Anda di halaman 1dari 17

CASE REPORT

DENGUE HEMORRHAGIC FEVER

Pembimbing :
dr. Dewi Kartika Sari, Sp.Pd

Disusun oleh :
Renata Setyariantika
1102012235

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


KEPANITERAAN DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
RSUD DR DRADJAT PRAWIRANEGARA
OKTOBER 2016
BAB I

REKAM MEDIS

1.1.

Identitas
Nama

: Nn. SY

Umur

: 20 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Polwan

Alamat

: Jl. SMU Kramat Watu

Tanggal pemeriksaan : 5 Oktober 2016


1.2.

Anamnesa
Secara autoanamnesis pada pasien di poli mata RSUDP pada tanggal 5
Oktoher 2016 pada pukul 07.15.
Keluhan utama
Demam
Keluhan tambahan
Mual, muntah, nyeri di tulang-tulang badan, sakit kepala
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang ke RSU dr. Dradjat Prawiranegara Serang dengan keluhan
demam sejak 4 hari SMRS. Pasien juga melakukan pengecekan darah rutin (Hb,
Leukosi, Ht, dan Trombsit) pada tanggal 29 September 2016 namun hasilnya
normal. Pasien mengeluh demam menggigil tiba-tiba pada tanggal 1 Oktober
2016 setelah pulang bekerja dan akhirnya memutuskan untuk ke RSU kembali
dan akhirnya di rawat. Demam dirasakan hilang timbul dan paling sering
muncul di malam hari. Pasien juga mengeluh mual, nyeri di tulang-tulang badan,
dan sakit kepala. Pasien mengeluh muntah 2 kali.
Keluhan demam tidak diesertai dengan perdarahan seperti mimisan, gusi
berdarah, muntah darah, atau BAB berdarah. Pasien juga tidk mengeluh nyeri

perut. Pasien mengatakan belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Di
lingkungan rumah pasien juga tidak ada yang seperti ini.
Riwayat penyakit dahulu
Keluhan serupa (-)
Maag (-)
Demam tifoid (-)
Riwayat penyakit keluarga
Keluhan serupa (-)
Maag (-)
Demam tifoid (-)
1.3.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Keadaan umum

: Sedang

Kesadaran

: Composmentis

Tanda vital
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Frekuensi nafas
Status Generalis

: 110/80 mmHg
: 80x/menit
: 35,6C (Di IGD 37,9C)
: 20x/menit

Kepala

: Normochepal

Mata

: Pupil bulat isokor, sklera ikterik -/-, konjungtiva


anemis -/-

THT

: Sekret (-), Poliphidung (-), hiperemis (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Jantung
Inspeksi
Palpasi

: Iktus kordis tampak


: Iktus kordis teraba di ICS 4 linea midclavicularis
sinistra

Perkusi
Auskultasi
Paru
Inspeksi

: Batas jantung normal


: SI SII reguler, murmur (-), gallop (-)
: Bentuk dada simetris kanan dan kiri, pernapasan
simetris dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi

Auskultasi

sela iga (-)


: Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

1.4.

Inspeksi

: Tidak tampak adanya kelainan kulit, distensi (-)

Auskultasi

: Bising usus (+)

Perkusi

: Timpani di seluruh quadran abdomen

Palpasi

: Supel di seluruh kuadran abdomen, turgor kulit


baik, nyeri tekan (+) di kuadran kanan atas, hepar
tidak teraba membesar, lien tidak teraba
membesar, ballottement (-), tes undulasi (-)

Ekstremitas

: Akral hangat, udem (-)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan uji bendung positif
SGOT/SGPT : 62/65 u/L
Pemeriksaan Laboratorium (01 Oktober 2016 04 Oktober 2016)

Tanggal

Jam

01/10/16

13.26

Hb
(g/dL)
13,60

Ht
(%)
39,90

Leukosit
(u/L)
5.700

Trombosit
(u/L)
108.00

01/10/16
02/10/16
02/10/16
03/10/16
03/10/16
Nilai
normal

19.24
07.16
16.45
07.17

12,40
11,90
12,90
13,00
12,40
P : 14-18
W : 12-16

1.5.

