Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelainan bawaan pada sistem muskuloskeletal memiliki keistimewaan yakni
selama

perkembangannya

baik

pertumbuhan

maupun

pematangan

dapat

mengakibatkan kelainan menetap yang lebih berat, atau sebaliknya menghasilkan


perbaikan sehingga kelainannya sama sekali hilang. Oleh karena itu pada pendekatan
dan pengelolaan harus dipikirkan kemungkinan efek pertumbuhan dan maturasi
dengan pengaruhnya terhadap anatomi dan faal.1
Diagnosis pascanatal dini kelainan bawaan menjadi tanggung jawab dokter
keluarga, dokter kebidanan dan dokter anak yang pertama kali memeriksa anak yang
baru lahir. Sebagian kelainan, seperti pes ekuinovarus bawaan sangat mudah
didiagnosis karena jelas terlihat pascalahir, akan tetapi Congenital Dislocation of the
Hip (CDH) sering tidak segera kelihatan pada waktu lahir dan hanya dengan
pemeriksaan yang cermat dan khusus kelainan ini dapat diketahui.1
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa diagnosis dini dan pengobatan dini
merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Orang tua
memegang peran utama pada pengelolaan anaknya yang menyandang cacat bawaan
dan perlu mendapat penjelasan sehingga perasaan bersalah mereka dapat diganti
dengan pemikiran positif dan penerimaan pada kondisi yang ada sehingga dapat
bekerja sama selama pengobatannya.1
Congenital Dislocation of the Hip (CDH) atau dislokasi panggul kongenital
adalah satu fase dari berbagai ketidakstabilan pinggul pada bayi- bayi yang baru lahir.
Biasanya pada saat kelahiran, pinggul benar- benar stabil dan dipertahankan berfleksi
sebagian. Tetapi kadang- kadang sendi tak stabil dalam arti bahwa sendi itu
berdislokasi atau dapat berdislokasi, artinya meskipun biasanya berada di tempatnya,
sendi itu dengan mudah dapat dibuat berdislokasi dengan manipulasi perlahan- lahan.
A. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang di maksud dengan CDH ?
2. Bagaimanakah etiologi CDH?
3. Bagaimanakah patofisologi CDH ?
1

4. Bagaimanakah woc CDH?


5. Bagaimanakah manifestasi klinis CDH?
6. Apa sajakah komplikasi CDH?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang CDH ?
8. Bagaimanakah penatalaksanan CDH?
9. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan CDH?
B. TUJUAN PENULISAN
a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mengetahui tinjauan terori CDH serta asuhan keperawatannya
dan untuk memenuhi tugas Keperawatan Anak pada semester IV
b. Tujuan Khusus
1. Apa yang di maksud dengan CDH?
2. Bagaimanakah etiologi CDH?
3. Bagaimanakah patofisologi CDH ?
4. Bagaimanakah woc CDH ?
5. Bagaimanakah manifestasi klinis CDH?
6. Apa sajakah komplikasi CDH?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang CDH ?
8. Bagaimanakah penatalaksanan CDH?
9. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan CDH?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Congenital Dislocation of the Hip (CDH) atau dislokasi panggul kongenital adalah
deformitas ortopedik yang didapat segera sebelum atau pada saat kelahiran. CDH
terjadi ketika anak lahir dengan pinggul yang tidak stabil karena pembentukan
abnormal dari sendi panggul selama tahap-tahap awal dari perkembangan janin.
Ketidakstabilan ini memburuk sebagai anak tumbuh. Kondisi ini bervariasi dari
pergeseran minimal ke lateral sampai dislokasi komplit dari caput femoris keluar
acetabulum.
Ada tiga pola yang terlihat:
a. subluxation, caput femoris berada di acetabulum dan dapat mengalami dislokasi
parsial saat pemeriksaan
b. Dysplasia asetabular (perkembangan tidak normal ), keterlambatan dalam
perkembangan asetabulum sehingga lebih dangkal dari normal, kaput femur tetap
dalam asetabulum
c. dislocated, pinggul berada dalam posisi dislokasi (paling parah) dan kaput femur
tidak bersentuhan dengan asetabulum. DDH pada akhirnya dapat berkembang
menjadi reduksi permanen, dislokasi lengkap, atau dysplasia akibat perubahan
adaptif yang terjadi pada jaringan dan tulang yang berdekatan.

