Anda di halaman 1dari 112

10.

DIRECT UNIT Comparison


11/20/2013 11:00:00 AM Ekbang 26 comments
Seri Ekonomi Pembangkitan
oleh: Kelompok 2
Bagus W. Wahyuntoro, Samuel LB. Parura, Felix Rudianto, Nino Teguh Pamuji

Prinsip provide energy at the lowest possible cost digunakan pada pemilihan alternatif pembangkit.
Setelah kandidat pembangkit ditentukan dengan total system cost analysis, bagaimana kita membandingkan pembangkit satu
dengan alternatif yang lain? Bagaimana kita mengambil keputusan dengan menggunakan perbandingan yang objektif?
Direct unit cost comparison merupakan perbandingan yang hanya menggunakan biaya pembangkit alternatif dalam
perhitungannya. Ada dua metoda direct unit comparison sebagai berikut.

1.

Cost of Electricity (COE)

2.

Lifecycle Cost (LCC)

Cost of Electricity (COE)


Merupakan biaya yang dikeluarkan tiap kWh atau tiap MWh oleh pembangkit tenaga listrik ($/MWh). COE sering juga disebut dengan
terminologi busbar cost.
COE digunakan pada pembangkit satu dengan yang lain, dengan membandingkan $/MWh atau $/kWh masing-masing pembangkit.
Pembangkit yang memiliki COE terendah yang akan dipilih.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ada dua komponen biaya pembangkitan:

1.

Biaya tetap (dalam $/year atau Rp/tahun),


harus dikeluarkan baik pembangkit beroperasi atau tidak, terdiri atas biaya investasi / kapital dan biaya tetap O&M

2.

Biaya variabel (dalam $/MWh atau Rp/kWh),


sebanding dengan fungsi energi yang dibangkitkan, terdiri atas biaya bahan bakar dan biaya variabel O&M

Cost of Electricity (COE) suatu pembangkit dihitung dengan persamaan berikut:


COE = 103 x [ D x fcr + Of ] / (8760 x Cf) + (Ov + h x F x 10-3)

COE = Cost of Electricity ($/MWh)

D = biaya kapital pembangkit ($/kW)

fcr = levelized fixed-charge rate (p.u.)

Of = Biaya tetap O&M ($/kW-yr)

Ov = Biaya variabel O&M ($/MWh)

Cf = Capacity factor (p.u.)

h = heat rate (kJ/kWh atau Btu/kWh)

F = biaya bahan bakar ($/GJ atau $/MBtu)


Esensi COE adalah satuannya, $/MWh. COE merupakan metode yang paling sering digunakan karena simple

menimbulkan

misleading,

namun sering

sebagai berikut:

Meskipun biaya investasi, D, dari tiap alternatif diperoleh secara konsisten, namun rating pembangkit yang sebenarnya bisa saja
berbeda.
Sehingga pembangkit tersebut belum tentu dapat memberikan energi yang sama kepada sistem dan tidak dapat berkontribusi pada
kehandalan sistem atau kemampuan memikul beban.

Meski rating-nya sama pun, pembangkit tersebut tidak dapat berkontribusi pada kehandalan sistem, apabila FOR-nya berbeda.

Capacity factor, Cf, harus diasumsikan pada pembangkit tersebut sehingga energi tahunan dapat dibandingkan satu dengan yang lain.

Lifecycle Cost (LCC)


Merupakan biaya yang dikeluarkan tiap tahun oleh pembangkit tenaga listrik ($/year).
Evaluasi LCC mempertimbangkan umur pembangkit (total unit life).
Komponen LCC adalah sebagai berikut:

Biaya Kapasitas Pembangkit (Capacity Cost)

Biaya Energi Pembangkit (Energy Cost)


Untuk menghitung LCC, mula-mula, salah satu alternatif dipilih menjadi base unit.

PERHITUNGAN CAPACITY COST


Kapasitas efektif pembangkit (base = L0 dan alternate = L) dihitung terlebih dahulu.
Biaya kapasitas base unit adalah sebagai berikut.
G0 = C0 x [ D0 x fcr + Of0 ]

G0 = Biaya kapasitas base unit ($/yr)

C0 = kapasitas pembangkit base unit (kW)

D0 = biaya capital pembangkit base unit ($/kW)

fcr = levelized fixed-charge rate (p.u.)

Of0 = biaya tetap O&M ($/kW-yr)

Biaya kapasitas alternate unit adalah sebagai berikut.


G = C x [ D x fcr + Of ] + ( L0 - L ) Sc

G = Biaya kapasitas alternate unit ($/yr)

C = kapasitas pembangkit alternate unit (kW)

D = biaya capital pembangkit alternate unit ($/kW)

L0 , L = kapasitas efektif pembangkit, base unit dan alternate unit (kW)

Sc = Biaya kapasitas system replacement ($/kWh-yr)


Komponen ( L0 - L ) Se meng-kompensasi perbedaan baik kapasitas dan FOR dari base unit dan alternate unit.

PERHITUNGAN ENERGY COST


Energi yang diproduksi base unit
W0 = C0 x 8760 x Cf
- W0 = Energi base unit (kWh/yr)
- Cf = capacity factor (p.u)

Biaya energi base unit (awal)


E0 = W0 x (h0 x F0 /106 + Ov0 /103)
- E0 = Biaya energi base unit ($/yr)
- h0 = Heat rate base unit (kJ/kWh atau Btu/kWh)
- F0 = Biaya bahan bakar base unit ($/GJ atau ($/Mbtu)
- Ov0 = Biaya variabel O&M base unit ($/MWh)

Energi yang diproduksi alternate units


W = C x 8760 x Cf x (1-Rf) / (1-Rf0)
- W = Energi alternate units (kWh/yr)
- Rf = FOR alternate unit (p.u)
- Rf0 = FOR base unit (p.u)

Biaya energi alternate units (awal) adalah sebagai berikut.


E = W x (h x F /106 + Ov /103) + (W0 W) x Se /103
- E = Biaya energi alternate unit ($/yr)
- h = Heat rate (kJ/kWh atau Btu/kWh)
- F = Biaya bahan bakar alternate unit ($/GJ atau ($/Mbtu)
- Ov = Biaya variabel O&M ($/MWh)
- Se = Biaya energi system replacement ($/MWh)

Komponen (W0 W) x Se meng-kompensasi biaya energi alternate unit terhadap biaya energi base unit.

yang kenyataannya berubah terhadap


waktu. Untuk itu harus dilakukan level terhadap capacity factor.
Pada biaya energi, terdapat komponen capacity factor

Gambar 1. Capacity Factor Trend

Demikian juga komponen fuel cost pada biaya energi yang kenyataannya juga berubah terhadap waktu dan harus dilakukan level
terhadap komponen fuel cost ini.

Gambar 2. Fuel Cost Trend

Demikian juga terhadap biaya O&M dapat dilakukan level yang sama.
Setelah dilakukan level terhadap capacity factor dan fuel cost, maka dilakukan level terhadap produk keduanya.
Kemudian hasilnya dimasukkan ke dalam persamaan biaya energi awal dan diperoleh biaya energi final.
Biaya energi (final) untuk base unit adalah sebagai berikut.

Biaya energi (final) untuk alternate unit adalah sebagai berikut.

Komponen Cf x F dan yang lainnya merepresentasikan ekuivalen dari komponen-komponen tersebut yang telah disetarakan (level).

SCREENING CURVES
Merupakan penggambaran (plot) dari annual cost pembangkit (dalam $/kW-year) terhadap capacity factor (dalam p.u.).
Screening curves bukan metode evaluasi yang menggantikan kalkulasi LCC.
Screening curves paling sering berguna untuk perbandingan kasar secara keseluruhan (gross comparison) pembangkit dengan
mode aplikasi yang berbeda atau untuk mengilustrasikan dengan mode seperti apa, tipe suatu pembangkit atau pembangkit baru
dapat digunakan.
Screening curves digambarkan untuk tiap pembangkit seperti Gambar 3 di bawah.
Pembangkit X merupakan suatu pembangkit dengan biaya investasi yang tinggi namun biaya bahan bakar yang lebih rendah
dari pembangkit nuklir.

Gambar 3. Screening Curves (tanpa eskalasi)

Bagaimana menginterpretasikan kurva tersebut?


Untuk beban dasar (Cf> 0.5), pembangkit nuklir relatif terbaik.
Untuk beban puncak (Cf< 0.35), pembangkit gas relatif memiliki biaya terendah.
Untuk faktor kapasitas sekitar 0.4, terlihat combined-cycle dapat dijalankan terus, bersaing dengan penggunaan pembangkit
batubara.
Pembangkit X harus keluar (screened out) dari pertarungan karena tidak memiliki biaya terendah pada faktor kapasitas berapapun
Apabila digunakan asumsi eskalasi 8% tiap tahun untuk biaya bahan bakar dan O&M akan diperoleh . screening curves seperti
Gambar 4 di bawah.

Gambar 4. Screening Curves (dengan eskalasi)

Pada Gambar 4 tersebut terlihat bahwa terjadi pergeseran proporsi biaya bahan bakar dan biaya investasi.
Pembangkit X yang dapat digunakan pada area faktor kapasitas tinggi, sehingga pembangkit nuklir hanya dapat digunakan untuk
aplikasi midrange.
Pembangkit combined-cycle masih dapat digunakan namun pada area yang kecil.
Pembangkit batubara tidak dapat dijalankan (screened out) karena tidak memiliki biaya terendah pada faktor kapasitas berapapun.
Pembangkit turbin gas tetap dapat digunakan untuk beban puncak namun dengan area faktor kapasitas mengecil.
Screening curve tidak dapat digunakan sebagai dasar pemilihan pembangkit selanjutnya yang ditambahkan pada jaringan.
Penambahan pembangkit baru harus menggunakan analisis keekonomian (total system cost analysis).

Summary

Direct unit comparison berguna untuk pemilihan pembangkit yang mirip dan tipe sama setelah
unit size dan heat rate ditentukan dengan total system cost analysis.
Direct unit comparison juga berguna untuk menggambarkan mode aplikasi suatu pembangkit
dimana secara ekonomi menjadi kompetitif. Penggambaran tersebut menggunakan screening
curve, yang relatif sederhana dan cukup akurat.
Metode Cost of Electricity (COE) atau dengan membandingkan $/MWh masing-masing
pembangkit, meskipun paling sering digunakan, namun ambigu dan rentan menjadi gambaran
yang salah.
Metode Lifecycle Cost (LCC) lebih memakan waktu, namun memberikan lebih banyak
pengertian, lebih lengkap, lebih akurat dan lebih disukai.
Dengan metode manapun, prinsip at the lowest possible cost menjadi dasar dalam pemilihan pembangkit.

STUDI KASUS
Coba gunakan COE dan LCC untuk pemilihan pembangkit di bawah ini.

Symbol

Pembangkit #1
(base)

Pembangkit #2 (alternate)

Capacity

500 MW

490 MW

Plant Cost

950 $/kW

930 $/kW

Heat Rate

9,500 kJ/kWh (9,005 Btu/kWh)

10,000 kJ/kWh (9,479 Btu/kWh)

Fuel Price

1.65 $/GJ (1.74 $/MBtu)

1.65 $/GJ (1.74 $/MBtu)

O&M Fixed Cost

Of

4.0 $/kW-year

4.0 $/kW-year

O&M Variable Cost

Ov

2.4 $/MWh

2.5 $/MWh

Forced-Outage Rate (p.u.)

Rf

0.1

0.12

Discount Rate (p.u.)

0.12

Inflation Rate (p.u.)

0.08

Fixed-Charge Rate (p.u.)

fcr

0.18

Useful Life

30 years

LOLP slope

600 MW

System replacement capacity


cost

Sc

System replacement energy


cost

Se

50 $/kW-year

22 $/MWh

Referensi:

Energy Information Administration (EIA), (2013), Updated Capital Cost Estimates for Utility Scale Electricity Generating
Plants, Washington, DC 20585

Marsh, W.D., Electric Utility Power Generation Economics, Clarendon Press Oxford, University Press, NY

K.E. Holbert, (2011), Electric Energy Economics

Shaalan, H.E., Generation of Electric Power

http://dddusmma.wordpress.com/2011/11/01/true-cost-of-electricity/

Bahan Diskusi
1.

Dari studi kasus di atas, evaluasi dan lakukan perhitungan dengan menggunakan COE dan LCC !

2.

Seandainya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dimasukkan ke dalam screening curve, kira-kira bagaimana penggambarannya? Pada
range capacity factor seperti apa pembangkit tersebut beroperasi?

3.

Bagaimana fuel cost trend energi fosil (batubara, minyak dan gas) di Indonesia? Dari sepuluh tahun terakhir, berapa inflation rate-nya?
Sebutkan referensi pendukung.

4.

Dengan tetap menggunakan prinsip at the lowest possible cost, pembangkit batubara (PLTU) memiliki biaya pembangkitan yang
cukup rendah untuk beban dasar, menurut IEA dan menurut statistik PLN. Mengapa PLTU masih jarang digunakan untuk pembangkit di
luar Jawa?

26 komentar:
1.

Manajemen Energi20 November 2013 11.01


1. Dari studi kasus di atas, evaluasi dan lakukan perhitungan dengan menggunakan COE dan LCC !
Balas
Balasan

1.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)23 November 2013 04.47
Cost of Electricity (COE) pembangkit tersebut dapat dihitung melalui persamaan di atas sbb:
COE = 10e3 x [ D x fcr + Of ] / (8760 x Cf) + (Ov + h x F x 10e-3)
Pembangkit #1 (base unit) menghasilkan COE sebagai berikut:
COE1 = 10e3 x [ D x fcr + Of ] / (8760 x Cf) + (Ov + h x F x 10e-3)
= 10e3 x [ 950x0.18 + 4 ] / (8760x0.8) + (2.4 + 9,005x1.74x10-3)
= 24.97 + 18.07
= 43.04 $/MWh
Pembangkit #2 (alternate unit) menghasilkan COE sebagai berikut:
COE2 = 10e3 x [ D x fcr + Of ] / (8760 x Cf) + (Ov + h x F x 10e-3)
= 10e3 x [ 930x0.18 + 4 ] / (8760x0.8) + (2.5 + 9,479x1.74x10e-3)
= 24.46 + 18.99
= 43.45 $/MWh
Sehingga diperoleh COE pembangkit #1 (base unit) yang lebih kecil dibandingkan dengan pembangkit #2 (alternate unit).

2.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)23 November 2013 05.34
Dari langkah-langkah dan persamaan yang diperlihatkan di atas, perhitungan LCC adalah sebagai berikut.
Langkah 1 Menghitung kapasitas efektif pembangkit
Pembangkit #1 (base unit) menghasilkan kapasitas efektif sebagai berikut:
Lo = Co Mo x ln ( 1 Rfo + ( Rf0 x exp(Co/Mo) ) )
= 500 600 x ln ( 1 0.1 + 0.1 x e 500 / 600 )
= 426.62 MW (0.42662 GW)
Pembangkit #2 (alternate unit) menghasilkan kapasitas efektif sebagai berikut:
L = C M x ln ( 1 Rf + ( Rf x exp(C/M) ) )
= 490 600 x ln ( 1 0.12 + 0.12 x e 490 / 600 )
= 405.33 MW (0.40533 GW)

Langkah 2 Menghitung biaya kapasitas (capacity cost)


Pembangkit #1 (base unit) menghasilkan biaya kapasitas sebagai berikut:
Go = Co x [ Do x fcr + Ofo ]
= 500 x 103 x [ 950 x 0.18 + 4.0 ]
= 87,500,000 $ / year ( USD 87.5 MM / year )
Pembangkit #2 (alternate unit) menghasilkan biaya kapasitas sebagai berikut:
G = C x [ D x fcr + Of ] + ( Lo - L ) x Sc
= 490 x 103 x [ 930 x 0.18 + 4.0 ] + ( 426.62 - 405.33 ) x 50
= 83,986,000 + 1,064,500
= 85,050,500 $ / year ( USD 85.1 MM / year )
Langkah 3 Menghitung biaya energi (energy cost)
Apabila diasumsikan trend dari Capacity Factor (Cf) sebagaimana terlihat pada trend di atas dan eskalasi bahan bakar, O&M dan biaya
energi system replacement adalah 8% seperti terlihat di atas, maka levelized Capacity Factor dengan bahan bakar (dari perhitungan)
adalah:
(Cf x Fo)lev. = (Cf x F)lev. = 1.132 x 1.65 = 1.87
Dengan cara yang sama, levelized Capacity Factor dengan biaya variabel O&M (dari perhitungan) dari pembangkit #1 adalah:
(Cf x Ovo)lev. = 1.132 x 2.4 = 2.72
Sedangkan untuk pembangkit #2 adalah:
(Cf x Ov)lev. = 1.132 x 2.5 = 2.83
Levelized Capacity Factor dengan biaya energi system replacement (dari perhitungan) adalah:
(Cf x Se)lev. = 1.132 x 22 = 24.9
Pembangkit #1 (base unit) menghasilkan biaya energi sebagai berikut:
Eo = 8760 x Co x ( ho x (Cf x F)lev. / 10e6 + (Cf x Ovo)lev. / 10e3 )
= 8760 x 500 x 10e3 x [ 9500 x 1.87 / 10e6 + 2.72 /10e3 )
= 89,700,000 $ / year ( USD 89.7 MM / year )
Pembangkit #2 (alternate unit) menghasilkan biaya energi sebagai berikut:
E = 8760 x C x [ (1-Rf) / (1-Rfo) ] x ( h x (Cf x F)lev. / 10e6 + (Cf x Ov)lev. / 10e3 )
+ 8760 x [ C Co (1-Rf) / (1-Rfo) ] x (Cf x Se)lev. / 10e3 )
= 8760 x 490 x 10e3 x [ (1-0.12) / (1-0.1) ] x ( 10,000 x 1.87 / 10e6 + 2.83 / 10e3 )
+ 8760 x [ 500 490 (1-0.12) / (1-0.1) ] x 24.9 / 10e3 )
= 94,900,000 $ / year ( USD 94.9 MM / year )
Langkah 4 Menghitung total lifecycle cost (LCC)
Pembangkit #1 (base unit) menghasilkan LCC sebagai berikut:
LCCo = Go + Eo = 87,500,000 + 89,700,000 = 177,200,000 $/year (USD 177.2 MM/year)
Pembangkit #2 (alternate unit) menghasilkan biaya kapasitas sebagai berikut:
LCC = G + E = 85,050,500 + 94,900,000 = 180,000,000 $/year (USD 180 MM/year)
Karena useful life selama 30 tahun, maka Present Worth masing masing pembangkit dapat dihitung dengan CRF(30,0.12) sebagai
berikut
Present Worth pembangkit #1 = PW0 = (177.2) / 0.12414 = ($ 1,427 MM)
Present Worth pembangkit #2 = PW = (180.0) / 0.12414 = ($ 1,450 MM)
Present Worth bernilai negatif karena semua berupa komponen biaya.
Langkah 5 (optional) perbedaan biaya investasi
Perbedaan biaya tahunan dapat diubah menjadi perbedaan biaya investasi yang ekuivalen sebesar:
Capital Cost = ( LCC LCCo ) / fcr = (180-177.2)/0.18 = USD 15.6 MM
Atau dengan kata lain, total biaya investasi (plant cost) dari unit alternatif harus direduksi sebesar 15.6 juta dolar agar nilainya sama
dengan base unit (pembangkit #1)
Atau terhadap plant cost alternate unit tersebut, 15.6 x 103 / 490 = 31.8 $/kW
Dari perhitungan di atas, terlihat LCC pembangkit #1 lebih rendah bila dibandingkan dengan pembangkit #2.
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13

3.

dedy rachmansyah23 November 2013 07.24


Ms bagus sbelum menjawab pertanyaan diatas saya agak tertarik dan mau menanyakan terkait metode COE dan LCE yg kmren dibahas
di kelas, yaitu bilamana kedua metode tsb digunakan? dan dr gambaran dan penjelasan sptnya keduanya tidak bisa di dipakai bersamasama dalam menentukan keputusan investasi krn memiliki konteks yang sangat berbeda, pertanyaan saya mungkinkah kedua metode ini
bisa digabungkan dan bilamana digunakannya sehingga mendapatkan keputusan yang ideal.?
salam, dedy.r

4.
nino27 November 2013 08.21
Ingin memberi tanggapan atas pertanyaan mas dedi, seperti yang telah dijelaskan pada presentasi dan juga dibuku diktat, untuk metode
COE resiko kemungkinan misleading cukup beasr mengingat metode tersebut tidak memasukkan beberapa parameter dalam
perhitungan seperti kehandalan (force outage), tetapi relatif lebih mudah dan lebih cepat dilakukan karena memang lebih simple.
Dan mengacu pada kesimpulan di kelas dimana COE lebih tepat dilakukan untuk analisa awal dari pembangkit, kemungkinan
penggabungan kedua metode dapat dilakukan dengan cara menggunakan metode COE saat analisa masih dalam preliminary atau
analisa awal, dan memberikan hasil dalam nilai range, lalu menggunakan metode LCE untuk analisa yang lebih mendetail dan
dibutuhkan keputusan nilai akhir, dengan begini dari sisi keputusan diharapkan dapat mengakomodir metode yang tersedia, dan tetap
akurat
Balas

2.
Manajemen Energi20 November 2013 11.02
2. Seandainya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dimasukkan ke dalam screening curve, kira-kira bagaimana penggambarannya? Pada
range capacity factor seperti apa pembangkit tersebut beroperasi?
Balas
Balasan

1.
Indrawan Nugrahanto24 November 2013 23.37
Dalam perencanaan dan operasi sistem tenaga listrik, pemilihan jenis pembangkit selain ditentukan dari biaya tetap dan biaya
variabelnya juga ditentukan dari biaya yang dinyatakan dengan fungsi pemanfaatannya.
Besar kecilnya biaya tetap dan biaya variabel setiap jenis pembangkit berbeda-beda, dan biaya tersebut dapat dinyatakan sebagai fungsi
jam operasi,
Dalam hal ini jenis pembangkit dapat dibagi dalam tiga golongan sbb :
Pembangkit dengan biaya tetap yang rendah dan biaya variabel yangtinggi, contoh PLTG
Pembangkit dengan biaya tetap yang agak tinggi dan biaya variabel yang agak rendah, contoh PLTU aau PLTGU
Pembangkit dengan biaya tetap yang sangat tinggi dan biaya variabel yang rendah sekali, PLTN dan PLTA
Selain ditentukan oleh biaya tetap dan biaya variabel, pemilihan jenispembangkit pada waktu perencanaan dan pengoperasian sistem
tenagalistrik juga ditentukan oleh karakteristik beban harian sistem tenagalistrik tersebut serta karakteristik operasi pembangkit (response
time terhadap perubahan beban = ramp rate pembangkit).artinya dalam metode screening curve posisi atau letak PLTA dilihat dari
capacity factor dapat di samakan dengan posisi PLTN.
Sumber : http://www.slideshare.net/alamtuaralampung/sde-tm12f
indrawan Nugrahanto ME 13

2.
Catur Janhari10 Desember 2013 09.55
Pak Indra, berdasarkan Statistik PLN rata-rata Rp/kWH (RP. 155.87/kWH) PLTA lebih murah dibandingkan yang lainnya. Untuk biaya
perawatan no.2 terendah setelah PLTP, penyusutan aktiva no.3 terendah setelah PLTU dan PLTP, biaya pegawai dan lain-lain no.2
tertinggi setelah PLTD (semua per kWH).
Mohon pencerahan mengenai perbedaan dengan penjelasan Pak Indra bisa terjadi?
Berdasarkan as lowest possible cost seharusnya PLTA menjadi pilihan no.1 untuk base load, mohon pencerahan rekan-rekan dan datadata mengapa PLTA tidak sepenuhnya sebagai pilihan no.1 sebagai base load.

3.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)21 Desember 2013 16.48
Mas Catur, dari literatur yang sama-sama kita pelajari, hal tersebut benar apabila PLTA tersebut merupakan run-off river. Namun bila
PLTA tersebut menggunakan kolam tando (reservoir), dimana aliran sungai dibendung dengan bendungan besar dan terjadi penimbunan
air, maka biasanya difungsikan untuk beban puncak. Karena begitu pintu air dibuka dan air dialirkan, maka turbin akan berputar, begitu
pula generator dan memikul beban. Pada PLTA run-off river, daya yang dibangkitkan tergantung pada debit air sungai. Terlebih bila
musim kemarau tiba, maka akan terjadi kekurangan air sungai. Oleh sebab itu, capacity factor PLTA bergantung pada tipe PLTA tersebut.
Dibandingkan dengan pembangkit tenaga listrik lainnya dengan daya mampu yang sama, biaya operasi PLTA paling rendah. Akan tetapi,
biaya pembangunannya paling mahal. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah perencanaan teknik PLTA lebih banyak bersifat
"customized" atau "tailored made" karena tergantung pada kondisi tempat PLTA dibangun; dengan kata lain, sulit dibuat produk standar.
Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan terlebih bila PLTA menggunakan kolam tando seperti:
1. Perencanaan bendungan, termasuk material, ketinggian, lebar dan luas lahan yang akan tergenang, dsb.
2. Letak bangunan turbin, termasuk bagaimana mengalirkan airnya dari bendungan kemudian mengalirkan air balik ke sungai
3. Tinggi terjun air
4. Hidrologi atau curah hujan, biasanya membutuhkan data 10 tahun terakhir
5. Debit sungai, tidak semua sungai di Indonesia dapat dibendung dan dibuat PLTA
6. Keadaan hutan dan daerah aliran sungai (DAS)
7. Daya terpasang PLTA dan jumlah unit pembangkit
8. Pembebanan tidak boleh kurang dari 30% karena akan menimbulkan kavitasi
9. Macam turbin yang akan digunakan, apakah tipe Pelton, Francis, Kaplan, dsb.
10. Macam atau tipe katup
11. Tangki surja
12. dsb.
Selain itu, PLTA umumnya terletak di daerah pegunungan, jauh dari pusat konsumsi tenaga listrik sehingga memerlukan saluran
transmisi yang amat panjang.
Sumber:
1. Marsudi, D. (2011). Pembangkitan Energi Listrik (Edisi kedua). Jakarta: Penerbit Erlangga.
2. NREL, Utility-Scale Energy Technology Capacity Factors
Bagus W., ME'13
Balas

3.
Manajemen Energi20 November 2013 11.02
3. Bagaimana fuel cost trend energi fosil (batubara, minyak dan gas) di Indonesia? Dari sepuluh tahun terakhir, berapa inflation rate-nya?
Sebutkan referensi pendukung.
Balas
Balasan

1.
chairy23 November 2013 07.35
Harga energi fosil di Indonesia selama 10 tahun terakhir cenderung meningkat, walaupun harga gas alam sempat mengalami penurunan
pada tahun 2007 dan 2011, begitu juga dengan minyak yang mengalami penurunan pada tahun 2009.
Berikut adalah tabel harga energi dari tahun 2004-2012 (sumber: Statistik PLN 2012)
Tahun Batu Bara Gas Alam Minyak
(Rp/kg) (Rp/MMSCF) (Rp/liter)
2004 230,75 21.258,05 1.740,31
2005 251,55 25.323,76 2.574,44
2006 335,81 24.185,59 4.838,13
2007 338,76 23.480,99 4.881,43
2008 489,23 29.128,16 7.906,23
2009 732,32 37.998,48 5.186,76
2010 656,71 42.287,16 5.815,65
2011 698,62 39.867,31 8.188,09
2012 746,22 63.757,56 8.629,80

2.
ilham budi23 November 2013 15.09
trend harga satuan bahan bakar untuk pembangkit listrik terus mengalami kenaikan sejak tahun 2004 sampai tahun 2012, dengan ratarata kenaikan:
a. Batubara : 18% (2004: Rp. 231/kg, 2012: Rp. 746/kg)
b. BBM : 28% (2004: Rp. 1.740/L, 2012: Rp. 8.630/L)
c. Gas Alam : 16% (2004: Rp. 21.258/MSCF, 2012: Rp. 63.757/MSCF)
untuk rata-rata inflasi dari tahun 2004 sd 2012 sebesar 7,29%
Sumber: BPS klik.
Statistik PLN 2012 klik.

3.
Indrawan Nugrahanto25 November 2013 00.05
dari 10 tahun terakhir inflation rate dari energi fossil cenderung naik hal ini dapat di buktikan di sumber ini
http://www.tradingeconomics.com/indonesia/fossil-fuel-energy-consumption-percent-of-total-wb-data.html.
Indrawan nugrahanto ME 13

4.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)30 November 2013 08.48
Beberapa mengenai hal ini pernah juga didiskusikan di Website Manajemen Energi - Studi Kasus 1. Mungkin bisa menjadi referensi.
Mudah-mudahan bermanfaat.
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13
Balas

4.

Manajemen Energi20 November 2013 11.02


4. Dengan tetap menggunakan prinsip at the lowest possible cost, pembangkit batubara (PLTU) memiliki biaya pembangkitan yang
cukup rendah untuk beban dasar, menurut IEA dan menurut statistik PLN. Mengapa PLTU masih jarang digunakan untuk pembangkit di
luar Jawa?
Balas
Balasan

1.
ilham budi23 November 2013 17.21
Pelaksanaan pembangunan proyek PLTU batubara program FTP 1 di luar Jawa Bali mengalami kendala yang mengakibatkan
kemunduran dari rencana COD awal pada periode tahun 2010-2012 menjadi tahun 2012-2014, dimana PLTU yang telah COD sampai
September 2013 total sebesar 247 MW atau 10% dari total kapasitas yang direncanakan 2.437 MW. Pembangkit yang direncanakan
tersebut tersebar di Pulau Sumatera (1.411 MW), Kalimantan (625 MW), Sulawesi (220 MW), Maluku (44 MW), Nusa Tenggara (117 MW)
dan Papua (20 MW).
Selain program FTP 1, sampai dengan tahun 2021 telah direncanakan pembangunan PLTU batubara melalui program FTP 2, KPS dan
reguler dengan total kapasitas sebesar 11.205 MW (Indonesia Barat: 6.853 MW dan Indonesia Timur 4.352 MW). Sumber: RUPTL PLN
2012-2021
Balas

5.
Tyas Kartika Sari21 November 2013 15.12
Kebutuhan listrik di luar jawa tidak terlalu besar apabila dibandingkan di Pulau Jawa, sedangkan biaya pembangunan PLTU
membutuhkan biaya yang besar dibandingkan dengan pembangkit-pembangkit lain, sehingga di luar Jawa lebih banyak pembangkit jenis
PLTD, PLTA untuk pemenuhan kebutuhan listrik, meskipun biaya operasional PLTU lebih murah dibandingkan pembangkit jenis PLTD.
Balas
Balasan

1.
Fajardhani Fajardhani22 November 2013 07.33
Mungkin bisa penjelasan untuk wilayah luar Jawa yang lebih spesifik. Apakah ada data pendukung untuk pernyataan Ibu Tyas tentang
hal tersebut?

2.
Tyas Kartika Sari25 November 2013 11.17
I . SECTOR TELLO
1 WESTCAN W191 G) GTPP 14,466,00 9,000,00 Standby
2 ALSTHOM (PG 5341) GTPP 21,350,00 14,000,00 Maintenance
3 ALSTHOM (PG 5341) GTPP 20,100,00 Standby
4 GENERAL ELECTRIC (MS 6001 B)GTPP33,400,00 21,000,00 30,000,00 Operation
5 GENERAL ELECTRIC (MS 6001 B) GTPP 33,400,00 28,000,00 Standby
6 MITSUBISHI (18 V52/55A) DEPP 12,600,00 7,500,00 Maintenance
7 MITSUBISHI (18 V52/55A) DEPP 12,600,00 8,000,00 8,000,00 Operation
8 SWD (9 TM 620) DEPP 12,396,00 Maintenance
9 SWD (9 TM 620) DEPP 12,396,00 Maintenance

10 NANJING TURBIN CFSPP 500,00 350,00 Operation


11 NANJING TURBIN CFSPP 500,00 350,00 Operation
12 TOSHIBA (VF IRS) HEPP 63,000,00 63,000,00 63,000,00 Operation
13 TOSHIBA (VF IRS) HEPP 63,000,00 63,000,00 63,000,00 Operation
II. SECTOR BAKARU
1 ZHEJIANG JINLUN (HLA 194 WJ 50) HEPP 390,00 350,00 356,00 Operation
2 JINLUN (FRANCIS) HEPP 700,00 650,00 259,00 Operation
3 JINLUN (FRANCIS) HEPP 700,00 650,00 602,00 Operation
4 CATERPILLAR (3508) DEPP 800,00 700,00 Standby
5 CATERPILLAR (3508) DEPP 800,00 700,00 Standby
6 DEUTZ (BV 8M 628) DEPP 1,224,00 950,00 Standby
7 MTU (12V 4000 G61) DEPP Standby
8 MTU (12V 4000 G61) DEPP 1060,00 950,00 Standby
9 DEUTZ (BV 8M 628) DEPP 1,224,00 950,00 Standby
III. IPP PROJECT DEPP
1 PT. COGINDO DAYA BERSAMA DEPP 50,000,00 47,000,00 47,000,00 Operation
2 PT. SENTRAL DAYA ENERGI DEPP 20,000,00 20,000,00 Operation
3 PT. BIMA GOLTENS POWERINDOTLS-1 DEPP 15,000,00 15,000,00 Operation
4 PT. BIMA GOLTENS POWERINDOTLS-1 DEPP 20,000,00 20,000,00 Operation
5 PT. BUMI BAKARA ENERGI TLS-3 DEPP 25,000,00 25,000,00 Operation
6 PT. BIMA GOLTENS POWERINDOTLS-4 DEPP 30,000,00 30,000,00 Operation
7 PT. BIMA GOLTENS POWERINDOTLS-5 DEPP 20,000,00 20,000,00 Operation
8 PT. SEWATAMA MASAMBA DEPP 5,000,00 5,000,00 5,000,00 Operation
9 PT. ENERGI SENGKANG GTPP 195,000,00 192,000,00 192,000,00 Operation
10 PT. MAKASSAR POWER DEPP 60,000,00 60,000,00 59,000,00 Operation
11 PT. FAJAR PUTRA ENERGI LUWU HEPP 2,400,00 Operation
12 PT. SULAWESI MINI HYDRO POWER HEPP 10,000,00 10,000,00 8,000,00 Operation
13 PT. MALEA HEPP
14 PT. ANOA HYDRO POWER HEPP
15 PT. BOSOWA ENERGI CFSPP 200,000,00 Operation
16 PT. POSO ENERGI HEPP 120,000,00 Operation
TOTAL 1,101,116.00 685,200.00 496,766.00
Berikut merupakan data yang diambil dari RUPTL untuk system Sulawesi periode 2012-2021.
Disini diambil contoh untuk daerah sulawesi selatan, terlihat bahwa saat ini kondisi power system di daerah tersebut masih didominasi
oleh pembangkit jenis diesel, hydro dan gas turbin. Dalam Tabel tersebut kolom pertama menjelaskan unit pembangkit, kolom kedua
tentang jenis pembangkit, kolom ketiga tentang power installed (kw), kolom keempat tentang power capable (kw) kolom kelima tentang
peak load (kw) dan kolom keenam tentang status pembangkit. Untuk system unit pembangkit di daerah sulawesi selatan, dibagi 3 unit
yaitu sektor Tello, sektor Bakaru dan IPP Project. Namun tidak dipungkiri juga semakin tinggi harga bahan bakar diesel, pemerintah mulai
membangun PLTU-PLTU di daerah sulawesi ini. Demikian pak fajar, mungkin ada koreksi atau tambahan dari bapak, maaf mau upload
dalam bentuk image buat datanya, belum belum berhasil kemarin.

3.
Nurrahman Jarman3 Desember 2013 18.03
Mba Tyas,
Mohon pencerahan, mana yang lebih dahulu suplai listrik atau beban listrik. Karena menurut saya rasio elektrifikasi yang masih berkisar
70-80% dapat diasumsikan bahwa Indonesia masih membutuhkan suplai listrik yang relatif besar selain transmisi baru. Menurut hemat
saya, permintaan listrik diluar Jawa yang rendah mungkin juga dikarenakan suplai listrik yang belum mencukupi. Mohon dikoreksi

4.
Catur Janhari4 Desember 2013 18.24
Menambahkan pendapat mbak Tyas, faktor geografis dan kondisi kebutuhan load apakah terpusat atau tersebar. Faktor lain yang perlu
diperhatikan adalah masalah tranportasi batubara ke pembangkitan dan penyimpannya, pembangunan sistem tranmisi. Sebagai contoh
pembangunan 6 unit PLTS Hybrid off Grid di Karang Asem Bali. Bu Tyas atau rekan-rekan ada yang mau sharing distribusi dari
kebutuhan listrik disalah satu daerah di luar jawa beserta pembangkit listrik?.

