Anda di halaman 1dari 2

Nama

: Rida Ariani

Kelas

: XI IPS 2
Penyimpangan Penggunaan APBN
Sudah menjadi tradisi pemerintah dan institusi negara di negeri ini dalam bekerja,

selalu berdasarkan selera dan logikanya sendiri, bahkan begitu tertutup dan tidak ingin
dikontrol. Padahal, mereka selalu mendengungkan pemerintahan transparan, akuntabel, dan
profesional. Sayangnya begitu kontradiksi, karena dalam tata kelola pemerintahan belum
mampu menciptakan pemerintahan yang bersih dari penyimpangan.
Indikasinya dapat dilihat pada Ikhtisar Hasil Pemeriksaan (IHP) Semester-I 2013 oleh
Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), bahwa terdapat 13.969 kasus kelemahan sistem
pengendalian internal dan ketidakpatuhan terhadap undang-undang. Laporan BPK yang
diserahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menegaskan bahwa tindak lanjut
terhadap rekomendasi hasil pemeriksaan periode 2009-2013 tidak berjalan dengan baik.
Hanya 50,74% rekomendasi hasil pemeriksaan BPK yang ditindaklanjuti pemerintah (Media
Indonesia, 12/11/ 2013).
Menurut BPK, jika dinilai dengan uang, barulah sekitar Rp24,16 triliun dugaan
penyimpangan yang ditelusuri. Yang berhasil ditarik ke kas negara hanya Rp15,17 triliun.
Padahal, jumlah potensi kerugian keuangan negara yang harus ditindaklanjuti sebesar
Rp73,27

triliun.

Bentuk

penyimpangan

cukup

beragam,

misalnya

penyimpangan

administrasi, kasus ketidakhematan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan.


Realitasnya praktik-praktik penyimpangan masih tetap marak. Kita juga heran
ternyata penegakkan hukum oleh KPK dan aparat penegak hukum lainnya tidak membuat
jera para mafia proyek, kata Direktur LBH-JK, Ir H Suparman SH MH MSi, Kamis (11/6) di
Padang.
Menurut Suparman, penyimpangan dan kecurangan-kecurangan penyelenggaraan
proyek konstruksi tersebut sudah dimulai sejak proses perencanaan, tender dan saat
pelaksanaan. Yang terlibat melakukan penyimpangan beragam, mulai dari perusahaan
perencanaan, konsultan, perusahaan pelaksana proyek hingga jajaran pimpinan proyek, pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran (KPA) serta Kelompok Kerja (Pokja) pelaksana
proyek.
Tender diatur sedemikian rupa sehingga yang dimenangkan adalah orang-orang
tertentu yang terlibat dalam pengaturan proyek. Negara sangat dirugikan, karena perusahaan

yang efisien atau rendah penawarannya tiba-tiba perusahaan itu bisa dihilangkan saja oleh
panitia tender. Yang sangat keterlaluan pada proyek APBN, tapi sepertinya di daerah juga
sudah ikut-ikutan bermain seperti itu, sebut Suparman.
Sehubungan kondisi tersebut dia mengajak agar masyarakat, LSM, OKP, dan para
pemuka masyarakat ikut terlibat dalam pengawasan pelaksanaan proyek. Karena hak
masyarakat mengawal dan mengawasi pelaksanaan proyek-proyek pemerintah tertuang di dalam Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa
Konstruksi.
Yang perlu dikawal kata Suparman; Pertama, banyaknya penyimpangan yang
dilakukan PA atau KPA serta Pokja dalam proses pelelangan dan penetapan pemenang lelang.
Kedua, seringnya terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan proyek yang tidak sesuai dengan
spesifikasi dan persyaratan yang telah ditetapkan secara teknik dan administrasi, serta
penyimpangan jumlah volume yang dikerjakan.
LBH JK punya data-data yang akurat, tentang lelang yang dilakukan PA/KPA serta
Pokja proyek APBN tahun 2015 dan juga proyek beberapa kabupaten/kota se-Sumbar.
Dengan data-data itu, akan bisa mengawasi pelaksanaan proyek tersebut, apakah sesuai dengan spesifikasi dalam administrasi lelang atau tidak. Yang jelas kita sudah tahu tentang
dugaan-dugaan penyimpangan pada proyek itu, kata Suparman sembari mengatakan bahwa
LBH JK sangat konsen mengawal proyek jalan, jembatan, drainase dan gedung. Dia juga
mengajak LSM yang ada di daerah ini untuk bersama-sama mengawasi serta menjalankan
fungsi kontrol masyarakat dalam pelaksanaan proyek. (h/erz)