Anda di halaman 1dari 39

TUGAS ILMU BEDAH PLASTIK

LITERATURE TRANSLATE
Grabb and Smiths Plastic Surgery 6th Edition
Chapter 1 Techniques and Principles in Plastic Surgery

Perceptor:
dr. Bobby Swadharma Putra, Sp. BP-RE

Oleh :
Airi Firdausia Kudsi, S.Ked

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD DR H ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

Bab 1 TEKNIK DAN PRINSIP BEDAH PLASTIK


CHARLES H. THORNE
Bedah plastik adalah bidang khusus yang unik yang menentang definisi,
tidak memiliki sistem organ sendiri, dan berdasarkan prinsip-prinsip melainkan
prosedur spesifik, dan karena operasi kosmetik merupakan hal kesayangan media.
Apa itu bedah plastik? Tidak ada definisi yang komplit. Joe McCarthy
mendefinisikan hal ini sebagai spesialis pemecah masalah. Istri saya, seorang
anestesiologis, memanggil dokter bedah plastik sebagai penutup dikarena
mereka datang apabila ahli bedah lain telah melakukan semua yang mereka bisa
dan yang harus diselesaikan dalam operasi. Definisi yang lebih megah lagi dari
residen bedah plastik : bedah plastik adalah bedah kulit dan isinya. Tidak
mungkin mendefinisikan bidang khusus yang memiliki kekuasaan melalui
kombinasi tradisi dan inovasi. Apa persamaan antara bedah kraniofasial dan bedah
tangan? Antara bedah ulkus tekan dan bedah kosmetik?
Tidak seperti bidang spesialis bedah lain, bedah plastik tidak tersusun atas
sistem organ tertentu. Bedah plastik bergantung dengan keahlian dan prinsipprinsip tradisional untuk masa depan dan keberadaannya. Karena bedah plastik
memiliki batasan yang longgar dan tidak memiliki regio anatomik yang spesifik,
bedah plastik berkompetisi dari spesialis yang berorientasi regio. Area ekspertise
tradisional dapat hilang seperti spesialis yang lain untuk mendapatkan keahlian
untuk melakukan prosedur yang dikembangkan oleh dokter bedah plastik. Oleh
karena itu, bedah plastik memiliki kebebasan dan kerentanan. Kerentanan ini yang
membuat bedah plastik bergantung pada terjaganya superioritas pada area

ekspertise tradisional dan pada inovasi selanjutnya dan perolehan teknik-teknik


baru, prosedur baru, dan masalah baru untuk diselesaikan yaitu area kekuasaan
yang baru.
Bedah plastik lebih berdasar pada prinsip-prinsip daripada pada detail suatu
prosedur spesifik. Hal ini agar dokter bedah plastik dapat menyelesaikan masalah
yang tidak biasa, mengoperasi dari ujung kepala sampai ujung kaki, untuk
menerapkan prosedur yang diketahui pada bagian tubuh yang lain, dan untuk
menjadi inovatif.
Tidak ada spesialistik yang menerima perhatian dari media awam seperti
yang diterima bedah plastik. Pada waktu yang sama, tidak ada spesialistik yang
tidak lebih dipahami dengan baik. Walaupun publik menyamakan bedah plastik
dengan bedah kosmetik, akar dari bedah plastik berdasar pada warisan
rekonstruktif. Bedah kosmetik, komponen penting bedah plastik, merupakan salah
satu teka-teki bedah plastik.
Bedah plastik terdiri atas bedah rekonstruktif dan bedah kosmetik tapi
batasan antara keduanya, seperti batasan pada bedah plastik itu sendiri, sulit untuk
digambar. Lebih banyak seseorang mempelajari suatu spesialistik, lebih samar
perbedaan antara bedah kosmetik dan bedah rekonstruktif. Bahkan bila seseorang
bertanya, sebagaimana perusahaan asuransi bertanya, mengenai kepentingan
fungsional prosedur tertentu, jawabannya seringkali bergantun pada kesadaran
bahwa fungsi wajah adalah untuk terlihat seperti sebuah wajah (fungsi
penampilan). Sebuah bibir sumbing diperbaiki agar seorang anak akan terlihat dan
berfungsi seperti anak lain. Prosedur yang umum seperti reduksi payudara

merupakan hal yang sangat kompleks bila seseorang mempertimbangkan masalah


penampilan, citra diri, seksualitas, dan kewanitaan dan menentang kategorisasi
sebagai sekedar kosmetik sederhana atau rekonstruktif yang diperlukan.
Bab ini meringkas prinsip-prinsip dan teknik dasar bedah plastik yang
berhubungan dengan kulit. Telah disediakan referensi silang dengan bab-bab
tertentu memberikat informasi tambahan. Bab berikut di bagian pertama akan
mendiskusikan konsep dan alat lain yang digunakan dokter bedah plastik untuk
menangkis masalah yang lebih kompleks. Hampir seluruh luka dan seluruh
prosedur melibatkan kulit, bahkan bila hanya sebuah insisi, dan kemudian teknikteknik kutaneus yang dideskripsikan di teks ini dapat diterapkan pada hampir
semua prosedur yang diterapkan pada setiap spesialis bedah.
MEMPEROLEH JARINGAN PARUT GARIS HALUS
Akankah ada bekas luka? bahkan pasien yang paling cerdas menanyakan
pertanyaan tidak masuk akal ini. Saat cedera ketebalan penuh terjadi pada kulit
atau dilakukan sebuah insisi, selalu ada bekas luka. Pertanyaan seharusnya adalah,
Akankah saya memiliki bekas luka garis halus yang mencolok?
Penampilan akhir dari sebuah bekas luka bergantung pada banyak faktor,
termasuk berikut: (a) perbedaan antara pasien-pasien yang kita belum pahami dan
tidak dapat diprediksi; (b) tipe kulit dan lokasi dalam tubuh; (c) tegangan pada
penutupan; (d) arah luka; (e) kondisi lokal dan sistemik lain, terakhir, (f) teknik
operasi.
Insisi atau luka yang sama pada dua pasien berbeda akan menghasilkan
bekas luka yang berbeda dalam hal kualitas dan estetika. Kulit berminya atau