5.

Irham16 Desember 2013 15.20


Data yang ditampilkan Bu Tyas merupakan kapasitas pembangkit di Sulawesi (luar Jawa), sedangkan besar kebutuhan listrik adalah
daya terpasang ditambah permintaan daya dari pelanggan yang belum terlayani.
Sebagai contoh tingkat elektrifikasi di Sulawesi Tengah pada Maret 2013 baru sebesar 62% sedangkan pertumbuhan konsumsi listrik di
Palu Sulawesi Tengah pada tahun 2012 paling tinggi di Indonesia, yaitu 20%.
Sumber :
http://www.dpr.go.id/id/berita/komisi7/2013/apr/22/5707/elektrifikasi-sulawesi-tengah-baru-62-persen
http://www.pln.co.id/?p=7466
Irham, ME'13
Balas

6.
Fajardhani Fajardhani22 November 2013 07.24
Esensi COE adalah satuannya, $/MWh sedangkan LCC adalah $/year. Mempelajari metode perhitungannya untuk membandingkan 2
pembangkit di atas, apakah mungkin terjadi inkonsistensi hasil akhirnya? Jika terjadi, mana yang sebaiknya kita pilih?
Balas
Balasan

1.
Irham25 November 2013 15.05
Mungkin saja terjadi perbedaan antara COE dan LCC karena pada perhitungan COE ada variabel yang diabaikan sedangkan di LCC
masuk dalam perhitungan. Seperti penjelasan Pak Fajar tentang cara berkomunikasi orang teknik dengan orang keuangan (non teknik),
maka COE akan lebih dapat diterima. Akan tetapi saat terjadi perbedaan sebaiknya lebih menggunakan LCC karena perhitungan pada
LCC lebih menyeluruh dan mencakup hal-hal yang tidak diperhitungkan dalam COE.

2.
argi3 Desember 2013 05.22
Sesuai dengan yang telah kita pelajari pada comparing alternative dimana biaya yang menjadi salah satu kunci untuk sebuah investasi,
jika terjadi inkonsistensi maka perhitungan yang digunakan COE akan digunakan karena output dari suatu pembangkit adalah berapa
banyak listrikyang dihasilkan/ Mwh
argianto
ME 13
Balas

7.
Catur Janhari9 Desember 2013 15.51
Apakah ada kemungkinan dibuat sama antara COE dan LCC?
Berdasarkan formula dan perhitungan Pak Bagus, terlihat perbedaan yang paling mendasar pada LCC digunakan kapasitas efektif
sedangkan pada menggunakan kapasitas pembangkit.
$/year masih bisa di konversi menjadi $/MWh dengan estimasi rata-rata pembangkitan per tahun.
Sedangkan $/MWh bisa dikonversi menjadi $/year dengan estimasi kapasitas efektif pembangkit. Untuk mengestimasi COE secara
akurat diperlukan estimasi daya yang dibangkitkan setiap tahun berdasarkan demand forecast dan maintenance forecast. Sehingga
didapatkan rata-rata pembangkitan dan $/year yang mendekati dengan metode LCC.
Balas

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis


11/20/2013 10:54:00 AM Ekbang 14 comments
Seri Ekonomi Pembangkitan
oleh: Kelompok 3
Arif Budiman, Dedy Rachmansyah, Elif Doska Marliska, Indrawan Nugrahanto

Pendahuluan
Pada studi keekonomian pembangkitan, dalam kerangka menerapkan prinsip provide electricity at the lowest possible cost, ditemukan beberapa
tantangan yang memerlukan solusi dengan menggunakan Total System Analysis.
Analisis tersebut berlaku dari pembangkitan yang sederhana hingga pembangkitan untuk perluasan sistem dari unit-unit yang sudah ada dan
retirement suatu unit.
Sistem pembangkitan merupakan suatu sistem yang berkembang;
artinya bahwa setiap unit pembangkitan yang baru harus dipilih berdasarkan sistem operasinya dan keekonomiannya yang sesuai demi konsistensi
penerapan prinsip tersebut di atas.
Kesesuainya bukan hanya pada unit-unit yang sudah ada namun juga harus memperhitungkan unit-unit yang akan direncanakan di kemudian hari.
Oleh karena itu dibutuhkan simulasi sistem jangka panjang untuk pemilihan besarnya unit pembangkit dan tipe unit pembangkit yang akan dibangun.

Pemilihan Tipe Unit Pembangkit


Berdasarkan sumber energinya pembangkit dapat berupa:

pembangkit nuklir

fosil ataupun hydro.

Akan tetapi secara garis besar tipe pambangkit dapat dikelompokkan berdasarkan model operasinya terhadap beban yaitu :

Contoh
No.

Tipe Pembangkit

KARAKTERISTIK
Jenis Pembangkit

Baseload

Tidak dapat mengikuti perubahan beban


Proses start lama
Harga bahan bakar relatif murah
Dibangkitkan mendekati daya mampunya

PLTU, PLTN

Capacity factor 75-85%


2

Midrange

Tidak terlalu cepat mengikuti perubahan beban

PLTGU

Starting relatif lebih singkat dibanding untuk baseload


Harga bahan bakar relatif lebih mahal dibanding baseload
3

Peakload

Cepat mengikuti perubahan beban

PLTG, PLTD

Proses start cepat


Harga bahan bakar mahal
Dibangkitkan sebagai cadangan saat beban puncak
Capacity factor antara 0-20%

Idealnya untuk mendapatkan optimasi pembangkitan proses pembangkitan dapat dilakukan dengan membagi-bagi permukaan di
bawah kurva lama beban (load duration curve) menjadi segmen-segmen yang dialokasikan pada setiap pusat manajemen
kelistrikan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Kurva Durasi Beban Memperlihatkan Kapasitas Pembangkitan Di Tahun Ke-0

Akan tetapi dalam realitanya pembangkit yang bekerja pada baseload tidak selamanya bisa terus men-supply dalam satu tahun.
Sehingga kurva lama beban tersebut harus diubah menjadi kurva lama pembangkitan (generation duration curve). Hal ini dapat
dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Kurva Durasi Pembangkitan Memperlihatkan Kapasitas Pembangkitan Di Tahun Ke-0

Dari kurva durasi pembangkitan tersebut, biaya total pembangkitan tentu saja meningkat karena pembangkit yang diperuntukkan pada beban puncak
(peak load) beroperasi lebih lama sehingga biaya bahan bakar akan naik.
Dengan adanya kasus seperti itu maka diperlukan sebuah solusi yaitu dengan menambah pembangkit yang memiliki biaya yang lebih rendah seperti
pembangkit nuklir (PLTN).
Jika diasumsikan ada pembangkit nuklir yang masuk dan memikul beban dasar (base load) maka pembangkit tersebut dapat mengisi daerah di bawah
kurva tersebut seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Kurva Durasi Pembangkitan Dengan Adanya Pembangkit Baru

Dengan strategi tersebut setidaknya dapat mengurangi biaya pembangkitan total akan tetapi pemilihan strategi tersebut tetap harus
mempertimbangkan hal-hal yang lainnya.

Mixed Pattern Operations : Economics & Optimization


Pada suatu studi kasus pengembangan yang melibatkan pembangkit turbin gas (PLTG), pembangkit combined-cycle dan pembangkit nuklir (PLTN),
diperoleh suatu kurva investasi terhadap biaya bahan bakar yang dapat digambarkan pada Gambar 4 di bawah.

Gambar 4. Karakteristik Biaya Pengembangan Unit Pembangkitan

Pembangkit tipe lain, apabila digambarkan tidak harus mengikuti kurva tersebut.
Namun disini terlihat prinsip berikut.
Prinsip pertama, suatu bauran (mixture) dari beberapa tipe pembangkit akan lebih ekonomis bila dibandingkan dengan satu tipe.
Prinsip kedua, suatu bauran (mixture) dari beberapa tipe pembangkit akan memberikan fleksibilitas operasi bila dibandingkan dengan satu tipe.
Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa besar pembangkit nuklir yang dibangun haruslah memperhatikan mengenai besar base load
yang akan ditanggung.
Apabila pembangkit yang dibangun terlalu besar dibanding dengan energi listrik untuk base load yang digunakan maka akan
semakin besar biaya reserve sehingga akan tidak optimal secara biaya.
Apabila suatu simulasi dilakukan mengenai besar PLTN yang harus di bangun ke dalam sistem maka akan terlihat hasil pada
Gambar 5 di bawah ini.

Gambar 5. Grafik Besar Kapasitas PLTN Yang Efektif

Gambar di atas memperlihatkan kapasitas unit pembangkit yang paling efektif untuk PLTN sebesar 3.500 MW.
Simulasi ini dapat diterapkan pada jenis pembangkit lainnya dengan memperhatikan besaran net saving yang paling besar. Net
saving merupakan pengurangan Fix Charges Saving dengan Production Cost Penalty.

Pemilihan Besar Unit Pembangkit


Plant cost akan mengalami penurunan untuk setiap MWh yang dihasilkan. Dalam batas tertentu, jika unit pembangkit yang dibangun semakin besar
seperti terlihat pada Gambar 6 di bawah ini.

Gambar 6. Plant Cost Berdasarkan Besar Unit

Begitu pula dengan O&M Cost seperti terlihat pada Gambar 7 di bawah ini.

Gambar 7. Biaya O&M Terhadap Besar Unit

Meskipun semakin besar unit pembangkit yang dibangun memiliki Plant Cost dan O&M Cost yang lebih kecil,
akan tetapi dalam membangun pembangkit perlu diperhatikan optimalisasi antara pilihan membangun pembangkit dengan hanya
satu pembangkit besar atau beberapa pembangkit yang lebih kecil yang setara dengan satu unit pembangkit yang besar.
Pembangunan beberapa pembangkit yang lebih kecil akan memperbesar biaya plant cost dan O&M cost, akan tetapi akan
memperkecil reserve cost.
Namun demikian, pada kondisi tertentu pembangunan satu pembangkit besar akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan
pembangunan beberapa pembangkit yang lebih kecil, misalnya dari satu pembangkit besar menjadi dua pembangkit dengan besar
separuh dari apabila hanya akan dibangun satu pembangkit besar.
Apabila simulasi tersebut digambarkan, maka akan terlihat hubungan alternatif tersebut seperti Gambar 8 di bawah ini

Gambar 8. Prinsip Dari Optimalisasi Unit

Jadi penentuan tipe dan besar suatu unit pembangkit dilihat dari :

Karakteristik beban yang akan disuplai;


Untuk pembangkit tipe beban dasar (base load) jangan sampai terlalu banyak sisa daya mampu yang dijadikan sebagai cadangan
(reserve) yang diakibatkan karakteristik beban yang fluktuatif.

Apabila pola beban sangat fluktuatif, maka diperlukan pembangkit yang dapat mengikuti beban sehingga menjadi tidak berguna
membangun pembangkit base load dengan kapasitas yang sangat besar karena tidak mampu mengikuti beban.

Memperhitungkan investasi awal (plant cost), biaya O&M dan reserve cost untuk memperoleh besar unit pembangkit yang paling
optimal.

Mempertimbangkan sistem transmisi yang tersedia;


Apabila ingin membangun pembangkit, ketersediaan infrastruktur sistem transmisi dan kapasitas sistem transmisi yang telah ada perlu
dicermati.
Terkadang, biaya untuk transmisi juga harus diperhitungkan

Pemberhentian Operasi (Retirement) Unit Pembangkit


Tujuan pembelajaran dalam hal pembangkitan adalah:
untuk memilih jenis keekonomisan dan ukuran dari unit pembangkit dimasa mendatang, yang mana merupakan hasil analisis karakteristik dan
pertumbuhan beban, yang digabungkan antara analisis atau perkiraan pemberhentian dari pembangkit, dimana unit pembangkit tersebut akan habis
masa pakainya.
Jadwal dari unit pembangkit yang habis masa pakai disiapkan berdasarkan studi dari 20 tahun, dan progres dari pembelajaran unit diambil dari LOLP
dan model kapasitas produksi.
Hal ini merupakan cerminan dari kebutuhan sistem cadangan dan biaya produksi dan tidak terpengaruh oleh efek biaya kapital jika pemberhentiaan
menjadi pilihan kasus yang dipelajari.
Perhitngan nilai NPV pada tahun pemberhentiannya, di rumuskan sebagai berikut :

dimana :
A(y) = Annual ad valorem taxe and insurance
T (y) = Anuual income tax
r

= discount rate

n1

= early retirement year

= normal retirement year

Pada kasus tertentu, mempensiunkan beberapa pembangkit lebih awal untuk menghemat biaya pajak bukanlah sesuatu yang memiliki efek besar
untuk meningkatkan optimalisasi biaya pembangkitan,
tetapi yang paling penting sebenarnya adalah dengan ketepatan penjadwalan masuknya pembangkit-pembangkit baru agar mencapai biaya
pembangkitan yang optimal melalui perhitungan lebih lanjut dengan LOLP.
Nilai fixed charge pembangunan pembangkit baru merupakan sebuah konsekuensi jika melakukan pensiun lebih awal pada suatu pembangkit,
tetapi di sisi lain penggantian pembangkit baru akan menurunkan biaya bahan bakar dan biaya O&M, sehingga akan membuat optimal biaya
pembangkitan.
Prosedur untuk menganilisa pemberhentian diawal kemungkinan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.

Pengembangan pemberhentian unit sesuai dengan schedule nya 20 tahun

2.

Pengembangan pemberhentian unit disesuaikan dengan kehandalannya

3.

Untuk jadwal penambahan, memperhitungkan present worth (PW), biaya produksi, PW dari biaya produksi dan tingkat biaya tetap dari
investasi baru.

4.

Mengeluarkan dari PW simpanan pajak di unit pemberhentian dari semua PW di rencana pemberhentian awal.

5.

Memiliki pilihan perencanaan yang paling rendah dari semua PW.

Ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan pada Total System Analysis selain dari bidang keteknikan tetapi juga karakteristik dari beban/pengguna
energi listrik itu sendiri yang lebih ke arah kecenderungan sosial berupa perilaku penggunaan energi listrik.
sehingga diharapkan, dengan mengetahui karakteristik beban maka pembangkit yang dipilih untuk pengembangan merupakan yang optimal, sehingga
prinsip provide electricity at the lowest possible cost dapat dipenuhi.

Sumber :
Marsh, W. D. Diktat Electric Utility Power Generation Economics. New York: Clarendon Press-Oxford, University Press.

Artikel Terkait

08. TOTAL SYSTEM Analysis

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

10. DIRECT UNIT Comparison

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


You might also like:
9. DEALING with UNCERTAINTY
Artikel Khusus 05: What happen to BIOFUEL?
TUGAS PENGGANTI UAS KEEKONOMIAN PEMBANGKIT 2012
08. PENERAPAN Strategi: Isu-isu Pemasaran, ...

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

14 komentar:
1.

Catur Janhari10 Desember 2013 09.05

Pak Dedy dan kawan-kawan, migrasi maintenance method menjadi real time base montoring) online predictive maintenance) dapat
mengoptimasi operasi pembangkit dan membuat penjadwalan maintenance yang akurat tanpa menimbulkan synthom atau resiko baru.
Contoh perhitungan dari benefit partial disharge online monitoring sebagai salah satu metode predictive maintenance adalah
menghindari re-winding altenator.
Benefit: Avoided future capital cost of a rewind and interest on borrowed capital.
Remaining Plant Life: estimated 20 years from 1998 (total life cycle of 60 years)
Costs: TGA Instrument, PD sensors and installation = $65 000.00
Periodic testing: 20 years @ $500.00/year = $10,000.00
Total: $75,000.00
Rewind cost:
170 MW Hydrogen-cooled generator, probably at 30 psig
Size would be similar to 230 MW Atikokan machine, ~ 4.5m, ~ 54 slots for rewind
need 120 bars (including spares)
Cost/bar = $10k to $15k
Material cost: $1.2M to $1.8M
Installation cost: $300,000 to $500,000
Estimated Rewind Capital Cost: $ 1,500,000.00
$ 2,300,000.00
Benefit/Cost Ratio: 1,500,000 / 75,000 = 20
2,300,000 / 75,000 = 30.7
Payback period: 1 year 8 months
untuk detailnya dapat di download dari link ini.
Balas

2.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)14 Desember 2013 20.46
Pemberhentian operasi (retirement) tanpa diikuti dengan replacement seringkali disebut dengan abandonment. Hal ini juga dijelaskan di
buku Engineering Economy 13th ed. karya Sullivan, W. G. et al, section 9.8.
Balas

3.
dedy rachmansyah15 Desember 2013 20.20
Bagaimana menurut P.Catur maintenance yang tepat, yang dapat mengoptimalkan lifetime unit lebih dari estimasi lifetime
replacementnya tanpa mengurangi target performance avalibilitinya serta realibility tetap terjaga.?
Balas

4.
Difi Nuary17 Desember 2013 09.47
Mencoba menjawab pertanyaan p.dedy, untuk maintenance yang tepat untuk dapat mengoptimalkan lifetime unit kita dapat mengikuti
schedule maintenance yang berkala dan berkelanjutan serta membuat data historis terhadap mesin tersebut, yang paling penting ialah
konsisten akan jadwal tersebut.
Balas

5.

argi25 Desember 2013 08.12


Apakah ada contoh di indonesia mengenai pemberhentian operasi pembangkit ?
Balas
Balasan

1.
Difi Nuary26 Desember 2013 12.51
Kalo yang dimaksud pak argi ialah pemberhentian secara schedule, berikut contohnya pada link dibawah ini :
klik disini.
Balas

6.
Manajemen Energi19 Desember 2015 09.20
Kelompok 1 ME-2015
Untuk sistem isolated di Indonesia, apa pilihan pembangkit yang tepat sebagai base load, load follower, dan peak load dalam rangka to
provide good quality energy at lowest possible cost?
Balas
Balasan

1.
indra aditya25 Desember 2015 17.49
Hybrid System atau Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) merupakan salah satu alternatif sistem pembangkit yang tepat
diaplikasikan pada daerah-daerah yang sukar dijangkau oleh sistem pembangkit besar seperti jaringan PLN atau PLTD. PLTH ini
memanfaatkan renewable energy sebagai sumber utama (primer) yang dikombinasikan dengan Diesel Generator sebagai sumber energi
cadangan (sekunder).
Pada PLTH, renewable energy yang digunakan dapat berasal dari energi matahari, angin, dan lain-lain yang dikombinasikan dengan
Diesel-Generator Set sehingga menjadi suatu pembangkit yang lebih efisien, efektif dan handal untuk dapat mensuplai kebutuhan energi
listrik
Pada umumnya PLTH bekerja sesuai urutan sebagai berikut:
1. Pada kodisi beban rendah, maka beban disuplai 100% dari baterai dan PV module, selama kondisi baterai masih penuh sehingga
diesel tidak perlu beroperasi.
2. Untuk beban diatas 75% beban inverter (tergantung setting parameter) atau kondisi baterai sudah kosong sampai level yang
disyaratkan, diesel mulai beroperasi untuk mensuplai beban dan sebagian mengisi baterai sampai beban diesel mencapai 70-80%
kapasitasnya (tergantung setting parameter). Pada kondisi ini Hybrid Controller bekerja sebagai charger (merubah tegangan AC dari
generator menjadi tegangan DC) untuk mengisi baterai.
3. Pada kondisi beban puncak baik diesel maupun inverter akan beroperasi dua-duanya untuk menuju paralel sistem apabila kapasitas
terpasang diesel tidak mampu sampai beban puncak. Jika kapasitas genset cukup untuk mensuplai beban puncak, maka inverter tidak
akan beroperasi paralel dengan genset.
Semua proses kerja tersebut diatas diatur oleh System Command Unit yang terdapat pada Hybrid Controller. Proses kontrol ini bukan
sekedar mengaktifkan dan menonaktifkan diesel tetapi yang utama adalah pengaturan energi agar pemakain BBM diesel menjadi efisien.
Indra Ardhanayudha Aditya,ME15

2.
asril irsadi27 Desember 2015 06.33
Pengelompokan jenis pembangkit kedalam kelompok base load, load follower, dan peak load sebagai dampak dari beban puncak lyang
berbeda pada waktu tertentu sehingga pemenuhan kurva beban dari suatu sistem disesuaikan sesuai dengan karakteristik masing masing pembangkit tersebut.
Untuk base load -> pembangkit yang digunakan adalah pembangkit yang biaya bahan bakarnya murah dan standby operasinya lama
(waktu penyalaan pembangkit sampai dapat memproduksi listrik). Karenanya, pembangkit yang digunakan untuk jenis beban ini adalah
PLTU dengan bahan bakar batu bara atau bahkan dapat juga PLTGU ataupun PLTP karena adanya ikatan kontrak take-or-pay
pembelian gas
Untuk load follower -> meliputi pembangkit yang lebih fleksibel namun lebih mahal dari pembangkit base load, seperti PLTGU gas dan
PLTU minyak.
alam.
Untuk peak load -> pembangkit yang digunakan adalah pembangkit yang standby operasinya cepat. Maksudnya, saat dibutuhkan
tambahan pasokan daya, pembangkit dapat langsung menyuplai tambahan daya tersebut. Jenis pembangkit yang sesuai seperti PLTD,
PLTG, serta PLTA Waduk.
Sumber :
1) https://watergius.wordpress.com/2011/03/02/kurva-beban-dan-alasan-memiliki-beragam-pembangkit/
2) http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/1602-12-960372951918.pdf
Asril Irsadi, ME 2015

3.
Hizkia Sandhi Raharjo29 Desember 2015 08.55
Menurut saya, PLTMH merupakan salah satu solusi terbaik yang patut dicoba jika suatu daerah teridentifikasi memiliki potensi air dengan
debit yang cukup sebagai sumber daya PLTMH
Suatu contoh, Desa Ampera memiliki potensi air yang berasal dari sebuah mata air yang tidak pernah mengalami kekeringan. Mata air ini
telah digunakan sebagai sumber air bagi kebutuhan rumah tangga tiga desa. Selain itu, mengalir pula sebuah sungai yang selama 20
tahun terakhir hanya satu kali mengalami kekeringan, yaitu ketika daerah tersebut dilanda kemarau berkepanjangan selama delapan
bulan.

Debit kedua sumber air tersebut diukur. Setelah diambil untuk kebutuhan rumah tangga bagi tiga desa berdekatan, mata air yang
dimaksud masih menyisakan aliran yang terbuang dengan debit sekitar 50 liter/detik yang kemudian bergabung dengan aliran sungai
dengan debit total sekitar 250 liter/detik. Tinggi head yang dapat diperoleh adalah sekitar 7 m. Dengan demikian, sebuah PLTMH dapat
dibangun di Desa Ampera dengan daya sekitar 15 kw. Berdasarkan topografi, tingkat kesulitan pekerjaan bangunan sipil relatif kecil dan
jumlah dana yang dibutuhkan diperkirakan Rp 350 juta Rp 400 juta. Jika dibandingkan dengan investasi untuk PLTS, yaitu satu modul
50 watt peak sebesar Rp 5 juta Rp 6 juta maka jumlah dana tersebut dapat digunakan untuk memberikan modul 50 watt peak bagi 80
buah rumah . Total daya terpasang hanya berjumlah 4 kw dengan keterbatasan pemanfaatan dari segi waktu pakai dan jenis manfaat.
Sebaliknya daya dari PLTMH, sebesar 15 kw tersebut, selain untuk penerangan sepanjang malam juga akan dapat digunakan untuk
pengembangan usaha produktif pada siang harinya, seperti pabrik es curah skala kecil untuk menyuplai kebutuhan es curah para
nelayan di Desa Ampera dan dua desa tetangga. Selain itu, pengolahan kelapa dengan mendirikan pabrik minyak kelapa skala kecil,
pengolahan jambu mete serta gula aren dapat menjadi pilihan usaha produktif yang bergantung pada manajemen pemanfaatan energi.
-Hizkia Sandhi Raharjo- (ME 2015)

4.
R Hermawan Wibowo30 Desember 2015 10.17
Untuk komentar Pak Arsil, Menurut saya, untuk saat ini apakah masih relevan teori yang ada diterapkan. Karena untuk kondisi sekarang
ada beberapa faktor yang dilihat untuk menyesuaikan dengan teori yang ada diantaranya:
1. Letak geografis suatu daerah.
Mempengaruhi kondisi pembangkit yang akan digunakan sebagai base load, load follower dan peak load. Letak geografis mempengaruhi
juga dari sumber energi yang ada didaerah tersebut. Dimana potensi sumber energi akan digunakan sebagai sumber yang akan
dibangkitkan.. Misalkan: PLTG mayoritas dibangun didaerah dataran tinggi, PLTA dibangun didaerah yang ada sungai / sumber air yang
stabil baik di musim hujan maupun kemarau.

2. Jumlah populasi dan aktifitasnya, akan mempengaruhi apakah daerah tersebut akan dibangun sebagai base, peak load atau load
follower. Setiap daerah memiliki persebaran populasi yang berbeda dan aktifitas yang diilakukan.
Menurut saya untuk kondisi yang diungkapkan Pak Arsil perlu ada penelitian atau pengkajian lebih lanjut untuk membuktikan masih
relevn atau tidak teorinya dalam rangka provide good quality energy at lowest possible cost.
R Hermawan Wibowo ME 15
Balas

7.
Fadolly Ardin29 Desember 2015 19.55
kebutuhan listrik di sistem isolated di indonesia memiliki karakteristik pola beban yang unik di masing masing daerah namun kebanyakan
didominasi dengan kebutuhan beban untuk konsumen rumah tangga. kondisi existing saat ini sistem isolated di indonesia masih
didominasi oleh PLTD berbahan bakar diesel yang memiliki kekurangan biaya pokok penyediaan tenaga listrik yang tinggi.
Menurut RUPTL PLN 2015 - 2024, Untuk pengembangan kelistrikan di sistem kelistrikan yang isolated dan di pulau-pulau kecil
pembangkit berbahan bakar diesel masih
diperlukan sebagai solusi untuk jangka pendek baik sebagai base load maupun peak load.
Namun secara jangka panjang diperlukan sebuah kajian yang mendalam dengan alternatif penggunaan teknologi
yang memungkinkan untuk mengganti bahan bakar minyak menjadi bahan bakar yang lebih
efisien misalnya LNG, biomassa dan batubara dengan PLTU skala kecil
atau juga digantikan dengan teknologi yang potensial untuk mengganti hal tersebut
di atas antara lain pembangkit thermal modular pengganti diesel (PTMPD) dengan bakar bakar
biomassa dan batubara, PLTMG, PLTD dual fuel serta pembangkit energi terbarukan seperti PLT Bayu dan PLT mikrohidro yang dihybrid
dengan PLTD maupun alternatif penggunaan bahan bakar biofuel untuk PLTD
untuk memasok daya bagi beban dasar (baseload) diperlukan pembangkit yang mampu bekerja secara terus menerus diantaranya
PLTG, PLTD berbahan bakar campuran biodiesel, PLTMG Mobile Powerplant yang biasanya dapat dioperasikan dengan bahan bakar
gas dan minyak (dual firing). sebaiknya untuk pembangkit baseload, kita memiliki pilihan pembangkit yang memiliki biaya pokok
pembangkitan lebih rendah daripada PLTD Konvensional dengan tingkat availability yang tinggi dan kemudahan ketersediaan bahan
bakar yang mencukupi sehingga pembangkit base load dapat selalu bekerja sepanjang waktu.
sedangkan untuk load follower, direkomendasikan menggunakan Pembangkit yang menggunakan bahan bakar biomassa seperti
cangkang sawit, POME, kayu, bambu yang biasanya mudah didapatkan karena merupakan komoditi yang terdapat di daerah dengan
sistem kelistrikan isolated atau PLTBiogas yang cocok diberlakukan pada daerah yang kegiatan ekonominya didominasi oleh sektor
peternakan. Pemerintah juga memberikan insentif ekstra kepada pembangkit listrik yang dapat memanfaatkan Bahan Bakar Nabati,
Biomassa dan biogas yang dioperasikan sebagai load follower di Indonesia.
untuk beban puncak, sistem isolated direkomendasikan untuk memanfaatkan pembangkit listrik energi terbarukan seperti angin,
mikrohidro, surya atau PLTHybrid diantara pembangkit - pembangkit tersebut. Hal ini dikarenakan untuk beban puncak listrik yang
dibutuhkan hanya untuk beberapa saat beban puncak sehingga pembangkit EBT yang memiliki karakteristik intermitten (ketersediaan
yang terbatas) dan biasanya memiliki kemampuan menyimpan energi melalui penggunaan baterai dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan beban puncak. ditambah lagi pembangkit EBT biasanya memiliki biaya pokok pembangkitan yang lebih murah daripada kita
mengoperasikan PLTD pada beban puncak.
Fadolly Ardin, ME 2015
Balas

8.
dwi laksmana30 Desember 2015 07.44
Sebelum membahas base load, follower dan peaking, perlu ditentukan dulu jenis pembangkitnya.
Studi kasus isolated power plant di Australia yaitu Ergon Energy.
Definisi pembangkit terisolasi menurut unfcc adalah:
1. Sistem terisolasi adalah sistem yang independen dan tidak terhubung ke jaringan nasional.
2. Daya yang dihasilkan oleh jaringan terisolasi tidak dikelola oleh satu operator jaringan
3. Kapasitas terpasang dari pembangkit kurang dari 100 MW
4. Jarak dari titik terdekat dari grid nasional adalah setidaknya 50 km
5. Terdiri dari generator diesel dan pembangkit energi terbarukan
Ergon Energy memiliki 33 pembangkit listrik mandiri di barat Queensland, Teluk Carpentaria, Cape York, Torres Strait Islands, Palm

Islands dan Mornington.


Jumlah : 33 pembangkit listrik
Pegawai : Semua stasiun dimonitor dari jarak jauh dan memiliki karyawan paruh waktu untuk melakukan perawatan ringan pada
pembangkit.
Ukuran : Kapasitas pembangkit berkisar antara 165 kW hingga 9.55 MW. Thursday Island adalah pembangkit listrik terbesar
berkapasitas 9.55 MW dengan empat site terbesar berikutnya dengan kapasitas terpasang 1-2 MW dan sisanya berkapasitas 300-1000
kW.
Pada dasarnya satu pulau kecil memiliki satu pembangkit. Jika ditinjau dari ukuran pulau, jumlah penduduk, dan kapasitasnya maka
pembangkit yang tepat adalah PLTG, atau PLTD. Untuk energi terbarukan dipakai PLTS, atau Geothermal bila tersedia. Semua tipe
tersebut tidak memerlukan area plant yang luas, dan tidak memerlukan banyak pegawai.
Dari tipe yang tersedia, PLTS dan Geothermal digunakan sebagai base load sedangkan PLTG, PLTD sebagai peaking.
Referensi :
https://www.ergon.com.au
http://cdm.unfccc.int
Dwi Laksmana (ME 2015)
Balas

9.
Nandi30 Desember 2015 17.29
Rendahnya rasio elektrifikasi salah satunya disebabkan oleh konsep lama dalam pembangkitan listrik. Pembangkitan listrik dipusatkan di
satu tempat dan disalurkan ke tempat yang membutuhkan melalui saluran transmisi dan distribusi.
Jika tidak ekonomis, maka saluran transmisi&distribusi ke daerah tersebut cenderung lebih lambat direalisasikan. Hal ini yang menurut
saya timbulnya istilah daerah terisolasi.
Di daerah seperti ini, konsep microgrid dengan memanfaatkan potensi energi primer di daerah tersebut dapat menjadi alternatif yang
menarik. Umumnya daerah terisolasi ini mempunyai potensi energi terbarukan (seperti angin, air, ombak laut, sinar matahar, dan
biomassa).
Selain itu, karakteristik beban di daerah terisolasi berbeda dengan yang telah menggunakan grid system. Umumnya fluktuasi beban saat
peak load tidak se-dinamis di kota besar, sehingga pembangkit-pembangkit pada microgrid tersebut tidak terlalu signifikan perbedaan
keekonomisannya untuk pemakaian baseload, load following, atau peak load.
Pada komentar sebelumnya:
"Dari tipe yang tersedia, PLTS dan Geothermal digunakan sebagai base load sedangkan PLTG, PLTD sebagai peaking". Namun, pada
prakterknya, perlu dilihat pada potansi energi yang ada di microgrid tersebut. Sebagai contoh pada Gabungan mikrohidro dan PLTS
yang diaplikasikan di Taratak, pulau Lombok pada tahun 1989. Sistem ini menggunakan baterai untuk menyimpan daya berlebih dan
memanfaatkannya saat dibutuhkan
*Walaupun menggunakan energi primer sinar matahari dan air yang umumnya tidak reliable, namun pembangkit hybrid tersebut bisa
digunakan untuk baseload karakteristik tersebut yang bisa menyimpan daya saat dibutuhkan sehingga mempunyai reliability sebagai
memasok daya untuk baseload di daerah terisolasi tersebut.
Sumber: http://electrifytheworld.blogspot.co.id/2011/04/microgrid-pembangkitan-listrik-untuk.html
Ayudha Nandi
ME' 2015

08. TOTAL SYSTEM Analysis


11/20/2013 09:30:00 AM Ekbang 20 comments

Seri Ekonomi Pembangkitan


oleh: Kelompok 1

Adam Rahmadan, Pondy Tjahjono, Tyas Kartika Sari, Willy Sukardi


Esensi dari Total System Analysis adalah simulasi sistim operasi dengan sasaran keandalan dan tingkat keekonomisan.

Gambar 1. Prosedur Total System Analysis

RELIABILITY CALCULATION
Penentuan waktu yang tepat untuk penambahan unit pembangkit, ada 2 metode yang umum digunakan dalam menilai reliability yaitu adalah :

Expansion by reserve criterion

LOLP

PENAMBAHAN UNIT BERDASARKAN KRITERIA RESERVE


(Expansion by Reserve Criterion)
Untuk menentukan waktu yang tepat dalam penambahan unit baru sehubungan dengan menjaga keandalan sistem dengan adanya pertumbuhan
beban.
Contoh :

System 1200MW, Beban Puncak 1000MW, Reserve Policy 20%, Unit terbesar yang baru ditambahkan dalam sistem adalah 100MW, Rt 5%.
Hitung nilai M (slope characteristic) :
1200MW*5% = 60MW
Hitung nilai unit L (effective capacity) :
L=C-M ln(1-Rt+RteC/M )
=100-60ln(1-0,05+0,05eC/M)
= 88,3MW
Hitung nilai sistem L (System Effective Capacity) :
L=System L + Unit L
=1000MW + 88,3MW
= 1088,3MW
Hitung system reserve

= (1300-1088,3)/1088,3
= 0,194
Hitung nilai M2 :
M2 = M1x Cap2 x Res2/(Cap1xRes1)
= 60x1300x0,194/(1200x0,2)
= 63,1

* Ulang perhitungan dengan menggunakan nilai M2


Hasil perhitungan dituangkan dalam tabel dan plot dalam kurva sebagai berikut:

Gambar 2. Reserve Effect of Unit Size and FOR

PENAMBAHAN UNIT BERDASARKAN KALKULASI LOLP


(Loss of Load Probability)
Dengan metode ini pengembangan sistem tenaga listrik atau penambahan unit baru pembangkit ditentukan oleh nilai LOLP yang sudah ditetapkan
sebelumnya dalam satuan (days/year).

Misalkan nilai LOLP yang ditetapkankan adalah x d/y, apabila nilai LOLP melebihi x d/y maka perlu ada penambahan unit pembangkit baru. Kenaikan
LOLP disebabkan oleh kenaikan beban puncak (peak load) yang naik setiap tahun.
Contoh :

Misalkan nilai LOLP yang ditentukan adalah 0.1 d/y; apabila LOLP melebihi 0.1 d/y maka perlu ada penambahan unit pembangkit baru.