B. Etiologi
Kebanyakan bayi yang lahir dengan congenital dislocatoin of hip memiliki
orang tua yang jelas-jelas tidak memiliki gangguan kesehatan maupun faktor resiko.
Seorang wanita hamil yang telah mengikuti semua nasihat dokternya agar kelak
melahirkan bayi yang sehat, mungkin saja nanti melahirkan bayi yang memiliki
kelainan bawaan. 60% kasus kelainan bawaan penyebabnya tidak diketahui; sisanya
disebabkan oleh faktor lingkungan atau genetik atau kombinasi dari keduanya.
1. Teratogenik
Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan atau
meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan. Radiasi, obat tertentu dan racun
merupakan teratogen.
2. Gizi
Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari
teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik.
Salah satu zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah asam folat.
Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya spina bifida atau
kelainan tabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi sebelum seorang
wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita usia subur sebaiknya
3.

mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak 400 mikrogram/hari.


Faktor fisik pada rahim

Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga merupakan
pelindung terhadap cedera. Jumlah cairan ketuban yang abnormal bisa
menyebabkan atau menunjukkan adanya kelainan bawaan.
Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi pertumbuhan paruparu dan anggota gerak tubuh atau bisa menunjukkan adanya kelainan ginjal yang
memperlambat proses pembentukan air kemih.
Penimbunan cairan ketuban terjadi jika janin mengalami gangguan
menelan, yang bisa disebabkan oleh kelainan otak yang berat (misalnya
anensefalus atau atresia esofagus).
4. Faktor genetik dan kromosom
Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan.
Beberapa kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang diwariskan
melalui gen yang abnormal dari salah satu atau kedua orang tua.
Gen adalah pembawa sifat individu yang terdapat di dalam kromosom
setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau cacat, bisa terjadi
kelainan bawaan.
5. Faktor hormonal
Yaitu tingginya kadar estrogen, progesteron dan relaksin pada ibu dalam
beberapa

minggu

terakhir

kehamilan,

dapat

memperburuk

kelonggaran

ligamentum pada bayi. Hal ini dapat menerangkan langkanya ketidakstabilan pada
bayi prematur, yang lahir sebelum hormon- hormon mencapai puncaknya.
Ditambahkan adalah pengamatan bahwa selama periode neonatal, bayi
relatif membawa estrogen dari ibunya. Hal ini menenangkan ligamen di dalam
tubuh. Beberapa bayi sangat sensitif terhadap estrogen, sehingga menyebabkan
ligament panggul menjadi terlalu lemah, dan panggul tidak stabil.
6. Malposisi intrauterine
Terutama posisi bokong dengan kaki yang berekstensi,

dapat

mempermudah terjadinya dislokasi, ini berhubungan dengan lebih tingginya


insidensi pada bayi yang merupakan anak sulung, dimana versi spontan lebih
sedikit kemungkinannya untuk terjadi.
Dislokasi unilateral biasanya mempengaruhi pinggul kiri, ini sesuai
dengan presentasi verteks biasa (occiput anterior kiri) dimana pinggul kiri agak
beradduksi.
7. Faktor pascakelahiran
Dapat membantu menetapnya ketidakstabilan neonatal dan gangguan
perkembangan acetabulum. Dislokasi sering kali ditemukan pada orang Lapps dan
orang Indian Amerika Utara yang membedong bayinya dan menggendongnya
dengan kaki merapat, pinggul dan lutut sepenuhnya berekstensi, dan jarang pada
5

orang Cina Selatan dan Negro Afrika yang membawa bayi pada punggungnya
dengan kedua kaki berabduksi lebar- lebar. Ada juga bukti dari percobaan bahwa
ekstensi lutut dan pinggul secara serentak mengakibatkan dislokasi panggul
selama perkembangan awal.

C. Patofisiologi
Saat kelahiran panggul, meskipun tak stabil mungkin bentuknya normal, tetapi
capsul sering merentang dan berlebih lebihan. Selama masa bayi beberapa
perubahan timbul, beberapa di antaranya mungkin menunjukkan displasia primer pada
acetabulum dan /atau femur proksimal, tetapi kebanyakan di antaranya muncul karena
adaptasi terhadap ketidakstabilan menetap dan pembebanan sendi secara abnormal.
Caput femoris mengalami dislokasi di bagian posterior tetapi dengan ekstensi
pinggul, caput itu pertama-tama terletak posterolateral dan kemudian superolateral
pada acetabulum. Soket tulang rawan terletak dangkal dan anteversi. Caput femoris
yang bertulang rawan ukurannya normal tetapi inti tulangnya terlambat muncul dan
osifikasinya tertunda selama masa bayi.
Caput teregang dan ligamentum teres menjadi panjang dan hipertrofi. Di
bagian superior, labrum asetabulum dan tepi kapsulnya dapat didorong ke dalam soket
oleh caput femoris yang berdislokasi; libus fibrokartilaginosa ini dapat menghalangi
usaha reduksi tertutup terhadap caput femoris.
Setelah mulai menyangga badan perubahan-perubahan ini lebih hebat.
Acetabulum dan colum femur tetap anteversi dan tekanan dari caput femoris
menyebabkan terbentuknya suatu soket palsu di atas acetabulum dan m. psoas,
menimbulkan suatu penampilan jam pasir (hourglass). Pada saatnya otot di
sekelilingnya menyesuaikan diri dengan memendek.

