Anda di halaman 1dari 12

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

PENGARUH EKSTRAK ETANOL RAMBUT JAGUNG (Zea Mays L.) TERHADAP


KADAR ASAM URATDARAH MENCIT PUTIH JANTAN HIPERURISEMIA
Lovira Hamzah1, Helmi Arifin1, Asram Ahmad1
1

Fakultas Farmasi Universitas Andalas, Kampus Unand Limau Manis Padang


ABSTRACT

Corn silk is one of the herbs that have been used in gout. In previous research has shown that
the ethanol extract of corn silk contains flavonoids can inhibit xanthin oxidase enzyme. The
study was conducted to determine the effect of ethanol extract of corn silk on blood uric acid
levels decline in male white mice hyprurisemic. Mice were divided into six groups, namely
the negative control group, positive control group, the group dose 125 mg kg BW, the dose
group of 250 mg/ kgBW, the dose group of 500 mg/kg BW and a comparison group was
allopurinol 10 mg/kg BW. Inducing performed using fresh chicken liver homogenates 125
mg/20 g BW. Measurement of uric acid levels is done using digital tools Nesco Multicheck.
The data obtained were analyzed with analysis of test variants (ANOVA) followed by a twoway test of Duncan. The results showed that the ethanol extract of corn silk (Zea Mays L.)
with dose of 125 mg/kg BW, 250 mg/kg BW and 500 mg/kg BW can lower blood uric acid
levels in male white mice were significantly (P<0.05). Optimal effect is shown by a dose of
125 mg/kgBW with a percentage decrease of 69.78 % 0.30 %.
Kata kunci: Corn Silk, Hyperurisemia, Uric Acid
PENDAHULUAN
Hiperurisemia adalah
keadaan
dimana terjadi peningkatan kadar asam urat
darah di atas normal. Asam urat merupakan
hasil akhir metabolisme purin dalam tubuh.
Dalam keadaan normal terjadi keseimbangan
antara
pembentukan
dan
degradasi
nukleotida purin serta kemampuan ginjal
dalam
mengekskresikan
asam
urat
(Johnstone A, 2005). Hiperurisemia dapat
terjadi akibat meningkatnya produksi atau
menurunnya pembuangan asam urat, atau
kombinasi keduanya. Kondisi menetapnya
hiperurisemia menjadi faktor pendukung
seseorang mengalami radang sendi akibat
asam urat, batu ginjal akibat asam urat
ataupun gangguan ginjal (Pittman dan Bross,
1999).
Penyakit asam urat dikenal sebagai
raja penyakit dan penyakit raja karena
berkaitan dengan gaya hidup berlebihan dan
tidak terkontrol. Penyebaran penyakit gout
(asam urat) tidak hanya berkembang di
negara-negara industri maju seperti negara-

negara barat yang mempunyai standar


kehidupan yang tinggi, namun juga negaranegara berkembang seperti negara-negara
timur (Dipiro et al., 2008). Dalam sebuah
riset epidemiologi yang dilakukan selama
sepuluh
tahun
disimpulkan
terjadi
peningkatan prevalensi penyakit gout dan
hiperusemia. Meskipun prevalensi gout
meningkat pada kedua jenis kelamin, lakilaki memiliki tingkat kejadian lebih tinggi
dari pada wanita. Pada kelompok usia <65
tahun, laki-laki
memiliki prevalensi empat kali lebih tinggi
dari wanita, dan pada kelompok usia > 65
tahun laki-laki memiliki prevalensi tiga kali
lebih tinggi dari wanita (Wallace KL, 2004).
Pada keadaan hiperurisemia, plasma
darah tidak mampu menampung lagi garam
urat sehingga terjadi pengendapan pada
berbagai organ seperti sendi dan ginjal.
Penderita
penyakit
gout
seringkali
menggunakan allopurinol sebagai obat
penurun kadar asam urat dengan mekanisme

282

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

kerja sebagai inhibitor xantin oksidase


karena memiliki struktur mirip xantin yang
merupakan substrat xantin oksidase.
Allopurinol memiliki efek samping seperti
mual, diare, hingga kulit kemerahan disertai
gatal sehingga perlu dicari senyawa bioaktif
tanaman sebagai inhibitor alami xantin
oksidase
untuk
dijadikan
alternatif
pengobatan yang aman untuk dikonsumsi
(Wulandari S; Subandi dan Munthalib 2011).
Indonesia adalah rumah bagi 30.000
dari 40.000 tanaman herbal obat di dunia.
Bukan suatu kebetulan bahwa Indonesia
telah
mengembangkan
salah
satu
perpustakaan paling luas pada keindahan
alam di dunia. Indonesia sebagai negara yang
terletak di kepulauan terbesar di dunia
menawarkan salah satu keanekaragaman
ekologi dunia. Keanekaragaman hayati di
Indonesia berada di peringkat ke-3 setelah
Brasil dan Zaire (Departemen Perdagangan
RI, 2012).
Perkembangan obat tradisional di
Indonesia sudah lama dikenal di masyarakat.
Selain itu, penggunaan obat tradisonal juga
telah di gunakan oleh berbagai negara
berkembang. Obat tradisional memiliki
beberapa kelebihan antara lain, efek
sampingnya relatif rendah, dalam suatu
ramuan dengan komponen berbeda memiliki
efek saling mendukung, pada satu tanaman
memiliki lebih dari satu efek farmakologi
serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit
metabolik dan degeneratif (Katno, et al.
2002).
Menurut
ahli
tanaman
obat
Dr.Setiawan Dalimartha sebagian besar
masyrakat Indonesia sudah memanfaatkan
air rebusan rambut jagung sebagai obat
tradisional penurun kadar asam urat darah.
Penggunaan rambut jagung di Indonesia juga
bermanfaat dalam pengobatan berbagai
penyakit seperti hipertensi, batu ginjal,
radang ginjal, diabetes mellitus, hepatitis,
infeksi saluran kemih, dan batu kandung

