Anda di halaman 1dari 14

Restitusi

Apa sih restitusi itu? Menurut Kamus Bahasa Indonesia, restitusi (rstitusi) adalah ganti
kerugian; pembayaran kembali; penyerahan bagian pembayaran yang masih bersisa. Kaitannya
dengan pajak yang kita bayar kepada Negara, restitusi adalah pembayaran kembali pajak yang
telah dibayar oleh Wajib Pajak. Artinya, Negara membayar kembali atau mengembalikan pajak
yang telah dibayar. Undang-Undang KUP secara umum menyebut restitusi sebagai
pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
Bagaimana cara meminta restitusi? Banyak orang mengira bahwa resitusi pajak harus melalui
"pintu" pemeriksaan. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah karena sebelum modernisasi,
sepengetahuan saya semua restitusi memang harus diperiksa. Restitusi diatur di Pasal 17
Undang-Undang KUP. Pasal itu memang mengatur tentang Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
(SKPLB). Perkembangan selanjutnya, Pasal 17 Undang-Undang KUP sudah "bertambah".
Tetapi sejak sejak modernisasi dan berlakunya Undang-Undang nomor 28 Tahun 2007 ada
beberapa ketentuan baru yang memungkinkan restitusi tanpa melalui "pintu" pemeriksaan.
Ditambah lagi kebijakan DJP sejak tahun 2014 ini yang memberikan target audit coverage
ratio (ACR) tertentu. Sebelumnya, fungsi pemeriksaan lebih fokus kepada "keamanan" restitusi
dan memastikan bahwa Wajib Pajak benar-benar berhak atas restitusi tersebut.
Sejak berlakunya Undang-Undang nomor 28 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah nomor 74
Tahun 2011, untuk mendapatkan pengembalian kelebihan pajak terdapat tiga pintu yaitu:
[1.] verifikasi
[2.] pemeriksaan, dan
[3.] penelitian.
Untuk jenis restitusi yang bagaimanakah ketiga pintu restitusi tersebut? Saya jelaskan dibawah
ini.
Secara umum, restitusi pajak diatur dalam pasal-pasal sebagai berikut:
1. PASAL 17 ayat (1) Undang-Undang KUP
Direktur Jenderal Pajak, setelah melakukan pemeriksaan, menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Lebih Bayar apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada
jumlah pajak yang terutang.
2. PASAL 17 ayat (2) Undang-Undang KUP
Berdasarkan permohonan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak, setelah meneliti kebenaran
pembayaran pajak, menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar apabila terdapat pembayaran
pajak yang seharusnya tidak terutang, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
3. PASAL 17B ayat (1) Undang-Undang KUP
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak, selain permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari
Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C dan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17D, harus menerbitkan surat ketetapan pajak paling lama 12 (dua belas) bulan
sejak surat permohonan diterima secara lengkap.

4. PASAL 17C ayat (1) Undang-Undang KUP


Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak dari Wajib Pajak dengan kriteria tertentu, menerbitkan Surat Keputusan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan
diterima secara lengkap untuk Pajak Penghasilan, dan paling lama 1 (satu) bulan sejak
permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak Pertambahan Nilai.
5. PASAL 9ayat (4c) Undang-Undang PPN
Pengembalian kelebihan Pajak Masukan kepada Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud
pada ayat (4b) huruf a sampai dengan huruf e, yang mempunyai kriteria sebagai Pengusaha Kena
Pajak berisiko rendah, dilakukan dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak sesuai
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan perubahannya.
6. PASAL 17D ayat (1) Undang-Undang KUP
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak dari Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu, menerbitkan Surat
Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak
permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak Penghasilan, dan paling lama 1 (satu) bulan
sejak permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak Pertambahan Nilai.
7. PASAL 17E Undang-Undang KUP
Orang pribadi yang bukan subjek pajak dalam negeri yang melakukan pembelian Barang Kena
Pajak di dalam daerah pabean yang tidak dikonsumsi di daerah pabean dapat diberikan
pengembalian Pajak Pertambahan Nilai yang telah dibayar, yang ketentuannya diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
RESTITUSI PASAL 17
Peraturan Menteri Keuangan nomor 145/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Penerbitan Surat
Ketetapan Pajak menyebutkan bahwa Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pajak berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap:
1. Surat Pemberitahuan terdapat jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih
besar daripada jumlah pajak yang terutang sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat
(1) Undang-Undang KUP; atau
2. permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17B Undang-Undang KUP terdapat jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang
dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang.
Peraturan Menteri Keuangan ini mengatur bahwa restitusi melaui pintu pemeriksaan. Kriteria
atau alasan dilakukannya pemeriksaan ada dua macam yaitu karena SPT Wajib Pajak lebih bayar
tetapi Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan restitusi. Dan kedua karena permohonan
restitusi Wajib Pajak baik melalui media SPT maupun surat khusus yang terpisah dengan SPT.
Ada perbedaan antara yang tidak mengajukan permohonan dengan yang mengajukan
permohonan, yaitu jatuh tempo penerbitan ketetapan. Dalam hal tidak mengajukan permohonan
restitusi maka jatuh tempo penerbitan ketetapan pajak bersamaan dengan daluwarsa penerbitan
ketetapan pajak. Sedangka yang mengajukan permohonan restitusi jatuh tempo 12 bulan sejak
SPT diterima langkap.

Sedangkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 198/PMK.03/2013 mengatur bahwa setelah


dilakukan penelitian terhadap SPT Lebih Bayar, Direktur Jenderal Pajak memberitahukan
secara tertulis kepada Wajib Pajak dan Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar
tersebut ditindaklanjuti berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1)
Undang-Undang KUP. Pemberitahuan ini dikarenakan Surat Keputusan Pengembalian
Pendahuluan Kelebihan Pajak tidak diterbitkan.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-28/PJ/2013 mengatur lebih lanjut kebijakan
pemeriksaan restitusi jenis ini. Pemeriksaan restitusi Pasal 17 ayat (1) termasuk kriteria
Pemeriksan Rutin. Pemeriksaan Rutin merupakan pemeriksaan yang dilakukan sehubungan
dengan pemenuhan hak dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Pemeriksaan
Rutin terhadap Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh atau SPT Masa PPN yang
menyatakan lebih bayar yang tidak disertai dengan permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang KUP
dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. pelaksanaan pemeriksaannya bersifat wajib;
2. memperhatikan ketentuan mengenai jangka waktu pemeriksaan;
3. penerbitan ketetapan pajak harus dilakukan sebelum daluwarsa penetapan;
4. dilakukan dengan jenis pemeriksaan lapangan; dan
5. ruang lingkup pemeriksaan meliputi satu jenis pajak.
Berdasarkan dua ketentuan diatas, maka saya berkesimpulan bahwa restitusi Pasal 17 ayat (1)
yang jatuh temponya bersamaan dengan daluwarsa penetapan ada dua jenis, pertama berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan nomor 198/PMK.03/2013 yang masuk ke penelitian. Dengan
masuknya ke penelitian berarti semua Kantor Pelayanan Pajak akan memproses restitusi tersebut
berdasarkan Pasal 17D (Wajib Pajak dengan persyaratan tertentu). Tetapi karena sebab-sebab
tertentu, kemudian Kantor Pelayanan Pajak tidak jadi menerbitkan SKPPKP (Surat Keputusan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak). Sehingga atas restitusi tersebut kemudian
dilakukan pemeriksaan dan masuk jalur Pasal 17 ayat (1). Terhadap "perubahan arah" ini, maka
Kantor Pelayanan Pajak akan memberikan surat pemberitahuan kepada Wajib Pajak. Sebaliknya
jenis yang kedua, bahwa restitusi itu bukan kemauan Wajib Pajak. Ini yang dimaksud Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-28/PJ/2013. Tetapi berdasarkan penelitian internal
DJP ternyata SPT Wajib Pajak seharusnya lebih bayar. Berbeda dengan yang pertama. Kalau
yang pertama sejak awal SPT Wajib Pajak memang menyatakan lebih bayar dan meminta
restitusi berdasarkan Pasal 17B atau Pasal 17D.
Pasal 10 Peraturan Menteri Keuangan nomor 198/PMK.03/2013 mengatur:
Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak tidak diterbitkan dalam hal
berdasarkan hasil penelitian menunjukkan:

1. tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak;