D. Pathway
Teratogenik, gizi, faktor fisik pada rahim, faktor genetik dan kromosom, faktor
hormonal,malposisi intrauterine, faktor pasca kelahiran

Caput femoris mengalami dislokasi

inti tulang rawan kaput femoris terlambat muncul dan osifikasinya tertunda

Caput teregang dan ligamentum teres menjadi panjang dan hipertrofi

libus fibrokartilaginosa menghalangi usaha reduksi tertutup terhadap caput femoris

Adanya tekanan dari caput femoris

terbentuknya soket palsu di atas acetabulum dan m. psoas

Adanya penampilan jam pasir (hourglass)

otot di sekeliling menyesuaikan diri dengan memendek

Gangguan bentuk dan pergerakan

Kesulitan dalam menggerakkan


sendi sekitar

Gangguan
Mobilitas Fisik

Informasi tidak adekuat

Pengeluaran mediator kimia (histamine)

merangsang pusat sensori nyeri

Nyeri Akut

tidak nyaman akibat


7


Kurang pajanan informasi

Kurang
Pengetahuan

ketidaknormalan bentuk

merasa malu, cemas, dan takut


tidak diterima

Gangguan Citra
tubuh

E. Manifestasi Klinis
1. Pergerakan yang terbatas di daerah yang terkena
2. Posisi tungkai yang asimetris
3. Lipatan lemak yang asimetris
4. Setelah bayi berumur 3 bulan : rotasi tungkai asimetris dan tungkai pada sisi yang
terkena tampak memendek.
5. Hilangnya tonjolan tulang yang normal, misalnya trauma ekstensi dan eksorotasi
pada dislokasi anterior sendi bahu.
6. Kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu, misalnya dislokasi posterior sendi
panggul kedudukan endorotasi, fleksi dan aduksi.
7. Nyeri
Keadaan ideal yang masih belum tercapai adalah mendiagnosis setiap kasus
pada saat kelahiran. Karena alasan ini setiap bayi yang baru lahir harus diperiksa
untuk mencari tanda- tanda ketidakstabilan panggul. Bila terdapat riwayat dislokasi
kongenital dalam keluarga, disertai presentasi bokong, kita harus sangat berhati hati
dan bayi mungkin terpaksa diperiksa lebih dari sekali. Pada nenonatus terdapat
beberapa cara untuk menguji ketidakstabilan.
Gambaran klinis dislokasi panggul kongenital adalah asimetri pada lipatanlipatan kulit paha. Pemeriksaaan klinik untuk mengetahui dislokasi panggul
kongenital pada bayi baru lahir adalah:
1. Uji Ortolani
Dalam uji Ortolani, bagian medial paha bayi dipegang dengan ibu jari dan
jari-jari diletakkan pada trokanter mayor; pinggul difleksikan sampai 90 dan
diabduksi perlahan-lahan. Biasanya abduksi berjalan lancar sampai hampir 90.
Pada dislokasi kongenital biasanya gerakan terhalang, tetapi kalau tekanan
diberikan pada trokanter mayor

akan terdapat suatu bunyi halus sementara

dislokasi tereduksi, dan kemudian panggul berabduksi sepenuhnya (sentakan ke


dalam). Kalau abduksi berhenti di tengah jalan dan tidak ada sentakan ke dalam,
mungkin ada suatu dislokasi yang tak dapat direduksi.

2. Uji Barlow
Uji Barlow dilakukan dengan cara yang sama, tetapi di sini ibu jari
pemeriksa di tempatkan pada lipatan paha dan dengan memegang paha bagian
atas, diusahakan mengungkit caput femoris ke dalam dan keluar acetabulum
selama abduksi dan adduksi. Kalau caput femoris normalnya berada pada posisi
reduksi, tetapi dapat keluar dari sendi dan kembali masuk lagi, panggul itu
digolongkan sebagai dapat mengalami dislokasi (yaitu tak stabil).

