Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PLENARY DISCUSSION

BLOK PENYAKIT ENDEMIK


SKENARIO IN ENGLISH

Disusun oleh :Kelompok Tutorial 5

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Jl. Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakartaa
Telp. (0274) 387656, Fax (0274) 387646
Website: www.umy.ac.id

Tutor

: drg. Hartanti, Sp. Perio

Ketua

: - Ilham Nugraha Syahputra (20150340080)

Sekretaris

: - Dita Okasari
-

Anggota

(20150340086)

Vivi Ayu Novitasari

(20150340118)

1. Retnaningtyas Pinastika
2. Sri Dwi Mutiara
3. Riska Fitri Febriyanti
4. Rifkia Rohmatul Hidayah
5. Ridho Kurnia
6. Zeny Putri Ayu
7. Wasis Edwin
8. Ilham Armada Shandi
9. Dimas Setyanto
10. Dina Fitriyana Mayrizka
11. Febri Silviana

(20150340082)
(20150340088)
(20150340090)
(20150340094)
(20150340096)
(20150340098)
(20150340104)
(20150340106)
(20150340110)
(20150340114)
(20150340122)

KATA PENGANTAR
Puji syukur para penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga para penulis dapat menyelesaikan makalah diskusi tutorial yang berjudul
Makalah Diskusi Plenary Blok 7 Skenario In English sebagai pembahasan scenario diskusi
yang telah diberikan. Shalawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan kita, nabi besar
Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikutnya sampai akhir zaman.
Para penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu para
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa
mendatang.
Dalam penyelesaian laporan tutorial ini, para penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, para penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih kepada:
1.
2.
3.
4.
5.

Allah SWT, yang telah memberi kehidupan dengan sejuknya keimanan,


Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan materil maupun spiritual,
drg. Hartanti Sp. Perio selaku tutor kelompok 5,
Teman-teman seperjuangan,
Semua pihak yang membantu para penulis dalam pembuatan makalah ini.

Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan kepada
semua orang yang telah mendukung para penulis dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
dan perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamin.
Yogyakarta, 6 Oktober 2016

Tim Penyusun

Contents
KATA PENGANTAR..................................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan.....................................................................................................................................1
1.1

Latar Belakang...........................................................................................................................1

1.2

Maksud dan Tujuan...................................................................................................................1

BAB II Pembahasan....................................................................................................................................2
2.1

Skenario......................................................................................................................................2

2.2

Analisis Skenario.......................................................................................................................2

2.3

Seven Jumps...............................................................................................................................2

BAB III Penutup........................................................................................................................................13


3.1

Kesimpulan...............................................................................................................................13

3.2

Daftar Pustaka.........................................................................................................................13

3.3

Lampiran..................................................................................................................................13

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Blok 5 pada semester 3 dari kurikulum Blok PBL Program Studi Pendidikan Dokter Gigi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY merupakan Blok Penyakit Endemik.
Secara umum, isi blok ini memuat konsep-konsep dasar epidemiologi, parasitologi,
penyakit ulit dan kelamin, penyakit endemik secara umum yang sering terjadi di masyarakat
serta proses terjadinya karies gigi.
Blok Penyakit Endemik ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar
dalam pengelolaan pasien dengan kelainan sisemis yang bermanifestasi di rongga mulut,
serta memberikan pemahaman mengenai prinsisp pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang
histolik dan komprehensif sebagi landasan awal dalam keterampilan klinik dalam bidang
kedokteran gigi selanjutnya.
1.2 Maksud dan Tujuan
1. Makalah ini ditulis sebagai pembahasan scenario diskusi blok 5 Scenario in English
agar tercapai pemahaman mahasiswa secara teori.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada scenario dengan metode analisis dan
pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

