Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

KEPANITERAAN KLINIK STASE BEDAH


RSUD dr. H. ABDUL MOELOEK

DISLOKASI HIP JOINT

Pembimbing :
dr. Eddy Marudut Sitompul, Sp.OT

Oleh:
Eduard, S.Ked
Ferina Nur Haqiqi, S.Ked
Hera Julia Garamina, S.Ked

RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Dislokasi panggul adalah suatu keadaan dimana terjadi perpindahan permukaan


caput femoris terhadap acetabulum. Dislokasi terjadi ketika caput femoris keluar
dari acetabulum. Kondisi ini dapat kongenital atau didapat (acquired). Namun,
dislokasi yang paling sering ditemukan adalah dislokasi panggul yang didapat
akibat trauma (dislokasi panggul traumatika).
Dislokasi panggul traumatika ini dapat terjadi pada semua kelompok usia dan
angka kejadiannya meningkat seiring dengan meningkatnya angka kecelakaan lalu
lintas dan dislokasi panggul ini merupakan suatu kegawatdaruratan ortopedi yang
membutuhkan tatalaksana segera.Seringkali cedera panggul disertai dengan
cedera berat yang membutuhkan tatalaksana segera. Cedera panggul harus segera
direduksi karena semakin lama caput femoris berada di luar acetabulum , maka
semakin tinggi angka kejadian nekrosis avaskular. Hanya sedikit caput femoris
yang dapat bertahan jika tetap mengalami dislokasi selama lebih dari 24 jam.
Reduksi dapat dilakukan secara tertutup maupun terbuka. Sebelum melakukan
reduksi perlu diingat bahwa harus dilakukan pemeriksaan neurovaskular terlebih
dahulu. Reduksi tertutup harus dilakukan di bawah anestesi umum, dilakukan
secara lembut, dan relaksasi otot sangat diperlukan untuk mencapai reduksi
atraumatik. Jika reduksi tertutup tidak membuahkan hasil, maka dapat dilakukan
reduksi terbuka.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

ANATOMI ARTICULATIO COXAE


Articulatio coxae termasuk jenis sendi sinovial yang berwujud seperti bola
dan mangkuk (ball and socket) bersumbu banyak.
Permukaan artikular. Caput femoris bersendi dengan acetabulum os
coxae. Kedalaman acetabulum diperluas oleh labrum acetabulare (L.
Labrum) dari jaringan fibrokartilago yang melekat pada tulang tepi
acetabulum dan ligamentum transversum accetabuli.
Simpai sendi. Simpai sendi jaringan ikat (capsula articularis fibrosa)
yang kuat melekat proksimal dari acetabulum dan ligamentum transversum
accetabuli. Disebelah distal simpai ini melekat pada collum femoris
sebagai berikut:

Anterior pada linea intertrochanterica dan akar trochanter major


Posterior pada collum femoris, proksimal terhadap crista
intertrochanterica

Gambar 1. Anatomi articulatio coxae

Serabut simpai yang terbanyak melintas secara berulir dari os coxae ke


linea intertrochanterica, tetapi beberapa serabut dalam melingkar sekeliling
collum femoris, membentuk zona orbicularis. Serabut-serabut ini
membentuk sebuah kerah sekeliling collum femoris yang mencerutukan

simpai sendi dan membantu memegang collum femoris dalam acetabulum.


Beberapa serabut simpai longitudinal dalam membentuk retinaculum yang
berbalik ke arah proksimal pada collum femoris sebagai berkas
longitudinal yang membaur dengan periosteum. Dalam retinaculum
terdapat pembuluh darah yang mengantar darah pada caput femoris dan
collum femoris.
Membrana synovialis melapisi permukaan dalam simpai sendi jaringan
ikat juga menutupi;

Collum femoris antara perlekatan simpai sendi tadi dan tepi cartilago

articularis capitis femoris


Daerah non articular acetabulum dan membentuk pelapis untuk
ligamentum capitis femoris

Ligamentum. Simpai Sendi jaringan ikat di sebelah depan diperkuat oleh


sebuah ligamentum yang kuat dan membentuk Y, yakni ligamentum
ileofemorale yang melekat pada spina iliaca anterior inferior dan tepi
acetabulum, serta pada linea intertrochanterica di sebelah distal.
Ligamentum iliofemorale mencegah hiperekstensi articulatio coxae
sewaktu berdiri dan memutar caput femoris masuk ke dalam acetabulum.

