Anda di halaman 1dari 92

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pesantren merupakan sistem pendidikan yang sudah berkembang jauh
sebelum negeri ini merdeka dan sebelum kerajaan Islam berdiri. Pendidikan
yang sering disebut tradisional ini bersama madrasah dan pendidikan swasta
nasional lainnya, telah berjasa besar di dalam menumbuhkan masyarakat
swadaya dan swasembada masyarakat. Inilah yang di kemudian hari bersama
kekuatan sosial lainnya menjadi tulang punggung dan basis perjuangan
kemerdekaan1. Pengembangan apapun yang dilakukan dan dijalani oleh
pesantren tidak mengubah ciri pokoknya sebagai lembaga pendidikan dalam
arti luas, maksudnya tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah,
sekolah, dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di
luarnya2.
Pesantren termasuk lembaga pendidikan Islam yang formal. Pesantren
memiliki metode dan model pembelajaran yang sudah permanen. Pesantren
sekarang tidak seperti pesantren dalam persepsi cliford geertz tiga puluh tahun
lalu, yang dianggap tertutup, esoteris, dan ekslusif. Dewasa ini hampir seluruh

Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002),

180.
2

M. Dian Nafi Abd Ala dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren (Yogyakarta: LKIS
Pelangi Aksara, 2007), 21.

pesantren menyelenggarakan jenis pendidikan formal yaitu madrasah, sekolah


umum, dan perguruan tinggi.
Sistem pendidikan pesantren didasari, digerakkan, dan diarahkan oleh
nilai-niai kehidupan yang bersumber pada ajaran dasar Islam. Ajaran Islam ini
menyatu dengan struktur kontekstual atau realitas sosial yang digumuli dalam
hidup keseharian. Hal inilah yang mendasari konsep pembangunan dan peran
kelembagaaan pesantren3.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya
merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam,
dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama. Pesantren diharapkan
mampu melahirkan alumni yang kelak diharapkan mampu menjadi figur
agamawan yang tangguh dan mampu memainkan dan membiasakan peran
propetiknya pada masyarakat secara umum, artinya akselerasi mobilitas
vertikal dengan perjanjian materi-materi keagamaan menjadi prioritas untuk
tidak mengatakan satu-satunya prioritas dalam pendidikan pesantren4.
Sistem pendidikan pesantren secara sederhana dikemukakan oleh
Manfred mengutip pendapat Kamala Ghasin, bahwa secara umum tujuan
pesantren adalah untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin akhlak dan
keagamaan. Kemudian Madjid menyatakan bahwa tujuan pendidikan
pesantren berada sekitar terbentuknya manusia yang memiliki kesadaran
setinggi-tingginya akan bimbingan agama Islam yang bersifat menyeluruh dan
dilengkapi dengan kemajuan setinggi-tingginya untuk mengadakan respons
3
4

Jamaludin Malik, Pemberdayaan Pesantren (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), 4


Amin Headari, dkk, Masa Depan Pesantren (Jakarta: IRD Press, 2006), 127.

terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup dalam konteks


ruang dan waktu yang ada5.
Pesantren sebagai tempat pendidikan agama memiliki basis sosial yang
jelas, karena keberadaannya menyatu dengan masyarakat pada umumnya,
pesantren hidup dari, oleh, dan untuk masyarakat. Visi ini menuntut adanya
peran dan fungsi pondok pesantren yang sejalan dengan situasi dan kondisi
masyarakat, bangsa, dan negara yang terus berkembang. Sementara itu,
sebagai suatu komunitas pesantren dapat berperan menjadi penggerak bagi
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, mengingat pesantren merupakan
kekuatan sosial yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, akumulasi tata
nilai dan kehidupan spiritual Islam di pondok pesantren pada dasarnya adalah
lembaga tafaqquh fiddin yang mengemban untuk meneruskan risalah Nabi
Muhammad SAW sekaligus melestarikan ajaran Islam6.
Sebagai lembaga, pesantren dimaksudkan untuk mempertahankan
nilai-nilai keIslaman dengan titik berat pada pendidikan. Pesantren juga
berusaha untuk mendidik para santri yang belajar pada pesantren tersebut yang
diharapkan dapat menjadi orang-orang yang mendalam pengetahuan
keIslamannya kemudian, mereka dapat mengajarkannya kepada masyarakat,
di mana para santri kembali setelah selesai menamatkan pelajarannya di
pesantren, sejatinya penyelenggaraan pendidikan di pesantren memiliki nilai
khusus dan lebih,

5
6

dibandingkan pada lembaga-lembaga pendidikan pada

Khozin, Jejak-Jejak Pendidikan Islam Di Indonesia (Malang: UMM, 256).


http://www.pk-syahtera.org/v2/main.php?op=isi dan id : 2948

umumnya. Karena pendidikan di pensantren mempunyai orientasi yang lebih


dalam menanamkan sistem etika kepada para santri.7
Sistem pendidikan pesantren wajib dipelihara dan dipertahankan
keberadaanya karena lembaga ini telah terbukti mampu mencetak para kiai,
ulama, astatidz, dan sejenisnya. Lahirnya peraturan pemerintah No. 55 tahun
2007 merupakan peluang sekaligus tantangan. Peluang karena PP tersebut
telah mengakomodir keberadaan pendidikan pesantren, sedangkan tantangan
yang dihadapi adalah bagaimana pengasuh pesantren dan pengelola
poendididkan secara arif dalam merespon pemberlakuan PP tersebut.
Pembahasan tentang pendidikan pesantren sangat diminati bagi siapa
saja apalagi kalau digabungkan dengan PP No. 55 tahun 2007. Berdasarkam
paparan diatas, peneliti merasa perlu mangkaji dan meneliti tentang
EKSISTENSI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN DALAM PP
NO. 55 TAHUN 2007 TENTANG PENDIDIKAN AGAMA DAN
PENDIDIKAN KEAGAMAAN.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang peneliti diatas dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana eksistensi sistem pendidikan pesantren sebelum PP No. 55
tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan ?

81.

Amin Headari, dkk, Pesantren dan Madrasah Diniyah (Jakarta: Diva Pustaka, 2006),

2. Bagaimana eksistensi sistem pendidikan pesantren menurut PP No. 55


tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan ?
3. Bagaimana implikasi PP No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan
pendidikan keagamaan terhadap perkembangan sistem pendidikan
pesantren ?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam peneliti ini adalah:
1. Untuk menjelaskan eksistensi sistem pendidikan pesantren sebelum PP
No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.
2. Untuk menjelaskan eksistensi sistem pendidikan pesantren menurut PP
No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.
3. Untuk menjelaskan implikasi PP No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan
agama dan pendidikan keagamaan terhadap perkembangan sistem
pendidikan pesantren.

D. Manfaat Kajian
Manfaat yang dapat diambil dari kajian ini adalah :
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran dalam menentukan gambaran tentang eksistensi sistem
pendidikan di pesantren yang sekaligus dapat memperkaya khazanah
pengetahuan dalam bidang pendidikan.

2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis secara
pribadi khususnya lembaga pendidikan secara umum dan bagi masyarakat
luas.

E. Landasan Teori
Pendidikan adalah upaya pengembangan potensi atau sumber daya
insani telah mampu merealisasikan diri (self realitation), menampilkan diri
sebagai pribadi yang utuh (pribadi muslim). Tercapainya self realitation yang
utuh

ini

merupakan

tujuan

umum

pendidikan

Islam

yang

proses

pencapaiannya melalui berbagai lingkungan atau masyarakat secara formal,


non formal, maupun informal.8
Di sini pesantren merupakan lembaga pendidikan yang multifungsi. Ia
menjadi benteng pertahanan sekaligus pusat penyiaran (dakwah) Islam. Tidak
ada data yang pasti tentang awal kehadiran pesantren di nusantara. Baru
setelah abad ke -16 diketahui bahwa terdapat ratusan pesantren yang
mengajarkan kitab kuning dalam berbagai bidang ilmu agama seperti fiqih,
tasawuf, dan akidah.
Dalam perkembangannya, pesantren mencatat kemajuan dengan
dibukanya pesantren putri dan dilaksanakannya sistem pendidikan madrasah
yang mengajarkan pelajaran umum. Eksistensi pesanren menjadi istimewa

Abu Ahmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Aditya
Media, 1992), 63.

karena ia menjadi pendidikan alternatif dari pendidikan yang dikembangkan


oleh kaum kolonial yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Pesantren
menjadi tempat berlabuhnya umat Islam yang tersingkir secara budaya
(pendidikan) akibat perlakuan diskriminatif penjajah9.
Dengan bermodalkan pesantren, para kiai atau ulama telah memainkan
peran sosial kulturanya, sehingga lembaga ini mampu memperlihatkan
eksistensi dan kebesaran pondok pesantren dalam perjalanan sejarahnya.
Bahkan para ahli sosial kebudayaan seperti Geerzt, Hirokoshi, dan Dhofir
mengemukakan bahwa para kiai telah memainkan peran menjadi dalang
budaya (cultural broker) dan sebagai agen perubahan yang aktif selektif.
Mereka juga berpendapat bahwa pesantren dan kiai bukanlah sesuatu yang
stagnant (mandzk), tapi berubah sejalan dengan budaya dari luar yang positif
dan meninggalkan budaya yang negatif.
Pondok pesantren dipandang pula menjadi salah satu lembaga sosial
independen alternatif dalam bidang etos ekonomi dan visi moral yang
dipimpin kiai bagi suatu perubahan. Dengan berkembangnya tuntutan dan
kebutuhan masyarakat, pesantren menyediakan layanan pendidikan Islam bagi
para santrinya mulai dari pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi10.
Pesantren atau pondok adalah lembaga yang dapat dikatakan
merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan dan
selanjutnya ia dapat merupakan bapak dari pendidikan Islam. Dari segi

http://www.pesantren

virtual.com/index.php/seputar-pesantren/1160-masa-depan-

pesantren.
10

http://pesantren kranji.net/situs/index.php?option=com-content dan task=view dan


id=53 dan itemid=1.

historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keIslaman tetapi juga
mengandung makna keaslian Indonesia (indigeneous) sebab lembaga serupa
pesantren sebenarnya sudah ada sejak masa Hindu dan Budha.
Dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia agaknya tidak
dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi local genius. Di kalangan
umat Islam sendiri pesantren telah dianggap sebagai modal institusi
keilmuannya yang oleh Martin Van Brusnessen dinilai sebagai salah satu
tradisi agung (great tradition).
Pesantren

juga

memainkan

hubungan

yang

intraktif

dengan

masyarakat, bahkan pesantren dapat memainkan dirinya sebagai cultural


broker, meninjau istilah Clifford Gertz.11
Ini senada dengan komentar Ziemek, sebagaimana dikutip oleh Depag
RI pesantren sebagai lembaga pergulatan spiritual pendidikan dan sosialisasi
yang kuno dan sangat heterogen menyatakan sejarah pedagogik kehadian dan
tujuan pembangunan sekaligus.

F. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan jenis kajian
Dalam kajian ini digunakan pendekatan filosofis paedagogik
dengan berfikir kritis evaluatif dan kontekstual. Peneliti mencoba
menganalisis eksistensi sistem pendidikan pesantren PP No. 55 tahun 2007
Sedangkan jenis penelitian dalam kajian ini adalah penelitian
kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang objek utamanya
11

Fadjar. Malik, Reorientasi Pendidikan Islam (Jakarta, Dadjar Dunia, 1999), 8.

adalah buku-buku atau sumber kepustakaan lain. Maksudnya, data-data


dicari dan ditemukan melalui kajian pustaka dari buku yang relevan
dengan pembahasan12.
2. Sumber data
Sumber data yang dijadikan bahan-bahan dalam kajian ini
merupakan sumber data yang diperoleh dari bahan-bahan yang
dikategorikan sebagai berikut :
a. Sumber data primer, merupakan bahan utama atau rujukan utama
dalam mengadakan suatu penelitian untuk mengungkapkan dan
menganalisis penelitian tersebut. Adapun data primer yang digunakan
adalah PP No. 55 Tahun 2007 dan eksistensi sistem pendidikan
pesantren.
b. Sumber data sekunder, yaitu buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh
lain yang berkaitan dengan masalah dalam kajian ini, yaitu :
1) Abdul Munirmuhan, Nalar Spiritual Pendidikan. Yogyakarta:
Tiara Wacara, 2002.
2) Dian Nafi, Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta: LKIS
Pelangi Aksara, 2007.
3) Kozin, Jejak-Jejak Pendidikan Islam Di Indonesia. Malang: UMM,
2006.
4) Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Madya,
2004.
12

1994), 23.

Hadari Nawawi, Penelitian Terapan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Pers,

10

5) Toto Suharto, dkk. Rekonstruksi dan Modernisasi Lembaga


Pendidikan Islam. Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2005.
6) Abudin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan LembagaLembaga Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: PT. Grassindo,
2001.
7) Jamaluddin Malik, Pemberdayaan Pesantren. Yogyakarta: Pustaka
Pesantren, 2005.
3. Teknik pengumpulan data
Dalam skripsi ini peneliti menggunakan tehnik pengumpula data
dokumentasi kepustakaan yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen, agenda, dan lain-lain.
Dalam menggunakan metode dokumentasi ini, peneliti memegang
chek-list untuk mencatat variabel yang sudah ditentukan. Apabila terdapat
atau muncul variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan
tanda chek atau talldi tempat yang sesuai untuk mencatat hal-hal yang
bersifat bebas atau belum ditentukan dalam daftar variabel peneliti dapat
mengguakan kalimat bebas.13
4. Analisis data
Dalam menganalisa data, penulis menggunakan analisa kualitatif
berupa content analisis (analisa isi teks) atau deskripsi anaisis yaitu

13

Suharsimi Arikunto, Posedur Penelitian (yogyakarta:Rineka Cipta, 1992), 200.

11

mengumpulkan dan menyusun data-data kemudian menganalisanya


dengan menggunakan pola pikir:
a. Deduktif: cara berpikir yang menggunakan analisis yang berpijak pada
pengertian-pengertian atau fakta-fakta umum kemudian diteliti yang
hasilnya dapat memecahkan masalah-masalah yang khusus.
b. Induktif: cara berpikir dengan berpijak pada pengertian-pengertian atau
fakta-fakta

khusus yang diteliti yang kemudian hsilnya dapat

memecahkan masalah-masalah yang umum. Induktif dgunakan dalam


perumusan pengertian dan kesimpulan.

G. Sistematika Pembahasan
Skripsi ini terdiri atas lima bab yang saling berkaitan erat satu dengan
yang lain, yaitu:
Bab satu adalah pendahuluan. Dalam bab ini diuraikan gambaran
global tentang isi penulisan skripsi ini yang meliputi latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori,
metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab dua sebagai landasan teori yang berisikan tentang sistem
pendidikan pesantren yaitu dunia pesantren, sejarah dan perkembangannya
yang meliputi pengertian pesantren, sejarah dan perkembangan pondok
pesantren, fungsi pondok pesantren, elemen-elemen pondok pesantren,
pengembangan

visi

dan

misi

pendidikan

pesantren,

pengembangan

keterpaduan tujuan dan jenjang pendidikan pondok pesantren, sistem

12

pendidikan pesantren yang meliputi sistem pendidikan dan pengajaran pondok


pesantren, pengelolaan sistem pendidikan pesantren, pertumbuhan system
pendidikan pesantren, kurikulum pesantren.
Bab tiga membahas tentang PP No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan
agama dan pendidikan keagamaan yang meliputi latar belakang PP No. 55
Tahun 2007, sejarah munculnya PP No. 55 Tahun 2007 tentang pendidikan
agama dan pendidikan keagamaan, dan eksistensi sistem pendidikan pesantren
dalam PP No. 55 Tahun 2007.
Bab empat merupakan analisa eksistensi sistem pendidikan pesantren
dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan meliputi eksistensi sistem pendidikan pesantren sebelum PP No.
55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan,
eksistensi sistem pendidikan pesantren menurut PP No. 55 Tahun 2007
tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dan implikasi PP No.
55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan terhadap
perkembangan sistem pendidikan pesantren.
Bab lima adalah penutup yang terdiri dari kesimpuan dan saran dari
penulis.

13

RANCANGAN DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL..i
HALAMAN JUDULii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBINGiii
HALAMAN PENGESAHANiv
HALAMAN MOTTOv
ABSTRAKSvi
HALAMAN PERSEMBAHANvii
KATA PENGANTARviii
DAFTAR ISIix
PEDOMAN TRANSLITERASI x
BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah1
B. Rumusan Masalah4
C. Tujuan Penelitian5
D. Manfaat Kajian5
E. Landasan Teori6
F. Metodologi Penelitian8
G. Sistematika Pembahasan11

BAB II : SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN


A. Dunia Pesantren, Sejarah dan Perkembangannya13

14

1. Pengertian pesantren12
2. Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren15
3. Fungsi Pondok Pesantren18
4. Elemen-elemen Pondok Pesantren19
B. Pengembanagan Visi Dan Misi Pendidikan Pesantren24
C. Pengembangan keterpaduan tujuan dan jenjang pendidikan pondok
pesantren 29
D. Sistem Pendidikan Pesantren34
E. Kurikulum Pesantren 53
BAB III: EKSISTENSI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN DALAM PP
NO.55 TAHUN 2007 TENTENG PENDIDIKAN AGAMA DAN
KEAGAMAAN
A. Latar Belakang Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007
56
B. Sejarah Munculnya PP No. 55 Tahun 2007 58
C. Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan 60
D. Eksisistensi sistem pendidikan pesantren dalam PP no. 55 tahun
2007 67

BAB IV : ANALISA EKSISTENSI SISTEM PENDIDIKAN PESANTRAN


DALAM PP NO. 55 TAHUN 2007 TENTANG PENDIDIKAN
AGAMA DAN KEAGAMAAN

15

A. Analisa Eksistensi Sistem Pendidikan Pesantren Sebelum PP No.


55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama Dan Keagamaan..72
B. Analisisa Eksistensi Sistem Pendidikan Pesantren Menurut PP No.
55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama Dan Keagamaan75
C. Analisa Implikasi PP No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan
Agama

Dan

Keagamaan

Pendidikan Pesantren 82
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan85
B. Saran86
DAFTAR PUSTAKA
BIOGRAFI PENULIS

Terhadap

Perkembangan

System

16

BAB II
SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN

A. Dunia Pesantren, Sejarah dan Perkembangannya


1. Pengertian Pondok Pesantren
Kata "Pondok" dalam bahasa Indonesia mempuanyai arti kamar,
gubuk, rumah kecil dengan menekankan kesederhanaan bangunanannya.
Pondok juga berasal dari bahasa arab "funduq" yang berarti ruang tidur,
wisma, hotel sederhana atau mengandung arti tempat tinggal yang terbuat
dari bambu.14
Secara etimologi (arti bahasa). Kata-kata pesanren berasal dari kata
santri.15 Dengan awalan pe dan an yang berarti tempat tinggal para santri.
Sedangkan asal usul kata santri ada berbagai pendapat sebagai berikut:
profesor Jahus berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil
yang berarti "Guru mengaji", sedangkan C.C. Berg berpendapat bahwa
istilah tersebut berasal dari kata "shastri" yang dalam bahasa India berarti
orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau sarjana ahli kitab
agama Hindu.

14

Kadang-kadang ikatan kata santri manusia baik

Umaruddin Masdar, Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien Rais tentang Demokrasi
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal. 61.
15
Kata santri mempunyai arti luas dan sempit. Dalam arti sempit, santri adalah seorang
murid satu sekolah agama yang disebut pondok atau pesantren. Oleh sebab itulah, perkataan
pesantren diambil dari perkataan santri yang berarti tempat untuk para santri. Dalam arti luas dan
umum, santri adalah bagian-bagian penduduk jiwa yang memeluk Islam secara benar,
bersembahyang, pergi ke masjid dan berbagai aktifitas lainnya.

17

dihubungkan dengan suku kata tra' suka menolong. Sehingga kata


pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Ada yang berpendapat bahwa kata santri adalah pengambilalihan
dari bahasa sansekerta dengan perubahan pengertian, yaitu pengertian
santri yang artinya milik huruf. Menurut beberapa ahli, istilah pesantren
pada mulanya lebih dikenal di pulau jawa karena pengaruh istilah
pendidikan Jawa kuno, yaitu dikenal sistem pendidikan di perguruan
dengan kyai dan santri hidup bersama, yaitu suatu hasil pencangkokan
kebudayan sebelum Islam.16 Di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa
perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata
"cantrik" yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru
kemana guru itu pergi menetap. 17
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dengan seorang
atau beberapa santri belajar pada pemimpin pesantren (kyai), dibantu oleh
beberapa guru (ulama'/ustadz). Di dalamnya terdapata lima elemen dasar
yang tidak terpisahkan, yaitu: pondok, masjid, pengajaran kitab-kitab
kuning, santri dan kyai inilah yang disebut sebagai tradisi pesantren. Gus
Dur menyebutkannya sebagai kulutr pesantren, yaitu kultur sosio-religius
yang merupakan hasil interaksi kehidupan pondok, masjid, santri, ajaran
ulama terdahulu yang tertuang dalam kitab klasik dan kehidupan kyai.18

16

Musthofa Syarif, Administrasi Pesantren (Jakarta: Paryu Barkah, 1982), hal. 5.


Yasmadi, Modern Pesantren (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hal. 62.
18
Bahtiar Effendy, Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik Islam (Jakarta:
Paramadina, 1998), hal. 106.
17

18

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, merupakan


sistem pendidikan nasional asli, yang telah lama hidup dan tumbuh di
tengah-tengah masyarakat Indonesia.19
2. Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren
Sebelum kemerdekaan, pesantren harus berhadapan dengan sistem
pendidikan pesantren modern Belanda dan juga Islam. Khusus untuk
kemunculan sistem pendidikan modern Islam dengan dua bentuk
kelembagaan, yaitu sekolah-sekolah umum model Belanda dengan diberi
muatan pengajaran Islam dan madrasah-madrasah modern yang secara
terbatas mengadopsi substansi dan metodologi pendidikan modern.
Pesantren meresponnya dengan "menolak sambil mengikuti". Akomodasi
ini telah mendukung kontinuitas pesantren sendiri dan juga bermanfaat
bagi santri, seperti sistem penjenjangan, kurikulum yang jelas dan sistem
klasikal.
Dalam kaitan ini, pesantren Manba'ul Ulum di Surakarta
mengambil tempat paling depan tentang bentuk respon pesantren terhadap
ekspansi pendidikan Belanda dan pendidikan Islam. Pesantren tersebut
memasukkan mata pelajaran umum ke dalam pendidikannya. Hal tersebut
diikuti oleh pesantren-pesantren lainnya, seperti pesantren Tebu Ireng,
Pesantren Rejoso, Pesantren Modern Gontor, dan lain-lainnya.20

19

Musthofa Syarif, Administrasi Pesantren, 5.


Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan
Perkembangan (Jakarta: Raja Grafindo Press, 1999), hal. 180.
20

19

Bahkan ada beberapa pesantren yang memperkenalkan latihan


keterampilan dalam sistem pendidikannya. Dalam menghadapi sesuatu
perubahan

dan

tantangan

itu.

Pesantren

tidak

tergesa-gesa

mentransformasikan dirinya menjadi pendidikan modern, tetapi pesantren


menerima pembaharuan itu hanya dalam skala terbatas, sebatas untuk
menjamin pesantren tetap survive.21
Pada masa pasca kemerdekaan, pesantren menhadapi tantangan
lebih berat lagi. Khususnya disebabkan ekspansi sistem pendidikan umum
dan madrasah modern yang medapat dukungan dari pemerintah. Kaum
muslimin pun mendapat banyak pilihan pendidikan dan hal ini berakibat
pada kemerosotan pendidikan pesantren. Tetapi, kesulitan ekonomi di
Indonesia pada tahun 1950 dan awal 1960-an, membuat pesantren yang
amat murah itu kelihatannya menjadi alternatif terbaik bagi banyak
kalangan mulsim miskin di banyak wilayah pedesaan Jawa.22
Namun penting dikemukakan, bahwa pesantren besar mengalami
pertambahan yang signifikan jumlahnya santri tidak saja berasal dari Jawa,
tetapi juga dari luar Jawa. Menurut laporan Depag, pada tahun 1955
terdapat 30.000 pesantren dengan jumlah 1.392.159 santri. Sebagai
perbandingan saja pada tahun 1872 diperkirakan pesantren berjumlah
32.000 dengan sekitar 2 juta santri.23

21

Ibid., hal. 101.


Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan
Perkembangan, 101.
23
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru
(Jakarta: Penerbit Kalimas, 2001), hal. 104.
22

20

Pada saat yang sama, juga terdapat kecenderungan pesantren untuk


melakukan

konsolidasi

kelembagaan,

khususnya

pada

aspek

kepemimpinan dan manajemen. Terjadinya diversifikasi pendidikan yang


diselenggarakannya, yang mencakup madrasah dan sekolah umum,
kepemimpinan tunggal kyai sudah tidak memadai lagi. Banyak pesantren
yang kemudian mengembangkan kelembagaan yayasan (kepemimpinan
kolektif).24 Salah satu contohnya adalah pesantren Maskumambang Gresik
pada tahun 1958 mengalihkan model kepemimpinan dan tunggal menuju
model kepemimpinan kolektif yayasan.25
Pada masa orde baru, pesantren tidak saja berfungsikan
ketradisonalannya, seperti transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam,
pemeliharaan tradisi Islam, reproduksi ulama, tetapi juga sebagai agen
perubahan dan pembangunan masyarakat. Akhirnya, kegiatan-kegiatan
seperti penyuluhan kesehatan, pengembangan tekhnologi tepat guna bagi
masyarakat

pedesaan,

usaha-usaha

penyelamatan

dan

pelestarian

lingkungan hdiup dan pemberdayaan ekonomi masuk mengisi kegiatan


santri di pesantren.26
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa respon pesantren
terhadap modernisasi pendidikan dan perbahan-perubahan sosial ekonomi
sejak awal abad ini mencakup:
Pertama : Pembaruan

substansi

pendidikan

memasukkan subjek-subjek umum


24

Ibid., hal. 104.


Ibid., hal. 104.
26
Ibid., hal. 105.
25

pesantren

dengan

21

Kedua : Pembaruan teknologi, meliputi kepemimpinan pesantren dan


diversifikasi lembaga pendidikan
Ketiga

: Pembaruan metodologi, seperti sistem klasikal dan perjenjang.

Keempat : Pembaharuan fungsi, yaitu dengan menambahkan fungsi sosial


dan ekonomi, di samping fungsi pendidikan.
3. Fungsi Pondok Pesantren
Dimensi fungsional pondok pesantren tidak terlepas dari hakikat
dasarnya bahwa pondok pesantren tumbuh berawal dari masyarakat. Oleh
karena itu, perkembangan masyarakat sekitarnya tentang pemahaman
keagamaan (Islam) lebih jauh mengarah kepada nilai-nilai normatif,
edukatif, progresif. Dengan demikian, fungsi pondok pesantren tidak
terlepas dari segi normatif, edukatif dan progressif.27
a. Sebagai Lembaga Pendidikan
Berawal

dari

bentuk

pengajaran

sederhana,

kemudian

berkembang menjadi lembaga pendidikan secara mengalir yang


ditentukan oleh masyarakat. Selain pengertian memberi pelajar secara
material dan immaterial, secara material, titik tekannya adalah mampu
menghatamkannya sesuai target, tanpa diharapkan pemahaman lebih
lanjut tentang pemahaman nisi. Sedangkan secara immaterial yaitu titik
letaknnya pada suatu upaya perubahan sikap santri, agar menjadi
pribadi yang tangguh dalam kehidupannya.28
b. Sebagai Lembaga Dakwah
27

Muhammad Bahri Ghazali, Pesantren Berwawasan Lingkungan (Jakarta: Prasasti,

2002), 24.
28

Ibid., hal. 36.

22

Di sini, pesantren berusaha menumbuhkan kesadaran beragama


atau melaksanakan ajaran-ajaran agama secara konsekuen sebagai
pemeluk agama Islam.
c. Sebagai Lembaga Sosial
Hal ini menunjukkan keterlibatan pesantren dalam menangani
masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat (baik masalah
duniawi maupun ukhrawi).
Dapat disimpulkan

bahwa dewasa ini terdapat 3 bentuk serta

pendidikan dan pengajaran dalam pesantren, yaitu:


a. Sistem non klasikal (bandongan atau sorogan) dengan santri mukim di
pondok.
b. Sama dengan yang pertama, tetapi santri tidak disediakan pondokan di
komplek pesantren.
c. Pondok pesantren mempunyai santri mukim dan kalong dengan sistem
weton maupun sorogan serta menyelenggarakan pendidikan formal.29
4. Elemen-Elemen Pondok Pesantren
Suatu lembaga akan berubah menjadi pesantren bila memiliki 5
elemen berikut, yaitu: Pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab
kuning, dan kyai.
a. Pondok
Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama
pendidikan Islam tradisional, di mana para siswanya tinggal bersama
29

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan


Perkembangan, 146-147.

23

dan belajar di bawah lingkungan komplek pesantren, di mana kyai


bertempat tinggal. Komplek pesantren ini biasanya dikelilingi tembok
untuk mengawasi keluar masuknya santri sesuai dengan peraturan
yang berlaku.30 Pada awal

perkembangannya, pondok bukanlah

sebagai tempat tinggal/asrama santri, tetapi untuk mengikuti pelajaran


yang dberikan kyai ataupun sebagai tempat latihan santri agar mampu
hidup mandiri dalam masyarakat. Para santri di bawah bimbingan kyai
bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi dalam
perkembangan berikutnya, tampaknay lebih menonjol fungsinya
sebagai tempat pemondokan dengan adanya semacam sewa atau iuran
untuk pemeliharaan pondok.31
b. Masjid
Masjid adalah pusat kegiatan ibadah dan belajar-mengajar.
Biasanya, waktu belajar-mengajar berkaitan dengan waktu shalat
jama'ah, baik sebelum maupun sesudahnya. Dalam perkembangannya,
sesuai dengan pertambahan jumlah santri, dibangunlah ruanganruangan khusus untuk halqah. Perkembangan terakhir menunjukkan
adanya ruangan-ruangan yang berupa kelas-kelas sebagaimana
terdapat di madrasah. Namun demikian, masjid tetap digunakan
sebagai tempat belajar-mengajar. Sebagian pesantren menggunakan

30
31

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1994), hal. 44.


Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam hal. 147.

24

masjid sebagai tempat I'tikaf dan melaksanakan latihan-latihan, atau


suluk dan dzikir.32
Masjid di pesantren merupakan manifestasi universalisme dari
sistem pendidikan Islam yang berpusat pada masjid sejak masjid alquba' pada masa Nabi tetap terpancar dalam sistem pesantren.33 Masjid
menurut Nurcholish Masjid sebagian dikutip oleh Dhofir adalah
sebagai pranata terpenting masyarakat Islam. Pembangunan masjid
adalah modal utama nabi ketika berjuang menciptakan masyarakat
beradab.34
c. Santri
Santri merupakan unsur pokok dari suatu pesantren, biasanya
terdiri dari dua kelompok, yaitu:
1) Santri mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang
jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Santri yang paling
lama tinggal di pesantren biasanya mengurusi kepentingan
pesantren sehari-hari, mereka juga mengajar santri-santri muda
tentang kitab-kitab dasar dan menengah. 35
2) Santri kalong, yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di
sekitar pesantren yang biasanya tidak menetap dalam pesantren.

32

Ibid., hal. 143.


Dhofier Zamakhsyari, Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta:
LP3ES, 1994),hal. 49.
34
Masdar, Membaca Pikiran Gus Dur, hal. 65.
35
Dhofier Zamakhsyari, Pesantren , hal. 51.
33

25

Mereka bolak-balik (nglaju) dari rumahnya untuk mengikuti


pelajarannya di pesantren.36
Yang membedakan antara pesantren besar dan kecil
biasanya terletak pada komposisi santri antara kedua kelompok
santri tersebut. Bermukim di pesantren besar merupakan suatu
keistimewaan bagi seorang santri yang penuh cita-cita.
d. Kyai
Keberadaan kyai dalam lingkungan pesantren laksana jantung
bagi kehidupan manusia. Intensitas kyai memperlihatkan perannya
yang otoriter, disebabkan karena kyailah perintis, pendiri, pengelola,
pengasuh, pemimpin, penanggung jawab, dan bahkan sebagai pemilik
tunggal. Oleh sebab ketokohan di atas, banyak pesantren yang mundur
disebabkan meninggalnya sang kyai. Sementara kyai tidak mempunyai
keturunan atau penerus untuk melanjutkan usahanya. Sebagai conoth
salah satu unsur dominan di pesantren, kyai mengatur irama
perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren dengan
keahlian, kedalaman ilmu, kharisma dan ketrampilannya. Sehingga
tidak jarang sebuah pesantren tidak memiliki manajemen yang rapi.
Kyai berfungsi sebagai sosok model atau teladan yang seluruh
perilakunya dicontoh baik bagi para santrinya, keluarga para santri,
maupun masyarakat sekitarnya.

36

Haidar Putra Daulay, Historisasi dan Eksistensi Pesantren Sekolah dan Madrasah
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), hal. 15.

26

Kewibawaan kyai dan kedalaman ilmunya adalah modal utama


bagi berlangsungnya semua wewenang yang dijalankan. Hal ini
memudahkan berjalannya semua kebijakan pada masa itu. Ia dikenal
sebagai tokoh kunci. Kata-kata dan keputusannya dipegang teguh oleh
mereka, terutama oleh para santri. Meskipun demikian, dia lebih bnayk
menghabiskan waktunya untuk mendidik santrinya daripada hal-hal
lainnya.37
e. Kitab kuning
Penggalian khazanah budaya Islam melalui kitab klasik adalah
salah satu unsur terpenting dari keberadaan sebuah pesantren dan yang
membedakannya dengan lembaga pendidikan lainnya.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tidak
dapat diragukan lagi berperan sebagai pusat transmisi dan desminasi
ilmu-ilmu keIslaman, terutama yang bersifat kajian-kajian klasik.
Kitab kuning sebagai satu unsur mutlak dari proses belajar mengajar
di pesantren sangat penting dalam membentuk kecerdasan intelektual
dan moralitas kesalehan (kualitas kebersamaan) pada diri santri,
sekaligus menyangkut pada kecerdasan spiritual.
Di antara disiplin keilmuan kitab kuning yang diajarkan di
pesantren di antaranya: Nahwu, Shorof, Balaghah, Tauhid, Tiqh, Usuh
Fiqh, Qowaid Fiqhiyyah, Tafsir, Hadits, Mustalah Al-Hadits, Tasawuf
dan Mantiq.38

37
38

Masdar, Membaca Pikiran Gus Dur, hal. 62-64.


Ibid., hal. 67-68.

27

B. Pengembangan Visi dan Misi Pendidikan Pesantren


Istilah visi dan misi belum populer di kalangan pendidikan
pesantren. Apalagi dalam bentuk terdokumentasi bahwa pondok pesantren
telah memiliki visi dan misi pendidikannya. Penentuan visi dan misi tidak
hanya terbatas pada kehidupan dan kenyataan hdiup di dunia, tetapi harus
sampai kepada tatanan kehidupan dunia akhirat, karena itu sumber dan
pendekatannya adalah wahyu ilahi yang bersifat theokratis.
Visi dan misi pendidikan pondok pesantren, akan berpijak pada
filosofi dan nilai dasar yang relevan dan atau ketentuan prinsip-prinsip
historis dan kondisi objektif masyarakat muslim sebagai bangsa Indonesia.
Posisi dan peran pendidikan pondok pesantren merupakan bagian integral
dari sistem pendidikan nasional Indonesia.
Dalam penempatan visi dan misi pendidikan, baik visi dan misi
yang bersifat makro maupun mikri, untuk jangka panjang, menengah dan
jangka pendek, harus jelas penetapannya, serta sesuai dengan operasional
pelaksanaannya dengan baik. Juga pendidikan harus ditempatkan pada
posisi tatanan masyarakat yang serba berubah,. Dan tidak terbatas pada
masyarakat lokal, nasional atau regional, tetapi juga harus menjangkau
tingkat global yakni masyarakat dunia yang telah menunjukkan sifat saling
bergantung antara satu dengan yang lainnya.39
Memperhatikan ayat-ayat al-Qur'an, petunjuk Rasullullah SAW
yang terkandung dalam al-Qur'an dan al-sunnah, visi dan misi pendidikan

39

Ibid., hal. 203.

28

nasional

Indonesia,

dan mengamati problematika

yang dihadapi

pendidikan pondok pesantren, serta keunggulan-keunggulan yang ada pada


pondok pesantren, maka visi dan misi pendidikan pondok pesantren dapat
dirancang sebagai berikut:
a. Visi pendidikan pondok pesantren secara makro adalah terwujudnya
masyarakat baru yang mendapat ridha dan ampunan serta berkah dari
Allah, dengan tatanan kehidupan yang sesuai dengan amanat
proklamasi Republik Indonesia melalui proses pendidikan yang
berintikan keimanan dan ketakwaan masyarakat baru tersebut memiliki
sikap, wawasan dan akhlak tinggi, demokrasi dan menjunjung hak
asasi manusia dan berwawasan global Islami.
b. Sedangkan visi pendidikan pondok pesantren secara mikro ialah
terwujudnya manusia indonesia selaku hamba Allah yang memiliki
tanggung jawab tinggi sebagai wakil Allah (khalifah) di muka bumi,
untuk memiliki sikap, wawasan dan mengamalkan keimanan dan
berakhlak karimah, tumbuh kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan
menjunjung hak asasi manusia, berwawasan global yang berdasarkan
ketentuan serta tidak bertentangan dengan nilai dan norma Islam.
Kemudian, untuk mencapai sasaran visi makro dan visi mikro
pendidikan pondok pesantren dapat dijabarkan misi pendidikan pondok
pesantren yang menjangaku rentang waktu jangka panjang, menengah, dan
jangka pendek, sebagai berikut:

29

a. Misi makro pendidikan pondok pesantren jangka panjang, adalah


menuju

masyarakat

madani.

Dalam

bidang

pendidikan,

penyelenggaraan organisasi pelaksana pendidikan yang otonom, luwes,


adaptif dan fleksibel. Proses pendidikan yang dijalankan bersifat
terbuka dan berorientasi kepada keperlukan dan kepentingan bangsa.
Pendidikan tidak menyelenggarakan kehidupan masyarakat yang
berwawasan global, memiliki komitmen nasional dan bertindak secara
lokal, menyelenggarakan lembaga pendidikan agar menjadi pusat
peradaban umat muslim.
b. Misi makro pendidikan pondok pesantren jangka menengah adalah
pemberdayaan

organisasi

maupun

proses

pendidikan

pondok

pesantren, organisasi pelaksana pendidikan dengan cakupan luas dan


otonom. Pelaksanaan pendidikan pondok pesantren telah dilaksanakan
melalui jenjang kewenangan yang telah terbagi dengan partisipasi
masyarakat yang besar.
c. Misi makro pendidikan pondok pesantren berjangka pendek adalah
untuk mengatasi krisis nasional, terutama dalam mengatasi krisis moral
dan akhlak. Pendidikan pondok pesantren dilaksanakan secara efektif
dan efisien. Proses pendidikan diusahakan tetap terselenggara secara
optimal, dan terbuka, pendidikan pondok pesantren harus menanamkan
wawasan keunggulan untuk menghadapi tantangan global.
d. Misi mikro pendidikan pondok pesantren jangka panjang ialah
pendidikan menghasilkan individu yang mandiri, beriman, dan

30

bertakwa. Kurikulum pondok pesantren dilaksanakan secara terbuka


sehingga dapat memenuhi kebutuhan nyata, pendidikan menghasilkan
manusia berwawasan keteladan berkomitmen dan berdisiplin tinggi.
e. Misi mikro jangka menengah, pemberdayaan individu peserta didik
(santri) maupun institusi menyusun dan melaksanakan kurikulum
pendidikan pondok pesantren yang bersifat terbuka untuk memenuhi
kebutuhan maya maupun nyata dalam berbagai situasi.
f. Misi mikro jangka pendek adalah menghasilkan manusia indonesia
yang mampu mengantisipasi krisis.
Visi dan misi pondok di atas, mengacu kepada visi dan misi
pendidikan nasional Indonesia yang direncanakan untuk dilaksanakan
segera, selama relevan dan tidak terjadi kontrakdiktif dengan nilai-nilai
Islam dan masyarakat Indonesia. Pendidikan pondok dapat memahami
untuk mengikuti, demi masa depan umat Islam sendiri agar memiliki
martabat di negaranya sendiri, yaitu negara Republik Indonesia. Inilah
salah satu alternatif pemikiran terhadap pengembangan pondok pesantren
sebagai sistem pendidikan.40
Di era yang serba modern ini, perkembangan masyaraat semakin
dinamis sehingga menuntut pemahaman keIslaman yang orisinal sekaligus
aktual. Dalam hal ini, sektor pendidikan Islam menjadi alternatif paling
efektif untuk menanggapi arus kemajuan tersebut yang kian tak
terbendung. Pada awal abad ke 20, Islam di Indonesia telah menjadi agama

40

Ibid., hal. 204-209.

31

rakyat maupun agama resmi para penguasa. Dari segi fisik kiranya aman
untuk menyebut tumbuh kembangnya lembaga pendidikan Islam di tanah
air hingga sekarang telah sangat memadai. Terbukti dengan jumlah
madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, pondok pesantren, perguruan
tinggi Islam, ma'had ali di seantero pelosok tanah air menunjukkan
peningkatan grafik.41
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang
indiginous di tanah air sangat berjasa dalam melahirkan (embrio) generasi
handal di setiap kurun. Sehubungan dengan besarnya arti pesantren dalam
perjalanan bangsa Indonesia, adalah tidak berlebihan jika menyebut
pesantren sebagai bagian historis bangsa Indonesia harus dipertahankan.
Pesantren telah mengakar kuat dari masa pra-Islam, yiatu lembaga
pendidikan bentuk asrama agama Budha yang disebut mandala atau
asrama yang selanjutnya di adaptasi menjadi lembaga pendidikan Islam.
Ungkapan senada diutarakan oleh menteri pendidkan nasional saat itu,
Ki Hajar Dewantara bahwa pondok pesantren merupakan dasar dan
sumber pendidikan nasional karena sesuai dengan semangat dan
kepribadian bangsa Indonesia. Sehingga harus dikembangkan serta diberi
bimbingan dan bantuan.42
Pengembangan pesantren tidak cukup hanya dengan memasukkan
mata pelajaran umum ke dalam kurikulum pesantren. Terlebih sekarang ini
sudah banyak pondok pesantren yang membuka sekolah umum. Pada taraf
41

Amin Haedari, Transformasi Pesantren, Pengembangan Aspek Pendidikan Keagamaan


dan Sosial, hal. 123.
42
Ibid., hal. 124.

32

tertentu, hal ini boleh jadi merupakan perkembangan yang patut


dibanggakan. Karena dengan begitu pesantren tidak tertinggal terlalu jauh
dengan sekolah-sekolah umum dalam hal mata pelajaran umum. Malah
posisi pesantren harusnya punya nilai lebih disbanding sekolah umum.
Para santri yang sekaligus siswa di madrasah (sekolah) di lingkungan
pesantren berpeluang lebih banyak untuk mempelajari pelajaran umum
dan pelajaran agama sekaligus. Dalam situasi di mana pesantren dari sisi
konstitusi sudah menjadi bagian dari sisdiknas, dan pada sisi kurikulum
struktur mata pelajaran di pesantren sudah bercampur dengan, maka visi
yang perlu dikembangkan adalah, menjadikan pesantren sebagai sebuah
sistem yang tetap mampu melahirkan lulusan yang menguasai ilmu-ilmu
keislaman secara mendalam sekaligus siap pakai dalalm dunia kerja.43
C. Pengembangan Keterpaduan Tujuan dan Jenjang Pendidikan Pondok
Pesantren
i.

Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren


Memahami tujuan pendidikan pondok pesantren haruslah
terlebih dahulu memahami tujaun hidup manusia menurut Islam.
Artinya, tujuan pendidikan pondok pesantren harus sejalan dengan
tujuan hidup manusia menurut konsep ajaran Islam. Sebab, pendidikan
hanyalah cara yang ditempuh agar tujuan hdiup itu dapat dicapai.44

43

Amin Haedari, Transformasi Pesantren, Pengembangan Aspek Pendidikan Keagamaan


dan Sosial. (Jakarta:LeKDIS dan Media Nusantara.2006), hal.41-43
44
Tafsir, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, 209.

33

Perumusan tujuan pendidikan pondok pesantren yang identik


dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri dalam merumuskannya
harus memiliki keterpaduan yaitu berorientasi kepada hakikat
pendidkan yang meliputi beberapa aspek, di antaranya:
1) Tujaun hidup manusia, memiliki misi hidup di dunia dan akhirat,
manusia hdiup bukan karena kebutuhan dan sia-sia, ia diciiptakan
dengan membawa tujuan dan tugas tertentu.
2) Memperhatikan sifat-sifat dasar (nature) manusia seperti beragama
Islam (fitrah) dan kebutuhan individu dan keluarga sebatas
kemapuan dan kapasitas ukuran yang ada.
3) Mempertimbangkan tuntutan sosial, masyarakat, baik berupa
pelestarian nilai budaya, maupun pemenuhan kebutuhan hdiupnya
dalam mengantisipasi perkembangan dan tuntutan perubahan
zaman. 45
Secara teoritis akademis, tujuan pendidikan pondok pesantren
dan proses pendidikanya, harus memadukan secara komprehensif,
mencakup semua aspek nilai dasar, kecerdasan kedewasaan/
kematangan dengan aspek kepribadian yang bulat dan utuh mengacu
kepada tuntutan tujuan hidup manusia muslim, dan memperhatikan
tujuan makro serta mikro pendidikan nasional Indonesia. Dengan
demikian, pendidkan pondok pesantren akan memadukan produk santri

45

106.

Djamaluddin, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Bndung: Pustaka Setia, 1998), hal.

34

untuk memiliki lulusan yang memiliki tiga tipe lulusan sebagaimana


yang dikemukakan MM. Billah, yaitu:
1) Religious skill full people, yaitu insan muslim yang akan menjadi
tenaga-tenaga terampil ikhlas, cerdas, mandiri, dll yang akan
mengisi kebutuhan tenaga kerja di dalam berbagai sektor
pembangunan.
2) Religious community leader, yaitu insan Indonesia yang ikhlas,
cerdas dan madniri dan akan menjadi penggerak yang dinamis di
dalam transformasi sosial bduaya (madani) dan seklaigus menjadi
benteng terhadap ekses negatif pembangunan dan mampu
membawakan aspirasi masyarakat dan melakuan pengendalian
sosial.
3) Religious intelektual, yang mempunyai integritas kukuh serta
cakap melakukan analisa ilmiah dan concern terhadap masalahmasalah sosial. Dalam dimensi sosialnya, pondok pesantren dapat
menempatkan posisinay sebagai lembaga kegiatan pembelajaran
masyarakat yang berfungsi menyampaikan teknologi baru yang
cocok buat masyarakat sekitar dan memberikan pelayanan sosial
dan keagamaan.
ii.

Jenjang Pendidikan Pondok Pesantren


Di dalam pendidikan pondok pesantren terdapat sistem
pendidikan formal seperti sistem madrasah/sekolah, mulai dari tingkat
pendidikan dasar, menengah sampai tingkat pendidikan tinggi. Begitu

35

pula sistem pendidiakn kepesantrenan terdapat tingkat pemula (dasar),


menengah, dan takhassus berserta pendidikan ketrampilan yang
bervariasi

sesuai

dengan

kondisi

pondok

pesantren

yang

bersangkutan.46
Tujuan pendidikan secara umum tersebut di atas, harus
dijadikan acuan kepada setiap tahapan atau jenjang pendidikan yang
ada, seperti:
1) Tujuan untuk jenjang pendidikan pondok pesantren tingkat dasar
termasuk

untuk

madrasah

ibtidaiyah/sekolah

dasar

tsanawiyah/SLTIP atau diniyah akan meliputi:


a) Timbulnya keimanan dan ketakwaan dengan mula belajar alQur'an dan praktik-praktik ibadah secara verbalistik dalam
rangka pembiasaan.
b) Timbulnya sikap beretika (sopan santun dan beradab) dengan
melalui keteladanan dan penanaman motivasi.
c) Tumbuh penalaran (mau belajar, ingin tahu, senang membaca,
memiliki inovasi, dll).
d) Tumbuh kemampuan komunikasi atau sosial
e) Tumbuh kesadaran untuk menjaga kesehatan
2) Tujuan untuk jenjang pendidikan tingkat menengah termasuk
madrasah 'Aliyah atau SLTA akan meliputi:

46

Tafsir, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, 214-215.

36

a) Memiliki keimanan dan ketakwaan dan memiliki kemampuan


baca tulis al-Qur'an dan praktik-praktik ibadah yang dengan
kesadaran dan keikhlasan sendiri.
b) Memiliti etika
c) Memilik penalaran yang baik
d) Memiliki kemampuan komunikasi atau sosial
e) Dapat mengurusi dirinya sendiri dengan baik, dan khusus untuk
pendidikan bertanggung jawab terhadap karyanya, kreatif,
banyak inisiatif di bidang keterampilan yang digelutinya.
3) Tujuan untuk jenjang pendidikan tingkat tinggi, dalam penguasaan
dan pengetahuan dan kehidupan praktek ibadahnya bukan hanya
untuk diri sendiri, tetapi telah memiliki kemampuan untuk
menyebarkan kepada masyarakat, sudah dapat dijadikan teladan
bagi orang lain dan masyarakatnya. Pengetahuan dan amaliyah
akan meliputi:
a) Beriman dan bertakwa kepada Allah, dalam segala betuk sikap
dan perbuatannya.
b) Memiliki sopan santun dan beradab
c) Memiliki penalaran yang baik, terutama dalam bidang
keahliannya.
d) Berkemampuan komunikasi atau sosial
e) Memiliki kemampuan berkompetisi secara sehat dan terbuka.

37

f) Dapat mengurusi dirinya sendiri dengan baik.47


Jadi, bagaimanapun pendidikan pondok pesantren tidak lagi
mempertentangkan jenis, bentuk, jenjang dan tujuannya, tetapi
memadukannya dengan harmonis seimbang sehingga merupakan
pendidikan berkelanjutan dan saling mengisi, merupakan suatu sintesa
konvergensi atau berintegritas.
D. Sistem Pendidikan Pesantren
Kata sistem berasal dairi bahasa yunani yaitu systema yang berarti cara,
strategi. Dalam bahasa inggris system berarti sistem, susunan, jaringan, cara.
Sistem juga diartikan sebagai suatu strategi, cara berfikir atau modal berfikir.
Jadi dapat didenifisikan sistem adalah seperangkat komponen atau unsurunsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya mobil
adlah suatu sistem yang meliputi komponen-komponen seperti roda, rem,
kemudi, mesin dan sebagainya.48
Pengertian sistem bisa diberikan terhadap suatu perangkat atau
mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian di mana satu sama lain saling
berhubungan dan memperkuat. Dengan demikian, sistem adalah suatu sarana
yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Bila digunakan dalam istilah sistem
pendidikan pesantren adalah sarana yang berupa perankat organosasi yang

47
48

Ibid., 216.
Rama Yuris, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2006, 19)

38

diciptakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam pondok


pesantren.49
Sedangkan unsur-unsur yang saling terkait dalam sistem pendidikan
terdiri atas komponen-komponen di antaranya tujuan, anak didik, pendidik,
lingkuga dan alat pendidikan. Di dalam pendidikan pondok pesantren terdapat
sistem pendidikan formal seperti, sistem madrasah atau sekolah., mulai dari
tingkat pendidikan dasar, menengah dan tingkat pendidikan tinggi, begitu pula
sistem pendidikan kepesantrenan terdapat tingkat pemula (dasar), menengah
dan tahasus beserta pendidikan ketrampilan yang bervariasi.50
Sistem adalah suatu sarana yang diperlukan untuk mencpai tujuan.
Pengertian lainnya yang lebih umum dipahami di kalangan awam adalah
bahwa sistem itu merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu yang
dalam penggunaannya tergantung pada berbagai faktor yang erat hubungannya
dengan usaha pecapaian tujuan tersebut bila digunakan dalam lingkunan
pesantren, maka yang dimaksud dengan sistem pendididkan adlah sarana
berupa perangkat organisasi yang diciptakan untu mencapai tujuan pedidikan
yang berlangsung dalam pondok pesantren.51
Pedidikan adalah proses pembentukan diri dan penentuan diri secara etis,
kreatif, sistematis dan intensional sesuai dengan hati nurani dibantu dengan

49

M. Arifin, Kapita selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Cet 2, (Jakarta: Bumi Aksara,
1993), 257
50
Ahmad Tafsir dkk, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, 214.
51
Jamaludin dan Abdullah Ali, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Bandung: Putaka Setia,
1998), 144

39

metode dan tehnik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pedidikan


tertentu.52
Pondok pesantren adalah termasuk pendidikan khas Indonesia yang
tumbuh di tengah-tegah masyarakat serta telah teruji kemandiriannya sejak
berdirinya sampai sekarang. Pada awal berdiriny, bentuk pondok pesantren
masih sangat sederhana kegiatannya madih diselenggarakan di dalam masjid
dengan beberapa orang santri yang kemudian dibangun pondok-pondok
sebagai tempat tinggalnya. Pondok pesantren paling tidak mempunyai tiga
peran utama, yaitu sebagai lembaga pendidikan islam, lembaga dakwah dan
sebagai lembaga pengembangan masyarakat.53
1. Sistem Pendidikan dan Pengajaran Pondok Pesantren
Sejarah perkembangan pesantren pertama kali memiliki pengajaran
yang bersifat non-klasikal, yaitu menggunakan metode pengajaran
sorogan, bandongan, dan wetonan.
i.

Sistem pendidikan dan pengajaran yang bersifat tradisional


Pemahaman sistem yang bersifat tradisional adalah lawan dari
sistem yang modern. Sistem tradisional adalah berangkat dari pola
pengajaran sorogan, bandongan, dan wetonan dalam mengkaji kitabkitab agama yang ditulis oleh para ulama' abad pertengahan dan kitab-

52

Haidar Putra Daulay, Pedidika Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia
(Jakarta: Prenada Media, 2004), 133
53
Badri dan Munawaroh, Pergesera Literatur Pesantren Salafiyah (Jakarta: Puslitbang
Lektur Keagamaan, 2007), 3

40

kitab agama yang ditulis oleh para ulama' zaman abad pertengahan dan
kitab-kitab itu dikenal dengan istilah "kitab kuning".54
1) Sorogan
Adalah cara mengajar per kepala (santri) dari kyai atau
badalnya (biasanya santri-santri senior).55 Dipesantren besar,
sorogan dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang
biasanya terdiri dari keluarga kyai atau santri-santri yang
diharapkan kemudian hari menjadi orang alim.56
2) Wetonan
Sistem pengajaran dan pola sorogan dilaksanakan dengan
jalan kyai mengajarkan kitab tertentu kepada sekelompok santri, di
mana baik kyai maupun santri sama-sama memegang kitab. Kyai
membacakan dan menerangkan isi kitab, lalu santri mendengarkan
dengan seksama. Pada tingkat weton lebih tinggi, santri terlebih
dahulu harus mempelajarinya. Sehingga dengan demikian, santri
tinggal mencocokkan pemahamannya dengan kyai. Di sini tidak
ada ujian, namun dengan pengajaran secara halaqah ini dapat
diketahui kemampuan santri.57
3) Bandongan
Sistem pengajaran yang serangkaian dengan sistem sorogan
dan wetonan adalah bandongan yang dilakukan saling kait54

Muhammad Bahri Ghazali, Pesantren Berwawasan Lingkungan, hal. 29.


Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, hal. 145.
56
Timur Djaelani, Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Perguruan Tinggi
Agama (Jakarta: Dermaga, 1982), hal. 54.
57
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, hal. 145.
55

41

mengkait dengan yang sebelumnya. Dengan sistem bandongan,


seseorang tidak harus menunjukkan bahwa ia mengerti pelajaran
yang sedang dihadapi. Para kyai biasanya membaca dan
menterjemahkan kata-kata yang mudah. 58
ii.

Sistem pendidikan yang bersifat modern


Perkembangan selanjutnya di samping mempertahankan sistem

ketradisionalannya, pesantren juga melakukan suatu inovasi dalam


pengembangan dan pengelolaan suatu sistem. Ada dua sistem yang
ditetapkan:
2) Sistem klasikal
Pola penerapan sistem ini adalah dengan pendirian sekolahsekolah baik kelompok yang mengelola pengajaran agama maupun
ilmu umum, kedua disiplin ilmu itu di dalam sistem persekolahan
diajarkan berdasarkan kurikulum Depag dan Depdikbud.
3) Sistem kursus-kursus
Pola ini ditekankan pada pengembangan keterampilan
berbahasa Inggris. Di samping itu, diadakan pula keterampilan
tangan yang menjurus pada terbinanya kemampuan psikomotorik
seperti kursus menjahit, mengetik, komputer, dan sablon.59
Sebagai

prinsip

yang

seyogyanya

dipertimbangkan

dalam

pengembangan pondok pesantren tersebut di antaranya:60

58

Mahmud, Model Pembelajaran di Pesantren (Solo: Mitra Fajar Indonesia, 2006), 53.
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, hal. 146.
60
Choirul Fuad Yusuf, Edukasi Jurnal Penelitian Agama dan Keagamaan, 3
59

42

a. Pendekatan keagamaan (al-Islam) dan konstitusi, perlu melandasi


usaha

pengembangan

pondok

pesantren.

Oleh

karena

fokus

pengembangan adalah lembaga pendidikan Islam, maka ajaran dan


nilai-nilai agama Islam harus dijadikan acuan dalam penyelenggaraan
pengembangan. Pengembangan yang dilakukan harus dilandasi oleh
keyakinan dan semangat yang tinggi untuk menuju kondisi dan sistem
yang lebih baik, dan akan lebih banyak manfaatnya dari kondisikondisi sebelumnya, pendidikan termasuk pesantren mengalami dan
tidak bisa menghindari dari perubahan. Artinya, fenomena perubahan
dan melakukan perubahan itu tidak bertentangan dengan nilai dan
ajaran Islam, selama perubahan dan pengembangan tersebut tidak
paradoks dengan ajaran Islam. Bahkan ajaran Islam mewajibkan
melakukan perubahan atau pengembangan untuk mencapai yang lebih
baik dan bermanfaat. Jika pengertian belajar itu adalah perubahan dan
pengembangan, maka belajar adalah wajib seperti disabdakan
Rasullullah SAW: "Mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi muslim
laki-laki dan muslim perempuan (al-hadits)". 61
Di samping itu, terhadap ungkapan yang telah mentradisi di
kalangan pondok pesantren, seperti: "Melestarikan nilai-nilai lama
yang positif dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih positif".
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah
lama dan berakar di Indonesia, telah memiliki daya tahan dan daya
61

Tafsir dkk, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Media Transformasi


Pengetahuan, 2004), hal. 196.

43

yang

tangguh

sehinga

memiliki

keunggulan-keunggulan.

Jika

pendekatan keagamaan dan konstitusi dalam pengembangan pondok


pesantren dijadikan pedoman, maka akan melahirkan keyakinan dan
kesadaran yang ikhlas sehingga akan melahirkan sikap dan tindakan
keberanian intelektual dan keberanian moral untuk melakukan
pengembangan.
b. Pendekatan kultural perlu melandasi usaha pengembangan pondok
pesantren sebagai sistem pendidikan terpadu. Melalui pendekatan
budaya (kultural) akan memungkinkan terjadinya pemberdayaan untuk
mendukung proses nilai tambah. Di antara esensi pendidikan adalah
belajar, berfikir, dan berubah dengan pendekatan pembelajaran dan
berasaskan learning individual, learning society dalam rangka
continuing

education

dan

life

long

education.

Sedangkan

demokratisasi pendidikan diperlukan, karena demokratisasi pendidikan


berguna untuk mengembangkan optimalisasi segenap potensi sesuai
dengan fitrah insani.
c. Pengembangan pondok pesantren, harus berlandaskan kepada prinsip
menatap, mengantisipasi, dan memaknai masa depan (futuristik).
Artinya pondok pesantren dikembangkan sebagai sistem pendidikan
terpadu

dengan

memadukan

aktivitas

pendidikannya

untuk

menyiapkan SDM yang akan hidup pada masyarakat masa depan yang
memiliki karakteristik berbeda dengan masyarakat kekinian. Dasar
pemikiran bahwa pengembangan sistem pendidikan terhadu dilakukan

44

pondok pesantren bertitik tolak dari ungkapan yang telah dihayati dan
dipahami oleh kalangan ulama yang disampaikan Ali bin Abi Thalib
yang artianya sebagai berikut "Didiklah anak-anakmu dengan
pendidikan yang berbeda dengan yang diajarkan padamu, karena
mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zaman kamu
sekalian".
d. Pendayagunaan, pemberdayaan potensi, kemampuan dan kekuatan
yang ada serta pemanfaatan momentum (kesempatan) situasi yang
sedang berkembang, sehingga terjadi suatu "functional relationship".
Antara sistem pendidikan pondok pesantren dan lingkungan keluarga,
kebutuhan masyarakat maupun bangsa tingkat nasional sampai
regional dan global. Pendidikan adalah esensial bahkan salah satu
elemen terpenting dari kehidupan seseorang. Harus diakui bahwa
tingkat pendidikan dapat menjadi ukuran tingkat kemampuan berfikir
dan bertindak seseorang. Hal ini menandai bahwa pendidikan dalam
konteks ini tidak harus diperoleh dari sistem pendidikan formal yang
biasanya diselenggarakan oleh suatu lembaga resmi (pemerintah).
Melainkan bisa diperoleh dari lembaga-lembaga non formal bahkan
dari keluarga atau secara otodidak.62
Pengembangan pondok pesantren sebagai sistem pendidikan
berpijak kepada pemanfaatan kondisi dan situasi (momentum) zaman
pasca modern atau post modern.
62

Fadjar, A. Malik, Sintesa Antara Perguruan Tinggi dan Pesantren Upaya


Menghadirkan Wacana Pendidikan Alternatif Dalam Bilik-Bilik Pesantren, hal. 116.

45

e. Prinsip reformaasi pendidikan nasional, mulai masalah konseptual,


sistem, visi dan misi, kebijakan maupun ke tingkat operasional
instruksionalnya. Karena di dalam pondok pesantren terdapat sistem
sekolah atau madrasah, maka pasti dan menjadikan keharusan untuk
melakukan reformasi pada sekolah dan madrasah yang berada dalam
lingkup pesantren.
f. Prinsip keseimbangan dan penetapan prioritas yang ketat tapi tidak
kaku, sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ingin
dikembangkan. Keseimbangan yang harus diperhatikan adalah
perubahan dan pengembangan berkesinambungan dengan kebutuhan
dan permasalahan pondok pesantren dan tuntutan masyarakat serta
perkembangan baik yang diharapi daerah, bangsa, dan negara.
g. Prinsip istiqomah, dalam pemeliharaan tradisi, keaslian, nilai, dan
identitas, sistem pondok pesantren perlu mendapat perhatian seksama
dari semua komponen. Pengembangan akan mudah dan cepat
mencapai sasaran dan target, apabila istiqomah dipertahankan dengan
baik.63

2. Pengelolaan Sistem Pendidikan Pesantren


a. Pengelolaan Lembaga Pesantren
Sudah menjadi common sense bahwa pesantren berstatus
kepemilikan kyai, di mana kyai merupakan figur sentral, otoritatif dan

63

Tafsir, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, 201-202.

46

pusat seluruh kebijakan maupun perubahan, seorang kyai dengan para


pembantunya yang biasa disebut khadam,64 merupakan hirarki
kekuasaan satu-satunya yang secara eksplisit diakui di lingkungan
pesantren. Hirarki kekuasaan tersebut lebih ditegaskan di atas
kewibawaan moral sang kyai sebagai penyelamat para santrinya dari
melangkah ke arah kesesatan. Karenanya kekuasaan ini memiliki
perwatakan absolut.
Secara umum pesantren memiliki ciri khas, namun tidak sedikit
pesantren sekarang ini yang telah mengadakan perubahan dan
pembenahan pada aspek kelembagaan baik pada tataran manajemen
organisasi, administrasi, sarana dan prasarana pendidikan. Pengelolaan
keuangan dan ketenaga pendidikan, hal ini ditandai dengan perubahan
gaya kepemimpinan pesantren.
Para kyai mulai menyadari betul akan kekurangan pesantren
dan mencoba untuk memperbaiki segala aspek yang ada di dalamnya
secara terus menerus. Dalam hal ini, ada enam usulan untuk perbaikan
pondok pesantren:
Pertama, agar pondok pesantren berbadan hukum. Hal ini
dimaksudkan untuk menjaga kelestarian pondok pesantren untuk badan
hukum itu sendiri berupa yayasan atau cukup dinotariskan. Kedua,
dalam pondok pesantren diharapkan ada badan pembina, ini berada di

64
Khadam, bahkan juga dapat berupa santri tertentu membantu kyai dalam pekerjaan
sehari-hari. Mereka tidak dibayar tetapi kebutuhan mereka selama pendidikan di pesantren
dicukupi oleh kyai dan juga tidak jarang, dari mereka itu yang tidak ingin mendapat imbalan
apapun, karena hanya ingin ngalap (mendapat) berkah dari kyainya.

47

bawah badan pengawas pondok pesantren. Ketiga, pondok-pondok


pesantren diharapkan memiliki madrasah-madrasah, baik ibtidaiyah,
tsanawiyah maupun aliyah, bahkan sangat diharapkan pula pondok
pesantren mampu mendirikan perguruan tinggi sendiri, tetapi menurut
K.H. Mahrus Ali, sekolah-sekolah pesantren tersebut jangan di
negrikan. Keempat, pelajaran kitab-kitab kuning dengan cara sorogan
harus benar-benar dilakukan dengan baik. Kelima, keterampilan para
santri perlu ditingkatkan. Keenam, untuk masa sekarang pada tiap-tiap
pesantren diperlukan adanya koperasi.65
b. Pengelolaan Sistem Pendidikannya
Meski pada awalnya pesantren merupakan kepemilikan
individual kyai/pendiri pesantren, namun seiring dengan tuntutan
differensiasi peran dalam pengelolaan pendidikan pesantren harus
akomodatif terhadap tuntutan luar. Karena pesantren tidak sekedar
berfungsi sebagai sarana transmisi nilai-nilai keIslaman namun juga
transmisi pengetahuan yang beragam, dalam sistem pendidikan
pesantren yang menganut kerangka modifikasi dan improvisasi.
Penyelenggara pendidikan di pesantren adalah menjadi tanggung
jawab badan pengurus harian yang berfungsi sebagia lembaga payung
dan bekerja untuk mengelola sekaligus menangani kegiatan belajar
mengajar di pesantren.

65

Amin Haedari, Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah (Jakarta:
Diva Pustaka, 2006), hal. 9.

48

Sejauh berhubungan dengan pengelolaan pendidikan pesantren


kyai atua pendiri pesantren mempunyai hak penuh secara otoritatif dan
bertanggung jawab atas perkembangan pesantren. Sementara dalam hal
sistem pendidikan pesantren, pesantren memiliki hak konsultatif
dengan pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama atau
Departemen Pendidikan Nasional, penjabarannya sebagai berikut:
1) Pesantren tipe pertama atau menyelenggarakan pendidikan formal
dengan sendirinya menjadi bagian integral dari sistem pendidikan
nasional. Oleh karenanya, dalam hal kurikulum, akreditasi,
supervisi dan ujian mereka di bawah bimbingan Departemen
Agama.
2) Pesantren tipe kedua dan ketiga yang menyelenggarakan kurikulum
lokal dengan adanya tambahan di beberapa kurikulum umum
menjadi bagian integral dalam program wajib belajar 9 tahun yang
diselenggarakan Departemen Agama.
3) Pesantren tipe keempat yang masih mempertahankan sistem
pendidikan wetonan dan sorogan masuk dalam kategori pendidikan
luar sekolah. Tipe ini bisa didorong untuk mengembangkan diri,
atau tetap mempertahankan diri dalam bentuk yang ada. Tetapi
para santrinya diharuskan masuk dalam pendidikan formal agar
mereka dapat memenuhi wajib belajar. Jadi, pesantren tipe ini
bukan lagi sebagai lembaga pendidikan utama dalam pendidikan

49

dasar

dan

menengah

tetapi

sebagai

lembaga

pendidikan

pendukung.66
Perkembangan zaman dengan segala tuntutan-tuntutan praktis
yang ada di dalamnya telah menyebabkan kesadaran di dunia pesantren
untuk mengembangkan eksistensinya dalam wujud pesantren. Oleh
karena itu, sangatlah penting bagi peantren yang sudah mengalami
penyadaran sosial dalam sistem pendidikannya menuju ke arah
modernisasi, untuk tetap mempertahankan keberadaan madrasahmadrasah sebagai lembaga pendidikan pendukung yang menjadi
alternatif.

3. Pertumbuhan Sistem Pendidikan Pesantren


Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang multifungsi. Ia
menjadi benteng pertahanan sekaligus pusat penyiaran (dakwah) Islam.
Pada awalnya pesantren merupakan tuntutan dari masyarakat, sehingga
tidak ada data yang pasti tentang awal kehadiran pesantren di Nusantara..
Baru setelah abad ke-16 diketahui bahwa terdapat ratusan pesantren yang
mengajarkan kitab kuning dalam berbagai bidang ilmu agama seperti fiqh,
tasawuf, dan akidah.
Dalam perkembangannya, pesantren mencatat kemajuan dengan
dibukanya pesantren putri dan dilaksanakannya sistem pendidikan
madrasah yang mengajarkan pelajaran umum seperti Sejarah, Matematika,
dan Ilmu Bumi. Eksistensi pesantren menjadi istimewa karena ia menjadi
66

Ibid., hal. 13.

50

pendidikan alternatif (penyeimbang) dari pendidikan yang dikembangkan


oleh kaum kolonial (Barat) yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir
orang. Pesantren menjadi tempat berlabuh umat Islam yang tersingkir
secara budaya (pendidikan) akibat perlakuan diskriminatif penjajah.
Kini, perkembangan pesantren dengan sistem pendidikannya
mampu mensejajarkan dirinya dengan pendidikan pada umumnya. bahkan
di pesantren dibuka sekolah umum (selain madrasah) sebagaimana
layaknya pendidikan umum lainnya. Kedua model pendidikan (sekolah
dan madrasah) sama-sama berkembang di pesantren.
Kenyataan ini menjadi asset yang luar biasa baik bagi
perkembangan pendidikan pesantren maupun pendidikan nasional pada
masa yang akan datang. Dari sana diharapkan tumbuh kaum intelektual
yang berwawasan luas dengan landasan spiritual yang kuat.
a. Pesantren dan Negara
Eksistensi pesantren tidak bisa dilepaskan dari peran negara.
Ranah kulturan yang digeluti pesantren selama ini menjadi landasan
yang sangat berarti bagi eksistensi negara. Perjuangan pesantren baik
secara fisik maupun secara kultural tidak bisa dihapus dari catatan
sejarah negeri ini. Dan kini generasi santri tersebut mulai memasuki
jabatan-jabatan publik (pemerintah) yan dulunya hanya sebatas mimpi.
Landasan kultural yang ditanamkan kuat di pesantren
diharapkan menjadi guidance dalam implementasi berbagai tugas baik
pada ranah sosial, ekonomi, hukum, maupun politik baik di lembaga

51

pemerintahan maupun swasta yang konsisten, transparan dan


akuntanbel.

Ini

penting

karena

pesantren

merupakan

kawah

candradimuka bagi munculnya agent of social change. Dan negara


sangat berkepentingan atas tumbuhnya generasi yang mumpuni dan
berkualitas. Oleh sebab itu, kepedulian dan perhatian negara bagi
perkembangan pesantren sangat diperlukan.
Kalau selama pesantren telah menyumbangkan seluruh
dayanya untuk kepentingan warga negara (negara), maka harus ada
simbiosis mutualistis antara keduanya. Sudah waktunya negara
(pemerintah)

memberikan

perhatian

serius

atas

kelangsungan

pesantren. Kalau selama ini pesantren bisa eksis dengan swadaya,


maka eksistensi tersebut akan lebih maksimal apabila didukung oleh
negara. Apalagi tantangan ke depan tentu lebih berat karena dinamika
sosial juga semakin kompleks. Oleh sebab itu, diperlukan revitalisasi
relasi antara pesantren pemerintah yang selama ini berjalan apa
adanya. Selama ini sistem pendidikan nasional belum sepenuhnya
ditangani secara maksimal. Beberapa departemen melaksanakan
pendidikannya sendiri (kedinasan) sesuai dengan arah dan orientasi
departemen masing-masing. Sejatinya pendidikan di sebuah negara
berada dalam sebuah sistem terpadu sehingga menghasilkan output
yang maksimal bagi kepentingan nasional, bukan hanya kepentingan
sektoral.

52

Inilah salah satu problem yang dihadapi sistem pendidikan


nasional

saat

ini.

Terpencarnya

penyelenggaraan

pendidikan

menyebabkan banyak masalah. Salah satunya adalah alokasi anggaran


yang tidak maksimal. Selama ini pemerintah memandang pendidikan
sebagai bagian Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Oleh
sebab itu, seluruh anggaran pendidikan dialokasikan untuk Depdiknas.
Konsekuensinya pendidikan di bawah departemen lain mendapatkan
alokasi dana seadanya.
Kenyataan

tersebut

tentu

merupakan

konsekuensi

dari

paradigma struktural yang melihat pendidikan hanya merupakan


tanggung jawab Depdiknas. Kita bisa menyaksikan kesenjangan dana
yang diterima madrasah (Depag) dengan sekolah umum atau antara
perguruan tinggi Islam seperti IAIN/UIN yang di bawah kendali Depag
dengan perguruan tinggi umum yang langsung ditangani Depdiknas.
Menambah alokasi dana pendidikan pada Depag akan
berkonsekuensi pada membengkaknya anggaran pendidikan nasional
yang sampai saat ini negara belum mampu memenuhinya sesuai
ketentuan konstitusi, yaitu 20 persen dari APBN. Di samping itu,
secara

struktural

kerja

pendidikan

yang

dilakukan

beberapa

departemen tidak efektif dan merupakan pemborosan anggaran negara.


Oleh sebab itu, pengelolaan pendidikan di bawah satu atap
(Depdiknas) akan lebih efektif dan efisien dibandingkan diserahkan
pada beberapa departemen.

53

Begitupun

pesantren

dan

madrasah

yang

selama

ini

eksistensinya lebih bersifat swadaya akan lebih maksimal apabila


dikelola dengan pendanaan dan pembinaan yang lebih memadai.
Apabila saat ini pesantren mulai menyesuaikan diri dengan pendidikan
umum dan standar pendidikan nasional, termasuk mendirikan sekolah
umum. Berangkat dari realitas tersebut, dengan kesiapan dan
penyesuaian yang dilakukan pesantren serta efektivitas dan efisiensi
penyelenggaraan pendidikan, maka sudah waktunya pengelolaan
pendidikan pesantren dimasukkan di bawah Depdiknas.
b. Pesantren Masa Depan
Eksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini
tetap signifikan. Pesantren yang secara histories mampu memerankan
dirinya sebagai benteng pertahanan dari penjajahan, kini seharusnya
dapat memerankan diri sebagai benteng pertahanan dari imperialisme
budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat,
khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi
generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernism yang
menjebaknya dalam kehampaan spiritual.
Keberadaan

pesantren

sampai

saat

ini

membuktikan

keberhasilannya menjawab tantangan jaman. Namun akselerasi


modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara
cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa
depan

pesantren

ditentukan

oleh

sejauh

mana

pesantren

54

memformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab


tuntutan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.
Langkah ke arah tersebut tampaknya telah dilakukan pesantren
melalui sikap akomodatifnya terhadap perkembangan teknologi
modern dengan tetap menjadikan kajian agama sebagai rujukan
segalanya. Kemampuan adaptif pesantren atas perkembangan zaman
justru

memperkuat

eksistensinya

sekaligus

menunjukkan

keunggulannya. Keunggulan tersebut terletak pada kemampuan


pesantren menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional dan
spiritual. Dari pesantren sejatinya lahir manusia paripurna yang
membawa masyarakat (negara) ini mampu menapaki modernitas tanpa
kehilangan akar spiritualitasnya.67
Meskipun

sistem

pendidikan

pada

awalnya

bercorak

tradisional, dalam perkembangan berikut ia lebih bersifat dinamis,


adaptif, emansipatif, dan responsif terhadap perkembangan dan
kemajuan zaman. Agaknya pesantren tidak membiarkan dirinya dalam
ketradisionalan yang berkepanjangan, tetapi lebih pada adaptasi dan
adopsi nilai-nilai baru, baik secara langsung maupun tidak langsung,
ke dalam sistem pendidikannya. Melihat ini, pesantren dalam
bentuknya yang sudah terpoles oleh nilai-nilai baru itu tidak

67

http://amfatwa.com/index.php?dir=pemikiran&file=detail&id=126.

55

menampakkan

karakteristiknya

yang asli,

seperti masa

awal

perkembangannya.68
Dalam memahami gejala modernitas yang kian dinamis,
pesantren sebagaimana diistilahkan Gus Dur, sub kultur memiliki dua
tanggung jawab secara bersamaan, yaitu sebagai lembaga pendidikan
agama Islam dan sebagai bagian integral masyarakat yang bertanggung
jawab terhadap perubahan dan rekayasa sosial, kalangan pesantren
menempatkan ilmu bukan sebagai ideology yang tertutup, terlebih
sebagai lembaga pendidikan. Ilmu-ilmu pesantren dengan meminjam
kategorisasinya-Kuntowijoyo,

bersifat

terbuka

dan

dalam

memperlakukan sebuah fakta berangkat dari fakta sosial.69


Pesantren merupakan lembaga pendidikan dan lembaga sosial
yang permanen tumbuh di daerag pedesaan, dalam kedudukannya ini,
potret pesantren sebagai sub kuktur dalam artian lembaga yang unik
dan terpisah dengan dunia luar, melihat pesantren sedang mengalami
perubahan,

pesantren

sebagai

lembaga

tua

telah

mengalami

pembaharuan.70
Dengan visi masyarakat Indonesia baru, misi pendidikan
nasional termasuk di dalamnya pendidikan agama dan keagamaan
khususya pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional

68

Abuddin Nata, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga


Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Grasindo, 2001), 123.
69
Amin Haedari, Masa Depan Pesantren, IRD. Press, 2006, 76.
70
Chabib Thoha, PBM-PAI di Sekolah Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1998).

56

dalam menghadapi setting sosial atau perkembangan lingkungan


strategis yang ada. Perkembangan pesantren di masa lampau sangat
tidak menguntungkan baik akibat politik pendidikan pemerintah
Kolonial Belanda yang diskriminatif maupun kebijakan Pemerintah
Indonesia yang belum sepenuhnya menempatkan pesantren sebagai
lembaga pendidikan alternatif, menyebabkan pesantren menghadapi
kesulitan dan terisolir dari arus modernisasi, upaya masyarakat
pesantren. Untuk menghilangkan isolasi tersebut, terlihat mulai dari
lahirnya UU No. 21 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menetapkan
pesantren sebagai bangsa dari sistem pendidikan nasional.
E.Reorintasi Kurikulum Pesantren
Pengembangan pesantren tidak cukup hanya dengan memasukkan mata
peajaran umum kedalam kurikuum pesantren. Terlebih sekaran ini sudah banyak
pondok pesantren yang membuka sekolah umum. Pada taraf tertentu, hal ini boleh
jadi merupakan perkembangan yang patut dibanggakan. Karena dengan begitu
pesantren tidak tertinggal terlalu jauh dengan sekolah-sekolah umum dalam hal
mata pelajaran umu. Malah posisi pesantren harusnya punya niai lebih dibanding
sekolah umum. Para santri yang sekalipun siswa dimadrasah (sekolah)
dilingkungan pesantren berpeluang lebih banyak untuk mempeajari pelajaran
umum dan peajaran agama sekaligus.
Dalam situasi dimana pesantrean dari sisi kostitusi sudah menjadi bagian
dari Sisdiknas, dan pada sisi kurikulum struktur mata pelajaran di pesantren sudah
bercampur dengan kurikulum standar nasional, maka visi yang perlu

57

dikembangakan adalah menjadikan pesantren sebagai system pendidikn yang


tetap mampu meahirkan lulusan yang menguasai ilmu-ilmu keislaman secara
mendalam, sekaligus siap pakai dalam dunia kerja.
Penataan struktur kurikulum pesantren berkait erat dengan cirri khas
keilmuan pesantrennya, secara umum struktur kurikulum pesantren dipilih
kedalam dua bidang kompetensi, yaitu: (1) Penguasaan suatu bidang ilmu
keislaman tertentu secara mendalam dan (2) Penguasaan ketrampilan hidup
(lifeskill) yang aplikatif didunia kerja. Untuk itu setidaknya ada dua pertimbangan
penting yang perlu diperhatikan yaitu Pertama, Dari sisi keilmuan pesantren harus
mampu menonjolkan cirri khas cabang ilmu keislaman yang dikembangkannya
(takhasus). Kedua, Dari sisi lifeskill, pesantren membuka kelas (laboratorium)
ketrampilan praktis, dimana bentuk-bentuk ketrampilan yang dibuka di pesantren
harus dengan lingkungan masyarakatnya.
Pemberdayaan segenap poteensi pesantren dilkukan untuk mendukung
terwujudnya reorintasi kurikulum pesantren. Potensi pesantren yang dimaksud
disini adalah berbagai bentuk kekuatan (fisik atau nonfisik) yang mendukung
berlangsungnya proses belajar mengajar disuatu pesantren, baik dari dalam
pesantren sendiri (internal) maupun yang datang dari luar (eksternal).
Pemberdayaan potensi internal pesantren perlu disinergikan dengan
pemberdayaan potensi eksternal pesantren. Ini dimasudkan untuk mendukung
terlaksananya program-program pendidikan pesantren. Beberepa hal yang
termasuk kedalam kekuatan eksternal adalah: (1) Konsttusi yang mendukung
keberadaan pesantren, yaitu : Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang sistem

58

pemerintahan ( otonomi daerah), Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang


pertimbangan keuangan antara pusat dan daerah, Undng-undang No. 20 Tahun
2003 tentang sistem pendidikan Nasional. (2) Keterlibatan pemerintah daerah (3)
Memperluas nerworking dengan lembaga tinggi pendidikan.
Kerja sama pondok pesantren dengan dunia perguruan tinggi telah
dipelopori oleh departemen agama, dua tahun belakangan ini telah meakukan
kerja sama menjaring santri-santri potensial lulusan pesatren untuk dikuliahkan
dibeberapa perguruan tinggi dengan beasiswa penuh.71

71

59

BAB III
EKSISTENSI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN DALAM PP NO.55
TAHUN 2007 TENTENG PENDIDIKAN AGAMA DAN KEAGAMAAN
A. Latar Belakang Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007
Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 pasal 31 ayat 3, berbunyi
"pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan
yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam
rangka mencerdeskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang".
Atas dasar amanat undang-undang 1945 tersebut. Undang-undang No 22
tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3 menyatakan
bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam
penjelasan umum undang-undang No 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan
pembaharuan sistem pendidikan Nasional dalam melaksanakan pembaharuan
sistem pendidikan nasional adalah "pelaksanaan Pendidikan agama dan akhlak
mulia".
Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional
pada pasal 37 ayat (1) mewajibkan pendidikan agama dimuat dalam
kurikulum pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Pendidikan agama pada
jenis pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, dan khusus
56

60

disebut pendidikan agama. Penyebutan pendidikan agama ini dimaksudkan


agar agama dapat dibelajarkan secara lebih luas dari sekedar mata pelajaran
atau kuliah agama. Pendidikan agama dengan demikian sekurang-kurangnya
perlu berbentuk mata pelajaran pendidikan agama untuk menghindari
kemungkinan peniadaan agama disuatu satuan pendidikan dengan alasan telah
dibelajarkan secara terintegrasi. Ketentuan tersebut terutama dalam pada
penyelenggaraan pendidikan formal dan pendidikan kesetaraan.
Pendidikan

keagamaan

pada

umumnya

diselengarakan

oleh

masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh dan untuk masyarakat,


pendidikan keagamaan juga berkembang akibat mata pelajaran atau kuliah
pendidikan agama yang di nilai menghadapi berbagai keterbatasan. Sebagian
masyarakat mengatasinya dengan pendidikan agama di rumah, rumah ibadah,
atau diperkumpulan-perkumpulan yang kemudian berkembang menjadi satuan
atau program pendidikan keagamaan formal, non formal atau informal.
Secara

historis,

keberadaan

pendidikan

keagamaan

berbasis

masyarakat belajar, terlebih lagi karena bersumber dari aspirasi masyarakat


yang sekaligus mencerminkan kebutuhan masyarakat sesungguhnya akan jenis
layanan pendidikan. Dalam kenyataan terdapat kesenjangan sumber daya yang
besar antar suatu pendidikan keagamaan. Sebagai komponen sistem
pendidikan nasional, pendidikan keagamaan perlu diberi kesempatan untuk
berkembang, dibina dan ditingkatkan mutunya oleh semua komponen bangsa,
termasuk pemerintah dan pemerintah daerah. Rancangan peraturan pemerintah
daerah tentang pendidikan Agama dan pendidikan keagamaan merupakan

61

kesepakatan bersama pihak-pihak yang mewakili umat Islam, Kristen, katolik,


hindu, budha dan khonghucu.72

B. Sejarah Munculnya PP No. 55 Tahun 2007


Munculnya PP No. 55 Tahun 2007 sangat sepihak dan menguntungkan
pesantren demikian dikatakan H. Amin Haedari Direktur Pendidikan Diniyah
dan pondok pesantren Departemen Agama RI dalam sambutannya dalam
pembukaan pertemuan pimpinan pesantren Mu'adalah dan Depag RI di hotel
Millenium. Lebih lanjut dia m,enuturkan keberpihakan PP No. 55 Tahun 2007
terhadap dunia pesantren salafiyah yang memiliki keahlian dalam bidang
tertentu diluar kemampuan bidang keagamaan, keahlian tersebut bisa diakui
juga dilembaga formal atau lembaga-lembaga lainnya.73
Pendidikan Islam memiliki peran didalam konteks pendidikan
nasional. Hanya saja harus pula dimaklumi dan dipahami jika hingga hari ini
secara kelembagaan pendidikan Islam kerap menempati posisi kedua dalam
banyak situasi, meski disadari betapa pentingnya posisi pendidikan nasional.
Namun harus pula diakui hingga saat ini posisi pendiikan Islam belum
beranjak dari sekedar sebuah subsistem dari sistem besar pendidikan
nasional.74

72
73
74

http://www. Pondok Pesantren.com/content/70.


Rizihan, http://www.Suaramerdeka.com/harian/0501/071.

62

Keluarnya peraturan pemerintah (PP No. 55 Tahun 2007) diharapkan


dapat membawa perubahan pada sisi managerial dan proses pendidikan Islam
PP tersebut secara eksplisit mengatur bagaimana seharusnya pendidikan
keagamaan Islam dan keagamaan lainnya selenggrakan.
Undang-undang nomor 22 tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional pada pasal 37 ayat (1) mewajibkan pendidikan agama dimuat dalam
kurikulum pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, pendidikan agama pada
jenis pendidikan umum kejuruan, akdemik, profesi, vokasi dan khusus disebut
"pendidikan agama". Penyebutan pendidikan agama ini dimaksudkan agar
dapat dipelajarkan secara lebih luas dari sekedar mata pelajaran atau kuliah
agama.75
Sedangkan

pendidikan

keagamaan

adalah

lembaga-lembaga

keagamaan yang selama ini berkembang di masyarakat seperti pesantren,


diniyah, sekolah minggu buddhis, pabbajja samanera, dan lain-lain.76
Ormas Kristen sebenarnya menolak keberadaan PP. karena pemerintah
turut mengatur atau ikut campur tangan. Menurutnya, pendidikan keagamaan
adalah pendidikan dari keluarga dan orang tua pribadi dan lebih kental hak
asasi manusia.
Jadi sudah ada PP-nya, maka sangat diharapkan pemerintah juga
memperhatikan sekolah-sekolah swasta yang sudah lama berkecimpung
dibidang agama dan keagamaan.pemerintah sekiranya dalam memerhatikan
masalah pendidikan agama dan keagamaan sekiranya tidak pilih kasih dan
75
76

PP No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, 12.
Ibid, 12

63

mengenyampingkan LPK swasta. Terwujudnya PP No. 55 tahun 2007 ini


merupakan tuntunan dari undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional (sisdiknas) yang menyatakan bahwa pendidikan agama
dan keagamaan perlu diatur dengan peraturan pemerintah. Pemerintah harus
mengimplementasikannya sehingga memberi pencerahan bagi lembaga
pendidikan keagamaan khususnya yang dikelola oleh swasta.77
Dengan lahirnya PP, kemungkinan akan melahirkan ketentuan guru,
yakni adanya pengaturan langsung di lapangan yang akan mengubah
ketentuan khususnya pendidikan agama di sekolah.78

C. Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan

1. Pendidikan Agama

Pendidikan merupakan bimbingan atau arahan secara sadar oleh


pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju
terbentuknya kepribadian yang utama.79 Tujuan pendidikan dalam
pandangan Al Quran adalah untuk mengembangkan kemampuan inti
manusia dengan cara sedemikian rupa sehingga seluruh ilmu pengetahuan
yang diperolehnya akan menyatu dengan kepribadian kreatifnya.80

77
78
79

http://www.hariankomentar.com/arsip.arsip2007/nov.20/IkMIM001.html.
http://www.reformata.com/index.pht/M=Meweda=Viewdidi=257&print=1.
Basuki, Pesantren dan Pendidikan kecakapan hidup(life skill), cendikia 2, Desember

2007, 293.
80

Muhaimin dkk, Modernisasi Pendidikan Islam Menurut Faizlur rahman, Buletin bvna
Pesantren, Edisi Mei 1999, 3.

64

Pendidikan pada dasarnya adalah proses rekayasa atau rancangan


bangun kepribadian manusia. Menurut pandangan islam manusia sebagai
titik central dalam proses pendidikan, memposisikan manusia sebagai abd
Allah dan khalifah Allah fi al ardh.

Karrena fungsi manusia sebagai hamba Allah dirasa belum cukup,


maka manusia masih dituntut untuk melakukan fungsi khalifah Allah yang
di dlaamnya sebetulnya harus tercermin sebagai refleksi dari fungsi
sebagai hamba Allah. Dalam peraturan pemerintah pasal 1, yang dimaksud
dengan

pendidikan

agama

adalah

pendidikan

yang

memberikan

pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan keterampilan peserta


didik dalam mengamalkan ajaran agamanya yang dilaksanakan sekurangkurangnya melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan.

Sasarannya adalah pengembangan potensi peserta didik agar


menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.81 Membicarakan
tentang pendidikan agama memang telah cukup lama mendapat perhatian
dari tokoh dan telah melahirkan banyak pemikiran dan kebijakan yang
diambil dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan agama. Wujud dari
upaya tersebut nampak pada munculnya berbagai pemikiran dan kebijakan
81

M. Saerozzi, Politik Pendidikan Agama Dalam Era Pluralisme(Yogyakarta: Tiara


Wacana, 2004), 29.

65

tentang pembinaan terpadu pendidikan agama di sekolah umum,


madrasah, pondok pesantren dan lain sebagainya. Namuan saat sekarang
ini terjadi penilaian kritis terhadap pelaksanaan pendidikan agam
(khususnya di sekolah):
a. Islam diajarkan lebih pada hafalan (padahal islam penuh dengan nilainilai yang perlu dipraktekkan).
b. Pendidikan agama lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara
hamba dan Tuhan.
c. Penalaran dan argumentasi berfikir untuk masalah keagamaan kurang
mendapatkan perhatian.
d. Penghayatan nilai-nilai agama kurang mendapat penekanan.
e. Menatap lingkungan untuk kemudia memasukkan nilai-nilai islam
sangat kurang mendapatkan perhatian.
Ada tiga hal penting yang dikembangkan melalui pendidikan
agama yang pada prinsipnya hamper sama dengan pola umum
pendidikan sebagai pengembangan potensi yang terpendam dalam diri
anak didik, yaitu nilai (value), pengetahuan (knowledge) dan
keterampilan (skill). Di samping itu dalam pelaksanaan pembelajaran
juga dikenal teori Taksonomi Bloom, yaitu tiga ranah proses
pembelajaran: ranah kognitif ,dan ranah psikomotorik. Pendidikan
Islam berorientasi kepada duniawi dan ukhrawi, sedangkan pendidikan
non islam, orientasinya duniawi semata. Islam sebagai agama yang

66

universal berisi ajaran-ajaran yang dapat membimbing manusia kepada


kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

2. Pendidikan Keagamaan
Secara kelembagaan, kehadiran lembaga pendidikan keagamaan
dilingkungan masyarakat minoritas dilatarbelakangi oleh keinginan kuat
dan semangat yang tinggi para tokoh masyarakat yang dipicu oleh
kekahawatiran akan melunturnya akidah dikalangan anak-anak, pelajar
dan gegerasi muda pada umumnya yang semakin hari semakin
memperhatinkan.
Lembaga

pendidikan

keagamaan

dilingkungan

masyarakat

minoritas muncul karena kepedulian masyarakat terhadap masa depan


anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Dapat disimpulkan bahwa
lembaga pendidikan keagamaan dilingkungan masyarakat minoritas
merupakan lembaga-lembaga kecil yang pada awalnya berupa pengajian,
mulai pengajian di rumah, mushalla, masjid, kemudian dilembagakan. 82
Pendidikan keagamaan baik yang diselenggarakan oleh madrasah
diniyah atau pesantren adalah atas prakarsa masyarakat muslim dalam
rangka memajukan generasi penerus umat Islam. Masyarakat yang
dimaksud adalah masyarakat yang secara agama kuat dilihat dari latar
belakang pendidikan dan organisai keagamaan masyarakat yang memiliki
latar belakang pendidikan pondok pesantren , PTAI, PGA, Aliyah ,

82

Wahid Khozin, Pendidikan Keagamaan dan Masyarakat Minoritas,Edukasi Jurnal


Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan.(t.t, t.t. t.t), 76.

67

memiliki keprihatinan yang tinggi terhadap kondisi pendidikan agama


generasi penerus, sehingga mereka rela mengabdikan ilmu dan tenaganya
dilembaga

pendidikan

keagamaan.

Bentuk

pelayanan

pemdidikan

keagamaan dibagi dalam tiga bentuk TKA/TPA,Madrasah Diniyah dan


Pondok Pesantren.
Jenis pelayanan pendidikan keagamaan yang diberikan berkisar
pad abaca tulis al-quran, belajar sholat, doa sehari-hari ,fiqih, Aqidahakhlak, Tarikh Islam, Bahasa arab.83
Dalam peraturan

pemerintah pasal satu, yang dimaksud dgan

pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta


didik untuk dapat menjalankan peranan yang menunntut penguasaan
pengetahuan tentang ajaran agama dan menjadi ahli ilmu agama dan
mengamalkan ajaran agamanya.84
Jadi,

Pendidikan

keagamaan

adalah

lembaga

yang

mempersiapkan peserta didik untuk bisa menjalankan peranaya sebagai


khalifah di bumi, yang mampu mengarahkan mereka ke dalam penguasaan
ilmu agama dan mengamalkannya.
A. Pendidikan Pesantren
Pesantren atau pondok pesantren adalah lembaga pendidikan
keagamaan Islam berisi masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan
diniyah atas secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya.

83

Ibid.
Peraturan Pemerintah No.55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan
Keagamaan.
84

68

Pesantren

menyelenggarakan

pendidikan

degan

tujuan

menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia


serta tradisi pesantren untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan
dan ketrampilan peserta didik untuk menjadi ahli ilmu agama Islam (MU)
dan atu menjadi muslim yang memiliki ketrampilan atau keahlian untuk
membangun kehidupan yang Islam di masyarakat.
Pendidikan diniyah formal adalah pendidikan keagamaan Islam
yang diselenggarakan pada semua jalur dan jenjang pendidikan.
Pendidikan keagamaan Islam berbentuk diniyah dan pesantren.
Pendidikan diniyah formal menyelenggarakan pendidikan ilmuIlmu yang bersumber dari ajaran agama Islam pada jenjang pendidikan
anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan
tinggi.
Pendidikan diniyah dasar menyelenggarakan pendidikan dasar
sederajat MI/SD yang terdiri atas 6 (enam) tingkat dan pendidikan diniyah
menengah pertama sederajat MTS/SMP yang terdiri atas 3 (tiga) tingkat
dan pendidikan diniyah menengah atas sederajat MA/SMA yang terdiri
atas 3 (tiga) tingkat dan pendidikan diniyah menengah atas sederajat
MA/SMA yang terdiri atas 3 (tiga) tingkat.
Untuk dapat diterima menjadi peserta didik pendidikan diniyah
dasar seorang harus berusia sekurang-kurangnya 7 (tujuh) tahun. Dalam
hal daya tampung satuan pendidikan masih tersedia maka seseorang yang
berusia 6 (tahun) dapat diterima sebagai peserta didik pendidik diniyah

69

dasar. Untuk dapat diterima peserta didik pendidik diniyah menengah


pertama seseorang harus berijazah pendidikan dasar atau yang sederajat.
Untuk dapat diterima peserta didik pendidik diniyah menengah atas
seseorang harus berijazah pendidikan diniyah menengah pertama atau
yang sederajat.
Kurikulum pendidikan diniyah dasar formal wajib memasukkan
muatan pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia matematika, dan
ilmu pengetahuan alam dalam rangka pelaksanaan program wajib belajar.
Kurikulum pendidikan diniyah menengah formal wajib memasukkan
muatan pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam serta seni dan budaya.
Pendidikan diniyah pada jenjang pendidikan tinggi dapat
menyelenggarakan program akademik, fokasi, dan profesi berbentuk
universitas, institute, atau sekolah tinggi. Kerangka dasar dan struktur
kurikulum pendidikan untuk setiap program studi pada perguruan tinggi
keagamaan Islam selain menekankan pembelajaran ilmu agama, wajib
memasukkan pendidikan kewarganegaraan dan bahasa Indonesia.
Pesantren menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara
terpadu dengan jenis pendidikan lainnya pada jenjang pendidikan anak
usia dini, pendidikan dasar, menengah dan atau pendidikan tinggi.
Peserta didik atau pendidik di pesantren yang diakui keahliannya
dibidang ilmu agama tetapi tidak memiliki ijazah pendidikan formal dapat
menjadi pendidik mata pelajaran atau kuliah pendidikan agama disemua

70

jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang memerlukan, setelah menempuh


uji kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
D. Eksisistensi sistem pendidikan pesantren dalam PP no. 55 tahun 2007
Pesantren tumbuh dan berkembang sebagai basis pencerahan bagi
masyarakat di sekitarnya. Meski mulanya pesantren memosisikan diri sebagai
pusat penyebaran islam melalui pola-pola pengajaran sadanya, tetapi dalam
perkembangannya, modernisasi telah banyak merubah wajah pesantren. Ini
disebabkan karena, pondok pesantren telah mengadopsi unsur-unsur
pendidikan modern.
Dalam konteks peningkatan mutu pendidikan, tentunya menurunnya
semangat kemandirian dan watak kesederhanaan pesantren akan mengancam
eksistensinya ke depan. Perlu diinsafi, bahwa pesantren hidup dan menghidupi
dirinya atas dudukungan masyarakat. Apa jadinya, bila hal itu tidak lagi terjadi
di pesantren? Kita jangan mengandaikan kondisi pesantren sekarang ini sama
seperti yang seperti pesantren dulu. Baiklah, anggap saja kita sepakat, bahwa
perbedaan salaf-khalaf yang sekarang memilah-milah pesantren tidak menjadi
persoalan. Kita anggap kedua-duanya mempunyai sisi positif dan sekaligus
sisi negatifnya masing-masing. Kenyataannya sekarang adalah, pesantren
sudah lama nersentuhan dengan modernitas dan globalisasi. Bahkan di antarra
ekses langsung yang dirasakan pesantren adalah, secara kelembagaan sudah

71

banyak berbentuk lembaga berbadan hokum yang ditandai dengan pendirian


madrasah, sekolah umum atau sekolah kejuruan.85
Dengan memperhatikan perubahan pesantren tersebut, tentunya
penguatan partisipasi masyarakat tidak bisa dilakukan dengan cara-cara
tradisional, sebagaimana dulu di zaman kolonial di mana kyai, santri dan
masyarakat bersama-sama memnbentuk satu kekuatan dalam mengusir
penjajah. Mereka bersam-sama berjuang tanpa pamrih, penuh keikhlasan dan
menganggap apa yang mereka lakukan semata-mata ibadah kepada Yang
Maha Kuasa. Tentu saja nilai-nilai luhur harus tetap dipertahankan, namun
juga jangan sampai nilai-nilai tersebut dijadikan alibi untuk memungkiri
relitas yang bergerak tanpa kendali, bahkan mengancam eksistensi pesantren.
Rekayasa

social termasuk dalam rangka penguatan

partisipasi dan

pemberdayaan masyarakat, haeus mempertimbangkan realitas sosio-ekonomi,


transformasi cultural dan boleh jadi fragmentasi politik masyarakatnya.
Sebagai bagian yang tidk terpisakan dari Sistem Pendidikan Nasional,
madrasah telah berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan keislman,
membentuk moral bangsa dan mencetak kader pimpinan bangsa. Dalam hal
ini, madrasah merupakan lembaga yang multi-fungfional, yaitu sebagai
lembaga pengajaran ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan loral dan dakwah
candradimuka kepemimpinan.
Sebagai satuan keagamaan (islam), madrasah secara legal formal telah
diakui eksistensinya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
85

Amin Haidari, Transformasi Pesantren, Pengembangan aspek pendidikan keagamaan


dan social(Jakarta Lekdis dan Media Nusantara 2006), 49

72

System Pendidikan Nasional maupun Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun


1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 yang ditindaklanjuti
dengan SK Mendikbud No. 0487 dan 0489 tahun 1992 dan No. 054 tahun
1993 serta SK Menag No. 368, 369 dan 370 tahun 1993, yang menyebutkan
madrasah sebagai sekolah umum berciri khas keagamaan islam. Dengan
adanya PP ini madrasah lebih tepat disebut sekolah umum plus.
Kenyataanya bahwa beban kurikulum yang berat bagi madrasah yang
menerapkan kurikulum sekolah 100% ditambah dengan kurikulum agama
sebagai

cirri

khas.

Konsekwensiya,

ia

mendapat

beban

tambahan:

mempertahankan materi esensial keislamannya, sekaligus memberikan


kurikulum sekolah umum yang setingakt secara penuh.
Kurikulum pesantren dalam arti tafaqquh fi al-din sangat variatif dan
tidak bisa disamakan satu sama lain. Setiap pesantren memiliki bidang
spesialisasi khusus, tergantung keahlian masing-masing pengasuh. Hampir
semua pesantren menyelenggarakan pengajian kitab kuning atau studi
terhadap literature islam klasik, dan menjadikan kitab-kitab ini sebagai standar
kurikulum.
Pondok pesantren yang sejak awal sebagai pendidikan keagamaan
harus dipertegas sebagai pendidikan keagamaan. Kalau pontren diformalkan
bukan berarti pontren harus mendirikan MI, MTs dan MA. Pontren bisa saja
menjadi formal kalau memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan.
Kalau pontren mendirikan MI sampai MA, bukan berarti lembaga-lembaga
tersebut sebagai lembaga keagamaan, tetapi lembaga pendidikan umum yang

73

mengajarkan keagamaan. Memang akan ada dunia formal tetapi formatnya


seperti madrasah formal yang di dalamnya ada ketentuan-ketentuan formal
yang berlaku dengan kurikulum 70 % agama dan 30 % umum untuk
memenuhi wajardiknas. Contohnya seperti MAPK, itulah gambaran dunia
formal di tingkat ulya. Sedangkan untuk level ula dan wustho masih sedang
dirumuskan. Sekarang masih diadakan kajian mengenai pengembangan dunia
formal.
Dulu telah diakomodir bagaimana pendidikan keagamaan menjadi
formal kalau memenuhi persyaratan. Diantaranya adalah terstruktur atau
berjenjang

dari

1-12.

Seluruh

Indonesia

baru

23

pesantren

yang

terakreditasi.kalau sudah diakreditasi harus jelas administrasinya, jam


pelajaranya, guru-gurunya harus S-1 dan lain-lain. Dan guru yang tidak
mempunyai ijazah formal bisa diakui kalau mengikuti tes kompetensi.
Jangankan yang tidak punya ijazah, yang punya ijazah sekalipun sekarang
harus mengikuti tes kompetensi.86
Pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama ingin selalu
meningkatkan kualitas pontren agar selalu berada pada posisi terdepan.
Karena pesantren telah ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun diakui bahwa masyarakat di lingkungan pesantren, cukup cepat
berkembangannya. Dulu sewaktu pesantren didirikan, masyarakat sekitarnya
masih terbelakang. Dan sekarang alamnya beda, masyarakat mulai maju dalam
segala aspek. Untuk itu, bagaimana pesantren harus merespon perkembangan
86

Peraturan Pemerintah No.55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan
Keagamaan.

74

yang terjdi di sekitarnya. Untuk merespon perkembangan zaman, lulusan


pesantren yang mengeluarkan ijazah formal telah diterima di beberapa
perguruan tinggi umum.
Untuk meningkatkan kualitas SDM Madin dan pesantren, kami punya
program untuk mengkuliah guru-guru yang belum S-1. Kami juga sedang
merumuskan konversi matakuliah. Artinya bagi guru-guru madrasah diniyah
dan pesantren yang belum S-1,Padahal dia bagus dalam suatu bidang studi,
maka ketika melanjutkan kuliah, nilai matakuliah tersebut dikonversi dan yang
bersangkutan tidak harus mengikuti mata kuliah tersebut.

75

BAB IV
ANALISA EKSISTENSI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN DALAM
PP. NO. 55 TAHUN 2007 TENTANG PENDIDIKAN AGAMA DAN
KEAGAMAAN

A. Analisa Eksistensi Sistem Pendidikan Pesantren Sebelum PP No 55


Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan
Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam di Indonesia
yang keberadaannya sudah dikenal sejak abad 19 dan telah mengakar kuat di
masyarakat muslim Indonesia. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam
dipimpin dan dikelola langsung oleh kyai yang memiliki visi dan penentu arah
kebijakan dalam melaksanakan proses pembelajaran dan pencapaian yang
hendak dihasilkan oleh santri-santri. Dalam pendidikannya tidak mengenal
lama belajar dalam waktu tertentu untuk menempuh proses belajarnya. Begitu
juga tidak dikenal jenjang pendidikan berdasarkan peringkat kelas tertentu,
karena pesantren bukan lembaga pendidikan klasikal, dalam sistem
pengajiaannya dikenal istilah sorogan, wetonan dan bandongan yang
dilakukan langsung oleh kyai dengan santri-santrinya dalam mengkaji kitab
yang ditentukan oleh kyai.87
Kecenderungan sebagian masyarakat Indonesia, penyelenggaraan
pendidikan yang tidak sepenuhnya ikut aturan sekolah dan madrasah
87

Badri, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah (Jakarta: Puslitbang Lektur


Keagamaan, 2007), 1.

72

76

bersumbu dari aset pendidikan yang besar maknanya dalam memajukan mutu
pendidikan dengan caranya sendiri, dengan kadar kompetensi lulusan yang
mereka bangun sendiri, yang mana mencoloknya sistem pendidikan pesantren
dengan mengandalkan tradisi membaca tanpa mengiringnya dengan tradisi
tulis, yang membuat pesantren jarang sekali memuncul penulis, hal ini tidak
bisa dipungkiri bahwa ketidak dinamisan sistem pendidikan pondok pesantren
sangat terkait erat dengan minimnya forum-forum diskusi atau pembahasan
yang mengulas secara mendalam berbagai masalah yang mereka hadapi, baik
yang berkaitan dengan masalah sistem pendidikan pesantren maupun masalah
kepesantrenan dengan seluruh ruang lingkupnya.88
Di pesantren-pesantren tempo dulu kegiatan belajar-mengajar seperti
ini bisa berlangsung tanpa penjenjangan kelas dan kurikulum yang kekal.
Penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pengajaran untuk para santri
dengan berbagai macam materi disampaikan dengan berbagai metode
pembelajaran yang digunakan didasarkan pada dua pendekatan berikut:
1. Pemberian pengajaran dengan struktur, metode, dan literatur tradisional ini
berupa pemberian pengajaran dengan sistem halaqoh (lingkaran) dalam
bentuk metode sorogan atau bendongan maupun yang lainnya. Ciri utama
dan pengajaran ini adalah pengajarannya menekankan pada penangkapan
harfiyah atas suatu teks (kitab) tertentu.

88

Muhammad Kholid Fathoni, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Jakarta:


Departemen RI, 2005), 98.

77

2. Pemeliharaan

tata

nilai tertentu

yang menekankan

pada fungsi

pengutamaan beribadah sebagai bentuk pengabdian dan memuliakan guru


sebagai jalan untuk memperoleh ilmu agama yang hakiki.
Sebagai suatu lemabaga pendidikan Islam, pondok pesantren dan sudut
historis-kultural dapat dikatakan training center yang otomatis menjadi
kultural center. Islam yang disahkan dan dilembagakan oleh masyarakat,
setidak-tidaknya oleh masyarakat Islam sendiri yang secara de fakto tidak
dapat diabaikan oleh pemerintah, sistem pendidikan pondok pesantren selalu
diselenggarakan dalam bentuk asrama atau kompleks asrama sehingga santri
mendapatkan pendidikan dalam situs lingkungan sosial keagamaan yang kuat
dengan ilmu pengetahuan agama yang dilengkapi dengan atau tanpa ilmu
pengetahuan umum. Ilmu pengetahuan agama yang diajarkan itu sangat
bergantung pada kegemaran atau keahlian kyai yang bersangkutan.89
Reaksi yang terjadi dalam perkembangannya Iebih lanjut (setelah
merdeka), pondok pesantren di samping memberikan pelajaran ilmu agama,
juga ilmu pengetahuan umum dengan sistem madrasah atau sekolah. Ilmu
pengetahuan umum hanya sekedar pelengkap. Jadi sistem pengajian masih
tetap diberikan kepada mereka yang menghendaki pada waktu sesudah
sekolah, akan tetapi dalam perkembangannya sistem kependidikannya, pondok
itu juga ada yang hanya mendidik santri-santrinya dengan sistem madrasah
(klasikal) dengan mendisiplin belajar serta praktik ibadah.90

89

Djamaludin, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 101.
Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam Edisi Refisi, (Jakarta: Bumi Aksara,
2007), 231.
90

78

Berdasarkan pembaruan dan perkembangan kritis di atas pendidikan


pesantren harus lebih memantapkan perencanaan untuk memperbarui mutu
pendidikan pesantren agar menjadi lebih baik sebagaimana yang telah
diinginkan oleh pemerintah dalam PP. No. 55 Tahun 2007.

B. Analisa Eksistensi Sistem Pendidikan Pesantren Menurut PP No 55


Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan
Wacana yang berkembang dalam dinamika pemikiran dan pengalaman
praktis alumni pesantren tampaknya menegaskan bahwa pesantren merupakan
bagian dan infrastruktur masyarakat yang secara makro telah berperan
menyadarkan komunitas masyarakat untuk mempunyai idealisme, kemampuan
intelektual, dan perilaku mulia, guna menata dan membangun karakter bangsa
yang paripurna. Ini dapat dilihat dari peran strategi pesantren yang
dikembangkan dalam kultur internal pendidikan pesantren, misalnya saja,
lewat diskursus intelektual Islam klasik pesantren juga rajin dan berusaha
membentuk

perilaku-perilaku masyarakatnya agar lebih menekankan,

terutama etika-moral dalam kehidupannya. Memang hal ini telah teruji dan
mampu bertahan mengangkat pesantren menjadi sebuah bengkel moral,
spiritual, dan pusat pengkajian dan pengembangan Islam klasik yang pernah
mencapai keemasan dalam peradaban dunia. Eksistensi ini sekaligus

79

memberikan signifikasi yang strategis bagi pesantren dalam proses


kebangsaan.91
Nurcholis Madjid mendiskripsikan bahwa pertama, pesantren berhak
dan lebih berguna mempertahankan fungsi pokoknya, yaitu sebagai tempat
menyelenggarakan pendidikan agama dan morfologi sebagai alat untuk dapat
membaca dan memahami kitab-kitab kuning yang ditulis dalam bahasa arab
(fiqh, aqidah, tasawuf, tafsir, hadits, bahasa arab). Tetapi masih diperlukan
suatu tinjauan, sehingga ajaran-ajaran agama yang diberikan kepada setiap
pribadi merupakan jawaban yang komperhensif atas persoalan makna hidup
dan pandangan hidup Islam. Kedua, pesantren harus tanggap terhadap tuntutan
hidup anak didiknya untuk kehidupannya kelak di masyarakat, karena pada
kenyataannya, kehidupan di masyarakat tidak cukup berbekal pengetahuan
agama saja tetapi harus dibekali dengan pengetahuan lain dan keterampilan.92
Dengan demikian, tujuan pesantren hendaknya direformasikan untuk
membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran pesantren
dan memiliki kemampuan tinggi untuk mengadakan respon terhadap
tantangan-tantangan dan tuntutan-tututan hidup dalam konteks ruang dan
waktu yang ada.
Sebagai lembaga yang identik dengan makna keislaman sekaligus
mengandung makna keaslian Indonesia, pesantren dengan kyainya telah
memainkan peran-peran strategis di bidang dakwah keagamaan, pendidikan,

91
Suwandi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada,.
2009), 117.
92
Badri, Pergeseran Lileratur Pesantren Salafiyah (Jakarta: Puslitbang Lektur
Keagamaan, 2007), 1.

80

dan peran-peran sosial lainnya. Keterlibatan lembaga pesantren dalam


program-program wajar Diknas, pelayanan kesehatan, jaringan informasi,
pertanian, pembudayaan ekonomi masyarakat, dll, Maka menunjukkan
pesantren cukup responsif dan dipercaya masyarakat dan pemerintah untuk
mengisi peran-peran tersebut. Pesantren dituntut untuk memfungsikan dirinya
sebagai institusi pendidikan penyeimbang bahkan terintegritasi antara
penguasaan ilmu-ilmu agama (tafaqqah fiddin) dan penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi, hampir 70% pendidikan formal baik dalam bentuk
madrasah maupun sekolah.93
Dalam dasawarsa terakhir pesantren telah mengalami perubahan yang
sangat signifikan sesuai dengan perubahan lingkungan strategi yang terjadi
baik pada tingkat lokal nasional maupun global. Perubahan ditandai dengan
semakin beragamnya orientasi dan kebutuhan jenis pendidikan karena
pendidikan pada dasarnya selalu memiliki hubungan tingkat balik dengan
sistem yang ada di luarnya.94
Regulasi pendidikan dapat bertujuan untuk mengakomodir tuntutan
pengakuan terhadap model-model pendidikan yang selama mi sudah berjalan
di masyarakat secara formal. Dengan karakter dan citarasa pesantren seperti
dijelaskan, orang pesantren suka mengkategorikan diri mereka sebagai sebuah
sistem dalam paradigma pembudayaan pendidikan pesantren sesungguhnya
harus dimaknai pembudayaan kepada satuan pendidikan atau program
pendidikan yang terdapat didalamnya, jika pesantren diambil dan sisi
93
94

Choirul Fuad Yusuf, Edukasi Jurnal Penelitian Agama dan Keagamaan,


Ibid.,

81

pendidikannya saja maka satuan atau program pendidikan di pesantren dapat


dibagi menjadi dua: Pertama, Satuan atau program pendidikan yang sudah
ikut aturan pemerintah, misalnya pesantren menyelenggarakan SD, MI, SMA
atau Perguruan Tinggi Umum; Kedua, Satuan atau program pendidikan yang
selama mi tidak mengikuti aturan maupun kunikulum negara, misalnya
madrasah diniyah, kuliyatul muallimin, diniyah salafiyah, majelis taklim, dll.
Majelis Taklim meskipun sebenarnya merupakan dakwah kemasyarakatan
yang sering diselenggarakan pesantren, namun dalam UU Sisdiknas
dimasukkan ke dalam salah satu bentuk pendidikan, yaitu pendidikan
nonformal.95
Dunia pesantren telah berhasil mempertahankan eksistensinya dalam
kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu. Dunia pendidikan pesantren tidak
saja responsife terhadap perubahan sistem yang ada di luarnya, tetapi ia juga
mampu mempertahankan nilai, karakter, dan tradisi pendidikan yang
dianutnya. Sistem pendidikan pesantren menempati posisi strategis dalam
pembangunan budaya bangsa melalui pendidikan pesantren, proses sosialisasi
nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat yang bersumber dari ajaran dapat
berlangsung secara terus-menerus yang pada gilirannya akan menjadi fondasi
bangunan, karakter, dan jati diri bangsa pada saat berhadapan dengan budaya
luar. Dengan pendidikan pesantren yang modern potensi seseorang dapat
dikembangkan secara optimal melalui pengajaran sains dan teknologi,
berbagai keterampilan hidup dan nilai-nilai modrenitas.
95

Muhammad Kholid Fathoni, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Jakarta:


Departemen RI, 2005), 76.

82

Dengan munculnya PP No. 55 Tahun 2007 sangatlah berpihak dan


menguntungkan pesantren karena dalam PP itu mengatur guru atau ustadz dari
pesantren salafiyah yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu diluar
kemampuan bidang keagamaan, keahlian tersebut bisa diakui juga di lembaga
formal atau lembaga-lembaga lainnya.
Dalam

menghadapi

perubahan

zaman,

perkembangan

ilmu

pengetahuan dan teknologi, para kyai yang memimpin pesantren memiliki


pandangan dan sikap yang berbeda., bergantung pada latar belakang
pendidikan yang diperolehnya atau pada kondisi sosial dan geografis di mana
mereka tinggal. Ada sebagian kyai yang mengadopsi sistem pendidikan
modern dan menyesuaikan dengan kondisi dan lingkungan pesantren; dan ada
pula sejumlah kyai yang bertahan dengan sistem yang sudah berjalan selama
ini. Namun pada prinsipnya pandangan mereka hampir dikatakan sama, bahwa
sistem pendidikan di pesantren tetap menggunakan kitab-kitab kuning dan
tidak keluar dan paham Ahius Sunnah wal Jamaah.96
Seiring dengan kemjuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, pesantren telah mengalami pergeseran atau perubahan pada
beberapa aspek. Adapun indikator-indikator pergeseran itu antara lain:
1. Kyai bukan lagi merupakan satu-satunya sumber belajar, dengan semakin
beraneka ragam sumber-sumber belajar baru, dan semakin tingginya
dinamika komunikasi antara sistem pendidikan pesantren dengan sistem
yang lain. Dengan demikian, santri dapat belajar dan banyak sumber.

96

Badri, Pergeseran Lileratur Pesantren Salafiyah, 12.

83

Sejak tahun-tahun terakhir ini banyak buku-buku pembaharuan pemikiran


dalarn Islam yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh para cendekiawan
maupun terjemahan dan buku-buku yang ditulis oleh sarjana-sarjana
muslim luar negeri. Hal ini merupakan sumber belajar baru bagi mereka.
Meskipun demikian, kedudukan kyai di pesantren masih tetap merupakan
tokoh kunci dan menentukan corak pesantren, dan kyai menyadari hal itu,
oleh karena itu ia merestui santrinya belajar apa saja asal tetap pada
aqidah-syariah agama dan berpegang pada moral agama dalam hidup
sehari-hari.
2. Dewasa ini hampir separuh pesantren menyelenggarakan jenis pendidikan
formal, yaitu madrasah, sekolah umum dan perguruan tinggi.
3. Seiring dengan pergeseran-pergeseran tersebut, santri membutuhkan ijazah
dan penguasaan bidang keahlian atau keterampilan yang jelas, dalam era
modern tidak cukup hanya berbekal dengan moral yang baik saja, tetapi
perlu dilengkapi dengan keahlian atau keterampilan yang relevan.
4. Sehubungan

dengan

hal

tersebut,

di

kalangan

santri

terdapat

kecenderungan yang semakin kuat untuk mempelajari sains dan teknologi


pada lembaga-lembaga pendidikan formal, baik di madrasah maupun
sekolah umum.
5. Tantangan dan tuntutan yang dihadapi pesantren menimbulkan terjadinya
pergeseran atau transformasi, balk pada tingkat peranan kyai, sistem

84

klasikal atau madrasah sistem dan metode belajar atau pada sumber belajar
yang terdiri dan kitab-kitab kuning.97
Dalam PP. No. 55 Tahun 2007 disebutkan bahwa pendidikan pesantren
menyelenggarakan pendidikan diniyah secara terpadu dengan jenis pendidikan
lainnya pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah,
dan pendidikan tinggi serta pesantren menyelenggarakan pendidikan dengan
tujuan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak
mulia serta tradisi pesantren untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan
dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli ilmu agama islam
(muttafaqqih fiddin)dan menjadi muslim yang memiliki keterampilan atau
keahlian untuk membangun kehidupan yang islam di masyarakat.
Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam
masih harus terus dikembangkan, karena diakui bahwa pesantren adalah satusatunya lembaga pendidikan keagamaan terdepan yang telah melahirkan
kader-kader ulama dan tokoh masyarakat. Keberadaan pesantren sebagai pusat
kaderisasi ulama di negeri ini harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan,
sejalan arus perubahan zaman yang begitu cepat. Pesantren dituntut untuk
mampu melakukan berbagai inovasi agar dapat melahirkan sosok ulama yang
mampu berkomunikasi dengan zamannya, artinya pesantren harus terbuka
terhadap berbagai perkembangan yang kian cepat perputarannya, begitu juga
eksistensi pesantren menjadi istimewa karena ia menjadi pendidikan alternatif
(penyeimbang) dan pendidikan yang dikembangkan oleh kaum kolonial

97

Ibid., 13-14.

85

(Barat) yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Pesantren menjadi
tempat berlabuh umat Islam yang tersingkir.

C. Analisa Implikasi PP No 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan


Pendidikan Keagamaan Terhadap Perkembangan Sistem Pendidikan
Pesantren
Dalam pendidikan yang disesuaikan dengan PP No. 55 Tahun 2007
membawa pengaruh terhadap perkembangan pesantren yang mana pendidikan
yang akan diberikan disesuaikan dengan perkembangan zaman, selain itu juga
sangat berpihak dan menguntungkan pesantren.
Dewasa mi kita telah melihat dan merasakan perubahan yang dahsyat
baiki bagi orang tua maupun munid tentang pendidikan pesantren karena
sebagai lembaga pendidikan, sistem dan metodologi pengajarannya yang
diterapkan di pesantren sangat unik dan semakin han semakin banyak
peminatnya karena dalam pendidikannya membawa dampak yang sangat
tinggi untuk masa depan dengan adanya pendidikan diniyah (Madrasah) yang
sudah di formalkan.
Pondok pesantren termasuk pendidikan khas Indonesia yang tumbuh
berkembang ditengah-tengah masyarakat serta telah teruji kemandiriannya
sejak berdirinya sampai sekarang. Pada awalnya, bentuk pendidikan pesantren
masih sangat sederhana. Setelah itu dalam perkembangannya, pesantren
menjelma sebagai lembaga sosial yang memberikan warna khas bagi
perkembangan masyarakat sekitarnya. Perannya pun berubah menjadi agen

86

pembaharuan dan agen pembangunan masyarakat sekalipun demikian apapun


usaha yang dilakukan pesantren tetap saja yang menjadi khiftah berdirinya dan
tujuan utamanya yaitu tafaqqih fiddin.98
Perkembangan dunia telah melahirkan suatu kemajuan zaman yang
modern. Perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosiao-kultural
seringkali membentur pada aneka kemampuan dan berakibat pada keharusan
untuk mengadakan usaha kintekstualisasi bangtinan-bangunan sosio-kultural
dengan dinamika modernisasi, tak terkecuali dengan sistem pendidikan
pesantren, karena itu sistem pendidikan pesantren harus selalu melakukan
upaya rekonstruksi pemahaman tentang ajaran-ajarannya agar tetap relevan
dan survive.
Secara budaya (pendidikan) akibat perlakuan diskriminatif penjajah,
kini perkembangan

pesantren

dengan

sistem

pendidikannya

mampu

menyejajarkan diri dengan pendidikan pada umumnya, bahkan di pesantren


sudah dibuka sekolah umum (selain madrasah) sebagaimana layaknya
pendidikan umum lainnya. Kedua model pendidikan (Sekolah dan Madrasah)
sama-sama berkembang di pesantren. Kenyataan mi menjadi asset yang luar
biasa baik bagi perkembangan pendidikan pesantren maupun pendidikan
nasional pada masa yang akan datang, dan ini diharapkan tumbuh kaum
intelektual yang berwawasan luas dengan landasan spiritual yang kuat.
Pandangan mereka tentang pendidikan pesantren sebenarnya sama
halnya dengan sekolah-sekolah pada umumnya hanya saja karena pendidikan

98

Badri, Pergeseran Lileratur Pesantren Salafiyah, 3.

87

pesantren mutu pendidikannya lebih terjamin maka mereka lebih tertarik


untuk masuk ke dalamnya, posisi sekolah pada saat ini sebenarnya juga masih
banyak peminatnya hanya saja mungkin dalam sekolah hanya terdapat 10%
ilmu agamanya. Jika dibandingkan dengan madrasah diniyah sangatlah jauh
mutunya. Hal ini sebagaimana yang teratur dalam PP. No. 55 tahun 2007.
Dengan demikian kita bisa melihat sebagimana kemajuan pendidikan
di pesantren tanpa harus bersekolah di sekolah umum karena ijazahnya dapat
digunakan untuk mendaftarkan dalam jenjang yang lebih tinggi.

88

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Eksistensi sistem pendidikan pesantren sebelum PP No. 55 tahun 2007
tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan yaitu pesantren
memperbarui mutu pendidikannya dengan melakukan suatu inovasi dalam
pengembangan dan pengelolaan suatu sistem, karena dalam pendidikannya
tidak mengenal lama belajar dalam waktu tertentu untuk menempuh proses
belajarnya dan masih menggunakan sistem sorogan, wetonan dan
gandongan sehingga dengan semakin berkembangnya zaman, pendidikan
pesantren memperbarui perkembangannya dengan sistem klasikal.
2. Eksistensi sistem pendidikan pesantren menurut PP No 55 tahun 2007
tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan semakin terangkai
dengan baik. Adanya madrasah diniyah, sumber belajar pendidikan dan
sarana prasarana semakin baik. Begitu pula kurikulumnya sudah
ditetapkan serta mengatur guru atau ustadz dari pesantren yang memiliki
keahlian dalam bidang tertentu diluar kemampuan dibidang keagamaan,
keahlian tersebut dapat diakui juga di lembaga formal atau lembagalembaga lainnya.
3. Implikasi PP No 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan terhadap perkembangan pendidikan pesantren adalah kini
pemerintah sudah mampu mensejajarkan diri dengan pendidikan pada

85

89

umumnya yaitu dengan hanya menggunakan ijazah pendidikan madrasah


diniyah dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi contohnya
STAIN, IAIN tanpa mengikuti pendidikan umum lainnya.

B. Saran
Sebaiknya

keberadaan

pesantren

sebagai

lembaga

pendidikan

keagamaan Islam masih harus dikembangkan karena diakui bahwa pesantren


adalah satu-satunya lembaga pendidikan keagamaan terdepan yang telah
melahirkan kader-kader ulama dan tokoh masyarakat. Begitu juga hebdaknya
mengikuti prosedur dan perintah untuk menerapkan program PP No 55 tahun
2007.

90

DAFTAR PUSTAKA

Ala M. Dian Nafi Abd. Dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta:


LKIS Pelangi Aksara, 2007.
Ahmadi, Abu. Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Aditya Media, 1992.
Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat
Pers, 2002.
Arifin, Muzayyin. Kapita Selekta Pendidikan Islam Edisi Refisi. Jakarta: Bumi
Aksara, 2007.
Arikunto, Suharsimi. Posedur Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta, 1992.
Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium
Baru. Jakarta: Raja Grafindo Press, 1999.
Badri. Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah. Jakarta: Puslitbang Lektur
Keagamaan, 2007.
Daulay, Haidar Putra. Historisasi dan Eksistensi Pesantren Sekolah dan
Madrasah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001.
Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES, 1994.
Djaelani, Timur. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Perguruan
Tinggi Agama. Jakarta: Dermaga, 1982.
Djamaludin. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Effendy, Bahtiar. Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik Islam. Jakarta:
Paramadina, 1998.
Fathoni, Muhammad Kholid. Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional. Jakarta:
Departemen RI, 2005.
Ghazali, Muhammad Bahri. Pesantren Berwawasan Lingkungan. Jakarta:
Prasasti, 2002.
Haedari, Amin. Masa Depan Pesantren. Jakarta: IRD Press, 2006.
. Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jakarta: Diva Pustaka, 2006.

91

. Amin. Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah


Diniyah. Jakarta: Diva Pustaka, 2006.
Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah
Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: Raja Grafindo Press, 1999.
Khozin. Jejak-Jejak Pendidikan Islam Di Indonesia. Malang: UMM, 256.
Mahmud. Model Pembelajaran di Pesantren. Solo: Mitra Fajar Indonesia, 2006.
Malik, Fadjar. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta, Dadjar Dunia, 1999.
. Fadjar. Sintesa Antara Perguruan Tinggi dan Pesantren Upaya
Menghadirkan Wacana Pendidikan Alternatif Dalam Bilik-Bilik
Pesantren. BAndung: Pustaka Setia, 1998.
Malik, Jamaludin. Pemberdayaan Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pesantren,
2005.
Masdar, Umaruddin. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien Rais tentang
Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Mulkhan, Abdul Munir. Nalar Spiritual Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana,
2002.
Nata, Abuddin. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga
Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo, 2001.
Nawawi, Hadari. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pers,
1994.
PP. No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan agama dan Pendidikan keagamaan,
12-13
Suwandi. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada,. 2009.
Syarif, Musthofa. Administrasi Pesantren. Jakarta: Paryu Barkah, 1982.
Tafsir dkk. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Media
Transformasi Pengetahuan, 2004.
Thoha, Chabib. PBM-PAI di Sekolah Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
Semarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Yasmadi. Modern Pesantren. Jakarta: Ciputat Press, 2002.

92

Zamakhsyari, Dhofier. Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta:


LP3ES, 1994.
http://amfatwa.com/index.php?dir=pemikiran&file=detail&id=126.
http://pesantren kranji.net/situs/index.php?option=com-content dan task=view dan
id=53 dan itemid=1.
http://www.hariankomentar.com/arsip.arsip2007/nov.20/IkMIM001.html.
http://www.pesantren.virtual.com/index.php/seputar-pesantren/1160-masa-depanpesantren.
http://www. Pondok Pesantren.com/content/70.
http://www.pk-syahtera.org/v2/main.php?op=isi dan id : 2948
http://www.reformata.com/index.pht/M=Meweda=Viewdidi=257&print=1.
http://www.Suaramerdeka.com/harian/0501/071.