BAB II
Pembahasan
2.1 Skenario
A pregnant woman was suffering from some reccurent stomatitis apthouse and
tootache visited a dentist. Her husband died caused by sexual transmitted disease. She
was worried that the disease has attacked her, too, because her condition was the same as
her husbands condition before he died. The dentist found a tumor on her palate,
composed of numerous tiny blood vessels, a swollen mass and the colour was dark red.
There were generalized swelling of the lymph nodes, especially those of the head and
neck.
2.2 Analisis Skenario
Seorang wanita hamil mengalami RAS dan sakit gigi mengunjungi dokter gigi.
Suaminya meninggal karena penyakit menular kelamin.
Dia khawatir terkena penyakit yang sama dengan suaminya karena gejala yang ia
alami sama seperti yang suaminya alami dulu.
Hasil pemeriksaan menunjukan tumor di palatumnya, adanya pembengkakan di
kelenjer getah bening terutama di kepala dan leher,
2.3 Seven Jumps
2.3.1

Mengklarifikasi Istilah atau Konsep


Stomatitis apthouse reccurent : SAR adalah ulser oval rekuren pada mukosa
mulut tanpa tanda-tanda adanya penyakit lain dan salah satu kondisi ulseratif
mukosa mulut yang paling menyakitkan terutama sewaktu makan, menelan
dan berbicara.
Tumor : jaringan yang terus berkembang secara abnormal.
1 Main Topik
Dari masalah dalam scenario ini dapat diketahui bahwa pokok masalah dari
scenario diatas adalah mengenai penyakit menular kelamin yaitu HIV.

2.3.2
1.)
2.)
3.)
4.)
5.)
6.)
7.)
8.)

Menetapkan Permasalahan
Apa saja macam-macam penyakit menular sex ?
Apa definisi HIV dan AIDS ?
Apa etiologi AIDS ?
Bagaimana pathogenesis HIV/AIDS ?
Bagaimana system imun seseorang yang terkena HIV/AIDS ?
Apa saja dampak akibat HIV/AIDS ?
Bagaimana cara penularan HIV/AIDS ?
Apa saja gejala klinis HIV/AIDS ?
2

9.)
10.)
11.)
12.)
13.)

2.3.3

Apa saja manifestasi oral pada pasien HIV/AIDS?


Bagaimana test penunjang HIV/AIDS?
Apa saja komplikasi dari HIV/AIDS ?
Bagaimana pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS ?
Bagaimana peran dokter gigi terhadap pasien HIV/AIDS ?

Menganalisis Masalah
1.)
1.
2.
3.

Macam-macam penyakit menular sex


Penyakit menular sex karena Bacteria : Gonorhea, Clamidia, dan lain-lain
Penyakit menular sex karena Virus : HIV/AIDS, Hepatitis B, dan lain-lain
Penyakit menular sex karena Parasit : Scabies,

2.)

Definisi HIV dan AIDS

a. HIV (Human Immunodeficiency Virus)


HIV merupakan virus RNA yang termasuk dalam famili Retroviridae
subfamili Lentivirinae bersifat limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari
sistem kekebalan tubuh dan dapat menimbulkan AIDS. Retrovirus mempunyai
kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus
DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang panjang.
Virus HIV
diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau retroviridae. Virus ini secara
material genetik adalah virus RNA yang tergantung pada enzim reverse
transcriptase untuk dapat menginfeksi sel mamalia, termasuk manusia, dan
menimbulkan kelainan patologi secara lambat. Virus ini terdiri dari 2 grup, yaitu
HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing grup mempunyai lagi berbagai subtipe, dan
masing-masing subtipe secara evolusi yang cepat mengalami mutasi. Diantara
kedua grup tersebut, yang paling banyak menimbulkan kelainan dan lebih ganas
di seluruh dunia adalah grup HIV-1.
b. AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome)
AIDS merupakan singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome.
Syndrome berarti kumpulan gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit yang
mempengaruhi tubuh dimana sistem kekebalan yang melemah tidak dapat
merespons. Deficiency berarti kekurangan, Immune berarti kekebalan, dan
Aquired berarti diperoleh atau didapat, dalam hal ini diperoleh mempunyai
pengertian bahwa AIDS bukan penyakit keturunan. Seseorang menderita AIDS
bukan karena ia keturunan dari penderita AIDS, tetapi karena ia terjangkit atau
terinfeksi virus penyebab AIDS. Oleh karena itu, AIDS dapat diartikan sebagai
kumpulan tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya atau menurunnya sistem
kekebalan tubuh seseorang. AIDS bukanlah penyakit yang khusus melainkan
kumpulan dari sejumlah penyakit yang mempengaruhi tubuh dimana sistem
kekebalan yang melemah tidak dapat merespons.