Gambar 2. Ligamentum articulatio coxae

Simpai sendi jaringan ikat tadi di sebelah bawah diperkuat oleh


ligamentum pubofemorale yang melekat pada bagian pubik pinggiran

acetabulum dan eminentia iliopubica; ligamentum ini membaur dengan


bagian medial ligamentum iliofemorale dan mengetat sewaktu diadakan
ekstensi dan abduksi pada articulatio coxae dan mencegah terjadinya
hiperabduksi pada articulatio coxae.
Disebelah belakang, simpai sendi tersebut diperkuat oleh ligamentum
ischiofemorale yang berpangkal pada bagian iskial pinggiran acetabulum
dan mengulir dalam arah kraniolateral ke collum femoris, medial dari alas
trochanter major; ligamentum ini cenderung memutar caput femoris ke
arah medial ke dalam acetabulum sewaktu diadakan ekstensi pada
articulatio coxae, dan dengan demikian mencegah terjadinya hiperekstensi.

Gambar 3. Ligamentum capitis femoris

Ligamentum capitis femoris bersifat lemah dan tidak banyak berguna


dalam memperkuat articulatio coxae. Ujungnya yang lebar melekat pada
tepi-tepi incisura acetabuli dan ligamentum transversum acetabuli; ujung
yang sempit melekat pada fovea (cekungan) yang terdapat di caput
femoris. Biasanya dalam ligamentum ini terdapat arteri kecil yang menuju
ke caput femoris.

Gerak. Pada articulatio coxae dapat diadakan gerak fleksi-ekstensi,


abduksi-adduksi, endorotasi-eksorotasi dan sirkumduksi

Gambar 4. Gerakan pada articulatio coxae

Pendarahan. Cabang-cabang arteria circumflexa femoris lateralis dan


arteria circumflexa femoris medialis dan arteri untuk caput femoris,
cabang arteri obturatoria.

Gambar 5. Vaskularisasi articulatio coxae

Persarafan. Nervus femoralis cabang ke musculus rectus femoris, nervus


obturatorius (bagian anterior), nervus ischiadicus (saraf ke quadratus
femoris) dan nervus gluteus superior. Pada bagian posterior, articulatio
coxae dilewati nervus skiatik, saraf besar yang mempersarafi m.
Semitendineus, m. Semimembranous, m. Bicep femoris, m. Adductor
magnus, m. Bicep femoris.

Gambar 6. Inervasi articulatio coxae

2.2 Etiologi
Dislokasi caput femur trauma dengan gaya dan tekanan yang besar seperti
kecelakaan

kendaraan bermotor ataupun jatuh dari ketinggian. Menurut

WHO penyebab dislokasi caput femur terbanyak adalah karena kecelakaan


lalu lintas.
Ada juga beberapa kasus dislokasi femur yang diakibatkan adanya suatu
kondisi

kelainan

kongenital

atau

keadaan

patologis

pada

sistem

muskuloskeletal pasien.

2.3 DISLOKASI PANGGUL POSTERIOR


Dislokasi posterior adalah perpindahan caput femoris keluar dari acetabulum
ke arah posterior, ditandai dengan pergelangan kaki atas-tulang femur yang
berotasi interna dan adduksi, panggul dalam posisi fleksi namun pada bagian
lutut serta pergelangan kaki bawah justru pada posisi yang berkebalikan.
biasanya disertai juga dengan penekanan dari nervus ischiadicus. Sering
terkait dengan luka lain, seperti fraktur patella atau patah tulang panggul
acetabulum posterior.
Mekanisme Cedera
Hampir selalu karena trauma energi tinggi. Paling sering melibatkan
pengendara yang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Bisa juga
terjadi pada pejalan kaki yang ditabrak oleh pengendara dengan kecepatan
tinggi, jatuh dari ketinggian, kecelakaan industri dan cedera olahraga. Pasien
biasanya mendapat hantaman dari arah depan secara langsung sehingga caput
femur bergerak ke arah posterior os coxae, keluar dari acetabulum.

Gambar 7. Mekanisme cedera pada dislokasi panggul posterior

Gambaran klinis

Secara klasik dislokasi panggul posterior pasien dalam posisi endorotasi


Jika ada asosiasi fraktur pada batang femur maka dapat menutupi

deformitas klasik.
Cedera saraf umunya saraf siatik (traksi dan kompresi)

Gambar 7. Manifestasi klinis pada dislokasi panggul posterior

Gambaran Radiologi

Abnormalitas biasanya jelas pada tampilan AP. Tampilan lateral


direkomendasikan

dalam

semua

kasus

untuk

membantu

dalam

menentukan dislokasi posterior atau anterior dan untuk menggambarkan


dislokasi yang sulit.