Kenaikan LOLP disebabkan oleh kenaikan peak load yang naik 6% setiap tahun.

Recana penambahan unit barunya adalah 3 unit 150 MW dan 2 unit 250 MW.

Forced-out rate = 5%

Dari informasi di atas dapat digambarkan sebagai berikut

Gambar 3. Realibilty Calculation

PRODUCTION COST CALCULATION


Perhitungan biaya produksi sangat mempengaruhi Total System Analysis.
Disini pembangkit-pembangkit dimonitor dan dicatat daya outputnya berikut biayanya pada saat sistem beroperasi apakah sudah sesuai dengan
prosedur sistem operasi. Operasi ini dimonitor tiap jam dan tiap tahun berdasarkan perubahan beban dan sistem pembangkitan.

Gambar 4. Logic Diagram For Production Costing Program

tidak hanya untuk menentukan biaya, tetapi dapat juga


untuk mengethui informasi operasional untuk setiap unit, termasuk jumlah
pembangkit yang di start, commitment, capacity factor, heat rate rata-rata, pemadaman
untuk maintenance, dan konsumsi bahan bakar.
Production-cost calculation

CALCULATION OF FIXED CHARGE


Tujuan untuk mengkalkulasi nilai fixed charges adalah untuk mempertimbangkan langkah
selanjutnya dalam menghadapi pembangkit yang bermasalah;
apakah dengan menghentikan operasinya, atau perlu dilakukan penanganan khusus dan berapa
biaya yang diperlukan.

Gambar 5. Actual Yearly and Level Fixed Charges

Contoh:

Diasumsikan study pembangkitan selama 20 tahun. Dengan mengunakan


pola perhitungan berdasar curva B maka dapat diasumsikan nilai fixed charges saat
ini adalah ;

PL = P X fcr / (CRF)20.0.12
Dimana :

PL = Present worth of level fixed charges


P = Investment (assumed = 100)
Fcr = 0.186 (30-year level value)
(CRF)20.0.12 =0.134
Maka :
PL = 100 X 0.186 / 0.134 = 138.8

FINANCIAL SIMULATION
Ketika metode revenue requirement yang menggunakan acuan fixed-charge rate digunakan untuk menentukan pemilihan yang ekonomis dibanding
alternatif yang lain, hal ini tidak dapat memberikan dasar keputusan yang lengkap.
Tentunya ada beberapa hal yang tidak bersifat faktor ekonomis, sebagai contohnya faktor politik.
Itulah mengapa financial simulation perlu dilakukan. Beberapa bagian yang dapat dipertimbangkan dalam menganalisa financial simulation adalah
sebagai berikut:
1. Beginning balance sheet
2. Details of construction work in progress
3. Annual capital expenditures for generation
4. Annual generation production expense
5. Annual capital expenditures for other plant
6. Annual expense for other plant
7. Annual energy sales
8. Rules of rate regulation
9. Taxation rules
10. Financing policies
11. Interest rate
12. Estimated prices/earnings ratio for common stock
13. Accounting rules
14. Dividend policy
15. Inflation rates
Keluaran dari financial simulation ini nantinya akan terdiri dari:

laporan keuangan umum di setiap tahun analisa, laporan operating,

sumber pendanaan dan balance sheet.

Kriteria pemilihan dalam prosedur total system analysis terdiri dari membangun pola alternatif dari pembangkit untuk tujuan kelayakan dalam
pelayanan di masa akan datang, dan kemudian menghitung total biaya system produksi untuk masing-masing alternatif.
Untuk ini ditambahkan fixed charge dari modal investasi untuk penambahan kapasitas yang memberikan annual revenue requirement.

Bahan Diskusi

(Expansion by Reserve Criterion &


Expansion by Reserve Criterion ) apakah ada metode lain yang dapat digunakan.
Coba jelaskan.

1.

Selain 2 meode yang umum digunakan dalam menilai Reliability Calculation

2.

Mengapa ketika menggunakan financial simulation, faktor politik menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan ?

Artikel Terkait

08. TOTAL SYSTEM Analysis

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

10. DIRECT UNIT Comparison

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


You might also like:
06. System Reliability: RESERVES
03. Method of ECONOMIC ANALYSIS
10. DIRECT UNIT Comparison
07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

20 komentar:
1.

Manajemen Energi20 November 2013 09.31


1. Selain 2 meode yang umum digunakan dalam menilai Reliability Calculation (Expansion by Reserve Criterion & Expansion by Reserve
Criterion ) apakah ada metode lain yang dapat digunakan. Coba jelaskan
Balas
Balasan

1.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)21 November 2013 06.48
Tentu saja ada! Analisis kehandalan (reliability analysis) yang disebutkan di atas merupakan yang lazim dipakai, seperti yang disebutkan
di buku diktat.
Ada beberapa kategori penilaian (assessment) dari kehandalan (reliability) sistem pembangkitan. Yang pertama adalah System
Adequacy Assessment dan yang kedua System Security Assessment.
Pendekatan System Adequacy Assessment ada dua, secara deterministik dan secara probabilistik. Secara deterministik, ada beberapa
metode. Salah satunya adalah menganalisis Reserve Margin seperti yang disebutkan di atas. Metode yang lain misalnya Loss of Largest
Unit.

Reserve Margin adalah persentase kapasitas terpasang tambahan atas permintaan puncak tahunan. Ini adalah kriteria yang
deterministik digunakan untuk mengevaluasi keandalan sistem dengan mendefinisikan margin sasaran pembangkitan.
Karena sistem kelistrikan tumbuh dalam ukuran dan kompleksitas, pendekatan Reserve Margin saja tidak cukup untuk memberikan
penilaian kehandalan. Kelemahan dasar pendekatan Reserve Margin adalah bahwa hal itu tidak merespon, atau mencerminkan, sifat
probabilistik atau stokastik perilaku sistem, tuntutan pelanggan, atau kegagalan komponen. Misalnya, tidak mempertimbangkan tingkat
kegagalan jenis tanaman yang berbeda dan ukuran. Analisis deterministik dengan hanya menggunakan perhitungan Reserve Margin
dapat menyebabkan overinvestment dalam ekspansi generasi atau keandalan sistem cukup. Oleh karena itu, sebagian besar utilitas dan
perencana sistem telah menggunakan indeks probabilistik daripada kriteria Reserve Margin.
Di Indonesia, Reserve Margin dan pendekatan probabilistik (i.e. LOLP), keduanya dipakai. Hal ini dapat dibaca di RUPTL. Pada sistem
Jawa-Bali misalnya, RUPTL menyebutkan, kriteria LOLP < 0,274% dan reserve margin > 25-30%. APabila dinyatakan dengan daya
terpasang, maka reserve margin yang dibutuhkan adalah sekitar 35%. (asumsi derating pembangkit 5%) Sedangkan untuk wilayah
operasi Indonesia Timur misalnya, reserve margin ditetapkan sekitar 40%.
Pendekatan yang lain adalah secara probabilistik. Metode yang digunakan dapat berupa metode analitikal atau bisa juga berupa simulasi
Monte Carlo. Ada banyak perhitungan yang dapat dipilih pada metode analitikal. Misalnya Loss of Load Probability (LOLP), Loss of Load
Expectation (LOLE), Loss of Energy Probability (LOEP), Loss of Energy Expectation (LOEE), dlsb.
Loss of Load Probability/Expectation (LOLP/LOLE) merupakan nilai proyeksi berapa banyak waktu, dalam jangka panjang, beban pada
sistem listrik diperkirakan akan lebih besar dari kapasitas sumber daya yang tersedia menghasilkan. Hal ini didefinisikan sebagai
probabilitas beban sistem melebihi kapasitas pembangkit yang tersedia dengan asumsi bahwa beban puncak setiap hari berlangsung
sepanjang hari. (Endrenyi, 1978)
Metode LOLP atau LOLE inilah yang paling sering digunakan pada analisis kehandalan (reliability analysis) dengan pendekatan
probabilistik.
Metode Loss of Energy merupakan ukuran lain untuk penilaian keandalan generasi, dimana dalam hal ini adalah rasio energi yang
diharapkan tidak dilayani (EENS) selama beberapa periode panjang pengamatan terhadap permintaan energi total selama periode yang
sama.
Selain itu ada juga metode frekuensi and durasi. Metode frekuensi dan durasi (FAD) berguna ketika frekuensi gangguan listrik selama
periode waktu tertentu adalah kepentingan. Ini adalah cara yang berguna untuk mengevaluasi keandalan titik pelanggan.
Seperti yang saya sebutkan di awal, kriteria yang disebutkan di buku diktat adalah yang lazim dipakai. Penjelasannya dapat dilihat disini .
(bagian pertama dari penjelasan, dilanjutkan pada bagian kedua)
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13

2.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)21 November 2013 06.49
(penjelasan kedua, lanjutan dari penjelasan pertama)
Metode-metode di atas adalah untuk sistem pembangkitan secara kontinyu, atau lebih lazim dipakai pada pembangkit berbahan bakar
fosil. Untuk pembangkit-pembangkit yang beroperasi secara intermittent, misalnya pembangkit listrik tenaga angin (wind turbine), ada
metode khusus untuk perhitungannya. Phoon, H.Y. (2006) dari departemen Engineering Universitas Strathclyde memaparkan hal itu
dengan sangat komprehensif.
Sumber:
Billinton, R. and Allan, R.N. (1996) Reliability Evaluation of Power Systems. New York (NY) : Plenum Press.
Billinton, R. and Li, W. (1994) Reliability Assessment of Electric Power Systems Using Monte Carlo Methods. New York: Plenum Press.
Chen, H. (2000) Generating System Reliability Optimization, Canada: University of Saskatchewan.
Endrenyi, J. (1978) Reliability Modelling in Electric Power Systems. John Wiley & Sons.
Khatib, H. (1978) The Economics of Reliability in Electrical Power Systems. England: Technicopy Ltd.
Marsh W.D., Electric Utility Power Generation Economics, NY: Clarendon-Press - Ozford, University Press. (Buku Diktat)
Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2012-2021.
Phoon, H.Y. (2006), Generation System Reliability Evaluations with Intermittent Renewables, University of Strathclyde.
Prada, J. F. (1999), The Value of Reliability in Power Systems Pricing Operating Reserves.

Bagus W. Wahyuntoro, ME'13

3.
chairy7 Desember 2013 17.22
Resume yang singkat dengan konten yang padat dan lengkap, Mas Bagus. Nice.
Setuju dengan penjelasan Mas Bagus. Sedikit menambahkan, dari sumber yang saya dapat (referensi di akhir komentar) metode-metode
probabilistik sudah banyak dikembangkan dan saat ini digunakan di operasi dan perencanaan sistem yang lebih luas untuk menghadapi
beragam ketidakpastian yang terkait. Contoh ketidakpastian tersebut antara lain: equipment outage, ketidakpastian perkiraan beban,
kondisi cuaca, ketidakpastian dalam pertimbangan ketersediaan energi dasar dan operasi. Bahkan dapat dikatakan sangat berpotensi
untuk analisis reliability karena kemampuannya untuk menggabungkan dengan ketidakpastian analisis ekonomi pasar. Dengan
memasukkan biaya keandalan kepada pelanggan, strategi untuk perencanaan dan operasi yang optimal dapat dirancang secara lebih
sistematis daripada
mungkin dengan metode deterministik. (Tiba-tiba muncul pertanyaan, apakah biaya ini dikalkulasi dalam penentuan tarif listrik di
Indonesia? Jika belum, apakah hal ini bisa diimplementasikan dalam penentuan tarif listrik di Indonesia?).
Seperti yang disebutkan dalam penjelasan Mas Bagus bahwa salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis keandalan adalah
dengan Simulasi Monte Carlo. Simulasi Monte Carlo adalah metode analisis tradisional yang berdasarkan pada proses enumerasi
implisit atau eksplisit. Dewasa ini, terdapat metode yang sedang diteliti untuk menjadi alternatif lain yang lebih baik, yakni dengan
menggunakan metode yang berdasarkan artificial intelligent. Dan metode ini dapat diaplikasikan untuk menganalisis keandalan sistem
hybrid dimana terdapat sumber energi konvensional dan alternatif (terbarukan).
Sumber: Singh, Chanan and Wang, Lingfeng. 2008. Role of Articial Intelligence in the Reliability Evaluation of Electric Power Systems.
USA: Department of Electrical and Computer Engineering Texas A&M University.
Chairy, ME'13
Balas

2.
Manajemen Energi20 November 2013 09.31
2. Mengapa ketika menggunakan financial simulation, faktor politik menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan ?
Balas
Balasan

1.
Fajardhani Fajardhani21 November 2013 09.17
Mungkin tulisan pada artikel pertama dan artikel kedua ini bisa membantu.

2.
dedy rachmansyah23 November 2013 05.55
Dari sumber yang saya dapatkan untuk menjawab pertanyaan diatas bahwa setiap tindakan dalam organisasi bisnis adalah politik,
kecuali organisasi charity atau sosial. Faktor-faktor tersebut menentukan kelancaran berlangsungnya suatu bisnis. Oleh karena itu, jika
situasi politik mendukung, maka bisnis secara umum akan berjalan dengan lancar. Dari segi pasar saham, situasi politik yang kondusif
akan membuat harga saham naik. Sebaliknya, jika situasi politik tidak menentu, maka akan menimbulkan unsur ketidakpastian dalam
bisnis.
Dalam konteks ini, kinerja sistem ekonomi-politik sudah berinteraksi satu sama lain, yang menyebabkan setiap peristiwa ekonomi-politik
tidak lagi dibatasi oleh batas-batas tertentu Sebagai contoh, IMF, atau Bank Dunia, atau bahkan para investor asing mempertimbangkan

peristiwa politik nasional dan lebih merefleksikan kompromi-kompromi antara kekuatan politik nasional dan kekuatan-kekuatan
internasional.
Tiap pembentukan pola bisnis juga senantiasa berkait erat dengan politik. Budaya politik merupakan serangkaian keyakinan atau sikap
yang memberikan pengaruh terhadap kebijakan dan administrasi publik di suatu negara, termasuk di dalamnya pola yang berkaitan
dengan kebijakan ekonomi atau perilaku bisnis, hal ini tak ter elakan juga dalam bisnis investasi pembangkitan.
Sumber :
http://prasetyo-utomo.blogspot.com/2010/12/pengaruh-faktor-politik-terhadap-bisnis.html

3.
nino24 November 2013 16.09
Ingin memberikan tanggapan, faktor politik menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan hal tersebut dikarenakan adanya Hubungan
sektor bisnis dengan politik, mengacu pada konteks ekonomi yang dipengaruhi oleh kebijakan politik, apabila kondisi politik tidak
menentu atau mengalami kekacauan (chaos) akan berdampak kepada perekonomian terutama menyangkut sektor industri; permintaan
dan penawaran tidak seimbang dan distribusi barang akan terganggu. Apabila ini berlanjut maka akan terjadi inflasi tinggi yang ditandai
dengan kenaikan harga akibat permintaan yang menurun drastis atau bahkan tidak adanya permintaan. Hal ini juga perlu diperhitungkan
karena dapat menjadi resiko dalam investasi. Di sisi lain,pengaruh gejolak politik pada kegiatan ekonomi, tidak dapat diukur dengan
eksak dan laporan angka-angka. Para pengamat hanya dapat menganalisa kualitas dampaknya.
sumber disini.

4.
Irham24 November 2013 19.00
Dari artikel (http://www.manajementelekomunikasi.org/2013/03/03-penilaian-eksternal.html) yang ditunjukkan Pak Fajar tampak bahwa
faktor eksternal memiliki arti penting bagi sebuah perusahaan. Faktor eksternal tersebut dapat menjadi peluang namun dapat juga
menjadi ancaman.Faktor eksternal ini ada karena interaksi antara perusahaan dengan pihak luar.
Faktor politik memiliki pengaruh yang sangat besar karena dapat mempengaruhi suatu negara. Salah satu contohnya adalah kebijakan
yang dibuat pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam dunia usaha merupakan regulasi yang harus dipatuhi jadi efeknya sangat besar.
Misal, kebijakan untuk menaikkan upah akan membuat perusahaan melakukan efisiensi untuk tetap menjaga keuangannya atau bahkan
memutuskan untuk pindah ke negara lain bila memang tidak menguntungkan.
Irham, ME'13
Balas

3.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)21 November 2013 05.51
Pada buku diktat (hal. 129) dijelaskan bahwa analisis keekonomian yang dilakukan memberikan rekomendasi pilihan secara obyektif.
Misal: pilihan pembangkit yang mana yang paling ekonomis. Data yang dipakai pada analisis tersebut adalah data teknis dan data
finansial yang relatif mudah terukur (tangible). Prinsip yang dipakai adalah "provide electricity at the lowest possible cost".
Meski demikian, pada saat pengambilan keputusan dilakukan (di level tertinggi) maka harus memperhatikan faktor-faktor eksternal dan
non-ekonomi. Misalnya faktor politik, faktor sosial, dsb. Faktor-faktor ini sulit diukur (intangible), namun pengambil keputusan akan
mempertimbangkan faktor-faktor ini dan mengkuantifikasinya sehingga dapat dibandingkan dengan faktor ekonomi sistem pembangkit
tersebut.
Pada analisis makro-ekonomi, faktor politik, faktor sosial, lingkungan, reputasi, dsb., juga merupakan faktor penentu. Banyak pihak yang
berkepentingan pada makro-ekonomi, yang merupakan domain penentu keputusan tertinggi. Lain halnya dengan faktor ekonomi
pembangkit tersebut, yang merupakan analisis mikro-ekonomi. Sehingga bisa jadi, analisis keekonomian pembangkitan tenaga listrik
memberikan suatu rekomendasi, namun secara politik jangka panjang, suatu negara akan memperoleh keuntungan (baik finansial
maupun non-finansial) apabila rekomendasi tersebut tidak dijalankan atau bahkan alternatif lain yang dipilih, meski pada analisis
keekonomian yang telah dilakukan tersebut, alternatif tersebut lebih rendah keekonomiannya dibandingkan yang direkomendasikan.
Salah satu contoh, setelah analisis teknis dan keekonomian, rekomendasi menyebutkan untuk pembangunan PLTN (pembangkit listrik
tenaga nuklir). Namun setelah faktor non-teknis (politik, sosial, lingkungan, hankam, dsb.) ikut dipertimbangkan, maka rekomendasi
tersebut ditunda.
Sumber:

Marsh, W.D., Electric Utility Power Generation Economics, NY : Clarendon Press - Oxford, University Press (Buku Diktat)
Samuelson, P.A., Nordhaus, W.D., (1998), Economics 16th ed., US: McGraw-Hill, Inc.
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13
Balas

4.
Tyas Kartika Sari21 November 2013 14.59
Terima kasih pak bagus atas penjelasannya. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan seberapa besar pengaruh dari faktor politik ini
dalam menentukan suatu kebijakan yang akan dijalankan, mengutip dari pertanyataan pak bagus pada bagian paragraf berikut :
"Banyak pihak yang berkepentingan pada makro-ekonomi, yang merupakan domain penentu keputusan tertinggi. Lain halnya dengan
faktor ekonomi pembangkit tersebut, yang merupakan analisis mikro-ekonomi. Sehingga bisa jadi, analisis keekonomian pembangkitan
tenaga listrik memberikan suatu rekomendasi, namun secara politik jangka panjang, suatu negara akan memperoleh keuntungan (baik
finansial maupun non-finansial) apabila rekomendasi tersebut tidak dijalankan atau bahkan alternatif lain yang dipilih, meski pada analisis
keekonomian yang telah dilakukan tersebut, alternatif tersebut lebih rendah keekonomiannya dibandingkan yang direkomendasikan"
Nah dari sini, bisa disimpulkan bahwa meskipun telah dilakukan analisis mikro ekonomi mengenai kelayakan proyek dan telah
dinyatakan bahwa alternatif ini layak, namun karena ada beberapa analisis makro-ekonomi, faktor politik, faktor sosial, lingkungan,
reputasi dsb, alternatif ini tidak dipilih, dan selanjutnya dipilih alternatif lain yang sebenarnya lebih rendah keekonomisannya
dibandingkan yang direkomendasikan. Terima Kasih.
Tyas Kartika, ME"13
Balas
Balasan

1.
arif budiman28 November 2013 15.08
@ mb tyas.
Faktor politik ini sangat berpengaruh besar, seperti yang dijelaskan pak bagus, meskipun sudah dihitung dan layak secara teknis serta
ekonomi namun tetap tidak dijalankan. Karena jika tetap dijalankan ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan kondisi tersebut dan
dapat mimicu masalah baru.
Semisal dalam pembangunan PLTN tidak diterima masyarakat sekitar ketika pembangunan tersebut tetap dilaksanakan maka akan
terjadi ketidak nyamanan bagi beberapa pihak seperti yang terjadi baru2 ini di india dimana terjadi teror bom didekat PLTN. dan bila hal
tersebut terjadi terus menerus maka akan mempengaruhi kondisi yang lain, seperti iklim investasi dll. sehingga dalam sekala makro akan
merugikan

2.
Nurrahman Jarman3 Desember 2013 14.46
Pak Arif,
Ikut menanggapi, faktor politik seharusnya tidak dijadikan pokok pertimbangan dasar, karena ketika pembangunan suatu infrastruktur
sudah menjadi SOP untuk disiapkan implikasi resikonya, seperti asuransi atau keamanan. Di indonesia sendiri beberapa infrastruktur
sudah lumrah apabila dijaga oleh pihak penjaga keamanan. Seperti yang telah dijelaskan pada mata kuliah Teknologi dan Lingkungan
bahwa PLTN dijaga oleh keamanan bersenjata. Faktor sosial seharusnya lebih utama apabila dibandingkan dengan faktor keamanan.
Contohnya adalah di Bali, dimana sampai saat ini belum adanya PLTU batubara yang beroperasi karena ditakutkan akan mengganggu
sektor pariwisata didaerah tersebut.

3.

chairy7 Desember 2013 15.36


Saya mencoba memberikan pendapat terkait dengan pertanyaan Mbak Tyas, seberapa besar pengaruh dari faktor politik ini dalam
menentukan suatu kebijakan yang akan dijalankan?
Berdasarkan artikel kedua yang link-nya diberikan oleh Pak Fajar di atas, yang berjudul tentang Penilaian Eksternal, terdapat 5 kekuatan
eksternal utama yang dapat penting untuk dikumpulkan dan dianalisa sebelum menentukan strategi/kebijakan yang akan digunakan,
yakni:
1. Kekuatan ekonomi
2. Kekuatan sosial, budaya, demografis, dan lingkungan
3. Kekuatan politik, pemerintahan, dan hukum
4. Kekuatan teknologi
5. Kekuatan kompetitif
Masing-masing kekuatan eksternal tersebut akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda tergantung dari apakah bentuk
kebijakannya, siapa/badan apa yang menentukan kebijakan, serta kapan dan dimana kebijakan tersebut diambil. Kelima kekuatan
tersebut juga dapat dijadikan pijakan dalam menentukan bagaimana proses implementasi yang akan dilakukan sesuai dengan kombinasi
kelima kekuatan tersebut.
Kemudian, kekuatan faktor-faktor eksternal tersebut baiknya didetailkan dalam sebuah prakiraan/forecast yang dapat digunakan sebagai
asumsi dasar mengenai tren dan kejadian di masa depan. Alat prakiraan/forecastnya dikelompokkan menjadi 2, yakni dengan teknik
kuantitatif dan kualitatif. Untuk cara analisisnya bisa dilihat pada artikel Penilaian Eksternal.
Chairy, ME13
Balas

5.
Difi Nuary25 November 2013 14.38
Mencoba mencermati dari link yang pak fajar kasih di atas, pada web manajemen strategik,mungkin kata kata yang cocok bukan
diperhitungkan namun faktor politik menjadi salah satu yang menjadi faktor yang dipertimbangkan bahwa jelas di artkel tersebut di
jelaskan bahwa "Faktor-faktor eksternal lebih penting daripada faktor internal dalam upaya perusahaan mencapai keunggulan kompetitif.
Keunggulan kompetitif ditentukan dari pemposisian kompetitif dalam industri."
yang mana dari salah satu faktor eksternal tersebut dijelaskan mengenai faktor politik dalam mempengaruhi persaingan bisnis,
sebagai contoh Pada tahun 1980-1989 terjadi ketegangan politik dunia antara Iran dan Amerika, lalu AS dengan Timur Tengah. Ketengan
politik ini menciptakan kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil, harga harga menjadi tidak stabil, lalu dengan kondisi seperti ini
bagaimana bisa kita menetapkan dan melakukan forecast financial simulation, oleh sebab itu lah faktor politik menjadi salah satu faktor
yang peru dipertimbangkan
Balas

6.
Manajemen Energi19 Desember 2015 09.37
Kelompok 3 ME-2015
Apa saja yang menjadi pertimbangan ketika memutuskan akan menambahkan daya pada suatu pembangkit yang sudah ada ketimbang
membangun pembangkit baru?
Balas
Balasan

1.
Luky Liem21 Desember 2015 12.16

Pertimbangan dalam memutuskan ekspansi pembangkit existing maupun pembangunan unit pembangkit baru diantaranya:
1. Rencana kebutuhan daya misalnya kebutuhan daya tahunan maupun untuk kurun waktu 10-20 tahun ke depan, termasuk
pengembangan sistem setempat (besaran dan lokasi pusat beban). Dengan prinsip membangun jaringan transmisi sedekat mungkin
dengan beban untuk meminimalkan rugi-rugi daya, maka dapat diputuskan apakah melakukan ekspansi di lokasi yang sama,
membangun pembangkit di dekat pusat beban, maupun membangun gardu induk baru)
2. Berdasarkan point nomor 1 dapat diidentifikasi kebutuhan pembangkit tersebut adalah untuk memenuhi beban dasar, semi dasar.
beban puncak, atau unit cadangan. Sebagai contoh: untuk sistem Jawa Bali yang saat ini didominasi oleh PLTU (51% dari seluruh
kapasitas pembangkit Jawa Bali), maka untuk perencanaan ke depan di dalam RUPTL PLN 2015-2024 juga direncanakan pembangunan
PLTGU untuk memenuhi beban puncak
3. Keterbatasan evakuasi daya jaringan transmisi yang terkoneksi dengan pembangkit existing sehingga tidak memungkinkan untuk
ekspansi pada lokasi yang sama
4. Keterbatasan dan kesulitan dalam pembebasan lahan membuat investor memilih untuk melakukan ekspansi pada lokasi yang sama
dibandingkan mencari lokasi yang baru, dengan tetap memperhatikan kemampuan jaringan transmisi dan kebutuhan sistem setempat
5. Analisis tingkat keandalan sistem setempat.
6. Ketersediaan energi primer berkaitan dengan nomor 1. Faktor ini perlu dipertimbangkan selain faktor membangun pembangkit sedekat
mungkin dengan beban. Sebagai contoh: pemanfaatan batubara mulut tambang untuk PLTU. Karena batubara mulut tambang berkalori
rendah dan tidak ekonomis untuk diangkut ke dekat pusat beban maka jika cadangan batubara mulut tambang masih cukup besar
dibandingkan dengan unit pembangkit existing, maka dapat dibangun ekspansi unit pembangkit existing.
Sumber:
1. Marsh, W.D., Electric Utility Power Generation Economics, NY : Clarendon Press - Oxford, University Press
2. Marsudi, Djiteng. Pembangkitan Energi Listrik Edisi Kedua.2011. Erlangga
3. Statistik Ditjen Ketenagalistrikan 2014
Luky (ME 2015)

2.
Waluyo Jati (ME 2015)25 Desember 2015 12.59
Sebuah penambahan kapasitas pembangkitan (apakah dengan peningkatan daya terpasang pembangkit atau penambahan pembangkit)
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sistem dengan memenuhi kriteria ekonomi, keamanan dan keandalan sistem.
Penambahan daya pada sebuah pembangkit dapat dimungkinkan dengan peningkatan efisiensi bagian pembangkit seperti bagian turbin
uap atau bagian boiler.
Peningkatan kapasitas pembangkit (penggantian turbin uap ke yang lebih efisien) secara makro tidak akan banyak mempengaruhi
sistem. Penambahan pembangkit secara makro akan mempengaruhi sistem.
Pemilihan peningkatan kapasitas pembangkitan biasanya dilakukan oleh pemilik untuk meningkatkan keekonomian pembangkit yang
dimilikinya. Sementara penambahan pembangkit ditujukan untuk meningkatkan kapasitas beban sistem secara makro dengan tetap
memperhatikan keekonomian, keamanan dan keandalan.
Peningkatan kapasitas pembangkitan (peningkatan efisiensi pembangkit) banyak dilakukan dinegara negara maju, dimana pertumbuhan
beban sudah kecil atau negatif karena adanya program konservasi energi. Mereka dalam hal ini meningkatkan efisiensi pembangkit
untuk meningkatkan kompetitif pembangkit mereka terhadap sistem.
Penambahan pembangkit tentu saja dengan efisiensi yang meninggi ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sistem pembangkitan
secara menyelutuh banyak dilakukan dinegara berkembang untuk memenuhi permintaan beban yang meningkat.

3.
Hizkia Sandhi Raharjo29 Desember 2015 08.57
Pertimbangan ketika memutuskan akan menambahkan daya pada suatu pembangkit yang sudah ada ketimbang membangun
pembangkit baru sudah disampaikan oleh Pak Luky diatas. Disini saya ingin menanggapi komentar Pak Waluyo dan saya diposisi yang
sangat setuju dengan peningkatan efisiensi pembangkit. Peningkatan efisiensi pembangkit merupakan solusi yang baik yang telah
dipercontohkan oleh negara-negara maju (terlepas dari pertumbuhan beban mereka yang sudah kecil), selain dengan tetap menjalankan
Program Energi Manajemen (PEM) karena menurut saya, 2 hal ini (efisiensi pembangkit dan efisiensi energi) sangat berhubungan.
Peningkatan efisiensi pembangkit tidak akan banyak membantu jika penggunaan energi kita tetap tidak efisien, sehingga PEM adalah
salah satu cara untuk menyempurnakan tujuan dari efisiensi yang kita inginkan. Disaat pemerintah sedang galak-galaknya
membangun pembangkit baru dan menambah kapasitas yang lama (yang notabene akan mempengaruhi sistem keseluruhan), seakanakan peningkatan efisiensi pembangkit seperti tidak terdengar. Disini saya paham bahwa pertumbuhan beban kita sedang berkembang
cukup pesat dan membutuhkan tambahan kapasitas maupun pembangkit baru, tetapi jika peningkatan efisiensi pembangkit lama
khususnya, bisa dimaksimalkan, pembangkit lama bisa optimal kembali, dengan kata lain, kemungkinan besar kebutuhan kita akan

pembangkit baru atau penambahan kapasitas bisa berkurang (tetap harus ada hitungannya).
Mohon diluruskan jika pendapat saya kurang tepat. Terima kasih.
-Hizkia Sandhi Raharjo- (ME 2015)

4.
Arief Murnandityo29 Desember 2015 16.31
Menambahkan pembahasan yang sudah ada,
Penambahan daya pembangkit dilakukan dengan beberapa cara:
1.Perbaikan efisiensi unit pembangkit, dan
2.Ekspansi/penambahan jumlah unit pembangkit.
Kedua cara di atas dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Peningkatan Beban yang harus diiringi dengan penambahan suplai daya (bisa dilihat dari reserve margin pembangkit eksisting) dan
identifikasi kebutuhan suplai apakah untuk memenuhi beban dasar, semi dasar. beban puncak, atau unit cadangan. Untuk ekspansi,
Penambahan daya yang direncanakan biasanya tidak berkapasitas sangat besar, karena untuk memenuhi keperluan unit cadangan
energi/reserve atau beban puncak saja, untuk menambah kehandalan, dan keleluasaan pengaturan waktu maintenance.
2. Waktu pelaksanaan lebih singkat dibanding pembangunan satu area pembangkit yang baru karena salah satu alasannya adalah tidak
memerlukan pembebasan lahan (pembebasan lahan sering menjadi masalah terhambatnya pembangunan pembangkit sehingga waktu
pembangunan menjadi lebih lama) karena pekerjaan dilakukan di dalam kompleks pembangkit eksisting yang biasanya sudah disiapkan
lokasi untuk ekspansi.
3. Investment cost yang dikeluarkan tidak lebih besar dibanding pembangunan pembangkit yang baru di area yang baru.
4. Faktor resiko lebih kecil karena memiliki data historical pembangkit eksisting sehingga seharusnya sudah bisa dikembangkan
mitigation plan untuk resiko yang mungkin timbul,
5. Ada teknologi baru yang lebih efisien dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan pembangkit tersebut.
6. Apabila dengan pelaksanaan ekspansi atau peningkatan efisiensi dapat lebih menurunkan cost of electricity dibandingkan
pembangunan area pembangkit baru. (penerapan prinsip to provide good quality energy at lowest possible cost)
7. Regulasi/Rencana pemerintah (RUPTL)
Arief Murnandityo ME 2015

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit


11/06/2013 10:34:00 AM Ekbang 31 comments
Seri Ekonomi Pembangkitan
oleh: Kelompok 2

Tujuan mempelajari materi ini adalah untuk membantu pengambilan keputusan terkait dengan biaya produksi listrik berdasarkan jenis pembangkit dan
bahan bakar yang digunakan. Biaya pada pembangkit terbagi menjadi 3 komponen yaitu biaya bahan bakar (fuel cost ), biaya operasi dan perawatan
(operation and maintenance), dan biaya modal atau investasi (capital or investment cost).

I. Biaya Bahan Bakar (Fuel Cost)


Biaya bahan bakar menyatakan hubungan antara tiga variabel, yaitu:

energi kalor dari bahan bakar

energi listrik yang dibangkitkan

biaya pembelian bahan bakar

Hubungan antara energi kalor dengan biaya pembelian bahan bakar dinyatakan dalam $/kJ dan hubungan antara energi listrik yang dibangkitkan
dengan biaya dalam $/kWh.
Pembahasan tentang biaya bahan bakar berkaitan erat dengan efisiensi (hubungan antara input dan output) dari pembangkit.

Dalam pembangkitan, istilah efisiensi pembangkit dikenal dengan nama heat rate, yaitu hubungan antara input berupa energi kalor
dengan output dalam bentuk energi listrik.
Nilai dari heat rate ini akan menentukan jumlah biaya bahan bakar yang diperlukan.

Bahan bakar digunakan untuk memanaskan air agar menghasilkan uap yang akan menggerakkan turbin, turbin akan bergerak untuk menghasilkan
listrik. Dari penjelasan tersebut tampak penggunaan energi panas untuk menghasilkan uap dan energi listrik.
Ada dua perhitungan nilai panas (heating value), yaitu:

higher heating value (HHV) yang menghitung seluruh energi panas yagn digunakan hingga listrik dihasilkan

lower heating value (LHV) yang mengabaikan penggunaan energi untuk penguapan.

Pembangkit tenaga listrik mengenal dua jenis bahan bakar, yaitu :

1.

bahan bakar fosil

2.

bahan bakar nuklir

Perbedaan dari kedua jenis bahan bakar tersebut terletak pada persediaan bahan bakar yang diperlukan.
Persediaan bahan bakar fosil digunakan agar pembangkit tetap beroperasi tanpa berhenti, sedangkan pada pembangkit nuklir diperlukan jumlah
bahan bakar minimum agar inti reaktor tetap menghasilkan panas. Oleh karena itu bahan bakar nuklir memerlukan persediaan bahan bakar yang
sangat besar.

II. Biaya Operasi dan Perawatan (O&M )


Dibagi menjadi dua kategori:

biaya tetap (fixed cost)


memiliki arti, walaupun tidak ada produksi energi yang dihasilkan biaya tersebut tetap ada

biaya tidak tetap (variable cost) adalah biaya yang memiliki pengaruh langsung pada output energi yang dihasilkan dari pembangkit
dan besarnya tergantung besarnya output produksi energi

Umumnya diukur dalam satuan $/tahun atau $/MWh.

Biaya tenaga kerja operator, tenaga kerja maintenance (dalam kondisi pengoperasian normal), serta biaya tenaga kerja
administrasi termasuk dalam biaya tetap.

Sedangkan biaya penggantian suku cadang (spare parts ), dan beberapa kebutuhan lainya yang sesekali diperlukan untuk menjaga
operasional pembangkit tetap berlangsung dengan baik dimasukkan kategori biaya tidak tetap.