berpigmen menghasilkan, seperti aturan umum, bekas luka yang lebih terlihat
(Bab 2 mendiskusikan bekas luka hipertrofik dan keloid). Kulit tipis, berkeriput,
pucat, kering, seperti sarang lebah pada pasien dengan keturunan Inggris atau
Skotlandia-Irlandia biasanya menghasilkan bekas luka yang lebih mencolok.
Aturan dibuat untuk dilanggar, namun, dan terkadang pasien akan membentuk
bekas luka yang tidak khas tipe kulitnya.
Area anatomi tertentu seringkali menghasilkan bekas luka yang tak
diinginkan yang tetap hipertrofik dan lebar. Misalnya area bahu dan sternal.
Sebaliknya, insisi kelompak mata hampir selalu sembuh dengan bekas luka garis
halus.
Kulit kehilangan elastisitas seiring penuaan. Kulit yang meregang,
dikombinasikan dengan perubahan jaringan subkutan, membentuk kerutan,
sehingga bekas luka tidak terlalu terlihat dan tidak lebih cenderung melebar pada
orang tua. Anak-anak, selain itu, dapat sembuh lebih cepat namun tidak sembuh
lebih baik, bekas luka mereka cenderung merah dan lebar dibandingkan dengan
bekas luka pada kakek-nenek mereka. Ditambah lagi, selagi bagian tubuh dengan
bekas luka itu tumbuh, bekas luka menjadi lebih besar secara proporsional. Awasi
bekas luka pada kulit kepala anak kecil!
Seperti mundurnya kulit anak-anak yang sehat dan elastis dapat
menyebabkan pelebaran bekas luka, tegangan pada penutupan menjadi pertanda
buruk untuk penampilan bekas luka pada akhirnya. Bekas luka berhubungan
dengan eksisi elips sederhana dari sebuah tahi lalat di bagian punggung seringkali

menghasilkan bekas luka yang tidak menarik dibandingkan dengan luka insisi.
Tubuh mengetahui saat kehilangan jaringan.
Arah laserasi atau eksisi juga menentukan penampilan bekas luka pada
akhirnya. Garis tegangan pada kulit pertama kali diketahui oleh Dupuytren.
Langer juga mendeskripsikan garis tegangan normal, yang kita ketahui sebagai
garis Langer. Borges menyebut garis-garis kulit sebagai garis tegangan kulit
relaks. Gambar 1.1

Gambar 1.1. Garis-garis tegangan kulit relaks


Insisi elektif atau eksisi lesi direncanakan jika mungkin agar hasil akhir
bekas luka akan paralel dengan garis tegangan kulit relaks. Kontraksi maksimal
terjadi bila bekas luka melewati garis-garis tegangan minimal pada sudut yang
tepat. Garis-garis kerutan pada umumnya sama dengan garis tegangan kulit relaks
dan berjajar tegak lurus dengan sumbu panjang otot-otot di bawahnya.

Masalah lain, yang tidak berhubungan dengan bekas luka itu sendiri tapi
terhadap persepsi, menentukan apabila bekas luka dapat terlihat. Insisi dan bekas
luka dapat disembunyikan dengan menempatkan mereka pada pertemuan dua
unit estetik (misal pada pertemuan bibir dan pipi, sepanjang lipatan nasolabial),
dimana mata mengharapkan perubahan kontur (Bab 38). Sebaliknya, insisi di pipi
tengah atau dagu tengah atau ujung hidung akan selalu mencolok.
Bentuk luka juga mempengaruhi penampilan utama. Bekas luka pintu
jebakan berasal dari insisi kurvilinear atau laserasi yang setelah penyembuhan
dan kontraktur tampak seperti alur cekung dengan kulit menonjol di dalam
lengkungan. Usaha untuk menghilangkan lemak di area menonjol tidak pernah
memenuhi kepuasan pasien atau dokter bedah.
Kondisi lokal, seperti cedera remuk pada kulit sekitar luka, juga dapat
mempengaruhi bekas luka. Sehingga kondisi sistemik seperti penyakit vaskuler
atau keadaan kongenital yang mempengaruhi elastin dan/atau penyembuhan luka.
Status gizi dapat mempengaruhi penyembuhan luka, namun biasanya hanya pada
malnutrisi ekstrem atau defisiensi vitamin. Status gizi mungkin dilebih-lebihkan
sebagai faktor dalam pembentukan bekas luka.
Teknik juga ditekankan (oleh dokter bedah plastik yang melayani diri
sendiri?) sebagai faktor yang menentukan apakah bekas luka menjadi tidak
mencolok, tetapi tentu saja hal ini memiliki kepentingan tertentu. Meminimalisir
kerusakan tepi kulit dengan teknik atraumatik, debridement materi nekrotik atau
materi asing, dan penutupan bebas tegangan merupakan langkah-langkah awal

untuk mendapatkan bekas luka garis halus. Namun, formasi bekas luka tidak
dapat diprediksi bahkan dengan teknik yang teliti.
Dua faktor teknis merupakan penting dalam meningkatkan kemungkinan
bekas luka yang baik. Pertama adalah penempatan benang yang tidak akan
meninggalkan tanda jahitan permanen atau penghilangan cepat benang jahit kulit
sehingga tidak terjadi cacat rel kereta api. Dengan kata lain, membuang benang
jahit mungkin lebih penting daripada menempatkannya! Dokter bedah plastik
sudah diketahui untuk mengejek spesialis lain untuk menggunakan benang jahit
diameter besar untuk penutupan kulit, namun pemilihan benang jahit tidak relevan
jika benang jahit akan dibuang dengan segera. Benang jahit pada wajah biasanya
akan dibuang dalam waktu 3-5 hari dam pada badan 7 hari atau kurang. Kecuali
untuk luka pada sendi, benang jahit tidak boleh ditinggalkan untuk lebih dari 1
minggu. Penutupan lapisan subkutan dan Steri-Strip biasanya cukup untuk
mencegah terbuka kembali.
Faktor teknik penting yang kedua yang mempengaruhi penampilan bekas
luka adalah eversi tepi lka. Pada luka dimana kulit disatukan secara tepat, ada
kecenderungan luka untuk melebar. Pada luka dimana tepinya di eversi, atau
mungkin hiperversi dengan berlebihan, kecenderungan ini berkurang, mungkin
dengan mengurangi tegangan pada penutupan. Dengan kata lain, penutupan luka
ideal mungkin tidak pipih sempurna, namun menonjol dengan rigi yang jelas, agar
luka dapat menyebar pada akhirnya. Eversi tepi luka selalu hilang. Dokter bedah
tidak perlu mengkhawatirkan bahwa luka hipereversi akan tetap seperti itu; itu
akan selalu menjadi rata seiring waktu.

PENUTUPAN LUKA KULIT


Saat metode paling umum dalam penutupan luka adalah dengan benang
jahit, tidak ada hal ajaib atau superior mengenai benang jahit. Staples, perekat
kulit, atau adhesif luka juga berguna pada situasi tetentu. Selain itu, aproksimasi
tepi kulit yang tepat tanpa tegangan sangat penting untuk memastikan
penyembuhan primer dengan bekas luka minimal.
Luka yang lebih dalam dari kulit ditutup dengan lapisan-lapisan. Kuncinya
adalah untuk mengeliminasi rongga mati, untuk memberikan penutupan yang kuat
untuk mencegah terbukanya kembali (dehiscence) saat penyembuhan luka sedang
terjadi, dan untuk memperkirakan dengan tepat tepi kulit tanpa tegangan. Tidak
semua lapisan membutuhkan penutupan terpisah. Namun penutupan pada betis,
subjek pergerakan, dependen, dan peregangan dengan berjalan, membutuhkan
penutupan yang lebih kuat daripada kulit kepala, yang tidak bergerak, tidak lebih
dependen, dan bukan subyek tegangan pada aktivitas sehari-hari.
Kecuali benang kulit, yang ditempatkan dengan simpul terkubur utuk
mencegah muncul dari kulit saat proses penyembuhan, benang jahit harus
ditempatkan dengan simpul di superfisial pada

putaran benang jahit (tidak

dikubur), agar lapisan jaringan dapat dieversi (Gambar 1.2 A).