3.)

Etiologi AIDS
AIDS disebabkan oleh virus HIV dengan faktor resiko sebagai berikut :
a. Bayi yang ditularkan oleh ibu penderita HIV
b. Pengguna narkoba
c. Pengguna jarum suntik tidak steril
d. Orang yang mengalami gangguan system imun

4.)

Pathogenesis HIV/AIDS
Tahap AIDS : tahap tanpa gejala (tidak menunjukkan gejala dan tidak ada
keluhan, tahap infeksi akut ( pada 6 minggu pertama mengalami gejala demam,
rasa letih, sakit menelan, dan pembesaran kelenjar getah bening), tahap gejala
ringan infeksi HIV ( berat badan penderita menurun > 10 %, sariawan yang
berulang/ kandidiasis dan demam lebih dari 1 bulan), dan terakhir tahap AIDS
( pasien diserang beberapa macam infeksi oportunistik dan kanker). Penyakit
AIDS dalam 2-4 bulan belum bisa terdeteksi meski sudah ada infeksi. Tahap
jendela sebelum AIDS dimana virus HIV sudah ada dalam darah (tidak ada
keluhan) tapi bisa menularkan. HIV bisa menjadi AIDS dalam selang waktu 510 tahun tergantung gaya hidupnya dan bisa meninggal jeda 1-2 tahun setelah
tervonis AIDS
Tahap dan mekanisme AIDS Menurut WHO tahap-tahap AIDS yaitu :
- Stadium I
Tanpa Gejala, pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh yang
menetap.
Tingkat aktivitas 1: tanpa gejala, aktivitas normal.
- Stadium II
Kehilangan berat badan kurang dari 10% ; gejala pada mukosa dan kulit
yang ringan ( dermatitis seboroik , infeksi jamur pada kuku, perlakuan pada
mukosa mulut yang sering kambuh, radang pada sudut bibir); Herpes
zoster terjadi dalam 5 tahun terakhir; ISPA (infeksi saluran pernapasan bagian
atas) yang berulang, misalnya sinusitis karena infeksi bakteri.
Tingkat aktivitas 2 : dengan gejala, aktivitas normal.
- Stadium III
Penurunan berat badan lebih dari 10%; diare kronik yang tidak diketahui
penyebabnya lebih dari 1 bulan; demam berkepanjangan yang tidak diketahui
penyebabnya lebih dari 1 bulan; Candidiasispada mulut; bercak putih pada
mulut berambut; TB paru dalam 1 tahun terakhir; infeksi bakteri yang berat,
misalnya: pneumonia, bisul pada otot.
Tingkat aktivitas 3: terbaring di tempat tidur, kurang dari 15 hari dalam satu
bulan terakhir.
- Stadium IV
Kehilangan BB >10% ditambah salah satu dari diare kronik yang tidak
diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan. Kelemahan kronik dan demam
berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan.
Pneumocystis carinii pneumonia (PCP).
Taksoplasmosis pada otak.
4

Kriptosporidiosis dengan diare lebih dari 1 bulan.


Kriptokokosis di luar paru
Sitomegalovirus pada organ sel hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
PML ( progressive multifocal encephalopathy) atau infeksi virus dalam otak.
Setiap infeksi jamur yang menyeluruh misalnya : histoplasmosis,
kokidioidomikosis.
Candidiasis pada kerongkongan, tenggorokan, saluran paru dan paru.
Mikobakteriosis tidak spesifik yang menyeluruh.
Septikimia salmonela I bukan tifoid.
TB di luar paru.
Limfoma.
Kaposis sarkoma.
Ensefalopati HIV sesuai definisi CDC.

