Anda di halaman 1dari 3

Kasus Prosedur Pemeriksaan Pajak:

Penyerahan Dokumen Saat Pembahasan


Akhir, Mungkinkah ?

Sampai saat ini polemik seperti itu mungkin masih ditemukan di lapangan (praktek
pemeriksaan pajak). Saat penulis menkadi pemeriksa pajak, hal itu juga pernah
terjadi.
Sebenarnya apa dasar hukum yang melatarbelakangi sehingga pemeriksa bisa
menolak ? Dengan kondisi pemeriksa sudah membuat permintaan dokumen tetapi
wajib pajak belum dapat memenuhinya dan sudah ada Berita Acara pemenuhan atau
tidak dipenuhi dokumen yang dipinjam.
Jika kita melihat ke dalam pasal 57 PMK Nomor 17 Tahun 2013 tentang Tata Cara
Pemeriksaan, dikatakan bahwa :
Dalam hal terhadap Wajib Pajak dilakukan penetapan secara jabatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) atau Pasal 38, buku, catatan, dan/atau dokumen,
termasuk data yang dikelola secara elektronik serta keterangan lain yang dapat
dipertimbangkan oleh Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
terbatas pada:
1.

penghitungan peredaran usaha atau penghasilan bruto dalam rangka


penghitungan penghasilan secara jabatan; dan
2.
kredit pajak sebagai pengurang Pajak Penghasilan
Lalu, bagaimana dengan status penetapan yang bukan secara jabatan? Tidak
dijelaskan. Seharusnya jika tidak diatur maka pemeriksa masih bisa menerima
dokumen wajib pajak.
Mari kita lihat pasal 11 PP no 74 tahun 2011, yang menyatakan :
1.

Dalam hal Wajib Pajak badan yang diperiksa tidak memenuhi kewajiban
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga tidak dapat dihitung besarnya
penghasilan kena pajak, penghasilan kena pajaknya dapat dihitung secara jabatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
2.
Dalam hal penghasilan kena pajak dihitung secara jabatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) atau ayat (4), Direktur Jenderal Pajak wajib menyampaikan

3.
4.
5.
6.

surat pemberitahuan hasil Pemeriksaan kepada Wajib Pajak dan memberikan hak
kepada Wajib Pajak untuk hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan.
Pada saat Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (5), .
Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (6) terbatas pada:
dokumen yang terkait dengan penghitungan peredaran usaha atau
penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan neto secara jabatan;
dan
dokumen kredit pajak sebagai pengurang Pajak Penghasilan.
Dalam ayat 6 memang dikatakan bahwa pemeriksa dapat mempertimbangkan,
artinya semua dikembalikan ke pemeriksa, tetapi perlu diingat bahwa tujuan
pemeriksaan pajak yang utama itu adalah untuk mencari kebenaran material bukan
kebenaran formal.
Jika lebih mengutamakan kebenaran Formal, maka dokumen yang diserahkan
setelah proses pemeriksaan telah selesai tentunya tidak dapat diterima. Tetapi jika
lebih mengutamakan kebenaran material, maka dokumen tersebut seharusnya akan
diterima oleh pemeriksa untuk selanjutnya dilakukan pengujian apakah wajib pajak
pajak telah melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Sebenarnya hal ini menjadi suatu hal yang kurang tepat, mengapa? Apakah mungkin
suatu kebenaran material dihalangi oleh kebenaran formal yang tidak mendukung
suatu pengujian atas kebenaran material?
Kebenaran materiil sebenarnya mengandung unsur:

1.
2.
3.
4.

Apa yang hrs dibuktikan?


