembali menyeimbangkan emosinya setelah tekanan-tekanan ditiadakan. Interviewer
ditugaskan untuk mengerjakan sesuatu yang mudah, kemudian dilanjutkan dengan
sesuatu yang lebih sukar. b. Exhaustive Interview 14
10. Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama;
diselenggarakn non-stop. Cara ini biasa digunakan untuk meneliti para tersangka
dibidang kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga. 3. Tes proyektif Cara lain
untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes proyektif.
Orang yang dinilai akan memprediksikan dirinya melalui gambar atau hal-hal lain
yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada testee
(orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan; tidak
ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah. Jika kepada subjek diberikan tugas
yang menunut penggunaan imajinasi, kita dapat menganalisis hasil fantasinya untuk
menguur cara dia merasa dan berpikir. Jika melakukan kegiatan yang bebas, orang
cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk
melakukan tugas yang kreatif. Jenis yang termasuk tes proyektif adalah: a. Tes
Rorschach Tes yang dikembangkan oleh seorang dkter psikiatrik Swiss, Hermann
Rorschach, pada tahun 1920-an, terdiri atas sepuluh kartu yang masing- masing
menampilkan bercak tintan yang agak kompleks. Sebagian bercak itu berwarna;
sebagian lagi hitam putih. Kartu-kartu tersebut diperlihatkan kepada mereka yang
mengalami percobaan dalam urutan yang sama. Mereka ditugaskan untuk
menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar dalam noda-noda tinta itu. Meskipun
noda-noda itu secara objektif sama bagi semua peserta, jawaban yang mereka berikan
berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang mengalami percobaan
itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu. Analisis dari sifat jawaban yang
diberikan peserta itu memberikan petunjuk mengenai susunan kepribadiannya. b. Tes
Apersepsi Tematik (Thematic Apperception Test/TAT) 15

11. Tes apersepsi tematik atau Thematic Apperception Test (TAT), dikembangkan di
Harvard University oleh Hendry Murray pada tahun 1930-an. TAT mempergunakan
suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi lukisan-lukisan, sebagian lagi
kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah. Para peserta diminta mengarang sebuah
cerita mengena tiap-tiap gambar yang diperlihatkan kepadanya. Mereka diminta
membuat sebuah cerita mengenai latar belakang dari kejadian yang menghasilkan
adegan pada setiap gambar, mengenai pikiran dan perasaan yang dialami oleh orangorang didalam gambar itu, dan bagaimana episode itu akan berakhir. Dalam
menganalisis respon terhadap kartu TAT, ahli psikologi melihat tema yang berulang
yang bisa mengungkapkan kebutuhan, motif, atau karakteristik cara seseorang
melakukan hubungan antarpribadinya. 4. Inventori Kepribadian Inventori kepribadian
adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan reaksi atau perasaannya
dalam situasi tertentu. Kuesioner ini mirip wawancara terstruktur dan ia menanyakan
pertanyaan yang sama untuk setiap orang, dan jawaban biasanya diberikan dalam
bentuk yang mudah dinilai, seringkali dengan bantuan komputer. Menurut Atkinson
dan kawan-kawan, investori kepribadian mungkin dirancang untuk menilai dimensi
tunggal kepribadian (misalnya, tingkat kecemasan) atau beberapa sifat kepribadian
secara keseluruhan. Investori kepribadian yang terkenal dan banyak digunakan untuk
menilai kepribadian seseorang ialah: (a) Minnesota Multiphasic Personality Inventory
(MMPI), (b) Rorced-Choice Inventories, dan (c) Humm-Wadsworth Temperament
Scale (H-W Temperament Scale). a. Minnesota Multiphasic Personality Inventory
(MMPI) MMPI terdiri atas kira-kira 550 pernyataan tentag sikap, reaksi emosional,
gejala fisik dan psikologis, serta pengalaman masa lalu. Subjek menjawab tiap
pertanyaan dengan menjawab benar, salah, atau tidak dapat mengatakan. Pada
prinsipnya, jawaban mendapat nilai menurut 16
12. kesesuaiannya dengan jawaban yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki
berbagai macam masalah psikologi. MMPI dikembangkan guna membantu klinis
dalam mendiagnosis gangguan kepribadian. Para perancang tes tidak menentukan
sifat mengukurnya, tetapi memberikan ratusn pertanyaan tes untuk mengelompokkan
individu. Tiap kelompok diketahui berbeda dari normalnya menurut kriteria tertentu.
Kelompok kriteria terdiri atas individu yang telah dirawat dengan diagnosis gangguan
paranoid. Kelompok kontrol terdiri atas orang yang belum pernah didiagnosis
menderita masalah psikiatrik, tetapi mirip dengn kelompok kriteria dalah hal usia,
jenis kelamin, status sosioekonomi, dan variabel penting lain. b. Rorced-Choice
Inventories Rorced-Choice Inventories atau Inventori Pilihan-Paksa termasuk
klasifikasi tes yang volunter. Suatu tes dikatakan volunter bila subjek dapat memilih
pilihan yang lebih disukai, dan tahu bahwa semua pilihan itu benar, tidak ada yang
salah (Muhadjir,1992). Subjek, dalam hal ini, diminta memilih pilihan yang lebih
disukai, lebih sesuai, lebih cocok dengan minatnya, sikapnya, atau pandangan
hidupnya. c. Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale) H-W
Temperament Scale dikembangkan dari teori kepribadian Rosanoff (Muhadjir, 1992).
Menurut teori ini, kepribadian memiliki enam komponen, yang lebih banyak bertolak
dari keragaman abnomal, yaitu: 1) Schizoid Autistik, mempunyai tendensi tak
konsisten, berpikirnya lebih mengarah pada khayalan. 2) Schizoid Paranoid,
mempunyai tendensi tak konsisten, dengan angan bahwa dirinya penting. 3) Cycloid
Manik, emosinya tidak stabil dengan semangat berkobar. 4) Cycloid Depress,
emosinya tak stabil dengan retardasi dan pesimisme. 17
5) Hysteroid, ketunaan watak berbatasan dengan tendensi kriminal.