Pembiayaan untuk bunga juga dimasukkan ke dalam kategori biaya operasi tetap.

Dalam prosedur perawatan kadangkala menghasilkan sebuah laporan berupa jadwal yang berhubungan dengan durasi pengoperasian
pembangkit, dan apabila perlu mendatangkan petugas untuk melakukan pemeliharaan ini maka biaya tersebut masuk ke biaya tidak
tetap.

Meskipun beberapa biaya sudah dapat dikategorikan , namun kadang tidak selalu mudah untuk mendapatkan data yang dapat diandalkan sebagai
referensi economics study, karena pada pembangkit sangat beragam dan biaya ditentukan dari jenis pembangkit, kapasitas, rating, dan praktekpraktek pemeliharaan yang dilakukan pada pembangkit tersebut.
Namun pengamatan umum tetap bisa dilakukan.

III. Unit Capital Cost


Komponen komponen yang termasuk dalam modal pembangkit adalah semua nilai yang dimasukan ke dalam account asset pada saat pembangkit
tersebut mulai beroperasi. Juga dikenal dengan istilah nilai perolehan.
Komponen tersebut mencakup:

semua pengeluaran yang dilakukan sebelum dan selama proses konstruksi / pembangunan,

termasuk di dalamnya interest dari sumber dana yang dimanfaatkan (interest ini disebut Interest During Construction atau IDC).

Biaya modal menjadi nilai yang sangat tepat digunakan untuk menentukan tingkat biaya tetap selama tahun produksi.
Estimasi biaya plant yang memiliki beberapa jenis pembangkit dalam satu station perlu memperhatikan:

perbedaan rating

desain

tahun pemasangan pembangkit.

Karena hal hal tersebut membuat biaya modal setiap unitnya berbeda dan tidak sama dengan station lain.

INFLASI dan IDC


Tabel contoh perhitungan.

Base cost estimated pada awal tahun ke 8 dengan nilai 100 bukanlah nilai biaya actual.

Biaya tersebut bukanlah cost of plant pada tahun pertama dalam masa servis. Semua biaya yang dikeluarkan selama masa konstruksi akan
mengalamai deflasi. Untuk mendapatkan besarnya biaya actual pada tahun pertama masa servis dengan melakukan perhitungan
7

164.46 /

(1.06) = 109.38

Ketika plant cost, inflasi, dan interest during construction (IDC ) sudah diperhitungkan dalam satu tahun maka perhitungan tersebut dapat
dimanfaatkan untuk menghitung tahun tahun yang lain dengan mengasumsikan inflasi dan IDC pada angka tetap.

Pada grafik di atas dijelaskan pengaruh besar terhadap capital cost dari pengaruh IDC maka percepatan masa konstruksi sangat disarankan.

PLANT COST
Umumya dijelaskan dalam bentuk $/kW dan plant cost sendiri sangat berguna untuk didiskusikan dan sebagai pembanding pembangkit.
Tetapi apabila faKtor penyusun penyebut dan pembilang tidak dijelaskan dengan tepat bisa menyesatkan dalam pengambilan kesimpulan.

PLANT COST COMPONENT


Ada beberapa komponen pembangkit yang memilki tingkat biaya tertentu dan tentunya harus dimasukan sebagai pembilang pada posisi $/kW.
Sebagai contoh boiler, turbine generator, auxiliaries, auxiliaries power system, control system, rumah boiler dan turbine, gudang fuel, biaya distribusi
bahan bakar dari gudang ke pembangkit, dan lain-lain. Harga tanah, administrative building, general maintenance harus diperhitungikan dalam
menghitung masing-masing unit cost.
Salah satu unsur utama yang menyusun biaya tidak tetap adalah environmental control equipment seperti colling tower, dan fuel gas clean up devices
dimana kebutuhannya tergantung dari kualitas bahan bakar, lokasi plant dan peraturan pemerintah.
Di sisi transmisi, biaya generator step up, high voltage switchyard dan transmission lines sendiri termasuk dalam pembilang penyusun unit cost.
Begitu pula interest selama konstruksi termasuk unsur pembilang dalam unit cost.
Untuk proses membandingkan secara ekonomi , dari tingkat inflasi dan besarnya biaya yang diminta maka perlu menyamakan lamanya durasi
instalasi unit biasanya dalam tahun.

UNIT OUTPUT DESIGNATION


Pada umunya nilai kW adalah nilai net output, seperti ditunjukkan dalam gambar.
Namun kadang kala nilai output bruto dari terminal bahkan dari step up transformer juga digunakan sebagai unsur penyebut dari ratio $/kW.
Beberapa unit memiliki standar, standar maximum yang bisa diandalkan tetapi tidak semua sama, tergantung kondisi rating.
Penting untuk memahami, berhati hati dan konsisten dalam menentukan plant cost karena tidak ada dasar yang digunakan untuk membentuk
definisi yang benar.

PLANT COST ECONOMY SCALE


Formula yang digunakan untuk mendefinisikan :

dimana :

: Plant Cost of new unit $/kW

D0

: Plant Cost of Base unit $/kW

: Rating of new unit

C0

: Rating of base unit

: Characteristic exponent

Formula ini berguna untuk pemahaman secara umum untuk konsep pembangkit tertentu namun harus dipahami bahwa plot prediksi yang sebenarnya
dari unit cost sebagai fungsi dari unit size akan sulit untuk tercapai dan apabila tercapai faktor D akan dapat dipastikan tidak akan konstan karena
pengaruh range unit size yang luas.
Nilai faktor D untuk sebuah plant biasanya 0.2 dan dengan posisi range lebih tinggi untuk unit yang kecil kemudian untuk unit yang besar dengan
range yang lebih rendah.

INCREMENTAL PLANT COST


Seringkali pada economic studies perlu untuk menyelesaikan masalah incremental cost dari kapasitas plant untuk mengukur perubahn kecil pada
output desain.
Ini dapat disebabkan oleh muculnya alternatiF, tehnologi yang lebih efisien, yang dapat mengurangi konsumsi power sendiri sehingga sedikit
meningkatkan nilai output bersih.
Formula yang dapat dirumuskan

Incremental plant cost

adalah slope dari kurva total cost dimana dapat diperoleh dengan mediferensiasikan C

Sebagai contoh:
Untuk faktor D di 0,1 maka x= 0.152. Dimana

0.848 D yang berarti biaya dari perubahan incremental untuk output rating diestimasikan sebesar

848$/kWuntuk setiap plant dengan dasar biaya 1000$/kW.

Bahan Diskusi :
1.

Sebutkan perbedaan penggunaan HHV dan LHV.

2.

Adakah komponen biaya selain yang sudah disebutkan diatas yang juga perlu dipertimbangkan dalam pemahaman keekonomian
pembangkit?

3.

Bagaimana dengan biaya kompensasi untuk konservasi lingkungan, masuk dalam kategori apa?

Sumber :
Marsh, W. D. Diktat Electric Utility Power Generation Economics. New York: Clarendon Press-Oxford, University Press.

Artikel Terkait

08. TOTAL SYSTEM Analysis

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

10. DIRECT UNIT Comparison

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


You might also like:
10. DIRECT UNIT Comparison
BERAPA Biaya Bahan Bakar NUKLIR Per kWH Listrik?
03. Method of ECONOMIC ANALYSIS
BIG PAPER Project Management 2012

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

31 komentar:
1.

Manajemen Energi6 November 2013 10.38


1. Sebutkan perbedaan penggunaan HHV dan LHV
Balas
Balasan

1.
Willy Sukardi7 November 2013 17.11

Heating value sebuah component adalah kalor yang dihasilkan ketika kompenen tsb dibakar. Atau bisa dikatakan heating value adalah
entalpi pembakaran component tsb.
Higher heating value (HHV) adalah panas yang dihasilkan oleh pembakaran sempurna satu satuan berat bahan bakar padat atau cair,
atau satu satuan volume bahan bakar gas, pada tekanan tetap, suhu 25 oC, apabila semua air yang mula-mula berwujud cair setelah
pembakaran mengembun menjadi cair kembali.
Lower heating value (LHV) adalah panas yang besarnya sama dengan nilai HHV dikurangi panas yang diperlukan oleh air yang
terkandung dalam bahan bakar dan air yang terbentuk dari pembakaran bahan bakar

2.
Difi Nuary9 November 2013 08.41
Seperti yang telah dijelaskan oeh Pak Nurahman dalam persentasinya mengenai karakteristik ekonomi pembangkit, bahwa, dalam
perhitungan bahan bakar (cost) terdapat dua perhitungan nilai panas yang akan dimasukan kedalam perhitungan mencari biaya yang
akan dibebankan
dalam perhitungan tersebut deijelaskan bahwa
HHV = kalor yang diperoleh secara eksperimen dengan menggunakan kalorimeter dimana hasil pembakaran bahan bakar didinginkan
sampai suhu kamar sehingga sebagian besar uap air yang terbentuk dari pembakaran hidrogen mengembun dan melepaskan panas
latennya (ref:buku kimia) hubungannya dalam pemakaian bahan bakar bahwa dalam siklus HHV energi yang dibutuhkan lebih banyak
sehingga membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak pula
LHV = merupakan nilai kalor bahan bakar tanpa panas laten yang berasal dari pengembunan uap air. (ref :buku kimia) dalam
hubungannya dalam pemakiaan bahan bakar bahwa siklus ini lebih pendek sehingga pemakaian bahan bakar juga lebih sedikit

3.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)10 November 2013 13.06
Menambahkan pengertian dari mas Willy.
Air yang dimaksud adalah komponen H2O. Pada pembakaran bahan bakar fosil berupa hidrokarbon, H2O yang dihasilkan dapat berupa
fasa gas (berupa uap) atau fasa cair (berupa liquid).
Misalnya pada pembakaran gas methane (C=1) terjadi sbb.
CH4(g) + 2O2(g) = CO2(g) + 2H2O(g atau l)
Terlihat bahwa H2O yang dihasilkan dapat berupa fasa gas atau cair.
Higher Heating Value (HHV) atau sering juga disebut Gross Heating Value (GHV) merupakan total panas apabila semua H2O tersebut
menjadi fasa cair atau liquid.
Sedangkan Lower Heating Value (LHV) atau sering juga disebut Net Heating Value (NHV) merupakan total panas apabila H2O tersebut
menjadi uap atau fasa gas.
Di dunia industri, terminologi GHV lebih sering dipakai dibandingkan NHV. Semakin tinggi/besar komponen karbon (Komponen C) pada
bahan bakar fosil atau hidrokarbon tersebut, maka akan semakin tinggi GHV-nya.
Pada industri gas, heating value sangat penting, karena nilai kontrak gas biasanya diukur dengan nilai US$ per MMBtu. GPSA
Engineering Databook memberikan nilai heating value untuk tiap komponen karbon tersebut, dari C1, C2, C3, dst. dengan satuan Btu/scf
pada suhu 60 derajat F dan tekanan14,696 psia. Dengan mengetahui komponen karbon yang menyusun hidrokarbon tersebut, misal
untuk bahan bakar gas dengan menggunakan Gas Analyzer atau Gas Chromatography, maka GHV dapat dihitung.
Sumber:
1. GPSA Engineering Databook (13th ed., 2012)
2. Arnold, K., Stewart, M. (1999). Surface Production Operations, 2nd ed., Houston, TX: Gulf Publishing Company
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13

4.

Pondy Tjahjono10 November 2013 22.06


Setiap pembakaran hydrocarbon, pasti selalu menghasilkan air. Karena suhu pembakaran yang cukup tinggi, maka air akan berwujud
uap. HHV didefinisikan sebagai jumlah total panas yang dilepas selama proses pembakaran satu unit bahan bakar termasuk panas yang
digunakan untuk penguapan air. Sementara LHV adalah jumlah panas yang tersedia dari bahan bakar setelah panas yang digunakan
untuk menguapkan air dikurangkan dari HHV. www.clarke-energy.com/2013/heating value/

5.
argi17 November 2013 16.36
Sedikit menambahkan bahwa HHV dan LHV adalah notasi theoretical, hanya dipakai untuk indikasi dan tidak menunjukkan kondisi yang
sebenarnya dalam praktek. Dikarenakan, bahan bakar dan gas hasil pembakaran tidak pernah berada pada temperatur yang sama
sesuai asumsi yang digunakan untuk perhitungan HHV dan LHV. Dalam prakteknya, energi yang bisa kita peroleh dari pembakaran
bahan bakar akan selalu lebih kecil dari HHV atau LHV, karena ada energi dalam bentuk panas yang dibawa pergi oleh gas hasil
pembakaran. Itulah sebabnya efisiensi semua mesin konversi energi (steam power plant, internal combustion engine, gas turbine) tidak
pernah bisa 100 %.( migas-indonesia.com)
Argianto
ME13

6.
Catur Janhari18 November 2013 08.05
Saya setuju dengan pendapat rekan-rekan diatas, Baik HHV dan LHF digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi boiler, yang akan
berpengaruh dengan banyaknya fuel yang dgunakan.
Eff-HHV x HHV = Eff - LHV x LHV.
Parameter-parameteryangd igunakan untuk mengukur efisiensi adalah parameter losses.
Untuk HHV:
1. Dry Gas Loss (L1)
2. Conmbustion losses (L2)
3. Moisture in air Loss (L3)
4. radiation Loss (L4)
5. Marginal (L5)
Untuk LHV:
1. Wet flue gas loss
2. Radiation loss
3. marginal
Untuk detail bisa diunduh disini
Balas

2.
Manajemen Energi6 November 2013 10.39
2. Adakah komponen biaya selain yang sudah disebutkan diatas yang juga perlu dipertimbangkan dalam pemahaman keekonomian
pembangkit?
Balas
Balasan

1.
ilham budi10 November 2013 06.04

Biaya lain yang perlu dipertimbangkan yaitu biaya eksternal pembangkit, biaya eksternal pembangkit listrik menyatakan nilai moneter dari
kerusakan lingkungan yang diakibatkan dari pembangkit listrik. Biaya eksternal ini merupakan biaya yang ditanggung masyarakat dan
lingkungan yang tidak masuk dalam perhitungan baik produsen maupun konsumen tenaga listrik. Kerusakan lingkungan dapat berupa
lingkungan alam maupun lingkungan buatan, seperti: dampak polusi udara terhadap kesehatan, bangunan, tumbuhan, hutan dan
pemanasan global; kecelakaan kerja dan penyakit; dan gangguan kenyamanan karena kebisingan (Kovacevic dkk. 2001).
Aktivitas dari pembangkit listrik mulai dari saat pembangunan, pengangkutan bahan bakar, pembangkitan, transmisi dan distribusi, serta
pembuangan limbah merupakan sumber dari munculnya biaya eksternal. Kontribusi terbesar dari biaya eksternal adalah pada saat
pembangkitan yang berupa dampak polusi udara terhadap kesehatan.
Dengan diinternalisasikannya biaya eksternalitas maka energi terbarukan akan dapat bersaing dengan energi fosil, karena selain
komponen A (investasi), B (fixed O & M), C (bahan bakar) dan D (variable O & M) pada BPP tenaga listrik akan ada tambahan biaya
eksternalitas.
Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan oleh Directorate General for Research European Commision terkait exsternal cost berupa hasil
studi berjudul Research results on socio-environmental damages due to electricity and transport pada tahun 2003, memperlihatkan
bahwa biaya eksternal dari pembangkit fosil jauh lebih tinggi dibanding pembangkit non fosil.
Sumber: klik 1.
klik 2.

2.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)10 November 2013 14.03
Untuk biaya tetap, selain biaya tenaga kerja operator dan tenaga kerja maintenance, ada juga biaya pegawai lainnya pada
penyelenggaraan kegiatan pembangkitan, meliputi gaji, upah, biaya kesehatan, dlsb.
Termasuk dalam biaya tetap juga, tidak hanya biaya tenaga administrasi seperti yang disebutkan di atasa, namun juga biaya
administrasi, yang meliputi biaya kantor seperti kertas, telepon/komunikasi, pos, dlsb.
Sesuai kuliah minggu lalu, biaya manajemen dapat diperhitungkan dengan merata-ratakan dan membaginya pada masing-masing
komponen dan pembangkit.
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13

3.
Pondy Tjahjono10 November 2013 22.18
Komponen E (optional)
Biaya ini tidak merupakan biaya wajib yang harus ada dalam komponen biaya pembangkitan. Namun, saat kita berada dalam posisi IPP
(Independent Power Producer) atau penyedia listrik non-PLN (Pemerintah), terkadang komponen biaya ini turut kita perhitungkan.
Komponen E ini adalah komponen biaya saluran dari trafo step-up yang ada di pembangkit kita ke gardu induk PLN terdekat. Misalnya
kita membangun PLTU sendiri di pinggir pantai. Sementara itu, gardu induk PLN terdekat berada pada jarak 5 km dari PLTU Anda. Nah,
untuk menghubungkan output trafo step-up di pembangkit Anda ke gardu induk tersebut tentu dibutuhkan saluran listrik kan. Biaya
instalasi saluran inilah yang dikenal dengan nama komponen E dan biasanya dibebankan ke PLN selaku pembeli. Sumber.

4.
Nurrahman Jarman11 November 2013 14.08
Menurut informasi yang saya terima, ada pula sistem pembayaran yang berbeda dari yang disebutkan diatas. Dimana terdapat lima
komponen yang terdiri dari:
Komponen A : Berdasarkan CCR (Tingkat Beban Pemulihan Modal)
Komponen B : Berdasarkan FOMR (Fixed O&M Recovery Charge Rate)
Komponen C : Berdasarkan ECR (Energi Primer)
Komponen D : Berdasarkan VOMR (Variable O&M Cost Rate)
Komponen E : Berdasarkan CCRT (Tingkat Beban Pemulihan Biaya Modal Khusus)
dimana dapat dikategorikan lagi menjadi:
Investasi
Biaya Variabel (Energi Primer dan O&M)
Biaya Fix (O&M)
Biaya Investasi Khusus (Transmisi)

5.
Catur Janhari18 November 2013 08.24
Sebelumnya perlu diketahui pembagian area perekonomian, apakah mencakup sisi pembangkitan saja atau seluruhnya sistem sampai
ke pelanggan. Dari sisi pembangkitan saja, cost yang paling terbesar adalah penyediaan dan ketersedian bahan bakar. Sebagai contoh
untuk bahan Bakar Batubara, perlunya ditopang atau mengusai mata rantai pengadaan batubara (backward integration) sehingga akan
menjamin ketersediaan batu bara dan efisiensi biaya. Sebagai studi kasus adalah penyerahan saham pemeintah di PT Pelayaran
bahtera Adhiguna (BAG) kepeda PLN sesuai dengan PP No.20 Tahun 2011 mendukung rencana strategis PLN untuk menyediakan
kebutuhan listrik nasional. Manfaat komersial diperoleh PLN dari pengurangan harga pembelian batubara dimana komponen biaya
angkutan laut termasuk didalam harga beli batubara. Sedangkan bisnis pendukung yaitu keagenan kapal, jasa ekspedisi muatan kapal
dan bongkar muat akan diserahkan pengelolaannya ke anak perusahaan dengan skema kontrak managemen, yang akan meliputi jasa
pandu kapal (tug assist) dan jetty management/port services. Dengan pengembangan bisnis model fungsi pendukung anak perusahaan
yang terintergrasi dengan bisnis BAg ini akan dapat meningkatkan profit Bag Group sekaligus meningkatkan efisiensi biaya bahan bakar
PLN.

6.
Catur Janhari18 November 2013 08.27
Untuk sistem secara keselurhan dari pembangkit hingga didistribusikan ke pelanggan, reliability system merupakan faktor cost yang
terbesar. Tingkat kehandalan dapat diukur berdasarkan SAIDI, SAIFI, dan SOD yang dapat ditemukan laporan PLN setiap tahunnya.

7.
Difi Nuary12 Desember 2013 12.50
Terkait ekonomi yang dijelaskan pada artikel diatas oleh group 2, dijelaskan bahwa keterkaitan analisis ekonomi unit pembangkit ini
hanya kepada unit pembangkit konvensional seperti PLTA,PLTG,PLTU dan lain sebagainya bagaimana dengan unit pembangkit yang
tidak konvensional seperti PLTN,PLTS,PLTP,PLTB dan lain sebagainya? apakah dapat dianalisis dengan menggunakan metode ini atau
ada perhitungan lain untuk pembangkit pembangkit yang tidak konvensional
Balas

3.
Manajemen Energi6 November 2013 10.39
3. Bagaimana dengan biaya kompensasi untuk konservasi lingkungan, masuk dalam kategori apa?
Balas
Balasan

1.
Willy Sukardi7 November 2013 17.39
Biaya konpensasi untuk konservasi lingkungan bisa dikategorikan kedalam biaya tetap, karena biaya yang keluarkan merupakan biaya
yang jumlahnya tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu yang tidak berpengaruh langsung pada output yang dihasilkan oleh unit
pembangkit.

2.

Bagus Wahyuntoro (Yunta)10 November 2013 16.59


Hal yang menarik, ada juga yang memasukkan environmental cost ke dalam variable cost, karena emisi NOx dan SOx dapat dikaitkan
dengan besarnya energi listrik yang dibangkitkan oleh suatu pembangkit, seperti yang ditulis di dokumen ini. Semakin tinggi energi listrik
yang dibangkitkan, semakin tinggi juga emisinya atau polutannya.
Biaya ini termasuk biaya eksternal, seperti halnya juga biaya sosial dan carbon costs.
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13

3.
Irham24 November 2013 10.00
Saya ingin bertanya tentang CSR (corporate social responsibility). Apakah CSR termasuk dalam biaya kompensasi untuk konservasi
lingkungan ini? dan dapatkan biaya yang dikeluarkan untuk CSR mengurangi pajak?
Irham, ME'13

4.
arif budiman24 November 2013 23.40
Biaya kategori ini dapat termasuk biaya pelaporan lingkungan tahunan dan kegiatan hubungan masyarakat, biaya yang dikeluarkan
sukarela untuk kegiatan lingkungan seperti menanam pohon, dan biaya yang dikeluarkan untuk program penghargaan atau pengakuan.
Beberapa biaya lingkungan dapat disebut less tangible atau tangible karena biaya ini dikeluarkan untuk mempengaruhi persepsi
manajemen, pelanggan, karyawan, masyarakat, dan regulator. Biaya ini juga dapat disebut sebagai biaya citra
perusahaan.http://wendraalvinaldi.blogspot

5.
arif budiman26 November 2013 07.21
Mz Irham, untuk CSR bisa sebagai kompensasi lingkungan terhadap masyarakat sekitar dan juga bisa sebagai pengurang pajak, namun
pada dasarnya CSR ini sudah diatur dalam Pasal 74 Undang-Undang nomor 40 tahun 2007
Undang-Undang ini secara imperative menjelaskan bahwa CSR merupakan sebuah kewajiban hukum bagi perusahaan yang memenuhi
kriteria yang ditetapkan Undang- Undang. TJSL yang diatur dalam UUPT 2007 diilhami oleh pandangan yang berkembang belakangan
ini yang mengajarkan perseroan sebagai perusahaan yang melakukan kegiatan ditengah-tengah kehidupan masyarakat, maka
perusahaan harus ikut bertanggung jawab terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat setempat.
Di Indonesia, definisi CSR secara etimologis kerap diterjemahkan sebagai tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Namun
setelah tanggal 16 Agustus 2007, CSR di Indonesia telah di atur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas yang mengantikan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. CSR yang dikenal dalam UndangUndang ini sebagaimana yang termuat dalam
Pasal 1 ayat 1, 2, 3 yang berbunyi:
1.Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau yang berkaitan dengan sumnber daya alam wajib melaksanakan
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
2.Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang
dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan
kewajaran.
3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.
http://edubadrus3.blogspot.com
Namun pada akhirnya CSR juga merupakan kebutuhan bagi perusahaan
Salam. Arif
Balas

4.

Manajemen Energi6 November 2013 10.41


4. Apakah ada relevansinya komponen A, komponen B, komponen C, dan komponen D dalam perhitungan BPP kita? Bisa bantu definisi
dan penjelasan lanjutannya ya....
Balas
Balasan

1.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)13 November 2013 07.41
Dijelaskan oleh mas Ilham dan mas Nurrahman di posting nomor 2 di atas...

2.
Catur Janhari19 November 2013 08.55
Komponen A, B, C, D & E akan menentukan harga jual atau tarif listrik yang akan menentukan apakah tingkat kompetitif suatu
pembangkitan dan sistemnya dengan prinsip at least cost Secara makro akan berpengaruh dengan keterjangkauan (harga) (affordability)
pada pelanggan yang akan mendukung suatu industri atau usaha pelanggan tersebut yang ekonomis dan kompetitif.
Komponen A dan D akan sangat berpengaruh dalam pemilihan jenis pembangkit apakah sebagai base load atau digunakan sebagai
beban puncak (peaker). Sedangkan komponen lain tidak akan mempengaruhi BPP secara major dibandingkan dengan Komponen A & D
yang dipilih kecuali ada hal-hal yang khusus seperti kasus PLTN di Fukusima,
Komponen A akan sangat dipengaruhi dengan cacity faktor (daya yang dibangkitan per tahun). Komponen D dengan teknologi
diasumsikan peer to peer akan sangat dipengaruhi dengan load faktor/rating pembangkitan. Memerlukan studi dan data-data awal yang
komperenhesive termasuk didalamnya pertumbuhan beban, demand factor, manufaktur data, fuel availability dalam membangun suatu
pembangkitan sehinga pemilihan pembangkitan dioperasikan secara maximum dengan least cost.
Sebagai contoh pada Statistik Listrik tahun 2012, PLTD masih nomer 1 dari segi harga/kWH sebesar Rp. 3168,58/kWH (termasuk) dan
PLTU masih termurah untuk pembangkit dengan bahan bakir fosil sebesar Rp. 810,14. Pendapatan rata-rata Rp. 728,32/kWH. Hal ini
menunjukan BPP masih kebih besar dari pendapatan yang berarti tidak PLN mengalami kerugian.
Penurunan BPP dengan komponen A dan D dengan inovasi teknologi dan pembauran energi.. Dari makalah yang dipublikasikan
pusdiklat PLN (bisa diunduh disini.
), ada 3 Strategi operasional untuk menurunkan BPP sebgaai berikut:
1. Fuel Mix Policy . Contoh pergnatian PLTD dengan PLT Biomass
2. Inovasi pemanfaatan teknologi primer dengan least cost. Contoh pengoperasian CNG Plant untuk pembangkit peaker.
3. Inovasi teknologi supporting untuk pembangkit existing. Contoh pemanfaat coal dryer untuk PLTU > 300 MW.
Balas

5.
Manajemen Energi19 Desember 2015 09.33
Kelompok 2 ME-2015
Biaya O&M pembangkit listrik terdiri dari 2 kategori, yakni kategori fixed cost, dan kategori variable cost.
Apa saja yang termasuk sebagai O&M fixed cost dan apa saja yang termasuk O&M variable cost?
Mengapa maintenance sering "dikorbankan" demi untuk mengejar target kehandalan operasi? (Padahal maintenance justru
meningkatkan kehandalan pembangkit dan dapat menambah usia keekonomian pembangkit menjadi lebih lama).
Balas
Balasan

1.
Luky Liem20 Desember 2015 18.00
Biaya O&M yang termasuk fixed cost diantaranya:
1. biaya pegawai reguler termasuk gaji, tunjangan, asuransi kesehatan, THR, biaya diklat
2. biaya administrasi (biaya pengadaan ATK, telepon,komputer,printer,pengadaan buku perpustakaan,dll)
3. biaya bunga pinjaman atas pinjaman yang dilakukan untuk pembangunan instalasi pembangkit dimaksud
biaya O&M variable diantaranya:
1. biaya bahan bakar (batubara, gas, HSD, MFO, HFO)
2. biaya pemeliharaan (biaya pembelian suku cadang dan biaya tenaga khusus untuk pemeliharaan)
Maintenance seringkali dikorbankan/disepelekan karena beberapa hal:
1. Reserve margin sistem setempat sangat kecil bahkan defisit sehingga pembangkit bersangkutan tidak boleh dimatikan dan dipaksa
terus beroperasi padahal sudah waktunya untuk maintenance berdasarkan runnning hours bahkan overhaul
2. Mindset maintenance, terutama predictive maintenance hanya sebagai biaya yang membebani bukan sebagai "investasi" untuk
meningkatkan keandalan dan keekonomian pembangkit
3. Mengefektifkan jadwal pemeliharaan sehubungan biaya dan keterbatasan SDM. Misalkan: perbaikan vibrasi pada circulated water
pump (CWP) pembangkit yang melebihi standar tidak langsung diperbaiki tetapi menunggu jadwal maintenance unit pembangkit
bersangkutan, sehingga ketika unit tersebut dishutdown dapat dilakukan pengecekan dan perbaikan secara keseluruhan.
Sumber:
1. Marsudi, Djiteng. Pembangkitan Energi Listrik Edisi Kedua.2011. Erlangga
2. Blank, Leland.Anthony Tarquin. Engineering Economy 7th Edition.2012.McGraw-Hill
Luky (ME 2015)

2.
Fitria yuliani23 Desember 2015 16.53
Menambahkan yang sudah disampaikan sebelumnya, Biaya OM fixed cost yaitu biaya pemeliharaan dan produksi energi yang bernilai
tetap walaupun tidak ada produksi energi, contoh biaya OM fixed cost antara lain:
1. Biaya tenaga kerja operator, tenaga kerja maintenance (dalam kondisi pengoperasian normal), serta biaya tenaga kerja administrasi.
2. Biaya alat tulis kantor.
3. Biaya pembayaran pajak dan bunga pinjaman.
4. Biaya Kesejahteraan
5. Jasa Reparasi & Perawatan
6. Asuransi
7. Sewa Peralatan
8. Retribusi
9. Diklat
10. Riset
11. Konsultan
Biaya OM variable cost yaitu biaya pemeliharaan dan produksi energi yang dipengaruhi langsung oleh output energi yang dihasilkan dari
pembangkit dan besarnya tergantung besarnya output produksi energi, contoh biaya OM variable cost antara lain:
1. Biaya penggantian suku cadang (spare parts), dan beberapa kebutuhan lainya yang sesekali diperlukan untuk menjaga operasional
pembangkit tetap berlangsung dengan baik.
2. Dalam prosedur perawatan kadangkala menghasilkan sebuah laporan berupa jadwal yang berhubungan dengan durasi
pengoperasian pembangkit, dan apabila perlu mendatangkan petugas untuk melakukan pemeliharaan.
3. Insentif
4. Pemakaian Air
5. Bahan Kimia
6. Material Lain
Kegiatan pemeliharaan dilakukan untuk merawat ataupun memperbaiki peralatan perusahaan agar dapat melaksanakan produksi
dengan efektif dan efisien sesuai dengan kinerja ang diharapkan untuk menyediakan produk yang berkualitas. Biaya perawatan
seringkali dikesampingkan dengan pertimbangan mengejar target kehandalan, padahal perencanaan pemeliharaan pembangkit
merupakan sub-bagian penting dalam perencanaan operasi sistem tenaga listrik.
Metode pemeliharaan pembangkit listrik sangat beragam dan tergantung dengan kondisi beban dan suplai yang tersedia. Namun,
dengan beban yang terus meningkat dan keterbatasan cadangan (reserve) pembangkit yang tersedia menyebabkan nilai Loss of Load
Probability (LOLP) yang besar, ditambah dengan penjadwalan pemeliharaan yang kurang baik dapat mempengaruhi kehandalan sistem
operasi dan dapat berdampak pada turunnya kualitas pelayanan yang menjadi penilaian utama suatu sistem pembangkit.
Oleh karena itu, untuk dapat meningkatkan kehandalan tanpa mengabaikan kegiatan pemeliharaan, perlu mempertimbangkan

penambahan daya terpasang atau menurunkan nilai force outage rate pembangkit.
Fitria (ME 2015) - Kelompok 1

3.
Waluyo Jati (ME 2015)25 Desember 2015 12.47
Jika kita melihat keandalan maka ada keandalan sistem dan keandalan pembangkit.
Maintenance sebuah pembangkit ditujukan untuk mempertahankan keandalan dan keekonomian pembangkit tersebut.
Sementara dilain pihak kontribusi pembangkit tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan keandalan sistem.
Dalam hal ini maintenance tidak dihilangkan namun ditunda untuk mempertahankan keandalan sistem.
Pertanyaannya Apakah hal ini mungkin ?
Sebuah pembangkit jarang sekali terdiri atas satu bagian yang secara berurutan bekerja. Banyak bagian dari pembangkit yang bekerja
secara paralel. Contoh adalah pulverizer yang digunakan untuk menghaluskan batubara dan pensuplai batubara yang dihaluskan ke
boiler. Sebuah pembangkit PLTU dapat memiliki hingga 8 buah pulverizer, sehingga apabila 1 rusak pembangkit dapat bekerja dengan 7
pulverizer dengan daya output mask 87,5% mensuplai daya ke sistem. Maintenance untuk plulverizer yang rusak akan dilakukan saat
planned outage. Komponen lain yang juag bisa diperlakukan seperti itu adalah condenser. Sebuah pembankt dapat memiliki lebih dari 1
condenser. Apabila sebuah condenser mengalami kebocoran maka dimungkinkan condenser itu tidak dioperasikan dan pembangkit
diberikan status derating.
Dari uraian diatas bisa dilihat bahwa pemeliharaan bukanlah dihilangkan namun ditunda untuk alasan yang lebih besar. Penundaan ini
juga sesuai dengan kaidah ekonomi untuk memperolah manfaat sebesar besarnya dari pengoperasian pemangkit dengan tidak setiap
saat melakukan perbaikan saat ada bagian yang rusak, karena hal ini akan sangat megurangi keekonomian pembangkit tersebut.

4.
Andres Edward30 Desember 2015 03.49
Biaya O&M terdiri dari 2 kategori yakni fixed cost dan variable cost.
Biaya O&M fixed cost adalah biaya yang tetap akan keluar/dikeluarkan walaupun tidak ada produksi energi yang berjalan pada
pembangkit tersebut. Contohnya :
1. Biaya Gaji Karyawan (temasuk di dalamnya tunjangaa, asuransi, insentif, dll)
2. Biaya Administrasi (Alat tulis, kertas, map, dll)
3. Biaya Pokok Cicilan dan Bunga dari Hutang
4. Biaya Sewa Gedung
5. Biaya Sewa Alat
6. Biaya Pelatihan
Sedangkan Biaya O&M variable cost adalah biaya yang keluar naik turun sesuai dengan output energi yang diproduksi atau dihasilkan
oleh pembangkit tersebut. Contohnya :
1. Biaya bahan bakar
2. Biaya pemeliharaan
3. Biaya pembelian suku cadang atau spare parts
4. Biaya eksternalitas
5. Biaya pekerja tambahan
Maintenance atau pemeliharaan dilakukan untuk menjaga agar peralatan atau sistem dari peralatan dapat bekerja sesuai dengan umur
hidupnya atau untuk menaikkan kembali kinerja dari peralatan atau alat tersebut, karena seiring berjalannya waktu; alat-alat yang terus
menerus dibebankan pekerjaan produktivitas dan kinerjanya akan terus menurun, dengan penjadwalan dan aktivitas maintenance yang
baik maka akan menaikkan lagi kinerja produktivitas dari alat tersebut.
Namun pada dasarnya perhitungan waktu maintenance tidak hanya kaku pada satu titik waktu. Dengan kata lain sebenarnya ada spare
toleransi waktu tambahan dari waktu maintenance yang seharusnya pada jadwal untuk tiap-tiap peralatan. Misalnya peralatan A yang
membutuhkan lama waktu maintenance 1 hari, hitungan maintenancenya jatuh pada tanggal 28 bulan 1, sebenarnya ada toleransi waktu
diantara tanggal 28 itu untuk melakukan maintenance pada peralatan A tersebut. Sebutlah waktu toleransinya adalah 2 hari sebelum
tanggal maintenance dan 2 hari setelah tanggal maintenance. Artinya peralatan A ini sudah dapat dilakukan maintenance kepadanya
mulai dari tanggal 26, atau selambat-lambatnya dilakukan maintenance pada tanggal 30 (jumlah hari toleransi dan ada tidaknya waktu
toleransi ini tergantung pada peralatan apa dan besar kecilnya pembebanan kerja pada peralatan tersebut. Peralatan yang hanya
dibebankan kerja 15% tentu waktu toleransinya akan lebih panjang dari peralatan yang dibebankan 85% kerja).