Gambar 1.2. tipe penutupan kulit A: Terputus sederhana (simple interrupted), B: Matras vertikal,
C: Matras horizontal, D: Kontinyu subkutis, E: Matras horizontal setengah-terkubur, F: Kontinyu
terus menerus, G: Staples, H: Pita perekat kulit (perekat kulit menampilkan fungsi yang sama)

Benang kulit yang dikubur memberikan kekuatan agar benang eksternal


dapat dilepas lebih awal, tetapi tidak mencegah bekas luka untuk menyebar. Tidak
ada teknik yang dapat diandalkan untuk mencegah luka yang akan melebar.
Teknik menjahit
Teknik menjahit diilustrasikan pada gambar 1.2. dan disebutkan dibawah ini
Jahitan Simple Interrupted (terputus sederhana)
Jahitan terputus sederhana adalah gold standard dan jahitan yang paling
sering dilakukan. Jarum dimasukkan ke kulit dengan sudut yang memberikan

10

lewatnya ke dermis profunda pada titik yang lebih jauh dari masuknya jarum. Hal
ini agar lebarnya benang jahit pada dasarnya di dermis lebih lebar daripada titik
masuk dan keluar epidermal, memberikan jahitan penampilan trianular saat dilihat
dari potongan silang dan eversi tepi kulit. Perhatian harus diberikan untuk
memastikan jahitan ditempatkan pada kedalaman yang sama pada setiap sisi insisi
atau luka, jika tidak maka tepi akan tumpang tindih. Jahitan biasanya ditempatkan
kurang lebih berjarak 5-7 mm atau 1-2 mm dari tepi kulit, walaupun lokasi dan
ukuran jarum dan kaliber bahan jahitan akan membuat hal ini bervariasi.
Jahitan Matras Vertikal
Jahitan matras vertikal mungkin digunakan bila eversi tepi kulit diinginkan
dan tidak bisa dicapai dengan jahitan sederhana saja. Jahitan matras vertikal
cenderung meninggalkan garis silang yang paling mencolok dan tidak enak dilihat
bila tidak disingkirkan lebih awal.
Jahitan Matras Horizontal
Jahitan matras horizontal juga memberikan aproksimasi tepi kulit dengan
eversi. Mereka berguna pada kulit yang gundul dan tebal (kaki dan tangan).
Menurut opini penulis, jahitan matras horizontal lebih baik daripada vertikal.
Jahitan Subkutikular
Jahitan subkutikular (atau intradermal) dapat dilakukan secara terputus atau
kontinyu. Pada penutupan subkutan kontinyu, jarum dilewatkan horizontal
melalui dermis superfisial paralel dengan permukaan kulit dan memberikan
aproksimasi tepi kulit yang tepat. Perhatian diberikan untuk memastikan jahitan
ditempatkan pada tingkat yang sama. Teknik tersebut menyingkirkan dibutuhkan
11

jahitan eksternal kulit dan mengalahkan kemungkinan bekas jahian pada kulit.
Benang jahit absorbable atau nonabsorbable dapat digunakan, dengan
nonabsorbable harus dilepas 1-2 minggu setelah penjahitan
Jahitan Matras Horizontal Setengah-Terkubur
Jahitan matras horizontal setengah-terkubur digunakan saat diinginkan
simpul pada sat sisi garis jahitan dengan tanpa bekas jahitan pada sisi lainnya.
Contohnya saat menyisipkan areola pada reduksi payudaa, metode ini
meninggalkan bekas jahitan pada areola yang gelap dan seperti kerikil, daripada
pada kulit payudara
Jahitan Kontinyu Terus Menerus
Jahitan kontinyu terus menerus, atau dikenal sebagai jahitan kontinyu
sederhana dapat dilakukan dengan cepat namun bergantung pada tepi luka yang
diaproksimasi sebelumnya. Jahitan kontinyu tidak setepat jahitan terputus. Jahitan
kontinyu juga dapat dilakukan dengan cara terikat untuk memberikan hemostasis
dengan kompresi pada tepi kulit. Mereka berguna pada penutupan kulit kepala.
Staples Kulit
Staples kulit berguna untuk menghemat waktu pada insisi panjang atau pada
posisi penutupan kulit atau flap sementara sebelum menjahit. Memgang tepi luka
dengan forsep untuk mengeversi jaringan berguna saat menempatkan staples
untuk mencegah tepi luka inversi. Staples harus dilepas lebih awal untuk
mencegah bekas kulit dan ideal untuk kulit kepala berambut.

12

Pita Kulit
Pita kulit dapat mengaproksimasi tepi luka dengan efektif, namun jahitan
terkubur seringkali membutuhkan tambahan pita kulit untuk mengaproksimasi
lapisan lebih dalam, mengurangi tegangn, dan mencegah inversi tepi luka. Pita
kuli tjuga digunakan setelah jahitan kulit dilepas untuk memberikan tambahan
kekuatan pada penutupan luka.
Perekat Kulit
Perekat kulit telah dikembangkan, dan dapat memiliki peran pada penutupan
luka, terutama pada area dimana tidak ada tegangan dalam penutupan, atau
dimana kekuatan penutupan luka telah diberikan oleh lapisan jahitan terkubur
dermal. Perekat, oleh mereka sendiri, tidak mengeversi tepi luka. Eversi harus
diberikan pada jahitan yang lebih dalam.
Metode Eksisi
Lesi kulit dapat dieksisi dengan eksisi elips, baji, sirkular, atau serial.
Eksisi Elips
Eksisi elips sederhana merupakan teknik paling sering digunakan (Gambar
1.3.). Eksisi elips dengan panjang yang kurang cukup dapat membentuk telingaanjing, yang terdiri atas kelebihan kulit dan lemak subkutan pada akhir
penutupan luka. Ada beberapa cara untuk memperbaiki telinga anjing,
beberapanya ditunjukkan pada Gambar 1.4. telinga anjing adalah kutukan bedah
plastik dan eliminasinya harus berjalan lancar. Telinga anjing tidak dapat hilang
dengan sendirinya

13

Gambar 1.3. eksisi elips. A: bila elips terlalu pendek, terbentuk telinga anjing (panah) pada akhir
luka tertutup. B: metode tepat dengan panjang elips setidakna tiga kali lebar

Gambar 1.4. Tiga metode menghilangkan telinga anjing yang disebabkan oleh eksisi elips terlalu
pendek. A: telinga anjing telah dieksisi, membuat insisi lebih panjang, atau terkonversi menjadi
Y, B: satu metode menghilangkan telinga anjing disebabkan oleh desain eksisi elips pada sat sisi
lebih panjang dari yang lainnya. Konversi menjadi L memperpanjang sisi yang lebih pendek
dengan efektif.

