Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah dasar-dasar reproduksi yang berjudul
Spermatogenesis.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik
dari segi bentuk maupun isinya, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritikan dari semua
pihak yang sifatnya membangun.
Pada kesempatan ini, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada bu Sri selaku dosen
mata kuliah dasar-dasar reproduksi yang selalu membantu penulis dalam melakukan kegiatan
perkuliahan di kampus.
Akhirnya, tiada kata yang paling berkesan selain mengharapkan agar kiranya makalah dasardasar reproduksi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik di masa sekarang maupun masa
yang akan datang.
Bandar Lampung, 29 Oktober 2012
Penulis,

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Spermatogenesis adalah proses dimana spermatogonia berkembang menjadi spermatosit, tahap
masak dari spermatosit yang akan menghasilkan spermatid dengan jumlah kromosom berkurang
(haploid), spermiogenesis merupakan proses transformasi dari spermatid menjadi spermatozoa.
Spermatogenesis dimulai
dengan pertumbuhan spermatogonium menjadi
sel-sel
yanglebih besar yang kemudian disebut sebagai spermatosit primer. Sel-sel ini membelah
(pertama secara mitosis) menjadi dua spermatosit sekunder yang sama besar, yang kemudian
mengalami pembelahan meiosis menjadi empat spermatid yang sama besar pula. Spermatid ini
yaitu
sebuah
sel
bundar
dengan
sejumlah
besar protoplasma,
yang merupakan gamet dewasa dengan jumlah kromosom haploid.
Beberapa tipe sel dalam tahap perubahan bentuk telah ditentukan menjadi sebuah daur perubahan
sel. Sebanyak 14 tahap perubahan sel telah diketahui pada beberapa spesies, dimana hanya
terdapat 6 tahap yang diketahui pada manusia. Pada sapi, sebanyak 12 tahap perubahan telah
dijelaskan. Tahap spermiogenesis digunakan untuk mengklasifikasikan beberapa tahap daur.
Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah daur ephitelium seminiferous bergantung
pada masing-masing spesies. Lamanya waktu yang diperlukan adalah 9 hari pada babi, 10 hari

pada kambing, 12 hari pada kuda, dan 14 hari pada sapi. Perjalanan spermatozoa melewati
epididimis tergantung pada tempat kontraksi dinding saluran. Spermatozoa diangkut melalui
epididimis dalam waktu kira-kira 7 hari pada sapi.
Waktu transit sperma mungkin berkurang 10-20% seiring meningkatnya frekuensi
ejakulasi. Bagian utama tempat penyimpanan sperma pada organ reproduksi jantan berada pada
ekor epididimis, dimana ekor epididimis mengandung 70% dari jumlah total spermatozoa,
sebaliknya vas
deferens hanya
mengandung
2%

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk:
1.
Mengetahui pengertian Spermatogenesis
2.
Mengetahui tahap tahapan dari pembentukan Spermatogenesis
3.
Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi spermatogenesis
4.
Mengetahui Hormon yang berperan dalm proses pembentukan spermatozoa
5.
Mengetahui bentuk sperma

BAB II. ISI DAN PEMBAHASAN


A. Pengertian Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa. Spermatogenesis
terjadi di tubulus seminiferus. Peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma
yang masak serta mengalami berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara
berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone
gonadtotropin dan testosterone.
Spermatogenesis terjadi di testis, didalam testis terdapat tubulus seminiferus. Dinding tubulus
seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat, pada jaringan epithelium terdapat sel
sel spermatogonia dan sel sertoli yang berfungsi memberi nutrisi pada spermatozoa. Selain itu
pada tubulus seminiferus terdapat pula sel leydig yang mensekresikan hormone testosterone yang
berperan pada proses spermatogenesis.
Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan
diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di
tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus
tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang
berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam
ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis.

Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut
spermatogonia. Spermatogonia terletak di antara dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel
tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri,
sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk
membentuk sperma.
Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli,
dan sel Leydig. Sel Sertoli berfungsi memberi makan spermatozoa sedangkan sel Leydig yang
terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron.