empedu (Nursewian, 2012). Selain rambut


jagung, tanaman lain yang digunakan
sebagai mengatasi asam urat secara
tradisional adalah mahkota dewa, seledri,
salam, sidaguri, dan lain-lain (Wijayakusuma
H, 2006).
Ekstak etanol rambut jagung terbukti
positif mengandung flavonoid, alkaloid,
fenol, steroid, glikosida, karbohidrat dan
tannin yang secara tradisional juga
digunakan
sebagai
terapi
diuretik,
pengobatan sistitis, urikosurik , gout, batu
ginjal , nefritis dan prostat (Bhaigyabati et
al., 2011). Herbal rambut jagung pada gout
berkhasiat
sebagai
antiradang,
menghilangkan nyeri, meningkatkan kinerja
ginjal dalam pembuangan asam urat, peluruh
kemih, dan mencegah terjadinya komplikasi
pada ginjal dan organ tubuh lainnya
(Wijayakusuma H, 2011).
Menurut Coss et al. (1998) beberapa
senyawa flavonoid dan alkaloid dapat
menghambat kerja xantin oksidase sehingga
dapat menghambat pembentukan asam urat
dalam tubuh. Salah satu uji invitro
penghambatan enzim xantin oksidase pada
ekstrak air rambut jagung menunjukkan
aktivitas penghambatan enzim xantin
oksidase pada dosis 10 g/ml, 50 g/ml, dan
100 g/ml (Roohbakhsh A, 2009).
Pada penelitian di China dilaporkan
bahwa bahan aktif rambut jagung dapat
menghambat aktivitas xantin oksidase.
Aktivitas penghambatan tertinggi terdapat
pada komponen aktif rambut jagung yang
dimurnikan dengan etanol 50% dengan
aktivitas penghambatan sebesar 60,90%
1,27% (Tong-Wei et al., 2011).
Berdasarkan uraian di atas penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh
rambut jagung terhadap kadar asam urat
mencit putih jantan hiperurisemia untuk
mengetahui penurunannya dibandingkan
dengan obat penurun kadar asam urat
allopurinol

283

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

METODOLOGI PENELITIAN
Alat
Alat yang digunakan adalah beaker glass,
gelas ukur, lumpang dan stamfer, sudip,
corong pisah, timbangan analitik, oven,
timbangan hewan, kandang mencit, pipet
tetes, jarum oral, spatel, tabung reaksi, rak
tabung reaksi, kaca arloji, sonde, gunting
bedah, pinset, pipet tetes, tissu, tabung
reaksi, label, alat digital dan strip asam urat
Nessco Multicheck.
Bahan
Bahan yang digunakan adalah rambut
jagung kering, etanol 70%, mencit putih
jantan sebanyak 30 ekor dengan berat badan
20-30 gram, hati ayam segar,aquadest,
makanan standar mencit.
CARA KERJA
A. Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan berupa
rambut jagung varietas lokal yang didapat di
daerah Kabupaten Padang Pariaman,
Sumatera Barat.
B. Pembuatan Ekstrak Rambut Jagung
Ekstraksi sampel dilakukan dengan
metoda maserasi (perendaman). Rambut
jagung kering yang telah dirajang, ditimbang
sebanyak 650 kg. Kemudian masukkan
kedalam botol berwarna gelap, direndam
dengan etanol 70% selama 5 hari dan
disimpan ditempat gelap sambil sesekali
diaduk. Maserat diaduk setiap hari dan
dilakukan penyaringan. Setelah 5 hari
perendaman, disaring dan ampasnya
direndam
kembali.
Penyaringan
ini
dilakukan sebanyak tiga kali. Filtrat etanol
yang didapat dari hasil ketiga perendaman di
atas didestilasi vakum untuk menguapkan
pelarut kemudian dipekatkan menggunakan
rotari evaporator sampai diperoleh ekstrak
kental, kemudian ditimbang (Departemen
Kesehatan RI, 2000).
C. Karakterisasi Sampel
Pemeriksaan organoleptis
Pemerikasaan organoleptis meliputi:
bentuk, warna, bau, dan rasa.