Diagnosis Kerja
DHF Grade I

1.6.

Diagnosis Banding
Demam Tifoid

1.7.
1.8.

36,00
34,20
36,30
36,70
35,80
P : 40-48
W : 37-43

3.000
2.800
1.830
2.000
3.300
5.00010.000

89.000
63.000
62.000
60.000
47.000
150.000450.000

Penatalaksanaan
Asering 2000 cc
Lansoprazole 2 x 1 caps
Domperidon 3 x 1 tab
Neurodex 1 x 1
Trolit 4 x 1

Prognosis
Ad Vitam
Ad Functionam
Ad Sanactionam

: Ad Bonam
: Ad Bonam
: Dubia Ad Bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi
Demam dengue atau dengue fever (DF) dan demam berdarah dengue

(DBD) atau dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau
nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan
diatesis hemoragik.
Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi
(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom
renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang
ditandai oleh renjatan/syok. 1

2.2.

Etiologi
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk

dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan


diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul
4x106. Terdapat 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 yang semuanya
dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue (DBD).
Keempat serotype ditemukan di Indonesia denga DEN-3 merupakan serotipe
terbanyak. Infeksi oleh salah satu serotipe akan menimbulkan kekebalan terhadap
serotipe bersangkutan, tetapi tidak untuk serotipe lain. Kasus DBD terjadi karena
infeksi kedua dari serotipe yang berbeda. 1,2
Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (diderah
perkotaan) dan Aedes albopictus (didaerah pedesaan). Ciri-ciri nyamuk Aedes
aegypti adalah :

Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih


Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi,
WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti

kaleng, ban bekas, pot tanaman air, serta tempat minum burung,
Jarak terbang 100 meter,
Nyamuk betina bersifat multiple biters (mengigit beberapa orang karena

sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat),


Tahan dalam suhu panas dan kelembaban tinggi.2

2.3.

Epidemiologi
Di Indonesia, kasus DBD pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun

1968. Penyakit DBD ditemukan di 200 kota di 27 provinsi dan telah terjadi KLB
akibat DBD. Profil kesahatan provinsi Jawa Tengah tahun 1999 melaporkan
bahwa kelompok tertinggi adalah usia 5-14 tahun yang terserang sebanyak 42%
dan kelompok usia 15-44 tahun yang terserang sebanyak 37%. Data tersebut
didapatkan dari data rawat inap rumah sakit. Rata-rata insidensi penyakit DBD
sebesar 6-27 per 100.000 penduduk.
CFR penyakit DBD mengalami penurunan dari tahun ketahun walaupun
masih tetap tinggi. Data dari Departemen Kesehatan RI melaporkan bahwa pada

tahun 2004 tercatat 17.707 orang terkena DBD di 25 provinsi dengan kematian
322 penderita selama bulan Januari dan Februari. Daerah yang perlu diwaspadai
adalah DKI Jakarta, Bali, dan NTB.2
2.4.

Klasifikasi
Untuk menentukan penatalaksanaan pasien infeksi virus dengue, perlu

diketahui klasifikasi derajat penyakit seperti tertera pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Klasifikasi Derajat Penyakit Infeksi Virus Dengue

DD/DBD

Derajat

Demam disertasi 2 atau lebih


tanda : sakit kepala, nyeri retroorbital, mialgia, arthralgia

DD

DBD

Gejala

Lab

Leukopenia
Trombositopenia, tdk
ada kebocoran plasma
Trombositopenia
(<100.000), bukti ada
kebocoran plasma

Gejala diatas, ditambah dgn uji


bendung (+)

II

Gejala diatas, ditambah dgn


perdarahan spontan

Trombositopenia
(<100.000), bukti ada
kebocoran plasma

III

Gejala diatas ditambah dengan


kegagalan sirkulasi (kulit dingin
dan lembab, serta gelisah)

Trombositopenia
(<100.000), bukti ada
kebocoran plasma

IV

Syok berat disertai dengan


tekanan darah dan nadi tidak
terukur

Trombositopenia
(<100.000), bukti ada
kebocoran plasma

* DBD derajat III dan IV juga disebut sindrom syok demgue (SSD)

2.5.