B. Tahap Tahapan Spermatogenesis


Pada testis, spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus.
1. Tahapan spermatogenesis:
Pada dinding tubulus seminiferus telah ada calon sperma (spermatogonium / spermatogonia)
yang berjumlah ribuan.
Setiap spermatogonia melakukan pembelahan mitosis kemudian mengakhiri sel somatisnya
membentuk spermatosit primer yang siap miosis.
Spermatosit primer (2n) melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2 spermatosit
sekunder (n).
Tiap spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan 2 spermatid
yang bersifat haploid (n).
Keempat spermatid ini berkembang menjadi sperma matang yang bersifat haploid yang semua
fungsional.
Sperma yang matang akan menuju epididimis , kemudian ke vas deferens- vesicula seminalis uretra dan berakhir dengan ejakulasi.

Gambar 1. Spermatogenesis
2. Sperma
Deoxyribonucleoprotein, terdapat pada nucleus yang merupakan kepala dari sperma. Terbentuk
oleh RNA yang terikat oeh protein.
Muco-polysakarida, senyawa ini terikat pada molekul-molekul protein yang terdapat di
acrosome. Polysakarida yang terdapat pada acrosome ini mengandung 4 macam gula, yaitu
fucose, galactose, mannose, hexosaminase. Keempat gula terikat dalam protein sehingga
memberi reaksi pada zat warna asam yaitu Periodic Acid Schiff (PAS).
Plasmalogen, nama lainnya adalah lemak aldehydrogen yang terdapat pada bagian leher, badan,
dan ekor sperma. Merupakan bahan yang dipakai sperma untuk respirasi endogen, jadi
plasmalogen merupakn sumber energy endogen, yang akan dipergunakan apabila semua zat lain
habis terpakai.
Protein yang menyerupai kreatine, merupakan selubung tipis yang meliputi seluruh badan,
kepala, dan ekor sperma. Protein ini banyak mempunyai ikatan dengan unsur zat tanduk yaitu S

(Sulfur). Protein ini banyak terdapat di membran sel dan fibril-fibrilnya serta bertanggung jawab
terhadap sifat elastisitas permukaan sel sperma itu.
Enzim dan Co-Enzim, yang berguna untuk proses oksidasi, misalnya glikolisis. Sel sperma juga
mengandung Hyluronidase yang letaknya dekat sekali dengan permukaan sel, sehingga setiap
saat dapat dilepaskan ke medium sekitarnya.
3. Struktur sperma matang terdiri dari:
Kepala
Pada bagian ini sperma mengandung suatu lapisan tipis sitoplasma dan sebuah inti berbentuk
lonjong dan hampir mengisi seluruh bagian dari kepala sperma. Bagian depan disebut
acrosom ( memiliki enzim hydrolytic yang terdiri dari acrosin dan hyaluronidase yang
dibutuhkan saat fertilisasi ) dan bagian belakang dinamakan sentriol. Serta bagian ini juga
mempunyai inti sel yang mempunyai arti penting dalam masalah reproduksi
Leher
Daerah ini merupakan bagian penting yang mengandung sentriol depan dan bagian depan
filament poros. Leher yaitu untuk menghubungkan kepala dengan badan.
Badan
Bagian badan dari sperma mengandung filament poros mitokondria dan sentriol belakang
berbentuk cincin, sehingga sering disebut bagian badan ini sebagai tenaga pusat sperma karena
mitokondria memiliki enzim yang menggerakkan asam trikakboksilat dan transport elektron serta
fosfolirasi oksidatif, yang menghasilkan energi dalam bentuk ATP.
Ekor
Ekor sperma memeiliki 2 bagian : bagian utama dan bagian ujung. Ekor ini mengandung banyak
sekali filament poros/flagellum tetapi sedikit mengandung sitoplasma. Terdapat 2 sentriol
terletak di bagian tengah dari fibril-fibril yang seperti silia tersebar dalam ekor dan dikelilingi
oleh cincin yang terdiri dari 9 pasangan fibril perifer. Fibril ini berfungsi menimbulkan gerakan
ekor sperma. Ekor berfungsi untuk mendorong spermatozoa masuk ke dalam vas deferen dan
ductus ejakulotoris.