3. Tanda Galeazzi
Pada pemeriksaan ini kedua lutut bayi dilipat penuh dengan panggul dalam
keadaan fleksi 90 serta kedua paha saling dirapatkan. Keempat jari pemeriksa
memegang bagian belakang tungkai bawah dengan ibu jari di depan. Dalam
keadaan normal kedua lutut akan sama tinggi dan bila terdapat dislokasi panggul
kongenital maka tungkai yang mengalami dislokasi, lututnya akan terlihat lebih
rendah dan disebut sebagai tanda Galeazzi/ Allis positif.

10

Setiap panggul yang memiliki tanda tanda ketidakstabilan walaupun


sedikit diperiksa dengan ultrasonografi. Cara ini memperlihatkan bentuk
acetabulum dan posisi caput femoris. Kalau terdapat kelainan, bayi itu dibebat
dengan panggul yang berfleksi dan berabduksi dan diperiksa kembali 6
minggu kemudian. Pada saat itu mungkin perlu dinilai apakah panggul
berhasil direduksi dan stabil, tereduksi tetapi tak stabil, mengalami subluksasi
atau dislokasi. Di tangan ahli yang berpengalaman, skrining pada neonatus
sangat efektif untuk menurunkan insidensi dislokasi yang muncul belakangan.

F. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin dapat terjadi, termasuk redislocation,
kekakuan panggul, infeksi, kehilangan darah dan kemungkinan nekrosis paling berat
dari caput femur. Tingkat nekrosis caput femur bervariasi, pada penelitian ini rentang
tingkat dari 0% sampai 73%. Banyak penelitian menunjukkan bahwa abduksi ekstrim,
khususnya dikombinasikan dengan ekstensi dan rotasi internal, menghasilkan nekrosis
avaskular yang lebih tinggi kecuali dikoreksi segera setelah lahir, penekanan
abnormal menyebabkan malformasi perkembanga tulang paha dengan gaya berjalan
pincang. Jika kasus kelainan panggul congenital terlambat diobati, anak akan
memiliki kesulitan berjalan yang dapat mengakibatkan rasa sakit seumur hidup.
Selain itu jika kondisi ini tidak diobati posisi pinggul abnormal akan memaksa
acetabulum untuk mencari posisi lain untuk menampung caput femur.
G. Pemeriksaan Radiologi

11

Pemeriksaan biasanya agak sulit dilakukan karena pusat osifikasi sendi baru
tampak pada bayi umur 3 bulan atau lebih sehingga pemeriksaan ini hanya bermanfaat
pada umur 6 bulan atau lebih.
1. Rontgen Pelvis
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan indeks acetabuler, garis
horizontal Hilgenreiner, garis vertikal Perkin serta garis arkuata dari Shenton.
2. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan USG pada bayi dilakukan untuk menggantikan pencitraan
panggul dengan foto rontgen. Pada bayi baru lahir, acetabulum dan caput femoris
dihubungkan oleh tulang rawan, sehingga pada foto polos biasa tidak terlihat.
Dengan pemeriksaan USG, meskipun penderita berusia di bawah 3 bulan,
hubungan antara caput femoris dan acetabulum dapat diamati.
Persiapan pemeriksaan pada USG:
a. Persiapan pasien
a) Umur yang sesuai untuk melakukan pemeriksaan USG pada bayi adalah di
atas 6 minggu.
b) Bayi diposisikan secara supine (kaki bayi menghadap ke arah pemeriksa).
c) Bayi boleh diposisikan secara dekubitus dengan meletakkan bantal di
punggungnya.
d) Jika bayi memakai popok, popok dibuka supaya dapat di skaning secara
coronal pada panggul.
e) Bayi diiringi oleh tua.
b. Teknik Skanning
a) Panggul bayi diskaning secara coronal dan transversal untuk mengevaluasi
panggul dalam posisi neutral, abduksi / adduksi dan fleksi.
USG secara luas telah menggantikan radiografi untuk pencitraan panggul
neonatus. Pada saat kelahiran, acetabulum dan caput femoris merupakan tulang rawan
sehingga tak kelihatan pada foto rontgen biasa. USG nyata memberikan gambaran
yang tepat mengenai tata hubungan antara satu dengan yang lainnya.