2. Surat Pemberitahuan beserta lampirannya tidak lengkap;
3. penulisan dan penghitungan pajak tidak benar;
4. kredit pajak atau Pajak Masukan berdasarkan sistem aplikasi Direktorat Jenderal Pajak
tidak benar;
5. pembayaran pajak yang dilakukan oleh Wajib Pajak tidak benar; atau
6. Wajib Pajak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan atau Penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan.
Prosedur penelitian sebenarnya berbeda dengan pemeriksaan. Asumsi dasar penelitian adalah
semua dokumen lengkap. Sehingga proses penelitian hanya check list dan melakukan pengujian
matematis, yaitu pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Selain itu, resitusi yang
dimaksud Peraturan Menteri Keuangan nomor 198/PMK.03/2013 sebenarnya untuk Wajib Pajak
yang beresiko rendah. Karena itu untuk Wajib Pajak yang terbukti sedang dilakukan Pemeriksaan
Bukti Permulaan atau Penyidikan maka dianggap atas Wajib Pajak tersebut beresiko tinggi.
Ada satu lagi prinsip yang "kelupaan" dimasukkan dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor
198/PMK.03/2013, yaitu prinsip knowing your taxpayer. Bagaimanapun Wajib Pajak "siluman"
tidak mungkin disebut resiko rendah. Wajib Pajak yang tidak bisa dihubungi dialamat yang
tercantum dalam database DJP harusnya termasuk sekurang-kurangnya resiko sedang. Dalam hal
restitusi, maka atas kelebihan pajak ini nantinya akan ditransfer langsung oleh Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara kepada rekening Wajib Pajak. Setelah menerbitkan Surat Keputusan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, Kantor Pelayanan Pajak akan meminta rekening
Wajib Pajak yang akan menampung restitusi. Kemudian setelah datanya lengkap, Kantor
Pelayanan Pajak menyampaikan rekening tersebut kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara. Jadi, restitusi itu bukan ditransfer dari Kantor Pajak!
Berdasarkan "syarat resiko rendah" dan prinsip knowing your taxpayer maka terhadap Wajib
Pajak yang tidak dapat dihubungi baik dengan email, telepon, maupun surat maka proses
restitusinya seharusnya masuk jalur Pasal 17 ayat (1) ini yang jatuh temponya bersamaan dengan
daluwarsa penetapan.
PAJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG
Restitusi pajak yang seharusnya tidak terutang diatur secara khusus dengan Peraturan Menteri
Keuangan nomor 10/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pengembalian Atas Kelebihan Pembayaran
Pajak Yang Seharusnya Tidak Terutang. Menurut peraturan ini, Wajib Pajak dapat mengajukan
permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang
kepada Direktur Jenderal Pajak dalam hal:

1. terdapat pembayaran pajak oleh Wajib Pajak yang bukan merupakan objek pajak yang
terutang atau yang seharusnya tidak terutang. Pembayaran yang termasuk kelompok
ini dapat berupa: pembayaran pajak oleh Wajib Pajak yang lebih besar dari pajak yang
terutang, pembayaran pajak atas transaksi yang dibatalkan, pembayaran pajak yang
seharusnya tidak dibayar, pembayaran pajak oleh Wajib Pajak terkait dengan permintaan
penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 44B Undang-Undang KUP yang tidak disetujui.
2. terdapat kesalahan pemotongan atau pemungutan yang mengakibatkan pajak yang
dipotong atau dipungut lebih besar daripada pajak yang seharusnya dipotong atau
dipungut. Kesalahan yang termasuk kelompok ini dapat berupa: pemotongan atau
pemungutan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan Pajak Penghasilan yang dipotong
atau dipungut lebih besar daripada Pajak Penghasilan yang seharusnya dipotong atau
dipungut, termasuk yang diatur dalam P3B; pemotongan atau pemungutan Pajak
Penghasilan atas penghasilan yang diterima oleh bukan subjek pajak; pemungutan Pajak
Pertambahan Nilai terhadap bukan Pengusaha Kena Pajak yang lebih besar daripada
pajak yang seharusnya dipungut; atau pemungutan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
terhadap Pengusaha Kena Pajak atau bukan Pengusaha Kena Pajak yang lebih besar
daripada pajak yang seharusnya dipungut.
3. terdapat kesalahan pemotongan atau pemungutan yang bukan merupakan objek
pajak. Kesalahan yang termasuk kelompok ini dapat berupa: pemotongan atau
pemungutan Pajak Penghasilan yang seharusnya tidak dipotong atau tidak dipungut;
pemungutan Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya tidak dipungut; atau pemungutan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang seharusnya tidak dipungut.
4. terdapat kelebihan pembayaran pajak oleh Wajib Pajak yang terkait dengan pajak-pajak
dalam rangka impor. Kelebihan pembayaran pajak yang terkait dengan pajak-pajak dalam
rangka impor meliputi Pajak Penghasilan Pasal 22 impor, Pajak Pertambahan Nilai impor,
dan/atau Pajak Penjualan Barang Mewah impor yang telah dibayar dan menyebabkan
terjadinya kelebihan pembayaran pajak. Pembayaran pajak yang terkait dengan pajakpajak dalam rangka impor tercantum dalam: SPTNP atau SPKTNP; SPKPBM, SPTNP,
atau SPP yang telah diterbitkan keputusan keberatan; SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang
telah diterbitkan keputusan keberatan dan putusan banding; SPKPBM, SPTNP, atau SPP
yang telah diterbitkan keputusan keberatan, putusan banding, dan putusan peninjauan
kembali; SPKTNP yang telah diterbitkan putusan banding; SPKTNP yang telah
diterbitkan putusan banding dan putusan peninjauan kembali; atau dokumen yang berisi
pembatalan impor yang telah disetujui oleh pejabat yang berwenang,
Permohonan untuk memperoleh pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak diajukan atas
suatu bukti pembayaran, bukti pemotongan/pemungutan pajak, faktur pajak atau dokumen lain
yang dipersamakan dengan faktur pajak. Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa
Indonesia dengan menggunakan format sesuai contoh:

Contoh surat permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya
tidak terutang.
Terhadap permohonan resitusi karena pajak yang seharusnya tidak terutang ini, kantor pajak akan
melakukan verifikasi. Verifikasi ini adalah prosedur baru di DJP setelah terbitnya Peraturan
Pemerintah nomor 74 Tahun 2011. Menurut definisinya, verifikasi adalah serangkaian kegiatan
pengujian pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif atau penghitungan dan pembayaran
pajak, berdasarkan permohonan Wajib Pajak atau berdasarkan data dan informasi perpajakan
yang dimiliki atau diperoleh Direktur Jenderal Pajak, dalam rangka menerbitkan surat ketetapan
pajak, menerbitkan/menghapus Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau mengukuhkan/mencabut
pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
Dalam hal untuk melakukan verifikasi diperlukan tambahan dokumen pendukung lainnya yang
terkait dengan permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya
tidak terutang, DJP dapat meminta dokumen tersebut kepada Wajib Pajak. Biasanya dokumendokumen yang perlu adalah bukti pembayaran pajak seperti Surat Setoran Pajak (SSP). Bisa juga
Surat Pemberitahuan Pajak baik SPT Badan jidak terkait PPh maupun SPT Masa PPN. Jika
semuanya sudah sesuai ketentuan yang berlaku, maka akan diterbitkan SKPLB (surat ketetapan
pajak lebih bayar).
Dalam rangka verifikasi, petugas akan memastikan bahwa pajak yang direstitusikan sudah
dibayar di bank persepsi dengan mengecek NTPN. Kemudian mengecek apakah sudah
dikreditkan di SPT. Kalau terkait PPh Pasal 22, apakah sudah dikreditkan di PPh Badan atau
belum. Kalau terkait PPN impor, apakah sudah dikreditkan sebagai pajak masukan atau belum,
atau apakah sudah dibiayakan atau belum.

Sebelum surat ketetapan pajak diterbitkan, maka akan diberikan SPHV (surat pemberitahuan
hasil verifikasi). Setelah itu Wajib Pajak dapat menanggapi SPHV. Jika tidak setuju dapat
memberikan bukti-bukti pendukung yang mungkin belum diperhitungkan oleh petugas. Dan
petugas harus memberikan undangan pembahasan verifikasi. Jika tanpa undangan ini, maka atas
ketetapan pajaknya dapat dibatalkan. Tata cara verifikasi lebih lengkap dapat dilihat di Peraturan
Menteri Keuangan nomor 146/PMK.03/2012. Atau bisa juga disini.

RESTITUSI DENGAN SKPLB


Restitusi dengan SKPLB yang dimaksud disini adalah restitusi dengan "pintu" Pasal 17B
Undang-Undang KUP. Seperti kutipan diatas, Pasal 17B mengharuskan Direktur Jenderal Pajak
setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak,
menerbitkan surat ketetapan pajak paling lama 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan
diterima secara lengkap. Pada prakteknya tentu saja yang melakukan pemeriksaan adalah
pemeriksa pajak atas perintah Direktur Jenderal Pajak. Dan yang memberikan surat perintah
pemeriksaan bukan Direktur Jenderal Pajak langsung tetap Kepala UP2 yang telah diberikan
pendelegasian wewenang.
Surat permohonan yang dimaksud bisa surat terpisah dari SPT yang menyatakan lebih bayar atau
bisa hanya SPT saja. Ada bagian di SPT sebelum tanda tangan yang harus dipilih oleh Wajib
Pajak. Dengan mengisi pilihan tersebut berarti dianggap permohonan.

contoh contrengan di form 1770S yang diartikan permohonan resitusi.


Dalam hal setelah menyampaikan Surat Pemberitahuan ke kantor pajak dan Wajib Pajak sudah
diberikan LPAD (Lembar Pengawasan Arus Dokumen) maka terhadap Surat Pemberitahuan
tersebut sudah dianggap lengkap. Tetapi jika belum diberikan LPAD maka kantor pajak akan
meminta kelengkapan yang diperlukan. Tetapi sebenarnya, walaupun sudah diberikan LPAD,
bisa saja kantor pajak menganggap masih belum lengkap sehingga meminta kelengkapan lain