Gambar 2. Sperma matang

4. Jalur Sperma
Berikut adalah penjelasan mengenai jalur sperma yang telah matang. Dari testis kiri dan kanan,
sperma bergerak ke dalam epididimis (suatu saluran berbentuk gulungan yang terletak di puncak
testis menuju ke testis belakang bagian bawah) dan disimpan di dalam epididimis sampai saat
terjadinya ejakulasi. Jadi epididimis ini agar sperma menjadi matang / mature sehingga siap
bergerak ke vas deferens. Dari epididimis, sperma bergerak ke vas deferens dan duktus
ejakulatorius. Di dalam duktus ejakulatorius, cairan yang dihasilkan oleh vesikula seminalis ,
kelenjar prostata dan bulbo uretra ditambahkan pada sperma sehinngga sperma dinamai dengan
semen ( benih), yang kemudian mengalir menuju ke uretra dan dikeluarkan ketika ejakulasi.
C. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Spermatogenesis
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi spermatogenesis yaitu:
1. Peningkatan suhu di dalam testis akibat demam berkepanjangan atau akibat panas yang
berlebihan bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sperma, berkurangnya pergerakan sperma
dan meningkatkan jumlah sperma yang abnormal di dalam semen. Pembentukan sperma yang
paling efisien adalah pada suhu 33,5 (lebih rendah dari suhu tubuh). Testis bisa tetap berada
pada suhu tersebut karena terletak di dalam skrotum (kantung zakar) yang berada diluar rongga
tubuh.
2. Faktor lain yang mempengaruhi jumlah sperma adalah pemakaian marijuana atau obat-obatan
(misalnya simetidin, spironolakton dan nitrofurantoin).
3. Penyakit serius pada testis atau penyumbatan atau tidak adanya vas deferens (kiri dan kanan)
bisa menyebabkan azospermia (tidak terbentuk sperma sama sekali.
4. Varikokel merupakan kelainan anatomis yang paling sering ditemukan pada kemandulan pria.
Varikokel adalah varises (pelebaran vena) di dalam skrotum.Varikokel bisa menghalangi
pengaliran darah dari testis dan mengurangi laju pembentukan sperma.
5. Temperature, pada suhu panas metobolisme sperma naik, daya hidup sperma turun, jika suhu
dingin kebalikannya.
6. pH
7. Hormone, testosterone tinggi akan menurunkan metabolism.

8. Umur
9. Berat badan
10. Kesehatan
11. Makanan
12. Iklim
13. Keturunan
D. Hormon yang berperan dalam proses pembentukan Spermatozoa
Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan
kelenjar hipofisis yaitu:
LH (Luteinizing Hormone)
LH (Luteinizing Hormone) merupakan hormon yang merangsang sel Leydig untuk menghasilkan
hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen / testosteron memacu tumbuhnya sifat
kelamin sekunder.
FSH (Folicle Stimulating Hormone)
FSH (Folicle Stimulating Hormone) merupakan hormon merangsang sel Sertoli untuk
menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk
memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut
spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2
hari.
Hormon Testosteron
Hormon testosteron (androgen) merupakan hormon yang dihasilkan oleh testis Hormon ini
berfungsi merangsang perkembangan organ Seks primer pada saat embrio dan mendorong
spermatogenesis. Selain itu, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin
sekunder, seperti tumbuh bulu dan kumis, dan dada menjadi bidang.

BAB III. KESIMPULAN

1.

Adapun kesimpulan dari pembuatan makalah ini yaitu:


Spermatogenesis adalah Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa.

2.

Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus.

3.

Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan
diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional.

4.

Struktur sperma matang terdiri dari : kepala, leher, badan, dan ekor

5.

Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan
kelenjar hipofisis yaitu:
LH (Luteinizing Hormone)
FSH (Folicle Stimulating Hormone)
Hormon Testosteron.
6. Faktor yang mempengaruhi spermatogenis yaitu: Suhu, pH, Hormone, Umur, Kesehatan, Iklim,
Makanan, Keturunan, dll.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
Partodiharjo, Soebadi. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
Toelihere, Mozes R. 1977. Fisiologi Reproduksi Hewan Ternak. Bandung: Angkasa.
Salisbury, G. W. dan Van Denmark, N. L. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada
Sapi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Proses Spermatogenesis Pada Ternak

Spermatogenesis adalah proses dimana spermatogonia berkembang


menjadispermatosit, tahap masak dari spermatosit yang
menghasilkan spermatiddengan jumlah kromosom berkurang
(haploid), spermiogenesis merupakan proses transformasi
dari spermatid menjadi spermatozoa (Dellmann dan Brown, 1992).
Spermatogenesis dimulai dengan pertumbuhan spermatogonium menjadi sel- sel
yang lebih besar yang kemudian disebut sebagai spermatosit primer. Sel-sel ini
membelah (pertama secara mitosis) menjadi dua spermatosit sekunder yang sama
besar, yang kemudian mengalami pembelahan meiosis menjadi
empatspermatid yang sama besar pula. Spermatid ini yaitu sebuah sel bundar
dengan sejumlah besar protoplasma, yang merupakan gamet dewasa dengan
jumlah kromosom haploid (Dellmann dan Brown, 1992).

