Anda di halaman 1dari 7

AKUNTANSI BANK DAN LPD

AKUNTANSI UNTUK PINJAMAN YANG DITERIMA

OLEH:

I WAYAN DIVA PRADITA KAMAJAYA (1406305036)


KADEK KATON PRANATA

(1406305087)

I PUTU WAHYU SASKARA

(1406305156)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016

PINJAMAN YANG DITERIMA


A. Pengertian Pinjaman yang Diterima
Selain dana masyarakat yang lazimnya diserap oleh bank, seringkali suatu bank menerima
pinjaman dari pihak ketiga yang bukan nasabah perorangan, seperti lembaga keuangan di
dalam atau luar negeri, pemerintah atau lembaga lainnya. Pinjaman ini akan menambah
komponen dana suatu bank disisi passiva. Dari segi penggolongan hutang, lazimnya dana
dalam bentuk pinjaman yang diterima ini akan dibukukan sebagai hutang jangka panjang.
Dana ini memiliki bunga dan harus di administrasikan setiap kali jatuh tempo. Jadi Pinjaman
yang Diterima adalah fasilitas pinjaman yang diterima dari bank atau pihak lain termasuk dari
Bank Indonesia baik dalam bentuk mata uang rupiah maupun dalam mata uang asing dan
harus dibayar bila telah jatuh tempo. Dan pinjaman yang diterima merupakan jenis pinjaman
yang jangka waktunya lebih dari satu tahun. Dalam pengertian pinjaman yang diterima tidak
termasuk pinjaman subordinasi. Beberapa jenis pinjaman diterima antara lain :
1. Pinjaman jangka panjang dari bank lain. Pinjaman dari bank lain yang sifatnya jangka
panjang berupa penerbitan surat berharga dari bank yang menerima pinjaman, baik
dalam bentuk Sertifikat Deposito, Commercial Paper, atau jenis bentuk lainnya.
2. Pinjaman dari luar negeri yang disalurkan kepada pemerintah untuk kemudian
diteruskan kepada bank pelaksana. Pinjaman yang diterima dari suatu lembaga di luar
negeri yang disalurkan melalui pemerintah sebelum diterima oleh bank pelaksana
biasanya dikenal dengan nama Two Step Loan. Disebut Two Step Loan karena
pinjaman yang diberikan oleh kreditur dari luar negeri ini akan diterima oleh
pemerintah sebagai penjamin pinjaman tersebut untuk kemudian disalurkan kepada
bank-bank pelaksana untuk dipergunakan menyalurkan kredit perbankan.
3. Pinjaman Obligasi
4. Pinjaman dalam rangka pembiayaan bersama satu atau beberapa proyek.
B. Akuntansi untuk Pinjaman yang Diterima
1. Pinjaman dari Bank Lain
Pinjaman dari bank lain dapat diwujudkan dalam bentuk Sertifikat Deposito, Commercial
Paper dan surat berharga lainnya.

Contoh:

Bank XYZ Kantor Pusat memutuskan untuk meminjam dana dari Bank ABC sebesar Rp 30M
dan untuk itu Bank XYZ menerbitkan Sertifikat Deposito dengan jangka waktu 3 tahun. Suku
bunga sebesar 15% dalam setahun. Dana diterima oleh Bank XYZ dalam bentuk rekening
giro pada Bank ABC.
Jurnal pada Bank XYZ Kantor Pusat :
Bank Lain-Giro (Bank ABC)

Rp 30.000.000.000

Pinjaman yang Diterima


Sertifikat Deposito 3 Tahun

Rp30.000.000.000

Setahun kemudian, dimana Sertifikat tersebut belum jatuh tempo, Bank XYZ Kantor Pusat
harus memperhitungkan bunga selama 12 bulan pertama sebesar Rp 4.500.000.
Jurnal pada Bank XYZ Kantor Pusat :
Biaya Bunga Pinjaman yang Diterima-SD

Rp 4.500.000

Bank Lain-Giro (Bank ABC)

Rp 4.500.000

Pelaksanaan pemakaian dana pinjaman ini dapat saja dilakukan oleh kantor cabang. Sebagai
contoh, Bank XYZ kantor cabang Bogor hendak mempergunakan dana dari pinjaman
tersebut sebesar Rp 1 M, dan memohon agar Kantor Pusat untuk memindahkan dana tersebut.
Jurnal pada Bank XYZ Kantor Pusat :
RAK-Cabang Bogor

Rp 1.000.000.000

Bank Lain-Giro (Bank ABC)


Jurnal pada Kantor Cabang Bogor
Bank Indonesia-Giro
RAK-Kantor Pusat

Rp 1.000.000.000

:
Rp 1.000.000.000
Rp 1.000.0000.000

2. Two Step Loan


Proses terjadinya TSL ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

Bank PenerimaPemerintahBank Pemberi


Pinjaman RIPinjaman di
Dalam negeri LN

Sebagai Bank PenerimaSebagai


Kredit TSL
Penjamin dan Penyalur TSL

Bank LN
Lembaga LN
Pemerintah

cabang

cabang

Akuntansi untuk penerimaan dana TSL harus di administrasikan oleh Kantor Pusat dan akan
dibukukan kedalam rekening Pinjaman Yang Diterima-TSL. Rekening ini merupakan hutang
jangka panjang bagi bank yang bersangkutan.
Contoh:
Bank XYZ mendapatkan pinjaman melalui pemerintah RI dari Bank of Japan sebesar Rp
12M yang disalurkan melalui BI.
Jurnal oleh Kantor Pusat

