Anda di halaman 1dari 13

ASPEK MEDIKOLEGAL

Kelainan yang terjadi akibat trauma dapat dinilai dari 2 aspek, yaitu :
A. Aspek Medis
Konsekuensi dari luka yang dapat ditimbulkan oleh trauma dapat berupa :
1. Kelainan fisik/organik
-

Hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh

Hilangnya sebagian atau seluruh organ tertentu

2. Gangguan fungsi dari organ tubuh tertentu


Bentuk dari gangguan ini tergantung dari organ atau bagian tubuh yang terkena trauma antara
lain lumpuh, buta, tuli atau terganggunya fungsi organ-organ dalam.
3. Infeksi
Kulit atau membrana mukosa merupakan barier terhadap infeksi, sehingga bila mengalami
kerusakan maka kuman akan masuk bahkan dapat masuk lewat daerah yang memar atau kulit
yang teriritasi akibat benda yang terkontaminasi oleh kuman. Adapun jenis kuman antara lain
Streptoccocus, Staphylococcus, Escheria coli, Proteus vulgaris, Clostridium tetani serta kuman
yang menyebabkan gangrene.
4. Penyakit
Trauma sering dianggap sebagai precipitating factor terjadinya suatu penyakit.
5. Kelainan psikik
Trauma dapat menjadi precipitating factor terjadinya kelainan mental, yaitu dapat berupa
compensational neurosis, anxety neurosis, dementia praecox primer (schizophrenia), manic
depressive atau psikosis. Kepribadian serta potensi individu untuk terjadinya reaksi mental yang
abnormal merupakan faktor utama timbulnya gangguan mental, meliputi jenis, derajat serta
lamanya gangguan. Oleh sebab itu pada setiap gangguan mental post-trauma perlu dikaji elemenelemen dasarnya yang terdiri atas latar belakang mental dan emosi serta nilai atau organ yang
terkena trauma.

Hubungan antara kerusakan jaringan tubuh atau organ dengan psikosis post trauma didasarkan
atas :
-

Keadaan mental benar-benar sehat sebelum trauma

Trauma telah merusak susunan syaraf pusat

Trauma, tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan seseorang

Trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur atau fungsinya dapat
mempengaruhi emosi organ genital, payudara, mata, tangan atau wajah

Korban cemas akan lamanya waktu penderitaan

Psikosis terjadi dalam tenggang waktu yang masuk akal

Korban dihantui oleh kejadian (kejahatan atau kecelakaan) yang menimpanya

B. Aspek Yuridis
Dari sudut hukum, luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana
baik yang bersifat intensional (sengaja), recklessness (ceroboh) atau negligence (kurang hatihati). Untuk menentukan berat ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu berat ringannya
luka.
Kebijakan hukum pidana dalam menentukan berat ringannya luka didasarkan atas :
-

Kesehatan jasmani

Kesehatan rohani

Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan

Estetika jasmani

Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencarian

Fungsi alat indera

Kualifikasi Luka

Luka ringan
Penganiayaan ringan tidak mengakibatkan luka atau hanya mengakibatkan luka ringan

yang tidak termasuk kategori "penyakit dan halangan" sebagaimana disyaratkan dalam pasal 352
KUHP. Contoh luka ringan atau luka derajat satu adalah luka lecet yang superfisial dan
berukuran kecil atau memar yang berukuran kecil. Lokasi lecet atau memar tersebut perlu
diperhatikan oleh karena lecet atau memar pada beberapa lokasi tertentu mungkin menunjukkan
cedera bagian dalam tubuh yang lebih hebat dari yang terlihat pada kulit. Luka lecet atau memar
yang luas dan derajatnya cukup parah dapat saja diartikan sebagai bukan sekedar luka ringan.
Luka atau keadaan cedera yang terletak di antara luka ringan dan luka berat dapat dianggap
sebagai luka sedang.
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epideirnis yang bersentuhan dengan benda yang
memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh
terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan
kulit. Sedangkan yang dimaksud dengan memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah
kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul.