yang belum atau terlupakan saat penyampaian SPT. Atau bisa juga kantor pajak justru
menyatakan bahwa Surat Pemberitahuannya dianggap bukan Surat Pemberitahuan. Kewenangan
ini diatur di Pasal 3 ayat (7) Undang-Undang KUP. Bagian penjelasan ayat ini mengatakan,
"Surat Pemberitahuan yang ditandatangani beserta lampirannya adalah satu kesatuan yang
merupakan unsur keabsahan Surat Pemberitahuan. Oleh karena itu, Surat Pemberitahuan dari
Wajib Pajak yang disampaikan, tetapi tidak dilengkapi dengan lampiran yang dipersyaratkan,
tidak dianggap sebagai Surat Pemberitahuan dalam administrasi Direktorat Jenderal Pajak.
Dalam hal demikian, Surat Pemberitahuan tersebut dianggap sebagai data perpajakan."
Dalam hal kantor pajak menganggap tidak disampaikan, maka kantor pajak wajib
memberitahukan kepada Wajib Pajak. Nah, jika Wajib Pajak menerima surat pemberitahuan
seperti ini, Wajib Pajak wajib hukumnya menanyakan dan melengkapi kekurangannya. Jika
tidak, maka SPT yang menyatakan lebih bayar tersebut dianggp bukan SPT dan dianggap bukan
permohonan restitusi.
Penjelasan lebih renci terkait pemeriksaan dapat dilihat di laman sebelah. Silakan. Tetapi secara
singkat, tahapan restitusi dengan pemeriksaan didahului dengan penyampaian Surat
Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan atau Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor.
Setelah itu, ada prosedur peminjaman dokumen, SPHP, Pembahasan, dan penerbitkan surat
ketetapan pajak.
RESTITUSI DENGAN KRITERIA TERTENTU
Restitusi dengan kriteria tertentu yang dimaksud disini adalah restitusi untuk Wajib Pajak Patuh.
Peraturan Menteri Keuangan nomor 74/PMK.03/2012 telah menentukan kriteria-kriteria agar
Wajib Pajak bisa ditetapkan sebagai Wajib Pajak Patuh. Kriteria kepatuhan disini lebih kepada
kepatuhan formal yang dilakukan oleh Wajib Pajak. Berikut kriteria Wajib Pajak Patuh:
[a.] tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan;
[a.1.] penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan selama 3 (tiga) Tahun Pajak terakhir yang
wajib disampaikan sampai dengan akhir tahun sebelum tahun penetapan Wajib Pajak Dengan
Kriteria Tertentu dilakukan tepat waktu;
[a.2.] penyampaian Surat Pemberitahuan Masa yang terlambat dalam tahun terakhir sebelum
tahun penetapan Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu untuk Masa Pajak Januari sampai
November tidak lebih dari 3 (tiga) Masa Pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturutturut;
[a.3.] Surat Pemberitahuan Masa yang terlambat telah disampaikan tidak lewat dari batas waktu
penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Masa Pajak berikutnya; dan
[a.4.] seluruh Surat Pemberitahuan Masa dalam tahun terakhir sebelum tahun penetapan Wajib
Pajak Dengan Kriteria Tertentu untuk Masa Pajak Januari sampai November telah
disampaikan.
[b.] tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak
yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak, yaitu keadaan Wajib
Pajak pada tanggal 31 Desember tahun sebelum penetapan sebagai Wajib Pajak Dengan Kriteria
Tertentu.

[c.] Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan
pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturutturut, yaitu laporan keuangan yang dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan yang wajib disampaikan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut sampai dengan akhir
tahun sebelum tahun penetapan Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu.
[d.] tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima)
tahun terakhir.
Menurut bagian penjelasan Pasal 27 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 bahwa
tujuan pemberian pengembalian ini untuk mendorong Wajib Pajak patuh melaksanakan
kewajiban perpajakan. Inilah bunyi lengkapnya, "Pemberian pengembalian pendahuluan
kelebihan pembayaran pajak merupakan bentuk kemudahan yang diberikan kepada Wajib Pajak
untuk mendorong agar Wajib Pajak menjadi patuh dalam melaksanakan hak dan memenuhi
kewajiban perpajakannya. Setelah Wajib Pajak ditetapkan sebagai Wajib Pajak dengan kriteria
tertentu yang sering dikenal sebagai "Wajib Pajak Patuh" maka diharapkan Wajib Pajak
tersebut selalu patuh dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya."
Wajib Pajak dapat mengajukan diri untuk mendapatkan "status" Wajib Pajak Patuh. Batas waktu
pengajuan permohonan untuk menjadi Wajib Pajak Patuh paling lambat tanggal 10 Januari pada
tahun penetapan Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu. Paling lambat tanggal 20 Februari
Direktorat Jenderal Pajak akan menerbitkan Keputusan mengenai penetapan Wajib Pajak Dengan
Kriteria Tertentu.

contoh Surat Keputusan tentang Penetapan Wajib Pajak Patuh.