Beberapa tipe sel dalam tahap perubahan bentuk telah ditentukan menjadi sebuah
daur perubahan sel. Sebanyak 14 tahap perubahan sel telah diketahui pada
beberapa spesies, dimana hanya terdapat 6 tahap yang diketahui pada manusia.
Pada sapi, sebanyak 12 tahap perubahan telah dijelaskan. Tahap spermiogenesis
digunakan untuk mengklasifikasikan beberapa tahap daur. Waktu yang diperlukan
untuk menyelesaikan sebuah daur ephitelium seminiferous bergantung pasa
masing-masing spesies. Lamanya waktu yang diperlukan adalah 9 hari pada babi,
10 hari pada kambing, 12 hari pada kuda, dan 14 hari pada sapi (Hafez dan Hafez,
2000).
Perjalanan spermatozoa melewati epididimis tergantung pada tempat kontraksi
dinding saluran. Spermatozoa diangkut melalui epididimis dalam waktu kira-kira 7
hari pada sapi. Waktu transit sperma mungkin berkurang 10-20% seiring

meningkatnya frekuensi ejakulasi. Bagian utama tempat penyimpanan sperma pada


organ reproduksi jantan berada pada ekor epididimis, dimana ekor epididimis
mengandung 70% dari jumlah total spermatozoa, sebaliknya vas deferens hanya
mengandung 2% (Hafez dan Hafez, 2000).

Daftar Pustaka :
Hafez, B. dan E.S.E. Hafez. 2000. Reproduction in Farm Animal 7 th Edition. Lippincott
William & Wilkins : Baltimore, USA.

Salisbury, G. W. dan N. L. Van Denmark. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi


Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh R.
Djanuar).

SPERMATOGENESIS (PROSES PEMBENTUKAN SPERMA)


THOMAS SAPUTRO 4/01/2015
Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma yang terjadi
di epitelum (tubuli)seminefri dibawah kontrol hormon gonadothropin dan hipofisis
(pituitaria bagian depan).Tubuli seminefri ini terdiri atas sel setroli dan
sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam tiga fase, yaitu fase spermatogonial,
fase meiosis, dan fase spermiogenesis yang membutuhkan waktu 13-14 hari
(Yuwanta, 2004). Spermatogenesis adalah proses pembentukan
selspermatozoa (tunggal : spermatozoon) yang terjadi di organ kelamin (gonad)
jantan, yaitutestis tepatnya di tubulus seminiferus. Sel spermatozoa, disingkat
sperma yang bersifat haploid(n) dibentuk di dalam testis melewati sebuah proses
kompleks. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan
melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel. Pematangan sel terjadi di tubulus
seminiferus yang kemudian disimpan dalam epididimis.Tubulus seminiferus terdiri
dari sejumlah besar sel germinal yang
disebutspermatogonia (jamak). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapis luar
sel-sel epiteltubulus seminiferus. Spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap
tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.
Sperma sebagian besar terdiri dari:
1. Deoxyribonucleoprotein yang terdapat dalam nucleus yang merupakan kepala
dari sperma.Nucleoprotin dalam inti sperma semua spesies, terbentuk oleh
asam deoxyribonucleusyang terikat pada protein. Akan tetapi pada spesies-spesies
itu nucleoprotein-nucleoprotein-nucleoprotein tidak identik satu sama lain,
melainkan ada perbedaan perbedaannya yaitu terutama pada 4 bagian pokok
ialah adenine, quinine, oxytosine, danthymine.
2. Muco-polysaccharide yang terikat pada molekul-molekul protein terdapat diacrosome, yaitu bagian pembungkus kepala. Polysaccharide yang terdapat
pada acrosome ini mengandung 4 macam gula gula yaitu : fucose,
suatu methylpentose, galactose, mannosedan hexosamine. Keempat unsur gulagula ini terikat pada protein sehingga member reaksi pada zat warna asam,
yaitu PAS (Periodic Acid Schif). Fungsi dari muco-polysaccharideyang terikat pada
molekul protein dalam metabolisme sperma tidak diketahui.
3. Plasmogen atau lemak aldehydrogen yang terdapat di bagian leher, badan dan
ekor dari sperma, merupakan bahan yang dipergunakan oleh sperma itu untuk
respirasi endogen.
4. Protein yang menyerupai keratin yang merupakan selubung tipis yang meliputi
seluruh badan, kepala dan ekor sperma. Protein ini banyak mempunyai ikatan
dengan unsure zat tanduk yaitu S (sulfur). Protein ini terutama banyak terdapat
pada membran sel sel dan fibril fibrilnya. Mungkin protein yang mengandung

