Anda di halaman 1dari 15

BERANDA

Search

BKUL PENPROFIL
Welcome in B-KUL (Bahan Kuliah), enjoy the knowledge ^^

About

HOME
BUSINESS
DOWNLOADS
PARENT CATEGORY
FEATURED
HEALTH
UNCATEGORIZED

ENZIM DAN PORFIRIN


08.09 Biokimia, Ilmu Dasar Keperawatan 3 No comments

2.1 Pengertian Enzim dan Koenzim


Enzim ialah senyawa protein yang disintesiskan di dalam sel secara biokimiawi.
Enzim merupakan biokatalis yaitu senyawa yang diproduksi oleh organisme. Tanpa
bantuan enzim maka reaksi-reaksi bio kimia akan berjalan lambat, dan membutuhkan
suhu atau tekanan yang ekstrem. Enzim akan mempercepat jalannya reaksi kimia
tanpa ikut hadir dalam produk akhir reaksi tersebut.
Koenzim adalah molekul organik yang nonprotein diperlukan untuk
bekerjanya enzim. Example:Vit,NAD,koenzim A.
Koenzim akan memperbesar kemampuan katalitik sebuah enzim
sehingga menjadi jauh melebihi kemampuan yang ditawarkan hanya oleh
gugus fungsional asam aminonya, yang menyusun massa enzim tersebut.
Koenzim yang berikatan secara erat dengan enzim lewat ikatan kovalen atau
gaya nonkovalen kerap kali disebut sebagai gugus prostetik. Koenzim yang
mampu berdifusi secara bebas umumnya berfungsi sebagai unsur pembawa
(yang didaur ulang secara kontinu) hydrogen (FADH), hidrida (NADH dan
NADPH), atau unit-unit kimia seperti gugus asil (koenzim A) atau gugus metil
(folat), membawanya bolak-balik antara tempat pembentukannya dan
pemakaiannya. Oleh karena itu, koenzim yang disebut belakangan ini dapat
dianggap sebagai substrat sekunder.
Jenis-jenis enzim yang membutuhkan koenzim adalah enzim yang
mengatalisis reaksi oksidoreduksi, pemindahan gugus serta isomerisasi, dan
reaksi yang membentuk ikatan kovalen (kelas IUB 1,2,5, dan 6). Reaksi lisis,
termasuk reaksi hidrolisis yang dikatalisis oleh enzim-enzim pencernaan,
tidak memerlukan koenzim.

Satu abad lalu, baru ada beberapa enzim yang dikenal dan kebanyakan di
antaranya mengatalisis reaksi hidrolisis ikatan kovalen. Semua enzim ini diidentifikasi
dengan penambahan akhiran ase pada nama substansi atau substrat yang
dihidrolisisnya. Jadi, lipase menghidrolisis lemak (Yunani lipos), amilase menghidrolisis
pati (Yunani amylon), dan protease menghidrolisis protein. Sementara akhiran
-ase tetap digunakan, nama enzim yang ada sekarang ini lebih menekankan pada tipe
reaksi yang dikatalisisnya. Sebagai contoh, enzim dehidrogenase mengatalisis
pengeluaran hidrogen, sementara enzim transferase mengatalisis reaksi pemindahan
gugus.
Perbedaan antara Enzim dan Koenzim:
1. Enzim

Merupakan suatu biokatalisator

Bersifat termolabil

Bersifat spesifik dalam melaksanakan fungsinya

Dirusak oleh logam berat

Aktifitas enzim diukur dengan kecepatan reaksi enzimatik

Letak enzim tertentu didalam sel

Hanya mengkatalis satu macam reaksi

2. Koenzim

Senyawa organik yang diperlukan untuk aktifitas suatu enzim tertentu

bersifat termostabil

Berat molekul rendah

Banyak koenzim yang merupakan derivat vitamin B

Bisa di anggap sebagai substrat kedua.

Penggolongan Enzim
berdasarkan Jenis Reaksi yang dikatalis:
1.

Oksideruduktase:mengkatalis reaksi oksidasi-reduksi.

2.

Transferase:mengkatalis reaksi pemindahan berbagai gugus


amino,karboksil,karbonil,metil,asil,glikosil atau fosforil.

3.

Hidrolase:mengkatalis pemutusan ikatan kovalen sambil mengikat oksigen.

4.

Liase:mengkatalis pemecahan ikatan kovalen tanpa mengikat air.

5.

Isomerase:mengkatalis reaksi isomerisasi.

6.

Ligase/Sintetase:mengkatalis pembentukan ikatan. .

Beberapa enzim penting yang berasal dari hewan.