14

Eksisi Baji
Lesi terletak pada atau dekat dengan tepi bebas dapat dieksisi dengan eksisi baji.
Pada pasien yang lebih tua, sepertiga bibir bawah dan seperempat bibir atas dapat
dieksisi dengan penutupan primer (Gambar 1.5.)

Gambar 1.5. Eksisi baji pada telinga, kelopak bawah, dan bibir.

Eksisi Sirkular
Saat preservasi kulit diinginkan (seperti ujung hidung) atau panjang bekas luka
harus dijaga pada minimum (anak), eksisi sirkular mungkin diingkinkan. Gambar
1.6. menunjukkan beberapa teknik penutupan. Gambar 1.6. dimasukkan karena
teknik ini dapat berguna, seperti untuk keperluan sejarah. Defek sirkular juga
dapat ditutup dengan jahitan purse-string (tali tas) yang menyebabkan penyatuan

15

kulit yang signifikan. Hal ini dibiarkan matur selama berbulan-bulan dan dapat
menghasilkan bekas luka lebih pendek pada misalnya wajah seorang anak.

Gambar 1.6. penutupan luka pada eksisi sirkular. A: Cangkok kulit, B: Sayap pedikel subkutan
triangular bergeser dapat digunakan untuk menutup defek sirkular; defek triangular ditutup dengan
cara V-Y, C: transposisi sayap berdasarkan pedikel kulit dan dirotasi menghadap satu sama lain.
Defek sirkular dapat juga ditutup dengan sayap lokal lain. (Gambar 1.10-1.15) atau dengan jahitan
pursestring

16

Eksisi Serial
Eksisi serial adalah eksisi lesi pada lebih dari satu stadium. Eksisi serial dan
ekspansi jaringan (Bab 10) sering dilakukan untuk lesi besar seperti nevus
kongenital. Properti kulit viskoelastik yang tetap digunakan, agar kulit dapat
regang seiring waktu. Teknik ini membuat penutupan luka dapat dilakukan dengan
bekas luka ang lebih pendek bahkan jika lesi asli dieksisi secara elips pada suatu
stadium.
SKIN GRAFTING (CANGKOK KULIT)
Cangkok kulit adalah pilihan standar untuk menutup defek yang tidak bisa
ditutup secara primer. Cangkok kulit terdiri atas epidermis dan sebagian atau
seluruh dermis. Artinya, cangkok adalah sesuatu yang diambil dari tubuh,
didevaskularisasi sepenuhnya, dan ditempatkan pada tempat lain. Cangkok
apapun membutuhkan vaskularisasi dari tempat dimana dia akan ditempatkan
untuk bertahan hidup. Jaringan apapun yang tidak diambil sepenuhnya sebelum
ditempatkan kembali bukan sebuah cangkok
Tipe Cangkok Kulit
Cangkok kulit diklasifikasikan sebagai split-thickness (ketebalan terbagi)
atau full-thickness (ketebalan penuh), bergantung pada jumlah dermis yang
terlibat. Cangkok kulit split-thickness melibatkan jumlah dermis yang bervariasi,
sedangkan cangkok kulit full-thickness melibatkan seluruh dermis Gambar 1.7.

17

Gambar 1.7. Ketebalan cangkok kulit

Seluruh cangkok kulit berkontraksi segera setelah pengangkatan dari situs


donor dan lagi setelah revaskularisasi pada lokasi akhir. Kontraksi primer adalah
rekoil segera pada cangkok yang baru diambil sebagai hasil dari elastin pada
dermis. Semakin banyak dermis pada cangkok, semakin primer kontraksi yang
terjadi. Kontraktur sekunder, musuh sebenarnya, melibatkan kontraksi pada
cangkok yang sembuh dan mungkin dihasilkan oleh aktivitas miofibroblas.
Cangkok kulit full-thickness lebih berkontraksi pada panen awal (kontraksi
primer) tetapi kurang pada penyembuhan (kontraktur sekunder) daripada pada
cangkok kulit split-thickness. Semakin tipis cangkok kulit split-thickness, semakin
besar kontraktur sekunder. Luka granulasi sembuh secara sekunder, tanpa cangkok
kulit, menampilkan derajat kontraksur yang besar dan rentan terhadap bekas luka
hipertrofik.
Jumlah adneksa epitel yang ditransfer dengan cangkok kulit bergantung
pada ketebalan dermis yang ada. Kemampuan cangkok kulit untuk berkeringat

18

bergantung pada jumlah kelenjar ditransfer dan reinervasi simpatis kelenjarkelenjar ini dari situs resipien. cangkok kulit direinervasi dengan pertumbuhan
serabut saraf dari dasar area resipien dan dari perifer. Cangkok kulit full-thickness
memiliki sensorik terbesar karena banyaknya selubung neurilemma. Folikel
rambut juga ditransfer dengan cangkok kulit full-thickness. Pada umumnya,
cangkok kulit full-thickness menampilkan pertumbuhan rambut dari situs donor
dimana cangkok kulit split-thickness, terutama cangkok kulit split-thickness yang
tipis, biasanya tak berambut.
Kebutuhan Kelangsungan Hidup Cangkok Kulit
Keberhasilan cangkok kulit, atau pengambilan, bergantung pada
kemampuan cangkok untuk menerima nutrisi dan, kemudian pertumbuhan
vaskular dari alas resipien. Revaskularisasi cangkok kulit atau pengambilan
terjadi pada tiga fase. Fase pertama melibatkan proses imbibisi serum dan
bertahan 24-48 jam. Awalnya, lapisan fibrin terbentuk saat cangkok ditempatkan
pada alas resipien, mengikat cangkok ke alas. Absorpsi nutrisi pada cangkok
terjadi dengan aksi kapiler dari alas resipien. Fase kedua adalah fase inoskulatori
dimana ujung kapiler resipien dan donor menjadi lurus. Pada fase ketiga, cangkok
direvaskularisasi melalui pertemuan kapiler ini. Karena cangkok kulit fullthickness lebih tebal, kelangsungan hidup cangkok lebih sulit, membutuhkan alas
dengan vaskularisasi baik.
Untuk mengoptimalkan pengambilan cangkok kulit, situs resipien harus
dipersiapkan. Cangkok kulit melibatkan alas vaskuler dan terkadang pengmabilan
pada tulang yang terekspos, kartilago, atau tendon tanpa periosteum,

19

perikondrium, atau paratenon. Ada pengecuali, namun, saat cangkok kulit


seringkali berhasil didalam orbit atau pada tulang temporal, walaupun
penyingkiran periosteum. Kontak dekat antara cangkok kulit dan alas resipien
sangat

penting.