Luka Sedang
KUHP tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan penganiayaan (sedang), tetapi

jurisprudensi Hoge Raad tanggal 25 Juni 1894 menjelaskan bahwa menganiaya adalah dengan
sengaja menimbulkan sakit atau luka. Yang penting bagi dokter adalah menentukan keadaan
yang bagaimanakah yang dimaksud dengan sakit atau luka. Oleh karena batasan luka ringan
sudah disebutkan di atas, maka semua keadaan yang lebih berat dari luka ringan dimasukkan ke
dalam batasan sakit atau luka. Selanjutnya dokter tinggal membaginya ke dalam kategori luka
sedang (luka derajat dua) atau luka berat (luka derajat tiga).
KUHP pasal 90 telah memberikan batasan tentang luka berat, yaitu jatuh sakit atau
mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan

bahaya maut, yang menyebabkan seseorang terus-menerus tidak mampu untuk menjalankan
tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian, yang menyebabkan hilangnya salah satu panca indera,
yang menimbulkan cacat berat, yang mengakibatkan keadaan lumpuh, terganggunya daya pikir
selama empat minggu atau lebih serta terjadinya gugur atau matinya kandungan seorang
perempuan.
Dengan demikian keadaan yang terletak di antara luka ringan dan luka berat adalah
keadaan yang dimaksud dengan luka sedang. Untuk membedakan luka derajat satu dan dua maka
dilakukan pengujian dengan beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Apakah luka tersebut memerlukan perawatan medis seperti penjahitan luka, pemasangan infus,
dsb
2. Apakah luka atau cedera tersebut menyebabkan terjadinya gangguan fungsi (fungsiolesa)?
3. Apakah lokasinya di tempat rawan seperti mulut, hidung, leher, skrotum?
4. Apakah lukanya tunggal, sedikit, atau banyak?
Jika luka tersebut mutlak memerlukan perawatan medis, menyebabkan gangguan fungsi,
lokasinya pada lokasi rawan dan jumlah lukanya banyak, maka lukanya pada umumnya
mempakan luka derajat dua. Jika tidak ada satupun hal tersebut yang terpenuhi maka derajat
lukanya adalah satu.
DEFINISI LUKA SEDANG

CONTOH CARA PENULISAN KESIMPULAN

Luka yang dapat

1. Pada orang tersebut ditemukan luka tusuk di bahu kiri

menimbulkan penyakit

akibat kekerasan tajam. Akibatnya korban menderita penyakit

atau halangan dalam

tetanus selama satu bulan

menjalankan pekerjaan

2. Ditemukan luka robek pada pelipis sebelah kanan. Luka

mata pencahariaan untuk

tersebut disebabkan oleh kekerasan tumpul. Akibatnya korban

sementara waktu

tidak dapat menjalankan pekerjaan mata pencahariannya

(sementara waktu harus

selama 7 hari

dinyatakan dalam

3. Pada perut orang tersebut ditemukan luka iris akibat

hari/bulan)

kekerasan tajam sehingga menyebabkan yang bersangkutan


mendapat halangan menjalankan pekerjaan jabatannya

sebagai
pelajar selama lima hari
4. Ditemukan luka bakar akibat kekerasan oleh zat kimia asam
keras. Akibatnya korban tidak dapat menjalankan pekerjaan
jabatannya sebagai ibu rumah tangga selama 8 hari
5. Pada orang tersebut ditemukan patah tulang paha sebelah
kanan akibat kekerasans tumpul. Patah tulang tersebut
sekarang belum sembuh dan sudah 1,5 bulan lamanya
menyebabkan korban tidak dapat menjalankan pekerjaan
mata pencahariannya sebagai polisi. Diharapkan patah tulang
tersebut akan sembuh sempuma dalam waktu 1,5 bulan lagi
dan selama waktu tersebut korban juga tidak akan dapat
menjalankan pekerjaannya

Luka Berat

Luka berat diatur dalam pasal 351(2) KUHP yang menyatakan bahwa jika perbuatan
mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun. Luka berat pun telah dijelaskan dalam pasal 90 KUHP yang termasuk luka berat adalah :

Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali atau
yang menimbulkan bahaya maut.
Contoh cara menulis kesimpulan
Pada orang tersebut ditemukan luka robek pada korn ea(selaput bening mata)kiri akibat

kekerasan tumpul.
Pada orang tersebut ditemukan luka tusuk di dada kiri menembus paru kiri yang
menyebabkan paru tersebut mengempis serta perdarahan. Keadaan tersebut dapat

mendatangkan bahaya maut.


Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan mata
pencarian
Contoh cara menulis kesimpulan

Pada tangan kiri orang tersebut ditemukan luka-luka serta remuknya tulang-tulang sehingga
menyebabkan kekauan pada kelima jari tangannya. Akibatnya korban mendapat rintangan

tetap (selamanya) dalam menjalankan pekerjaan mata pencahariannya sebagai pemain bola.
Kehilangan salah satu panca indera
Contoh cara menulis kesimpulan :
Pada kedua mata orang tersebut ditemukan luka robek akibat kekerasan tumpul sehingga
mengakibatkan kehilangan indera penglihatannya (buta kedua matanya).
Mendapat cacat berat
Contoh cara menulis kesimpulan :
Pada orang tersebut ditemukan luka-luka pada wajahnya serta hilangnya daun telinga
sebelah kiri karena kekerasan tumpul. Akibatnya yang bersangkutan menderita cacat berat.
Menderita sakit Iumpuh
Contoh cara menulis kesimpulan :
Pada orang tersebut ditemukan patah tulang pungwng akibat kekerasan tumpu1. Akibatnya
ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.
Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih
Contoh cara menulis kesimpulan :
Pada orang tersebut ditemukan lima buah memar pada kepalanya akibat kekerasan tumpul.
Akibatnya ia mengalami gangguan daya pikir selama 38 hari.
Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan
Contoh cara menulis kesimpulan :
Pada orang tersebut ditemukan memar pada perutnya akibat kekerasan tumpul sehingga bayi
yang dikandungnya meninggal dunia.
Hal-hal yang mempengaruhi kualifikasi luka adalah anatomi tempat terjadinya trauma.

Contoh, apabila regio leher terkena trauma, walaupun terlihat kecil tetapi kecenderungan untuk
memberikan kualifikasi luka yang lebih berat karena pada daerah leher terdapat organ-organ
yang vital.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana(KUHP)dikenal luka kelalaian atan karena
yang disengaja. Luka yang terjadi ini disebut "Kejahatan Terhadap Tubuh atau Misdrijven Tegen
Het Lijf. Kejahatan terhadap jiwa ini diperinci menjadi dua yaitu kejahatan doleuse (yang
dilakukan dengan sengaja)dan kejahatan culpose (yang dilakukan karena kelalaian atau
kejahatan).Kartanegara, Satochid, Kumpulan Kuliah Hukum Pidana, Bagian dua, Balai
Lektur Mahasiswa, Jakarta, 1976, h.504-609 Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja
diatur dalam Bab XX, pasa1- pasal 351 S.d. 358 yang berbunyi : Soesilo R., Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP), Politea, Bogor, 1983.

Pasal 351

1. Penganiayaan diancain dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun.
3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352

1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan
penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai
penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.
2. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 353

1. Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatka luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
3. Jika perbuatan itu mengkibatkan kematian yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan tahun

Pasal 354

1. Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan penganiayaan berat
dengan pidana penjara palunglama detapan tahun.

2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama sepuluh tahun.

Pasal 355

1. Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lams lima belas tahun.

Pasal 356

Pidana yang ditentukan dalam pasal 351,353,354 dan 355 dapat ditambah dengan sepertiga
1. Bagi yang melakukan kejahatan itu terhadap ibunya, bapaknya yang sah, istrinya atau anaknya
2 Jika kejahatan itu dilakukan terhadap seorang pejabat ketika atau karena menjalankan tugasnya
yang sah
3. Jika kejahatan itu dilakukan dengan memberikan bahan yang herbahaya bagi nyawa atau
kesehatan untuk dimakan atau diminum.

Pasal 357

Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan berdasarkan pasa1 353 dan 355, dapat
dijatuhkan pencabutan hak berdasarkan pasal 30 No. 1-4.

Pasal 358

Mereka yang sengaja turut serta dalam penyerangan atau perkelahian di mana terlibat beberapa
orang, selain tanggung jawab masing-masing terhadap apa yang khusus dilakukan olehnya,
diancam :
1. Dengan pidana penjara paling lama dua tahun detapan bulan, jika akibat penyerangan atau
perkelahian itu ada yang luka-luka berat
2. Dengan pidana penjara paling lama empat tahun, jika akibatnya ada yang mati.