Penentuan rendemen
Penentuan
rendemen dihitung
dengan rumus :
Rendeman = B/A x 100%
Keterangan: A = berat sampel (gram)
B = berat ekstrak yang
diperoleh (gram)
Penentuan susut pengeringan
Pengeirngan krus porselen dengan
oven dengan suhu 1050C selama 30 menit,
pendinginan krus dilakukan dalam desikator
dan berat awal ditimbang (A). Penimbangan
zat sebanyak 2 gram (B). Zat di dimasukkan
kedalam krus dan dilakukan pemanasan
selama 1 jam pada suhu 105 0C. Pendingan
dilakukan
dalam
desikator,
setelah
pengovenan
dilakukan
penimbangan
kembali, ulangi perlakuan hingga bobot tetap
(Departemen Kesehatan RI, 2008)
Susut Pengeringan
Penentuan kadar abu
Sebanyak 2 gram zat, dimasukkan ke
dalam krus yang telah dipijarkan. Pemijaran
dilakukan hingga arang habis, pendinginan
dilakukan dalam desikator. Jika arang tidak
dapat hilang, dilakukan penambahan air
panas, saring dengan kertas saring pada krus
yang sama. Filtrat dimasukkan ke dalam
krus, uapkan, pijarkan hingga bobot tetap,
timbang. Hitung kadar abu terhadap bahan
yang telah dikeringkan di udara (Departemen
kesehatan RI, 2008).
Uji Flavonoid
Ekstrak ditambahkan beberapa tetes
HCl pekat dan sedikit serbuk magnesium.
Bila terjadi perubahan warna merah, orange
atau
kuning
menunjukkan
sampel
mengandung flavonoid.
Uji Alkaloid
Sampel ditambah dengan 2-3 tetes
pereaksi Dragendorf, bila bereaksi positif
akan menghasilkan endapan jingga, bila

284

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

dtambah dengan pereaksi meyer akan


menghasilkan endapan putih atau keruh.
D. Penyiapan Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan
adalah mencit putih (Mus musculus) jantan
yang berumur 2-3 bulan sebanyak 30 ekor
dengan berat badan 20 30 gram. Sebelum
digunakan hewan diaklimatisasi selama 10
hari dengan diberi makan dan minum yang
cukup. Hewan dinyatakan sehat jika tidak
mengalami perubahan berat badan lebih dari
10 % dan secara visual menunjukan perilaku
normal.
Untuk
mendapatkan
hewan
hiperurisemia mencit diberi homogenat hati
ayam segar 1,25g /20 g BB setiap hari
selama tujuh hari. Hewan uji dikatakan
hiperurisemia jika kadar asam urat darahnya
1,7-3,0 mg/dL (Erawan K,2011).
E. Perencanaan Dosis
- Dosis ekstrak etanol rambut jagung
yang digunakan adalah 125 mg/kg
BB, 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg
BB (Velazquezd et al., 2005)
- Dosis allopurinol yang digunakan
untuk pebanding adalah 10 mg/kgBB
atau 0,2 mg/20 g BB (Hayani dan
Widyaningsih, 2011).
F. Pembuatan Sediaan
Makanan Diet Purin Tinggi (MDPT)
Hati ayam segar 100 mg dicuci,
dipotong kecil-kecil kemudian diblender
dengan penambahan air suling 25 ml,
diblender hingga halus, kemudian saring
homogenat dan dimasukkan dalam wadah
(Murny, 2011). Volume homogenat hati
yang diberikan ke mencit adalah 0,5 ml/20 g
BB (Maulida dan Wahyu 2011).
Allopurinol
Sediaan pembanding Allopurinol
dibuat
dengan
1
mg
allopurinol
disuspensikan menggunakan polisorbat 80;
2% dan cukupkan volume dengan air suling
sampai volume 10 ml, sehingga diperoleh
konsentrasi allopurinol 1 mg/ml.

G. Tahap-Tahap Pengujian.
Uji yang dilakukan terhadap ekstrak
etanol rambut jagung yang memiliki aktivitas
paling tinggi dalam menurunkan kadar asam
urat darah antara lain:
1. Kelompok I sebagai kontrol negatif
dimana mencit diberikan makanan
standar.
2.
Kelompok II sebagai kontrol
positif dimana mencit diberi makanan
standar dan makanan diet purin tinggi
(MDPT).
3.
Kelompok III mencit diberi
makanan standar, MDPT, dan ekstrak
etanol dosis 125 mg/kg BB (1 kali
sehari).
4.
Kelompok IV mencit diberi
makanan standar, MDPT, dan ekstrak
etanol dosis 250 mg/kg BB (1 kali
sehari).
5.
Kelompok V mencit diberi
makanan standar, MDPT, dan ekstrak
etanol dosis 500 mg/kg BB (1 kali
sehari).
6.
Kelompok VI mencit diberi
makanan standar, MDPT, dan
Allopurinol 0,2 mg/20 g BB (1 kali
sehari). Kelompok VI digunakan
sebagai
pembanding
terhadap
kelompok sampel uji (kelompok III,
IV, dan V).
Dilakukan penginduksian dengan
pemberian homogenat hati ayam segar
selama 7 hari. Kemudian diberi ekstrak
selama 21 hari diiringi dengan pemeberian
MDPT selama uji. Pengukuran kadar asam
urat darah dilakukan pada hari ke 0, 7, 14,
dan 21.
Penentuan kadar asam urat darah
Pengukuran dilakukan dengan
alat digital NescoMultiCheck.. Alat
dikalibrasi terlebih dahulu dengan nomor
kode yang disesuaikan dengan tes strip yang
akan digunakan. Tes strip diselipkan pada
tempat khusus pada alat tersebut, kemudian
pada layar aka muncul gambar tetesan
darah yang menandakan alat siap
digunakan.

285

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

Setelah ekor mencit didisinfektan


dengan etanol 70% ujung ekor digunting,
tetesan darah pertama dibuang, tetesan
berikutnya diserapkan pada test strip sampai
terdengar bunyi, setelah itu pendarahan pada
ekor mencit dihentikan. Dalam waktu 6 detik
pada layar akan tertera kadar asam urat
dalam mg/dl. Uji dilakukan pada setiap
mencit pada semua kelompok.