Hematoma

dan seroma

dibawah

cangkok

kulit

akan

mempengaruhi kelangsungan hidupnya, dan imobilisasi cangkok sangat penting.


Penempelan Cangkok Kulit
Agar cangkok kulit dapat dipakai, hal itu harus menempel pada alas. Ada
dua fase penempelan cangkok. Pertama dimulai dengan penempatan cangkok
pada alas resipien, tempat penempelan cangkok karena deposit fibrin. Fase ini
bertahan 72 jam. Fase kedua melibatkan pertumbuhan jaringan fibrosa dan
pembuluh ke cangkok.
Cangkok Kulit Bertaut versus Lembaran
Insisi mekanik multipel menghasilkan cangkok kulit bertaut, memberikan
ekspansi segera pada cangkok. Cangkok kulit bertaut menutupi area yang lebih
besar per sentimeter persegi panen cangkok dan memberikan drainase melalui
banyak lubang. Cangkok kulit bertaut menghasilkan penampilan seperti kerikil
yang terkadang tidak dapat terima secara estetik. Sebaliknya, cangkok kulit
lembaran memiliki keuntungan permukaan kontinyu dan tidak terganggu,
terkadang membuat hasil yang lebih baik secara estetik, namun dengan kerugian
serum dan darah tidak bisa mengalir melaluinya dan butuh cangkok kulit yang
lebih besar.

20

Situs Donor Cangkok Kulit


Epidermis situs donor beregenerasi dari imigrasi sel epidermal berasal pada
selubung folikel rambut dan struktur adneksa yang tertinggal dalam dermis.
Sebaliknya, dermis tidak pernah beregenerasi. Karena cangkok kulit splitthickness mengambil hanya sebagian dermis, situs donor asli dapat digunakan
kembali untuk pengambilan cangkok kulit split-thickness berikutnya. Maka dari
itu, jumlah cangkok kulit split-thickness yang dicangkok dari situs donor secara
langsung bergantung pada ketebalan dermis donor. Situs donor cangkok kulit fullthickness harus ditutup secara primer karena tidak ada struktur epitel yang tersisa
untuk memberikan reepitelisasi.
Cangkok kulit dapat diambil dari bagian tubuh manapun, namun warna,
tekstur, ketebalan dermis, vaskularitas, dan morbiditas situs donor pada lokasi
tertentu dapat bervariasi. Cangkok kulit diambil dari atas klaviukula memberikan
warna yang cocok untuk defek pada wajah. Kulit kelopak mata atas dapat juga
digunakan, karena memberikan kulit yang sangat tipis pada jumlah sedikit. Situs
pengambilan cangkok kulit full-thickness ditutup secara primer dan kemudian
dengan ukuran yang lebih kecil. Kulit kepala, dinding abdomen, bokong, dan paha
adalah situs donor yang umum untuk cangkok kulit split-thickness. Dokter bedah
harus menghindari kesalahan pengambilan cangkok kulit split-thickness dari
lokasi yang paling mudah diakses seperti paha anterior. Walaupun situs donor
akan sembuh dengan reepitelisasi, selalu ada bukti yang dapat dilihat bahwa
sebuah area digunakan sebagai situs donor. Hal ini dapat bervariasi dari keloid
sampai hiper atau hipopigmentasi sederhana. Situs donor yang tidak mencolok
adalah bokong dan kulit kepala. Cangkok kulit split-thickness diambil dari kulit

21

kepala dan memiliki rambut pada awalnya namun tanpa folikel rambut dan
akhirnya akan menjadi tak berambut. Rambut pada situs donor kulit kepala akan
kembali setelah reepitelisasi karena folkel rambut tidak diganggu.
Perawatan Cangkok Kulit dan Situs Donor Pascaoperasi
Penyebab kegagalan cangkok meliputi pengumpulan darah atau serum
dibawah cangkok (mengangkat cangkok dari alas dan mencegah revaskularisasi),
pergerakan cangkok pada alas mengganggu revaskularisasi (teknik imobilasi
meliputi penggunaan balutan bantalan seperti pada Gambar 1.8., dan infeksi.
Risiko infeksi dapat diminimalisisr dengan persiapan hati-hati pada situs resipien
dan inspeksi awal cangkok yang diterapkan pada alas yang terkontaminasi. Luka
yang mengandung organisme 105 per gram tidak akan menyokong cangkok kulit.
Ditambah lagi, sebuah infeksi pada situs donor cangkok dapat mengkonversi
kehilangan dermal ketebalan sebagian menjadi kehilangan kulit ketebalan
sepenuhnya.

Gambar 1.8. Balutan bantalan yang diikat untuk cangkok kulit

22

Situs donor pada cangkok kulit split-thickness sembuh dengan reepitelisasi.


Situs pengambilan split-thickness tipis (kurang dari 10/1000 dari 1 inci) secara
umum sembuh dalam 7 hari. Situs donor dapat dirawat dengan berbagai cara.
Situs harus dilindungi dari trauma mekanis dan desikasi. Xeroform, OpSite, atau
Adaptic dapat digunakan. Karena lembab, oklusi luka (situs donor) sembuh lebih
cepat daripada luka kering, metode yang lebih tua dengan menempatkan
Xeroform dan mengeringkannya dengan hairdryer adalah tidak optimal. Balutan
oklusif, seperti balutan semipermeabel poliuretan (contoh OpSite), juga akan
mengurangi nyeri pada situs secara signifikan.
Balutan Biologis
Cangkok kulit dapat juga digunakan sebagai penutupan luka sementara
sebagai balutan biologis. Hal ini melindungi alas resipien dari desikasi dan traum
alebih lajut sampai penutupan definitif dapat terjadi. Pada luka bakar yang luas
dimana terdapat sedikit kulit untuk diambil sebagai penutup, pengganti kulit dapat
digunakan (bab 18). Pengganti kulit biologis meliputi allograf manusia (kulit
kadaver), amnion, atau xenograf (kulit babi). Allograf menjadi tervaskularisasi
tetapi ditolak kurang lebih 10 hari kecuali resipien terimunosipresi (misal,
memiliki luka bakar luas), dimana penolakan terjadi lebih lama. Sebaliknya,
xenograf ditolak sebelum menjadi tervaskularisasi. Pengganti kulit sintetis seperti
polimer silikon dan membran komposit dapat diterapkan, dan pengganti kulit baru
secara terus menerus dikembangkan. Epidermis manusia dapat dikultur in vitro
untuk menghasilkan lembaran epitel yang dikultur agar dapat menutup luka luas.
Penutupan rentan dan menghasilkan kurangnya dermis penyokong.