H. Penatalaksanaan
a. 3-6 bulan pertama
Kebijakan yang paling sederhana adalah menganggap semua bayi dengan
latar belakang yang berisiko tinggi (riwayat keluarga atau kelahiran sungsang
dengan ekstensi), atau dengan uji Ortholani atau uji Barlow positif, harus dicurigai
12

dan merawatnya dengan popok dobel atau suatu bantal abduksi selama 6 minggu
pertama. Pada stadium itu mereka diuji lagi, bayi yang panggulnya stabil
dibiarkan bebas tetapi tetap dalam pengawasan sekurang kurangnya selama 6
bulan hingga panggul itu stabil dan rontgen memperlihatkan bahwa atap
acetabulum berkembang dengan memuaskan (biasanya 3-6 bulan).
Tetapi karena 80 90% panggul yang tak stabil pada saat kelahiran akan
stabil secara spontan dalam 2-3 minggu, tampaknya akan lebih bijaksana bila
tidak memulai pembebatan dengan segera kecuali kalau panggul itu sudah
mengalami dislokasi. Hal ini mengurangi sedikit risiko (tetapi bermakna) akan
terjadinya nekrosis epifisis yang menyertai setiap bentuk pembebatan pembatas
pada neonatus. Karena itu kalau panggul dapat mengalami dislokasi tetapi
biasanya tidak terjadi dislokasi, bayi itu tidak diberi terapi tetapi diuji lagi setiap
minggu, jika setelah 3 minggu pinggul masih tak stabil, pembebatan abduksi
diterapkan. Kalau panggul sudah mengalami dislokasi pada pengujian pertama,
dengan hati hati panggul di tempatkan pada posisi reduksi dan pembebatan
abduksi dilakukan dari permulaan. Reduksi dipertahankan hingga panggul stabil,
ini dapat berlangsung hanya beberapa minggu, tetapi tindakan yang paling aman
adalah mempertahankan pembebatan hingga rontgen memperlihatkan suatu atap
acetabulum yang baik.
Bila ada fasilitas untuk USG, dapat diterapkan protokol yang lebih baik.
Semua bayi baru lahir yang memiliki latar belakang berisiko tinggi atau diduga
memiliki

ketidakstabilan

pinggul

diperiksa

dengan

USG.

Kalau

USG

memperlihatkan bahwa panggul dalam reduksi dan mempunyai struktur tulang


rawan yang normal, tidak diperlukan terapi tetapi anak itu tetap dalam
pengawasan selama 3- 6 bulan. Kalau secara anatomis kurang sempurna, panggul
dibebat dalam keadaan abduksi dan setelah 6 minggu USG dilakukan lagi.
Sekarang pada beberapa kasus, panggul akan tampak normal dan tidak
membutuhkan terapi lanjutan, kecuali pemeriksaan rutin selama 3-6 bulan.
Sebagian di antaranya akan memperlihatkan kelainan yang menetap dan untuk
kasus ini pembebatan dalam keadaan abduksi dilanjutkan sampai USG berikutnya
dalam 3 bulan atau rontgen dalam 6 bulan memperlihatkan terbentuknya atap
acetabulum yang baik.
Pembebatan.

13

Tujuan pembebatan adalah mempertahankan panggul agak berfleksi dan


berabduksi; posisi ekstrim dihindari dan sendi sendi harus dimungkinkan untuk
melakukan sedikit gerakan dalam bebat. Untuk bayi yang baru lahir, popok dobel
atau bantal abduksi yang empuk cukup memadai. Bebat Von Rosen adalah suatu
bebat lunak yang berbentuk H yang bermanfaat karena mudah digunakan.
Pengikat pelvic (Pelvic Harness) lebih sulit dipakaikan tetapi lebih banyak
memberi kebebasan kepada anak sementara posisi masih dipertahankan. Cara
yang tidak terlalu rumit dan yang paling tidak disenangi ibu yaitu penggunaan
plaster lutut dengan batang melintang yang mempertahankan pinggul dalam 90
fleksi dan sekitar 45 abduksi, atau 10 lebih besar dari sudut dimana sentakan ke
dalamnya dapat diraba.. Tiga aturan pembebatan yang terbaik adalah :
1. Pinggul harus direduksi sebagaimana mestinya sebelum dibebat
2. Posisi ekstrim harus dihindari
3. Pinggul harus dapat digerakkan.
Tindak lanjut
Tindakan apapun yang telah diambil, tindak lanjut tetap diteruskan hingga
anak dapat berjalan. Kadang kadang sekalipun dengan terapi yang paling hatihati, panggul dapat memperlihatkan tingkat displasia acetabulum tertentu di
kemudian hari.
b. Dislokasi yang menetap 6 18 bulan
Kalau setelah terapi dini, panggul belum seluruhnya direduksi atau kalau
anak itu di belakang hari menunjukkan adanya dislokasi yang tersembunyi,
panggul itu harus direduksi terutama dengan metode tertutup tetapi kalau perlu
dengan