Data dari hasil penelitian ini dianalisa secara


statistik dengan ANOVA dua arah. Analisis
data kemudian dilanjutkan dengan Uji
Wilayah Berganda Duncan (Duncans
multiple range test) dan kebermaknaan
diambil pada tingkat kepercayaan 95%.

HASIL DAN DISKUSI


Penelitian ini menggunakan
sampel rambut jagung yang telah
dikeringkan (Gambar 1). Sampel kering
digunakan agar sampel mudah dibersihkan
dari pengotor juga mudah disimpan kembali.
Selanjutnya sampel kering dimaserasi
menggunakan alkohol. Maserasi dipilih
karena dapat digunakan untuk ekstraksi

sampel dalam jumlah banyak, tidak


memerlukan
perlakuan
khusus,
pengerjaannya mudah, sederhana dan tidak
memerlukan pemanasan sehingga baik untuk
simplisia yang mengandung zat
aktif yang tidak tahan terhadap pemanasan
(Djamal, 1988).

Selanjutnya
sampel
dimaserasi
menggunakan etanol. Etanol digunakan
karena etanol adalah pelarut universal yang
dapat melarutkan hampir semua senyawa
baik yang bersifat polar, semi polar dan non
polar. Selain itu, etanol dapat menjaga
stabilitas zat dengan cara menghambat kerja
enzim dan bersifat antiseptik sehingga dapat
menghambat pertumbuhan kapang dan
jamur. Pelarut etanol yang digunakan adalah
etanol 70% karena sampel yang digunakan
adalah sampel kering. Adanya kandungan air
dari etanol 70% mampu melisis sel sampel
sehingga penetrasi pelarut ke dalam sel
sampel lebih mudah dan tersari lebih baik,

selain itu juga aman bagi peneliti. Sampel


rambut jagung yang dimaserasi sebanyak
650 gram. Perendaman sampel dilakukan
selama 5 hari sambil sesekali di aduk dan
dilakukan tiga kali pengulangan. Hal ini
bertujuan untuk menarik senyawa-senyawa
aktif berkhasiat yang terkandung di dalam
sampel. Dilakukan penguapan pelarut secara
in vacuo pada maserat yang didapatkan.
Penguapan dilakukan dalam keadaan vakum
agar tekanan uap pelarut menjadi lebih
rendah dan pelarut dapat menguap pada titik
didih yang lebih rendah dari titik didih
normalnya, sehingga kerusakan senyawa
yang terkandung di dalam sampel dapat

286

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

diminimalkan. Selanjutnya ekstrak dipekatan


dengan rotary evaporator untuk menguapkan
pelarut dan air yang masih tersisa sehingga

didapatkan ekstrak kental dengan berat


konstan, Ekstrak kental yang diperoleh
adalah sebanyak 53,3 gram (Tabel 3).

Tabel 3. Pengaruh Dosis dan Lama Pemberian Ekstrak Etanol Rambut Jagung terhadap Kadar
Asam urat Rata-Rata Mencit Putih Jantan Hiperusemia
Kelompok

Rata-rata Kadar Asam urat darah (mg/dL) pada hari ke SD

Rata-rata

14

21

Kontro negatif

1,76 0,45

1,74 0,60

1,80 0,56

1,66 0,38

1,74 0,05

Kontrol Positif

3,02 0,37

3,30 0,60

3,44 0,85

3,52 0,73

3,21 0,22

Dosis I

2,78 0,53

2,36 0,46

1,98 0,61

1,84 0,55

2,24 0,52

Dosis II

2,680,64

2,60 0,41

2,80 0,61

2,00 0,21

2,52 0,31

Dosis III

2,58 0,14

2,60 0,30

2,56 1,43

2,40 0,23

2,53 0,31

pembanding

2,52 0,55

2,26 0,52

1,84 0,59

1,80 0,54

2,10 0,59

Rata-rata

2,55 0,56

2,47 0,65

2,40 0,84

2,20 0,77

2,41 0,72

Setelah didapatkan ekstrak kental


selanjutnya dilakukan karakterisasi terhadap
ekstrak etanol rambut jagung yang diperoleh.
Hal ini bertujuan untuk melihat mutu dari
ekstrak yang didapat. Dari penentuan
organoleptik, didapatkan ekstrak dengan
bentuk cairan kental, bau khas, rasa pahit dan
berwarna coklat. Penentuan organoleptik ini
termasuk salah satu parameter spesifik yang
ditentukan dengan panca indera dan
bertujuan untuk pengenalan awal secara
sederhana dan subjektif.

Hasil rendemen, pemeriksaan susut


pengeringan dan kadar abu berturut-turut
sebesar 8,2%; 21,58% dan 1,82%. Hasil uji
fitokimia menunjukkan adanya senyawa
flavonoid
dan
alkaloid.
Rendemen
menunjukkan persentase kadar ekstrak yang
diperoleh dari sampel kering yang digunakan
untuk pembuatan ekstrak. Besar kecilnya
nilai rendemen menunjukkan efektivitas
proses
ekstraksi.
Pemeriksaan
susut
pengeringan bertujuan untuk memberikan
batasan maksimal besarnya senyawa yang