23

FLAP KULIT
Tidak seperti cangkok kulit, flap kulit memiliki suplai darah tersendiri. Flap
digunakan untuk menutupi alas resipien yang memiliki vaskularisasi buruk;
menutup struktur vital; merekonstruksi ketebalan penuh pada kelopak mata, bibir,
telinga, hidung, dan pipi; dan membantali penonjolan tubuh. Flap juga dipilih saat
dibutuhkan untuk mengoperasi melalui luka pada hari berikutnya untuk
memperbaiki struktur dibawahnya. Ditambah lagi, flap otot dapat memberikan
unit motor fungsional aau dapat mengendalikan infeksi pada area resipien. Flap
otot dan flap mikrovaskular bebas akan didiskusikan pada Bab 5 dan Bab 8.
Pada

studi

eksperimental,

Mathes

et

al.

membandingkan

flap

muskulokutaneous dengan flap kulit acak untuk menentukan klirens bakteri dan
tegangan oksigen (Gambar 1.9.). Penempatan 107 Staphylococcus aureus dibawah
flap kulit acak pada anjing menghasilkan nekrosis 100% pada flap kulit dalam
waktu 48 jam; flap muskulokutaneus mendemonstrasikan kelangsungan jangka
panjang. Kuantitas bakteri viabel ditempatkan pada silinder luka dibawah flap ini
menunjukkan reduksi segera saat ditempatkan di dalam flap muskulokutaneous.
Tekanan oksigen diukur pada ujung distal flap acak dan dibandingkan dengan
bawah otot pada bagian distal flap muskulokutaneous seperti pada area
subkutannya. Ditemukan bahwa tegangan oksigen pada distal flap acak jauh lebih
rendah dibandingkan distal bagian otot dan kulit dari flap muskulokutaneus.
Penelitian in digunakan untuk meluruskan transfer flap otot pada luka terinfeksi.
Dapat juga flap kulit yang memiliki vaskularisasi baik akan sama efikasinya
dengan flap otot.

24

Gambar 1.9. Klasifikasi lama flap kulit. A: Pola acak. B: Pola aksial

Akhirnya, sebuah flap akan dipilih karena hasil estetik yang lebih baik.
Contohnya, defek nasal dari kanker kulit dapat ditutup dengan cangkok kulit,
meninggalkan bekas yang terlihat. Flap kulit lokal mungkin membutuhkan insisi
pada jaringan nasal disekitar, tetapi dapat dipilih untuk alasan estetik dalam waktu
jangka panjang. Tidak terdapat jaringan yang lebih baik untuk menggantikan
jaringan nasal daripada jaringan nasal. Menggantikan dengan yang jaringan yang
sama.
Flap kulit terdiri atas jaringan kulit dan subkutan yang dikirm dari satu
bagian tubuh ke bagian tubuh lain dengan pedikel vaskuler atau penempelan pada
tubuh yang dijaga nutrisinya. Perencanaan yang baik untuk flap penting untuk
keberhasilan operasi. Semua situs yang mungkin dan orientasi untuk flap harus
dipertimbangkan agar pilihan yang paling tepat dipilih.
Perencanaan flap dengan terbalik adalah prinsip yang penting. Pola defek
ditransfer pada sepotong handuk kain. Langkah-langkah prosedur operasi
dilakukan dengan urutan terbalik, menggunakan pola ini sampai situs donor
dicapai. Flap didesain sedikit lebih panjang dari yang dibutuhkan, dan pada

25

panjang tertentu akan berotasi dan sedikit redundansi dapat mencegah kusutnya
suplai darah flap. Proses diulang, yakin setiap kali dasar dipegang pada posisi
fiksasi dan tidak boleh untuk bergeser dengan flap. Mengukur dua kali, memotong
sekali. Lebih mudah untuk meotong flap yang sedikit lebih panjang daripada
untuk menambah yang terlalu kecil.
Merencanakan transposisi atau rotasi flap membutuhkan perhatian untuk
memastikan garis tegangan terbesar dari titik pivot ke bagian paling distal dari
flap dengan kepanjangan cukup (Gambar 1.10, 1.11, 1.12).

Gambar 1.10. Flap rotasi. Ujung flap memiliki panjang 4-5 kali dari dasar segitiga defek.
Potongan belakang atau segitiga Burow dapat digunakan jika flap dalam tegangan eksesif. A: titik
Pivot dan garis tegangan terbesar. B: Potongan belakang. C: segitiga Burow

26

Gambar 1.11. Flap transposisi. Defek sekunder terkadang ditutup dengan cangkok kulit. Potongan
belakang dapat digunakan jika flap dalam tegangan berlebihan.

Gambar 1.12. pentingnya titik pivot. Flap kulit rotasi pada titik pivot mejadi lebih pendek dengan
panjang yang efektif lebih jauh dari rotasinya. Perencanaan dengan pola kain membantu saat
mendesai flap seperti itu

Flap kulit lokal terdapat dua tipe: flap yang berotasi pada titik pivot (flap
rotasi, transposisi, dan interpolasi) (Gambar 1.10 dan 1.11) dan flap kemajuan
(flap kemajuan pedikel tunggal, kemajuan V-Y, kemajuan Y-V, dan kemajuan
bipedikel) (Gambar 1.17 dan 1.18)

27

Flap Berotasi pada Titik Pivot


Flap rotasi, transposisi, dan interpolasi memiliki persamaan titik pivot dan
lengkung dimana flap dirotasi. Jari-jari lengkung ini adalah garis dengan tegangan
flap terbesar. Realisasi bahwa flap dapat dirotasi hanya pada titik pivot sangat
penting untuk perencanaan preoperatif.
Flap rotasi adalah flap semisirkuler jaringan klit dan subkutan yang berotasi
pada titik pivot ke dalam defek agar tertutup. (Gambar 1.10). Situs donor dapat
ditutup dengan cangkok kulit atau dengan jahitan langsung pada luka.
Flap yang terlalu ketat sepanjang jari-jarinya dapat dilepas dengan membuat
potongan pendek dari titik pivot sepanjang dasar flap. Karena potongan ini
mengurangi suplai darah ke flap, penggunaannya membutuhkan perhatian yang
lebih. Dengan beberapa flap hal itu mungkin untuk memotong hanya pada
jaringan yang bertanggung jawab untuk tegangan, tanpa mengurangi suplai darah
pada flap. Contoh dari pemotongan selektif ini ditemukan pada galea aponeurotika
kulit kepala dan area di batang tubuh dimana fascia dalam lapisan subkutan yang
tebal dapat dibagi. Perlunya dilakukan potongan belakang merupakan indikasi
perencanaan yang buruk. Segitiga kulit (segitiga Burow) dapat disingkirkan dari
area sekitar titik pivot flap untuk membantu emajuan dan rotasi (Gambar 1.10c).
Metode ini hanya untuk keuntungan dalam mengurangi tegangan sepanjang jarijari flap.
Flap transposisi adalah persegi panjang atau persegi kulit dan jaringan
subkutan yang juga dirotasi pada titik pivot ke dalam defek sekitar (Gambar 1.11).
Dibutuhkan pada ujung flap disekitar defek untuk didesain berekstensi melebihi

28

itu (Gambar 1.12 dan 1.13). Saat Flap dirotasi, dengan garis dengan tegangan
terbesar disaat jari-jari lengkung rotasi, majunya ujung flap akan cukup panjang.
Situs donor flap ditutup dengan cangkok kulit, penjahitan langsung luka, atau flap
sekunder dari kulit paling longgar pada sudut yang tepat pada flap primer. Contoh
dari teknik tersebut adalah flap bilobus yang terampil (Gambar 1.14). Kunci flap
bilobus berhasil adalah aea kulit longgar untuk penutupan langsung dari defek
flap sekunder. Mencubit kulit antara jari pemeriksan membantu menemukan kulit
paling longgar, pada contohnya, area glabellar dan lateral kelopak mata.