operasi dan

tetap

direduksi hingga

perkembangan acetabulum

memuaskan.
Reduksi tertutup
Cara ini ideal tetapi memiliki risiko rusaknya pasokan darah pada caput
femoris dan menyebabkan nekrosis. Untuk memperkecil risiko ini dilakukan
reduksi berangsur- angsur, traksi dilakukan pada kedua kaki secara vertikal dan
secara berangsur- angsur abduksi ditingkatkan hingga dalam 3 minggu, kedua kaki
terentang lebar- lebar. Manuver ini dapat mencapai reduksi konsentrik stabil dan
dicek dengan rontgen pelvis.
Pembebatan panggul yang direduksi secara konsentrik ditahan dalam suatu
spika gips dalam keadaan 60 fleksi, 40 abduksi dan 20 rotasi internal. Setela 6
minggu spika digantikan dengan bebat yang mencegah adduksi tetapi
14

memungkinkan gerakan suatu pengikat Pavlik atau gips lutut dengan batang
melintang. Bebat ini dipertahankan selama 3-6 bulan lagi dan diperiksa dengan
rontgen untuk memastikan caput femoris tereduksi secara konsentrik dan atap
acetabulum berkembang dengan normal.
Operasi
Kalau setiap tahap reduksi konsentrik belum dicapai, diperlukan operasi
terbuka.
c. Dislokasi menetap 18 bulan ke atas.
Pada anak yang lebih tua, reduksi tertutup kemungkinan kurang berhasil;
banyak ahli bedah langsung melakukan atrografi dan reduksi terbuka.
Traksi dilakukan jika reduksi tertutup tidak berhasil. traksi membantu
melonggarkan jaringan dan menurunkan caput femoris berhadapan dengan
acetabulum.
Operasi kapsul sendi dibuka di bagian anteriornya, setiap limbus yang ke
dalam dibuang dan caput femoris ditempatkan pada acetabulum. Biasanya
diperlukan osteotomi derotasi.
Pembebatan dilakukan setelah operasi, panggul ditahan dalam spika gips
selama 3 bulan dan kemudian dengan bebat memungkinkan beberapa gerakan
pinggul selama 1- 3 bulan dan diperiksa dengan rontgen untuk memastikan telah
tereduksi dan sedang berkembang secara memuaskan.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN CDH
A. Pengkajian
a. Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa
yang

dipakai,

status

perkawinan,

pendidikan,

pekerjaan,
15

asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa


medis.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan
sebab dari disklokasi yang nantinya membantu dalam membuat
rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya penyakit.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab
dislokasi, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya
yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat
proses penyembuhan.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Pada pengkajian ini

ditemukan

kemungkinan

adanya

penyakit dislokasi keturunan dan kelainan kehamilan yang


mungkin dialami ibu saat hamil klien.
e. Pemeriksaan Fisik
Pada penderita dislokasi pemeriksaan fisik yang diutamakan
adalah nyreri, deformitas, fungsiolesa : misalnya bahu tidak
dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu
Fokus pengkajian :
1. Look
Terlihat

adanya

deformitas

pada

panggul.

Bayi

yang

mengalami dislokasi congenital tidak bisa melakukan abduksi


secara sempurna pada sisi dislokasi. Pada anak yang mulai
berjalan didapatkan deformitas perubahan gaya berjalan atau
berdiri. Kadang didapatkan dislokasi unilateral atau bilateral.
Pada dislokasi anterior didapatkan posisi sendi panggul terlihat
fleksi, paha abduksi dan mengalami rotasi eksternal. Pada
dislokasi posterior terlihat deformitas pada sendi panggul yang
mengalami abduksi rotasi internal, fleksi pada pinggul dan lutut,
disertai lutut yang beristirahat diatas sisi paha yang berlawanan.
2. Feel

16

Didapatkan adanya nyeri tekan pada panggul


3. Move
Hambatan dalam menggerakkan femur secara abduksi, rotasi,
dan hambatan dalam beraktifitas, jalan atau berdiri.
4. Pengkajian muskuloskeletal
a) Fungsi motorik kasar
1) Ukuran

otot

adanya

atrofi

atau

hipertrofi

otot,

rentang

gerak

kesimetrisan massa otot.


2) Tonus

otot

spastisitas,

kelemahan,

terbatas.
3) Kekuatan
4) Gerak abnormal : tremor, distonia, atetosis.
b) Fungsi motorik halus
1) Manipulasi mainan
2) Menggambar
c) Gaya berjalan : ayunan lengan dan kaki, gaya tumit-jari
d) Pengendalian postur
1) Mempertahankan posisi tegak
2) Adanya ataksia
3) Bergoyang-goyang
e) Persendian
1) Rentang gerak
2) Kontraktur
3) Kemerahan, edema, nyeri