banyak S ini bertanggung jawab terhadap sifat elastisitas permukaan sel sperma
itu.
5. Enzim dan co-enzim. Sperma mengandung bermacam macam enzim enzim dan co-enzimyang pada umumnya digunakan untuk proses
hidrolisis dan oksidasi. Misalnya semuaenzim dan co-enzim yang diperlukan dalam
siklus glikolisis ada pada sel sperma. Sel sperma juga
mengandung yaluronidase yang diduga berada dekat sekali ke permukaan sel,
sehingga setiap saat dapat dilepaskan ke medium sekitarnya (Partodihardjo,
Soebadi. 1980).
Ciri utama spermatozoa adalah motilitas yang digunakan sebagai patokan
paling sederhana dalam penilaian kualitas semen. Persentase spermatozoa motil
(bergerak progresif) dapat digunakan sebagai ukuran kesanggupan untuk
membuahi ovum (SETIADI citPamungkas, 2008). Motilitas dipengaruhi oleh umur
sperma, maturasi sperma, penyimpanan energi (ATP), agen aktif, biofisik dan
fisiologik, cairan suspensi dan adanya rangsangan atau hambatan
(HAFEZ cit Pamungkas, 2008).

1.

PROSES PEMBENTUKAN SPERMATOGENESIS

Spermatogenesis merupakan proses pembentukan spermatozoa. Proses ini dimulai


dengan sel benih primitif, yaitu spermatogonium. Pada saat terjadinya
perkembangan sel kelamin, sel ini mulai mengalami mitosis, dan menghasilkan
generasi sel-sel yang baru. Sel-sel yang baru dibentuk dapat mengikuti satu dari
dua jalur. Sel-sel ini dapat terus membelah sebagai sel induk, yang
disebut spermatogonium tipe A, atau dapat berdeferensiasi selama siklus mitosis
yang progresif menjadi spermatogonium B.Spermatogonium B merupakan sel
progenitor yang akan berdeferensiasi menjadi spermatosit primer. Segera setelah
terbentuk, sel-sel ini memasuki tahap profase dari pembelahan meiosis pertama.
Spermatosit primer merupakan sel terbesar dalam garis keturunan spermatogenik
ini dan ditandai dengan adanya kromosom dalam berbagai tahap proses
penggelungan di dalam intinya (Fawcett, 2002).

Gambar 1. Tahapan pembentukan spermatogenesis (Junqueira et al, 2007).


Dari pembelahan meiosis pertama ini timbul sel berukuran lebih kecil yang disebut
spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder sulit diamati dalam sediaan testis
karena merupakan sel berumur pendek dan berada dalam tahap interfase yang
sangat singkat dan dengan cepat memasuki pembelahan meiosis kedua.
Pembelahan spermatosit sekunder menghasilkan spermatid. Karena tidak ada faseS (sintesis DNA) yang terjadi antara pembelahan meiosis pertama dan kedua pada
spermatosit, jumlah DNA per sel berkurang setengah selama pembelahan kedua ini,
yang menghasilkan sel haploid (n). Oleh karena itu, proses meiosis menghasilkan
sel dengan jumlah kromosom haploid. Dengan adanya pembuahan, sel memperoleh
kembali jumlah diploid yang normal (Junqueira et al., 2007).
Pada proses spermatogenesis terjadi proses - proses dalam istilah sebagai
berikut :
a. Spermatositogenesis (spermatocytogenesis) adalah tahap awal
dari spermatogenesis, yaitu peristiwa pembelahan spermatogonium menjadi
spermatosit primer (mitosis), selanjutnya spermatosit melanjutkan pembelahan
secara meiosis menjadi spermatosit sekunder dan spermatid. Istilah ini biasa
disingkat proses pembelahan sel darispermatogonium menjadi spermatid.
b. Spermiogenesis (spermiogensis) adalah peristiwa perubahan spermatid
menjadi sperma yang dewasa. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan
membutuhkan waktu selama 2 hari. Terbagi menjadi tahap 1) Pembentukan
golgi, axon ema dan kondensasi DNA, 2) Pembentukan cap akrosom, 3)
pembentukan bagian ekor, 4) Maturasi, reduksi sitoplasma difagosit oleh sel Sertoli.
c. Spermiasi (Spermiation) adalah peristiwa pelepasan sperma matur dari sel
sertoli kelumen tubulus seminiferus selanjutnya ke epididimidis. Sperma belum
memiliki kemampuan bergerak sendiri (non-motil). Sperma non motil ini ditranspor