1.Enzim Kemotripsin, sumber pankreas.
2. Enzim Katalase,Sumber Hati.
3. Enzim Lipase,Sumber pankreas.
4. Enzim Rennet,Sumber Abomasum.
5. Enzim Tripsin,Sumber Pankreas
Beberapa enzim penting yang berasal dari tanaman:
1. Enzim aktinidin,Sumber buah kiwi.
2. Enzim a-amilase, sumber kecambah barley.
3. Enzim bromelin,sumber getah nanas.
4. Enzim Lipoksigenase,sumber kacang kedelai.
5. Enzim papain,sumber Getah pepaya
2.2 Pengukuran Aktifitas Enzim Secara Kuantitatif
Enzim Dapat Diuji Secara Kuantitatif. Jumlah enzim di dalam larutan atau ekstrak
jaringan tertentu dapat diuji secara kuantitatif dalam hal pengaruh katalitik yang
dihasilkannya. Untuk tujuan ini, kita perlu mengetahui beberapa hal berikut :
1) persamaan keseluruhan reaksi yang dikatalisa
2) suatu prosedur analitik untuk menentukan menghilangnya substrat atau, munculnya
produk reaksi
3) apakah enzim memerlukan kofaktor seperti ion logam atau koenzim
4) ketergantungan aktivitas enzim kepada konsentrasi substrat, yaitu KM bagi substrat
5) pH optimum, dan
6) daerah suhu yang membiarkan enzim dalam keadaan stabil dan memiliki aktivitas
tinggi.
Biasanya, enzim diuji pada pH optimum, pada suhu yang mudah dipergunakan,
biasanya dalam kisaran 25 sampai 38C, dan dengan konsentrasi substrat yang
mendekati jenuh. Pada keadaan ini, kecepatan reaksi awal biasanya sebanding dengan
konsentrasi enzim, sedikitnya pada kisaran konsentrasi enzim tertentu.
Dengan persetujuan internasional, 1,0 unit aktivitas enzim didefinisikan sebagai
jumlah yang menyebabkan pengubahan 1,0 mikromol substrat per menit pada 250C
pada keadaan pengukuran optimal. Aktivitas spesifik adalah Jumlah unit enzim
permiligram protein. Aktivitas spesifik merupakan suatu ukuran kemurnian enzim,
nilainya meningkat selama pemurnian suatu enzim dan menjadi maksimum dan tetap
(konstan) jika enzim sudah berada pada keadaan murni.
Bilangan putaran suatu enzim adalah Jumlah molekul substrat yang terubah per
satuan waktu oleh satu molekul enzim (atau oleh satu sisi katalitik), jika konsentrasi
enzim sendiri merupakan faktor pembatas kecepatan reaksi, Enzim anhidrase karbonat

adalah enzim penting yang ditemukan pada konsentrasi tinggi di dalam sel darah
merah. Enzim ini merupakan salah satu enzim yang paling aktif, dengan bilangan
putaran 36.000.000 per menit per molekul enzim. Anhidrase karbonat mengkatalisa
hidrasi dapat balik karbon dioksida terlarut, untuk membentuk asam karbonat yang
tanpa adanya enzim berjalan dengan kecepatan lambat CO2 + H2O =) H2CO3.
Hidrasi CO2 di dalam sel darah merah merupakan tahap penting di dalam
transport CO2 dari jaringan tempat molekul ini terbentuk, menuju paru-paru, tempat
pembebasan dan pengeluarannya.
7) Enzim memperlihatkan spesifitas terhadap substrat
Beberapa enzim memiliki spesifisitas yang hampir absolut bagi substrat
tertentu, dan tidak akan bekerja bahkan, terhadap molekul yang amat serupa, Contoh
yang baik adalah enzim aspartase, yang ditemukan di dalam banyak tumbuhan dan
bakteri. Aspartase mengkatalisa penambahan amonia kepada ikatan ganda asam
fumarat membentuk L-aspartat secara dapat balik (Gambar 6). Akan tetapi, aspartase
tidak menyebabkan terjadinya penambahan amonia terhadap asam tidak jenuh
lainnya.
Pada kelompok ekstrim lain, dijumpai enzim-enzim dengan spesifisitas yang
relatif luas, dan bekerja pada berbagai senyawa yang memiliki ciri struktural yang sama.
Sebagai contoh, khimotripsin mengkatalisa hidrolisis berbagai peptida atau polipeptida,
tetapi hanya memotong ikatan peptida dengan gugus karbonil yang berasal dari
fenilalanin, tirosin, atau triptofan. Contoh yang agak berbeda adalah fosfatase usus
yang mengkatalisa hidrolisis berbagai ester asam fosfat yang berbeda, tetapi pada
kecepatan yang agak bervariasi. Penelitian mengenai spesifisitas substrat enzim telah
membawa kita kepada konsep hubungan "gembok dan kunci" yang saling
berpasangan, di antara molekul substrat dan suatu daerah spesifik pada permukaan
molekul enzim, yaitu pada sisi aktif atau ssii kataliknya, tempat enzim berikatan dengan
substrat
pada
saat
terjadi
reaksi
katalitik.
Penelitian terhadap spesifisitas enzim menunjukkan bahwa molekul substrat harus
memiliki dua ciri struktural yang jelas: (1) ikatan kimiawi spesifik yang dapat diserang
oleh enzim dan (2) biasanya beberapa gugus fungsional lainnya, yaitu gugus pengikat,
yang berikatan dengan enzim dan mengarahkan molekul substrat dengan tepat pada
sisi aktif sehingga ikatan yang rapuh tapi tepat terletak pada posisi yang berhubungan
dengan gugus katalitik enzim. Spesifisitas substrat bagi khimotripsin, yang biasanya
mengnidrolisa ikatan peptida tersebut pada protein dan peptida sederhana, dengan
gugus karbonil yang berasal dari asarn amino yang memiliki cincin aromatik, yaitu
residu tirosin, triptofan, dan fenilalanin. Akan tetapi, uji terhadap lusinan kemungkinan
molekul substrat sintetik yang berbeda-beda telah memperlihatkan bahwa khimotripsin
dapat juga menguraikan amida sederhana selain ikatan ester. Tambahan pula, gugus
aromatik R dari tirosin, triptofan, dan fenilalanin yang bersifat spesifik bagi khimotripsin
yang menguraikan polipeptida ini, nampaknya berperan hanya sebagai gugus
hidrofobik pengikat. Bukti untuk hal ini adalah bahwa khimotripsin juga akan menerima
substrat peptida sintetik, dengan gugus hidrofobik alkil yang relatif besar yang
menggantikan cincin arornatik asam amino alamiah. Penelitian spesifisitas substrat
fersebut, bersama-sama dengan penelitian penghambatan enzim, menyebabkan kita
dapat memetakan sisi aktif enzim.