Patogenesis
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue sampai saat ini masih

diperdebatkan. Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa
mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue
dan sindrom renjatan dengue.1
Respon imun yang diketahu berperan dalam pathogenesis DBD adalah:

a) Respon humoral, pembentukan antibodi yang berperan dalam proses


netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen, dan sitotoksisitas yang
dimediasi antibodi. Antibodi virus dengue berperan dalam mempercepat
replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut antibody
dependent enhancement (ADE).
b) Limfosit T, baik T-helper (CD4) dan T-sitotoksis (CD8) berperan dalam
respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T-helper yaitu TH1
akan memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin, sedangkan TH2
memproduksi IL-4, IL-5, IL-6, dan IL-10.
c) Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus. Namun proses ini
menyebabkan peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag.
d) Aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya C3a
dan C5a.
Halstead (1973) mengajukan hipotesis secondary heterologous infection
yang menyatakan bahwa DHF terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue
dengan serotipe berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi amnestik antibodi
sehingg mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
Infeksi

virus

dengue

menyebabkan

aktivasi

makrofag

yang

memfagositosis kompleks virus-antibodi non netralisasi sehingga virus bereplikasi


di makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan
aktivasi T-helper dan T-sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan interferon
gamma. Interferon gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi
berbagai mediator radang seperti TNF-, IL-1, PAF (platelet activating factor),
IL-6 dan histamin yang menyebabkan terjadinya disfungsi endotel dan terjadi
kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi kompleks
virus-antibodi yang dapat mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme:
1) Supresi sumsumtulang, dan
2) Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit.
Gangguan fungsi trombosit terjadi melalui mekanisme gangguan
pelepasan ADP, peningkatan kada b-tromboglobulin dan PF4 yang
merupakan petanda degranulasi trombosit.1

2.6.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatik, atau

dapat berupa demam yang tidak khas, demam, demam berdarah dengue, atau
syndrome syok dengue (SSD). Pada umumnya pasien mengalami fase demam
selama 2-7 hari, yang diikuti oleh fase kritis selam 2-3 hari. Pada waktu fase ini
pasien sudah tidak demam, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan
jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat.1
Demam Dengue (DD), merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari,
ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut :

Nyeri kepala
Nyeri retro-orbital
Mialgia/atralgia
Ruam kulit
Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bendung positif)
Leukopenia
Dan pemeriksaan serologi dengue positif; atau ditemukan pasien DD/DBD
yang sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.
Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan kriteria WHO 1997
diagnosis DBD ditegakkan bila terdapat minimal 2 gejala klinis yang positif

dan 1 hasil laboratorium positif :


Kriteria klinis
1. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terusmenerus selama 2-7 hari.
2. Terdapat manifestasi perdarahan (uji bendung positif; petekie, kemosis,
atau purpura; perdarahan mukosa seperti epistaksis atau perdarahan gusi;

2.7.

hematemesis atau melena).


3. Pembesaran hati.
4. Syok.
Kriteria laboratoris
1. Trombsitopenia (<100.000/mm3).
2. Hemokonsentrasi (Ht meningkat >20%).1,2
Diagnosis
Masa inkubasi dalam tubuh mausia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari),

timbuk gejala prodormal yang tidak khas seperti nyeri kepala, nyeri tulang,
belakang dan perasaan lelah.

10

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat adakah hepatomegali atau tidak.


Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin yang
dilakukan untuk menapis pasien tersangka DD melalui pemeriksan kadar
hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit, dan hapus darah tepi untuk melihat
adanya limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru.

Gambar 2.7.1. Pola Demam Dengue


Sumber : https://aufalactababy.files.wordpress.com.3

Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture)
ataupun deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse
Transcriptase Polymerase Chain Reaction), namun karena teknik yang lebih
rumit, saat ini tes serologis yang mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap
dengue berupa antibodi total, IgM maupun IgG lebih banyak.