Hal ini kemudian memungkinkan terjadinya penundaan maintenance untuk beberapa peralatan dengan pertimbangan reserve margin
yang tersedia pada saat tanggal seharusnya peralatan tersebut maintenance. Atau pada kasus apabila menunda maintenance peralatan
tersebut beberapa hari (masih dalam waktu toleransinya) maka akan bersamaan waktunya dengan jadwal over haul keseluruhan
pembangkit, namun apabila peralatan tersebut di maintenance pada hari itu juga maka keseluruhan pembangkit harus keluar dari sistem.
Andres Pramana Edward
ME 2015
Balas

6.
Agus Indarto25 Desember 2015 06.29
Secara umum, teknologi pembangkitan, biaya listrik dipengaruhi oleh 3 komponen utama :
1. Biaya modal dan investasi
2. Biaya Operasi dan Pemeliharaan (O&M)
3. Biaya Bahan Bakar.
Biaya operasional dan perawatan tetap mencakup mencakup kegiatan operasional dan perawatan harian baik yang terjadwal maupun
tidak terjadwal termasuk biaya tenaga kerja dan adminsitrasi yang berhubungan dengan hal tersebut, sewa tanah dan sub-stasiun,
asuransi
Biaya variabel O&M, adalah termasuk provisi untuk perbaikan dan suku cadang dan pemeliharaan instalasi listrik; dan pajak; manajemen
dan administrasi, termasuk audit, kegiatan manajemen, jasa dan tindakan lainnya.
Alasan utama sering maintenance dikorbankan adalah kehandalan, atau menurut saya lebih tepatnya ada alasan ekonomis/financial.
Pada titik tertentu, lebih baik mengorbakan usia ekonomis, daripada harus kehilangan kehandalan operasi.
1. Biaya kehilangan daya harus diperhitungkan dari sisi konsumen juga, tidak hanya dari sisi produsen. Biaya ini kalau dihitung cukup
besar dan kadang melebihi biaya dari biaya usia keekonomian.
2. Ada beberapa kasus, dimana mengorbankan maintenance/usia ekonomis lebih menguntungkan. Contohnya pada kasus harga minyak
dulu sangat tinggi, salah satu perusahaan minyak menggeber semua peralatan tenaga listriknya secara overload untuk menggenjot
produksinya, tanpa melakukan maintenance, karena setelah dihitung, jika menghentikan operasi, opportunity untuk mendapatkan
keuntungan akan hilang. Dan ternyata income opportunity jika operasi berhenti untuk maintenance, lebih besar daripada perhitungann
usia ekonomis peralatan.
Balas

7.
R Hermawan Wibowo26 Desember 2015 07.36
Untuk biaya O&M baik itu kategori fixed, dan kategori variable sudah disebutkan oleh bapak luky, ibu fitri dan pak agus. Disini saya hanya
menambahkan, Mengapa biaya maintenance sering dikorbankan hanya untuk mengejar target kehandalan operasi?
Menurut saya, maintenance dikorbankan ( mengalami penundaan ) karena lebih ke factor operasional. Menjaga agar operasional tetap
berjalan, mencegah terjadi nya trip / pemadaman dalam proses penyaluran agar kesuluruhan operasi berjalan. Namun untuk alasan
effisiensi, proses maintenance ( untuk penggantian pealatan ) ditunda, dengan melakukan extend component dengan tetap
mempertimbangkan factor operasional. Namun jika dikembalikan kepada hirarki maintenance. Proses maintenance yang dilakukan ada 3
:
1. Mencegah terjadinya kerusakan ( preventive maintenance )
Kegiatan pemeliharaan ini seperti pemeriksaan rutin, pembersihan, pelumasan, penggantian/perbaikan komponen secara berkala.
Kegiatan ini bisa dilakukan secara harian, mingguan, bulanan atau tahunan.
2. Melakukan prediksi terhadap potensi adanya kerusakan ( predictive maintenance )
Pemeliharaan jenis ini menggunakan semua data diagnose dan kinerja, sejarah kerusakan, data operasi dan data desain yang tersedia
untuk mebuat keputusan tentang kegiatan pemeliharaan terhadap sebuah peralatan kritikal
3. Melakukan perbaikan terhadap kerusakan yang muncul ( corrective maintenance )
Pemeliharaan ini membiarkan sebuah peralatan hingga rusak berdasarkan pertimbangan yang matang (kritikalitas, redundancy, biaya
penggantian yang rendah, tidak memberikan efek ke proteksi, keselamatan, dll). Dengan metode ini, tidak ada tindakan pencegahan
sebelum kerusakan terjadi. Hal ini berarti setiap kerusakan memang sudah diketahui dan dikelola. Tidak ada kerusakan yang tidak
diketahui sebelumnya, dan setiap tindakan korektif memang telah direncanakan dengan matang, hanya menunggu kapan kerusakan
terjadi.
Dari 3 hal tersebut, jika maintenance dilakukan dengan benar terutama untuk Preventive dan Predictive Maintenance ), Maka faktor
operasional dan ekonomis dapat diketahui. Segala bentuk kerusakan yang menyebabkan brekadown unit dapat terlihat lebih dulu dan
waktu untuk melakukan maintenance (penggantian ) yang ditunda dapat dijadwalkan untuk melakukan proses penggantian. Sehingga
faktor operasional dapat berjalan dengan baik, kehandalan peralatan pada sistem pembangkit dapat bertahan lama. Jadi tidak ada
alasan untuk menunda maintenance dengan alasan apapun. Jika 3 proses maintenance dilakukan dengan baik dan benar.

Thanks & Regards


R Hermawan Wibowo ME 2015

06. System Reliability: RESERVES


10/15/2013 04:06:00 PM Ekbang 19 comments

Seri Ekonomi Pembangkitan

oleh: Kelompok 4:
Catur Janhari, Chairy Wahyu Winanti, Irwan Wakhidiyanto

Sistem ketenagalistrikan memiliki fungsi dasar melayani pelanggan dengan listrik, baik besar ataupun kecil, dengan seekonomis dan sehandal
mungkin. Kehandalan dalam sistem ketenagalistrikan adalah kemampuan untuk menyediakan pasokan listrik dalam jangka waktu tertentu dalam masa
operasional yang dijalani.

Power System Reliability


Secara sederhana kehandalan sistem ketenagalistrikan dapat dibagi menjadi dua aspek, yaitu:

1.

Kecukupan
Hal ini keterkaitannya dengan ketersediaan fasilitas yang memadai dalam sistem untuk memenuhi kebutuhan (load) pelanggan.
Termasuk fasilitas untuk pembangkitan, transmisi dan sistem distribusi yang dibutuhkan untuk menghantarkan listrik yang dihasilkan
hingga titik beban.

2.

Keamanan
Hal ini keterkaitannya dengan respon sistem terhadap gangguan, termasuk gangguan yang bersifat lokal dan gangguan dengan
cakupan lebih luas, serta kehilangan pembangkitan ataupun transmisi utama.

Gambar 1. Pembagian Zona Sistem Ketenagalistrikan


(sumber: Power System Reliability - Concept & Techniques, IEEE PES Distinguished Lecturer Program, by Dr. Lalit Goel, Nanyang Technological University)

Tipikal dari aspek probabilitas zona-zona tersebut adalah sebagai berikut:

1.

Level Pembangkitan
Tingkat forced outage dari sebuah pembangkit diketahui sebagai fungsi dari ukuran unit tersebut, sehingga presentase cadangan yang
tetap (fixed percentage reserve) tidak dapat memastikan risiko secara konsisten.

2.

Level Transmisi
Tingkat kegagalan dari saluran udara merupakan fungsi dari panjangnya saluran, aspek desain, lokasi, lingkungan dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, risiko yang konsisten terhadap gangguan pasokan tidak dapat dipastikan dengan membangun jumlah minimum
jaringan.

3.

Level Distribusi
Semua keputusan perencanaan dan operasi berdasarkan pada bagaimana teknik/pendekatan memperkirakan(forecasting) beban
masa depan yang tidak dapat diperkirakan secara tepat, ketidakpastian akan selalu ada dalam perkiraan. Hal ini menyebabkan faktor
yang bersifat statistik dinilai dengan cara probabilitas.

KEHANDALAN PEMBANGKIT
Kehandalan kapasitas pembangkitan didefinisikan dalam hal cukupnya kapasitas terpasang pembangkit untuk memenuhi beban sistem.
Dalam sistem interkoneksi yang terdiri dari banyak unit pembangkit, maka kehandalan unit-unit pembangkit yang beroperasi dibandingkan dengan
beban yang harus dilayani menggambarkan kehandalan sistem tersebut.

Loss-of-Load Probability (LOLP)


Loss of Load merupakan kondisi dimana pembangkit tidak dapat memenuhi kebutuhan beban.
Sedangkan probabilitas kehilangan beban (LOLP)
adalah metode yang dipergunakan untuk mengukur tingkat kehandalan dari suatu sistem pembangkit dengan mempertimbangkan kemungkinan
terjadinya peristiwa sistem pembangkit tidak dapat mensuplai beban secara penuh.

Istilah probabilitas dalam LOLP kurang tepat karena kuantitas yang dihitung dalam LOLP dihitung secara matematis, nilai yang dapat diperkirakan
bukanlah probabilitas.

Gambar 2
Perpotongan Kapasitas Daya dengan Kurva Lama Beban Untuk Perhitungan LOLP

"Semakin kecil nilai LOLP, semakin tinggi kehandalan sistem. Sebaliknya, makin besar nilai LOLP, makin rendah kehandalan sistem, karena hal ini
berarti probabilitas sistem tidak dapat melayani beban yang makin besar."
Nilai LOLP dapat diperkecil
dengan menambah daya terpasang atau menurunkan nilai Forced Outage Rate (FOR) unit pembangkit, karena dua langkah ini dapat memperkecil
probabilitas daya tersedia.

Penentuan besarnya nilai LOLP dari suatu sistem harus mempertimbangkan besarnya peran penyediaan tenaga listrik pada sistem tersebut atau
dengan kata lain berapa besar kerugian yang dialami pemakai energi listrik (konsumen) apabila terjadi interupsi atau gangguan penyediaan pasokan
energi listrik.

FORCED OUTAGE RATE


Nilai kinerja pada unit pembangkit:
diambil dari jumlah durasi gangguan unit per satuan waktu, biasanya dalam satu tahun, disebut dengan forced outage rate (FOR) yaitu kemungkinan
terjadinya gangguan pada unit tersebut dalam persen atau angka desimal.
Misalkan apabila sebuah unit pembangkit mempunyai FOR = 0,07 maka kemungkinan unit ini beroperasi adalah sesuai rumus availibility 99,93% atau
1- 0,07 (nilai FOR), sedangkan kemungkinan mengalami gangguan adalah 0,07 sesuai dengan nilai FORnya.
Dengan demikian maka besarnya cadangan daya tersedia yang bisa diandalkan bergantung juga pada FOR unit-unit pembangkit.
Makin kecil FOR nya makin tinggi jaminan yang didapat, sebaliknya makin besar FOR makin kecil jaminan yang didapat.
Apabila sistem tenaga listrik terdiri dari beberapa pusat tenaga listrik maka tingkat jaminan tersedianya daya dalam sistem bergantung pada komposisi
unit-unit pembangkit yang ada dalam sistem.

dengan
FOH : jumlah jam unit terganggu
SH : jumlah jam unit beroperasi

FOR Formula untuk beberapa pembangkit:

dengan
Nh : Jumlah jam dari pembangkit yang beroperasi

Contoh Sistem Dengan 3 Unit Pembangkit

Tabel 1. Data FOR Pembangkit

Menentukan banyak kombinasi yang terjadi dalam operasi sistem tenaga listrik sebagaimana persamaan berikut :
Banyak kombinasi = 2^n
Keterangan : n = banyaknya pembangkit
Dengan empat unit pembangkit ada 2^3 = 8 kombinasi pembangkit yang bisa terjadi dalam operasi sistem ditinjau dari segi penyediaan daya.
Setiap kombinasi dapat dihitung kemungkinan terjadinya dengan menggunakan FOR seperti pada tabel berikut;

Tabel 2. Kombinasi 4 Pembangkit

Perhitungan LOLP
Secara sederhana perhitungan LOLP dapat diilustrasikan dengan contoh sederhana berikut.
Sistem terdiri dari tiga unit pembangkit dengan kapasitas masing-masingnya 10 MW dan laju kegagalan pembangkit ( failure of rate, FOR) masingmasingnya adalah 10%.
Hasil perhitungan probabilitas kumulatif ditunjukan pada Tabel-3, singkatan Daya IN adalah unit pembangkit masuk sistem, yang mempunyai empat
kemungkinan state space: yaitu 30, 20, 10 dan 0 MW. Sedangkan Daya OUT sebaliknya.

Tabel 3. Individual and Cumulative Probability

Kemudian berikut ini dinyatakan Load Duration Curve (LDC) dalam Gambar-3.
Pada beban puncak,
perpotongan dengan sumbu datar adalah t1=0 dengan probabilitas kumulatif P1 untuk state space pertama (daya OUT 0 MW), state space
kedua (daya OUT 10 MW) berpotongan pada t2=6 jam dengan probabilitas kumulatif P2, state space ketiga (daya OUT 20MW) berpotongan
pada t3=21 jam dengan probabilitas kumulatif P3 dan state space keempat (daya OUT 30 MW) berpotongan pada t4=24 jam dengan probabilitas
kumulatif P4.

Gambar 3. Kurva Lama Beban

Kemudian harga LOLP dihitung berdasarkan persamaan berikut

dengan
Pi : probabilitas sistem dapat menyediakan daya tertentu (misal: a)
ti : lamanya ketersediaan daya tertentu (a)
Berdasarkan persamaan ini didapat indeks LOLP pada sistem adalah
LOLP = Px0 + 0,271x6 + 0,028x21 + 0,001x24 = 2,238 jam/hari atau 34,036 hari/tahun.

Indek LOLP = 34,036 hari/ tahun ini menyatakan kemungkinan pembangkit gagal melayani beban selama 34,036 hari dalam satu tahun.
LOLP ini bukan menyatakan kegagalan total atau listrik padam semua, tetapi menyatakan kekurangan pasokan daya sehingga ada beban yang tidak
dapat dilayani, yang dalam prakteknya berupa peadaman bergilir.

Sumber atau Daftar Pustaka:

1.

Marsh, W. D. Diktat Electric Utility Power Generation Economics. New York: Clarendon Press-Oxford, University Press.

2.

Goel, Lalit. 2011. Power System Reliability Concepts & Techniques, IEEE PES Distinguished Lecturer Program. Singapore: Nanyang
Technological University.

3.

Keandalan Pembangkit, (Online), (http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/05/keandalan-pembangkit.html, diakses 13 Oktober 2013)

Artikel Terkait

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

10. DIRECT UNIT Comparison

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

08. TOTAL SYSTEM Analysis

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


You might also like:
05. System OPERATION
08. TOTAL SYSTEM Analysis
07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit
10. DIRECT UNIT Comparison

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

19 komentar:
1.

Bagus Wahyuntoro (Yunta)16 Oktober 2013 10.14


Tulisan yang sangat bagus dari mas Catur, mbak Chairy dan mas Irwan.
Mau menambahkan sedikit, di awal tulisan Reliability total kan dihitung dari Reliability Total Sistem Pembangkitan x Reliability Total
Sistem Transmisi x Reliability Total Sistem Distribusi. Terkadang kita terlalu fokus ke sistem pembangkitan, sehingga Reliability Total
Sistem Transmisi dan Distribusi dianggap 1 atau 100%. Padahal beberapa kasus terjadi, pemadaman diakibatkan dari kegagalan sistem
distribusi. Sehingga, akan lebih mencerminkan dan lebih predictable apabila dihitung juga pada reliability tiap sistem distribusi pada blok
diagram sistem reliability. (pada saat reliability analysis)
Bahkan kehandalan (reliability) pada IEEE 399 - Recommended Practice for Industrial and Commercial Power Systems Analysis, pada
pengertiannya ditambahkan kata-kata "..sesuai dengan fungsi yang diharapkan...". (atau "...its intended function...") Sehingga hal ini
diartikan apabila suatu pembangkit yang seharusnya mampu meng-handle beban 300 MW namun kenyataannya dia hanya mampu

meng-handle maksimum 250 MW, meskipun beban harian hanya 200 MW, maka reliability pembangkit tersebut turun.
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13.
Balas
Balasan

1.
Samuel Parura19 Oktober 2013 14.17
Saya sependapat dgn pak Bagus bahwa reliability total kesistiman (pembangkit, transmisi dan distribusi) harus dipertimbangkan secara
keseluruhan, namun menurut pendapat saya bahwa sistem integrasi dan interkoneksi berbagai pembangkit PLTU, PLTA, PLTG, PLTD dll
biasanya GI (gardu induk) masing-masing pembangkit transmisi tegangan tingginya sudah terkoneksi secara sistem ring, sehingga bila
terjadi gangguan pada salah satu transmisi maka Supply daya akan tetap terjamin dari gardu induk. Yang menjadi masalah bila sistim
distribusi tegangan menengah dan tegangan rendah yg terjadi kegagalan akibatnya akan terjadi pemadaman pada load Yg terkoneksi
pada JTM danJTR namun masih bersifat lokal.
Lain halnya bila yang mengalami kegagalan atau TRIP adalah salah satu pembangkit dimana pembangkit Yg TRIP itu adalah
pembangkit dengan daya Yg lebih besar dari cadangan yang tersedia, kemungkinan akan mengakibatkan TOTAL BLACKOUT.
jadi menurut saya untuk menjamin kehandalan sistem pada saat terjadi overhaul salah satu pembangkit, maka cadangan daya Yg masih
ada harus masih lebih besar dari beban puncak.
Kalau kasus pembangkit dgn daya terpasang 300 MW dan outputnya hanya 250 MW walaupun beban hanya 200 MW, saya kira ini
masalah efisiensi dari pembangkit yang menurun namun masih reliable karena masih bisa menjamin suplai atau daya yang dibangkitkan
masih lebih besar dari beban sistem.
Mohon koreksinya bila saya keliru.
Salam
Samuel Parura ME 13

2.
Samuel Parura19 Oktober 2013 14.26
Sedikit masukan untuk tabel kombinasi probability of outage di atas, bila pembangkit Yg sedang OFF maka faktor pengalihnya
semestinya Forced outage Hours nya (FOH) bukan Service Hours (SH) yaitu (1-FOH). Hasilnya perkalian ya sih OK, mungkin hanya
salah ketik saja.
Salam
Balas

2.
Catur Janhari17 Oktober 2013 10.04
Terimakasih Pak Bagus atau Informasinya. Faktor-faktor lain yang berhubungan dengan reliability salah satunya adalah aging factor.
Aging factor menyebabkan kehandalan unit akan menurun dikarenakan efisiensi akan turun.
Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan penjadualan pemiliharaan yang teratur dan dianalisa lebih lanjut sesuai dengan kondisi operasi
yang aktual.
Salah satu parameter dalam operasi sebenarnya yang menunjukan kehandalan suatu unit pembangkitkan termasuk didalamnya
transmisi dan distribusi adalah SAIDI, SAIFI yang pada setiap kaporan tahunan PLN akan tercantum. Sedangkan CAIDI adalah
perbandingan antara SAIDI dengan SAIFI sehingga dari pihak konsumen terutama yang berhubungan produksi dapat memperkirakan
kemungkinan jumlah produksi yang turun dan perancangan ekonomisnya untuk emngantisipasi hal tersebut berdasarkan SAIDI, SAIFI
dan CAIDI.
Sedangkan dari pihak pembangkitkan nilai SAIDI, SAIFI dan CAIDI menunjukan indeks kehandalan pembangkitan, transmisi dan
pendistribusian listrik.

Untuk transmisi SOD menunjukan relibility dari sistem transmisi.


Balas
Balasan

1.
Samuel Parura19 Oktober 2013 14.34
Benar pak catur, peralatan didalam sistem apapun harus dipelihara secara periodik sesuai manual book peralatan tersebut yang dibuat
Manufacturer. Dengan dijalkannya aktivitas PM dan PDM (preventive maintenance dan predictive maintenance) maka peralatan akan
reliable dan nilai ekonominya tidak cepat turun. Namun bila maintenance dilakukan secara breakdown artinya sudah mengalami
kerusakan baru diperbaiki maka akan menimbulkan kerugian yang besar seperti loose oportunity, kehandalan turun, kerusakan pada alat
dan umur alat akan menurun.
Salam
Samuel Parura ME13
Balas

3.
Catur Janhari17 Oktober 2013 10.07
Diskusi tambahan:
1. Apa yang dimaksud dengan SAIDI, SAIFI dan CAIDI?
2. Apa hubungan LOLP dengan SAIDI, SAIFI dan CAIDI?
3. Apa pengaruh SAIDI, SAIFI dan CAIDI terhadaap perekonomian makro?
Balas

4.
Irham20 Oktober 2013 05.40
SAIDI (System Average Interruption Duration Index) adalah lama durasi pemadaman dibagi jumlah pelanggan yang mengalami
pemadaman atau lama pemadaman yang dirasakan setiap pelanggan
SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) adalah jumlah frekuensi pemadaman dibagi jumlah pelanggan yang mengalami
pemadaman atau frekuensi pemadaman yang dirasakan setiap pelanggan
CAIDI (Customer Average Interruption Duration Index) adalah lama durasi padam dibagi frekuensi pemadaman atau lama padam untuk
setiap pemadaman yang dirasakan setiap pelanggan
SAIDI dan SAIFI merupakan indikator kinerja bidang distribusi di seluruh dunia. Nilai ketiga indikator ini hampir tidak mungkin sama
dengan 0 (nol) karena metode pemeliharaan yang digunakan masih banyak yang bersifat offline. Walaupun indikator ini menjadi
penilaian distribusi, peran dari pembangkit dan transmisi memiliki pengaruh yang cukup besar karena interupt pada kedua sistem ini
memiliki dampak yang besar. Oleh karena itu pembebanan feeder/penyulang diusahakan dibawah 100% sehingga manuver jaringan
dapat dilakukan dengan mudah untuk meminimalisir pemadaman yang dirasakan pelanggan.
Balas

5.
dedy rachmansyah20 Oktober 2013 16.53
Sedikit mengomentari berkatian dengan SAIDI, SAIFI dan CAIDI, menurut saya parameter atau indikator yang digunakan dalam
Pembangkitan ini hampir sama dengan parameter dalam pengelolaan pada suatu Alat Berat atau Unit yaitu :
PA : Physical Availibilty = Kemampuan/kehandalan menyediakan untuk kesiapan operasi dalam suatu periode waktu tertentu

MTBF : Mean Time Between Failure = Tingkat kepercayaan alat/unit berapa lama mampu beroperasi dalam suatu periode waktu tertentu,
hal ini sangat terkait dengan brp kali unit tersebut mengalami shutdown krn Unschedule breakdown.
MTTR : Mean TIme To Repair = Tingkat Kepercayaan alat/unit dihitung dari rata2 berapa lama atau durasi breakdownya dalam suatu
periode waktu tertentu.
Pertanyaannya bagi Mas Irham, Mas Catur atau semua Kel 4 :
1. Berapa rata2 angka / persentase nilai dari SAIDI,SAIFI & CAIFI dari suatu pembangkit
2. Apakah Nilai tersebut berbeda-beda pada setiap pembangkit.?
3. Apakal hal ini terus dimonitor/direview sebagai paramater indikator KPI.?
Balas
Balasan

1.
Irham25 November 2013 14.48
SAIDI, SAIFI, dan CAIDI berhubungan dengan pelanggan dan bidang kelistrikan yang bersentuhan langsung dengan pelanggan adalah
distribusi. Oleh karena itu termasuk KPI bagi distribusi. Sedangkan untuk KPI untuk pembangkit yang saya peroleh dari diskusi dengan
temen di pembangkit Sumatra Barat adalah terkait interupt sistem dan penggunaan bahan bakar.
Mungkin ada yang bisa menjelaskan KPI untuk pembangkit sendiri?
Balas

6.
chairy23 November 2013 08.39
Mencoba menanggapi pertanyaan Mas Dedy, nilai SAIDI, SAIFI dan CAIFI tidak hanya bergantung pada sistem pembangkitan,
melainkan bergantung pada keseluruhan sistem tenaga listrik, termasuk sistem transmisi dan distribusinya. Sehingga nilai SAIDI, SAIFI
dan CAIDI tidak hanya merepresentasikan kehandalan sistem pembangkitan. Untuk nilai SAIDI, SAIFI dan CAIDI pertahunnya bisa
dilihat pada RUPTL.
Chairy, ME13
Balas

7.
praditya_dian5 November 2014 01.34
Setuju dengan mas chairy bahwa sesuai dengan pengertian SAIDI SAIFI dan CAIDI dimana pelanggan yang menjadi objek dari
parameter tersebut, maka parameter parameter tersebut berlaku dari system pembangkitan hingga system jaringan distribusi tegangan
rendah 220VAC
Balas

8.
Manajemen Energi19 Desember 2015 09.39
Kelompok 3 ME-2015
Dalam pembangunan pembangkit baru, apa saja yang menjadi pertimbangan dalam pembagian daya yang akan terpasang? Contoh :
600 MW dibagi menjadi 3x200 MW atau 2x300 MW?
Balas

Balasan

1.
Fitria yuliani23 Desember 2015 16.50
Pertimbangan utama dalam pembagian daya yang terpasang pda suatu wilayah yaitu beban pembangkit, kehandalan (kecukupan dan
kemanan pasokan listrik) suatu sistem pembangkit dan nilai ekonomi dari sistem pembangkitan.
Dari sisi kehandalan pembangkit, perhitungan beban rata-rata dan beban puncak dapat menjadi pertimbangan dalam pembagian daya
terpasang. Perhitungan kehandalan suatu sistem pembangkit dari beban suatu wilayah dapat dilakukan dengan Loss of Load Probability
(LOLP) dan nilai kinerja unit pembangkit yaitu Forced Outage Rate (FOR).
Dari sisi keekonomian, pertimbangan pembagian daya terpasang juga tergantung potensi sumber daya energi yang tersedia pada
daerah tersebut, sehingga dengan karekteristik pembangkit listrik berdasarkan bahan bakar yang digunakan dan ketersediaan bahan
bakar didaerah tersebut dapat menjadi pertimbangan pembagian daya terpasang.
.Mohon pendapat dan koreksi terhadap pendapat saya tersebut
Fitria (ME 2015) - Kelompok 1

2.
Waluyo Jati (ME 2015)25 Desember 2015 12.34
Dalam perencanaan pembangkitan terdapat sebuah rule of thumb akan ukuran pembangkit maksimal yaitu 10% dari beban sistem. Hal
ini untuk meminimalisir dampak goyangan frekuensi saat terjadi forced outage. Bila goyangan frekuensi lebih besar dai nilai tertentu
dapat terjadi pemutusan oleh under frekuensi relay terhadap beban-beban tertentu untuk menghindari kerusakan pada sistem dan
beban.
Kerusakan pada sistem adalah pelepasan sistem secara total dan kerusakan beban adalah akibat goyangan frekuensi yang mampu
merusak beban (contoh adalah motor listrik daya besar (beberapa MW) dapat rusak/patah porosnya akibat goyangan frekuensi).
Secara umum ada 3 kriteria yang perlu diperhatikan yaitu keamanan, keandalan dan keekonomian. Ketiganya perlu diperhatikan dalam
perencanaan pembangunan sistem. Oleh sebab itu perencanaan sebiah sistem tidaklah sebuah proses linier namun merupakan proses
umpan balik untuk menentukan kesetimbangan antara kriteria diatas.
Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah ukuran sumber energi primer itu sendiri. PLTA tentu saja ukurannya akan menyesuaikan
dengan besar debit air sepanjang tahun, PLTP akan menyesuaikan dengan besar produksi uap yang ada, dst.
Selain itu juga ada batasan teknologi, bila sistem sudah besar sekali katakanlah 75.000 MW tetap saja pembangkit terbesar akan
mengikuti kapasitas terbesar yang secara ekonomi mampu dibangun (contoh 1400 MW) dan bukannya 7500 MW sesuai rule of thumb.
Secara umum komposisi pembangkitan dengan kriteria keekonomian tertinggi akan dicari dengan memperhatikan keamanan dan
keandalan yang disyaratkan.

3.
indra aditya25 Desember 2015 17.53
Pertimbangan dalam pembagian daya yang akan terpasang ditentukan oleh tingkat keandalan (indeks loss of load probability atau LOLP)
yang sudah ditetapkan sebelumnya. Index LOLP dinyatakan dalam jumlah hari dalam periode yang ditentukan ketika beban diperkirakan
melebihi kapasitas pembangkit yang tersedia. Konfigurasi penambahan pembangkit ditentukan oleh pertumbuhan bebannya, pola beban
harian, jumlah dan kapasitas pembangkit eksisting, dan laju kegagalan unit pembangkit (FOR:failure of rate).
Indra Ardhanayudha Aditya,ME15

4.
asril irsadi27 Desember 2015 08.35

Salah satu yang menjadi alasan dalam pembangunan pembangkit baru untuk pertimbangan dalam pembagian daya yang akan
terpasang adalah dengan menggunakan metode perhitungan Forced Outage Probability. Sebagai contoh, jika kita melakukan
pembangunan pembangkit dengan kapasitas 600 MW alangkah lebih baik untuk dibagi menjadi 2x300 MW ataupun 3x200 MW. Dengan
metode tersebut akan didapat peluang terjadinya beban keluar dari sistem pada unit 600 MW lebih besar jika dibandingkan dengan
pembangkit dengan kapasitas 3x200 MW ataupun 2x300MW. Kehilangan daya atau terjadinya pemadaman jika berlangsung terus
menerus ini akan sangat merugikan masyarakat dan akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi kedepannya. Sehingga perhitungan
pembagian daya ini perlu diperhitungkan dengan baik.
Asril Irsadi, ME 2015

5.
Arief Murnandityo29 Desember 2015 20.46
Pada dasarnya, pertimbangan pembangunan pembangkit baru atau penambahan daya dengan ekspansi disebabkan beberapa hal:
1. Rencana kebutuhan daya dan identifikasi tipe beban yang akan disuplai
2. Tingkat kehandalan eksisting, handal berarti cukupnya kapasitas terpasang pembangkit untuk memenuhi beban sistem.
3. Faktor keekonomian sistem pembangkit
Pertimbangan pemilihan pembagian daya pembangkitpun harus memikirkan 3 faktor di atas.
Di dalam suatu system, kehandalan menjadi salah satu kriteria untuk penentuan mana pilihan yang optimum. dengan demikian
kehandalan menjadi faktor dalam pengambilan keputusan. Analisis kehandalan pertama dilakukan dengan metode Loss of Load
Probability, metode yang mempertimbangkan kemungkinan terjadinya peristiwa sistem pembangkit tidak dapat mensuplai beban secara
penuh. Salah satu penentu LOLP adalah Forced Outage Probability yang di dalamnya memperhitungkan Foced Outage Rate (FOR)/Rf
yaitu kemungkinan terjadinya gangguan pada unit tersebut.
Nilai FOR setiap unit pembangkit menjadi dasar berapa kombinasi dan berapa persen kehandalan kombinasi sistem tersebut. dengan
demikian dapat dianalisis bagaimana kombinasi pembagian daya dalam satu sistem pembangkit.
Analisis Lebih lanjut dapat dilakukan dengan konsep effective load-carrying capacity. Dengan konsep ini kita membandingkan
kehandalan system dan efek FOR dari alternatif penambahan suatu tipe unit pembangkit ke dalam system pembangkit.
Dengan metode dan konsep yang disebutkan di atas, kita dapat menganalisis berapa kapasitas dan jumlah unit pembangkit yang efektif
ditambahkan ke dalam system dan berapa kehandalannya berdasarkan nilai FORnya.
Arief Murnandityo ME 2015

6.
Stefanus Wisnu30 Desember 2015 06.49
Selain dari sisi kehandalan sistem, juga harus mepertimbangkan berdasarkan dari sisi ekonomi dari pemilihan unit size pembangkit
tersebut, yaitu dengan mencari nilai paling optimal antara nilai capital cost pembangkit yang paling rendah dengan biaya reserve-nya.
Semakin besar unit size pembangkit maka plant cost dan operation and maintenance cost-nya akan semakin kecil. Sebaliknya,
semakin besar unit size pembangkit maka reserve cost juga akan meningkat.
Jadi harus dihitung dulu misalnya mana nilai paling optimal secara ekonomis antara 3 unit pembangkit @200 MW dibandingkan dengan
2 unit @300 MW.
St. Wisnu N (ME 2015) - Kelompok 1
Balas

9.
Fadolly Ardin29 Desember 2015 22.47
Perencanaan penambahan daya pembangkit adalah suatu proses kegiatan perencanaan yang rumit yang harus dapat memenuhi total
biaya pembangkitan yang minimum dengan batasan keandalan, lingkungan dan ketersediaan pendanaan. Hal ini dilakukan dengan
mempertimbangkan ketidakpastian yang ada dalam perencanaan pembangkitan, seperti berapa persen perkiraan pertumbuhan beban
per tahun, Perkiraan ketersediaan dan harga bahan bakar, Bentuk kurva beban harian yang ada di wilayah tersebut, analisa aliran daya
dan short circuit di dalam sistem.
Selain itu, perencanaan penambahan daya pembangkit juga mempertimbangkan ketersediaan kelas unit (unit size) pembangkit sesuai
dengan ketersediaannya di pasar atau industri peralatan yang mendukung unit size yang ada. Sebagai contoh, PLTU di Kalimantan saat
ini memiliki kelas unit yaitu 25 MW , 50-60 MW, dan 100 MW. Hal ini dikarenakan kelas boiler, turbin, generator dan transformer selaku
peralatan utama yang tersedia di pasar yang tersedia saat ini hanya dalam unit kelas tersebut. Pembangkit yang dibangun dengan unit
kelas yang ada di pasaran akan memiliki biaya yang lebih murah dibandingkan bila pembangkit tersebut memiliki kelas unit yang spesifik.
Semakin kecil unit kelas yang dipilih tentunya akan meningkatkan kehandalan seperti contoh pembangkit dengan kapasitas 3 x 200 MW

akan lebih handal daripada pembangkit dengan kapasitas 2 x 300 MW, namun kita juga harus mempertimbangkan banyaknya
pembangkit yang kita bangun jelas akan menambah biaya pembangunan pembangkit dan mengurangi nilai efisiensi pembangkit karena
semakin besar pembangkit umumnya efisiensi kerja pembangkit semakin baik.
Fadolly Ardin, ME 2015

05. System OPERATION


10/14/2013 10:50:00 AM Ekbang 32 comments

Seri Ekonomi Pembangkitan


oleh: Kelompok 6
Ilham Budi, Rachmawati Agustin, Argianto, Difi Nuary

Analisis keekonomian pembangkitan menunjukkan sebuah proyeksi atau prediksi keekonomian dari operasi sistem pembangkitan dengan berbagai
pilihan fasilitas pembangkitan di masa mendatang guna melayani beban yang ditentukan. Pada dasarnya, analisis ini merupakan simulasi atau dugaan
atas operasi mendatang. Pengetahuan tentang prinsip-prinsip operasi sistem penting dikuasai untuk memperoleh hasil yang dapat dipercaya (credible
results) oleh banyak pihak.

KEHANDALAN OPERASI
Tujuan pertama dari sistem operasi pembangkitan tenaga listrik adalah memastikan kehandalan, yang berarti pasokan listrik terus menerus dalam
range (rentang) variasi tegangan dan frekuensi yang diperbolehkan. Biasanya dalam nominal kecil atau rendah.
Pada dasarnya ini memerlukan adanya kecocokan output dari sistem pembangkitan dengan beban, suatu proses yang mempertimbangkan variasi
beban dan daya yang dibangkitkan dalam periode kurang dari satu detik hingga beberapa tahun.
Untuk jangka pendek ini rentang yang terjadi terkait dengan mengenai perubahan beban normal dan perubahan daya pembangkitan akibat adanya
kegagalan tiba-tiba dari sistem pembangkit. Untuk jangka panjang rentang yang terjadi terkait dengan pertumbuhan beban normal dan waktu atau
periode pembangunan pembangkit-pembangkit besar yang baru.
Capacity atau reserve planning merupakan kapasitas terpasaing yang ditentukan untuk mengantisipasi perubahan beban normal dalam jangka
panjang.