Aktivitas enzim dinyatakan dalam unit/ml, yang merupakan mol (PO4-3 ) yang
dilepas per menit per mililiter enzim.Aktivitas enzim ditentukan dengan rumus :
AE = MG x 1000
BM x MI
Keterangan:

AE = Aktivitas enzim (U/ml ekstrak kasar enzim)


MG = mg fosfat
BM = Berat molekul kalium fosfat
MI = Waktu inkubasi enzim substrat
Satuan Untuk Menyatakan Aktivitas Enzim
Apabila enzim diukur menurut aktivitas katalitiknya, hasil dari penentuan seperti ini
dinyatakan sebagai konsentrasi jumlah unit aktivitas yang terdapat dalam volume atau
massa spesimen tertentu.
Unit aktivitas adalah ukuran laju dimana reaksi berlangsung. Dalam enzimologi
klinis, aktivitas enzim pada umumnya dilaporkan dalam satuan volume, seperti aktivitas
per 100 mL atau per liter serum atau per 1,0 mL eritrosit. Karena laju reaksi tergantung
pada parameter-parameter seperti pH, tipe buffer, suhu, sifat zat, kekuatan ionik,
konsentrasi aktivator, dan variabel lain, maka parameter-parameter ini harus ditentukan
dalam
definisi
satuan.
Untuk membakukan bagaimana aktivitas enzim dinyatakan, EC dari IUB
mengusulkan bahwa unit aktivitas enzim didefinisikan sebagai kuantitas enzim yang
mengkatalisis reaksi 1 mol substrat per menit dan unit ini disebut sebagai satuan
internasional (U). Konsentrasi katalik dinyatakan sebagai U/L atau U/K. Optimasi,
standarisasi,
dan
penjaminan
kualitas.
Untuk mengukur aktivitas enzim secara meyakinkan, semua faktor yang
mempengaruhi laju reaksi kecuali konsentrasi enzim aktif harus dioptimasi dan
dikontrol.
2.3 Faktor Yang Mempengaruhui Aktifitas Enzim
Enzim tertentu dapat bekerja secara optimal pada kondisi tertentu pula. Beberapa
faktor yang mempengaruhi kerjaenzim adalah sebagai berikut :
1).Suhu
Sebagian besar enzim mempunyai suhu optimum yang sama dengan suhu normal sel
organisme tersebut. Suhu optimum enzim pada hewan poikilotermik di daerah dingin
biasanya lebih rendah daripada enzim pada hewan homeotermik. Contohnya, suhu
optimum enzim pada manusia adalah 37 derajat celcius, sedangkan pada katak adalah
25
Derajat
Celcius.
Kenaikan suhu di
penurunan aktivitas
reaksi menjadi dua
pada enzim. Panas
sehingga kecepatan
molekuler

atas suhu optimum dapat mengakibatkan peningkatan atau


enzim. Secara umum, tiap kenaikan suhu 10 derajat C, kecepatan
kali lipat dalam batas suhu yang wajar. Hal tersebut juga berlaku
yang ditimbulkan akibat kenaikan suhu dapat mempercepat reaksi
molekul meningkat. Hasilnya adalah frekuensi dan daya tumbukan
juga
meningkat.

Akibat kenaikan suhu dalam batas tidak wajar, terjadi perubahan struktur enzim
(denaturasi). Enzim yang terdenaturasi akan kehilangan kemampuan katalisnya.