11

Parameter laboratorium yang dapat diperiksa antara lain :

Leukosit

Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemukan limfositosis


relative (>45% dari leukosit) disertai adanya lifosit plasma biru (LPB) > 15%
dari jumlah total leukosit pada fase syok akan meningkat.
Trombosit
Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
Hematokrit
Kebocoran plasma dibuktikan peningkatan hematokrin 20% dari hematokrin
awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam.
Hemostasis
Dilakukan pemeriksaan AP, APTT, Fibrinogen, D- Dimer atau FDP pada
keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
Protein/albumin
Dapat terjadi hipoalbuminemia akibat kebocoran plasma.

SGOT/SGPT dapat meningkat.


Elektrolit
Sebagai parameter pemantauan pemberian cairan
Imunoserologi
Dilakukan pemeriksaan serologi IgM dan IgG terhadap dengue, yaitu:
-

IgM muncul pada hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3, menghilang

setelah 60-90 hari


IgG terdeteksi mulai hari ke 14 (infeksi primer), hari ke 2 (infeksi

sekunder).
NS1
Antigen NS1 dapat terdeteksi pada awal demam hari pertama sampai hari
kedelapan. Sensitivitas sama tingginya dengan spesitifitas gold standart kultur
virus. Hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus
dengue.

12

2.8.

Penatalaksanaan

Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah
terapi suportif. Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat
diturunkan hingga kurang dari 1%. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi
merupakan tindakan yang paling penting dalam penanganan aksus DBD. Asupan
cairan pasien harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Dibutuhkan suplemen cairan
melalui intravena bila asupan cairan oral tidak mampu dipertahankan.
Terdapat 5 protokol untuk penanganan DBD dewasa :
Protokol 1. Penanganan Tersangka (Probable) DBD Dewasa tanpa Syok
Protokol ini digunakan sebagai petunjuk dalam pemberian pertolongan
pertama pada penderita DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat
dan juga dipakai sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat (Gambar
2.8.1).

Gambar 2.8.1. Observasi dan pemberian cairan suspek DBD dewasa tanpa renjatan di
Unit Gawat Darurat1

Seseorang yang tersangka menderita DBD Unit Gawat Darurat dilakukan


pemeriksaan hemonglonin (Hb), hematokrin (Ht), dan trombosit, bila :

Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien


dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan ke Poliklinik
dalam waktu 24 jam berikutnya (dilakukan pemriksaan Hb, Ht, leukosit dan

13

trombosit tiap 24 jam) atau bila keadaan penderita memburuk segera kembali
ke Unit Gawat Darurat.
Hb, Ht normal tetapi trombosit, 100.000 dianjurkan untuk dirawat
Hb, Ht meningkat dan tombosit normal atau turun juga dianjurka untuk
dirawat.1
Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di Ruang Rawat
Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masif dan tanpa
syok maka di ruang rawat diberikan cairan infus kristaloid per hari yang
diperlukan dengan jumlah seperti rumus berikut :
1500 + { 20 x (BB dalam Kg 20 )}
Setelah pemberian cairan dilakukan dilakukan pemberian Hb, Ht tiap 24 jam
(Gambar 2.8.2) :

Bila Hb, Ht meningkat 10-20% dan tombosit < 100.000 jumlah pemberian
cairan tetap seperti rumus diatas tetapi pemantauan Hb, Ht, trombo dilakukan

tiap 12 jam.
Bila Hb, Ht meningkat > 20% dan trombosit < 100.000 maka pemberian
cairan sesuai dengan protokol penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht
>20%.1
Gambar 2.8.2. Pemberian cairan pada suspek DBD dewasa di ruang rawat. 1

Protokol 3. Penatalaksaan DBD dengan Peningkatan Ht > 20%

14

Meningkatnya Ht > 20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami defisit


cairan sebanyak 5%. Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah
dengan

memberikan infus cairan kristaloid sebanyak 6-7 ml/kg/jam. Pasien

kemudian dipantau setelah 3-4 jam pemberian cairan. Bila terjadi perbaikkan
perbaikan yang ditandai dengan tanda-tanda hematokrin turun, frekuensi nadi
turun tekanan darah stabil, produksi urin meningkat maka jumlah cairan infuse
dikurangimenjadi 5 ml/KgBB/jam. Dua jam kemudian dilakukan pemantauan
kembali dan bila keadaan tetap menunjukkan perbaikkan maka jumlah cairan
infuse dikurangi 3ml/KgBB/jam. Bila dalam pemantauan keadaan tetap membaik
cairan dapat dihentikan 24-48 jam kemudian (Gambar 2.8.3).