Peraturan Menteri Keuangan nomor 74/PMK.03/2012 mengatur Wajib Pajak Patuh dilihat dari
kepatuhan penyampaian SPT PPh. Sedangkan untuk kepatuhan penyampaian SPT Masa PPN
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 71/PMK.03/2010 tentang Pengusaha Kena
Pajak Beresiko Rendah Yang Diberikan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. Dasar
hukum Pengusaha Kena Pajak Beresiko Rendah adalah Pasal 9 ayat (4c) Undang-Undang PPN.
Penetapan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) beresiko rendah diberikan untuk PKP yang
tidak pernah dilakukan pemeriksaan bukti permulaan dan/atau penyidikan dalam jangka waktu
24 (dua puluh empat) bulan terakhir dan:
[a.] Perusahaan Terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan saham
disetornya diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;
[b.] perusahaan yang saham mayoritasnya dimiliki secara langsung oleh Pemerintah Pusat
dan/atau Pemerintah Daerah; atau
[c.] produsen selain Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b,
yang memenuhi persyaratan tertentu.
PKP persyaratan tertentu untuk mendapatkan PKP beresiko rendah, yaitu:
1. tepat waktu dalam penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
selama 12 (dua belas) bulan terakhir,
2. nilai Barang Kena Pajak yang dijual pada tahun sebelumnya paling sedikit 75% (tujuh
puluh lima persen) adalah produksi sendiri; dan
3. Laporan Keuangan untuk 2 (dua) tahun pajak sebelumnya diaudit oleh Akuntan Publik
dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian atau Wajar Dengan Pengecualian.
Wajib Pajak yang telah ditetapkan sebagai Pengusaha Kena Pajak Beresiko Rendah dan Wajib
Pajak Patuh dapat meminta pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak. Restitusi
pajak dilakukan dengan penelitian, bukan pemeriksaan. Dan setelah dilakukan penelitian, kantor
pajak akan menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak
(SKPPKP). Menurut Pasal 17C ayat (1) Undang-Undang KUP, bahwa SKPPKP
diterbitkan paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk Pajak
Penghasilan, dan paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap untuk
Pajak Pertambahan Nilai

RESTITUSI DENGAN PERSYARATAN TERTENTU


Berdasarkan Pasal 17D ayat (1) Undang-Undang KUP bahwa Direktur Jenderal Pajak berwenang
menerbitkan SKPPKP setelah dilakukan penelitian. Pemberian SKPPKP yang berdasarkan Pasal
17D adalah untuk Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu. Apa sebenarnya maksud
persayaratan tertentu? Apa bedanya dengan kriteria tertentu?
Pada dasarnya kriteria tertentu sebagaimana dimaksud Pasal 17C adalah Wajib Pajak Patuh. Ya,

kriteria disini menunjukkan Wajib Pajak tersebut telah membuktikan secara konsisten,
setidaknya pada periode tertentu, memenuhi kepatuhan formal. Dilihat dari sisi manajemen
risiko, Pasal 17C dianggap memiliki risiko rendah.
Sebenarnya Pasal 17D juga memiliki anggapan yang sama, yaitu DJP memandang Wajib Pajak
yang memenuhi persyaratan tertentu ini memiliki risiko rendah. Hanya saja, perbedaannya antara
17C dengan 17D adalah dari sisi nominal restitusi. Pasal 17D dimaksudkan untuk restitusi
"recehan". Karena itu, Peraturan Menteri Keuangan nomor 178/PMK.03/2013 mengatur
persyaratan tertentu seperti ini:
1. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yang
menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan lebih bayar restitusi;
2. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yang
menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan lebih bayar restitusi
dengan jumlah lebih bayar paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah);
3. Wajib Pajak badan yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
lebih bayar restitusi dengan jumlah lebih bayar paling banyak Rp 100.000.000,00
(seratus juta rupiah); atau
4. Pengusaha Kena Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Pertambahan Nilai lebih bayar restitusi dengan jumlah lebih bayar paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Paradigma yang dibangun Peraturan Menteri Keuangan ini adalah mempermudah dan pelayanan.
Prosedur pelaksanaannya dipermudah dengan melalui penelitian saja! Pelayanan dimaksud
dengan mempercepat proses restitusi. Walaupun demikian, pimpinan DJP tetap memberikan satu
saringan agar tidak semua "recehan" tersebut diperlakukan sebagai yang memiliki risiko rendah.
Apa itu? Restitusi untuk Wajib Pajak "recehan" ini tetap harus didasarkan pada analisis risiko
yang pedomannya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Analisis risiko yang ditetapkan
Dirjen Pajak telah dituangkan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE12/PJ/2014. Dibawah ini kutipan SE-12/PJ/2014 terkait analisis risiko.
Analisis Risiko terhadap Permohonan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak
Terkait SPT Tahunan Pajak Penghasilan:
1. Kepatuhan penyampaian SPT terpenuhi dalam hal Wajib Pajak telah menyampaikan SPT
Tahunan Pajak Penghasilan untuk 1 (satu) Tahun Pajak terakhir yang sudah menjadi
kewajiban untuk disampaikan sebelum Tahun Pajak yang diajukan permohonan
pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak.
2. Kepatuhan dalam melunasi utang pajak terpenuhi dalam hal: Wajib Pajak tidak memiliki
utang pajak atau Wajib Pajak memiliki utang pajak namun terhadap utang pajak tersebut
belum diterbitkan Surat Paksa.