Tingkat aktivitas 4 : terbaring di tempat tidur, lebih dari 15 hari dalam 1 bulan
terakhir
Patofisiologi HIV/AIDS dimulai dari patogenesis HIV yang menyebabkan
kurangnya jenis limfosit T helper/induser yang mengandung marker CD 4 (sel
T4). Limfosit T4 merupakan pusat dan sel utama yang terlibat secara langsung
maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi-fungsi imunologik. Menurun
atau hilangnya sistem imunitas seluler, terjadi karena HIV secara selektif
menginfeksi sel yang berperan membentuk zat antibodi pada sistem kekebalan
tersebut, yaitu sel lImfosit T4. Setelah HIV mengikat diri pada molekul CD 4,
virus masuk kedalam target dan ia melepas bungkusnya kemudian dengan
enzym reverse transcryptae ia merubah bentuk RNA agar dapat bergabung
dengan DNA sel target. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan
mengundang bahan genetik virus. RNA dari HIV mulai membentuk DNA dalam
struktur yang belum sempurna, disebut proviral DNA, yang akan berintegrasi
dengan genome sel induk secara laten (lama). Karena DNA dari HIV
bergabung/integrasi dengan genome sel induknya (limfosit T helper) maka setiap
kali sel induk berkembang biak, genom HIV tersebut selalu ikut memperbanyak
diri dan akan tetap dibawa oleh sel induk ke generasi berikutnya. Oleh karena itu
dapat dianggap bahwa sekali mendapat infeksi virus AIDS maka orang tersebut
selama hidupnya akan terus terinfeksi virus, sampai suatu saat (bagian LTR)
mampu membuat kode dari messenger RNA (cetakan pembuat gen) dan mulai
menjalankan proses pengembangan partikel virus AIDS generasi baru yang
mampu ke luar dan sel induk dan mulai menyerang sel tubuh lainnya untuk
menimbulkan gejala umum penyakit AIDS (full blown). Pada awal infeksi, HIV
tidak segera menyebabkan kematian dari sel yang di infeksinya tetapi terlebih
dahulu mengalami replikasi (penggandaan), sehingga ada kesempatan untuk
berkembang dalam tubuh penderita tersebut, yang lambat laun akan
menghabiskan atau merusak sampai jumlah tertentu dari sel limfosit T4.

5.)

Bagaimana system imun seseorang yang terkena HIV/AIDS


HIV merusak sel T CD4 secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T
CD4 dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV
telah membunuh sel T CD4 hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200
permikroliter (L) darah, maka kekebalan ditingkat sel akan hilang, dan
akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut
menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan
akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4 di
dalam darah serta adanya infeksi tertentu.
HIV secara terus-menerus memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan
cara menyerang dan menghancurkan kelompok-kelompok sel darah putih
tertentu yaitu sel T-helper. Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4)
memainkan suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi
infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian
sistem kekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya tubuh
memproduksi antibodi yang menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan
virus-virus yang berbahaya.
Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel
T-helper juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang
disebut sel T-suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh
untuk menghentikan serangannya.
Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah daripada
sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik,
perbandingannya kira-kira dua banding satu. Jika orang menderita AIDS,
perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi jumlah selsel T-helper. Akibatnya, penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit
sel-sel penolong yaitu sel-sel T-helper untuk mencegah infeksi, tetapi juga
terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel penolong yang sedang bekerja.
Cara virus ini merusak fungsi sistem kekebalan tubuh belum dapat
diungkapkan sepenuhnya. Teori yang terbaru namun belum dapat dibuktikan
kebenarannya menyatakan bahwa rusaknya sistem kekebalan yang terjadi pada
pengidap AIDS mungkin dikarenakan tubuh menganggap sel-sel T-helpernya
yang terinfeksi sebagai musuh. Jika demikian kasusnya, lalu apa yang akan
dilakukan oleh mekanisme pertahanan tubuh yaitu mulai memproduksi antibodi
untuk mencoba menyerang sel-sel T yang telah terinfeksi. Akan tetapi antibodi
juga akan diproduksi untuk menyerang sel T-helper yang sel T-helper yang tidak
terinfeksi, mungkin juga merusak atau membuat sel-sel ini tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya. Jika demikian, HIV akan menyerang sistem kekebalan
tubuh tidak hanya dengan membunuh sel T tetapi dengan mengelabuhi tubuh
dengan membiarkan tubuh sendiri yang menyerang mekanisme pertahanannya.