Sebagian besar enzim mengalami denaturasi yang tidak dapat balik pada suhu 55-65
Derajat C. Enzim yang secara fisik telah rusak biasanya tidak dapat diperbaiki lagi. Hal
tersebut merupakan salah satu alasan bahwa enzim lebih aman dimakan pada
makanan yang sudah dimasak.Khususnya daging dan telur dari pada makanan
mentah.
.
Pengontrolan panas terhadap susu dan makanan dengan bahan susu lainya
secara dramatis mengurangi penyebaran penyakit seperti TBC. Pada suhu kurang dari
suhu optimum, aktivitas enzim mengalami penurunan. Enzim masih beraktivitas pada
suhu kurang dari 0 derajat C dan aktivitasnya hampir terhenti pada suhu 196 derajat C.
2). pH atau keasaman
Seluruh enzim peka terhadap perubahan derajat keasaman (pH). Enzim menjadi
nonaktif bila diperlakukan pada asam basa yang sangat kuat. Sebagian besar enzim
dapat bekerja paling efektif pada kisaran pH lingkungan yang agak sempit. Diluar pH
optimum tersebut, kenaikan atau penurunan pH menyebabkan penurunan aktivitas
enzim dengan cepat. Misalnya, enzim pencerna dilambung mempunyai pH optimum 2
sehingga hanya dapat bekerja pada kondisi sangat asam. Sebaliknya, enzim pencerna
protein yang dihasilkan pankreas mempunyai pH Optimum 8,5 . Kebanyakan enzim
intrasel mempunyai pH optimum sekitar 7,0 (netral).
Pengaruh pH terhadap kerja enzim dapat terdeteksi karena enzim terdiri atas
protein. Jumlah muatan positif dan negative yang terkandung didalam molekul protein
serta bentuk permukaan protein sebagian ditentukan oleh pH.
3). Kosentrasi enzim, substrat dan kofaktor.
Jika pH dan suhu suatu sistem enzim dalam keadaan konstan serta jumlah substrat
berlebihan, laju reaksi adalah sebanding dengan enzim yang ada. Jika pH, suhu, dan
konsentrasi enzim dalam keadaan konstan, reaksi awal hingga batas tertentu
sebanding dengan substrat yang ada. Jika sistem enzim memerlukan suatu koenzim
atau ion kofaktor , konsentrasi subsrat dapat menentukan laju keseluruhan sistem
enzim.
4). Inhibitor enzim
Enzim dapat dihambat sementara atau tetap oleh inhibitor berupa zat kimia tertentu.
Zat kimia tersebut merupakan senyawa selain substrat yang biasa terikat pada sisi aktif
enzim (substrat normal) sehingga antara substrat dan inhibitor terjadi persaingan
untuk mendapatkan sisi aktif . Persaingan tersebut terjadi karena inhibitor biasanya
mempunyai kemiripan kimiawi dengan substrat normal. Pada konsentrasi Substrat
yang rendah akan terlihat dampak inhibitor terhadap laju reaksi, kondisi tersebut
berbalik bila konsentrasi substrat naik.
2.4 Cara Ikatan Enzim Dengan Substrat
Untuk menjamin pengikatan substrat yang secara geometris tepat dan orientasi dari
gugusan katalitik yang diperlukan untuk aksi enzim, maka paling sedikit diperlukan tiga
titik dari interaksi spesifik antara substrat dan tempat aktif.
Pada tahun 1980-an, Fischer mengajukan model kunci dan gembok, teori ini
menjelaskan bahwa kerja enzim seperti kunci dan anak kunci, melalui hidrolisis
senyawa gula dengan enzim invertase. Terjadinya reaksi antara substrat dengan enzim
adalah karena adanya kesesuaian bentuk ruang antara substrat dengan sisi aktif
(active site) dari enzim. Dengan begitu sisi aktif enzim cenderung kaku. Substrat

berperan sebagai kunci (key) dan sisii aktif (lock) berperan sebagai gembok. Subtrat
masuk ke dalam sisi aktif sehingga terjadi kompleks enzim-substrat. Hubungan antara
enzim dan substrat membentuk ikatan yang lemah. Pada saat ikatan kompleks enzimsubstrat terputus, produk hasil reaksi akan dilepas dan enzim akan kembali pada
konfigurasi semula.
Gambar. Model Kunci dan Gembok
Selama bertahun-tahun model ini terbukti berharga dalam penelitian mengenai spesifisitas stereo
dari reaksi enzymatic. Suatu modifikasi dari model kunci dan gembok, yang diajukan oleh Daniel
Koshland menggambarkan suatu jenis hubungan tangan dengan sarung tangan antara enzim dan
substratnya, sebagai akibat suatu kecocokan yang ditimbulkan. Model yang diajukan oleh Koshland ini
diber nama model Kecocokan yang Terinduksi,Teori ini memandang bahwa sisi aktif enzim berbentuk
fleksibel. Bentuk tersebut kemudian mengalami modifikasi saat substrat memasukinya. Lalu, subsrat
membentuk kompleks untuk memulai reaksi kimia yang lebih cepat. Setelah proses tersebut
menghasilkan produk yang diinginkan, enzim tersebut melepaskan diri dan kembali ke bentuk semula.

Gambar. Model Kecocokan Terinduksi


Berikut ini merupakan mekanisme pengikatan enzim dengan substratnya :

Menurunkan energi aktivasi dengan menciptakan suatu lingkungan yang


mana keadaan transisi terstabilisasi (contohnya mengubah bentuk substrat
menjadi konformasi keadaan transisi ketika ia terikat dengan enzim).

Menurunkan energi keadaan transisi tanpa mengubah bentuk substrat dengan


menciptakan lingkungan yang memiliki distribusi muatan yang berlawanan
dengan keadaan transisi.

Menyediakan lintasan reaksi alternatif. Contohnya bereaksi dengan substrat


sementara waktu untuk membentuk kompleks Enzim-Substrat antara.