Pada dislokasi posterior, caput femoris muncul lebih kecil dari sisi yang
terpengaruh pada tampilan AP dan sebaliknya dengan anterior tampak
lebih besar (yang berhubungan dengan pembesaran dengan cara yang sama
jantung tampak lebih besar pada film AP). Anteroposterior caput femoris
terlihat di luar mangkuknya dan di atas acetabulum.

Foto oblik berguna untuk menunjukan ukuran fragmen jika terjadi patah
atau pergeseran.

Lihat trokanter minor pada dislokasi posterior, trokanter minor terletak di


atas batang femur.

Lihat

keterlibatan

acetabulum

karena

ini

akan

mempengaruhi

kemungkinan kerusakan saraf siatik, stabilitas dan hasil fungsional jangka


panjang.

Selalu nilai cincin panggul sepenuhnya sebagai patah tulang yang terkait /
gangguan yang umum.

Klasifikasi
Thompson-Epstein Classification of Posterior Hip Dislocation

Type I Simple dislocation with or without an insignificant posterior wall

fragment
Type II Dislocation associated with fracture posterior acetabular rim
Type III Dislocation with a comminuted acetabular rim
Type IV Dislocation with fracture of the acetabular floor
Type V Dislocation with fracture of the femoral head (Pipkin Class)

Tatalaksana sesuai dengan klasifikasi dislokasi


Dislokasi harus direduksi secara cepat dengan general anestesi. Padasebagian
besar kasus dilakukan reduksi reduksi tertutup. Seorang asisten menahan
pelvis, ahli bedah ortopedi memfleksikan pinggul dan lutut pasien sampai 90
derajat dan menarik paha keatas secara vertikal. Setelah direposisi, stabilitas
sendi diperiksa apakah sendi panggul dapat didislokasi dengan cara
menggerakkan secara vertikal pada sendi panggul.

Secara

umum

reduksi

stabil

namun

perlu

dipasang

traksi

dan

mempertahankannya selama 3 minggu. Gerakan dan latihan dimulai setelah


nyeri mereda.
Pada tipe II, sering diterapi dengan reduksi terbuka dan fiksasi anatomis pada
fragmen yang terkena. Terutama jika sendi tidak stabil atau fragmen besar
tidak tereduksi dengan reduksi tertutup, reduksi terbuka dan fiksasi internal
dan dipertahankan selama 6 minggu diperlukan.
Pada cedera tipe III umumnya diterapi dengan reduksi tertutup, kecuali jika
ada fragmen yang terjebak dalam asetabulum, maka dilakukan tindakan
reduksi terbuka dan pemasangan fiksasi interna dan traksi dipertahankan
selama 6 minggu.
Cedera tipe IV dan V awalnya diterapi dengan reduksi tertutup. Fragmen caput
femoris dapat tepat berada ditempatnya dan dapat dibuktikan dengan foto atau
ct scan pasca reduksi. Jika fragmen tetap tak tereduksi maka dilakukan reduksi
terbuka dengan caput femoris didislokasikan dan fragmen diikat pada
posisinya dengan sekrup countersunk pasca operasi traksi dipertahankan
selama 4 minggu, dan pembebatan ditunda selama 12 minggu.

2.4 DIAGNOSA
Pada pemeriksaan fisik penderita dislokasi posterior terlihat seperti putri malu
(adduksi rotasi intema dan fleksi sendi panggul dan lutut bila dibanding
dengan sisi yang sehat serta pemendekan)
Pemeriksaan saraf skiatik. Dengan pinggul pasien yang tertekuk dan pasien
berbaring pada sisi yang berlawanan, meraba saraf skiatik, saraf terbesar
dalam tubuh, yang terdiri dari cabang saraf dari L4, L5, S1, S2, dan S3. Saraf
terletak di tengah antara trokanter mayor dan tuberositas iskia saat keluar dari
panggul melalui foramen skiatik. Nyeri saraf skiatik menunjukkan herniasi
diskus atau lesi massa yang menekan cabang saraf; Saraf ini sulit untuk
diraba pada kebanyakan pasien. Palpasi untuk nyeri di setiap daerah lain yang
dikeluhkan pasien. Ingat bahwa nyeri punggung bawah memberi pertanda

adanya kompresi cauda equina, penyebab yang paling serius dari nyeri di
punggung, karena risiko kelumpuhan ekstremitas atau hilangnya kontrol
kandung kemih atau usus. Periksa radiasi nyeri ke daaerah bokong, perineum,
atau kaki.
Kondisi kaki dalam keadaan drop foot merupakan salah satu manifestasi
adanya kompresi ataupun gangguan pada saraf skiatik.