dalam cairan testicular hasil sekresi sel Sertoli dan bergerak menuju epididimis
karena kontraksi otot peritubuler. Sperma baru mampu bergerak dalam saluran
epidimis namun pergerakan sperma dalam saluran reproduksi pria bukan karena
motilitas sperma sendiri melainkan karena kontraksi peristaltik otot saluran.
Ada dua fase atau tahap spermatogenesis :
1) Fase spermatocytogenesis, yaitu fase pertumbuhan jaringan spermatogenik
dengan pembelahan sederhana.
2) Fase spermiogenesis, yaitu fase terjadinya peristiwa metamorfosis atau
perubahan bentuk dari spermatid menjadi spermatozoa muda dan sempurnaa.
Spermatogenesis atau proses pembentukan sperma terjadi di dalam testis,
tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel
epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel. Hal ini
bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus
seminiferus yang kemudian disimpan dalam epididimis. Tubulus seminiferus terdiri
dari sejumlah besar sel epitel germinal atau sel epitel benih yang
disebut spermatogonia. Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar selsel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk
memperbanyak diri. Sebagian dari spermatogoniaberdiferensiasi melalui tahaptahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.
Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid
berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe
A.Spermatogonia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B.
Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi
spermatosit primer yang masih bersifat diploid. Setelah beberapa minggu, setiap
spermatosit primer membalah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit
sekunder yang bersifat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi
secara meiosis membentuk empat buahspermatid. Spermatid merupakan calon
sperma yang belum memiliki ekor dan bersifathaploid. Setiap spermatid akan
berdiferensiasi menjadi spermatozoa atau sperma. Proses
perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.
Spermatogonium berubah menjadi spermatosit primer melalui pembelahan mitosis.
Selanjutnya, spermatosit primer membelah diri secara miosis menjadi dua
spermatosit sekunder yang haploid dan berukuran sama. Spermatosit sekunder
mengalami pembelahanmeiosis dua menghasilkan empat spermatid. Spermatid
adalah calon sperma yang belum berekor. Spermatid yang telah mempunyai ekor
disebut sperma. Pada manusia spermatogenesis berlangsung lebih kurang 16 hari.
Selama spermatogenesis, sperma menerima bahan makanan dari sel-sel sertoli. Sel
sertoli merupakan tipe sel lainnya di dalam tubulus seminiferus.

2.

HORMON YANG BERPENGARUH DALAM PROSES SPERMATOGENESIS

Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon,


diantaranya
a. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon peransang folikel (Folicle Stimulating
Hormon/ FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormon/ LH).
b. LH merangsang sel leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa
pubertas, androgen/ testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
c. FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein)
yang akan memacu spermatogonium untuk memulai spermatogenesis.
d. Hormon pertumbuhan, secara khusus meningkatkan pembelahan awal
padaspermatogenesis.
Semua proses spermatogenesis dikontrol oleh sistem endokrin, yaitu oleh
hormongonadothropin seperti hormon FSH, ICGSH dan androgen. Rangkaian
kejadian pengendalian hormon terhadap spermatogenesis pada sapi jantan adalah
a. Sapi jantan pada waktu pubertas dicapai hormon FSH mempengaruhi
sel Leydig untuk menghasilkan hormon androgen (hormon jantan).
b. Androgen membuat epitel germinalis dari tubulus seminifrus bereaksi
terhadap FSH.
c. FSH menyebabkan dimulainya spermatogenesis dengan adanya pembelahan sel
di spermatogonia.
d. Spermatogenesis diatur oleh FSH, LH dan androgen serta estrogen.
e. Androgen terhadap seluruh organ kelamin jantan membantu mempertahankan
kondisi yang optimum terhadap spermatogenesis, transportasi spermatozoa dan
penempatannya di daerah yang terjadi pembuahan.
Sumber:
Fawcett, Don W. 2002. Buku Ajar Histologi. Jakarta: EGC 423-501.
Junqueira, L. C., Jose Carneiro, Robert O. K. 2007. Histologi Dasar edisi ke-8. Jakarta:
EGC. Hal 419-432.
Partodiharjo, Soebadi. 1980. Pemulia Biakkan Ternak Sapi. PT Gramedia, Jakarta.
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta: Kanisius.