Dari ketentuan pasal-pasal tersebut diatas jelas bahwa apabila penganiayaan itu tidak
menimbulkan penyakit atau haiangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, si
pelaku dapat dikenakan pasal 352 ayat(1) KUHP tentang penganiayaan ringan bukan pasal 351
ayat (1) KUHP. Namun jika penganiayaan ringan tersebut adalah orang yang bekerja pada, atau
menjadi bawahan si pelaku, maka pidananya dapat ditambah sepertiganya. Mengenai 352 ayat
(1) KUHP R. Soesilo dalam buku Kitab undang-undang Hukum pidana (KUHP) serta komentarkomentarnya lengkap pasal demi pasal berkomentar bahwa jika korban penganiayaan adalah ibu
atau keluarga si pelaku (356) KUHP maka tidak lagi termasuk penganiayaan ringan.

PASAL 170 KUHP


Pasal 170 KUHP mengatur tentang sanksi hukum bagi para pelaku kekerasan terhadap

orang atau barang di muka umum. Kalau boleh dikatakan pasal ini adalah gabungan pasal 351
KUHP tentang penganiayaan dan pasa1 55 KUHP tentang turut serta melakukan suatu perbuatan.
Namun bila dibandingkan tentulah berbeda pengertian ataupun tujuan yang diinginkan oleh Pasal
170 KUHP dengan Pasa1351 dan 55 KUHP.
Perlu ketelitian dalam penerapan pasal ini, karena bisa saja menyentuh ketentuan pasal
351. Maka daripada itu sering sekali para penyidik membuat pasal inijounto 351 dan di tingkat
penuntutan Penuntut Umum sering memakai jenis dakwaan alternatif dimana nantinya hakim
dapat langsung memilih untuk menentukan dakwaan mana yang sekiranya cocok serta sesuai
dengan hasil pembuktian di persidangan.
Objek dari perlakuan para pelaku dalam pasal ini bukan saja haruslah manusia tetapi
dapat saja berupa benda atau barang. Ini yang menjadi salah satu perbedaan pasal ini dengan
Pasal 351 tentang penganiayaan.
Pasal 170 KUHP berbunyi demikian :
Barang siapa yang di muka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau
barang, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan.
(1) Tersalah dihukum

a. Dengan penjara selama-lamanya tujuh tahun, jika ia dengan sengaja merusakkan barang atau
kekerasan yang dilakukannya itu menyebabkan sesuatu luka.
b. Dengan penjara selama-lamanya sembilan tahun, jika kekerasan itu menyebabkan luka
c. Dengan penjara selama-lamanya dua belas tahun, jika kekerasan itu menyebabkan matinya
orang.
(2) Pasal 89 tidak berlaku
a. Perlu diuraikan unsur-unsur yang terdapat dalam pasal ini sebagai berikut
b. Barangsiapa. Hal ini menunjukkan kepada orang atau pribadi sebagai pelaku.
c. Di muka umum. Perbuatan itu dilakukan di tempat dimana publik dapat melihatnya
d. Bersama-sama, artinya dilakukan oleh sedikit-dikitnya dua orang atau lebih. Arti kata
bersama-sama ini menunjukkan bahwa perbuata itu dilakukan dengan sengaja (delik dolus) atau
memiliki tujuan yang pasti, jadi bukanlah merupakan ketidaksengajaan (delik culpa).
e. Kekerasan, yang berarti mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil dan
tidak sah. Kekerasan dalam pasal ini biasanya terdiri dari "merusak barang"atau "penganiayaan".
Terhadap orang atau barang. Kekerasan itu harus ditujukan kepada orang atau barang sebagai
korban.
Pengunaan pasal ini tidaklah sama dengan penggunaan pasal 351, dikarenakan dalam
pasal ini pelaku adalah lebih dari satu, sedangkan dalam pasa1351, pelaku adalah satu orang,
ataupun dapat lebih dari satu orang dengan catatan dilakukan tidak dalam waktu yang
bersamaan. Seseorang dapat saja mendapat perlakuan kekerasan dari dua orang atau lebih tetapi
para pelaku tidak melakukannya bersama-sama atau tidak sepakat dan sepaham untuk melakukan
kekerasan itu, maka hal ini sudah memasuki ranah Pasal 351.
Kekerasan yang dilakukan sesuai Pasal 170 sudahlah tentu dilakukan oleh para pelaku
dalam waktu yang bersamaan ataupun dalam waktu yang berdekatan dengan syarat ada
kesepakatan dan kesepahaman untuk berbuat tindakan kekerasan tersebut terhadap orang atau
barang.