Bank Indonesia-Giro
Pinjaman yang Diterima-TSL

Rp 12.000.000.000
Rp 12.000.000.000

3. Pinjaman Obligasi
Salah satu sumber dana yang sebaiknya dikembangkan oleh bank adalah dari penjualan surat
berharga obligasi. Pengadministrasian penerbitan obligasi ini harus diketahui oleh Kantor
Pusat sebagai dasar pengelolaan dana bank. Penjualan obligasi dapat saja dilakukan di
cabang. Pencairan obligasi pada saat jatuh tempo dapat dilakukan di cabang-cabang pada
bank tersebut.
Contoh:
Kantor Pusat Bank XYZ menerbitkan 1000 lembar obligasi @ Rp 1.000.000 dengan suku
bunga 12% setahun. Cabang Bogor berhasil menjual seluruh obligasi kepada masyarakat.
Jurnal :

Kas

Rp 1.000.000.000
Hutang obligasi

Rp 1.000.000.000

Pada saat sebulan kemudian, Kantor cabang Bogor akan menyisihkan biaya bunga obligasi
bulan pertama sebesar 1% :
Jurnal :
Biaya Bunga Obligasi

Rp 10.000.000

Hutang Bunga Obligasi

Rp 10.000.000

Bila ada nasabah yang telah membeli obligasi dari cabang Bogor sebanyak 10 lembar @Rp 1
juta dengan suku bunga 12% setahun datang ke cabang Surabaya hendak mencairkan obligasi
tersebut pada akhir bulan kedua sebelum bunga dibayarkan. Cabang Surabaya akan bertindak
hanya sebagai cabang pembayar. Pembayaran dilakukan dengan terlebih dahulu memeriksa
keabsahan dokumen atau bilyet obligasi yang dimiliki oleh nasabah yang bersangkutan dan
pembayaran bunga yang telah dilakukan. Oleh cabang Surabaya akan dibukukan melalui
perhubungan antar kantor sebagai berikut :
Jurnal :
RAK-Cabang Bogor

Rp 10.100.000

Kas

Rp 10.100.000

Oleh cabang Bogor sebagai cabang penjual obligasi akan dibukukan sebagai berikut :
Jurnal :
Biaya Bunga Obligasi

Rp

100.000

Hutang Obligasi

Rp 10.000.000

RAK-Cabang Surabaya

Rp 10.100.000

4. Pinjaman untuk Pembiayaan Bersama


Kewenangan pemberian pinjaman untuk tujuan pembiayaan bersama proyek-proyek
tertentu tetap berada pada kantor pusat. Untuk setiap kali diterima dana pinjaman untuk
tujuan pembiayaan bersama akan dibukukan ke dalam rekening Pinjaman Yang DiterimaPembiayaan Bersama. Rekening ini akan tetap outstanding disebelah passiva hingga proyek
yang dibiayai selesai dan pinjaman dilunasi oleh bank.

Proses pinjaman yang diterima dalam rangka pembiayaan dapat dijabarkan pada gambar
berikut ini :

Penerima kredit

Bank Koordinator Penyalur

Bank Penyalur

Pembiayaan Kredit

Modal

Contoh:
Bank XYZ hendak membiayai sebuah proyek sebesar Rp 300 M. Untuk memenuhi
kebutuhan dana ini telah bersedia dua buah bank lain: Bank ABC dan Bank DEF dengan
masing-masing sumbangan modal Rp 100 M. Jadi besarnya dana pinjaman yang diterima
untuk tujuan pembiayaan bersama ini sebesar Rp 200 juta yang disediakan langsung dalam
rekening giro dimasing-masing bank, sedangkan sisanya menjadi beban Bank XYZ. Untuk
mencatat transaksi ini, oleh Bank XYZ kantor pusat akan dibukukan sebagai berikut :
Jurnal :
Bank Lain-Giro (Bank ABC)

Rp 100.000.000

Bank Lain-Giro ( Bank XYZ)

Rp 100.000.000

Pinjaman yang Diterima Pembiayaan Bersama

Rp 200.000.000

Dengan demikian Bank XYZ, dalam kasus ini akan tetap bertanggung jawab terhadap kredit
yang diberikan, karena Bank XYZ telah menerima dana dari bank-bank penyalur dana dan
dana tersebut dikuasai langsung oleh Bank XYZ.
Dalam hal pembiayaan bersama ini dilakukan langsung dari bank pemberi dana kepada
penerima kredit, maka tanggung jawab atas kredit yang diberikan tersebut dibagi atas dasar
banyaknya kredit yang telah diserahkan oleh masing-masing bank. Proses ini dapat
dijabarkan sebagai berikut :

Penerima KreditPemberi Dana


Proyek

Menerima dan mempergunakan

Bank A
Bank B
Bank C

Dalam hal proses pembiayaan seperti diatas, Bank XYZ tidak pernah akan menerima
pinjaman yang diterima dari bank manapun, dan tidak akan muncul dalam neraca.