Menurunkan perubahan entropi reaksi dengan menggiring substrat bersama


pada orientasi yang tepat untuk bereaksi. Menariknya, efek entropi ini
melibatkan destabilisasi keadaan dasar, dan kontribusinya terhadap katalis
relatif kecil.

2.5 Peranan Enzim Dalam Klinik


* Enzim plasma fungsional :
Ex : lipoprotein lipase, pseudokolin esterase pro Enzim pembekuan dan pemecahan darah
Umumnya disintesis dalam hati; konsentrasi darah, sama atau sudah lebih tinggi dari jaringan
* Enzim plasma non fungsional :
tidak melakukan fungsi fisioliogik yang dikenal
- substratnya sering tidak terdapat dalam plasma
- kadarnya jauh lebih rendah dari jaringan sehingga dapat membantu diagnostik dan prognostik klinik
yang berharga
- berasal dari destruksi eritrosit, leukosit dan sel-sel lain
Penentuan aktivitas Enzim untuk bukti diagnostik :
1. Lipase : penyakit hati, def. Vit. A, DMkadar rendah
kadar tinggi karsinoma pankreas dan pankreatitis akut

2. Amilase : penyakit katirendah


tinggi obstruksi usus tinggi, parotitis, diabetes, pankreatitis akut
3. Tripsin :tinggi penyakit pankreatitis akut (lebih sensitif)
4. Kolin esterase : rendah penyakit hati, malnutrisi, infeksi akut, anemia
tinggi sindroma nefritik
5. Alkalin fosfatase :tinggi rakhitis, hiper paratiroidism, sarkoma osteoblastik, ikterus
obstruksi,karsinoma metastatik
6. Fosfatase asam :tinggi karsinoma metastatik prostat
7. Trans aminase : GOT ( Glutamic oxaloacetate trans aminase )
GPT ( Glutamic piruvic trans aminase )
infark miokardPerkiraan GOT GPT & penyakit hati akutGOT tinggi
8. Laktat dehidrogenase (LDH) :tinggi infark miokard (dalam 24 jam)leukimiarendah
9. Isosim LDH :Pengukuran polo isosim
10. Isositrat dehidrogenase (ICD) :Untuk diagnosis penyakit hati
11. Kreatin fosfokinase :Untuk diagnosis gangguan otot rangka dan jantung
12. Seruloplasmin :tinggi sirosis, hepatitis, kehamilan rendah penyakit wilson

2.6 Biosintesa Heme


Heme adalah kompleks senyawa protoporfirin IX dengan logam besi yang
merupakan gugus prostetik berbagai protein seperti hemoglobin, mioglobin, katalase,
peroksidase, sitokrom c dan triptophan pirolase. Kemampuan hemoglobin dan
mioglobin mengikat oksigen tergantung pada gugus prostetik ini yang sekaligus
memberi warna khas pada kedua hemeprotein tersebut.
Heme terdiri atas bagian organik dan suatu atom besi. Bagian organik
protoporfirin tersusun dari empat cincin pirol. Keempat nya terikat satu sama lain
melalui jembatan metenil, membentuk cincin tetrapirol. Empat rantai samping metil, dua
rantai samping vinil dan dua rantai samping propionil terikat kecincin tetrapirol
tersebut .
Tahap-tahap Biosintesis Heme

Biosintesa cincin heme berlangsung dalam mitokondria dan sitosol melalui


beberapa tahapan enzymatic. Langkah awal biosintesa porfirin pada mamalia ialah
kondensasi suksinil ko-A yang berasal dari siklus asam sitrat dalam mitokondria dengan
asam amino glisin membentuk asam amino ketoadipat, dikatalisis oleh amino
levulenat sintase dan memerlukan piridoksal phosfat untuk mengaktifkan glisin. Asam
diatas segera mengalami dekarboksilasi membentuk amino levulenat atau sering
disingkat ALA. Enzym ALA sintase merupakan enzym pengendali kecepatan reaksi .
Didalam sitosol 2 molekul ALA berkondensasi dan mengalami reaksi dehidrasi
membentuk porfobilinogen/PBG yang dikatalisis oleh ALA dehidratase.
4 molekul PBG berkondensasi membentuk hidroksi metil bilana, suatu tetrapirol
linier oleh enzym uroporfirinogen I sintase atau disebut juga PBG deaminase kemudian
terjadi reaksi siklisasi spontan membentuk uroporfirinogen, suatu tetrapirol siklik. Pada
keadaan normal uroporfirinogen I sintase adalah kompleks enzym dengan
uroporfirinogen III kosintase sehingga kerja kedua kompleks enzym tersebut akan
membentuk uroporfirinogen III, yang mempunyai susunan rantai samping asimetris. Bila
kompleks enzym abnormal atau hanya terdapat enzym sintase saja, di bentuk
uroporfirinogen I yaitu suatu bentuk isomer simetris yang tidak fisiologis.

