Anda di halaman 1dari 8

JUDUL PENELITIAN

SIKAP DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KONSEP BUDAYA KAPATA

OLEH
STELA ANGGREK

GEREJA PROTESTAN MALUKU


KLASIS KOTA AMBON
JEMAAT HOK IM TONG

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Dalam tatanan suatu masyarakat adat di Maluku ada banyak bentuk kearifan lokan
misanya berupa : pela,gandong, Famili ( marga ) dan sastra lisan yang memiliki peran vital
dalam ritual- ritual adat yang dipegang oleh masyarakat Maluku.
Salah satu sastra lisan yang amat menarik untuk di kaji adalah Kapata atau nyanyian rakyat
Maluku yang telah di Kenal sejak lama dalam tatanan adat dan budaya orang Maluku , yang
dalam perkembangan saat ini mengalami reduksi nilai budaya dalam masyarakat Maluku
sendiri , sehingga menjadikan generasi muda Maluku seperti kita Remaja gereja sekaraang
kurang memahami konsep kapata sebagai budaya kearifan lokal Maluku

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka, dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai
berikut :
a) Seberapa Besar pemahaman dan implementasi masyarakat terhadap konsep budaya
kapata
b) Faktor- faktor yang mepengaruhi kurangnya pemahaman masyarakat terhadap
konsep budaya kapata
c) Seberapa besar pengaruh dan implementasi budaya kapata terhadap generasi muda
sekarang

c. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
a) Mengetahui seberapa besar pemahaman dan implementasi masyarakat terhadap
konsep budaya kapata
b) Mengetahui faktor faktor yang menpengaruhi kurangya pemahaman masyarakat
terhadap konsep budaya kapata
c) Menegtahui seberapa besar pengaruh dan implementasi budaya kapata terhadap
generasi muda sekarang
d. Manfaat
Diharapkan agar penelitian dapat bermanfaat untuk membentuk paradigma pikir
masyarakat.tentang konsep budaya kapata yang belum di pahami secara benar dan baik oleh
masyarakat Maluku umunya,

BAB II

SIKAP,PRESEPSI DAN KONSEP BUDAYA KAPATA

A.Sikap dan Presepsi


Sikap adalah pernyataan-pernyataan evaluative baik yang diinginkan atau yang tidak
diinginkan

mengenai

objek,orang,atau

peristiwa.Sikap

merupakan

cerminaan

yang

melukiskan bagaimana seseorang merasakan sesuatu.


Presepsi menurut Prof.Dr.Bimowalgito (1999)mengemukakan bahwa presepsi adalah
proses pencarian informasi untuk dipahami,alat untuk mencari informasi ini sendiri adalah
pengindraan,sebaliknya alat untuk memahami informasi tersebut adalah kesadaran atau
kognisi dengan presepsi individu dapat menyadari,dapat mengerti tentang keadaan diri
individu yang bersangkutan.
Presepsi menurut Philip kotler (2000)presepsi adalah proses bagaimana seseorang
menyeleksi,mengatur,dan

menginterpretasikan

masukan-masukan

informasi

untuk

menciptakan gambaran keseluruan yang berarti.

B Batasan Kebudayaan dan .Budaya Kapata


Pengertian budaya secara rafiah adalah suatu kebiasaan social (suku/etnis) sehingga
dapat didefenisikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Ditengah arus globalisasi yang melanda dunia saat ini.kita harus mampu menunjukan
kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang bahwa kita bangsa Indonesia
memiliki budaya sendiri yang patut dipertahankan.
Dalam rangka penyusunaan dan penulisan suatu sejarah nasional Indonesia,maka
peranan sejarah daerah sebagai penyumbang fakta sejarah sangat penting.sebagai penyusun
sejarah nasional Indonesia ,maka sejarah daerah itu perlu digali,diteliti,dan dipelihara.
Untuk menggali ,meneliti dan menyusun fakta-fakta sejarah maka perlu diketahui
lebih dahulu tentang kedudukan sejarah Maluku dalam kerangka nasional.sejarah Indonesia
merupaka macro history sedangkan sejarah Maluku merupakan micro history.akan tetapi

sesuai dengan kenyataan,sejarah daerah Maluku adalah suatu macro history dalam arti yang
luas sebab pengertian Maluku secara geografis tidak berbeda jauh dengan Indonesia.
Sejak abad 15 kepulauan Maluku telah terkenal sebahagian besar dunia mulai dari
Eropa sampai ke Asia.daerah ini menjadi tujuan dan harapan para pedagang,dan pelayar yang
mencari rempah-rempah yaitu cengkih dan pala.Jika diteliti sejak dahulu,Maluku sebagai
salah satu kesatuan kebudayaan yang tidak pernah ada,karena memang daerah ini terdiri dari
beberapa kesatuan budaya dengan system social yang berbeda dari satu tempat ketempat
lainnya.perbedaan ini membuat orang sulit untuk mengatakan bahwa ada satu kebudayaan
Maluku yang menanamkan dirinya sebagai orang Maluku.Menurut Melville J Horikston dan
Bronislaw Malinowski bahwa culture determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di
dalam masyarakat di tentukan oleha danya kebudayaan yang dimiliki masyarakat tersebut.
Budaya Kapata merupakan salah satu bentuk kearifan local Maluku yang telah
dikenal

sejak

lama,dan

merupakan

sesuatu

yang

dipegang

secara

pribadi

dan

terinterpresentasi dalam perilaku sehari-hari. Kapata adalah sastra lisan berupa doa juga
dalam bentuk nyanyian yang memiliki peran vital dalam ritual-ritual adat rakyat Maluku
selain berperan vital dalam ritual-ritual adat,Kapata juga merupakan bentuk harapan
masyarakat Maluku untuk menyatukan perselisihan yang terjadi antara umat beragama yang
seperti kita ketahui bersama ketahui adanya konflik keagamaan yang terjadi di kota Ambon
pada tahun 1999 yang berdampak besar bagi kehidupan umat beragama di Maluku.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A.Metode Penelitian
Metode penelitian untuk menjawab permasalahan ini duigunakan metode penelitian kualitatif
deskriptif
B.Populasi dan Sampel
1.Populasi
Populasi yang diteliti adalah masyarakat Maluku
2.Sampel
Sampel yang diteliti adalah masyarakat yang masih memegang konsep kebudayaan kapata
C.Instrumen Penelitian
1.Observasi
2.Wawancara
3. Kuisioner
D.Waktu dan Tempat
1.Waktu
Juni-Oktober
2.Tempat
Provinsi Maluku, Kecamatan Leitimur Selatan, Desa Hukurila
E.Metode pengabilan data
1.Studi Pustaka
2.Wawancara
3.Jelajah internet
F.Metode analisis data
1.1 Halaman judul

1.2 BAB I : PENDAHULUAN

a.Latar belakang
b.Rumusan masalah
c.Manfaat penelitian
1.3 BAB II SIKAP,PRESEPSI DAN KONSEP BUDAYA KAPATA