Gambar 8. Pemeriksaan saraf skiatik

Pemeriksaan arteri femoralis pada kejadian dislokasi anterior perlu


dilakukan. Umumnya Arteri femoralis dari bawah ligamen inguinal naik ke
atas di paha atas pada sepertiga jarak dari pubis ke tulang iliaka superior
anterior. Posisi terbaik dengan pemeriksa berdiri di sisi ipsilateral pasien dan

ujung jari tangan menekan kuat ke pangkal paha. Auskultasi juga harus
dilakukan di daerah arteri femoralis
Pemeriksaan x-ray guna menentukan posisi kaput femoris dan mencari lesi
pada asetabulum, femur seperti fraktur kaput atau kolum femoris atau fraktur
femoris diafisis.

2.5 TATALAKSANA
Pada kondisi dislokasi akut dapat dilakukan reduksi tertutup. Reposisi
dislokasi panggul anterior sedikit sukar karena karekteristik berbeda yaitu
tungkai dalam posisi rotasi ekstensi dan abduksi. Traksi dimulai dalam posisi
fleksi kemudian dicoba pemutaran interna dan eksterna dan dilanjutkan
dengan penekanan kaput femoris ke arah sendi.
Setelah reposisi haais dilakukan tes stabilitas sendi dengan C-arm meliputi
pemeriksaan stabiltas posterior dengan cara sendi panggul fleksi 90 derajat,
sementara dipertahankan posisi rotasi dan abduksi netral kemudian dorongan
femur ke posterior. Bila sendi panggul mengalami subluksasi maka sendi
tersebut tidak stabil.
Adapun pemeriksaan stabilitas anterior, sendi panggul dalam posisi abduksi,
fleksi dan rotasi ekstema. Bila dengan gaya gravitasi terjadi dislokasi sendi
panggul maka sendi itu tidak stabil Reposisi terbuka dilakukan bila reposisi
tertutup tidak berhasil atau instabilitas sendi.

Gambar 8. Reposisi tertutup sendi pangul

a. Allis method : pasien dalam posisi supine, pemeriksa berada diatas


pasien kemudian melakukan in-line traction, sementra assisten
melakukan counter traction sambil menstabilkan pelvis pasien. Ketika
traksi di tingkatkan, operator mengurangi fleksi sekitar 70 o, kemudian
lakukan gerakan rotasi dari hip seperti melakukan adduksi, hal ini akan
membantu caput femur terbebas dari lip of acetabulum. Penekanan dari

lateral ke arah proksimal femur akan membantu reduksi. Bunyi clunk


merupakan tanda berhasilnya reduksi tertutup.
b. Bigelow and reverse bigelow manuvers : Pasien dalam posisi supine,
sementara operator melakukan traksi longitudinal pada tungkai, Femur
yang dalam posisi adduksi dan rotasi internal kemudian difleksikan
90o , caput femur bergeser ke acetabulum dengan melakukan abduksi,
rotasi eksternal, dan ekstensi dari hip. Pada reverse bigelow manuver
dilakukan pada dislokasi anterior dari hip, traksi dilakukan in-line
dengan deformitas , kemudian hip di adduksikan secara tajam kemudian
di ekstensikan.
c. Stimson gravity technique : pasien di posisikan prone, dengan kaki
yang cedera tergantung di samping tempat tidur akan membuat hip
fleksi dan knee fleksi masing-masing 90o, dalam posisi ini assisten
mengimobilisasi pelvis sementara operator melakukan dorongan secara
langsung pada proksimal betis, rotasi dari tungkai bawah akan
membantu reduksi.
Pada kondisi old unreduced dislocation (dislokasi lama)