Rangka porfirin sekarang telah terbentuk, uroporfirinogen I atau III mengalami


dekarboksilasi membentuk koproporfirinogen I atau III dengan melepas 4 molekul
CO2 hingga rantai samping asetat pada uroporfinogen menjadi metil, reaksi ini
dikatalisis oleh uroporfirinogen dekarboksilase. Hanya koproporfirinogen III yang dapat
kembali masuk kemitokondria, mengalami dekarboksilasi dan oksidasi membentuk
protoporfirinogen III oleh enzym koproporfirinogen oksidase, dimana dua rantai samping
propionat koproporfirinogen menjadi vinil.
Protoporfirinogen III dioksidasi menjadi protoporfirin III oleh protoporfirinogen
oksidase yang memerlukan oksigen. Protoporfirin III diidentifikasi sebagai isomer
porfirin seri IX dan disebut juga dengan protoporfirin IX. Porfirin tipe I dan III dibedakan
berdasar simetris tidaknya gugus substituen seperti asetat, propionat dan metil pada
cincin pirol ke IV.
Penggabungan besi (Fe 2+) ke protoporfirin IX yang dikatalisa oleh Heme sintase atau
Ferro katalase dalam mitokondria akan membentuk heme.

Pengaturan Sintesis Heme


Enzim regulator adalah ALA-sintase.
Heme bertindak sebagai regulator negatif (umpan balik negatif) sintesis enzim ALAsintase.
Jika heme meningkat, maka sintesis ALA-sintase akan menurun.
Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Sintesis Heme.
1.

Metabolisme obat-an di sitokrom P-450 akan banyak menghabiskan heme


intrasel, akibatnya sintesis heme akan meningkat.

2.

Glukosa & hematin dapat mencegah sintesis ALA-sintase.

2.7 Katabolisme Hemoglobin


Haemoglobin adalah suatu protein yang membawa oksigen dan yang memberi
warna merah pada sel darah merah (Barger, 1982:171). Dengan kata lain haemoglobin
merupakan komponen yang terpenting dalam eritrosit.
Haemoglobin juga merupakan protein yang kaya zat besi yang memiliki afinitas
(daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxsihaemoglobin
di dalam sel darah merah. Jumlah haemoglobin dalam darah normal ialah 15 gram
setiap 100 ml darah, dan jumlah itu biasanya disebut 100 persen.
Menurut Costill (1998:48), haemoglobin adalah zat yang terdapat dalam butir darah
merah. Haemoglobin sebenarnya adalah merupakan protein globuler yang di bentuk
dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung heme.
Hame ini di buat dalam mitokokondria dan menambah acetid acid manjadi alpha
ketoglutaricacid + glicine membentuk pyrrole compound menjadi protopophyrine II
yang dengan Fe berubah menjadi hame. Selanjutnya 4 hame bersenyawa dengan
globulin membentuk haemoglobin. Menurut Poppy Kumaila dalam Kamus Saku
Kedokteran Dorland (1996 :499) Haemoglobin adalah pigmen pembawa oksigen
eritrosit, dibentuk oleh eritrosit yang berkembang dalam sumsum tulang, merupakan
empat rantai polipeptida globin yang berbeda, masing-masing terdiri dari beberapa

ratus asam amino. Haemoglobin memerankan peranan penting dalam pengangkutan


oksigen selama ia dapat kembali mengikat oksigen. Haemoglobin cenderung mengikat
oksigen apabila lingkungannya penuh dengan oksigen dan melepaskan oksigen dalam
lingkungan yang relatif rendah oksigennya. Ini berarti haemoglobin mengambil oksigen
dalam paru dan melepaskan ke jaringan-jaringan seperti otot aktif. Pada orang-orang
yang mengandung haemoglobin normal, kapasits darahnya membawa oksigen kira-kira
20 mL oksigen per 100 mL darah. Hampir alam semua keadaan, darah mengandung
banyak
sekali
oksigen
ketika
bergerak
melalui
paru.
Ketika darah arteri mencapai kapiler dalam jaringan yang menyerap oksigen darah
menemui lingkungan yang relatif rendah konsentrasi oksigen. Dalam kedaan seperti
itu , sebagian oksigen dilepaskan dari haemoglobin darah dan bercampur dalam sel
jaringan,dimana oksigen dapat digunakan dalam metabolisme aerobik. Sebagai oksigen
darah yang telepas ke jaringan tersebut ditentukakan oleh konsentrasi oksigen jaringan
tersebut. Pada jaringan yang lambat menyerap oksigen, oksigen yang dilepaskan dari
sel darah merah relatif kecil, namun pada jaringan yang cepat menyerap oksigen
bagian-bagian oksigen terkurangi lebih besar. Jadi, pelepasan oksigen oleh sel-sel
darah merah ke jarangan meningkat sesuai dengan tingkat penggunaan oksigen oleh
jaringan tersebut.
Haemoglobin dibawa oleh sel darah merah (eritrosit) sirkulasi. Sirkulasi ini berputar
selama kurang lebih 10 hari yang mengandung kira-kira 3 x 10 sel darah merah.
Estimasi kasar kadar haemoglobin darah dapat diperoleh dari jumlah hematokrit atau
dari jumlah darah dengan rekonsumsi tiap sel darah merah yang mempunyai
haemoglobin normal (Astrand,1986:131-132).
Sintesis haemoglobin terjadi didalam organ haemopetik (sumsum tulang) mula-mula
suksinat dan glisin bergabung didalam organ haemopetik membentuk asam amino
ketaodipat dan asam amino levulinat. Kedua asam tersebut dihasilkan dibawah
pengaruh ALA (amino laevulinic acid ) sintesis yang merupakan enzim pengatur
kecepatan bagi keseluruhan sintesis haemoglobin. Dua molekul ALA berkondensasi
menjadi satu molekul porfobilinogen, monopirol pengganti dan empat molekul
porfobilinogen berkondensasi (menggunakan uroporfirinogen I sintase dan
uroporfirinogen III ko-sintese) untuk membentuk komponen isomer terapirol (pofirin)
siklik,
uroporfirinogen
seri
I
dan
III.
Uroporfirinogen I merupakan prekursor porfirin lain, tetapi tak berperanan lebih lanjut
dalam sintesis heme. Uroproporfirinogen III merupakan prekursor seri porfirin III dan
dikonversi menjadi koproporfirinogen IX yang mengehelasi besi (II) (ion ferro) untuk
membentuk hame. Hame menghambat ALA sintase dan membentuk kontrol umpan
balik atas sintesa profirin serta hemoglobin.
Tiap molekul hame bergabung dengan satu molekul globin dan semua molekul
haemoglobin mengandung 4 pasang hame + globulin dengan berat molekul total
68.000. Beberapa jenis polipeptida globin bisa mengambil bagian di dalam molekul
haemoglobin,
haemoglobin
dewasa
normal,
HbA,
mempunyai
dua
rantai a globin dan dua rantai b globin. Eritrosit juga mengandung sejumlah kecil
protopofirin bebas (Baron, 1990:140). Katabolisme haemoglobin terjadi didalam sistem
retikulo endothelial, eritrosit dirusak dan dilepaskan haemoglobin. Beberapa hame