287

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

hilang pada proses pengeringan (Departemen


Kesehatan RI, 2000). Sedangkan penentuan
kadar abu bertujuan untuk memberikan
gambaran kandungan mineral internal dan
eksternal yang berasal dari proses awal
sampai terbentuknya ekstrak. Kadar abu
yang baik pada literatur ekstrak etanol
rambut jagung tidak lebih dari 5%
(Kementrian RI, 2010).
Hewan percobaan yang digunakan
adalah mencit putih jantan. Hal ini
didasarkan pada kemiripan fisiologi dengan
manusia, harga yang murah, dan mudah
ditangani. Jenis kelamin jantan dipilih
ditujukan untuk mencapai keseragaman
kondisi penelitian dan dianalogkan pada
kondisi hiperurisemia pada manusia dimana
lebih banyak ditemui pada pria dibandingkan
wanita (Price, 1994). Kondisi hormonal pada
mencit jantan lebih stabil dibandingkan
dengan mencit betina karena mencit betina
akan mengalami perubahan hormonal seperti
pada masa siklus ectrus. Selain itu tingkat
stress pada mencit betina lebih tinggi
dibandingkan dengan mencit jantan.
Sebelum dilakukan perlakuan, mencit
diaklimatisasi selama 10 hari untuk
membiasakannya pada kondisi lingkungan
percobaan dan menentukan kelayakan

mencit yang digunakan. Mencit yang akan


digunakan adalah mencit yang tidak
mengalami perubahan berat badan lebih dari
10% selama aklimatisasi (Depkes RI, 2000).
Penginduksian
mencit
dilakukan
dengan pemberian makanan diet purin tinggi
(MDPT) yaitu homogenat hati ayam segar
sebanyak 0.5 mL/20 g BB setiap hari. Hati
hati ayam mempunyai kandungan purin
nomor 2 setelah otak, setiap 100 gram hati
ayam mengandung 150-1000 mg purin. Cara
mendapatkanya mudah, harganya murah dan
tidak toksik seperti halnya potassium oxonat
yang bersifat oksidator kuat, karsinogenik
dan mutagenik. Di dalam tubuh, seluruh basa
purin baik yang berasal dari tubuh sendiri
(sintesa asam nukleat) ataupun yang berasal
dari makanan akan dikatabolisme menjadi
asam urat yang merupakan produk akhir dari
metabolisme purin. Basa purin di dalam
tubuh yaitu adenin dan guanin masingmasing akan diubah menjadi hipoxantin dan
xantin. Selanjutnya dengan bantuan enzim
xantin oksidase, hipoxantin dan xantin akan
diubah menjadi asam urat. Pada kebanyakan
mamalia reaksi ini berlanjut dengan
pengubahan asam urat menjadi allantoin
dengan bantuan enzim urikase.

Tabel 4. Data Perbandingan Persentase Perubahan Kadar Asam Urat Darah Mencit Putih
Jantan Hiperurisemia Terhadap Kontrol Positif Pada Hari ke- 7, 14, dan 21

Pengukuran kadar asam urat mencit


putih jantan dilakukan dengan menggunakan
alat digital NescoMultiCheck. Metode tes

strip ini memiliki beberapa kelebihan yaitu


caranya sederhana, memerlukan sedikit
darah, dan waktu pemeriksaan lebih cepat

288

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

yaitu 6 detik. Selain metoda tes strip metoda


lain yang dapat digunakan adalah metode
enzimatik spektrofotometer UV-vis. Metode
ini menggunakan enzim-enzim yang bekerja
secara spesifik pada asam urat, sehingga
menghasilkan hasil yang relatif lebih tepat.
Pengukuran menggunakan spektrofotometer
UV-vis lebih tepat dan akurat, namun
menggunakan spektrofotometer UV-vis
membutuhkan darah mencit yang banyak
dan waktu pengukuran yang lama, sehingga
membutuhkan hewan percobaan yang
banyak dan memerlukan waktu yang lama
dalam penelitian. Selain itu Kadar normal
asam urat darah mencit yaitu 0,5-1,4 mg/dL
sedang mencit dikatakan hiperurisemia jika
kadar asam urat darahnya 1,7-3,0 mg/dL
(Erawan K, 2011).
Penelitian
ini
menggunakan
allopurinol dosis 10 mg/kgBB sebagai
pembanding. Allopurinol bekerja dengan
cara menghambat enzim xantin oksidase.
Allopurinol merupakan obat efektif bagi
penderita hiperurisemia (Wibowo S, 2011).
Apabila
dilihat
dari
mekanismenya
allopurinol termasuk inhibitor reversibel
kompetitif. Suatu inhibitor kompetitif
memiliki struktur mirip dengan substrat. Hal
ini menyebabkan adanya kompetisi antara
substrat dengan inhibitor dalam mengikat sisi
aktif enzim. Oleh karena itu, penggunaan
allopurinol pada penelitian adalah sebagai
pembanding terhadap ekstrak etanol,
memiliki efek sebanding atau tidak dengan
allopurinol untuk menurunkan kadar asam
urat darah.
Pada penelitian ini mencit diinduksi
dengan homogenat hati ayam segar terlebih
dahulu selama tujuh hari, kemudian
dilanjutkan dengan pemberian induksi dan
ekstrak selama 21 hari. Pengukuran kadar
asam urat darah pada masing-masing
kelompok dilakukan pada hari ke- 0 dan hari
ke- 7, ke-14 dan 21. Kadar asam urat diukur
dengan
menggunakan
alat
digital
NesscoMulticheck dengan menggunakan tes
strip asam urat.
Dosis
yang
digunakan
pada
penelitian ini yaitu dosis 125 mg/kgBB,
dosis 250 mg/kgBB dan dosis 500 mg/kgBB.