6) Epileptoid, dengan antusiasme dan aspirasi yang bergerak terus. H-W


Temperament Scale tersusun dalam sejumlah item yang berfungsi untuk memilahkan
kelompok yang patologik dari kelompok penderita hysteroid, misalnya, diasumsikan
memiliki mental kriminal.
F. Gangguan Kepribadian Gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan
yang timbul pada masa kanak-kanak, masa remaja, dan berlanjut pada masa dewasa.
Keadaan ini merupakan pola perilaku yang tertanam dalam dan berlangsung lama,
muncul sebagai respon yang kaku terhadap rentangan situasi pribadi dan sosial yang
luas. Penggolongan atau klasifikasi gangguan kepribadian bermacam-macam, yaitu:
a. Kepribadian Paranoid adalah gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang
menonjol. Orang lain selalu dilihat sebagai agressor, ingin merugikan, ingin
menyakiti, ingin mencelakai, membahayakan, dan sebagainya, sehingga ia bersikap
sebagai pemberontak untuk mempertahankan harga dirinya. Sering ia mengancam,
memberontak, menolak, membuat keterangan yang tak masuk akal tentang kesalahankesalahannya. Sering ia bersikap apriori, memvonis sesuatu tanpa melakukan
penyelidikan terlebih dahulu, tanpa dukungan data yang akurat, melemparkan
tanggung jawab dan kesalahannya pada orang lain. Penderita umumnya ditinggalkan
teman-temannya dan mendapatkan banyak musuh.
Gangguan kepribadian paranoid dibagi dua, yaitu:
- Kepribadian yang mudah tersinggung, bereaksi terhadap pengalaman sehari-hari
secara berlebihan dengan rasa menyerah dan rendah diri, serta cenderung
menyalahkan orang lain tentang pengalamannya itu.
- Kepribadian yang lebih agresif, kasar, serta sangat peka terhadap apa yang dianggap
haknya. Cepat tersinggun bila haknya dilanggar dan sangat gigih dalam
mempertahankan haknya tersebut. Persamaan kedua kelompok tersebut adalah sifat
curiga yang berlebihan, cepat merasakan bahwa sesuatu itu tertuju pada dirinya dan
adanya negatif, serta mudah sekali tersinggung.
b. Kepribadian Afektif/Siklotim Ciri utama dari kepribadian siklotim adalah keadaan
perasaan dan emosinya yang berubah-ubah antara depresi dan euforia. Penderita
mungkin berhaasil menarik banyak teman karena sifatnya yang ramah, gembira,
semangat, hangat, tetapi dikenal pula sebagai orang yang tak dapat diramalkan. Dalam
keadaan depresi, penderita dapat menjadi sangat cemas, khawatir, pesimis, bahkan
nihilistik.
c. Kepribadian Skizoid Sifat-sifat kepribadian ini adalah pemalu, perasa, pendiam,
suka menyendiri, menghindari kontak sosial dengan orang lain. Ciri utamanya adalah
cara menyesuaikan diri dan mempertahankan diri ditempuh dengan menarik diri,
mengasingkan diri, dan juga sering berperilaku aneh (ekstrinsik). Pemikirannya
autistik (hidup dalam dunianya sendiri), melamun berlebihan, dan ketidamampuan
menyatakan rasa permusuhan.