dilepaskan ke dalam sumsum tulang selama maturasi eritoblas atau dari sel-sel yang
mati pada seritropoesis yang tidak efektif.
Globin terpisah dari hame dan terbentuk hemeatin, dalam besi hame dioksidasi
menajadi besi III (feri). Kemudian cincin poriferin terbuka dan besi dilepaskan, disertai
pembentukan komponen biliverdin berantai lurus. Ia dikonversi ke bilirubin dengan
reduksi. Jalur minor mula-mula membuka cincin untuk membentuk koleglobin dan
kemudian melapaskan besi dan globin untuk menghasilkan biliverdin globin dan
kemudian biliverdin. Besi dan asam-asam amino globin ditahan, kemudian cincin priol
diekskresikan sebagai bilirubin. Laki-laki dewasa normal mengandung sekitar 800 gram
haemoglobin (nilai rujukan di dalam darah: 13-18 g/dl), yang sekitas 7 g dihasilkan dan
dirusak tiap hari. Pada wanita, haemoglobin tubuh total sekitar 600 g (nilai rujukan
didalam darah: 11,5-16,5 g/dl) (Dikutip dari V.O.Wiharmoko P, 2004: 15).
2.8 Gangguan Metabolisme Porfirin Dan Heme
porfiria adalah penyakit genetik metabolisme heme
Porfiria adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas jalur
biosentesis heme; penyakit ini dapat bersifat genetic atau didapat. Meskipun tidak
prevalen, penyakit ini penting diingat dalam keadaan tertentu. (mis. Sebagai diagnosis
banding nyeri abdomen dan pada berbagai kelainan neuropsikiatrik); jika tidak, pasien
akan mendapat pengobatan yang tidak tepat.
Fotosensitivitas (lebih senang beraktivitas dimalam hari) dan bentuk tubuh yang
aneh (disfigurement) yang diidap oleh sebagian penderita porfiria eritropoietik
congenital menimbulkan anggapan bahwa para pasien ini mungkin merupakan suatu
prototype werewolf (manusia srigala). Belum ada bukti yang menguatkan anggapan
ini. Biokomia Mendasari Kausa, Diagnosis, & Pengobatan Porfiria
Dilaporkan ada enam tipe porfiria yang terjadi akibat berkurangnya aktivitas enzimenzim 3 sampai 8. Jadi, pemeriksaan aktivitas satu enzim atau lebih dengan
menggunakan sumber yang tepat (mis. Sel darah merah) penting dalam menegakkan
diagnosis pasti pada kasus yang dicurigai porfiria. Individu dengan penurunan aktivitas
enzim 1 ( ALAS2) mengalami anemia dan bukan porfiria ( Lihatt table 31-2) pasien
dengan aktiviitas enzim 2 ( ALA2 HIDRATASE ) yang rendah pernah dilakukan tetapi
sangat jarang, kelainan yang timbul disebut porfiria deisien-ALA dehidratase.
Secara umum, porfiria diwariskan melalui autosom dominan dengan pengecualian
porfiria eritropoetik congenital yang diwariskan secara resesif sebagian porfiria dapat
didiagnosi sebelum kehamilan dengan menggunakan pelacak gen yang sesuai, seperti
kebanyakan kelainan bawaan lain gejala dan tanda porfiria timbul akinat adanya
defisiensi produk metabolic setelah blob enzimatik akibat penimbunan metabolic
sebelum blog enzimatik. Jika kelainan enzim terjadi pada awal jalur reaksi sebelum
terjadinya porfirinogen ALA dan PBG akan menumpuk di jaringan dan cairan tubuh
secara klinis pasien mengeluh nyeri abdomen dan gejala neuropsikiatrik, dipihak lain
blogenzim yang terjadi belakangan dalam jalur reaksi tersebut menyebabkan
penimbunan berbagai porfirinogen. Produk-produk oksidasi yaitu turunan porfirin
padanannya menyebabakan fotosensitifitas yakni suatu reaksi terhadap sinar tamapk
terpancar gelombang sekitar 400nm porfirin jika terpajang dengan sinar berpanjang
gelombang ini, diduga akan tereksitasi dan kemudian bereaksi dengan molekul oksigen
untuk membentuk radikal oksigen. Radikal oksigen ini merusak lisosom dan organ lain.