17

4) Tonjolan abnormal
f) Tulang belakang
1) Lengkung tulang belakang : skoliosis, kifosis.
2) Adanya lesung pilonidal
g) Pinggul
1) Abduksi
2) Adduksi
h) Kriteria pengkajian
1) Maneuver ortolani
Suatu manuver uji DDH dengan memasukkan caput
femur ke acetabulum dengan melakukan abduksi pada
kaki bayi(gerakan ke lateral).
Positif bila :
Ada bunyi klik saat prokanter mayor ditekan ke
dalam dan terasa caput yang tadi keluar saat tes barlow
masuk ke acetabulum.
Sudut abduksi < 600 (suspek DDH). Normalnya sudut
abduksi = 650 - 800.
2) Maneuver barlow
Suatu manuver yang bertujuan untuk menguji DDH
dengan usaha mengeluarkan kaput femur dari acetabulum
dengan melakukan adduksi kaki bayidan ibu jari pemeriksa
diletakkan di lipatan paha.
Positif bila :
Saat mengeluarkan kaput femur, teraba kaputnya oleh
ibu jari pemeriksa dan ada bunyi klik.
3) Tanda galeazzi

18

Fleksikan femur, dekatkan antara yang kiri dan kanan,


lihat apakah lututnya sama panjang. Bila tidak sama
panjang => +.
4) Uji trendelenburg
Anak disuruh berdiri 1 kaki secara bergantian. Saat
berdiri pada kaki yang DDH (+), akan terlihat :
Otot panggul abduktor (menjauhi garis

tubuh).

Normalnya, otot panggul akan mempertahankan posisinya


tetap lurus.
5. Kaji tanda-tanda iritasi kulit.
6. Kaji respon anak terhadap traksi dan imobilisasi dengan adanya
gips spika.
7. Kaji tingkat perkembangan anak.
8. Kaji kemampuan klien untuk mengelola perawatan gips spika di
rumah.

B. Diangnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan dislokasi.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan bentuk
dan pergerakan
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ketidaknormalan
bentuk tubuh
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan
informasi

C. Intervensi
No
.
1

Dx.

Tujuan dan kriteria

Nyeri Akut b.d Setelah


dislokasi

Intervensi

hasil
dilakukan NOC :

tidankan

1. Pain level
2. Pain control
keperawatan selama
3. Comfort level
1x24 jam diharapkan
NIC :
19

nyeri berkurang atau 1. Kaji


hilang.

komprehensif
2. Beri
edukasi

Kriteria hasil :
- Memperlihatkan
pengendalian nyeri
- Nyeri
berkurang/hilang
- Skala nyeri 0-1
- Ttv :
S: 36-37,5 0C
N: 60-80 x/menit
RR:16-20 x/menit
TD:110-120/80-90
mmHg
- Klien
2

Gangguan

nyeri

tampak

penyebab

secara
tentang

nyeri

antisipasi.
3. Ajarkan teknik

dan

distraksi

dan relaksasi
4. Beri posisi nyaman (semi
fowler).
5. Berikan kompres hangat
pada lokasi dislokasi.
6. Observasi keadaan umum
(nyeri dan TTV).
7. Kolaborasi

dalam

pemberian analgetik.
nyaman dan rileks
Setelah
dilakukan NOC :

mobilitas fisik tidankan

1. Joint movement : active


2. Mobility level
b.d gangguan keperawatan selama
3. Self care : ADL
bentuk
dan 3x24 jam diarapakan
pergerakan

klien

dapat

melakukan mobilisasi
dengan teratur.
Kriteri hasil :
- Klien

NIC :
1. Kaji

kemampuan

mobilitas pasien
2. Berikan health education

mengatakan

tentang latihan fisi


3. Ajarkan ROM exercise.
dapat
melakukan
4. Ajarkan cara merubah
pergerakan dengan
posisi
bebas.
5. Berikan
bantuan
- Gerakan
pasien
perawatan
diri:
terkoordinir.
berpindah.
- Klien
dapat
6. Observasi keadaan umum
melakukan aktivitas
(tingkat mobilitas dan
secara mandiri.
kekuatan otot).
7. Kolaborasi dengan ahli
fisioterapi

dalam

memberikan terapi yang


tepat.
20

Gangguan
citra

Setelah

dilakukan NOC :

tubuh tindakan

b.d

keperawatan selama

ketidaknormal 1x24
an

jam

bentuk diharapakan

tubuh

klien

dapat

1. Body image
2. Self esteem
NIC
1. Kaji konsep diri
2. Jelaskan
pengobatan,

menungkapkan
tingkat

tentang

perawatan,

kemajuan, dan prognosis

persepsi

penyakit
positif tentang situasi 3. Bantu
hidup saat ini.

klien

mengungkapkan

Kriteri hasil :

masalahanya.
4. Ajarkan
keterampilan

- Mengungkapkan
penerimaan

diri

bersikap

positif

bermain

peran,

melalui

secara verbal.
- Mempertahankan
kontak mata.
- Mengenali kekuatan
diri.
- Mengungkapkan
keinginan

untuk

model peran, diskusi, dll.