Pemilihan dosis dilakukan berdasarkan


penelitian sebelumnya tentang aktivitas
rambut jagung terhadap efek lainnya. Dari
data statistik dapat diketahui kadar asam urat
kontrol positif kadar asam urat meningkat
dengan bertambahnya waktu. Hal ini berarti
induksi hati ayam pada mencit dapat
meningkatkan kadar asam urat darah mencit
putih jantan. Sedangkan pada kontrol negatif
yang merupakan hewan normal yang tidak
diinduksi, kadar asam uratnya stabil pada
rentang kadar normal.
Dari grafik dapat dilihat bahwa
masing-masing dosis memiliki data yang
sedikit bervariasi. Dari grafik pengaruh
kadar asam urat terhadap waktu, dosis 125
mg/kgBB dapat menurunkan kadar asam urat
mencit putih jantan hiperurisemia mendekati
pembanding (Allopurinol), selanjutnya dosis
250 mg/kgBB juga dapat menurunkan kadar
asam urat namun tidak sebaik dosis 125
mg/kg BB, begitu juga dengan dosis 500
mg/kgBB.
Perbedaan yang timbul
merupakan
suatu
kewajaran
karena
perbedaan kondisi fisiologis seperti berat
badan, usia, enzim yang dimiliki dan proses
metabolisme tubuh dari masingmasing
hewan percobaan selama perlakuan yang
akan mempengaruhi kadar asam urat yang
diukur (Domer, 1971).
Persentase penurunan antara dosis
dan pembanding (Allopurinol) terhadap
kontrol positif dapat dilihat pada tabel (Tabel
8). Persentase penurunan kadar asam urat
pada allopurinol sebagai pembanding pada
hari pengukuran ke-7,14 dan 21 berturutturut adalah 31,51%; 48,26%; 48,63%. Pada
dosis terkecil yaitu 125 mg/kg BB efektivitas
penurunannya berturut-turut adalah 28,48%;
42,44% dan 47,72%, selanjutnya dosis
menengah yaitu dosis 250 mg/kgBB
efektivitas penurunannya adalah 21,21%;
18,60% dan 43,18%. Sedangkan pada dosis
tertinggi yaitu dosis 500 mg/kg BB
persentase penurunannya 21,12%; 25,58%
dan 42,63% . Dari grafik garis persentase
perubahan kadar asam urat terhadap kontrol
positif dapat dilihat bahwa persentase
penurunan kadar asam urat darah terbesar
dari ekstrak dan mendekati pembanding

289

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

(Allopurinol) terdapat pada dosis 125 mg/kg


BB. Efek antihiperurisemia oleh ekstrak
kemungkinan
berkaitan
dengan
penghambatan
xantin
oksidase
oleh
kandungan senyawa metabolit sekunder
yaitu flavonoid. Hal ini disebabkan oleh
adanya dua cincin aromatik yang memiliki
gugus hidroksil sebagai akseptor elektron
xantin oksidase. Selain flavonoid senyawa
alkaloid juga memiliki kemampuan sebagai
inhibitor xantin oksidase (Coss et al.
1998:71)
Untuk mengetahui perbedaan yang
signifikan
terhadap
hasil
penelitian,
dilakukan analisis statistik menggunakan
anova dua arah. Dari analisis anova dua arah
dantara kelompok dan dosis didapatkan hasil
yang signifikan (P<0,05). Hal ini berarti
terdapat pengaruh antara faktor perbedaan
dosis tiap kelompok memberi perbedaan
yang bermakna. Sedangkan analisis anova
dua arah pada waktu (lama pemberian)
memberikan hasil yang cenderung signifikan
(P<0,1). Selanjutnya pada interaksi antara
kelompok dosis dan waktu, hasil uji analisis
anova dua arah tidak signifikan (P>0,05)
Analisis dari anova dua arah
dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncans
Multiple Range Test). Uji Duncan dilakukan
terhadap faktor dosis dan waktu. Hasil uji
Duncan terhadap faktor dosis menunjukkan
bahwa penurunan kadar asam urat kelompok
uji dosis 125 mg/kgBB sama dengan
kelompok pembanding (Tabel 8). Sedangkan
dosis 250 mgkgBB dan dosis 500 mg/kg BB
meenunjukkan perbedaan dengan kelompok
pembanding. Dari uji Duncan juga terlihat
bahwa semakin tinggi dosis semakin tinggi
kadar asam urat darah mencit, hal ini berarti