3. Kebenaran SPT untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak sebelumnya, merupakan
kebenaran formal dan terpenuhi dalam hal Wajib Pajak telah menyampaikan SPT
Tahunan Pajak Penghasilan dan lampiran-lampirannya, untuk 1 (satu) Tahun Pajak
terakhir yang sudah menjadi kewajiban untuk disampaikan sebelum Tahun Pajak yang
diajukan permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak, yang
dibuktikan dengan telah diterbitkannya tanda terima SPT.
Analisis Risiko terhadap Permohonan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak
Terkait SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai:
1. Kepatuhan penyampaian SPT terpenuhi dalam hal Wajib Pajak telah menyampaikan SPT
Masa Pajak Pertambahan Nilai untuk 3 (tiga) Masa Pajak terakhir yang sudah menjadi
kewajiban untuk disampaikan sebelum Masa Pajak yang diajukan permohonan
pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak.
2. Kepatuhan dalam melunasi utang pajak terpenuhi dalam hal: Wajib Pajak tidak memiliki
utang pajak atau Wajib Pajak memiliki utang pajak namun terhadap utang pajak tersebut
belum diterbitkan Surat Paksa.
3. Kebenaran SPT untuk Masa Pajak sebelum-sebelumnya sebagaimana dimaksud pada
butir 1 huruf c merupakan kebenaran formal dan terpenuhi dalam hal Wajib Pajak telah
menyampaikan SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai dan lampiran-lampirannya untuk 3
(tiga) Masa Pajak terakhir yang sudah menjadi kewajiban untuk disampaikan sebelum
Masa Pajak yang diajukan permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak, yang dibuktikan dengan telah diterbitkannya Bukti Penerimaan Surat
(BPS).
Prosedur analisis ini juga dimaksudkan untuk menentukan jalur 17B atau jalur 17D. Jika masuk
jalur 17B maka masuk ke pemeriksaan. Jika masuk jalur 17D maka masuk ke penelitian. Tetapi
tidak semua yang masuk jalur 17D dan dilakukan penelitian akan otomatis terbit SKPPKP. Bisa
jadi setelah dilakukan penelitian terdapat hal-hal yang menurut peneliti "beresiko sedang atau
tinggi". Dalam hal peneliti memutuskan tidak menerbitkan SKPPKP maka diteruskan ke
prosedur 17 ayat (1) seperti yang dijelas diatas, yaitu melalui pemeriksaan dengan jatuh tempo
sama dengan daluwarsa penetapan.
Ini salah satu perbedaan aturan 2014 dengan sebelumnya. Peraturan Menteri Keuangan nomor
54/PMK.03/2009 masih memberikan pilihan kepada Wajib Pajak apakah mau penelitian atau
pemeriksaan. Jika melalui "pintu" penelitian maka akan diberikan SKPPKP tetapi jika kemudian
hari diperiksa akan dikenakan sanksi kenaikan 100%. Sanksi ini yang sering menjadi
pertimbangan Wajib Pajak untuk tidak memilih pintu penelitian. Wajib Pajak cenderung memilih
pemeriksaan. Sedangkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 198/PMK.03/2013 DJP lebih
menentukan apakah atas kelebihan pajak tersebut diproses melalui pintu penelitian atau
pemeriksaan. Bisa jadi sejak awal DJP langsung mengarahkan melalui pintu pemeriksaan. Tetapi
ada juga yang semula dilakukan penelitian, tetapi karena sebab tertentu kemudian dilakukan
pemeriksaan dan memutuskan tidak menerbitkan SKPPKP.