Lisosom yang rusak akan membebaskan enzim-enzim degradatif dan menyebabkan


kerusakan kulit dalam derajat yang berfariasi termasuk pembentukan jaringan parut.
Porfiria dapat diklasifiikasikan berdasarkan organ atau sel yang paling terkena
dampaknya.organ atau sel ini biasanya adalah organ atau sel yang menyintesis heme
dengan sangat aktif.sumsum tulang membentuk cukup banyak hemoglobin,dan hepar
juga aktif dalam menyintesis hemoprotein lain,sitokrom P450.oleh karena itu,salah satu
klasifikasi porfiria nenbagi penyakit ini menjadi eritropoietik atau hepatic.
ALASI adalah enzim regulatorik kunci jalur biosintesis heme di hati.sejumlah besar
obat(mis.barbiturat,griseofulvin)memici enzim.sebagian besar obat ini melakukannya
dengan menginduksi sitokrom P450 yang menggunakan heme sehingga menderepresi
(menginduksi) ALASI.pada pasien porfiria,peningkatan aktifitas ALASI menyebabkan
peningkatan kadar berbagai precursor heme (sebelum hambatan/blok sintesis) yang
berpotensi merugikan. Jadi,konsumsi obat yang dapat memicu sitokrom P450 (yang di
sebut sebagai penginduksi mikrosom) dapat memici serangan porfiria.
Diagnosis tipe tertentu porfiria umumnya dapat di tegakkan berdasarkan gambaran
klinis dan riwayat keluarga,pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan laboratorium yang
sesuai. Timbal berkadar tinggi dapat memengaruhi metabolism heme dengan berikatan
pada gugus SH enzim misalnya ferokelatase dan ALA dehidratase. Hal ini
memengaruhi metabolism porfirin. Kadar protoporfirin meningkat di sel darah
merah,dan kadar ALA dan koproporfirin di urine meningkat.

Daftar Pustaka

Schumm, DE. 1992. Essentials of biochemistry, penerjemah. Intisari Biokimia. Jakarta:


Bina Aksara.
Armstrong. Frank B. 1995. Buku Ajar Biokimia. Penerjemah. RF.Maulany,Msc. Ed 3.
Jakarta : EGC.
Robert K.Murray. 2003. Biokimia. Jakarta : EGC
http://klinikdokterhairrudin.blogspot.com/2008/10/kinetika-enzim.html

http://hotimah.com/bagaimana-cara-enzim-bekerja.html

http://www.anneahira.com/cara-kerja-enzim.htm

http://orybun.blogspot.com/2008/12/enzim.html

http://forum.um.ac.id/index.php?topic=25285.0

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook


Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

0 komentar:
Poskan Komentar

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

SOCIAL PROFILES

Popular
Tags
Blog Archives

DILEMA ETIK KEPERAWATAN


DILEMA ETIK KEPERAWATAN A. Pengertian
melibatkan dua atau lebih landasan moral su...

Dilema etik adalah suatu masalah yang

Komunikasi Efektif
1. Pengertian Komunikasi Menurut Hovland dalam Effendy (2005:10) komunikasi adalah proses
mengubah perilaku orang lain. Seseorang dapat m...

Gangguan Citra Tubuh


11 Pengertian
. Perubahan Perubahan merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau
perpindahan dari status tetap (s...

NILAI DAN NORMA DALAM KEPERAWATAN DAN HAK-HAK PASIEN


Nilai secara singkat diartikan sebagai sesuatu yang baik, sesuatu yang kita iyakan. Nilai merupakan hakhak manusia dan pertimbangan etis y...

INJEKSI SUB KUTAN DAN INJEKSI INTRA KUTAN


INJEKSI SUB KUTAN DAN INJEKSI INTRA KUTAN A.
pemberian obat melalui suntikan ke area ba...

INJEKSI SUB KUTAN Injeksi sub kutan adalah

PEMERIKSAAN FUNGSI PENDENGARAN (Weber dan Rinne)


Alat yang digunakan : Garpu tala : alat berujung dua yang terbuat dari baja untuk memeriksa
ketajaman pendengaran dan ind...

TOTAL TAYANGAN LAMAN

122214
SENYUM , SALAM, SAPA, SOPAN ,SANTUN

NURSE IS CARING

LOVE NURSE

BEM FKEP UNAND

ABOUT
Presented by Departement PENPROFIL (Pendidikan,Profesi dan Ilmiah) BEM KM FKEP UNAND
Copyright 2016 BKUL PENPROFIL | Powered by Blogger
Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Free Blogger Themes
NewBloggerThemes.com