5. Kolaborasi
dengan
psikiatrik

dan

layanan

keagamaan.

untuk

mendapatkan
konseling.
- Melatih perilaku yang
dapat
meningkatkan rasa
percaya diri.
4

Kurang

Setelah

pengetahuan

tindakan

b.d

dilakukan NOC :
1. Knowledge

kurang keperawatan selama

pajanan

1x24

informasi

diharapakan keluarga
klien
mengetahui
penyakit

jam
dapat
proses
dan

process
2. Knowledge

:
:

disease
health

behavior
NIC :
1. Kaji tingkat pengetahuan
keluarga pasien tentang
21

penanganannya
Kriteria hasil :
- Keluarga

pasien

menyatakan
pemahaman
tentang penyakit
- Keluarga
pasien
mampu
menjelaskan
kembali apa yang
telah

penyakit
2. Jelaskan patofisiologi dari
penyakit dengan anatomi
fisiologi,
yang tepat
3. Sediakan

dengan

cara

informasi

tentang

kondisi

kesehatan

pasien,

dengan cara yang tepat


4. Identifikasi kemungkinan
penyebab

dijelaskan

oleh perawat/ tim


kesehatan lain
D. Implementasi
Lakukan tindakan sesuai dengan intervensi yang akan diberikan.
E. Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1. Pinggul bayi atau anak tetap pada posisi yang diharapkan.
2. Kulit bayi atau anak akan tetap utuh tanpa kemerahan atau
kerusakan.
3. Orang tua dapat mendemostrasikan aktivitas perawatan untuk
mengakomodasi alat bantu pengoreksi bayi / anak atau gips
spika pinggul.

22

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Congenital Dislocation of the Hip (CDH) atau dislokasi panggul kongenital
adalah satu fase dari berbagai ketidakstabilan pinggul pada bayi baru lahir. Ada
beberapa faktor penyebab yang diduga berhubungan dengan terjadinya Congenital
Dislocation of the Hip (CDH), antara lain factor genetic, factor hormonal, malposisi
intrauterine dan factor pasca kelahiran. Congenital Dislocation of the Hip (CDH)
memiliki gambaran klinis seperti pergerakan yang terbatas di daerah yang terkena,
posisi tungkai yang asimetris, lipatan lemak paha yang asimetris dan tungkai pada sisi
yang terkena tampak memendek.
Diagnosis Congenital Dislocation of the Hip (CDH) ditegakkan berdasarkan
gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologis.
Penatalaksanaan CDH umumnya hanya dengan memasang bidai untuk
mempertahankan sendi panggul dalam posisinya dan penderita usia 3-18 bulan, dapat
dicoba reduksi tertutup dan tindakan operasi dipertimbangkan bila reduksi ini tidak
berhasil dan bagi kelainan telah bersifat irreversible sehingga tindakan operasi
merupakan satu satunya alternatif pengobatan untuk mengoreksi kelainan yang ada.
Komplikasi CDH adalah redislokasi, kekakuan pinggul, infeksi, kehilangan
darah, dan nekrosis caput femoralis. Prognosis baik jika dideteksi dini dan segera
ditangani jika tidak, dapat menyebabkan komplikasi.
Merupakan kompetensi seorang dokter umum untuk dapat mengetahui,
mendiagnosis, dan mengenali pemeriksaan radiologi yang diperlukan untuk
menunjang diagnosis dari CDH.
B. Saran

23

Dengan berbagai permasalahan yang ada khususnya yang menyangkut tentang


Congenital Dislocation of the Hip (CDH), dokter harus selalu waspada terhadap
gejala dini permasalahan tersebut dan dapat mendiagnosis dengan cepat dan tepat
sehingga penanganan bisa segera dilakukan dalam upaya meningkatkan angka
kehidupan untuk seorang bayi dengan Congenital Dislocation of the Hip (CDH).

DAFTAR PUSTAKA
Betz, Cecily Lynn dan Linda A.Sowden. 2009 . Buku Saku Keperawatan
Pediatrik. Edisi 5.Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman
Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta EGC.
Ratnayantinasrum.2010.blogspot.com (di akses 18 desember 2010)
Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4.
Jakarta : EGC
Erika, Kadek Ayu, dkk. 2008. Keperawatan Anak. Makasar : SIK UNHAS

24