Gambar 1.13. Flap transposisi yang dapat digunakan untuk menutup defek pada pipi anterior. A:
defek kecil dapat ditutup dengan flap transposisi pipi sederhana yang mengikuti garis-garis kulit.
B: defek besar dapat ditutup dengan flap transposisi ganda yang menggunakan flap kulit
postaurikular untuk menutup defek sekunder yang ditinggalkan pada flap pipi

29

Gambar 1.14. Flap Bilobar. Setelah lesi dieksisi, flap primer (P) ditransposisi kedalam defek
awal. Flap sekunder (S) kemudian ditransposisi kedalam defek yang ditinggalkan dari flap primer.
Flap primer sedikit lebih sempit daripada defek dikarenakan eksisi pada lesi awal, dan flap
sekunder setengah diameter dari flap primer. Untuk flap bilobar berhasil, flap sekunder harus
berasal dari area kulit longgar agar defek yang tersisa setelah memindahkan flap sekuder dapat
ditutup dengan aproksimasi tepi luka. Tiga kemungkinan pilihan untuk flap sekunder (S1, S2, S3)
telah digambarkan. Doter bedah memilih lokasi flap sekunder berdasarkan kelonggaran kulit dan
lokasi jaringan parut akhirnya.

Flap Limberg adalah tipe flap transposisi. Flap ini, seperti flap bilobus dan
Z-plasti (didiskusikan dibawah), bergantung pada kelonggaran kulit sekitar, yang
dapat diketahui lokasinya dengan mencubit berbagai area kulit antara ibu jari dan
jari telunjuk. Untungnya, kebanyakan pasien yang membutuhkan flap kulit lokal
berada pada kelompok usia lebih tua dan memiliki kulit yang longgar. Flap
Limberg didesain untuk defek jajar genjang dengan sudut 60 dan 120 derajat,
tetapi kebanyakan luka dapat dibuat menjadi jajar genjang, atau dibayangkan
sebagai jajar genjang, sehingga prinsip dapat diterapkan pada kebanyakan luka
wajah. Flap didesain dengan sisi dengan panjang yang sama dengan sumbu
pendek pada defek jajar genjang (Gambar 1.15 dan 1.16)

30

Gambar 1.15. Perencanaan flap jajar genjang (Limbeg). Defek jajar genjang harus memiliki sudut
60 dan 120 derajat. Flap direncanakan pada area klit longgar agar penutupan tepi luka langsung
munkin dilakukan. Diagonal pendek BD (memiliki panjang sama pada setiap sisi) diekstensi
dengan panjangnya sendiri ke titik E. garis EF digambar paralel dengan CD dan dengan panjang
yang sama. Setelah tepi flap telah diinsisi, flap ditransposisi ke defek jajar genjang

Gambar 1.16. Empat flap Limberg tersedia untuk defek jajar genjang apapun dengan sudut 60 dan
120 derajat. Pilihan dibuat berdasarkan lokasi bekas luka akhir, kelenturan kulit, dan suplai darah
pada flap

31

Flap Kemajuan
Semua flap kemajuan dipindah langsung ke defek tanpa gerakan rotasi atau
gerakan ke lateral. Modifikasi merupakan flap kemajuan pedikel tunggal,
kemajuan V-Y, dan flap kemajuan bipedikel. Flap kemajuan juga digunakan pada
gerakan kulit terekspansi (Bab 10)
Flap kemajuan pedikel tunggal adalah flap kulit dan jaringan subkutan
persegi panjang atau persegi yang diregangkan kedepan. Kemajuan dilakukan
dengan memanfaatkan elastisitas kulit (Gambar 1.17 A) dan dengan mengeksisi
segitiga Burow di lateral flap (Gambar 1.17B). Eksisi triangular membantu
menyamakan panjang antara sisi flap dan tepi luka sekitar.

Gambar 1.17. Flap kemajuan pedikel tunggal. A: Kemajuan dengan memanfaatkan elastisitas
kulit. B: Kemajuan dengan eksisi segitiga Burow pada kulit di lateral untuk menyamakan panjang
flap dan sekitar tepi luka. C: Ekspansi pantografik. Metode ini sering digunakan setelah kulit
diekspansi tetapi berisiko karena potongan belakang mengurangi suplai darah

32

Teknik kemajuan V-Y memiliki banyak penerapan. Hal ini bukan kemajuan
dengan maksud yang sama seperti pergerakan kedepan dari flap kulit seperti
dideskripsikan. Namun, insisi berbentuk V pada kulit dibuat, lalu kulit pada tiap
sisi V di majukan dan insisi ditutup sebagai Y (Gambar 1.18). Teknik V-Y dapat
digunakan untuk memperpanjang struktur seperti kolumella nasal, mengeliminasi
torehan minor pada bibir, dan pada keadaan tertentu, menutup situs donor pada
flap kulit.

Gambar 1.18. Kemajuan V-Y. Kulit pada tiap sisi V yang sebenarnya dimajukan

Z-PLASTY
Prinsip Geometrik Z-Plasty
Z-plasty adalah prinsip terampil yang memiliki banyak penerapan pada
bedah plastik (Bab 18). Z-plasty dapat diterapkan untuk memperbaik dan
mengubah arah bekas luka yang sudah ada atau memberikat tambahan panjang
pada kontraktur bekas luka. Prinsip melibatkan transposisi dua flap triangular
(Gambar 1.19). Lengan Z harus sama panjang pada bagian sentral, tetapi dapat
berekstensi pada berbagai sudut (Dari 30 sampai 90 derajat) bergantung pada
panjang yang ingin dicapai. Z-plasty klasik memiliki sudut 60 derajat (Tabel 1.1)
dan memberikan 75% penambahan panjang dari bagian sentral dengan merekrut
jaringan lateral.