Reserve capacity dibentuk akibat adanya ketidakpastian (risiko) pada sisi ketersediaan kapasitas dan beban dalam berbagai kurun waktu.

SEASONAL RESERVE: MAINTENANCE


Cadangan berarti selisih antara kapasitas dan beban.
Jika dinyatakan dalam persantase itu merupakan fraksi berbasis beban. Cadangan terpasang diartikan sebagai selisih antara kapasitas terpasang
dengan beban puncak pada suatu tahun tertentu. Ini merupakan perkiraan kasar mengenai potensi kehandalan operasi untuk tahun tertentu.
Untuk pertimbangan kehandalan dengan adanya variasi beban musiman perlu ditentukan margin cadangan (reserve margin) sepanjang tahun meliputi
beban puncak musiman pada setiap musim dalam setahun.
Variasi ini penting untuk menjadwalkan pemeliharaan unit pembangkitan.

UNIT MAINTENANCE REQUIREMENTS


Pada saat melaksanakan pemeliharaan unit pembangkitan berhenti beroperasi selama kurun waktu tertentu yang terjadwal.
Persentase waktu dimana unit tidak beroperasi akibat adanya pemeliharaan rutin disebut dengan planned outage. Nilainya bervariasi menurut jenis
pembangkit. Umumnya 2% atau kurang untuk pembangkit hidro hingga 12% atau lebih untuk coal-fired steam units.

SYSTEM MAINTENANCE SCHEDULING


Tujuan utama dari jadwal pemeliharaan adalah untuk mengurangi risiko ketidaktepatan kapasitas dalam 1 tahun.

DAILY OPERATING RESERVE


Topik ini terkait dengan bagaimana operator usaha pembangkitan melepaskan cadangan yang ada (available reserve) setiap hari untuk mengikuti atau
mencocokkan variasi beban harian dan membentuk kontigensi.
Cadangan operasi merupakan selisih antara beban antisipasi dan kapasitas pembangkit yang menghasilkan output dalam jangka waktu cukup singkat
dalam batas tertentu. Total cadangan operasi dibentuk dari komponen-komponen yang dirancang untuk setiap kemungkinan.

SPINNING RESERVE
Perkiraan atau forecast beban setiap jam umumnya dibentuk sebelum operasi harian dilaksanakan.
Sejumlah unit kadangkala harus di shutdown pada saat beban rendah untuk menghemat biaya. "Commitment list" merupakan daftar pembangkit
yang harus dapat dioperasikan untuk mengimbangi peningkatan beban yang tinggi, misalnya di pagi hari.
Mengingat waktu untuk mengaktifkan pembangkit dan waktu untuk melakukan sinkronisasi biasanya lebih panjang dari kenaikan beban maka
umumnya pembangkit harus disiapkan cukup lama sebelumnya dengan excess power sekitar 50% hingga 100% dari kapasitas dalam periode adanya
kenaikan beban yang cepat.
Besarnya excess power disebut sebagai spinning reserved.

Spinning reserve umumnya sangat mahal dibandingkan saat beroperasi normal pada kapasitas penuh. Namun demikian tetap diperlukan untuk
menjaga kehandalan yang nilainya berkisar antara 4% hingga 8%.

Tidak ada forecast yang betul-betul sempurna. Forecast error kerap terjadi dengan allowance sebesar 1% hingga 2%.
Selain itu juga dicadangkan sebesar 1% hingga 2% dari spinning reserve untuk mengatasi lonjakan beban yang bersifat mendadak yang terjadi dalam
orde detik (2 hingga 5 detik).
Disamping itu sistem operasi juga harus mengantisipasi kehilangan daya mendadak akibat malfungsi pada pembangkit yang terhubung dalam sistem
interkoneksi atau pool.

NON SPINNING RESERVE


Ini jenis reserve yang dibentuk dengan mengoperasikan pembangkit di wilayah yang mengalami kekurangan kapasitas untuk menghindari risiko pada
transmisi jika harus ditangani oleh spinning reserve dalam waktu singkat.

OPERATION FOR ECONOMY


Tujuan utama operasi adalah untuk melayani beban. Kedua, tentu saya harus pada biaya terendah (minimum cost). Biaya terendah yang utama dapat
dicapai dalam operasi adalah dengan menghemat biaya bahan bakar.
Bagi dispatcher, ini berarti memilih pembangkit yang tersedia dalam periode beban tertentu dengan pertimbangan tertentu. Ia kemudian membuat

jadwal untuk menghidupkan atau mematikan pembangkit yang disebut commitment dan mendistribusikan total kapasitas per jam yang diperlukan
kepada setiap pembangkit.
Proses ini disebut sebagai economic dispatch.

ECONOMIC DISPATCH
Sebelum mengetahui lebih jauh mengenai bahasan economic dispatch, ada baiknya kita paham akan istilah-istilah berikut ini:

Unit commitment : Menentukan unit mana yang online

Unit dispatch : Menentukan power output dari unit yang committed

Economic dispatch : menentukan cara yang paling ekonomis untuk mengoperasikan unit yang committed supaya biaya operasi
minimum dan total sistem pembangkit sama dengan permintaan beban.

Analisis untuk meminimalkan biaya pembangkitan, atau dengan kata lain pembagian pembebanan pada unit unit pembangkit yang ada dalam sistem
secara optimal ekonomis pada harga beban tertentu.
Dengan penerapan economic dispatch maka diharapkan didapatkan biaya pembangkitan yang minimum terhadap produksi daya listrik yang
dibangkitkan dari setiap pembangkit pada suatu sistem kelistrikan.
Secara umum fungsi biaya dari setiap pembangkit dapat diformulasikan secara matematis sebagai suatu fungsi objektif seperti fungsi berikut :

Mempelajari economic dispatch berarti harus memperhatikan kurva input-output.


Kurva ini menggambarkan besarnya input yang harus diberikan pada unit pembangkit sebagai fungsi dari outputnya.
Untuk unit pembangkit termis, inputnya ialah bahan bakar yang dinyatakan dalam mata uang (Rupiah atau dolar) dengan output daya yang
dibangkitkan. Begitu pula dengan pembangkit hidro dimana inputnya ialah jumlah air yang masuk dan outputnya daya yang dibangkitkan.
Dengan mengetauhi kurva ini, biaya bahan bakar setiap unit pembangkit termis dapat dinyatakan. Kurva ini juga digunakan untuk mencari pembagian
beban yang optimum diantara unit pembangkit. Di jelaskan pula hal yang harus diperhatikan ialah incremental cost yaitu kenaikan biaya bahan bakar
per kenaikan kapasitas.

Sumber :

1.

Diktat Electric Utility Power Generation Economics, W.D. Marsh, Clarendon Press-Oxford, University Press, NY

2.

Pembangkitan Energi Listrik, Marsudi Djiteng, Erlangga, Jakarta

Pertanyaan untuk bahan diskusi :


1.

Mengapa capital cost sebut sebagai sunk-cost di tingkat operasi ?

2.

Mengapa spinning reserve disebut costly operation?

3.

Mengapa economic dispatch dapat menurunkan biaya operasi khususnya biaya bahan bakar?

4.

Mengapa perlu memperhatikan incremental cost dalam operasi ?

Artikel Terkait

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

08. TOTAL SYSTEM Analysis

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

10. DIRECT UNIT Comparison

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


You might also like:
06. System Reliability: RESERVES
07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit
04. Electric Utility SYSTEM LOAD

08. TOTAL SYSTEM Analysis

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

32 komentar:
1.

Manajemen Energi14 Oktober 2013 10.51


1.Mengapa capital cost sebut sebagai sunk-cost di tingkat operasi ?
Balas
Balasan

1.
Galuh Arum15 Oktober 2013 20.29
Arti sunk cost sendiri adalah segala biaya yang telah dikeluarkan dimasa lalu dan tidak dapat dipulihkan. Capital cost yang sifatnya tidak
bisa
dipulihkan
lagi
disebut
sunk
cost
pada
masa
operation.
Sebagai contoh sebuah proyek pembangunan pembangkit membeli sebidang tanah untuk dipakai lokasi pembangkit, apabila tanah
tersebut dipagari maka biaya pembuatan pagar untuk tanah tersebut disebut sunk cost.

2.
Indrawan Nugrahanto16 Oktober 2013 23.45
ibu galuh untuk sunk cost sendiri apakah sudah dapat di kalkulasikan pada awal ketika kita akan berinvestasi atau biaya ini muncul
dengan sendirinya ketika suatu project sedang berlangsung?mohon bantuannya

3.
Difi Nuary1 Desember 2013 17.05
Mencoba menjawab pertanyaan indrawan, Jawabannya bisa pak sesuai pengertiannya sunk cost ialah segala biaya yang telah
dikeluarkan dimasa lalu dan tidak dapat dipulihkan.dan contoh yang diberikan ibu galuh, terlihat bahwa dalam perencanaan awal kita
dapat memprediksi mana yang akan menjadi sunk cost
Balas

2.
Manajemen Energi14 Oktober 2013 10.52
2.Mengapa spinning reserve disebut costly operation ?
Balas

Balasan

1.
Galuh Arum16 Oktober 2013 09.03
Spinning reserve lebih mahal karena sebuah generator beroperasi di beban sebagian yang dianggap tidak efisien karena kapasitas
generator sebenarnya melebihi dari beban tersebut. Selisih kapasitas semua mesin genertor yang beroperasi dikurangi beban
pemakaian
tertentu
inilah
yang
disebut
spinning
reserves.
Meskipun mahal spinning reserves tetap dibutuhkan untuk menyediakan cadangan pada kapasitas yang dijanjikan dalam waktu 10
menit. Spinning reserves lebih dapat diandalkan karena dapat segera merespon ketika terjadi lonjakan beban dibandingkan nonspinning
reserves.

2.
Indrawan Nugrahanto16 Oktober 2013 23.42
Untuk ibu galuh saya menanyakan tentang kapasitas yang yang di gunakan pada metode spinning reserve mengapa hanya di gunakan
waktu 10 menit sedangkan sebagai pembanding untuk non spinning reserve apakah tidak ada waktu yang di butuhkan?pada kondisi
seperti apakah kita seharusnya menggunkan spinning reserve atau non spinning reserve mohon penjelasannya ibu galuh

3.
Catur Janhari17 Oktober 2013 08.20
Sebagai tambahan pada spinning reserve, pembangkit dalam kondisi online dan parallel dengan system grid sebelum kenaikan beban
berdasarkan forecast. Sedangkan pada non spinning reserve pembangkit dalam kondisi ofline dan akan sia dioperasikan dengan kondisi
suatu pembangkit mengalami kegagalan atau masalah sehingga kebutuhan beban tidak dapat dipenuhi pembangkit-pembangkit yang
masih online. Non spinning reserve ada 2 yaitu cadangan panas dimana persiapan pembakaran fuel sudah dilakukan sehingga
pembangkit siap dioperasikan dan diparallelkan dengan system dalam waktu segera. Sebagai contoh uap air dijaga kondisinya tetap
panas pada PLTU. Non spinning reserve kedua adalah cadangan dingin dimana secara alami pembangkit tersebut dapat dioperasikan
dan diparallelkan dengan segera dengan perubahan rate load yang cepat sebagai contoh PLTA, PLTG.
Spinning
reserve
menjadi
sangat
costly
disebabkan
faktor-faktor
sebagai
berikut:
1. Pembangkit yang diplot sebagai spinning reserve akan beroperasi secara intermittent yang mengakibat tambahan biaya konsumsi fuel
untuk
proses
start-up.
2. Dalam periode sebelum kenaikan beban berdasarkan forecast, pembangkit spinning reserve akan dibebani dengan load minimum
sesuai dengan rekomendasi manufacture untuk menghindari masalah-masalah yang akan timbul. Sesuaid engan kurva efisiensi,
efisiensi akan sebanding dengan beban yang ditanggung, semain besar beban hingga 100% rating semakin tinggi efisiensinya. Efisiensi
akan
berkaitan
dengan
konsumsi
fuel
dan
biaya
yang
dikeluarkan
untuk
konsumsi
fuel.
3. Periodik perawatand ari sisi pembangkitan dan fasilitas pendukungnya seperti breaker akan bertambah dikarenakan seringnya startstop
pembangkit
akan
mengakibatkan
proses
aging
peralatan
akan
bertambah
4. Untuk spinning reserve yang dibeli dari pihak swasta akan tergantung dari kontrak periode penggunaan spinning reserve.
Untuk non spinning reserve resiko terbesar adalah terjadinya pemadaman dikarenakan kegagalan operasi pembangkit yang digunakan
sebagai spinning reserve. Sedangkan untuk cadangan panas diperlukan tambhan cost untuk konsumsi fuel pembakaran uap air pada
PLTU.
Dikarenakan baik spinning reserve atau non spinning reserve akan sangat costly diperlukan perancangan, pengawasan dan manajemen
untuk
optimasi
unit-unit
yang
commit
(beroperasi).
Evaluasi pemilihan dengan menghitung biaya minimum (economic dispatch) dari setiap kombinasi unit-unit yang commit.
Balas

3.
Manajemen Energi14 Oktober 2013 10.52
3. Mengapa economic dispatch dapat menurunkan biaya operasi khususnya biaya bahan bakar?

Balas
Balasan

1.
chairy15 Oktober 2013 07.17
Karena dengan melakukan Economic Dispatch, skema kombinasi aktivasi pembangkit yang dipilih telah melalui analisa biaya operasi
(termasuk di dalamnya biaya bahan bakar) yang paling minimum agar total daya yang dihasilkan oleh sistem pembangkit sama dengan
permintaan
beban.
Chairy, ME13

2.
Difi Nuary15 Oktober 2013 20.26
Dengan metode economic dispatch ini, kita dapat menentukan cara yang paling ekonomis dalam mengoperasikan unit yang telah ita
commit, dengan hal tersebut tentunya kita mengharapkan meminimalkan biaya oerasi dan juga membuat total pembangkitan sebanding
dengan permintaan, dengan itu biaya operasi dapat di mainkan

3.
Catur Janhari17 Oktober 2013 09.39
Economic dispatch juga harus mempunyai batasan-batasan tertentu untuk menjaga reliability system dan nilai keekonomisannya.
Sehingga tidka timbul masalah--masalah yang lain yang mengakibatkan biaya variabel akan bertambah.
Batasan-batasan
tersebut
diantaranya:
1.
Ketersediaan
fuel
di
unit
pembangkit
2. Ketersediaan cadangan baik cadangan berputar atau cadangan tidak berputar berdasarkan pertimbangan kecepatan start-up dan
respon
terhadapa
pembebanan.
3. Biaya start-up panas dan dingin. Pemilihan start-up panas atau dingin berdasarkan karaketristik kecepatan start up dan respon
terhadap perubahan load dari unit yang digunakan

4.
Irham20 Oktober 2013 05.21
Menurut US Energy Policy Act of 2005, economic dispatch adalah pengoperasian pembangkit untuk menghasilkan energi dengan biaya
terendah untuk melayani konsumen dengan handal, memperhatikan batasan kemampuan pembangkit serta transmisi.
Untuk mendapatkan biaya operasional yang rendah perlu diperhatikan heat rate masing-masing pembangkit. Masalah economic dispatch
ini umumnya dipecahkan dengan bantuan software khusus agar diperoleh perhitungan yang cepat dan akurat tanpa mengabaikan
kemampuan pembangkit dan transmisi sehingga keputusan yang dibuat tidak akan merusak sistem yang pada akhirnya dapat
menambah biaya perbaikan.
Balas

4.
Manajemen Energi14 Oktober 2013 10.52
4. Mengapa perlu memperhatikan incremental cost dalam operasi ?

Balas
Balasan

1.
chairy15 Oktober 2013 07.47
Incremental cost adalah kenaikan biaya bahan bakar per kenaikan kapasitas output daya yang dihasilkan. Dengan memperhatikan
besaran/nilai incremental cost, maka kita akan mengetahui pada level output daya berapa (pembagian beban) kombinasi dari beberapa
unit
pembangkit
mendapatkan
nilai
optimumnya.
Sehingga
bisa
dicapai
biaya
operasi
yang
minimum.
Chairy, ME'13

2.
Difi Nuary15 Oktober 2013 20.16
setuju dengan mbak chairy, tujuan menganalisa incremental cost ialah untuk mendapatkan biaya bahan bakar yang digunakan pada unit
pembangkit yang minimum, karena dengan menganalisa dari sisi incremental cost (kenaikan biaya bahan bakar per kenaikan beban) kita
dapat menganalisa jumlah bahan bakar yang digunakan setelah unit pembangkit di commit untuk beroperasi.

3.
Indrawan Nugrahanto16 Oktober 2013 23.53
selamat malam pak Difi,apakah incremental cost dalam penggunaanya di bisnis pembangkitan hanya untuk menganalisa secara khusus
dari suatu biaya bahan bakar saja,atau ada faktor biaya yang lain yang dapat di kategorikan sebagai incremental cost misal kelipatan
suatu biaya tertentu terhadap output daya?

4.
Difi Nuary1 Desember 2013 17.00
Malam Pak Indrawan, yaa secara harfiahnya incremental cost merupakan biaya tambahan atau dengan kata lain biaya-biaya yang akan
ditambahkan atau biaya yang tidak akan dikorbankan apabila suatu alternatif tertentu tidak dipilih untuk dilaksanakan dalambisnis
pemangkitan bahan bakar merupakan biaya yang tidak akan dikorbankan dalam pengambilan keputusan karena itu adalah kebutuhan
primer dari suatu pembangkit, jika ada hal yang lain yang bersifat sama dengan bahan bakar maka bisa dikategorikan sebagai
incremental cost juga.
Balas

5.
Manajemen Energi14 Oktober 2013 10.53
5. Apakah ada contoh untuk kurva Unit Loadings ?
Balas
Balasan

1.
Catur Janhari17 Oktober 2013 09.52
Untuk bapak dan ibu dari kelompok 6 mohon pencerahannya maksudnya kurva karakteristik efisiensi berdasarkan unit loadings atau
sistem unit loadings berdasarkan load forecast? Untuk yang kedua sudah ada di bagian 04 Electrical Utility system load
Sedangkan kurav harian secara real time untuk jawa dan bali bisa di access disini i http://hdks.pln-jawa-bali.co.id/app4/system.php

2.
Difi Nuary1 Desember 2013 17.11
kurva karakteristik efisiensi berdasarkan unit loading artinya kurva berdasarkan atas pembebanan secara real time, dari kurva tersebut
kita dapat melihat efisiensi yang telah tercapai antara input dan output, sementara untuk berdasarkan load forecast, itu berdasarkan
ramalan akan beban yang akan terjadi dari hasil perhitungan dan analisa sistem operasi sebelumnya
Balas

6.
Difi Nuary15 Oktober 2013 20.31
Kalo melihat persentasi kemarin dan penjelasan pak fajar, dijelaskan bahwa pembangkit pembangkit yang di analisis dan di perhitungkan
hanya pembangkit yang hidro-termis (PLTA,PLTU, PLTG, PLTN dsb), yang ingin saya tanyakan apakah analisis ini berlaku untuk
pembangkit renewable ? (solar,Wind,dsb) apakah perhitungan sama?
Balas
Balasan

1.
Catur Janhari17 Oktober 2013 08.54
Pada PLTS dan PLTB lebih mengarah kepada total capacity reserve yang akan dibangkitkan atau dengan kata lain sebagai back-up
pada
saat
cuaca
tidak
mendukung
berdasarkan
forecast
BMKG.
Design awal berdasarkan perhitungan teknis dan ekonomis disertai cuaca forecast yang akan menentukan sistem yang akan dibangun,
sebagai
contoh
untuk
PLTS:
1. Kombinasi PLTS dan battery back-up dengan durasi (mohon rekan-rekan yang mempunyai literaturnya bisa disharing) dan Diesel
engine
untuk
back-up.
2.
Hybrid
system
dimana
dikombinasikan
dengan
Diesel
Engine
pengoperasian
hariannya.
Pada saat hari hujan untuk sistem no.1 Diesel engine tidak dioperasikan berdasarkan paramater battery back-up yang terukur masih
mencukupi, sedangkan pada sistem no. 2 diesel engine akan dioperasikan dan diparallekan output inverter surya panel.
Point 1. Periode maintenance dan pergantian battery akan bertambah karena battery akan rutin charge-discharge setiap harinya
Point 2: Periode maintenance DEG akan bertambah dikarenakn DEG akan rutin start-stop setiap harinya. Disamping biaya konsumsi fuel
setiap
harinya.

2.
Difi Nuary25 November 2013 22.43

Tapi apakah biaya penggantian batre dan lain sebagainya pada PLTS dan PLTB bisa dikategorikan sebagai incremental cost?
bagaimana bisa dikategorikan seperti itu?

3.
Nurrahman Jarman3 Desember 2013 17.53
Kalau boleh tanya, berhubungan dengan pertanyaan mas Difi soal renewable power plant (angin atau surya). Apabila pembangkit
tersebut terkoneksi kedalam grid apakah beroperasi sebagai base load atau peak load power plant karena apabila dibandingkan dengan
PLTA yang debit air dapat diubah sesuai kebutuhan, maka bagaimana dengan pembangkit renewable khususnya pembangkit listrik
tenaga angin
Balas

7.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)16 Oktober 2013 09.51
Spinning reserve disebut "costly" karena setiap unit pembangkit yang beroperasi pada beban rendah relatif kurang efisien bila
dibandingkan dengan pembangkit yang beroperasi pada beban penuh. Dengan kata lain, pembangkit akan lebih efisien pada kondisi
dibebani penuh. (full load) Sehingga, kapasitas total harian pembangkit tersebut biasanya dihitung melebihi beban puncak (daily peak
load) yang di-forecast dengan range 4% s/d 8%. Range tersebut penting untuk menutupi kesalahan forecast, regulasi (pengaturan)
frekuensi, dan dynamic-pickup. Yang terakhir, dynamic-pickup hanya pada saat pembangkit tersebut harus mengambil beban sesaat
apabila
pembangkit
lain
lepas
dari
grid
(jala-jala).
Bagus

W.

Wahyuntoro,

ME'13

Sumber: Marsh, W.D., Electric Utility Power Generation Economics, Clarendon Press - Oxford, University Press, N.Y., hal. 79
Balas

8.
Manajemen Energi19 Desember 2015 09.46
Kelompok

ME-2015

Jenis pembangkit apa yang cocok untuk dijadikan spinning reserve agar bisa meminimalkan biaya operasi sekaligus menjaga
kehandalan sistem tenaga listrik?
Balas
Balasan

1.
Luky Liem21 Desember 2015 18.35
cadangan putar (spinning reserve) adalah cadangan daya pembangkitan yang terdapat pada unit-unit pembangkit yang beroperasi
paralel dengan sistem dan dibebani tidak penuh serta dapat merespon untuk menahan laju penurunan frekuensi akibat terjadi outage
pada
pembangkit
maupun
jaringan
dalam
waktu
kurang
dari
10
menit.
Pembangkit yang cocok untuk spinning reserve adalah pembangkit yang memiliki respon cepat yaitu pembangkit berbahan bakar gas
(PLTG, PLTGU, PLTMG), PLTA reservoir, maupun PLTD pada sistem isolated. Memperhatikan faktor biaya operasi, maka PLTA reservoir
paling ekonomis, tetapi harus memperhatikan faktor musim dan level air pada waduk. Untuk pembangkit berbahan bakar gas juga harus
memperhatikan
faktor
take
or
pay
dan
harga
bahan
bakar
gas.
Sumber:

Report of the Committee on Spinning Reserve, September 17th, 2015. CENTRAL ELECTRICITY REGULATORY COMMISSION NEW
DELHI

2.
Hizkia Sandhi Raharjo29 Desember 2015 08.56
Spinning Reserve merupakan cadangan daya yang harus diperhitungkan dari unit-unit yang beroperasi (commit), di mana apabila ada
salah satu unit yang mengalami kegagalan operasi (jatuh/trip), maka daya yang berkurang akibat kegagalan operasi dari unit tersebut
dapat diganti/ditanggulangi oleh cadangan daya tersebut. Umumnya cadangan daya yang ada diperhitungkan untuk mampu
menggantikan
apabila
unit
yang
terbesar
mengalami
kegagalan
operasi.
Selain
itu,
spinning
reserve
juga
harus
mempertimbangkan
beberapa
hal
:
1. Harus dialokasikan dengan mempertimbangkan adanya pembangkit dengan kecepatan respon tinggi dan pembangkit dengan
kecepatan respon rendah, hal ini mengembalikan frekuensi yang turun akibat pembangkit yang lepas dengan cepat.
2. Harus disebar secara merata untuk menghindari batasan kemampuan transmisi dan untuk mengatasi beroperasinya system secara
island
system.
Pembangkit yang biasanya dipilih adalah PLTA karena selain semua yang sudah disebutkan oleh Pak Luky dan Pak Agus diatas,
persyaratan ISO untuk Spinning Reserve adalah 50 % dari kebutuhan Operasi Cadangan (OR). Hal ini adalah sama dengan 5 %
permintaan (demand) harus dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga air (hidro), ditambah 7 % dari permintaan (demand) yang harus
dipenuhi dari pembangkit listrik sumber daya lainnya, ditambah 100 % dari setiap tiap gangguan dari luar, atau kontingensi tunggal
terbesar
(
jika
lebih
besar
dari
gangguan
luar).
Sumber
:
https://www.caiso.com/Documents/SpinningReserveandNonSpinningReserve.pdf
-Hizkia Sandhi Raharjo- (ME 2015)

3.
Andres Edward30 Desember 2015 04.35
Spinning Reserve atau cadangan berputar adalah daya dari pembangkit atau dari tiap-tiap pembangkit yang tidak dibebankan ke sistem.
Sebagai contoh, pembangkit dengan daya mampu 100 MW beroperasi dengan beban 75 MW, maka sisa dari daya mampunya yaitu 25
MW inilah yang disebut dengan Spinning Reserve atau Cadangan Berputar. Spinning Reserve ini sengaja diset atau disisakan sebagai
margin untuk kebutuhan listrik yang tiba-tiba tanpa sempat mengaktifkan pembangkit lainnya dari start (Non-spinning Reserve). Total
keseluruhan daya yang tidak dibebankan dari seluruh pembangkit ini adalah total jumlah Spinning Reserve.
Sedangkan Non-spinning Reserve adalah Cadangan daya yang ada pada daya mampu pembangkit-pembangkit yang tidak dibebankan
sama sekali, namun terkoneksi dengan sistem. Oleh karena itu pembangkit-pembangkit ini tidak dapat merespons kebutuhan daya
tambahan yang tiba-tiba karena pembangkit-pembangkit ini membutuhkan waktu start yang lama. Sehingga pembangkit-pembangkit
yang termasuk dalam Non-spinning reserve ini hanya akan masuk ke sistem pada periode-periode waktu dimana beban sudah
diperkirakan
akan
naik
sebelumnya.
Jenis pembangkit yang cocok untuk dijadikan Spinning Reserve berdasarkan kecepatan respons terhadap perubahan bebannya dan
yang cocok untuk meminimalisasi biaya operasi adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air Kolam Tando atau Pembnagkit Listrik Tenaga Air
dari waduk. Karena pembangkit ini lebih ekonomis dan kemampuannya dalam merespon perubahan beban yang tiba-tiba.
Andres
ME 2015

Pramana

Edward

Balas

9.
Agus Indarto25 Desember 2015 09.36
Operator sistem biasanya menjaga "cadangan operasi," 5-7% atau lebih dari beban. Cadangan ini digunakan untuk menangani
perubahan yang cepat dan tak terduga dalam permintaan listrik atau perubahan yang sangat besar dalam pasokan listrik yang dapat
terjadi dalam sepersekian detik jika pembangkit listrik besar mengalami outage tak terduga. Cadangan (reserve) ini memungkinkan
operator
sistem
untuk
menanggapi
berbagai
potensi
kejadian
tak
terduga.
Operator sistem menggunakan dua jenis cadangan "cadangan berputar," (spinning reserve) yang dapat diaktifkan dengan cepat untuk
merespon perubahan mendadak dalam pasokan listrik dan permintaan, dan "cadangan non-berputar," (non-spinning reserve) yang
digunakan
untuk
merespon
perubahan
lambat.
Spinning reserve biasanya berasal dari pembangkit yang beroperasi di bawah tingkat output maksimum mereka sehingga mereka cepat

dapat meningkatkan atau menurunkan output mereka sesuai kebutuhan. Pembangkit listrik tenaga air biasanya pilihan pertama dari
operator sistem untuk cadangan berputar, karena output mereka dapat diubah dengan cepat tanpa penggunaan bahan bakar. Ketika
pembangkit listrik tenaga air tidak tersedia, pembangkit yang menggunakan gas alam juga dapat digunakan untuk menyediakan
cadangan berputar karena mereka dapat dengan cepat meningkatkan dan menurunkan generasi mereka dengan hanya kehilangan
sedikit efisiensi. Studi menunjukkan bahwa menggunakan gas alam sebagai cadangan berputar hanya meningkatkan emisi dan
penggunaan bahan bakar sebesar 0,5% - 1,5% di atas operasi normal (iwea.org)
Balas

10.
Nandi30 Desember 2015 16.25
Pembangkit yang dijadikan spinning reserve bukan hanya dilihat dari biaya saat beroperasinya yang ekonomis, tapi juga melihat dari
biaya start-up yang ekonomis. Di sistem Jawa-Bali beberapa PLTU batubara selain untuk baseload juga digunakan sebagai spinning
reserve, karena startup cost PLTU batubara (terutama saat cold start) lebih boros daripada menjaga PLTU tersebut tetap beroperasi di
bawah DNM-nya. kemampuan Load swing PLTU menurut saya juga termasuk responsif terhadap beban. Dari pengalaman operator,
naik-turun
beban
dapat
berkisar
3-5MW/menit,
dan
saat
emergency
dapat
dioperasikan
15
MW/menit.
Sumber:
Ayudha
ME' 2015

best

practice

operator

beberapa

PLTU

batubara.
Nandi

04. Electric Utility SYSTEM LOAD


10/03/2013 11:24:00 AM Ekbang 45 comments

Seri Ekonomi Pembangkitan


oleh: Kelompok 5
Bagus W. Wahyuntoro, Samuel LB. Parura, Felix Rudianto, Nino Teguh Pamuji
Dalam rangka ketahanan energi, dibutuhkan perencanaan pembangkitan tenaga listrik yang sesuai secara teknis maupun ekonomis. Perencanaan ini
diawali dari memprediksi beban di masa mendatang. Karakteristik beban (load characteristics) pemakaian listrik sangat diperlukan untuk analisis pada
tahap perencanaan. Kesalahan dalam perencanaan dapat berakibat tidak baik terhadap sistem ketenagalistrikan.

Transmisi ke Beban (foto koleksi Bagus)

Pendahuluan
Beban dikategorikan menurut konsumen penggunanya, misalnya sebagai berikut:

pemukiman (residensial atau domestik)

perkantoran/pertokoan

pelayanan publik

industri ringan

industri berat.

Setiap kategori konsumen memiliki perbedaan karakteristik beban tertentu.


Perbedaan karakteristik ini ditentukan oleh banyak faktor seperti :

kebiasaan hidup

pola operasi dari individu atau masyarakat

keadaan perkembangan ekonomi

iklim.

Dengan demikian, akan ada perbedaan karakteristik beban dari suatu negara dengan negara lain atau suatu daerah dengan daerah lain di dalam satu
negara.

Satuan Daya Listrik dan Energi


Daya listrik merupakan jumlah energi yang digunakan untuk melakukan kerja atau usaha dinyatakan dalam satuan kW dan energi dalam satuan kWh.

Faktor Beban
Faktor beban (load factor) dapat diartikan sebagai perbandingan antara beban rata-rata dengan beban puncak yang diukur untuk suatu periode waktu
tertentu.

Kurva Beban
Kurva beban (load curve) menggambarkan daya atau energi sebagai fungsi waktu atau suatu periode tertentu. Selanjutnya pengertian beban (load)
dan permintaan (demand) akan digunakan dalam arti Daya kecuali diubah dengan kata Energi.
Permintaan (demand) atau kebutuhan tenaga pada interval waktu yang berlain-lainan ditunjukkan dengan kurva beban (load curve).

1.

Kurva Beban Harian (Daily Load Curve)

2.

Kurva Beban Bulanan (Monthly Load Curve)

3.

Kurva Beban Tahunan (Annual Load Curve)

Contoh kurva beban per jam (hourly load curves) pada musim panas dan musim dingin diperlihatkan pada Gambar 1. Perhatikan perbedaan kurva
sebagai akibat penggunaan peralatan-peralatan listrik yang berbeda antara kedua musim tersebut.

Load Curve : summer day vs winter day (sumber: www.intechopen.com)


Pada periode tahunan, hubungan antara beban puncak harian dan beban puncak tahunan harus dipertimbangkan.

Hal ini dilakukan dalam dua langkah.


Pertama, perbandingan beban puncak harian dengan beban puncak bulanan
Kedua, perbandingan beban puncak bulanan dengan beban puncak tahunan.

Pendekatan / perhitungan Annual Load Factor (LFa) adalah sebagai berikut :

dimana :
LFd = Daily Load Factor
PLd = Daily Peak Load
PLm = Monthly Peak Load
PLa = Annual Peak Load

Kurva Lama Beban


Dari kurva beban (load curve) dapat diperoleh kurva lama beban (load duration curve).
Kurva lama beban ini menggambarkan lamanya suatu beban berlangsung dalam sistem kelistrikan. Sumbu datar menggambarkan lama beban
berlangsung dalam periode tertentu. Sumbu tegak menggambarkan daya dari beban sistem.

Load Duration Curve (sumber Etrog Consulting Pty Ltd)


Luas permukaan di bawah kurva lama beban menggambarkan kebutuhan energi sistem yang bersangkutan.

Kegunaan Kurva Lama Beban


Kurva lama beban diperlukan untuk alokasi/segmentasi pembangkitan karena masing-masing jenis pembangkit tenaga listrik memiliki karakteristik
yang berbeda untuk digunakan memenuhi beban yang dibutuhkan untuk periode yang direncanakan.

Tantangan Sebenarnya
Seiring perjalanan waktu, kebutuhan energi listrik mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam arah dan besaran yang tidak diketahui.
Beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut :

1.

Populasi yang terus bertambah.

2.

Penambahan peralatan-peralatan listrik untuk domestik dan industri.

3.

Perkembangan teknologi yang berhubungan dengan listrik.

4.

Penggunaan energi listrik untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai akibat dari perubahan harganya atau berkurangnya bahan
bakar fosil.

5.

Peningkatan kesejahteraan atau daya beli masyarakat.

Pada akhirnya, memprediksi besarnya beban dan karakteristiknya di masa yang akan datang dengan akurat adalah suatu pekerjaan yang amat sulit,
apalagi jika besaran tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor.
Namun, hasil prediksi tersebut menjadi salah satu masukan yang penting dalam menyusun perencanaan yang menjadi tolok ukur ekonomis atau
tidaknya suatu penambahan pembangkitan tenaga listrik.
Hal ini juga berguna untuk menarik investasi di bidang pembangkitan tenaga listrik yang menghasilkan tingkat ketahanan energi yang robust.

Pertanyaan / Diskusi :
1.

Diskusikan apakah perbedaan dari Faktor Beban (Load Factor) dan Faktor Kapasitas (Capacity Factor).Berikan penjelasannya !

2.

Mengapa faktor kapasitas pembangkit satu dengan yang lain berlainan? Apa saja yang mempengaruhinya?

3.

Pada kurva beban (Load Curve) apa definisi beban rata-rata?

4.

Apa alasan dan tujuan penggunaan suatu pembangkit listrik hanya untuk beban puncak saja?

5.

Peramalan atau prakiraan kebutuhan energi listrik (Demand and Load Forecasting) merupakan hal yang sangat penting untuk
perencanaan pemenuhan kebutuhan maupun pengembangan penyediaan tenaga elektrik yang tepat dan handal. Jelaskan metode
peramalan ini dan berikan referensi yang ada.