semakin besar dosis penurunan kadar asam


urat oleh ekstrak semakin kecil. Hal ini
mungkin disebabkan oleh kandungan kimia
bahan alam yang banyak terdapat pada
ekstrak yang bersifat saling sinergis, aditif
maupun antagonis terhadap penurunan kadar
asam urat darah. Selain itu dapat juga
disebabkan oleh jenuhnya enzim xantin
oksidase akibat pemberian dosis yang terlalu
besar sehingga menyebabkan pengurangan
efek inhibisinya.
Uji lanjut Duncan berdasarkan faktor
lama pemberian, tidak terdapat perbedaan
yang signifikan antara hari ke-7, 14, dan 21
(Tabel 9). Hal ini terlihat dari persamaan
subset dan P>0,05. Ini artinya tidak terdapat
perbedaan kadar asam urat pada hari ke7,14,dan 21, hal ini mungkin disebabkan
karena jarak waktu terlalu pendek sehingga
belum menunjukkan aktivitas yang berbeda.
Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan
bahwa ekstrak rambut jagung dapat
memberikan pengaruh optimal terhadap
kadar asam urat mencit putih jantan
hiperurisemia terdapat pada dosis 125
mg/kgBB. Sesuai dengan uji invitro yang
dilakukan oleh Tong-Wei et al. (2011)
terhadap komponen aktif rambut jagung
yang dimurnikan dengan etanol 50%, ekstrak
etanol rambut jagung dapat menghambat
aktivitas enzim xantin oksidase dengan
aktivitas
penghambatan
sebesar
60,90%1,27%. Hal ini tidak jauh berbeda
dengan penghambatan oleh dosis optimal
yang dilakukan secara invivo pada penelitian
ini yaitu pada dosis 125 mg/kg BB efek
penurunan kadar asam uratnya adalah
sebesar 69,78% 0,30%.

KESIMPULAN
1.

Pemberian ekstrak etanol rambut jagung


dengan dosis 125 mg/kgBB, 250
mg/kgBB dan 500 mg/kgBB dapat
menurunkan kadar asam urat pada
keadaan hiperurisemia secara bermakna
(P<0.05).

290

2. Efek penurunan kadar asam urat yang


optimal ditunjukkan oleh ekstrak etanol
rambut jagung dengan dosis 125
mg/kgBB dengan persentase penurunan
kadar
asam
urat
sebesar
69,78
0,30%.

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

DAFTAR PUSTAKA
Bhaigyabati T, Kirithika T, Ramya J, Usha
K. 2011. Phytochemical Constituents
and Antioxidant Activity of Various
Extracts of Corn Silk (Zea mays. L).
RJPBCS (2)4: 0975-8585.
Coss P, Ying L, Calomme MJP, Cimanga K,
Van PB, Pieters L, Vlietinck AJ,
Vanden BD. 1998. Structure-Activity
Relationship and Classification of
Flavonoids as Inhibitors of Xanthine
Oxidase and Superoxide Scavengers.
J.Nat.Prod. (61):71-76.
Departemen Kesehatan RI. 1977. Materia
Medika Indonesia Jilid I. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope
Indonesia
Edisi
III.
Jakarta:
Departemen
Kesehatan
Republik
Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope
Indonesia edisi IV. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter
Standar Umum Ekstrak Tumbuhan
Obat, Ed. 1. Jakarta: Dirjen POM
Direktorat
Pengawasan
Obat
Tradisional.
Departemen
Perdagangan
RI.
2012.
Indonesian Herbal The Traditional
Therapy.
Jakarta:
Departemen
Perdagangan RI.
Dipiro JT, Wells BG, Schwinghammer TL,
Hamilton
CW.
2008.
Pharmacotherapy Handbook Seven
Edition.
International
Edition.
McGraw-Hill Education: New York.
Erawan, Krisna. 2011. Model Hewan Untuk
Gout. Diakses 25 Februari 2013.
http://krisnaerawan.files.wordpress.co
m/2010/08/model-hewan.pdf.
Ganong WF. 1998. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran edisi 17. diterjemahkan
oleh M. Djauhari Widjajakusumah.
EGC: Jakarta.
Hasanudin K, Hashim P, Mustafa S. 2012.
Corn Silk (Stigma Maydis) in
Healthcare: A Phytochemical and

Pharmacological Review. J.molecules


(17):9697-9715.
Hayani M, Widyaningsih. 2011. Efek
Ekstrak Etanol Herba Putri Malu
(Mimosa pudica L.) Sebagai Penurun
Kadar Asam Urat Serum Mencit Jantan
Galur Swiss. Laporan Penelitian.
Yogyakarta:
Fakultas
Farmasi
Universitas Ahmad Dahlan.
Johnstone A. 2005. Gout-The Deasease and
Non Drug Treatment. Diterjemahkan
oleh Dyana Lyrawati. UK: Hospital
Pharmacist(12):391-394.
Katno, Pramono S. 2002. Tingkat Manfaat
dan Keamanan Tanaman Obat
Tradisional. Yogyakarta : Universitas
Gajah Mada.
Kementrian Kesehatan RI. 2008. Farmakope
Herbal Indonesia. Edisi 1. Dirjen
Pelayanan
Farmasi
dan
Alat
Kesehatan: Jakarta.
Lamb E, Newman JD, Price PC. 2006.
Kidney Function Test in Tietz
Textbook of Clinical Chemistry and
Molecular Diagnostic. eds. Burtis C,
Ashwood RE and Bruns ED, edisi
empat. Elseiver Saunders, p803-5.
Mark DH. Hall W, Siegel LB. 1999. Gout
and Hyperuricemia. Journal of
American
Academy
of
Family
Physicians. Feb 5, 9(4):925-934.
Mellado JV, Cruz J, Guzmn S, Casasola JV,
Lino L. 2006. Severe tophaceous gout.
Characterization of low socioeconomic
level patients from Mxico.R. BurgosVargas.Rheumatology Service. Clinical
and Experimental Rheumatology:
Hospital General de Mxico, Facultad
de Medicina, Universidad Nacional
Autnoma de Mxico (24): 233-238.
Murny A. 2011. Pengaruh Pemberian
Ekstrak
Etanol
Bungo
Timah
(Peperomia pellucida L. Kunth)
Terhadap Kadar Asam Urat Serum
Mencit
Jantan
yang
Diinduksi
Potassium Oksonat. Skripsi Sarjana
Farmasi. Fakultas Farmasi: Universitas
Andalas.