Gambar 2.8.3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%. 1

Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/KgBB/jam dalam tapi
keadaan tetap tidak membaik, yang ditndai dengan Ht dan nadi meningkat,
tekanan nadi menurun < 20 mmHg, produksi urin menurun, maka kita harus

15

menaikkan jumlah cairan infuse menjadi 10 ml/kgBB/jam. Dua jam kemudian


dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan menunjukkan perbaikkan maka
jumlah cairan dikuarangi menjadi 5 ml/KgBB/jam tetapi bila keadaan tidak
menunjukkan perbaikkan maka jumlaah cairan infuse dinaikkan 15ml/KgBB/jam
dan bila dalam perkembangannya kondisi menjadi memburuk dan didapatkn
tanda-tanda syok maka pasien ditanangani sesuai protokol tatalaksana sindrom
syok dengue pada dewasa. Bila syok telah teratasi maka pemberian cairan dimulai
lagi seperti terapi pemberian cairan.1
Protokol 4. Penatalaksaan Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa
Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dewasa adalah :
perdarahan hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan
tampon hidung, perdarahan saluran cerna (hematemesis dan melena atau
hematoskesia), perdarahan saluran kencing (hematuria, perdarahan otak atau
perdarahan sembunyi dengan jumlah perdarahan sebanyak 4-5 ml/KgBB/jam..
Kewaspadaan Hb, Ht, dan trombosit sebaiknya diulang setiap 4-6 jam.
Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris
didapatkan tanda-tanda koagulasi intravaskuler diseminata (KID). Taranfusi
komponen darah diberikan sesuai indikasi. FFP diberikan bila didapatkan
defisiensi faktor-faktor pembekuan darah (PT dan aPTT) yang memanjan, PRC
diberikan bila nilai Hb kurang dari 10 g/dl. Transfusi trombosit hanya diberikan
pada pasien DBD yang perdarahan spontan dan massif dengan jumlah tromboit
<100.000/mm3 disertai atau tanpa KID.
Protokol 5. Tatalaksanaan Sindrom Syok Dengue pada Dewasa
Pada kasus SSD cairan kritaloid adalah pilihan utama yang diberikan.
Penderita juga diberikan Oksigen 2-4 liter/menit (Gambar 2.8.4). Pemeriksaan
yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL),
hemostalisi, analisis gas darah, kadar natrium, kalium dan klorida, serta ureum
dan kreatinin.

16

Pada fase awal, cairan kristaloid diguyur sebanyak 10-20ml/kgBB dan


evaluasi 15-30 menit. Bila renjatan telah teratasi (ditandai dengan TD sistolik
100mmHg dan tekanan nadi > 20mmHg, frekuensi nadi <100 x/menit dengan
volume yang cukup, akral teraba hangat, dan kulit tidak pucat srta dieresis 0,5-1
ml/kgBB/jam) jumlah cairan dikurangi 7 ml/kgBB/jam. Biala dalam waktu 60120 menit keadaan tetap stabil pemberian cairan menjadi 5ml/kgBB/jam. Bila
dam waktu 60-120 menit keadaan tetap stabil pemberian cairan dikurangi 3
ml/kgBB/jam.

Bila 24-48 jam setelag renjatan teratasi tanda-tanda vital,

hematokrin tetap stabil serta dieresis cukup maka pemberian cairan perinfus
dihentikan.

Gambar 2.8.4. Tatalaksana Sindrom Syok Dengue pada Dewasa. 1

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo, A. W., dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed. IV: Demam
Berdarah Dengue. Jakarta: Interna Publishing. Halaman: 2773-79.
2. Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Ed.2: Demam Berdarah Dangue. Jakarta:
Erlangga. Halaman: 72-75
3. Gambar 2.7.1. Diakses dari https://aufalactababy.files.wordpress.com/2012 /
05/perjalanan-dbd.jpg?w=565&h=458 pada tanggal 5 Oktober 2016 pukul
14.30