Perbedaan yang paling mendasar Pasal 170 dengan Pasal 351 adalah dilakukannya
tindakan itu di hadapan orang banyak atau di ruang publik terbuka, sedangkan pada pasal 351 hal
ini tidak dibedakan, apakah dilakukan di ruang tertutup untuk umum ataupun di ruang publik
terbuka.
Ancaman hukuman pasal 170 ini lebih berat daripada Pasa1 351. Apabila kita bandingkan
pada akibat yang ditimbulkan antara kedua pasal ini dengan ancaman hukumannya, maka kita
akan mendapati ancaman hukuman pada Pasal 170 lebih berat daripada pasa1 351. Pada pasal
170, jika korban mengalami luka berat maka si pelaku diancam dengan hukuman penjara selamalamanya sembilan tahun, sedangkan pada pasal 351 dengan akibat yang sama, yaitu luka berat,
pelaku diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun. Jika akibat yang
ditimbulkan adalah matinya korban, pasal 170 mengancam dengan hukuman penjara selamalamanya dua belas tahun sedangkan pada pasal 351 ancaman hukumannya adalah hukuman
penjara selama-lamanya tujuh tahun.
Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian diatur dalam pasa1 359,360 dan 361
KUHP yang berbunyi :

Pasal 359

Barang siapa karena kesalahannya(kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun

Pasal 360

1. Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mendapat luka-luka
berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama
satu tahun.
2. Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebahkan orang lain luka-luka
sedemikian rnpa sehingga timhul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan
atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima
ratus rupiah.

Pasa1 361

Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau
pencarian, maka pidana ditamhah dengan sepertiga dan yang bersalah dapat dicahut haknya
untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan
supaya putusannya diumumkan.
Dalam pasal-pasal tersebut dijumpai kata-kata,"mati, menjadi sakit sementara atau tidak
dapat menjalankan pekerjaan sementara", yang tidak disebabkan secara langsung oleh terdakwa,
akan tetapi 'karena salahnya' diartikan sebagai kurang hati-hati, talai, dan amat kurang perhatian.
Pasal 361 KUHP menambah hukumannya sepertiga lagi jika kejahatan ini dilakukan dalam suatu
jabatan atau pekerjaan. pasal ini dapat dikenakan pada dokter, bidan, apoteker, supir, masinis
kereta api dan lain-lain
Di dalam pasa190 KUHP dikatakan bahwa luka berat adalah penyakit atau luka yang
tidak bisa diharapkan akan sembuh lagi dengan sempuma atau yang dapat mendatangkan bahaya
maut, terus-menerus tidak cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan tidak lagi memakai salah
satu panca indera, kudung (rompong), lumpuh, berubah pikiran (akal) lebih dari empat minggu
lamanya, menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan ibu. Di sinilah dokter berperan
besar sekali sebagai saksi ahli di depan pengadilan. Hakim akan mendengarkan keterangan
spesialis kedokteran forensik maupun ahli lainnya (setiap dokter) dalam tiap kejadian secara
kasus demi kasus.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana tidak dijumpai istilah Visum et
Repertum. Pasal 133 KUHAP memakai istilah "surat keterangan ahli" yang dibuat oleh spesialis
kedokteran forensik"atau"surat keterangan"bila dibuat oleh dokter umum atau dokter spesialis
lainnya, adalah identik dengan Visum et Repertum. Profesionalisme seorang dokter dapat
dimunculkan pada kesimpulan Visum et Repertum yang dapat menjadi pertimbangan pihak
penegak hukum.
Ada empat kualifikasi(derajat) yang dapat dipilih dokter
1.Orang yang bersangkutan tidak menj adi sakit atau mendapat halangan dalam melakukan
pekerjaan atau jabatan.
2.Orang yang bersangkutan menjadi sakit tetapi tidak ada halangan untuk melakukan pekerjaan
ataujabatan.

3.Orang yang bersangkutan menjadi sakit dan berhalangan untuk melakukan pekerjaan atau
jabatannya.
4.Orang yang bersangkutan mengalami :
-

Penyakit atau luka yang tidak dapat diharapkan akan sembuh.


Dapat mendatangkan bahaya maut.
Tidak dapat menjalankan pekerjaan.
Tidak dapat memakai salah satu panca indera.
Terganggu pikiran lebih dari empat minggu
Keguguran (matmya janin dalam kandungan).