d. Kepribadian Eksplosif

Ciri utama tipe ini adalah diperlihatkannya sifat tertentu yang lain dari perilakunya
sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas, sebagai reaksi terhadap
stres yang dialaminya (walaupun mungkin stresnya sangat kecil). Segera sesudah itu
biasanya ia menyesali perbuatannya.
e. Kepribadian Anankastik
Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu,
disertai dengan pengawasan diri yang tinggi. Orangnya tdak kompromis serta sangat
patuh (bahkan berlebihan) pada nora-norma, etika, dan moral. Orang dengan
kepribadian ini sering terlambat unutk menikah, karena tuntutannya terlalu tinggi dan
takut/ragu-ragu dalam mengambil keputusan. f. Kepribadian Histerik Ciri utama
kepribadian ini adalah sombong, egosentrik, tidak sabilnya emosi, suka menarik
perhatian denga afek yang labil, sering berdusta dan menunjukkan pseudologika
fantastika (menceritakan secara luas, terperinci, dan kelihatan masuk akal padahal
tanpa dasar fakta atau data. Ia dapat menyatakan perasaannya secara tepat dan sering
disertai dengan gerakan badaniah dalam berkomunikasi.
g. Kepribadian Astenik Ciri utamanya hidup tidak bergairah, lemas, lesu, letih, lemah,
tak ada tenaga sepanjang kehidupannya. Orangnya tidak tahan terhadap stres hidup
yang normal dalam kehidupan sehari-hari. Vitalitas dan emosionalitasnya sangat
rendah. Terdapat abulia atau kurang kemauan dan anhedonia (kurang mampu
menikmati sesuatu).
h. Kepribadian Anti Sosial Ciri utamanya ialah bahwa perilakunya selalu
menimbulkan konflik dengan ornag lain atau lingkungannya. Tidak loyal pada
kelompok dan norma-norma sosial, tidak toleran terhadap kekecewaan atau frustasi,
selalu menyalahkan ornag lain dengan rasionalisasi. Ia egosentris, idka bertangung
jawab, impulsif, agrsif, kebal terhadap rasa sakit, dan idak mampu belajar dari
pengalaman ataupun hukuman yang diberikan.
i. Kepribadian Pasif-Agresif
Tipe ini dibagi menjadi dua, yaitu: 20
- Kepribadian pasif dependen, orang dengan tipe kepribadian ini selalu berpikir,
merasa, dan bertindak bahwa kebutuhannya akan ketergantungannya itu dapat
dipenuhi scara menakjubkan.
- Kepribadian pasif agresif, orang dengan tipe ini merasa bahwa kebutuhan akan
ketergantungan tidak pernah terpenuhi. Ia menunjukkan penangguhan dan sikap keras
agar diterima dengan murah hati apa yang diharapkannya degan sangat. Tipe
kepribadian ini ditandai dengan sifat pasif dan agresif. Agresifitas dapat dinyatakan
secara pasif dengan cara bermuka masam, malas, menyabot, dan keras kepala.
Perilaku ini merupakan pencerminan dari rasa permusuhan yang dinyatakan secara
tertutup, atau rasa tidak puas terhadap seseorang/sesuatu yang kepadanya ia sangat
menggantungkan dirinya.
j. Kepribadian Inadequat Ciri utama tipe ini adalah ketidakmampuannya secara terus
menerus atau berulang-ulang untuk memenuhi harapan atau tuntutan teman atau

sebayanya atau kenalannya. Baik dalam respon emosional, intelektual, sosial, maupun
fisik. Penderta sendiri tidak merasakan sebagai bebean karena dianggapnya wajar dan
harus diterima sebagaimana adanya. Orang dengan tipe ini biasanya juga empunyai
kehidupan yang tak terprogram, tidak mampu melaksanakan tugas, serta tidak mau
dipaksa untuk melakukan sesuatu.
13. BAB III PENUTUP Kesimpulan Kepribadian setiap individu berbeda satu sama lain.
Untuk mengetahui kepribadian seseorang kita perlu mempelajari struktur
kepribadiannya. Ada beberapa hal yang mempengaruhi pembentukan kepribadian
yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Sehingga terbentuklah beberapa
jenis kepribadian unik dari setiap individu. Penggolongan ini ada yang berdasarkan
faktor eksternal dan internal. Individu yang tidak dapat menghadapi masalah pribadi
dan sosial yang timbul saat ia masih kanak-kanak sampai dewasa dapat menimbulkan
gangguan kepribadian. Oleh kerena itu sejak dini kepribadian harus dibentuk dengan
baik sehingga tidak mengalami gangguan kepribadian pada masing-masing individu.
14. DAFTAR PUSTAKA Sobur, Alex, Drs, M.Si. 2003. Psikologi Umum. Bandung:
Pustaka Setia. Sarwono, Sarlito Wirawan, Dr. 2000. Pengantar Umum Psikologi.
Jakarta: PT Bulan Bintang. Baihaqi, MIF, Drs, M.Si, dkk. 2005. Psikiatri Konsep
Dasar dan Gangguan- Gangguan. Bandung: PT Refika Aditama. 24
http://www.slideshare.net/bocahbancar/psikologi-kepribadian