33

Gambar 1.19. Z-plasty sudut 60 derajat klasik. Sisipan menunjukkan metode menemukan sudut
60 derajat dengan menggambarkan sudut 90 derajat, kemudian membagi tiap sepertiga. Lengan Z
harus sama panjang dengan anggota sentral. A: Desain. B: transposisi flap. C: Hasil akhir.
Perhatikan bagian sentral telah berubah arah 90 derajat

Tabel 1.1. Z-Plasti, Sudut, dan Penambahan Teoritis


Sudut Z-Plasty (derajat)
30-30
45-45
60-60
75-75
90-90

Penambahan Panjang teoritis (%)


25
50
75
100
120

Pertambahan panjang di arah anggota sentral Z dan bergantung pada sudut


yang digunakan dan panjang anggota sentral. Walaupun penambahan teoritis dapat
ditentukan secara matematis, penambahan sebenarnya berdasarkan properti
mekanis dari kulit dan biasanya lebih sedikit

34

Perencanaan dan Penggunaan Z-Plasty


Anggota sentral hasil, setelah transposisi flap, akan tegak lurus dengan
anggota sentral asli. Pada revisi bekas luka, anggota sentral final harusnya berjajar
diarah garis kulit dan harus dipilih pertama. Z-plasty kemudian didesain.
Prinsip Z-plasty dapat digunakan untuk meningkatkan panjang kulit pada
arah yang diinginkan. Contohnya, berguna untuk melepas kontraktur bekas luka,
terutama pada kasus dimana bekas luka melintasi kerut fleksi. Jumlah Z-plasti
dapat didesain dengan serial, terutama pada area sensitif kosmetik (seperti wajah)
untuk memecah penampakan garis lurus atau untuk melepas kontraktur. Namun
Z-plasty besar, tidak terlihat bagus pada wajah

dan lebih baik untuk

menggunakan banyak Z-plasty kecil. Jaring kulit kongenital juga dapat diperbaik
dengan Z-plasty. Bekas luka berbentuk U atau pintu jebakan dapat diperbaik
dengan memecah garis yang berkontraksi. Bekas luka melingkar dapat menerima
pemanjangan menggunakan Z-plast, terutama pada pita konstriksi di ekstremitas.
Deformitas ini paling baik dilepas pada setengah-setengah karena perhatian agar
tidak mengganggu suplai darah ke ekstremitas.
Borges mendeskripsikan W-plasty sebagai metode lain untuk memperbaik
bekas luka. Terkadang berguna, namun kurang aplikabilitas dan unversalitas Zplasty. Teknik ini melibatkan eksisi bekas luka pada segitiga kecil multipel yang
bersituasi bahwa mereka berinterdigitasi (Gambar 1.20). Walaupun W-plasty
merubah arah bekas luka linera, namun hanya dengan kesempatan bahwa salah
satu lengan W berjajar pada arah yang sama dengan garis kulit. Karena W-plasty

35

tidak memperpanjang garis bekas luka yang berkontraksi, lebih baik


menggunakan Z-plasty untuk kegunaan ini.

Gambar 1.20. W-plasti dapat digunakan untuk memecah bekas luka yang panjang yang tidak
berjajar pada arah yang sama dengan garis kulit.

Z-plasty dan W-plasty memiliki atribut tambahan untuk memecah garis


bekas luka menjadi bekas luka berbentuk akordion yang memiliki derajat
elastisitas. Perubahan ini memberikan kulit mobilitas dan berkontribusi pada
ekspresi fasial. Untuk kerugian mereka, kedua teknik dua kali lebih panjang dari
bekas luka. Bila W-plasty dilakukan, segitiga harus dibuat sangat kecil untuk
mencegah perburukan penampilan bekas luka.
TANGGA REKONSTRUKTIF
Teknik yang dideskripsikan diatas dapat diterapkan pada defek kutaneus.
Bedah plastik seringkali dikonsulkan mengenai penutupan defek yang lebih
kompleks. Saat menganalisa sebuah luka, terkadang kutaneus atau lebih
36

kompleks, pilihan untuk penutupan akan dievaluasi dimulai dengan hal sederhana
dan berkembang ke tangga rekonstruktif untuk lebih kompleks (Gambar 1.21).
progresi ini dari penutupan primer, cangkok kulit, flap lokal, flap regional, flap
mikrovaskular bebas memberikan kerangka yang dapat diterapkan pada situasi
rekonstruktif apapun. Penerapan pilihan paling sederhana yang bertemu
kebutuhan rekonstruktif memastikan perahu penyelamat bila ada kegagalan
prosedur. Namun pada banyak situasi, anak tangga yang lebih tinddi pada
tangga secara sengaja dipilih. Contohnya, flap lokal dapat dipilih daripada
cangkok kulit untuk defek pada hidung karena dapat memberikan hasil superior,
atau flap bebas dapat dipilih untuk rekonstruksi payudara disaat flap menempel,
berpedikel akan cukup karena suplai darah pada flap lokal lebih baik.

37

Transfer Jaringan
Bebas
Transfer Jaringan
Regional

Transfer Jaringan
Lokal
Cangkok Kulit

Penutupan
Jaringan Langsung

Membiarkan Luka
untuk Sembuh
dengan tujuan
sekunder
Gambar 1.21. Tangga rekonstruktif menunjukkan prinsip dasar perencanaan penutupan defek dari
sederhana ke yang lebih kompleks

KESIMPULAN
Penerapan prinsip dasar pada praktik bedah plastik membuat dokter bedah
dapat melakukan pendekatan pada masalah yang paling kompleks dengan cara
yang teratur dan sistematis. Bab ini menunjukan prinsip dasar yang dapat
diterapkan pada situasi penutupan luka apapun.

38

DAFTAR PUSTAKA

Birch J, Branemark PI. The vascularization of a free full thickness skin graft: a
vital microscopic study. Scand Plast J Surg. 1969;3:1
Borges AF. Elective Incisions and Scar Revision. Boston: Little, Brown; 1973.
Capla J, Ceradini D, Tepper O, et al. Skin graft vascularization involves precisely
regulated regression and replacement of endothelial cells through both
angiogenesis and vasculogenesis. Plast Reconst Surg. 2005. In press.
Converse JM, Rapaport Ft. the vascularization of skin autografts and homografts:
an experimental study in man. Ann Surg. 1956; 143:306.
Edgerton MT, Hansen FC. Matching facial color with split thickness skin grafts
from adjacent areas. Plast Reconstr Surg. 1960;25:455
Furnas DW, Fischer GW. The Z-plasty: biomechanics and mathematics. Br J Plast
Surg. 1971;24:144
Krizek TJ, Robson MC. Evolution of quantitaive bacteriology in wound
management. Am J Surg. 1975;130:579
Mathes S, Alpert B, Chang N. use of the muscle flap in chronic osteomyelitis:
experimental and clinical correclation. Plast Reconstr Surg. 1982;69;815.
Robson MC, Krizek TJ, Heaggars JP. Biology of surgical infections. In:Ravitch
MM, ed. Current Problems in Surgery. Chicago:1973.
Rudolph R. inhibition of myofibroblasts by sham skin grafts. Plast Reconstr Surg.
1964;34: 287
Vogt PM, Andree C, et al. Dry moist and wet skin wound repair. Ann Plast Surg.
1995;34:493

39