Anda di halaman 1dari 44

Proposal Penelitian

ANALISIS POLA KEMITRAAN TERHADAP


PENDAPATAN USAHATANI SAYURAN ORGANIK

Oleh :
Lia M. Rahmah
1111092000080

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan
penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi di Indonesia. Hal ini
dikarenakan sektor pertanian adalah sumber mata pencaharian utama dari
sebagian besar masyarakat Indonesia. Penduduk Indonesia yang bekerja pada
sektor pertanian pada tahun 2014 mencapai 38,9 juta jiwa.
Sektor pertanian yang menjadi pusat perhatian salah satunya adalah
tanaman hortikultura. Kontribusi hortikultura terhadap manusia dan lingkungan
cukup besar. Manfaat produk hortikultura bagi manusia diantaranya adalah
sebagai sumber pangan dan gizi, pendapatan keluarga, pendapatan negara,
sedangkan bagi lingkungan adalah rasa estetikanya, konservasi genetik sekaligus
sebagai penyangga kelestarian alam. (Sumeru Ashari, 1995)
Kendala usahatani hortikultura di beberapa negara berkembang, termasuk
Indonesia, adalah rendahnya nilai pendapatan petani, keterbatasan lahan yang
dimiliki petani dan posisi penawaran pada pihak petani yang kurang kuat. Hal
tersebut menyebabkan rendahnya nilai keuntungan yang diperoleh petani.
(Sumeru Ashari, 1995)
Pola produksi dan distribusi produk hortikultura pada umunya masih
tergantung pada musim, karena penawaran hasil pada musim panen biasanya jauh
lebih besar dibandingkan dengan permintaan. Dalam keadaan hal seperti ini posisi
tawar

menawar

petani

masih

kalah,

sehingga

berpengaruh

terhadap

pendapatannya. Selanjutnya sistem pemasaran hortikultura masih belum efisien.

Hal ini dapat dilihat dari tingkat harga penjualan pada tingkat petani yang sangat
rendah dibandingkan dengan harga yang ada pada tingkat konsumen. Perbedaan
harga yang tinggi disebabkan karena tingginya biaya produksi (angkut, susut atau
rusak) yang cukup besar dan sebagainya. (Sumeru Ashari, 1995)
Bentuk alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut salah satunya
ialah dengan cara melalui pengembangan kemitraan usaha antara pengusaha besar
(kuat) dengan pengusaha kecil (lemah). Kemitraan ini diharapkan dapat memacu
dan

memicu

pertumbuhan

ekonomi

sekaligus

mendorong

pemerataan

kesejahteraan, penyerapan tenaga kerja, pendapatan masyarakat dan pertumbuhan


ekonomi regional (wilayah). (Mohammad Hafsah Jafar, 1999)
Keuntungan sistem kemitraan ini antara lain adalah kendala-kendala yang
ada seperti posisi tawar menawar yang rendah pada posisi petani dapat menjadi
lebih tinggi dengan adanya jaminan pasar oleh perusahaan. Sedangkan kendala
lain seperti perbedaan harga yang tinggi pada tingkat petani dan konsumen karena
tingginya biaya produksi dapat dikurangi dengan adanya kemitraan ini.
Komoditi hortikultura yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan
adalah sayuran. Potensi tersebut meliputi nilai ekonomi, kandungan nutrisi yang
lebih tinggi dan kemampuan menyerap tenaga kerja yang lebih tinggi. Sayuran
merupakan salah satu pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat hampir setiap
hari karena sayuran merupakan sumber protein, vitamin, mineral dan serat yang
berguna bagi kesehatan tubuh. Banyaknya manfaat sayuran ini menyebabkan
sayuran menjadi bagian dari komoditas hortikultura yang terus diproduksi.
(Firman Kamil Rachman, 2011)

Tabel 1. Perkembangan Luas Panen, Produksi Sayuran di Indonesia Tahun 20112014


Tahun
2011
2012
2013
2014

Luas Panen (Ha)


1027354
1032660
1048760
1048754

Produksi (Ton)
10356177
10754207
11062614
11283711

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015

Pada tahun 2011 luas panen sayuran Indonesia sebesar 1.027.354 Ha.
Sedangkan tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 1.032.660 Ha. Pada tahun
2013 mengalami peningkatan menjadi 1.048.760 Ha. Sedangkan pada tahun 2014
luas panen sayuran Indonesia mengalami penurunan sebesar 6 Ha menjadi
1.048.754 Ha. Produksi sayuran di Indonesia dari tahun 2011 sampai 2014
mengalami peningkatan, pada tahun 2011 produksi sayuran di Indonesia sebesar
10.356.177 ton. Pada tahun 2012 sebesar 10.754.207 ton, tahun 2013 dan 2014
masing masing sebesar 11.062.614 ton dan 11.283.711 ton.
Pertanian organik adalah salah satu alternatif budidaya sayuran yang
diusahakan, karena pertanian organik banyak memberikan keuntungan, baik itu
ditinjau dari segi peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan produksi tanaman
maupun ternak serta dari lingkungan dalam mempertahankan keseimbangan
ekosistem. Disamping itu, dari segi ekonomi akan lebih menghemat devisa negara
untuk ekspor pupuk, bahan kimia pertanian, serta banyak kesempatan lapangan
kerja dan meningkatkan pendapatan petani. (Susanto, 2002:24)
Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kemitraan ini adalah dapat
meningkatkan pendapatan petani, menambah pengetahuan bagi para petani dan
memberikan jaminan pasar yang pasti untuk hasil produksi yang diusahakan. Bagi

perusahaan diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar. Informasi pasar dan


kepastian pasar melalui kemitraan antara petani dengan perusahaan sangat penting
untuk memperoleh kepastian harga, kualitas dan kuantitas produk yang diinginkan
oleh perusahaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penieliti tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai pola kemitraan yang digunakan Dompet Dhuafa
Indonesia dengan petani mitra, faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
pendapatan petani tersebut serta pendapatan yang diperoleh petani yang
melakukan kemitraan dengan Dompet Dhuafa.
1.2.

Rumusan Masalah
Berkaitan dengan latar belakang yang diuraikan diatas, maka yang menjadi
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pola kemitraan yang terjalin antara petani sayuran organik
dengan Dompet Dhuafa?
2. Faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap tingkat pendapatan
petani sayuran organik yang melakukan kemitraan dengan Dompet Dhuafa?
3. Bagaimana pendapatan petani sayuran organik yang melakukan kemitraan
dengan Dompet Dhuafa?
4. Bagaimana pendapatan petani mitra sayuran organik Dompet Dhuafa
dengan pendapatan petani mandiri sayuran organik?

1.3.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengidentifikasi pola kemitraan yang dilaksanakan oleh petani


sayuran organik dengan Dompet Dhuafa
2. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan
petani sayuran organik yang melakukan kemitraan dengan Dompet Dhuafa
3. Untuk menghitung pendapatan petani sayuran organik yang melakukan
kemitraan dengan Dompet Dhuafa
4. Untuk menganalisis pendapatan petani mitra sayuran organik Dompet
Dhuafa dengan pendapatan petani mandiri sayuran organik
1.4.

Manfaat Penelitian
Berkaitan dengan tujuan penelitian diatas, manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini adalah:
1. Bagi perusahaan dan petani sayuran organik, sebagai salah satu bahan
informasi, masukan dan evaluasi bagi Dompet Dhuafa dan juga petani
sayuran organik dalam mengembangkan usaha budidaya sayuran organik.
2. Bagi penulis, sebagai proses pembelajaran dalam melakukan suatu
penelitian. Selain itu, penelitian ini ditujukan untuk menyelesaikan skripsi
yang merupakan syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.
3. Bagi pembaca, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
masukan dan informasi mengenai usaha budidaya sayuran organik serta
sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.

1.5.

Batasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada petani mitra sayuran organik di Dompet
Dhuafa. Selain itu, penelitian ini hanya menjelaskan tentang pola kemitraan yang

dilakukan oleh petani sayuran organik dengan Dompet Dhuafa, faktor-faktor yang
mempengaruhi pendapatan usahatani petani mitra sayuran organik Dompet
Dhuafa dan menghitung pendapatan usahatani sayuran organik tersebut, apakah
usahatani sayuran organik ini menguntungkan atau tidak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pertanian Organik
2.1.1. Pengertian Pertanian Organik
Ada dua pemahaman tentang pertanian organik, yaitu dalam arti
sempit dan dalam arti luas. Pertanian organik dalam arti sempit yaitu
pertanian yang bebas dari bahan-bahan kimia. Mulai dari perlakuan untuk
mendapatkan benih, penggunaan pupuk, pengendalian hama dan penyakit,
sampai perlakuan pasca panen tidak sedikitpun melibatkan zat kimia,
semua harus bahan hayati, alami. Sedangkan pertanian organik dalam arti
yang luas adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahanbahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia
sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan
aditif pakan). Dengan tujuan untuk menyediakan produk-produk pertanian
(terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan
konsumen serta menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus
alaminya. (Salim Hardjo Sumarna, 2011)
Konsep awal pertanian organik yang ideal adalah menggunakan
seluruh input yang berasal dari dalam pertanian organik itu sendiri, dan
dijaga hanya minimal sekali input dari luar atau sangat dibatasi. (FG
Winarno 2002 dalam Salim Hardjo Sumarna, 2011)

2.1.2. Prinsip Pertanian Organik


Menurut Salim Hardjo Sumarna (2011) prinsip-prinsip pertanian
organik didasarkan pada :
a. Prinsip Kesehatan
Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan
kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu
kesatuan dan tak terpisahkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa
kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari
kesehatan ekosistem, tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman
sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia. Secara
khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan
bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan
dan kesejahteraan.
b. Prinsip Ekologi
Prinsip ekologi meletakkan pertanain organik dalam sistem
ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan
pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan
diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus;
sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan
membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut
membutuhkan lingkungan perairan. Budidaya pertanain, peternakan
dan pemanenan produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan

keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal


tetapi pengoperasiannya bersifat spesifiklokal. Pengelolaan organik
harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal.
Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai
kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan-bahan dan
energi secara efisien guna memelihara, meningkatkan kualitas dan
melindungi sumber daya alam.
c. Prinsip Keadilan
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu
menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup
bersama. Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam
pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk
memastikan adanya kedilan bagi semua pihak di segala tingkatan;
seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen.
Sumber daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk
produksi dan konsumsi harus dikelola dengan cara yang adil secara
sosial dan ekologis, dan dipelihara untuk generasi mendatang.
Keadilan memerlukan sistem produksi, distribusi dan perdagangan
yang terbuka, adil, dan mempertimbangkan biaya sosial dan
lingkungan yang sebenarnya.
d. Prinsip Perlindungan
Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan
bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan

generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup. Prinsip ini


menyatakan bahwa pencegahan dan tanggung jawab merupakan hal
mendasar dalam pengelolaan, pengembangan dan pemilihan teknologi
di pertanian organik. Ilmu pengetahuan diperlukan untuk menjamin
bahwa pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah
lingkungan. Tetapi pengetahuan ilmiah saja tidak cukup, seiring waktu
pengalaman praktis yang dipadukan dengan kebijakan dan kearifan
tradisional menjadi solusi tepat. Pertanian organik harus mampu
mencegah terjadinya risiko merugikan dengan menerapkan teknologi
tepat guna dan menolak teknologi yang tak dapat diramalkan
akibatnya, seperti rekayasa genetika. Segala keputusan harus
mempertimbangkan nilai-nilai dan kebutuhan dari semua aspek yang
mungkin dapat terkena dampaknya, melalui proses-proses yang
transparan dan artisipatif.
2.1.3. Keuntungan dan Kelemahan Pertanian Organik
Menurut Pracaya (2004), penerapan sistem pertanian organik
memiliki keuntungan dan kelemahan dalam pelaksanaannya. Keuntungan
dari pertanian organik adalah sebagai berikut:
a. Penerapan pertanian organik memungkinkan keseimbangan tanah
terjaga karena tidak adanya penggunaan pupuk buatan pabrik dan
pestisida maupun bahan kimia lainnya, misalnya dengan penggunaan
pupuk organik seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan sisa tanaman.

b. Tanpa penggunaan pupuk dan pestisida sintetis akan dapat menghemat


biaya operasional.
c. Menghindari pemakaian pestisida secara berlebihan akan dapat
mengurangi risiko keracunan zat pembasmi hama penyakit dan
masyarakat dapat mengkonsumsi makanan yang lebih sehat.
d. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan jaminan kesehatan produk
pertanian sehingga menaikkan jumlah yang ingin dibayar terhadap
komoditi tersebut, hal ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan
petani.
Disisi lain terdapat kelemahan dalam penetapan pertanian
organik, antara lain :
a. Membutuhkan pengelolaan yang cukup rumit.
b. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat melihat hasilnya.
c. Pada awal pengolahan dengan sistem ini membutuhkan biaya yang
cukup besar.
Kelemahan-kelemahan tersebut dapat diminimalisir melalui
upaya penyuluhan dan pendidikan kepada para petani tentang tehnik
budidaya yang lebih efisien. Salah satu contohnya adalah peningkatan
efisiensi pupuk yang dapat mengurangi pemakaian pupuk dan biaya
produksi lainnya.
2.2.

Sayuran Organik

2.2.1. Pengertian Sayuran Organik


Sayuran organik adalah sayuran yang dibudidayakan secara
alami tanpa ada bantuan bahan kimia. Karena itu sayuran organik bebas
dari berbagai zat kimia. Bebas dari zat kimia berarti dari dibukanya lahan,
pemberian pupuk, pemillihan bibit, proses tanam, pemeliharaan dan
pembasmian hama sampai pengemasan pascapanen tidak menggunakan
zat kimia.
Pupuk yang diberikan untuk sayuran berasal dari pupuk organik,
seperti kompos atau pupuk kandang, bukan pupuk kimia. Pembasmian
hama juga tidak menggunakan pestisida dari bahan kimia. Tidak ada suntik
hormon agar cepat tumbuh, juga tidak ada pengawet ketika sayur dikemas
untuk dijual.
2.2.2. Manfaat Sayuran Organik
Mengkonsumsi sayuran organik banyak manfaatnya bagi tubuh,
dikutip dari www.pusatorganik.co.id berikut ini adalah beberapa manfaat
sayuran organik :
a. Lebih enak, segar dan tidak cepat busuk.
Sayuran organik rasanya lebih manis, renyah dan segar. Hal
ini disebabkan kandungan air dalam sayuran tidak terlalu banyak.
Selain itu, kandungan air yang sedikit dibandingkan dengan sayuran
non organik membuat sayuran organik ini lebih tahan lama dari proses

pembusukan. Dan tentu saja alasan utamanya adalah karena makanan


itu dihasilkan dengan sarana produksi alami.
b. Lebih bergizi dan sehat.
Sayuran organik tidak dibentuk menggunakan pupuk kimia,
pestisida kimia serta baahn kimia lain sehingga tidak merugikan tubuh
manusia. Beberapa studi menunjukkan bahwa sayuran dan buah
organik (misalnya beras, tomat, kubis, bawang dan selada organik)
mengandung lebih banyak nutrisi seperti vitamin, magnesium, fosfor,
zinc, dan zat besi. Sayuran organik memiliki kandungan gizi yang
lebih tinggi seperti kandungan mineral dibandingkan sayuran non
organik.
c. Tidak mengandung zat kimia yang bebahaya bagi tubuh manusia.
Manfaat

sayuran

organik

ini

untuk

mencegah

atau

mengurangi masuknya zat-zat kimia dari pupuk buatan maupun


pestisida dalam sayuran ke tubuh. Residu atau endapan dari zat kimia
dapat membahayakan dan menyebabkan berbagai penyakit seperti
kanker.
d. Menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan semakin bertambahnya berbagai pencemaran akhirakhir ini membuat produksi bahan makanan secara organik telah
membantu menjaga dan mengembalikan lingkungan dari polusi tanah,

air dan udara sehingga menciptakan dunia yang aman bagi kehidupan
generasi mendatang.
2.2.3. Pola Tanam Sayuran Organik.
Menurut Salim Hardjo Sumarna (2011), penanaman secara
organik dapat dilakukan dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan
sistem polikultur. Dari kedua sistem ini polikultur paling banyak
digunakan karena memiliki banyak kelebihan yaitu :
a. Mengurangi hama dan penyakit tanaman.
b. Menambah kesuburan tanah.
c. Memperoleh hasil yang beragam.
d. Memutuskan siklus hidup hama dan penyakit.
Dalam bertanam secara polikultur dikenal beebrapa istilah
yang hampir sama yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada
satu lahan, antara lain :
a. Tumpang gilir (Multiple Cropping) : Menanam lenih dari satu
tanaman pada lahan yang sama daalm satu tahun untuk
memperoleh lebih dari satu hasil panenan.
b. Tanaman pendamping (Companion Planting) : Menanam lebih dari
satu tanaman dalam satu bedeng sebagai pendamping jenis tanaman

lain dengan tujuan saling melengkapi kebutuhan fisik dan unsur


hara.
c. Tanaman campuran (Mixed Cropping) : Menanam lebih dari satu
jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang sama.
d. Tumpangsari (Intercropping dan Interplanting) : menanam lebih
dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang
sama dengan baris yang teratur.
e. Penanaman lorong (Allay Cropping) : Menanam tanaman berusia
pendek bersama tanaman yang ebrusia tahunan dengan tujuan
supaya meningkatkan nitrogen dalam tanah, mengurangi gulma,
mencegah erosi, meningkatkan penyerapan air tanah dan
meningkatkan kelembapan tanah.
f. Pergiliran tanaman (Rotasi Tanaman) : Menanam jenis tanaman
famili yang berbeda secara bergantian dengan tujuan memutuskan
siklus hama dan penyakit.
2.3.

Kemitraan
2.4.1. Pengertian Kemitraan
Kemitraan merupakan strategi bisnis yang dilakukan oleh dua
pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu, untuk meraih keuntungan
bersama, dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan.
Kemitraan merupakan strategi bisnis yang keberhasilannya sangat

ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara pihak yang bermitra dalam


menjalankan etika bisnis, dalam konteks ini, pelaku-pelaku yang terlibat
langsung dalam kemitraan tersebut, harus memiliki dasar-dasar etika bisnis
yang dipahami bersama dan dianut bersama, sebagai titik tolak dalam
menjalankan kemitraan. Hal ini erat kaitannya dengan peletakan dasardasar moral berbisnis bagi pelaku-pelaku kemitraan. (Soemardjo, 2004)
Menurut Haeruman (2001), secara ekonomi kemitraan dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. Esensi kemitraan terletak pada kontribusi bersama, baik berupa tenaga
(labour) maupun benda (property) atau keduanya untuk tujuan
kegiatan ekonomi. Pengendalian kegiatan dilakukan bersama dan
pembagian keuntungan dan kerugian didistribusikan diantara mitra.
b. Partnership adalah suatu asosiasi yang terdiri dari dua orang atau
usaha yang sama-sama memiliki sebuah peran dengan tujuan untuk
mencari laba.
c. Kemitraan adalah suatu persekutuan dari dua orang atau lebih sebagai
pemilik bersama yang menjalankan suatu bisnis mencari keuntungan.
d. Suatu kemitraan adalah suatu perusahaan dengan sejumlah pemilik
yang menikmati bersama keuntungan-keuntungan dari perusahaan dan
masing-masing menanggung liabilitas yang tidak terbatas atas hutanghutang perusahaan.
2.4.2. Konsep Kemitraan

Konsep formal kemitraan yang tercantum dalam undang-undang


No. 9 Tahun 1995 menyatakan, kemitraan adalah kerjasama antara usaha
kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar dengan
memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling
menguntungkan. Konsep tersebut diperkuat pada peraturan pemerintah No.
44 Tahun 1997 yang menerangkan bahwa bentuk kemitraan yang ideal
adalah saling memperkuat, saling menguntungkan dan saling menghidupi.
(Sumardjono dkk, 2004)
2.4.3. Manfaat Kemitraan
Manfaat kemitraan menurut Mohammad Jafar dalam bukunya
Kemitraan Usaha: Konsepsi dan Strategi (1999) adalah sebagai berikut :
2.4.3.1.

Produktivitas
Pihak

perusahaan

kecil

atau

petani

dapat

pula

meningkatkan produktivitasnya dengan cara mengurangi atau


menekan faktor input, hal ini dapat terjadi pada faktor input yang
dapat digunakan secara bersama, seperti halnya alat pengolahan
tanah menggunakan traktor milik kelompok, memberantas hama
penyakit, biaya pemeliharaan irigasi, biaya pengangkutan sarana
produksi dan hasilnya per unit apabila dilakukan dalam jumlah
besar, penggudangan, menjual secara bersama dan lainnya.
2.4.3.2.

Efisiensi

Efisiensi dan produktivitas sama halnya seperti mata uang


dengan sisi yang berbeda keduanya dapat ditingkatkan dengan
meminimalkan pengorbanan (input). Dalam hal efisiensi input
tersebut dapat berbentuk waktu dan tenaga. Penerapannya dalam
kemitraan, perusahaan besar dapat menghemat tenaga dalam
mencapai target tertentu dengan menggunakan tenaga kerja yang
dimiliki oleh perusahaan yang kecil. Sebaliknya, perusahaan yang
lebih kecil yang umumnya relatif lemah dalam kemampuan
teknologi dan sarana produksi, dengan bermitra akan dapat
menghemat waktu produksi melalui teknologi dan sarana produksi
yang dimiliki oleh perusahaan besar.
2.4.3.3.

Jaminan Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas


Dalam hal mutu bagi perusahaan besar sering kali harus

menghadapi dilema trade off antara kualitas dan kuantitas, artinya


apabila ingin ditingkatkan kuantitas produksi maka di sisi lain
biasanya menerima risiko dengan menurunkan kualitas produksi.
Hal ini terjadi akibat tidak semua rantai produksi berada
sepenuhnya dalam kontrol perusahaan secara terus-menerus. Di sisi
lain bagi perusahaan kecil dilema yang sama juga terjadi terutama
pada tahap kegiatan bermitra, dengan kondisi yang sebaliknya
yaitu mengorbankan kualitas produksi untuk memperoleh kualitas
yang lebih baik. Namun untuk selanjutnya dengan adanya jaminan
mutu,

perusahaan

kecil

atau

petani

dapat

meningkatkan

pendapatannya karena adanya jaminan penyerapan hasil produksi


oleh pasar sepanjang memenuhi standar mutu yang telah
disepakati.
2.4.3.4.

Risiko
Setiap kegiatan bisnis atau usaha selalu ada risiko. Bahkan

satu norma yang dianut oleh dunia usaha bahwa keuntungan atau
kesuksesan yang besar biasanya mengandung konsekuensi risiko
yang besar pula. Dengan kemitraan diharapkan risiko yang besar
dapat ditanggung bersama (risk sharing). Tentunya pihak-pihak
yang bermitra akan menanggung risiko secara proposional sesuai
dengan besarnya modal dan keuntungan yang akan diperoleh.
2.4.3.5.

Sosial
Dengan kemitraan usaha bukan hanya memberikan

dampak positif dengan saling menguntungkan melainkan dapat


memberikan dampak sosial (social benefit) yang cukup tinggi. Ini
berarti negara terhindar dari kecemburuan sosial yang bisa
berkembang menjadi gejolak sosial akibat ketimpangan. Dengan
kemitraan pula dapat menghasilkan persaudaraan antar pelaku
ekonomi yang berbeda status.
2.4.3.6.

Ketahanan Ekonomi Nasional

Dengan adanya peningkatan pendapatan yang diikuti


tingkat kesejahteraan dan sekaligus terciptanya pemerataan yang
lebih baik otomatis akan mengurangi timbulnya kesenjangan
ekonomi antar pelaku yang terlibat dalam kemitraan usaha yang
pada gilirannya mampu meningkatkan ketahanan ekonomi secara
nasional.
2.4.4. Maksud dan Tujuan
Pada dasarnya maksud dan tujuan dari kemitraan adalah Win
Win Solution Partnership. Kesadaran dan saling menguntungkan di sini
tidak berarti para partisipan dalam kemitraan tersebut harus memiliki
kemampuan dan kekuatan yang sama, tetapi yang lebih dipentingkan
adalah adanya posisi tawar yang setara berdasarkan peran masing-masing.
Ciri dari kemitraan usaha terhadap hubungan timbal-balik bukan sebagai
buruh-majikan atau atasan-bawahan sebagai adanya pembagian risiko dan
keuntungan yang proporsional, di sinilah kekuatan dan karakter kemitraan
usaha. (Mohammad Jafar, 1999)

2.4.5. Bentuk-Bentuk Pola Kemitraan


Bentuk-bentuk pola kemitraan yang banyak dilaksanakan
(Departemen Pertanian, 2002), yakni :
2.4.5.1.

Inti Plasma

Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra


dengan perusahaan mitra, yang didalamnya perusahaan mitra
bertindak sebagai inti dan kelompok mitra sebagai plasma.
Syarat-syarat untuk kelompok mitra antara lain :
a. Berperan sebagai plasma.
b. Mengelola seluruh usaha budidaya sampai dengan panen.
c. Menjual hasil produksi kepada perusahaan mitra.
d. Memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan persyaratan
yang telah disepakati.
Syarat-syarat perusahaan mitra, antara lain :
a. Berperan sebagai perusahaan inti.
b. Menampung hasil produksi.
c. Membeli hasil produksi.
d. Memberi bimbingan teknis dan pembinaan manajemen kepada
kelompok mitra.
e. Memberi

pelayanan

kepada

kelompok

mitra

berupa

permodalan atau kredit, saprodi, dan teknologi.


f. Mempunyai usaha budidaya pertanian atau memproduksi
kebutuhan perusahaan.
g. Menyediakan lahan.

2.4.5.2.

Subkontrak
Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra
dengan perusahaan mitra, yang didalamnya kelompok mitra
memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai
bagian dari produksinya.
Syarat-syarat kelompok mitra antara lain sebagai berikut :
a. Memproduksi kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra
sebagai bagian dari komponen produksinya.
b. Menyediakan tenaga kerja.
c. Membuat kontrak bersama yang mencantumkan volume,
harga, dan waktu.
Syarat-syarat perusahaan mitra antara lain adalah :
a. Menampung dan membeli komponen produksi perusahaan
yang dihasilkan oleh kelompok mitra.

b. Menyediakan bahan baku atau modal kerja.


c. Melakukan kontrol kualitas produksi.

2.4.5.3.

Dagang Umum
Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra
dengan perusahaan mitra dengan perusahaan mitra memasarkan
hasil produksi kelompok mitra atau kelompok mitra memasok
kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra. Syarat-syarat
kelompok mitra yaitu memasok kebutuhan yang diperlukan
perusahaan

mitra.

Syarat-syarat

perusahaan

memasarkan hasil produksi kelompok mitra.

mitra

yakni

2.4.5.4.

Keagenan
Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra
dengan perusahaan mitra, yang didalamnya kelompok mitra diberi
hak khusus untuk memasarkan barang atau jasa usaha perusahaan
mitra. Syarat-syarat kelompok mitra yaitu mendapatkan hak khusus
untuk memasarkan barang dan jasa usaha perusahaan mitra,
sedangkan perusahaan mitra tidak mempunyai syarat.

2.4.5.5.

Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)

Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra


dengan perusahaan mitra, yang didalamnya kelompok mitra
menyediakan lahan, sarana dan tenaga. Perusahaan mitra
menyediakan

biaya

atau

modal

dan

atau

sarana

untuk

mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditi pertanian.


Syarat kelompok mitra pada pola ini adalah menyediakan lahan,
sarana dan tenaga kerja, sedangkan syarat perusahaan mitra yaitu
menyediakan biaya, modal, dan teknologi untuk mengusahakan
atau membudidayakan pertanian.

2.4.5.6.

Pola Lainnya Seperti Pola Kemitraan (Penyertaan) Saham


Merupakan kemitraan usaha agribisnis yang dilakukan
dengan penandatanganan perjanjian. Perjanjian kemitraan pola ini
mencakup jangka waktu, hak dan kewajiban dalam melaporkan
risiko pelaksanaan kemitraan kepada instansi teknis di daerah,
pembagian risiko penyelesaian apabila terjadi perselisihan, serta
hal-hal lainnya yang memberikan kepastian hukum bagi kedua
belah pihak. Hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan

menengah

dan

usaha

besar

dilaksanakan

dengan

disertai

pembinaan dengan pengembangan dalam salah satu atau lebih


bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber
daya manusia dan teknologi.
2.4.

Teori Produksi
Menurut Soekartawi (1995), istilah faktor produksi sering disebut pula
dengan korbanan produksi karena faktor produksi tersebut dikorbankan untuk
menghasilkan produksi. Untuk menghasilkan suatu produk, maka diperlukan
pengetahuan hubungan antara faktor produksi (input) dan produk (output).

2.5.

Teori Biaya Produksi


Menurut Soekartawi (1995), biaya diklasifikasikan menjadi dua yaitu :
biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap
merupakan biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun
produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya tidak tetap atau biaya variabel
merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh.
Sedangkan biaya total merupakan keseluruhan jumlah biaya produksi yang
dikeluarkan. Biaya total didapat dengan menjumlahkan total biaya tetap dengan
total biaya variabel, dapat diformulasikan sebagai berikut:
TC = TFC + TVC
Dimana :
TC
= Biaya total
TFC
= Biaya tetap total
TVC
= Biaya variabel total

2.6.

Karakteristik Petani

Slamet (1992) menyatakan bahwa umur, pendidikan, status sosial


ekonomi, pola hubungan dan sikap merupakan faktor-faktor individu yang
mempengaruhi proses difusi inovasi. Totok Mardikanto (1993) menjelaskan
karakteristik individu merupakan sifat-sifat yang melekat pada diri seseorang dan
berhubungan dengan aspek kehidupan, antara lain: umur, jenis kelamin, posisi,
jabatan, status sosial dan agama.
2.7.1. Pengalaman Bertani
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993), pengalaman
diartikan sebagai (n) yang ernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung, dan
sebagainya). Jadi pengalaman dapat diartikan sebagai kejadian yang
pernah dialami oleh seseorang.
2.7.2. Pendidikan Petani
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993), pendidikan berasal
dari kata didik, lalu kata ini mendapat awalan kata me sehingga menjadi
mendidik artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan
memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan
mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

2.7.

Regresi Linear Berganda


Regresi linear berganda terdiri dari sebuah peubah tak bebas sebagai
respon atau yang diprediksi dan lebih dari satu peubah bebas sebagai prediktor
atau yang memprediksi. (Hotman Simbolon, 2013)
Menurut Sritua Arief (1993), suatu model regresi dari suatu populasi
dimana terdapat variabel yang dependen (dependent variable) misalnya Y dan
sebanyak k-1 variabel-variabel bebas (independent variable) misalnya X1, X2,
X3, .... Xk yang merupakan variabel-variabel yang menentukan nilai Y (variabel
bebas nomor 1 ialah elemen konstan), persamaaan regresi linear berganda dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 +.... + bnXn
Keterangan:
Y
= Variabel dependen (nilai yang diprediksi)
X1 X2 = Variabel independen
a
= Konstanta ( nilai Y apabila X1 X2.....Xn = 0
b
= Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan)

2.8.

Analisis Pendapatan Usahatani


Menurut Hernanto (1994), besarnya pendapatan yang akan diperoleh
dari

suatu

kegiatan

usahatani

tergantung

dari

beberapa

faktor

yang

mempengaruhinya seperti luas lahan, tingkat produksi, identitas pengusaha,


pertanaman, dan efisiensi penggunaan tenaga kerja.
Dalam melakukan kegiatan usahatani,

petani

berharap

dapat

meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhan hidup sehari-hari dapat


terpenuhi. Harga dan produktivitas merupakan sumber dari faktor ketidakpastian,
sehingga bila harga dan produksi berubah maka pendapatan yang diterima petani
juga berubah (Soekartawi, 1990).

Menurut Soekartawi (1995), biaya usahatani adalah semua pengeluaran


yang dipergunakan dalam usahatani. Biaya usahatani dibedakan menjadi dua yaitu
biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak
tergantung pada besar kecilnya produksi yang akan dihasilkan, sedangkan biaya
tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh volume produksi.
Secara matematis untuk menghitung pendapatan usahatani dapat ditulis
sebagai berikut :
= Y. Py Xi.Pxi BTT
Keterangan :
= Pendapatan (Rp)

= Hasil produksi (Kg)

Py

= Harga hasil produksi (Rp)

Xi

= Faktor produksi (i = 1,2,3,.,n)

Pxi

= Harga faktor produksi ke-i (Rp)

BTT

= Biaya tetap total (Rp)

2.9.

Analisis Keuntungan atas Biaya (B/C Ratio)


Menurut Soeharto (1997) B/C Ratio merupakan metode yang dilakukan
untuk melihat berapa manfaat yang diterima oleh proyek untuk satu-satuan mata
uang (dalam hal rupiah) yang dikeluarkan. B/C Ratio adalah suatu rasio yang
membandingkan antara benefit atau pendapatan dari suatu usaha dengan biaya
yang dikeluarkan. Sedangkan menurut Rahardi dan Hartono (2003) analisis B/C
Ratio adalah perbandingan antara tingkat keuntungan atau pendapatan yang
diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dikatakan layak dan

memberi manfaat apabila nilai B/C Ratio lebih besar dari nol (0), semakin besar
nilai B/C Ratio maka semakin besar pula manfaat yang akan diperoleh dari usaha
tersebut.

2.10.

Analisis Penerimaan atas Biaya Total (R/C Ratio)


Pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak dapat pula diukur dengan

nilai efisiensinya. Salah satu alat untuk dapat mengukur nilai efisiensi pendapatan
tersebut yaitu penerimaan untuk setiap biaya yang dikeluarkan atau imbangan
penerimaan dan biaya atau Revenue and Cost Ratio (R/C Ratio). Perbandingan ini
menunjukkan penerimaan kotor setiap rupiah yang digunakan dalam usaha.
Semakin tinggi nilai R/C Ratio menunjukkan semakin besar penerimaan yang
diperoleh dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Dengan demikian perolehan
nilai R/C Ratio yang semakin tinggi maka tingkat efisiensi pendapatan pun
semakin baik. (Soeharjo dan Patong, 1973)
2.11.

Break Event Point (BEP)


Analisis titik pulang pokok (break event point) adalah suatu alat analisis

yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel di dalam kegiatan


perusahaan, seperti luasan produksi atau tingkatan produksi yang dilaksanakan
dengan biaya yang dikeluarkan, serta pendapatan yang diterima dari perusahaan.
Pendapatan perusahaan merupakan penerimaan karena bersumber dari kegiatan
perusahaan sedangkan biaya operasinya merupakan pengeluaran. (Umar, 1997)
2.12.

Penelitian Terdahulu

Penelitian pertama dilakukan oleh Fajar Utomo (2012) dengan judul


analisis pengaruh kemitraan terhadap pendapatan petani wortel di Agro Farm
Desa Ciherang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Analisis dilakukan dengan cara
kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui
gambaran mengenai aspek-aspek yang dikaji, meliputi aspek pasar, aspek teknis,
aspek manajemen dan aspek ekonomi. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan
untuk mengetahui gambaran mengenai tingkat pendapatan usahatani berdasarkan
kriteria R/C Ratio. Program kemitraan termasuk tipe sinergis dan saling
menguntungkan, sinergi yang menguntungkan diantaranya dalam bentuk petani
menyediakan lahan, sarana dan tenaga kerja sedangkan perusahaan menyediakan
saprotan, bimbingan teknis dan penjaminan pasar. Berdasarkan perbandingan
pendapatan usahatani antara petani wortel mitra dengan non mitra, diperoleh hasil
pendapatan rata-rata petani wortel mitra lebih besar dibandingkan dengan
pendapatan rata-rata petani wortel non mitra. Pendapatan petani wortel mitra ratarata sebesar Rp 1.523.750 sedangkan pendapatan petani non mitra sebesar Rp
1.093.125 per musim tanam. Nilai R/C Ratio atas biaya tunai petani mitra sebesar
2,83 sedangkan petani non mitra sebesar 2,26. R/C Ratio atas biaya total petani
mitra sebesar 2,26 sedangkan petani non mitra 1,78. Berdasarkan hal tersebut
dapat disimpulkan bahwa kemitraan dengan Agro Farm lebih menguntungkan
petani, penggunaan input melalui kemitraan juga lebih efisien dilihat dari nilai
R/C Ratio.
Penelitian kedua dilakukan oleh Lita Aryani dengan judul pengaruh
kemitraan terhadap pendapatan usahatani kacang tanah (Kasus kemitraan PT.
Garudafood dengan petani kacang tanah di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar,

Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa


pelaksanaan kemitraan antara petani dan perusahaan memberikan manfaat bagi
kedua belah pihak. Dari hasil analisis pendapatan usahatani, petani mitra
memperoleh pendapatan usahatani lebih besar daripada petani non mitra, baik
untuk pendapatan atas biaya tunai maupun pendapatan atas biaya total. Hasil
imbangan penerimaan dan biaya (R/C Ratio), dapat diketahui bahwa R/C Ratio
atas biaya tunai dan R/C Ratio atas biaya total petani mitra adalah 2,77 dan 1,47.
Sedangkan R/C Ratio atas biaya tunai dan R/C Ratio atas biaya total petani non
mitra adalah 1,96 dan 0,96. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pelaksanaan
kemitraan antara PT. Garudafood dengan petani mitra di Desa Palangan
memberikan keuntungan bagi petani mitra.
Penelitian ketiga dilakukan oleh Lukman Wiratma (2014) dengan judul
peranan kemitraan PT. Pertanian Sehat Indonesia terhadap pendapatan petani padi
di desa Sukaraharja, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Hasil penelitian ini
adalah teknis penerapan kemitraan yang dilakukan PT. Pertanian Sehat Indonesia
terhadap petani mitra diawali dengan pra persiapan, persiapan, pelaksanaan,
pemandirian, dan terakhir adalah monitoring dari hasil yang telah dicapai oleh
petani mitra. Manfaat kemitraan terhadap petani mitra di Desa Sukaraharja
meliputi sudut pandang ekonomi dari segi pendapatan petani mandiri sebesar Rp.
8.615.799,00 per musim, sedangkan rata-rata pendapatan petani mitra sebesar Rp.
10.366.864,00 per musim. Ditinjau dari efisiensi usahatani aktual yang
diperlihatkan oleh nilai R/C Ratio atas biaya tunai menjelaskan bahwa nilai R/C
Ratio atas penggunaan biaya usahatani padi mitra lebih besar yaitu 1,90
dibandingkan dengan usahatani padi petani mandiri yang hanya 1,80.

2.13.

Kerangka Pemikiran
Penelitian ini mengkaji analisis usahatani petani yang bermitra dengan

Dompet Dhuafa. Peneliti menduga faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan


usahatani antara lain biaya produksi, pendidikan petani, pengalaman bertani dan
lama bermitra dengan Dompet Dhuafa. Pengalaman bertani berpengaruh terhadap
pendapatan karena pengalaman bertani sangat erat kaitannya dengan perencanaan
usahatani. Tingkat pendidikan petani juga dapat berpengaruh pada pendapatan
petani, karena pendidikan petani mampu menciptakan kepercayaan terhadap
tradisi-tradisi masyarakat yang akan menunjang pembangunan pertanian. Lama
petani dalam bermitra juga sangat mempengaruhi pendapatan petani, dimana
semakin lama pengalaman petani dalam bermitra maka semakin tinggi pula
pengalaman petani dalam berusahatani, sehingga petani yang lebih berpengalaman
lebih mengetahui cara memperoleh hasil produksi yang maksimal sehingga
pendapatan petani juga maksimal.

Usahatani Sayuran

Petani Mandiri

Kemitraan

Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pendapatan petani :

Analisis Kemitraan

Biaya produksi
(Rp)
Pengalaman Bertani
(Tahun)

PT. MOI

Petani Mitra

Pendidikan petani
(Tahun)
Sistem
Kemitraan

Lama bermitra

Regresi Linear Berganda

Analisis Pendapatan

Analisis Pendapatan

Break Even Point

Break Even Point

R/C Ratio

R/C Ratio

B/C Ratio

B/C Ratio

Analisis Perbandingan

Hasil Penelitian
Gambar 6. Kerangka Pemikiran

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 +


b4X4

2.14.

Hipotesis
Berdasarkan pada latar belakang permasalahan dan kerangka pemikiran,

maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:


1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani sayuran yang bermitra
dengan Dompet Dhuafa yaitu biaya produksi, umur petani, tingkat pendidikan
petani, luas lahan dan lama bermitra.
2. Pendapatan petani sayuran yang bermitra dengan Dompet Dhuafa lebih
menguntungkan dibandingkan dengan petani mandiri.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Dompet Dhuafa. Penentuan lokasi
penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan karena
perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang bertempat di Jawa Barat
dan melakukan kemitraan dengan petani sekitar. Penelitian ini dilakukan selama
satu bulan yaitu pada bulan November 2016.

3.2.

Jenis dan Sumber Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis, yaitu data
primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara
langsung dengan responden yakni pemilik, karyawan dan petani mitra Dompet
Dhuafa Indonesia. Data primer yang digunakan seperti komponen biaya produksi
dan harga jual. Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka hasil riset
terdahulu dan berbagai literatur seperti buku, internet yang berkaitan dan instansiinstansi yang terkait seperti Badan Pusat Statistik.

3.3.

Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh
bahan pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan metode observasi
dan metode kepustakaan. Dalam penelitian ini data diperoleh dari wawancara dan
kuisioner.

3.3.1. Observasi
Observasi adalah pengamatan secara langsung ke objek
penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Observasi
dilakukan melalui pengamatan secara langsung terhadap kegiatan-kegiatan
yang dilakukan tempat penelitian yang berhubungan dengan gambaran
umum usaha sayuran organik di Dompet Dhuafa dan informasi-informasi
lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Variabel-variabel yang akan
diamati diantaranya adalah kegiatan manajemen dan produksi, yakni
proses penjualan dari biaya-biaya yang dikeluarkan sampai peasukan atau
penerimaan yang diperoleh oleh perusahaan dalam usaha budidaya sayuran
organik.
3.3.2. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan membaca beberapa buku
literaur-literatur, mengumpulkan dokumen, arsip, maupun catatan penting
organisasi yang ada kaitannya dengan permasalahan penulisan skripsi ini
dan selanjutnya diolah kembali.
3.3.3. Kuisioner
Kuisioner diberikan kepada para responden (petani) untuk
mendapatkan data mengenai pendapatan yang diperoleh.

3.3.4. Wawancara
Wawancara

adalah

percakapan

yang

dilakukan

oleh

pewawancara kepada responden guna menggali informasi atau data yang


digunakan untuk kebutuhan penelitian. Wawancara dilakukan kepada
pemilik dan karyawan untuk memperoleh gambaran tentang pola
kemitraan yang digunakan oleh Dompet Dhuafa Indonesia. Wawancara
juga dilakukan kepada petani guna mengetahui informasi pendapatan yang
diperoleh petani mitra, biaya produksi, volume penjualan, dan biaya-biaya
yang dikeluarkan petani tersebut dalam usaha budidaya sayuran organik.
3.4.

Metode Pengolahan dan Analisis Data


Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan
analisis kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif akan dianalisis secara deskriptif,
yaitu mendiskripsikan kondisi subjek atau objek penelitian saat ini berdasarkan
fakta-fakta sebagaimana adanya. Dilakukan dengan mengumpulkan berbagai
pendapat dari pihak yang terkait dengan penelitian ini yaitu petani sayuran
organik yang bermitra dengan Dompet Dhuafa Indonesia.
Untuk menguji permasalahan yang mengenai faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap pendapatan usahatani sayuran organik digunakan uji regresi
linear berganda yaitu sebagai berikut:
Y = a + b1x1 + b2 x2 + b3 X3........ bn xn + e
Keterangan :
bi
= Koefisien persamaan regresi atau parameter regresi
(untuk I = 1,2,3,....n)
X1
= Variabel bebas (untuk 1 = 1,2,3,....n)
e
= Error atau gangguan dalam persamaan.

Penelitian

ini

menggunakan

lima

variabel

bebas,

sehingga

formulasinya dapat dituliskan sebagai berikut :


Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5
Keterangan :
Y
= Pendapatan (Rp)
a
= Konstanta
b1
= Koefisien persamaan regresi atau parameter regresi
(untuk i = 1,2,3,4,5)
X1
= Biaya Produksi (Rp)
X2
= Pengalaman bertani (Tahun)
X3
= Pendidikan petani (Tahun)
X4
= Lama bermtra (Tahun)
Guna menguji apakah keseluruhan variabel independen memberikan
pengaruh pada variabel dependen digunakan uji F dengan formulasi sebagai
berikut:
F hitung =

Kuadrat Tengah Regresi


Kuadrat Tengah Sisa

Kriteria pengambilan keputusan :


a. F-hitung F-tabel ( = 0.05), maka menerima H 0, berarti keseluruhan
variabel independen tidak memberikan pengaruh pada pendapatan (variabel
dependen)
b. F-hitung > F-tabel ( = 0.05), maka menolak H0, berarti keseluruhan
variabel independen memberikan pengaruh pada pendapatan (variabel
dependen)
Guna mengetahui seberapa besar variasi dependen disebabkan oleh
variasi variabel independen, maka dihitung nilai koefisien determinasi dengan
rumus sebagai berikut :
R2 =

Jumlah Kuadrat Regresi


Jumlah Kuadrat Tengah

Nilai R2 berkisar 0 R2 1

Seringkali nilai koefisien determinasi (R2) meningkat jika jumlah


variabel bebas ditambahkan pada model sehingga menurunkan derajat bebas.
Penilaian tentang hal ini dapat dipergunakan nilai koefisien determinasi adjusted
dengan rumus sebagai berikut :
R2 adjusted = R2 [(n-1)/(n-k-1)]
Keterangan :
k
= Jumlah variabel bebas dalam model penduga
n
= Jumlah data
Apabila hasil pengujian diperoleh F-hitung > F-tabel, maka
dilanjutkan dengan uji-t untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel
bebas terhadap variabel terikat.
bi
t hitung = Sbi

Sbi =

JumlahKuadratSisa
JumlahTengahSisa

keterangan :
bi
= Koefisien regresi ke-i
Sbi
= Standart deviasi ke-i
Kriteria pengambilan keputusan :
a. t-hitung t-tabel ( = 0.05), maka menerima H0 yang berarti variabel
independen tidak memberikan pengaruh yang nyata pada pendapatan
(variabel dependen)
b. t-hitung > t-tabel ( = 0.05), maka menolak H0 yang berarti variabel
independen memberikan pengaruh yang nyata pada pendapatan (variabel
dependen)
Untuk menguji permasalahan tentang pendapatan yang diperoleh
petani dalam usaha budidaya sayuran organik digunakan analisis sebagai berikut :
Y

= TR TC

TR

=PxQ

TC

= TFC + TVC

Keterangan :
Y

= Pendapatan (Rp/Ha)

= Harga Satuan Output (Rp/Kg)

= Jumlah Output yang dijual (Kg/Ha)

TR

= Total Penerimaan (Rp/Ha)

TC

= Total Biaya (Rp/Ha)

TFC

= Total Biaya Tetap (Rp)

TVC

= Total Biaya variabel (Rp)


Kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut :

TR > TC, usahatani sayuran organik menguntungkan.


TR < TC, usahatani sayuran organik tidak menguntungkan.
TR = TC, usahatani sayuran organik tidak untung dan tidak rugi.
Untuk menguji rasio penerimaan atas biaya menggunakan analisis
Revenue and Cost Ratio (R/C Ratio) dapat dinyatakan sebagai berikut :
a
= R/C
TR
=PxQ
TC
= FC + VC
a
= P x Q/ (FC + VC)
a
= TR/TC
dimana :

= nilai rasio penerimaan atas biaya (R/C Ratio)

TR

= penerimaan

TC

= biaya

= harga output

= output

FC

= biaya tetap

VC

= biaya variabel

Kriteria keputusan :
R/C > 1, untung
R/C < 1, rugi
R/C = 1, impas (tidak untung atau tidak rugi)
Perhitungan analisis rasio keuntungan atas biaya (B/C Ratio)
sebagai berikut :
B/C Ratio =

TC

Dimana :

= keuntungan

TC

= Total Biaya

Kriteria investasi berdasarkan B/C Ratio yaitu :

B/C > 0, usaha menguntungkan dan layak untuk diusahakan


B/C < 0, usaha merugikan dan tidak layak untuk diusahakan
Secara matematik, analisis BEP dapat dihitung dengan rumus (Gray C,
dkk (1993) dalam Rochaeni, 2010) sebagai berikut :
TC
BEP Produksi
= P
BEP Harga

BEP Penerimaan =

Dimana :
TC

= total biaya

= harga jual

= total volume produksi

FC

= total biaya tetap

VC

= total biaya variabel

TR

= penerimaan

TC
Q
FC
VC
1(
)
TR