291

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

Murray RK., Granner DK., Mayes PA,


Rodwell VW. 2003. Biokimia Harper.
Edisi XXV. Penerjemah Hartono
Andry. EGC. Jakarta.
Nursewian. 2012. Rambut Jagung Juga
Ternyata Banyak Manfaatnya. Di akses
28
februari
2014.
http://buletinkesehatan.com/rambutjagung-juga-ternyata-banyakmanfaatnya.
Prasetya Y. 2009. Uji Efek Ekstrak Etanol
Daun Sirih (Piper Betle L) Terhadap
Penurunan Kadar Asam Urat Darah
Tikus Putih Jantan yang Diinduksi
Kafeina. Skripsi Sarjana Farmasi.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan: Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Price AS, Wilson LM. 2006. Patofisologi
Volume 2. Penerbit Buku Kedokteran
EGC: Jakarta
Purwono, Hartono R. 2005. Bertanam
Jagung Unggul. Penebar Swadaya:
Bogor.
Roohbakhsh A, Shamsara J, Khayyat MH,
Karimi G. 2009. Inhibition of Xanthine
Oxidase by Some Iranian Plant
Remedies
Used
for
Gout.
Pharmacologyonline (3): 1031-1036.
Shamley D. 2005. Pathophysiology an
Essential Text for the Allied Health
Professions, Elsevier Limited, USA.
Snook ME, Widstrom NW, Wiseman BR,
Byrne PF, Harwood JS, Costello CE.
1995. New C-4_-hydroxy derivatives
of maysin and 3-methoxymaysin
isolation from corn silks (Zea mays). J.
Agric. Food Chem. (43): 2740-2745.
Subekti NA, Syafruddin, Efendi R, Sunarti
S. 2011. Morfologi Tanaman dan Fase
Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian
Tanaman Serealia, Maros, pp.16-28.
Tong-Wei J, Jian X, Xiao-Meng W, XueSong C, Zhi-Dong Q, Screening
of active ingredient of Stigmata maydis
inhibitor
xanthine
oxidase and
its effect. Journal of Jilin University
Medicine Edition 37(3) 433-436.
Velazquezd DVO, Xavierb HS, Batistac
JEM, de Castro-Chavesa C. 2005. Zea

mays L. extracts modify glomerular


function and potassium urinary
excretion
in
conscious
rats.
Phytomedicine (12):363369.
Velazquezd DVO, Xavierb HS, Batistac
JEM, de Castro-Chavesa C. 2005. Zea
mays L. extracts modify glomerular
function and potassium urinary
excretion
in
conscious
rats.
Phytomedicine (12):363369.
Voet D. & G. V. Judith. 1994. Biochemistry
2nd Ed. New York: John Wiley and
Sons. Inc.
Voight R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi
Farmasi. diterjemahkan oleh S.
Noerono, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Wallace KL, Riedel AA, Joseph-Ridge N,
Wortmann R. 2004. Increasing
Prevalence of Gout and Hyperuricemia
Over 10 Years Among Older Adults in
a Managed Care Population. The
Journal of Rheumatology. 31:8.
Wibowo S. 2011. Asam Urat. Diakses
tanggal 8 maret 2014. http://suryowibowo.blogspot.com/2006/06/asamurat_115088450115003296.html.
Wijayakusuma, H, 2011. Makanan Sehat
Untuk Asam Urat. Diakses tanggal 25
Februari 2013. www.itokindo.org.
Wijayakusuma, H. 2006. Atasi Rematik Dan
Asam Urat Ala Hembing. Puspa Swara:
Depok, Jakarta.
Wortmann RL. 2005. Gout and Other
Disorders of Purine Metabolism.
Harrisons Principles of Internal
Medicine 16th Ed. Editors: Isselbacher
KJ, Braunwald E, Wilson JD, Martin
JB, Fauci AS and Kasper DL. Mc
Graw Hill New York 2079-2088.
Wulandari S, Subandi, & Muntholib. 2012.
Inhibisi Xantin Oksidase Oleh Ekstrak
Etanol
Kulit
Melinjo
(Gnetum
Gnemon)
Relatif
Terhadap
Allopurinol. Jurnal Online Universitas
Negeri Malang. Diakses 8 maret 2014.
http://jurnalonline.um.ac.id/data/artike
l/artikel5ECD9DCBF08E100E0ACA3
C5AF4C07164.pdf.

292

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

Yuno S. 2003. Uji Efek Campuran Ekstrak


Seledri (Apium graveolens L) Dan
Jahe Merah (Zinggiber oficinale rose.)
Terhadap Kadar Asam Urat Pada Tikus
Yang Diinduksi Dengan Kalium
Oksonat. Depok: Departemen Farmasi
FMIPA-UI.
Zhao, X., Zhu, X. & Pan, Y. 2005. Effects
Of Cassia Oil On Serum and Hepatic

293

Uric Acid Levels In Oksonate-Induced


Mice and Xantine Dehiydrogenase and
Xantin Oksidase Aktivities In Mouse
Liver. Journal Of Ethnopharmacology.
Diakses tanggal 25 februari 2013 dari
http:/
www.elsevier.com/locate/jethpharm.