Peraturan Menteri Keuangan nomor 198/PMK.03/2013 menyebut alasan tidak terbitnya


SKPPKP:
1. tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak;
2. Surat Pemberitahuan beserta lampirannya tidak lengkap;
3. penulisan dan penghitungan pajak tidak benar;
4. kredit pajak atau Pajak Masukan berdasarkan sistem aplikasi Direktorat Jenderal Pajak
tidak benar;
5. pembayaran pajak yang dilakukan oleh Wajib Pajak tidak benar; atau
6. Wajib Pajak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan atau Penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan.
Asumsi yang dipakai pada saat pembuatan Peraturan Menteri Keuangan nomor
198/PMK.03/2013 adalah bahwa SPT Lebih Bayar yang disampaikan oleh Wajib Pajak adalah
lengkap beserta lampiran yang diperlukan. Artinya, SPT Lebih Bayar tersebut telah dilengkapi
SSP dan copy bukti potong baik bukti potong PPh Pasal 21 maupun PPh Pasal 23. Sehingga
prosedur penelitian yang diatur diatas cukup konfirmasi kredit pajak atau Pajak Masukan
berdasarkan sistem aplikasi Direktorat Jenderal Pajak tidak benar.
Hal yang sedikit "mengacaukan" adalah prosedur penerimaan SPT melalui efiling. Kenapa saya
sebut mengacaukan? Karena prosedur penerimaan SPT melalui efiling sampai dengan 2014 ini
tidak ada unggah (upload) dokumen. Artinya, SPT yang diterima oleh DJP belum dilengkapi
oleh lampiran. Pada prakteknya, memang atas SPT yang menyatakan lebih bayar ini sering
memusingkan petugas di KPP untuk "sekedar" meyakinkan "darimana lebih bayarnya?".
Memusingkan karena seringkali Wajib Pajak justru tidak bermaksud meminta restitusi. Hal ini
diketahui setelah beberapa Wajib Pajak yang saya telpon menjawab seperti itu. Tapi kenapa lebih
bayar? Ada banyak varian penyebab lebih bayar, diantaranya:
[a.] pada saat input efiling, aplikasi mengisi otomatis dan Wajib Pajak tidak tahu bagaimana
melakukan edit.
[b.] Wajib Pajak tidak melakukan pengecekan status PTKP di Form 1721-A1 sehingga terdapat
perbedaan dengan yang dimasukkan di efiling.
[c.] perbedaan pembulatan penghasila kena pajak antara PPh Pasal 21 dan efiling. Biasanya
akibat lebih bayar karena pembulatan ini menghasilkan lebih bayar ratusan atau puluhan rupiah
saja!
Seperti yang saya tekankan diatas bahwa perlunya DJP menerapkan prinsip knowing your
taxpayer dalam rangka restitusi dengan persyaratan tertentu ini. Dalam hal terbukti Wajib Pajak
tidak kooperatif maka pendapat saya sebaiknya masuk jalur 17 ayat (1). Prosedur penelitian pada
prinsipnya permohonan. Wajib Pajak memohon restitusi disertai dokumen yang lengkap.
Setelah itu, peneliti melakukan cross check. Memastikan validitas dokumen yang disampaikan.
Dalam hal peneliti meyakini dokumen yang disampaikan maka diterbitkan SKPPKP!

Contoh Nota Penghitungan sudah menyiapkan semua kemungkinan. Nota Penghitungan adalah
dokumen terakhir setelah dilakukan penelitian, verifikasi, atau pemeriksaan sebelum diterbitkan
surat ketetapan pajak atau surat keputusan

VAT REFUND
VAT Fefund dilakukan berdasarkan Pasal 17E Undang-Undang KUP. Subjek VAT Refund adalah
subjek pajak luar negeri (WPOP Luar Negeri) yang melakukan pembelian BKP di dalam daerah
pabean yang tidak dikonsumsi di daerah pabean. Status WPOP Luar Negeri dibuktikan dengan
adanya paspor luar negeri dan:
1. bukan Warga Negara Indonesia atau bukan permanent resident of Indonesia, yang tinggal
atau berada di Indonesia tidak lebih dari 2 (dua) bulan sejak tanggal kedatangannya;
dan/atau
2. bukan kru dari maskapai penerbangan.
PPN yang dapat dikembalikan adalah PPN atas barang bawaan. Barang Bawaan adalah Barang
Kena Pajak yang dibeli oleh Orang Pribadi dari Toko Retail dan dibawa keluar Daerah Pabean
oleh yang bersangkutan dengan menggunakan moda transportasi pesawat udara, melalui bandar
udara. Menurut Peraturan Menteri Keuangan nomor 76/PMK.03/2010 ada pengecualian barang
bawaan yang tidak dapat dimintakan restitusi yaitu:

makanan, minuman, produk-produk tembakau;

senjata api dan bahan peledak; dan

barang yang dilarang dibawa ke dalam pesawat.

Begitu juga dengan toko tempat belanja, tidak semua PPN yang dibayar di toko retail bisa
dimintakan restitusi. Hanya toko retail yang memenuhi syarat yaitu toko yang menjual Barang
Kena Pajak di dalam Daerah Pabean dan telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, serta
berpartisipasi dalam skema pengembalian Pajak Pertambahan Nilai kepada Orang Pribadi, dan
telah ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak