Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perlite (perlit) adalah salah satu batuan piroklastik, salah satu tipe dari
volkanik-glass, yang dapat mengembang dan menjadi sangat berpori ketika
dipanaskan. Perlite adalah mineral serbaguna yang di tambang dan di proses
dengan dampak minimal terhadap lingkungan. bahan perlit yang
disempurnakan seperti untuk insulasi memiliki performa tinggi yang di
ambil dari bahan alami. Perlit merupakan kaca vulkanik amorphous yang
memiliki kandungan air relative tinggi dan biasanya dibentuk dari hidrasi
Obsidian karena desitynya rendah dan harga yang relatif murah, perlite telah
banyak di kembangkan untuk aplikasi komersial.
Dewasa ini penambangan perlit di Indonesia masih terbilang
sedikit jumlahnya, namun sebenarnya Indonesia mempunyai potensi perlit
yang tersebar di beberapa daerah, dan manfaat perlit sendiri sangat
dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
1.2 Rumusan Masalah
a) Bagaimana asal mula pembentukan Perlit ?
b) Apa saja mineral pembentuk Perlit ?
c) Dimana saja daerah sebaran Perlit ?
d) Bagaimana teknik penambangan Perlit ?
e) Bagaimana pengolahan dan pemanfaatan Perlit didalam kehidupan
sehari-hari ?
1.3 Tujuan Penulisan
a) Untuk mengetahui asal mula pembentukan Perlit
b) Untuk mengetahui mineral pembentuk Perlit
c) Untuk mengetahui daerah sebaran Perlit
d) Untuk mengetahui teknik penambangan Perlit
e) Untuk mengetahui pengolahan dan pemanfaatan Perlit didalam
kehidupan sehari-hari
1.4 Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan, yaitu bahan
atau data-data yang didapat diambil dari buku-buku refrensi serta artikelartikel dari internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Asal Mula Perlit

Perlite (perlit) adalah salah satu batuan piroklastik, salah satu tipe dari
volkanik-glass, yang dapat mengembang dan menjadi sangat berpori ketika
dipanaskan. Berasal dari bahasa Perancis "Pearl", yang menunjukkan kilap
mutiara dari batuannya. Ketika dipanaskan, perlit dapat mengembang hingga 20x
dari volume sebenarnya. Prinsipnya sama seperti kita membuat pop corn, dimana
volume akan mengembang, namun menjadi lebih ringan. Perlit umumnya
berwarna abu-abu hingga hijau, namun bisa berwarna cokelat, biru, ataupun
merah. Setelah dipanaskan, perlit akan berwarna abu-abu hingga putih.Perlit
adalah campuran sementit dan ferit yang memiliki kekerasan sekitar 10-3 0 H R C .
Perlit ya ng terbentuk sedikit dibawah temperatur eutektoid
m e m i l i k i kekerasan yang lebih rendah dan memerlukan waktu inkubasiyang lebih banyak.
Perlit terbentuk karena pembekuan magma asam yang tiba-tiba dengan tekanan
yang tinggi dengan suasana basah.
Perlit adalah hasil proses hidrasi sekunder dari obsidian maupun tipe
batuan vulkanik glass setelah pengendapan sehingga memiliki kandungan air
lebih besar daripada obsidian. Perlite merupakan produk dari proses pendinginan
cepat dari magma berkomposisi riolit membentuk tipe batuan riolit glass yang
amorf atau tanpa kristal.

Perlit terdapat pada hasil letusan atau lelehan dibagian bawah atau tengah.
Volcanic glass umumnya terbentuk akibar adanya lava yang membeku dari letusan
gunung berapi dan membeku dengan cepat. Karena membeku dengan cepat, tidak
terbentuk kristal secara sempurna, dan tidak ada kesempatan air akan keluar dari
material tersebut. Proses tersebut berlangsung pada temperatur

tertentu yang

disebabkan oleh berat lapisan diatasnya. Selama pertilisasi berlangsung terjadi


penambahan air yang berasal dari batuan sekitarnya atau post magmatic
hydration. Pecahan-pecahan perlit berbentuk kulit bawang (union skin fracture),
mungkin

disebabkan

oleh

gaya

tarikan

(strain)

pada

waktu

proses

pendinginan.Tebal lapisannya mencapai ratusan meter. Umumnya batuan


pengandung tersebut adalah batuan piroklastik, sediment tufaan yang kadangkadang mengandung kerakal (pebbles) tersisipkan bersama-sama dengan
anglomerat amygdaloidal. Perlit yang terdapat

pada batuan intrusi

didekat

permukaan umumnya berbentuk kubah (dome), retas (dike), dan sill. Kandungan
perlit : SiO2 , Al2O3 , TiO , Ko2 .

Beberapa sifat fisik dominan perlit adalah ringan, tahan api dan bersifat baik
sebagai insulator. mudah mengembang dengan pemanasan pada temperatur 800 1200C, perlit akan mengembang hingga 10 sampai 20 kali dari volume asalnya

dari batuan dengan berat jenis 0,08 0,18 g/cm3. Batuan ini bersifat netral yang
berkisar antara pH 6,5 sampai 8,0 dan tahan terhadap api, disamping itum perlit
juga sangat ringan dan umumnya tidak mengandung bahan organik.
2.2

Mineral Pembentuk Perlit


Perlit merupakan batuan yang dihasilkan dari kegiatan vulkanik,

berkomposisi riolitik, berstruktur perlitik, dan umumnya mempunyai kandungan


air lebih besar dari obsidian (glossary of geology) pada endapan yang berbentuk
memancar (radier) atau sentripetal. Umur batuan pengandung umumnya tersier
sampai kwarter, jarang yang berumur lebih tua.
Komposisi utama adalah mineral silikat berbutir sangat halus, terbangun
oleh steroida-steroida kecil, ringan. Warnanya abu-abu muda hingga abu-abu
kehitaman. Struktur aliran ditandai dengan warna goresan merah atau coklat.
Selain itu terdapat pula mineral-mineral biotit yang berwarna coklat, yang yang
dapat menunjukkan arah aliran. Komposisi kimia terdiri dari SiO2 (68,97%),
Al2O3 (13,06%), Na2O (2,51%), K2O (4,10%), Fe2O3 dan TiO2 (kurang dari 1
%).
Perlit merupakan perubahan fasa dari austenit dengan gabungan antara
fasa ferit dan sementit. Fasa ini merupakan hasil dari pendinginan lambat. Perlit
memiliki nilai kekerasan yang rendah namun cenderung ulet, sehingga fasa perlit
dibutuhkan dalam beberapa bidang industri yang membutuhkan ketangguhan
tinggi.
Pembentukan perlit dimulai dengan tumbuhnya inti sementit pada batas
butir austenit. Untuk tumbuhnya sementit yang memiliki kadar karbon 6.67%
diperlukan sejumlah karbon yang diperoleh dari austenit disekitarnya, yang
mengeluarkan karbon untuk dapat menjadi ferit. Karbon ini selanjutnya akan
keluar ke kanan dan ke kiri dan sebagian lagi mengumpul pada sementit untuk
bertumbuhnya sementit yang sudah ada, dan yang keluar ke sisi lain akan
membentuk sementit baru. Proses ini berlangsung terus menerus sehingga akan
diperoleh struktur yang berlapis-lapis (lamellar) yang terdiri dari ferit dan
sementit yang disebut perlit.

Perlit ini bila dipanaskan bertahap hingga mencapai suhu antara 950 0
10500 C, akan mencapai perkembangan isi yang tetapdan maksimum. Sifat
perkembangan ini sangat penting untuk penggunaannya sebagai bahan baku
pembuatan bahan bangunan ringan. Menurut hasil penelitian perlit yang baik
mengandung SiO2 70%, air 2-5%, Na dan K sebanyak 5-8% berat. Dengan
susunan ini perlit akan mempunyai suhu kelembaban/pencairan rendah, demikian
pula suhu pemuaiannya tidak jauh berbeda. Banyaknya air yang dikandungnya
akan

berpengaruh

terhadap

pemuaian. Air

yang

terlalu

banyak

akan

mengakibatkan desintegrasi. Beratjenis perlit sebelum diolah/dipanaskan antara


1,10-2,50, setelah dipanaskan menjadi 0,11-0,15.
2.3

Daerah Sebaran Perlit


Perlit mempunyai karakteristik yang berbeda-beda untuk setiap
daerah. Perbedaan ini oleh jumlah kandungan air terikat dan sejarah
erupsinya. Warnanya dapat bervariasi dari hitam sampai putih. Menurut
Johnstones dan Johnstones (1961), gelas volkanik untuk keperluan industri
diklasifikasikan berdasarkan kandungan air terikat yaitu Obsidian
(sampai 2%), perlite (2-6 %) dan pitchstone (>5 %). Walaupun demikian
pada umumnya perlit yang dihasilkan dari sumber yang sama cenderung
mempunyai sifat yang relatif seragam
Perlit didapatkan disekitar gunung api yang relatif muda. Tempat
diketemukan antara lain:

Sumatera Utara: Pansur Nipitu Kec. Silindung Kab. Tapanuli utara


(prosentase nilai ekspansi 158,3% Perlit berada dalam suatu endapan
bersama atau berasosiasi dengan obsidian terdapat sebagai bongkahbongkah dalam tufa berwarna keabu-abuan, dan keputihan agak lunak.
Dari hasil pmeriksaan di laboratorium contoh perlit ini pengembangannya

sampai 153,3% dari hasil crucible test.


Sumatra Barat : Bukit Rasam Kec. Lubuk Sikaping Kab. Pasaman
(prosentase nilai ekspansi maksimum 51,51% H 2O 0,03%, minimum
50,,00% H2O 2,83% terdapat sebagai bongkah dalam tufa); Bukit Sipinang
Kec. Sepuluh Koto, Singkarak Kab. Solok (prosentase nilai ekspansi 945);

Bukit Batu Kambing Kab. Solok (nilai ekspansi maksimum 63,15% H 2O


0,05%, minimum 8,50% H2O 1,12% terdapat dalam Formasi Andesit)
Perlit di daerah ini ditemukan bersama dengan obsidian sebagai bongkahbongkah dalam tufa. Perlitnya agak keras, nerwarna keabu-abuan, dengan

faktor pengembangan 9,4% dari hasil crucible test.


Jambi : S. Tutung Kec. Air Hanga, Kab. Kerinci; G. Gantung S. Purgut
dan S. Penuh (nilai ekspansi 100% terdapat dalam satuan batuan lava

andesit).
Bengkulu : bukit Naning, Kotadonok, Bengkulu (terdapat dalam bentuk

bongkah dialiran sungai terdiri breksi vulkanik).


Sumatra Selatan : Gunung Batu dan Ula Danau, Kec. Pulau beringin,
Kab. Ogan Komering Ulu (nilai ekspansi maksimum 75% sebagai fragmen
dalam breksi tufa)Lampung: Mutar Alam Kec. Sumberjaya Kab. Lampung
Utara (nilai ekspansi 16,21- 269% berasosiasi dengan tufa riolit dan dasit
dalam graben Gedongsurian); Gedong Surian, Kec. Sumber Jaya Kab.
Lampung Utara (berasosiasi dengan tufa riolit dan dasit dalam graben
Gedongsurian); Suwoh, Kec. Belalau, Kab. Lampung Utara (nilai ekspansi
maksimum 68,75%, berasosiasi dengan dasit, tufa breksi, sebagai hasil
erupsi Pilo-Pleistosen pada sesar Semangko/Graben Suwoh); G. Asahan,
desa Purnawiwitan, Kec. Sumber Jaya, Kab. Lampung Utara (nilai
ekspansi 100-200%); Antanai (berwarna hitam perlitik kompak)
Penaga/tepi pantai (berwarna hitam keabuan perlitik kompak); G. Muhul
Kec. Belalau, Kab. Lampung Utara (nilai ekspansi maksimum329%,
berasosiasi dengan tufa breksi, lava riolit dan dasit sebagai erupsi celah
pada Pilo-Plistosen)Hasil dari Laboratorium (crubble test) menunjukkan
bahwa pengembangannya sebesar 269%.

Dengan hasil kimia :


SiO2

= 7,94%;

Fe2O3
= 0,23%;
CaO
= 1,46%;
Na2O
= 2,80%;
TiO2
= 0,16%;
MnO
= 0,06%;
Al2O3
= 18,45%
FeO
= 0,21%
MgO
= 0,30%
K2O
= 1,60%
P2O5
= 0,01%
H2O
= 0,76%;
+
H2O = 3,03%

Jawa Barat : Ciasmara, Kab. Bogor (nilai ekspansi 127% terdapat sebagai
fragmen dalam breksi lahar dan aliran lava gelas volkanik); G. Kiamis,
Kec. Semarang, Kab. Garut (nilai ekspansi 119% terdapat berselang-seling
dengan obsidian diatas breksi); Sentrijaya Kec. Karangnunggal, Kab.
Tasikmalaya (terdapat sebagai aliran gelas volkanik dalam tufa dasit-

andesit dan sebagai fragmen dalam breksi.


Nusa Tenggara Barat : Dorodonggamasa, Kec. Sape Kab. Bima (nilai

ekspansi 300% sebagai gang dalam andesit).