Sumber:
W.D. Marsh, Diktat Electric Utility Power Generation Economics,
Clarendon Press - Oxford, University Press, N.Y.

Artikel Terkait

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

10. DIRECT UNIT Comparison

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

08. TOTAL SYSTEM Analysis

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

You might also like:


05. System OPERATION
06. System Reliability: RESERVES
08. TOTAL SYSTEM Analysis
07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

45 komentar:
1.

Manajemen Energi3 Oktober 2013 11.25


1.Apakah perbedaan dari Faktor Beban (Load Factor) dan Faktor Kapasitas (Capacity Factor). Berikan penjelasannya !
Balas
Balasan

1.
Pondy Tjahjono3 Oktober 2013 13.39
Load Factor adalah perbandingan antara beban rata-rata dengan beban puncak pada periode waktu tertentu. Disini bisa bertujuan untuk
mengetahui apakah beban pada suatun daerah tersebut relatif konstant atau tidak.
Capacity Factor adalah perbandingan dari Energi output pembangkit yang dihasilkan terhadap kapasitas terpasang dari pembangkit
tersebut untuk periode waktu tertentu. Sebagai contoh CF85% untuk pembangkit 100MW, berarti dalam satu tahun, harus bisa
menghasilkan energi sebesar : 100MWx85%x365harix24jam (dalam MWh).
Pondy Tjahjono ME13

2.
arif budiman3 Oktober 2013 14.35
Faktor beban adalah perbandingan antara beban rata-rata selama interval tertentu dengan beban puncak yang terjadi pada interval yang
sama.
Faktor Kapasitas adalah perbandingan antara daya rata-rata yang dihasilkan dalam suatu periode tertentu dengan daya (terukur)
terpasang.(termwiki.com)
Arif ME 13

3.
irwan Wakhi3 Oktober 2013 14.44

Faktor beban adalah perbandingan antara besarnya beban rata-rata untuk selang waktu tertentu terhadap beban puncak tertinggi dalam
selang waktu yang sama (misalnya satu hari atau satu bulan). Sedangkan beban rata-rata untuk suatu selang waktu tertentu adalah
jumlah produksi kWh dalam selang waktu tersebut dibagi dengan jumlah jam dari selang waktu tersebut.
faktor beban = beban rata-rata/beban puncak
nilai dari faktor beban akan kurang dari satu, karena beban puncak akan selalu lebih besar nilainya dari beban rata-rata. Faktor beban
bernilai besar bisa diartikan bahwa penggunaan listrik konstan bagi penyedia listrik, faktor beban sistem diinginkan setinggi mungkin
karena faktor beban yang makin tinggi berarti makin rata beban sistemnya, sehingga tingkat pemanfaatan alat-alat yang ada dalam
sistem tersebut dapat diusahakan setinggi mungkin.
Faktor kapasitas sebuah unit pembangkit menggambarkan seberapa besar sebuah unit pembangkit itu dimanfaatkan, atau dengan kata
lain perbandingan antara jumlah produksi listrik selama periode operasi terhadap jumlah produksi yang mampu dibangkitkan secara
penuh sesuai
Faktor kapasitas tahunan (8760 jam) didefinisikan sebagai:
faktor kapasitas = Produksi kWh setahun/(daya terpasang MW x 8760 jam)
jika faktor daya adalah terhadap beban puncak tetapi pada faktor kapasitas dibandingkan terhadap daya terpasang.

4.
Indrawan Nugrahanto3 Oktober 2013 23.57
Faktor beban, adalah perbandingan antara beban rata-rata dalam suatu periode terhadap beban puncak yang terjadi pada periode
tersebut
Beban rata-rata (MW)
LF =
Beban Puncak (MW)
Faktor kapasitas, adalah perbandingan antara jumlah produksi listrik selama periode operasi terhadap jumlah produksi terpasang selama
periode tertentu (1 tahun)
Eg (MW-Hours)
CF = DMN (MW) * 8760 (Hours)
Source : http://www.pln.co.id/p3bjawabali/?p=477
Indrawan Nugrhanto ME 13

5.
ilham budi5 Oktober 2013 05.33
Pola beban suatu sistem tenaga listrik seringkali direpresentasikan dengan ukuran factor beban (load factor). Faktor beban adalah rasio
antara beban rata-rata sistem dan beban puncak sistem. Angka factor beban sesungguhnya merefleksikan kegiatan masyarakat
setempat. Semakin tinggi faktor beban suatu sistem maka semakin rata penggunaan tenaga listrik sepanjang waktu.
Sebagai contoh, sub-sistem DKI Jakarta & Banten serta sub-sistem Jawa Barat yang memiliki lebih banyak konsumen industri dibanding
subsistem lainnya memiliki faktor beban yang lebih tinggi Hal ini disebabkan konsumen industri umumnya mengoperasikan pabrik
selama 24 jam terus menerus. Sedangkan sub-sistem Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sebagian besar
konsumennya berupa residensial, memiliki pola konsumsi tenaga listrik yang mengikuti pola hidup rumah tangga, dimana beban sangat
tinggi pada malam hari pada saat diperlukan penerangan lebih banyak.
Faktor kapasitas (Capacity Factor) merupakan rasio antara energi yang disalurkan terhadap energi maksimum yang mampu diproduksi
jika pembangkit dioperasikan pada kapasitas terpasangnya. Faktor kapasitas tiap pembangkit akan berbeda antara satu dengan lainnya
sesuai dengan fungsinya, apakah sebagai pembangkit base load, load follower atau peaker. Besar factor kapasitas pembangkit
disamping tergantung pada kesiapan pembangkit juga tergantung pada pola beban yang ada pada suatu sistem. Dengan kata lain, faktor
kapasitas ini berkaitan dengan faktor beban dan faktor kesiapan (availability factor) pembangkit.
Sumber klik.

6.

dedy rachmansyah5 Oktober 2013 21.08


Faktor beban adalah perbandingan antara besarnya beban rata-rata untuk selang waktu tertentu terhadap beban puncak tertinggi dalam
selang waktu yang sama (misalnya satu hari atau satu bulan). Sedangkan beban rata-rata untuk suatu selang waktu tertentu adalah
jumlah produksi kWh dalam selang waktu tersebut dibagi dengan jumlah jam dari selang waktu tersebut.
Dari uraian diatas didapat:
faktor beban = beban rata-rata/beban puncak
bagi penyedia listrik, faktor beban sistem diinginkan setinggi mungkin karena faktor beban yang makin tinggi berarti makin rata beban
sistemnya, sehingga tingkay pemanfaatan alat-alat yang ada dalam sistem tersebut dapat diusahakan setinggi mungkin.

Dalam praktiknya, faktor beban tahunan sistem berkisar antara 60%-80%.


Faktor Kapasitas
Faktor kapasitas sebuah unit pembangkit menggambarkan seberapa besar sebuah unit pembangkit itu dimanfaatkan. Faktor kapasitas
tahunan (8760 jam) didefinisikan sebagai:
faktor kapasitas = Produksi kWh setahun/(daya terpasang MW x 8760 jam)
Dalam praktiknya, faktor kapasitas tahunan untuk unit PLTU hanya dapat mencapai angka antara 60% - 80% karena adanya masa
pemeliharaan dan jika adanya gangguan atau kerusakan yang dialami oleh unit pembangkit tersebut. Untuk PLTA, faktor kapasitas
tahunannya berkisar antara 30% - 50%, hal ini berkaitan dengan ketersediaan air.
Sumber :
http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/03/faktor-faktor-dalam-pembangkitan.html

7.
mharahmagustin6 Oktober 2013 22.14
Sedikit menambahkan pengertian faktor kapasitas dan faktor beban,
Faktor kapasitas merupakan daya sebenarnya yang dihasilkan selama periode waktu tertentu yang dinyatakan sebagai persentase dari
daya yang telah diproduksi ketika suatu stasiun beroperasi pada daya penuh selama periode tersebut.
Faktor beban merupakan rasio beban rata-rata terhadap beban puncak selama periode waktu tertentu.
Sumber : klik

8.
adamrahmadan8 Oktober 2013 00.55
melengkapi yang sudah ada,
* Faktor beban adalah perbandingan antara besarnya beban rata-rata untuk selang waktu tertentu terhadap beban puncak tertinggi
dalam selang waktu yang sama (misalnya satu hari atau satu bulan).
- faktor beban = beban rata-rata/beban puncak
* Faktor kapasitas sebuah unit pembangkit menggambarkan seberapa besar sebuah unit pembangkit itu dimanfaatkan. Faktor kapasitas
tahunan (8760 jam) didefinisikan sebagai:
- faktor kapasitas = Produksi kWh setahun/(daya terpasang MW x 8760 jam)
sumber : http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/03/faktor-faktor-dalam-pembangkitan.html
Adam 'ME13

9.
Catur Janhari8 Oktober 2013 12.32

Saya setuju dengan pendapat rekan-rekan diatas. Sebagai tambahan dengan mengetahui load factor dan capacity factor digunakan
untuk optimasi pembangkit dalam kaitannya dengan dengan biaya investasi awal dan efisiensi dalam operasi. Semakin mendekati rating
suatu unit pembangkit, semakin besar efisiensi dari turbin penggeraknya dan alternatornya. Untuk pembangkit yang menggubnakan
system fuel seperti PLTU, PLTGU dan sejenisnya akan berhubungan dengan jumlah energy mekanik vs ennergi panas yang dihasilkan
oleh pembakaran.
Rekan-rekan ada yang mau sharing efisiensi profile dari suatu jenis turbin dan alternatornya beradasarkan electrical load output ?
Berdasarkan laporan Statik Listrik indoensia 2012 yang dipublikasikan PLN, saya ambil contoh perbandingan antara tahun 2008 dan
2009 dimana Daya Terpasang untuk PLTU sama (8764 MW) tetapi kapasitas factor berbeda dimana tahun 2008 adalah 68.19% dan
tahun 2009 adalah 68.99%, pemakaian batubaru pada tahun 2008 adalah 20.999 Ton dan tahun 2009 adalah 23.958 Ton. Peningkatan
kapasitas factor pada tahun 2009 mengurangi penggunaan batu bara.
Ada yang mau sharing data lengkap tahun 2008 dan 2009 mengenai start up dan berapa unit dibangkitkan serta berapa unit yang
melakukan power switching karena akan mempengaruhi juga penggunaan batubara. ?
Balas

2.
Manajemen Energi3 Oktober 2013 11.26
2. Mengapa faktor kapasitas pembangkit satu dengan yang lain berlainan? Apa saja yang mempengaruhinya?
Balas
Balasan

1.
Pondy Tjahjono3 Oktober 2013 14.00
Pada penentuan kapasitas pembangkit, kita harus mengetahui karakteristik beban pada area tersebut. Untuk area dengan load factor
kecil, artinya terdapat perbedaan yang mencolok saat beban puncak dan saat beban tidak puncak. Adalah sangat tidak ekonomis untuk
kondisi ini memilih pembangkit dengan kapasitas sesuai beban puncak, karena pada kondisi diluar beban puncak, pembangkit tersebut
tidak beroperasi secara effisien. Untuk itulah, biasanya digunakan pembangkit "Peaker" untuk memikul beban puncak dan hanya
dioperasikan saat beban puncak, sementara kapasitas pembangkit untuk base load menggunakan dasar average load.
Pondy Tjahjono -ME13

2.
arif budiman3 Oktober 2013 14.21
menurut saya :
1.ini dikarenakan kebutuhan listrik disetiap daerah juga berbeda-beda, semisal di pulau jawa dan sumatra kebutuhan listriknya berbeda.
2.lokasi pembangkit yang berbeda, semisal dekat dengan sumber energi primer atau tidak.
3. Jenis pembangkit yang di bangun berbeda, sesuai kondisi semisal PLTA dengan PLTD, PLTU disesuaikan dengan kemampuan energi
untuk pembangkit listrik itu sendiri.
4. faktor keuangan, jadi menyesuaikan kondisi keuangan
Arif ME 13

3.
Indrawan Nugrahanto4 Oktober 2013 00.46
faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas pembangkit di antaranya :

1.Faktor Beban listrik di suatu daerah dengan daerah lain


2.Faktor Karakteristik Musim dan Cuaca
3.Faktor Hari dalam 1 tahun (weekend/holiday/aktif)
Sumber : Electric Utility Power Generation Economics W.D Marsh
Indrawan Nugrahanto ME 13

4.
Irham6 Oktober 2013 22.26
Faktor kapasitas antar pembangkit berbeda-beda tergantung pada :
1. Sumber energi
Pembangkit seperti PLTA memiliki faktor kapasitas 30-50% setahun seperti penjelasan Pak Dedy karena PLTA beroperasi menggunakan
tenaga air di waduk sehingga ketersediaan air sebagai sumber energi PLTA sangat berpengaruh pada pengoperasiannya. PLTU memiliki
faktor kapasitas lebih tinggi yakni 60-80% dikarenakan pasokan sumber energinya lebih stabil karena disediakan oleh supplier.
2. Rancangan (design) pembangkit
Tujuan dari pembangkit akan mempengaruhi rancangannya. Sebuah pembangkit yang dirancang untuk melayani kebutuhan listrik saat
beban puncak atau saat terjadi gangguan akan mengutamakan kapasitas daya yang dibangkitkan serta kecepatan responnya. Oleh
karena itu PLTA dirancang untuk melayani beban puncak karena kapsitasnya yang besar dan kemampuannya untuk menghasilkan listrik
dalam hitungan menit sedangkan kekurangannya yang sangat bergantung pada ketersedian air tidak dipermasalahkan karena tujuannya
hanya untuk menghasilkan lsitrik pada waktu tertentu saja.
Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Capacity_factor
http://konversi.wordpress.com/2010/05/01/sekilas-mengenai-pembangkit-listrik-tenaga-air-plta/
Irham, ME '13

5.
mharahmagustin6 Oktober 2013 22.30
Besarnya kapasitas faktor pembangkit berbeda tiap satu dengan yang lainnya ini didasarkan pada penggolongan fungsi dari pembangkit
tersebut, apakah sebagai pemikul beban dasar (base load), pemikul beban menengah(load follower) atau sebagai pemikul beban puncak
(peaker). Besar faktor kapasitas pembangkit disamping tergantung pada kesiapan pembangkit juga tergantung pada pola beban yang
ada pada suatu sistem. Dengan kata lain, faktor kapasitas ini berkaitan dengan faktor beban dan faktor kesiapan(availability factor)
pembangkit.
Sumber : klik disinih

6.
adamrahmadan8 Oktober 2013 00.36
menambahkan opini yang sudah ada, besarnya faktor kapasitas pembangkit berbeda antara satu dan yang lainnya adalah karena
kebutuhan(demand) kawasan yang dikelolanya, besarnya kebutuhan tentunya tekait pula dengan berbagai aspek beberapa diantaranya
nya geografis, baan baku sumber energi, dan nilai investasi yang dilakukan. Hal tersebut tentunya mempengaruhi kapasitas dari
ppembangkit itu sendiri.
Adam, ME '13

7.
Catur Janhari8 Oktober 2013 12.52
Sebagai tambahan dari pendapat rekan-rekan diatas kapasitas faktor tergantung juga dengan perencanaan awal berdasarkan
perhitungan pertumbuhan kebutuhan beban di periode yang akan datang yang masih dapat ditanggung oleh kapasitas terpasang pada
saat sekarang.

Selain itu faktor perwatan uni pembangkit juga mempengaruhi besarnya kapasitas faktor.
Ada yang mau sharing mengenai periode perhitungan pertumbuhan beban untuk awal perencanaan pembangkittan dan
pengembangannya?
Balas

3.
Manajemen Energi3 Oktober 2013 11.26
3. Pada kurva beban (Load Curve) apa definisi beban rata-rata?
Balas
Balasan

1.
irwan Wakhi3 Oktober 2013 14.50
beban rata-rata adalah jumlah produksi kWh dalam selang waktu tersebut dibagi dengan jumlah jam dari selang waktu tersebut.

2.
arif budiman3 Oktober 2013 15.02
Beban rata-rata (Br) didefinisikan sebagai perbandingan antara
energi yang terpakai dengan waktu pada periode. Atau dituliskan
menurut persamaan 1 periode tahunan :
Br = kWh yang terpasang selama1tahun / 365 x 24
Arif ME 1`3
Sumber daman suswanto . sistem distribusi tenaga listrik

3.
Indrawan Nugrahanto4 Oktober 2013 00.59
pada kurva beban ada 3 nilai rata-rata berdasarkan sumber yaitu nilai beban rata-rata tiap jam,harian dan bulanan dimana nilai beban
rata-rata ini di gunakan untuk menghitung annual load factor (faktor beban tahunan),sedangkan beban rata-rata sendiri di peroleh dari
perbandingan antara power dan satuan waktu dalam periode tertentu
Source : Electric Utility Power Generation Economics
Indrawan Nugrahanto ME 13

4.
dedy rachmansyah5 Oktober 2013 21.27
Menurut sumber yang saya baca kepadatan beban selalu dipakai sebagai ukuran dalam menentukan
kebutuhan listrik. Sesuatu daerah kepadatan beban satuannya dapat
berupa MVA/km2 atau KVA/m2 umumnya satuan yang dipakai adalah

MVA/km2.
Beban puncak (kebutuhan maksimum) didefenisikan sebagai beban
(kebutuhan) terbesar/tertinggi yang terjadi selama periode tertentu.
Periode tertentu dapat berupa sehari, sebulan maupun dalam
setahun. Perode harian, yaitu variasi pembebanan trafo distribusi selama
sehari. Selanjutnya beban puncak harus diartikan beban rata rata
selama selang waktu tertentu, dimana kemungkinan terjadinya beban
tersebut. Contoh, beban harian dari transformator distribusi di mana
beban puncaknya selama selang waktu 1 jam, yaitu antara pukul 19.00
(titik A) dan pukul 20.00 (titik B). Nilai rata rata kurva A B,
merupakan kebutuhan puncaknya (kebutuhan maksimum).
Perlu diingatkan disini bahwa kebutuhan puncak (kebutuhan max)
bukan merupakan nilai sesaat, tetapi nilai rata rata selama selang
waktu tertentu, biasanya selang waktu tertentu tersebut adalah 15 menit,
30 menit atau satu jam.
Sumber :
http://daman48.files.wordpress.com/2010/11/materi-11-karakeristik-beban.pdf

5.
adamrahmadan8 Oktober 2013 00.45
Faktor beban adalah perbandingan antara besarnya beban rata-rata untuk selang waktu tertentu terhadap beban puncak tertinggi dalam
selang waktu yang sama (misalnya satu hari atau satu bulan). Sedangkan beban rata-rata untuk suatu selang waktu tertentu adalah
jumlah produksi kWh dalam selang waktu tersebut dibagi dengan jumlah jam dari selang waktu tersebut.
Dari uraian diatas didapat:
faktor beban = beban rata-rata/beban puncak
bagi penyedia listrik, faktor beban sistem diinginkan setinggi mungkin karena faktor beban yang makin tinggi berarti makin rata beban
sistemnya, sehingga tingkay pemanfaatan alat-alat yang ada dalam sistem tersebut dapat diusahakan setinggi mungkin.
Dalam praktiknya, faktor beban tahunan sistem berkisar antara 60%-80%.
sumber : http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/03/faktor-faktor-dalam-pembangkitan.html
Balas

4.
Manajemen Energi3 Oktober 2013 11.27
4. Apa alasan dan tujuan penggunaan suatu pembangkit listrik hanya untuk beban puncak saja?
Balas
Balasan

1.
arif budiman3 Oktober 2013 14.48
menurut saya :
penggunaan pembangkit listrik hanya untuk beban puncak saja ada 3 alasan
1.karena pembangkit tersebut bukan merupakan pemasok utama untuk wilayah yang di supply
2. selain beban puncak pembangkit tersebut tidak dipelukan karena pembangkit utama masih mampu untuk menyupply listrik
3. untuk menghemat biaya operasional
untuk menghindari kerusakan mesin
2.

2.
Indrawan Nugrahanto4 Oktober 2013 01.21
karena menurut analisa dari suatu sumber yang berdasarkan metoda load curve saat ini pembangkit yang digunakan seharusnya adalah
pembangkit yang standby operasinya cepat. Maksudnya, saat dibutuhkan tambahan pasokan daya, pembangkit dapat langsung
menyuplai tambahan daya tersebut sehingga pembangkit tidak mengalami kerugian.
contoh kasus : Bila kita hanya membangun PLTU dengan bahan bakar batu bara, biaya bahan bakarnya mungkin murah. Namun, saat
beban puncak, kita akan mengalami kerugian. Karena waktu untuk mengoperasikan PLTU itu sangat lama (mencapai 5 hari), maka untuk
mengatasi beban puncak yang akan terjadi, PLTU tersebut tentu sudah dinyalakan sejak lama. Sementara itu, durasi beban puncaknya
itu sendiri hanyalah beberapa jam (2-4 jam). Tentu saja tidak sebanding pemasukan dengan pengeluaran. Itulah sebabnya kita memiliki
pembangkit-pembangkit seperti PLTD dan PLTG.
Source : http://watergius.wordpress.com/2011/03/02/kurva-beban-dan-alasan-memiliki-beragam-pembangkit/
Indrawan Nugrahanto ME 13

3.
Antonius Y Kristiawan4 Oktober 2013 14.20
Apakah memungkinkan untuk melakukan load balancing pada beban listrik dengan power plant yang sama?
Misalkan daerah A dan B berdekatan secara geografis. Di daerah A memiliki beban puncak pada siang hari (pukul 11-13) sedangkan di
daerah B memiliki beban puncak pada malam hari (pukul 19-21), apakah memungkinkan kapasitas pembangkit listrik dimaksimalkan
untuk supply listrik daerah A pada siang hari dan diswitch pada sore hari memaksimalkan supply listrik ke daerah B? Karena jika
menggunakan Peaker, bisa jadi secara investasi kurang ekonomis karena power plant yang dibangun sebagai Peaker hanya digunakan
beberapa jam dalam sehari atau mungkin beberapa hari dalam setahun.

4.
arif budiman4 Oktober 2013 19.30
hal itu sangat memungkinkan selama syarat penggabungan/parallel/singkronisasi terpenuhi yaitu :
1. tegangan harus sama
2. polaritas harus sama
3. frekuensi harus sama
jika tidak maka saat pengaturan beban akan terjadi pemadaman, meskipun tidak lama ini akan mengganggu di beberapa tempat.
saat ini hal tersebutpun sudah dilakukan, namun :
1.pada saat beban puncak yang hampir merata hal ini sulit untuk dilakukan karena supplypun kurang.
2. untuk melakukan singkronisasi tersebut dibeberapa tempat masih terkendala oleh insfrastruktur karena kondisi di indonesia yang
berpulau-pulau.

5.
Pondy Tjahjono5 Oktober 2013 08.18
Seperti penjelasan saya pada nomor 2 diatas. Alasan utama adalah efisien dan ekonomis. Bila load factor tersebut kecil, makasangat
tidak efektif bila menggunakan pembangkit skala besar yang bisa memikul beban puncak sekaligus. Masing-masing jenis pembangkit
ada nilai effisiennya pada beban berapa persen dia akan beroperasi secara optimal, ini bisa dilihat dari guarantee heat-rate dari masingmasing pembangkit. Untuk mendapatkan tingkat ke-ekonomisan yang tinggi, maka dipisahlah pembangkit tersebut menjadi pembangkit
base load dan peaker.
Pondy Tjahjono-ME13

6.

Samuel Parura5 Oktober 2013 20.37


Secara teknologi sangat memungkinkan untuk mengimplementasikan sistem kontrol "Load Sharing" dengan kedua pembangkit A dan B
yang berdekatan secara geografis. Namun secara ekonomi perlu dialakukan studi apakah akan lebih efisien, optimum dan handal
menggunakan dua pembangkit A dan B secara load sharing atau masing-masing pembangkit dilengkapi Peaker (PLTD/PLTG) untuk
mem-backup apabila terjadi beban puncak.
Samuel LB. Parura # ME 2013

7.
dedy rachmansyah5 Oktober 2013 21.49
Menurut saya hal ini ditujukan sebagai bufer mengantisipasi apabila terjadi beban puncak sehingga pembangkit ini akan aktif disaat
pasokan listrik dari pembangkit yang ada tidak mampu mensuplai dan tentunya dengan spesifikasi sistem operasi yang cepat.

8.
Irham6 Oktober 2013 22.43
Suatu pembangkit listrik dioperasikan hanya untuk beban puncak saja dikarenakan sumber energinya yang tidak dapat selalu tersedia
atau ada batas minimum ketersedian sumber energi agar pembangkit beroperasi dengan optimal, contohnya adalah PLTA.
Irham, ME '13

9.
ilham budi7 Oktober 2013 16.16
Menambahkan, selain mempertimbangkan biaya, ketersediaan energi primer, ekonomis dan efisiensi, kriteria pemilihan pembangkit
untuk beban puncak juga dipengaruhi oleh respon terhadap pemenuhan bebannya:
1. PLTA umumnya dapat diubah bebannya dari 0% sampai 100% dalam waktu kurang dari setengah menit
2. PLTD umumnya dapat diubah bebannya dari 0% menjadi 100% dalam waktu kurang dari 10 menit
3. PLTG dapat diubah bebannya dari 0% menjadi 100% dalam waktu kurang dari 15 menit
Sumber klik.

10.
Catur Janhari9 Oktober 2013 07.31
Saya sepakat dengan tanggapan teman-teman diatas, ada yang mau share untuk beban puncak harian, bagaiamana prinsip kerja dari
pembangkit tersebut sesuai dengan philospy PLN, apakah tetap standby atau akan di shutdown ketika beban cenderung turun dan dapat
dicover oleh pembangkit listrik untuk base load atau average load?
Balas

5.
Manajemen Energi3 Oktober 2013 11.28
5. Peramalan atau prakiraan kebutuhan energi listrik (Demand and Load Forecasting) merupakan hal yang sangat penting untuk
perencanaan pemenuhan kebutuhan maupun pengembangan penyediaan tenaga elektrik yang tepat dan handal. Jelaskan metode
peramalan ini dan berikan referensi yang ada.
Balas

Balasan

1.
Indrawan Nugrahanto4 Oktober 2013 01.12
Dengan meninjau metode Load Curve (Kurva Beban)
kurva beban cara sederhana dapat diartikan sebagai kurva yang menggambarkan penggunaan beban (listrik) dalam suatu waktu.
Dikatakan dalam suatu waktu karena selangnya itu dapat berupa tahunan, mingguan, bahkan harian.
secara sederhana agar PLN dan masyarakat tidak rugi. PLN akan rugi bila ternyata daya yang dibangkitkan sangat besar sementara
kebutuhan sedikit (rugi bahan bakar). Maka, bila kurva beban ada, PLN dapat memperkirakan kebutuhan daya sehingga pembangkitan
juga dapat diatur. Sedangkan masyarakat sendiri akan dirugikan bila ternyata daya yang dibangkitkan jauh lebih kecil dibandingkan
kebutuhan. Kenapa? Karena PLN akan melakukan pemadaman (untuk mempertahankan kestabilan sistem) sampai pasokan daya
ditambah. Selain itu, tujuan lain dari prediksi kurva beban adalah agar dapat mengatur jenis-jenis pembangkit yang akan
dinyalakan/digunakan.
Source : http://watergius.wordpress.com/2011/03/02/kurva-beban-dan-alasan-memiliki-beragam-pembangkit/
Indrawan nugrahanto ME 13

2.
dedy rachmansyah5 Oktober 2013 21.56
Menurut sumber peramalan pada dasarnya merupakan suatu dugaan atau prakiraan mengenani terjadinya suatu kejadian atau peristiwa
dimasa yang akan datang.
Dalam kegiatan perencanaan peramalan merupakan kegiatan mula dari proses tersebut.
Ramalan di bidang tenaga elektrik pada dasarnya merupakan ramalan
kebutuhan energi elektrik (watt jant) dan ramalan beban tenaga elektrik
(watt). Keduanya sering disebut dengan istilah Demand and Load
Forecasting. Hasil peramalan ini dipergunakan untuk membuat rencana
pemenuham kebutuhan maupun pengembangan penyediaan tenaga elektrik setiap saat secara cukup dan baik serta terus menerus.
Secara garis besar pembuatan ramalan kebutuhan tenaga elektrik dapat
dibagi dalam tiga tahap, yaitu :
a. Pengumpulan dan penyiapan data.
b. Pengolahan dan analisa data.
c. Penentuan metoda dan pembuatan model.
Sumber :
http://daman48.files.wordpress.com/2010/11/materi-12-peramalan-kebutuhan-energi.pdf

3.
argi6 Oktober 2013 22.05
Sedikit menambahkan untuk metode yang digunakan
1. Metode Sampling Statistik
Metoda ini dibangun berdasarkan data dan analisa penggunaan
tenaga listrik pada setiap sektor pemakaian.
2. Metode Ekstrapolasi
Pada metoda ini sangat bersandar pada data-data masa lampau dan
kemudian memproyeksikannya kemasa yang akan datang.
3. Metode Perbandingan
Yaitu proyeksi dengan analisa perbandingan dan kecenderungan
yang homogen pada daerah lain.
4. Metode Sektoral
Metoda ini mengamati pertumbuhan beban listrik pada tiap-tiap
sektor beban.
5. Metode Gabungan
Metoda gabungan ini merupakan metoda gabungan dari keempat
metode diatas.

http://daman48.files.wordpress.com/2010/11/materi-12-peramalan-kebutuhan-energi.pdf
Argianto ME13

4.
Irham6 Oktober 2013 23.13
Peramalan atau prakiraan kebutuhan energi listrik (Demand and Load Forecasting) dapat dilakukan melalui beberapa metode antara
lain :
1. Trend analysis
Analisa ini menggunakan data di masa lampau dengan memperhatian perubahan atau pergerakan permintaan atas energi listrik. Metode
ini mengandalkan kemampuan dari pelakunya. Keunggulan cara ini adalah sederhana dan kekurangannya adalah tingkat akurasi yang
disajikan.
2. End-use models
Pendekatan ini menggunakan data dari para konsumen listrik sehingga data akan mewakili kebutuhan tiap-tiap golongan konsumen
listrik. Keunggulan cara ini adalah kita mengetahui prakiraan konsumsi listrik dan kekurangannya yaitu umumnya menganggap hubungan
antara energi listrik dengan konsumen adalah linear.
3. Econometric models
Cara ini menggunakan teori ekonomi dan ilmu statistik. Econometric models akan memperkirakan hubungan antara konsumsi listrik
dengan faktor yang mempengaruhi konsumsi listrik. Keunggulan cara ini adalah data prakiraan yang cukup detail. Sedangkan
kekurangannya adalah akan tidak akurat bila terjadi perubahan data secara mendadak.
Sumber : Iranian Journal of Electrical & Electronic Engineering, vol 7, No 4, Dec 2011
Irham, ME '13

5.
ilham budi7 Oktober 2013 16.22
Metode peramalan beban dengan metode time series, merupakan metode yang disusun berdasarkan hubungan data-data masa lalu
tanpa memperhatikan faktor-faktor penyebab (pengaruh ekonomi, iklim, teknologi dan sebagainya). Metode time series yang digunakan
yaitu model dekomposisi. Dekomposisi adalah model kecenderungan yang mempergunakan empat komponen pendekatan yaitu
kecenderungan (merupakan tingkah laku jangka panjang), cyclical (bentuk siklis), seasional (bentuk musiman) dan komponen random.
sumber klik.
Balas

6.
Difi Nuary6 Oktober 2013 13.45
Menurut referensi yang saya baca, terdapat beberapa metode dalam kita meramalkan beban di masa yang akan datang, pembagian
metode tersebut tergantung dari jenis data yang akan kita ambil (harian, Bulanan atau Harian), Adapun metode yang dimaksud ialah :
1. Metode PEramalan jangka panjang dan menengah; faktor waktu yang mempengaruhi tipe ini adalah tahunan hingga bulanan. (end
use model, econometric models, statistical model based learning)
2. Metode peramalan jangka pendek; Sejumlah besar variasi teknik statistik dan artificial intelegence telah dekembangkan sebagai
metode peramalan jangka pendek (SImilar day approach, regresi, time series,neural NEtwork , Logika fuzzy dan support vector
machines)
Skripsi S1 UI (aulia khair)
Balas

7.
Manajemen Energi19 Desember 2015 09.26

Kelompok 2 ME-2015
Dalam suatu fasilitas pembangkit PLTU, umumnya terdapat satu atau lebih unit boiler-turbine-generator (BTG) set dengan kapasitas
yang berbeda antar PLTU, namun pada 1 plant PLTU umumnya kapasitasnya sama.
Misalkan grid membutuhkan daya 300 MW dari suatu PLTU dengan 3 generator dengan rating masing-masing sama yakni 315 MW.
Dispatcher dapat menggunakan pilihan dari unit generator 2x150 MW atau 1x300 MW yang tentunya mempunyai efisiensi dan rating
yang berbeda.
Menurut anda, dihubungkan dengan LOLP vs Economy, kapan sebaiknya dispatcher memasok grid dengan 2x150 MW dan kapan
sebaiknya dengan 1x300 MW?
Balas
Balasan

1.
indra aditya25 Desember 2015 20.10
Pada saat sistem membutuhkan tambahan pembangkit,sistem akan memilih start pembangkit yang memiliki biaya operasi (start up) yang
lebih kecil. Sedangkan pada saat sistem membutuhkan tambahan beban dari pembangkit, sistem akan memilih menaikkan beban
pembangkit yang memiliki incremental cost lebih kecil. Pembangkit yang memiliki incremental cost lebih kecil, belum tentu memiliki biaya
operasi (start up) lebih rendah.
Incremental cost adalah biaya kenaikan (Rp/kWh) untuk setiap kenaikan pembebanan pembangkit (kW).
Berkaitan hubungannya dengan LOLP harus dilakukan perhitungan lebih lanjut karena tingkat keandalan dipengaruhi oleh pola beban
harian, jumlah dan kapasitas pembangkit, dan laju kegagalan unit pembangkit (FOR:failure of rate).

Indra Ardhanayudha Aditya, ME15


Balas

8.
Nandi30 Desember 2015 01.01
Menurut artikel di https://abasiojo.wordpress.com/2013/02/22/12-istilah-yang-digunakan-menggambarkan-daya-mesin/ , terdapat istilah
tentang rating mesin, yakni:
Maximum continuous rating (MCR) adalah daya output maximum yang dapat dihasilkan ketika mesin jalan terus-menerus pada batas
level dan kondisi yang aman.
Standard rating. ini adalah daya output mesin pada kecepatan normal dimana memberikan efisiensi tertinggi ,thermal dan efisiensi
mekanik. Pada kecepatan ini keausan berada pada level minimum.
Melihat kasus di atas, mesin pembangkit dengan rating 315 MW tentu akan efisien dioperasikan pada daya 300 MW daripada pada daya
150 MW.
- Jika melihat dari kehandalan sistem, dengan menjalankan 2 (dua) mesin di pembangkit tersebut (yang mempunyai rating 315 MW)
masing-masing dengan daya 150 MW untuk mendapatkan pasokan daya di grid sebesar 300 MW.
- Jika melihat dari keekonomisan, lebih baik menjalankan 1 unit generator saja di pembangkit tersebut dengan daya 300 MW untuk
pasokan ke grid.
*Di sini, dispatcher perlu menentukan akan digunakan untuk sub-sistem area mana beban sebesar itu, apakah di grid sub-sistem
tersebut sudah "kuat" sistemnya (handal), sehingga tidak perlu pasokan dari sumber yang lebih handal lagi, maka sebaiknya memilih
memasok dari 1x 300 MW (lebih ekonomis).
Begitu pula sebaliknya, jika daya tersebut lebih membutuhkan tingkat kehandalan yang lebih tinggi untuk pasokan daerah tertentu, maka
pada pembangkit ini dapat memilih memasok daya dengan metode 2x 150 MW ke grid.
Ayudha Nandi
ME'2015

03. Method of ECONOMIC ANALYSIS


10/02/2013 06:56:00 AM Ekbang 5 comments

Seri Ekonomi Pembangkitan


oleh: Kelompok 3
Arif Budiman, Dedy Rachmansyah, Indrawan Nugrahanto, Elif Doka Marliska

Analisis keekonomian yang akurat sangat diperlukan pada pemilihan alternatif pembangkitan tenaga listrik. Ini termasuk menilai risiko dari berbagai
sumber risiko sehingga pengambilan keputusan nantinya dapat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Artikel ini akan menjelaskan aplikasi
metode-metode perhitungan yang telah didapatkan pada bab sebelumnya pada analisis keekonomian pembangkit dan ekonomi teknik. Foto: Trafo
Distribusi koleksi Arif Budiman.