Beban pembuktian
Penilaian pembuktian
Sahnya bukti dari fakta yang terungkap
Penilaian pembuktian adalah suatu hal yang sangat krusial apabila pada saat
dilakukan pemeriksaan Wajib Pajak tidak menyerahkan pembukuan dan dokumen. Ps
13 (1) KUP bagian penjelasan sebenarnya telah mengatur bahwa apabila WP tidak
menyerahkan dokumen pada saat pemeriksaan, maka Pajak dihitung secara Jabatan.
Lalu bagaimana dengan pembuktiannya? Dalam keadaan seperti ini KUP mengatur
adanya Pembalikan Beban Pembuktian yaitu WP yang harus membuktikan atas
uraian penghitungan yang dijadikan dasar penghitungan secara Jabatan. Jadi apabila
pada saat Pembahasan akhir wajib pajak menyerahkan dokumen yang berhubungan
dengan pembuktian atas perhitungan secara jabatan, menurut penulis seharusnya
dapat diterima.
Dan jangan lupa bahwa Teknik Metode pengujian tidak langsung tidak diatur dalam
UU, yang ada hanya ketentuan penghitungan secara jabatan saja yang diserahkan
sepenuhnya kepada pemeriksa.
Jika kita jeli, sebenarnya di dalam UU Pengadilan Pajak, Hakim akan mencari
kebenaran material bukan formal karena ingin memberikan rasa keadilan.
Jadi menurut penulis, tetap tidak ada dasar hukum untuk menolak dokumen Wajib
Pajak dalam pembahasan akhir. Batas waktu satu bulan yang diberikan oleh Undang
Undang untuk menyerahkan dokumen adalah payung hukum untuk pemeriksa agar
dapat mengambil keputusan langkah-langkah berikutnya kalo Wajib pajak tidak lagi
memberikan dokumen, termasuk jika dokumen yang dipinjam oleh pemeriksa dalam
surat peminjaman yang pertama masih kurang, pemeriksa masih bisa meminjam

lagi dengan surat peminjaman dokumen yang kedua, dan maka batas waktu satu
bulan bertambah lagi sejak surat peminjaman kedua.
Berita acara pemenuhan dokumen adalah untuk menutup apakah dipenuhi atau
tidak peminjaman pemeriksa. Namun bukan serta merta setelah satu bulan terus
dibuat Berita Acara, tetap bisa dibuat pada akhir pemeriksaan yang penting jangan
sebelum satu bulan, itu haknya WP. Ketentuannya adalah setelah terlampaui satu
bulan.
Bagaimana dengan peringatan, perlu dicermati bahwa itu hanyalah berupa pilihan
bagi pemeriksa. Jadi ketentuannya adalah pemeriksa "dapat" menyampaikan
peringatan, jika tidak ya tidak apa-apa.
Mari kita lihat dari sisi pidana pajak. Jika dikaitkan dengan pidana pajak yang
menyangkut dengan pengisian SPT yang tidak benar (Pasal 39 ayat 1 huruf d UU
KUP), pembuktian secara pidana dilakukan berdasarkan bukti material berbeda
dengan kasus perdata di mana pembuktianya dilakukan secara formal. Misalnya,
dalam kasus perdata di mana suatu akta otentik bisa menjadi alat bukti saya sangat
valid, tetapi sebaliknya dalam kasus pidana akta otentik tersebut belum tentu
menjadi alat bukti yang valid semua tergantung dari materi yang benar-benar terjadi
dalam kasus tersebut.
Jadi, kembali menurut penulis, dokumen yang diperoleh saat pembahasan akhir
masih dapat diterima, apalagi jika dokumen tersebut dapat menggambarkan fakta
yang sebenarnya dan akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Ungkapkan saja
kejadian tersebut dalam suatu Berita Acara dalam pembahasan akhir, wajib pajak
masih mempunyai hak untuk menyanggah hasil pemeriksaan yang tertuang dalam
SPHP. Tentunya hak menyanggah itu harus dilengkapi bukti yang valid. Pemeriksa
seharusnya menegakkan aturan perpajakan dengan benar artinya kalau sudah SPHP
pemeriksa boleh menerima dokumen, tetapi sesuai dengan aturan, dokumen yang
dapat dipertimbangkan hanya yang mempengaruhi peredaran usaha dan kredit
pajak saja, kalau di pengadilan pajak mungkin sedikit berbeda mereka
mempertimbangkan rasa keadilan tetapi kalau aturannya memang sudah jelas, ya
pemeriksa sudah seharusnya mengikuti aturan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku.
Untuk memahami berbagai seluk beluk pemeriksaan pajak, kami dari Taxpro
mengadakan training dan inhouse traning pemeriksaan pajak.
By Wahyudi Siswantoro

http://www.taxpro.co.id/penyerahan-dokumen-saat-pembahasan-akhir