Sulawesi Utara : Tataran Kec. Tomohon kab. Minahasa (nilai ekspansi
176% terdapat sebagai sisipan dalam aliran lava gelas volkanik riolitik).

Thailand, Selain indonesia negara Thailand mempunyai pertambangan


perlit yaitu Pnomchat Hill-Provinsi Lopburi, Thailand

2.4

Teknik Penambangan Perlit


Dilakukan dengan sistem tambang terbuka. Karena perlit
merupakan bahan galian lunak, penambangan dilakukan dengan alat
sederhana.

2.5

Pengolahan dan Pemanfaatan Perlit


Perlit disamping didapatkan dialam, dapat pula dibuat/direkayasa dari
obsidian, Setelah perlit diberaikan dengan menggunakan bahan peledak,
perlit kemudian diangkut menggunakan dumptruck dan back hoe, untuk
kemudian di remukkan dengan menggunakan crusher, dan dibakar
sehingga perlit mengembang, dan menjadi sangat ringan. Bahkan perlit
yang semula keras, ketika sudah menjadi serbuk dan diletakkan di atas air,
perlit

akan

mengambang

di

atas

Pemanfaatan Perlit didalam kehidupan sehari-hari, yaitu :

air

tersebut.

Pembuatan semen, dalam pembuatan semen digunakan bubuk perlit


sebagai campuran pasta semen. Campuran variasi yang digunakan adalah
0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen. Berdasarkan SNI, waktu
ikat awal dan waktu ikat akhir dengan menggunakan alat vicat. Waktu Ikat
awal adalah waktu dari pencampuran air dan semen menjadi pasta semen.
Sedangkan waktu ikat akhir adalah waktu yang dibutuhkan semen untuk
mengeras dan cukup kaku untuk menahan tekanan. Persentase kadar air
yang akan digunakan diperoleh dari pengujian konsistensi normal semen.
Semakin besar persentase bubuk perlit yang digunakan, semakin besar
nilai konsistensi yang didapatkan.

Beton ringan Beton ringan cocok dipakai untuk gedung atau gedung
pencakar langit karena selain ringan juga mampu menahan panas. Perlit
dapat digunakan sebagai beton ringan yang biasanya dicampur dengan air
dan semen portland atau bitumen (cairan yang belum sampai pada derajat).
Hasilnya dapat digunakan sebagai langit langit bangunan, pengisi lantai,
untuk sistem dinding pembatas khususnya kesemua ini diperuntukkan
untuk bangunan yang bertingkat. Berat jenis (BJ) sebelum dipanaskan = 1
2,5 tetapi jika dipanaskan menjadi BJ = 0,11 0,30.

Plester Perlit digunakan untuk konstruksi beton tahan api yang juga
digunakan untuk langit langit. Plester ini berfungsi sebagai penghambat
panas, setelah itu akan mengeluarkan uap air. 60% plester ini lebih ringan

dari plester pasir dengan tahan panas 4x lebih baik.


Isolator / penghambat panas Perlit dapat digunakan sebagai isolator pada
temperatur tinggi, misalnya pada pengecoran logam atau besi. Perlit
digunakan sebagai lapisan pada permukaan cetakan dengan maksud untuk
mencegah panas yang hilang selama proses pengecoransehingga tidak
terjadi perlapisan perlapisan. Sebagai isolator temperatur rendah
digunakan untuk keperluan penyimpanan cairan atau gas yang memiliki
titik didih yang rendah sebab salah satu sifat perlit adalah dapat menahan

dan menyerap panas dan non higroscopis (tidak menyerap air).


Dalam bentuk ukuran pasir dipergunakan untuk penyaring air.
Kosmetik
Thailand memproduksi kosmetik menggunakan perlit sebagai salah satu
bahannya.

http://www.andyyahya.com/2013/01/share-perlite-produk-letusan-gunung.html
http://www.andyyahya.com/2012/12/garut-bukan-hanya-terkenal-akan-dodol.html
http://rizkimartarozi.blogspot.co.id/2011/01/geologi-perlit.html

http://miner-padang.blogspot.co.id/2011/12/bahan-galian-industri-yangberkaitan.html
http://rizkimartarozi.blogspot.co.id/2011/01/geologi-dan-potensi-bahangalian.html
http://jrisetgeotam.com/index.php/jrisgeotam/article/view/156
http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jts/article/view/7731
http://yopyhenpristian.blogspot.co.id/2014_02_01_archive.html