dapat

dipertimbangkan tindakan reduksi terbuka dan traksi. Reduksi tertutup


sebaiknya dilakukan pada kasus dengan resiko osteonecrosis. Dengan
mengabaikan arah dislokasi, reduksi bisa diusahakan pada pasien dengan
posisi terlentang dan penerapan traksi in-line. Anestesi umum paling
disarankan.
Open surgical reduction biasanya diperlukan untuk dislokasi sendi dengan
fraktur dan defisit neurologis (fragment fraktur yang berpindah tempat
menekan saraf). Jika open reduction tidak bisa dilakukan dengan segera,
usaha untuk menghilangkan tekanan udara saraf dengan reduksi sebaiknya
dilakukan. Selain itu, open reduction diindikasikan jika reduksi tertutup tidak
bisa dilaksanakan, reduksi noncencentric, fraktur caput femori atau
acetabulum yang membutuhkan eksisi dan fraktur collum femoris ipsilateral.

2.6 PROGNOSIS
Hasil akhir dari dislokasi panggul bervariasi, berkisar dari normal sampai
sangat menyakitkan dan degenerasi sendi.

Asosiasi yang signifikan dengan reduksi yang buruk termasuk pola fraktur,
usia, operasi tertunda, kehilangan ruang sendi dan nilai fungsional yang
cukup/buruk.

Sebagian besar penulis melaporkan 70% sampai 80% hasil yang baik atau

sangat baik dalam dislokasi posterior sederhana.

Hilangnya ruang sendi yang menyeluruh secara bermakna dikaitkan


dengan nilai fungsional yang cukup/buruk.

Prognosis jangka panjang memburuk jika reduksi (tertutup atau terbuka)


tertunda lebih dari 12 jam. Acetabular atau fraktur caput femur dapat
diobati dalam fase subakut.

2.7 KOMPLIKASI
2.7.1 Komplikasi akut

Osteoarthritis Post-traumatik: ini adalah komplikasi jangka panjang


yang paling sering pada dislokasi panggul; kejadian ini jauh lebih
tinggi ketika dislokasi berhubungan dengan fraktur atau patah
tulang acetabular transkondral dari caput femoris.

Gambar 8. Osteoarthritis Post-traumatik

Dislokasi rekuren: Ini jarang terjadi (< 2%), meskipun pasien


dengan reduksi anteversion femoralis mungkin akan mengalami
dislokasi

posterior

berulang,

sedangkan

mereka

dengan

peningkatan anteversion femoralis mungkin rentan terhadap


dislokasi anterior berulang.

Cedera neurovaskular: cedera saraf siatik terjadi pada 10% sampai


20% dari dislokasi panggul. Hal ini biasanya disebabkan oleh
peregangan saraf dari kepala dislokasi posterior atau dari fraktur
fragmen yang terpindah. Prognosis tidak dapat diprediksi, tetapi
kebanyakan penulis melaporkan 40% sampai 50% pemulihan
penuh. Studi elektromiografi ditunjukkan pada 3 sampai 4 minggu
untuk informasi dasar dan bimbingan prognostik. Jika tidak ada
perbaikan klinis atau elektrik terlihat setelah 1 tahun, intervensi
bedah dapat dipertimbangkan. Jika cedera saraf siatik terjadi
setelah reduksi tertutup dilakukan, maka penjeratan saraf mungkin
dan eksplorasi bedah diindikasikan. Cedera pada struktur pembuluh
darah dan saraf dan femur telah dilaporkan dengan dislokasi
anterior.

Gambar 9. Cedera Saraf Siatik

Patah tulang caput femoris: ini terjadi pada 10% dari dislokasi
posterior (fraktur geser) dan 25% sampai 75% dari dislokasi
anterior (lekukan patah tulang).

2.7.2 Komplikasi Kronik

Osteonekrosis (avascular nekrosis): ini diamati pada 5% sampai


40% dari cedera, dengan peningkatan risiko yang terkait dengan
peningkatan waktu sampai reduksi ( > 6 sampai 24 jam); Namun,
beberapa penulis menyarankan bahwa osteonekrosis mungkin
timbul dari cedera awal, bukan dari dislokasi berkepanjangan.
Osteonekrosis dapat menjadi klinis jelas setelah beberapa tahun
cedera. Upaya reduksi berulang juga dapat meningkatkan insiden.