Pendahuluan
Tidak ada solusi tunggal untuk menyelesaikan permasalahan teknik sehingga sejumlah alternatif dapat dibangun untuk sebuah tujuan. Dalam
pembangkitan tenaga listrik, masing-masing alternatif pembangkitan dapat memiliki nilai investasi dan biaya produksi tahunan atau pengeluaran yang
berbeda antara satu alternatif dengan yang lain untuk nilai keekonomian yang sama maupun nilai keekonomian yang berbeda.
Periode yang harus dipertimbangkan untuk suatu pembangkit relatif lama yakni berkisar 15 sampai 20 tahun. Mengingat rentang waktu yang panjang
ini dapat disebutkan bahwa investasi ini memiliki tingkat risiko yang tinggi.
Selain Total System Cost ada prinsip Direct Unit Comparasion yang dapat digunakan dalam perbandingan alternatif pembangkit. Dengan prinsip ini
perbandingan dilakukan tanpa memasukkan unsur operasi atau biaya-biaya lain pada sistem pembangkitan. Ini lebih mudah namun ada ketentuan
syarat dan kondisi yang harus dipenuhi sebagai berikut ini.

1.

Total biaya produksi dan pertambahannya dari masing-masing alternatif harus sebanding dengan keluaran energi listrik yang
diharapkan sesuai keekonomiannya

2.

Availability alternatif-alternatif tersebut relatif sebanding, sehingga keluaran energi (listrik) juga relatif sebanding.

3.

Kehandalan (reliability), sebagaimana di ukur dari tingkat pemadaman dan seberapa besar unit (power plant) tersebut, haruslah juga
sebanding sehingga tingkat pendapatan yang diinginkan (revenue requirement) juga sebanding.

Dengan kata lain, Direct Unit Analysis tidak dapat dilakukan pada alternatif-alternatif pembangkit dengan rating (size) yang berbeda, kehandalan
(reliability) berbeda atau bahkan biaya bahan bakar atau faktor eskalasinya berbeda. Pada kasus-kasus seperti ini Total System Cost Analysis harus
digunakan.
Pada analisis keekonomian pembangkit ada beberapa metode yang digunakan. Metode-metode tersebut memiliki cara perhitungan dan pendekatan
yang berbeda satu dengan yang lain.

Metode Revenue Requirement


Perhitungan ini menggunakan Fixed Charge Rate (FCR) yang merupakan fraksi tahunan yang apabila dihubungkan dengan nilai investasi pembangkit
akan memberikan persyaratan pendapatan minimum tahunan yang diperlukan untuk tingkat pengembalian (return) tertentu atau yang diinginkan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada perhitungan ini adalah sistem pembukuan yang disepakati, misalnya flow-through. Hal lain yang perlu
diperhatikan juga adalah metode depresiasi yang digunakan, seperti Sum-of-Years Digits (SYD), Declining Balance (DB), dan lain sebagainya.
Metode Revenue Requirement ini telah dijelaskan pada artikel Revenue Requirements seri Ekonomi Pembangkitan Tenaga Listrik.

Metode Discounted Cash Flow (DCF)


Discounted Cash Flow atau sering disingkat DCF adalah salah satu metode untuk menghitung prospek pertumbuhan suatu investasi dalam beberapa
waktu ke depan.
Cara ini merupakan kebalikan dari metode Revenue Requirement, yakni dengan mengestimasikan penerimaan kemudian menghitung tingkat
pengembaliannya (return).
Alternatif yang dipilih berdasarkan alternatif dengan return tertinggi. Apabila tidak ada perbedaan revenue, maka reduksi biaya (cost saving) dapat
dianggap sebagai sumber revenue.

Metode Lainnya
Ada beberapa metode dan istilah lain yang juga digunakan dalam menganalisis keekonomian pembangkit tenaga listrik, seperti Net Present Worth dan
Payout atau Payback Period.

Metode Net Present Worth memiliki kemiripan dengan perhitungan yang dilakukan dengan metode DCF yang dijelaskan di atas, namun keseluruhan
aliran kas bersih (net cash-flow) ditarik ke muka (present) dan dilakukan perhitungan Present Worth dengan rate of return (ROR) tertentu. Pemilihan
alternatif didasarkan pada alternatif dengan PW terbesar.
Metode Payout atau perhitungan payback period merupakan suatu metode untuk menghitung berapa lama suatu investasi akan kembali. Dengan
kata lain hasil metode ini adalah periode (dalam satuan waktu, biasanya tahun) yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan
menggunakan aliran kas (cash-flow). Metode ini digunakan pada investasi pembangkit untuk mengetahui pada tahun ke berapa investasi tersebut
akan kembali. Karena mengabaikan konsep time-value of money, metode ini tidak dijadikan acuan utama untuk analisis ekonomi dan pengambilan
keputusan.
Metode-metode lain ini dijelaskan pada artikel Application of Time-Money Relationship seri Ekonomi Teknik.

Penutup
Pemilihan antara ketiga metode tersebut (Revenue Requirement, DCF, dan Net Present Worth) lebih didasarkan pada praktek di lapangan,
kemudahan perhitungan dan validitas keekonomian. Kompleksitas perhitungan pun saat ini dapat diatasi dengan menggunakan program komputer
(i.e. spreadsheet). Namun demikian, kesemuanya, apabila diterapkan secara konsisten, akan memberikan pengambilan keputusan yang benar.
Pada analisis pembangkitan, Revenue Requirement seringkali digunakan dikarenakan metode ini memiliki keterkaitan dengan prosedur regulasinya
dan besarnya pendapatan untuk penentuan tarif listrik.
+++
Sumber:
Marsh, W. D., Electric Utility Power Generation Economics, Clarendon Press Oxford, University Press, NY

Diskusi :
1.

Selain pada masa perencanaan, apakah metode analisis keekonomian pembangkit dapat dilakukan juga pada masa pengendalian /
pengawasan. Jelaskan alasannya.

2.

Mengapa sistem pembukuan berikut sistem tax harus diketahui atau disepakati terlebih dahulu sebelum melakukan analisis ekonomi
suatu pembangkit ?

3.

Setiap industri menginginkan penerimaan (revenue) yang sebesar-besarnya dari penjualan produknya. Namun lain halnya dengan
perusahaan listrik publik. Mengapa demikian ?

Studi Kasus :
Untuk lebih jelas memahami metode di atas, mari kita aplikasikan pada studi kasus berikut.
Suatu pembangkit akan di buat di suatu daerah dengan dua buah alternatif sebagai berikut:

Alternatif A

Alternatif B

$ 750,000

$ 655,000

Tahun 1

$ 70,000

$ 75,000

Tahun 2

$ 60,000

$ 75,000

Tahun 3

$ 50,000

$ 75,000

Tahun 4

$ 35,000

$ 75,000

Tahun 5

$ 20,000

$ 75,000

Tahun 6

$ 15,000

$ 75,000

Tahun 7

$ 10,000

$ 75,000

Investasi awal
Lifetime (dalam tahun)
Annual Operating Costs:

Nilai Buku

7 tahun

Minimum Acceptable Return (MAR)

11 %

Debt Ratio

0.5

Debt Interest Rate

9%

Book Depreciation Life

Book Depreciation Method

SL

Tax Depretiation Life

Tax Depretiation Method

SYD

Investment Tax Credit

5%

Metode Pembukuan Tax

Flow Through

Income Tax Rate

60 %

Ad Valorem Tax Rate

5%

Pertanyaan
1.

Bandingkan kedua alternatif tersebut dengan menggunakan metode Revenue Requirement Fixed Charge Rate, apabila discount rate
= MARR ! Apa yang dapat disimpulkan ?

2.

Bandingkan kedua alternatif tersebut dengan menggunakan metode Revenue Requirement Fixed Charge Rate, apabila discount rate
mempertimbangkan internal return rate (i-tbB) ! Apa yang dapat disimpulkan ?

3.

Bandingkan kedua alternatif tersebut dengan mempertimbangkan Discounted Cash Flow Rate (DCFR) ! Apa yang dapat disimpulkan ?

4.

Dengan perhitungan payback period, pada tahun ke-berapa investasi tersebut akan kembali ?

5.

Apa yang dapat ditarik kesimpulan dari beberapa perhitungan 1 s/d 4 yang berlainan di atas ?

Artikel Terkait

10. DIRECT UNIT Comparison

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

08. TOTAL SYSTEM Analysis

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


You might also like:

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit


BERAPA Biaya Bahan Bakar NUKLIR Per kWH Listrik?
BIG PAPER Project Management 2012
10. DIRECT UNIT Comparison

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

5 komentar:
1.

Manajemen Energi5 Desember 2013 19.55


1. Bandingkan kedua alternatif tersebut dengan menggunakan metode Revenue Requirement Fixed Charge Rate, apabila discount rate
= MARR ! Apa yang dapat disimpulkan ?
Balas

2.
Manajemen Energi5 Desember 2013 19.55
2. Bandingkan kedua alternatif tersebut dengan menggunakan metode Revenue Requirement Fixed Charge Rate, apabila discount rate
mempertimbangkan internal return rate (i-tbB) ! Apa yang dapat disimpulkan ?
Balas

3.
Manajemen Energi5 Desember 2013 19.56
3. Bandingkan kedua alternatif tersebut dengan mempertimbangkan Discounted Cash Flow Rate (DCFR) ! Apa yang dapat disimpulkan ?
Balas

4.
Manajemen Energi5 Desember 2013 19.56
4. Dengan perhitungan payback period, pada tahun ke-berapa investasi tersebut akan kembali ?
Balas

5.
Manajemen Energi5 Desember 2013 19.57
5. Apa yang dapat ditarik kesimpulan dari beberapa perhitungan 1 s/d 4 yang berlainan di atas ?
Balas

02. REVENUE Requirements


9/25/2013 05:32:00 PM Ekbang 25 comments

Seri Ekonomi Pembangkitan


oleh: Kelompok 1Adam Rahmadan, Pondy Tjahjono, Tyas Kartika Sari, Willy Sukardi

Pendahuluan

Metode revenue requirement adalah yang paling umum digunakan oleh public utility dalam bidang ketenagalistrikan. Metode ini lebih dikenal dengan
istilah fixed charge rate.
Ini merupakan besaran yang dibebankan per tahun sepanjang masa studi sebuah pembangkit.
Perhatikan Income Statement berikut ini:

Revenue

Rev(y)

Less:
Production Cost

E(y)

Depreciation

D(y)

Ad Valorem Taxes and Insurance

A(y)

Income Tax Paid*

T(y) - I(y)

Operating Income

Rev(y) E(y) D(y) A(y) T(y)+I(y)

Less:
Interest (return) on bonds

R2(y)

Net Income (Equity Return)

R1(y) = Rev(y) E(y) D(y) A(y) T(y)+I(y)-R2(y)

* T(y) = income Tax


I(y) = Investment Tax Credit
Net Income (equity return), R1, adalah:
R1(y) = Rev(y) E(y) D(y) A(y) T(y) + I(y) - R2(y)
dimana R1dan R2 ditentukan terlebih dahulu.

Revenue Requirement
Dengan operasi aljabar sederhana diperoleh:
Rev(y) = R1(y) + R2(y)+ E(y)+ A(y) + D(y) + T(y) - I(y)
Rev(y) merupakan revenue requirement nilai yang diperlukan untuk memenuhi minimum acceptable return sebesar R1(y) + R2(y) yang umum
disebut sebagai fixed charge.
Walau demikian fixed charge disini bukan berarti bernilai konstan, Sekali keputusan investasi ditetapkan maka komitmen untuk memenuhi revenue
requirement ini harus dipatuhi dan tidak dapat dihindari.
Kriteria pemilihan keekonomian mengikuti aturan revenue requirement terendah. Di tahap pemilihan atau perancangan ini prinsip the lowest possible
cost pertama diterapkan.
Semua komponen revenue requirement secara langsung sebanding dengan besaran investasi modal, kecuali komponen E(y) yang merupakan biaya
produksi.
Termasuk di dalamnya adalah biaya energi primer (fuel), tenaga kerja (labor), dan material. Biaya ini digolongkan sebagai biaya variabel yang nilainya
terutama bergantung pada operasi pembangkit yang akan datang dan tidak bergantung pada nilai investasi yang ditetapkan.

Yearly Revenue Requirement


Fixed-charge rate, P, adalah fraksi tahunan yang, bila dihubungkan dengan investasi awal pembangkit, akan memberikan persyaratan pendapatan
minimum tahunan yang diperlukan untuk tingkat pengembalin atau return tertentu.

FCR(y).P = [R1(y) + R2(y)+ E(y)+ A(y) + D(y) + T(y) - I(y)].P


Dengan menggunakan faksi Pini revenue requirements dapat dihitung melalui 2 tahap perhitungan. Pertama, menghitung nilai tahunan dan kedua,
menghitung equivalent uniform (A).
Return disini memiliki pengertian berbeda karena ini merupakan utility company, dimana nilainya diatur melalui regulasi atau ketentuan tertentu.
Sumber:
W.D. Marsh, Diktat Electric Utility Power Generation Economics,
Clarendon Press - Oxford, University Press, N.Y.

Artikel Terkait

10. DIRECT UNIT Comparison

09. PROBLEM In TOTAL SYSTEM Analysis

08. TOTAL SYSTEM Analysis

07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit

06. System Reliability: RESERVES

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


You might also like:
03. Method of ECONOMIC ANALYSIS
08. TOTAL SYSTEM Analysis
07. ECONOMIC Characteristics of GENERATING Unit
05. System OPERATION

Linkwithin

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

25 komentar:
1.

Catur Janhari25 September 2013 23.02


Untuk
kelompok
1,
mohon
pencerahannya
sebagai
berikut:
1. apakah metode yang digunakan di Bab V ini sama seperti metode IRR dan NPV pada kuliah ekonomi teknik walaupun beda simbol.
2. Dari paragraph terakhir, berarti nilai revenue/year atau nilai hasil jual product (Rev (Y) akan selalu fix. Untuk mengatasinya revenue
yang fix, maka kita akan membuat efisiensi CAPEX, OPEX seperti pemilihan jenis pembangkit, unit yang nilai efisiensinya lebih tinggi,
dsb termausk didalamnya durasi dari suatu pembangkit,. Yang membuat bertanya-tanya apakah formula-formula diatas masih dapat
diaplikasikan
untuk
mengatasi
masalah
regulasi
pada
public
utility?
Terimakasih

Balas
Balasan

1.
arif budiman26 September 2013 08.36
Slamat pagi pak catur, izin menanggapi no2, menurut saya, pada paragraf terakhir dimina pendapatan minumun tahunan dibutuhkan, ini
masih bisa dilaksanakan pada public utility, dengan regulasi saat ini, semisal pada perusahaan listrik negara untuk memenuhi hal
tersebut dibuatkan regulasi untuk pemakaian minimum listrik, semisal pemakaian minimum perbulan adalah 40 jam nyala, jadi jika
kurang dari 40 jam nyala perbulan maka konsumen tetap harus membayar minimum senilai 40 jam nyala tersebut. Atau dengan
memberikan
biaya
beban
meskipun
tidak
digunakan.
Terima
kasih
Arif. ME 13

2.
arif budiman26 September 2013 08.39
Slamat pagi pak catur, izin menanggapi no2, menurut saya, pada paragraf terakhir dimina pendapatan minumun tahunan dibutuhkan, ini
masih bisa dilaksanakan pada public utility, dengan regulasi saat ini, semisal pada perusahaan listrik negara untuk memenuhi hal
tersebut dibuatkan regulasi untuk pemakaian minimum listrik, semisal pemakaian minimum perbulan adalah 40 jam nyala, jadi jika
kurang dari 40 jam nyala perbulan maka konsumen tetap harus membayar minimum senilai 40 jam nyala tersebut. Atau dengan
memberikan
biaya
beban
meskipun
tidak
digunakan.
Terima
kasih
Arif. ME 13

3.
arif budiman26 September 2013 09.03
Slamat pagi pak catur dan smua, izin menanggapi no.2, menurut saya pada pragraf terakhir diman pendapatan minimum tahunan
dibutuhkan, ini masih bisa dilaksanakan pada public utility, dengan regulasi saat ini, semisal pada Perusahaan Listrik Negara untuk
memenuhi hal diatas dibuatkan regulasi untuk pemakaian minimum listrik, semisal pemakaian minimum perbulan adalah 40 jam nyala,
jadi jika kurang dari 40 jam nyala perbulan maka konsumen harus tetap membayar minimum 40 jam nyala tersebut, atau dengan
menetapkan
biaya
beban
pada
daya
tertentu,
ini
digunakan
untuk
mendapatkan
minimum
pendapatan.
terima

kasih

Arif Budiman ME13

4.
dedy rachmansyah28 September 2013 00.59
Menanggapi
pertanyaan
Mas
Catur
1. Secara konsep sama IRR banyak digunakan dalam suatu analisis investasi, namun relatif sulit untuk ditentukan karena untuk
mendapatkan nilai yang akan dihitung diperlukan suatu 'trial and error' hingga pada akhirnya diperoleh tingkat bunga yang akan
menyebabkan NPV sama dengan nol. IRR dapat didefinisikan sebagai tingkat bunga yang akan menyamakan present value cash inflow
dengan jumlah initial investment dari proyek yang sedang dinilai.Dengan kata lain, IRR adalah tingkat bunga yang akan menyebabkan
NPV sama dengan nol, karena present value cash inflow pada tingkat bunga tersebut akan sama dengan initial investment. Suatu usulan
proyek investasi akan ditetima jika IRR > cost of capital dan akan ditolak jika IRR < cost of capital.
2. Rate return memang diatur dalam regulasi atau ketentuan tertentu untuk menjaga stabilitas revenue
Balas

2.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)26 September 2013 13.49
Menambahkan penjelasan di atas oleh kelompok 1, begini yang kami pelajari baik dari penjelasan yang ada di Marsh dan paper-paper
pendukung
lainnya.
Metode Fixed-Charge Rate (FCR) ini merupakan metode tersendiri yang banyak dipakai pada investasi-investasi pembangkitan.
FCR merupakan persentase tahunan (annual) terhadap investasi (CAPEX) di luar production / operation cost. (terlihat dari penjelasan di
atas)
Karena
merupakan
persentase
terhadap
investasi,
maka
agak
sulit
dibayangkan..
Untuk

perusahaan

pembangkitan

yang

dimiliki

oleh

swasta,

FCR

berkisar

antara

15

s/d

20

per

tahun.

Untuk perusahaan pembangkitan publik, biasanya FCR berkisar separuh hingga 5% dibawah FCR untuk perusahaan swasta.
Dari perhitungannya, FCR bergantung pada Rate of Return yang terdiri atas return kepada pemberi pinjaman (dalam bentuk bunga) dan
return kepada pemegang saham (dalam bentuk dividen). Perhatikan saja pada persamaan FCR, bahwa R1 adalah return yang
diinginkan/dipatok oleh pemegang saham. Sedangkan R2 adalah return berupa bunga yang diharapkan oleh pemberi pinjaman.
Suatu proyek atau suatu perusahaan pembangkitan biasanya dibiayai baik melalui pinjaman (hutang) dan juga equity (saham).
Nah, revenue yang diperoleh dari penjualan listrik nantinya haruslah cukup untuk membayar dividen (equity return) kepada investor,
bunga pinjaman, depresiasi dan pajak-pajak berikut insurance-nya. Revenue yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut itulah
yang direpresentasikan dalam bentuk persentase dari investasi (capital cost) dan disebut Fixed-Charge Rate (FCR).
Rate of Return tersebut tidak bisa terlalu rendah karena akan berakibat tidak tertariknya investasi, sehingga harus ada return minimum
yang diharapkan , baik secara regulasi, oleh pemberi pinjaman (misal bank, dsb) atau oleh pemegang saham. Hal inilah yang disebut
Minimum
Acceptable
Return
(MAR).
Mudah-mudahan

bisa

Bagus

lebih
W.

mudah

dalam
Wahyuntoro,

memahaminya

yaa..
ME'13

Balas
Balasan

1.
Catur Janhari26 September 2013 19.20
Terimakasih atas masukannya. Ada satu lagi yang membuta saya bertanya-tanya, apakah subsidi termasuk kedalam anggaran inevstasi
untuk menghitung NPV, IRR?

2.
dedy rachmansyah28 September 2013 01.23
Sambil
nunggu
dibandara
coba
comment-comment
dulu
deh...
:)
Saya coba mengartikan secara harfiah apa itu subsudi mudah-mudahan nanti bisa mengarahkan kejawabanya..
Subsidi (juga disebut subvensi) adalah bentuk bantuan keuangan yang dibayarkan kepada suatu bisnis atau sektor ekonomi. Sebagian
subsidi diberikan oleh pemerintah kepada produsen atau distributor dalam suatu industri untuk mencegah kejatuhan industri tersebut
(misalnya karena operasi merugikan yang terus dijalankan) atau peningkatan harga produknya. Subsidi dapat dianggap sebagai suatu
bentuk proteksionisme atau penghalang perdagangan dengan memproduksi barang dan jasa domestik yang kompetitif terhadap barang
dan jasa impor. Subsidi dapat mengganggu pasar dan memakan biaya ekonomi yang besar. Bantuan keuangan dalam bentuk subsidi
bisa datang dari suatu pemerintahan, namun istilah subsidi juga bisa mengarah pada bantuan yang diberikan oleh pihak lain, seperti
perorangan
atau
lembaga
non-pemerintah.
(sumber
:
wikipedia)
Nah pertanyaannya kembali kira-kira apa itu jawabannya.? hehe...

3.
Elif Doka Marliska29 September 2013 11.50
menurut saya subsidi energi listrik itu hadir untuk mengkompensasi daya beli masyarakat yang dianggap tidak mampu apabila diberikan
tarif sesuai dengan biaya pokok pembangkitan yang seharusnya misalkan seharusnya PT. PLN (persero) menjual Rp. 1000/kwh tetapi
daya beli masyarakat hanya mampu Rp. 300/kwh sehingga Rp. 700/kwh ditanggung oleh pemerintah dalam bentuk subsidi. menurut
saya NPV dan IRR dalam investasi harusnya diperhitungkan tanpa adanya subsidi karena subsidi adalah opsional terakhir yang
diputuskan oleh pemerintah berdasarkan berbagai pertimbangan. apabila NPV dan IRR dihitung dengan adanya variabel subsidi, maka
yang terjadi perusahaan tersebut akan selalu mengandalkan subsidi dan tidak akan memperbaiki manajemen operasionalnya sehingga
selalu tidak efektif dan efisien karena semua selisih biaya akan ditanggung oleh pemerintah. Pertanyaannya apakah hal tersebut yang
saat ini terjadi?

4.
Pondy Tjahjono30 September 2013 07.45
Sedikit menambahkan jawaban mas dedy atas pertanyaan mrcat. Mengutip dari wikipedia : "Sebagian subsidi diberikan oleh pemerintah
kepada produsen atau distributor dalam suatu industri untuk mencegah kejatuhan industri tersebut", menurut saya disini jelas bahwa
secara perhitungan keekonomisan bisnis, perusahaan yang disubsidi adalah perusahaan yang tidak ekonomis, sehingga baik
perhitungan NPV ataupun IRR tidak memasukkan nilai subsidi tersebut.

5.
ilham budi30 September 2013 09.40
Sedikit menambahkan, bahwa subsidi erat kaitannya dalam rangka penugasan Public Services Obligation (PSO). PSO adalah biaya
yang harus dikeluarkan oleh negara akibat disparitas/perbedaan harga pokok penjualan BUMN/swasta dengan harga atas produk/jasa
tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah agar pelayanan produk/jasa tetap terjamin dan terjangkau oleh sebagian besar masyarakat
(publik).
Sumber:
http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-content-list.asp?ContentId=193
Hubungan dengan NPV dan IRR, menurut saya selain subsidi yang diberikan, persentase margin juga akan mempengaruhi NPV dan
IRR dalam rangka pemenuhan kewajiban/beban perusahaan (antara lain: biaya bahan bakar, biaya pemeliharaan, biaya kepegawaian,
beban bunga dan keuangan yang digunakan untuk penyediaan tenaga listrik).

6.
Elif Doka Marliska1 Oktober 2013 10.21
Menanggapi lagi permasalahan subsidi dimasukkan dalam perhitungan NPV dan IRR. Bagaimana cara menghitung subsidi? kalo subsidi
di masukkan ke dalam NPV dan IRR berarti jumlah subsidi ditentukan terlebih dahulu akan tetapi jika dihitung NPV dan IRR-nya terlebih
dahulu sehingga diperoleh harga keekonomiannya kemudian ada kajian mengenai kemampuan daya beli masyarakat kemudian akan
diperoleh selisih dari harga keekonomian dengan daya beli masyarakat yang kemudian selisih itu akan dijadikan sebagai subsidi yang
akan diberikan agar perusahaan tersebut tetap memperoleh revenue sesuai dengan harga keekonomian produknya. Jadi menurut saya
harus dihitung dulu NPV dan IRR tanpa adanya subsidi kemudian dari hasil itu harusnya dapat dijadikan referensi untuk penentuan
jumlah
subsidi.
Jadi
bagaimana?
Elif Doka M, ME 13
Balas

3.
Indrawan Nugrahanto27 September 2013 08.39
1.Mungkin rekan-rekan ada yang bisa membantu apakah yang di maksud dengan "interest return on bonds"?dalam bidang ke ekonomian
apa saja kategori interst return on bonds ini?

Balas
Balasan

1.
dedy rachmansyah28 September 2013 01.43
Menurut
saya
seperti
yang
dikutip
oleh
Mas
Bagus,
Interest return on bonds atau R2 adalah return berupa bunga yang diharapkan oleh pemberi pinjaman. Revenue yang didapat salah
satunya digunakan untuk membayar pinjaman dalam bentuk bunga, dalam dunia mining contractor sptnya ini jg dipakai.

2.
Catur Janhari28 September 2013 22.19
Pak
Indra,
interset
return
on
bonds
Jenisnya anatar lain Obligasi suku bunga tetap, Obligasi
Sedangkan berdasaran penerbitnya: pemerintah atau swasta.

=
suku

bunga
yang
bunga mengambang

didapat
dsb. untuk

dari
obligasi.
detail klik disini.

3.
Pondy Tjahjono30 September 2013 08.14
Interest Return on Bonds, bunga obligasi. Obligasi biasa juga disebut surat utang. Beda dengan Saham, kalau pemilik saham adalah
juga pemilik dari perusahaan, sementara pemberi pinjaman obligasi tidak otomatis menjadi pemilik perusahaan. Adapun macam-macam
cara pembayaran bunga obligasi adalah : a. Zero coupon bonds; b. Coupon bonds; c. Fixed coupon bonds; d. Floating coupon bonds.
Sumber
:
klik
Pondy Tjahjono ME13
Balas

4.
Willy Sukardi28 September 2013 16.05
Mencoba
menjawab
pertanyaan
Mas
Catur:
Subsidi adalah bentuk bantuan keuangan yang dibayarkan kepada suatu bisnis atau sektor ekonomi. Sebagian subsidi diberikan oleh
pemerintah kepada produsen atau distributor dalam suatu industri untuk mencegah kejatuhan industri tersebut.
Menurut pandangan saya, subsidi bisa dikategorikan sebagai anggaran investasi untuk menghitung NPV atau IRR. Karena suntikan
dana dari subsidi bisa digunakan untuk menambah nilai investasi ataupun biaya produksi yang impactnya mengubah nilai NPV dan IRR.
Balas

5.
chairy28 September 2013 16.28
Sedikit

menanggapi

pertanyaan

Mas

Indra,

Kembali pada definisinya, "bonds (obligasi)" adalah suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu
pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon
bunganya
kelak
pada
saat
tanggal
jatuh
tempo
pembayaran.
Sumber
definisi:
click
here.

Bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi kepada pemegang obligasi bersamaan dengan utang pokoknya yang disebut "interest
return
on
bonds".
Mungkin

ada

teman-teman

yang

ingin

menambahkan

atau

mengoreksi,

dipersilahkan.

Chairy, ME13
Balas

6.
Bagus Wahyuntoro (Yunta)29 September 2013 12.37
Sesuai dengan yang kita diskusikan pada perkuliahan 26-Sept-13, referensi yang saya ambil untuk acuan FCR di atas bisa dilihat di
http://energysystems.princeton.edu/, pada bagian Useful Energy Link dengan judul Generation of Electric Power oleh
Hesham E. Shaalan (Assistant Prof. dari Georgia Southern University). Untuk lebih mudahnya bisa di klik di sini.
Menanggapi mas Catur di atas, subsidi diperhitungkan juga dalam perhitungan ke-ekonomian. Subsidi pemerintah misalnya, dapat
berupa tiga hal, yaitu subsidi pada harga jualnya (sehingga harga tidak terlalu tinggi ke masyarakat), sering diperlihatkan dalam revenue
pada cashflow. Yang kedua subsidi pada salah satu atau beberapa komponen biayanya. Misalnya subsidi pembelian bahan bakar pada
pembangkit listrik, dimana diperhitungkan untuk opex pada cashflow. Dan yang ketiga, berupa subsidi pada investasi awal atau capexnya. Tanpa diperhitungkan, bisa jadi NPV menjadi negatif, sehingga tidak ekonomis sampai dengan subsidi tersebut diikutkan. Hanya
saja subsidi pemerintah tentu saja membutuhkan komitmen dan persetujuan pemerintah, misal dimasukkan dalam APBN/APBD, dsb.
Salam,
Bagus W. Wahyuntoro, ME'13
Balas

7.
Catur Janhari30 September 2013 09.03
Untuk Pak Bagus dan Pak Willy, berarti sebenarnya subsidi diberikan jika IRR < MARR dan hal ini berlaku untuk public utility yang
pricenya
diatur
oleh
pemerintah.
Mohon pencerahannya?
Balas

8.
irwan Wakhi3 Oktober 2013 02.56
Sekedar menambahkan terkait dengan subsidi Lisrik. Menurut Nota Keuangan dan RAPBN 2014, anggaran subsidi listrik diberikan
dengan tujuan agar harga jual listrik dapatterjangkau oleh pelanggan dengan golongan tarif tertentu. Subsidi listrik dialokasikan karena
rata-rata harga jual tenaga listrik (HJTL)-nya lebih rendah dari biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik pada golongan tarif tersebut.
Anggaran subsidi listrik juga dialokasikan untuk mendukung ketersediaan listrik bagi industri, komersial, dan pelayanan masyarakat.
Selain itu, pemberian subsidi listrik diharapkan dapat menjamin program investasi dan rehabilitasi sarana/prasarana dalam penyediaan
tenaga
listrik.
Sementara
itu,
dalam
rangka
mengurangi
beban
subsidi
listrik
yang
terus
meningkat,
Pemerintah
dan
PT
PLN
(Persero)
berupaya
menurunkan
BPP
tenaga
listrik,
antara
lain
melalui:
(1)
program
penurunan
susut
jaringan
(losses);
dan
(2)
program
diversifikasi
energi
primer
di
pembangkit
listrik
dengan
melakukan
optimalisasi
penggunaan
gas,
panas
bumi,
batubara,
biodiesel,
dan
penggantian
high
speed
diesel
(HSD)
menjadi
marine
fuel
oil
(MFO).
Dalam
rangka
mengendalikan
subsidi
listrik,
Pemerintah
bersama
DPR-RI
sepakat
untuk menurunkan subsidi listrik secara bertahap, dengan tidak mengorbankan masyarakat berpenghasilan rendah. Berkaitan dengan
hal tersebut, Pemerintah telah melakukan penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) rata-rata sebesar 15 persen pada tahun 2013 secara
bertahap.

Balas

9.
Arief R. Darmawan2 November 2014 15.21
Selamat

siang,

Setelah mempelajari prinsip revenue requirement : fix charged rate, ini adalah minimal revenue yang harus didapatkan agar target MARR
(komponen R1+R2) tercapai. Revenue yang diambil haruslah yang terrendah diantara beberapa alternatif, sehingga prinsip at the lowest
possible
cost
tercapai.
Yang
ingin
saya
tanyakan
adalah
:
1. apakah metode Revenue Requirement : Fix Charged Rate ini dapat di terapkan selain pada utility company ( contoh : industri pupuk,
obat
dan
bahan
pokok)
agar
harga/cost-nya
dapat
ditekan
dan
tidak
memberatkan
konsumen?
2. revenue requirement adalah salah satu metode Economic Analysis Method, apakah kelebihan dan kekurangan metode ini dibanding
metode revenue requirement yang lain (contoh: Net Present Worth method, Discounted cash flow method, payback method) sehingga
lebih
cocok
digunakan
di
utility
company?
Terima

kasih

Salam,
Arief RD ME 14
Balas

10.
Manajemen Energi19 Desember 2015 09.43
Kelompok

ME-2015

Bagaimanakah melakukan perhitungan revenue requirement jika sumber pendanaan terdiri dari equity investor, pinjaman bank, serta
dana pemerintah untuk pembangunan pembangkit di Indonesia?
Balas
Balasan

1.
Fitria yuliani23 Desember 2015 16.49
Metode revenue requirement adalah yang paling umum digunakan oleh public utility dalam bidang ketenagalistrikan. Metode ini lebih
dikenal
dengan
istilah
fixed
charge
rate.
Secara umum, Revenue requirement memberikan dasar perhitungan jumlah revenue yang harus didapatkan agar keuntungan untuk
pemegang saham dan pemegang obligasi tercapai. Formula Revenue Requirement yaitu Nett Income / ER (R1), Interest on bond (R2),
ad valorem tax & insurance (A), Depreciation (D), Production Cost (E), Income Tax (T) dan Investment Tax Credit (I).
Menurut
pendapat
saya,
perbedaan
perhitungan
revenue
requirement
berdasarkan
sumber
pendanaan
yaitu:
1.
Sumber
pendanaan
dari
pinjaman
bank:
menggunakan
formula
pada
umumnya;
2.
Sumber
pendanaan
dari
investor
100%:
tidak
ada
pembayaraan
interest
on
bond
(R2);
3. Sumber pendanaan investasi dari dana pemerintah: tidak ada pembayaran pajak pertambahan nilai (A) dan pajak pendapatan (T);
4. Sumber pendanaan dari subsidi pemerintah pada harga listrik: pendapatan bersih ditambah dengan subsidi yang diberikan oleh
pemerintah.
.Mohon

pendapat

Fitria (ME 2015) - Kelompok 1


Balas

dan

koreksi

terhadap

pendapat

saya

tersebut

11.
dwi laksmana30 Desember 2015 15.40
Revenue
requirement
dirumuskan
RRt
=
(RBt)Rt
+
OCt
+
Dt
+
Tt
+
Ft
Di
mana
:
RR
=
Revenue
Requirement
R
=
Rate
of
Return
(Tingkat
pengembalian)
RB
=
Rate
Base
(Investasi
Gross
Akumulasi
Penyusutan)
OC
=
Operating
Cost
(Biaya
operasi)
D
=
Depreciation
(Beban
penyusutan)
T
=
Taxes
(Pajak)
F
=
Franchise
(Biaya
Waralaba
dan
lainnya)
t
=
Tahun
Uji
Karena pembiayaan terdiri dari 3 komponen yaitu equity investor, dana pemerintah dan pinjaman bank maka perlu ditetapkan rate untuk
tiap komponen. Equity dan dana pemerintah memiliki interest rate lebih tinggi karena memasukkan faktor risiko di dalamnya.
Rate base didefinisikan sebagai plant facilities dan investasi lain yang diperlukan untuk memberikan utility service ke kustomer. Yang
termasuk
di
dalamnya
adalah
tanah,
bangunan,
pembangkit,
transmisi
dan
distribusi.
Rate
of
Return
adalah
kumulatif
dari
3
komponen:
Ratio
Debt
Equity
Gov
ROR
Biaya

Cost
30%
50%
20%
lainnya

Dwi laksmana (ME 2015)

bersifat

Composite
8%
12%
10%
standar

seperti

pada

Return
2.4%
6.0%
2.0%
8.4%
kalkulasi

umumnya.