Gambar 10. Osteonekrosis (avascular nekrosis)

BAB III
KESIMPULAN

1. Articulatio coxae adalah persendian antara caput femoris yang berbentuk


hemisphere dan acetabulum os coxae yang berbentuk mangkuk dengan tipe
ball and socket.
2. Articulatio coxae

dipertahankan

pada

tempatnya

oleh

ligamentum

ligamentum yang mempertahankan articulation ini pada tempatnya


3. Dislokasi pinggul dapat dibagi menjadi dislokasi pinggul kongenital,
dislokasi posterior,dislokasi anterior dan dislokasi pusat.
4. Mekanisme trauma dapat menentukan jenis dislokasi pinggul yang terjadi
5. Penegakan diagnosis dislokasi posterior dari gejala klinis mudah ditegakkan,
kaki pendek, dan sendi panggul teraba dengan jelas dalam posisi adduksi,
rotasi internal dan fleksi
6. Dislokasi posterior dapat dibagi dalam beberapa klasifikasi namun yang
terutama digunakan dan juga sebagai patokan penatalaksanaan adalah
klasifikasi berdasarkan Thompson-Epstein
7. Komplikasi dapat dibagi menjadi tahap dini yaitu Cedera nervus skiatikus,
Kerusakan pada Caput Femur, Kerusakan pada pembuluh darah, Fraktur
diafisis femur, sedangkan tahap lanjut yaitu Nekrosis avaskular, Miositis
osifikans, Dislokasi yang tidak dapat direduksi, Osteoartritis

DAFTAR PUSTAKA
1. Young Jeremy W.R. Skeletal Trauma : General Consideration. Textbook of
Radiology and Imaging David Sutton Vol.2.Seventh Edition. Churchill
Livingstone.2003.Chap.43:1371.
2. Harry S., Schultz M. Orthopedic Fractures and Dislocations. Current Clinical
Strategies: Surgery. 6th edition. The University of California, Irvine, Manual of
Surgery. Copyright 2006 Current Clinical Strategies Publishing:82.
(www.ccspublishing.com/ccs/surg.htm).
3. Thacker Mihir M, MBBS, MS(Orth). Epidemiology and Etiology: Acetabulum
Fracture.
4. Gammons Matthew, MD. Epidemiology and Causes: Hip Dislocation.
5. Holmes J. Erskine. A-Z of Emergency Radiology. Cambridge University Press.
Cambridge, 2004: p152-54.
6. Rogers Lee F., Taljanovic Mihra S.,Boles Carol A. General considerations 0f
Skeletal Trauma. Adam: Grainger & Allison's Diagnostic Radiology, 5th ed.
Copyright 2008 Churchill Livingstone, An Imprint of Elsevier. Chap.46:1-3.
7. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2013.
Kementrian Kesehatan RI. Jakarta. 2013:101.
8. Baert A. L,

Imaging of the Hip and Bony Pelvis. Medical Radiology.

Department of Clinical Radiology Manchester Royal Infirmary, Manchester.


2006: p217-235.
9. Moore Keith L,; Agur, Anne M. R. Introduction to Clinical Anatomy : Pelvis
and Perineum, Lower Limb. Essential Clinical Anatomy, 3rd Edition.
Copyright 2007 Lippincott Williams & Wilkins. Chap.3, 5.
10. Putz R., Pabst R. Atlas Anatomi Manusia Sobbota Jilid 2 : Batang Badan,
Panggul, Ekstremitas Bawah. Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran:EGC.224,75
11. Rogers Lee F., Taljanovic Mihra S.,Boles Carol A. The Pelvis. Adam: Grainger
& Allison's Diagnostic Radiology, 5th ed. Copyright 2008 Churchill
Livingstone, An Imprint of Elsevier. Chap.46.
12. Egol K, Koval K, Zuckerman J. Handbook of Fractures. Fourth
Edition.Lippincott Williams and Wilkins, 2010.

13. Holmes E, Misra R. A-Z of Emergency Radiology. Cambridge University Press


2004. 138-139.
14. Rockwood C, Bucholz R, Court-Brown C, Heckman J, Tornetta P. Hip
Dislocation and Fractures of the Femoral Head. Rockwood & Greens
Fractures in Adults 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2006.
15. Sanders S, Tejwani N, Egol K. Traumatic Hip Dislocation. A Review. Bulletin
of the NYU Hospital for Joint Diseases. 2010;68(2):91-6
16. Marincek B, Dondelinger R F, Pelvic Fracture. Emergency RadiologyImaging and Intervention. Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 2007. p.245-246
17. Marsh,

J. L, et al. Dislocations. Journal of Orthopaedic Trauma.Volume 21,

Number 10 Supplement, Lippincott Williams & Wilkins. November/December


2007.