6.)

Dampak Akibat HIV/AIDS

a. Dampak Sosial
6

Para ahli kesehatan sepakat bahwa berdasarkan sifat-sifat dan dampaknya, HIV
AIDS tergolong unik. Beberapa keunikan itu, antara lain :
1) HIV AIDS membunuh kelompok masyarakat yang paling produktif dan
aktif bereproduksi.
2) HIV AIDS secara sosial tidak terlihat, namun kerusakan yang
ditimbulkannya nyata di mana-mana. Sementara itu ketabuan seks dan pola
budaya, menyebabkan 90 persen para penderitanya tidak terakses oleh
pelayanan kesehatan.
3) HIV memiliki masa inkubasi yang panjang, di mana selama rentang waktu
antara masa infeksi sampai timbulnya gejala penyakit, virusnya
dapatmenyebar. Dengan sifatnya yang tidak terlihat, maka kemungkinan
transmisinya akan semakin tinggi.
b. Dampak Ekonomi.
Dampak HIV AIDS di bidang ekonomi dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dampak
secara langsung dan secara tidak langsung. Dampak ini dimulai dari tingkat
individu, keluarga, masyarakat dan akhirnya pada negara dan mungkin dunia.
1) Dampak ekonomi secara langsung
Epidemi HIV AIDS akan menimbulkan biaya tinggi, baik pada pihak
penderita maupun pihak rumah sakit. Hal ini dikarenakan obat penyembuh yang
belum ditemukan, sehingga biaya harus terus dikeluarkan hanya untuk
perawatan dan memperpanjang usia penderita.
2) Dampak ekonomi secara tidak langsung
HIV AIDS memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan menghancurkan
jumlah manusia dengan kemampuan produksi (human capital), tanpa nutrisi
yang baik, fasilitas kesehatan dan obat yang ada di negara-negara berkembang,
orang di negara-negara tersebut menjadi korban AIDS.
c. Dampak Psikologis
Pasien yang didiagnosis dengan HIV akan mengalami masalah fisik, psikologis,
sosial, dan spiritual. Masalah psikologis yang timbul adalah :
1) Stres yang ditandai dengan menolak, marah, depresi, dan keinginan untuk
matiPenderita mengalami depresi berat, sehingga menyebabkan penyakit
semakin lama semakin berat, timbul berbagai infeksi opotunistik, dan penderita
semakin tersiksa.
2) Kecemasan akan HIV AIDS berkorelasi negatif dengan Psychological Well
Being (kesejahteraan psikologis), ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat
kecemasan pada penderita HIV AIDS, maka Psychological Well Being
(kesejahteraan psikologis) pada penderita HIV AIDS akan semakin rendah
7.)

Cara penularan HIV

Cara yang dapat diklasisfikasikan dalam penularan secara vertikal dan


horisontal. Penularan HIV-AIDS secara horisontal adalah melalui kontak langsung
dengan individu terinfeksi HIV baik melalui kontak seksual maupun melalui
pertukaran substansi tubuh dengan penggunaan jarum suntik secara bersamasama. Selain itu, penularan HIV-AIDS dapat terjadi secara vertikal, yaitu
penularan dari ibu yang terinfeksi HIV-AIDS ke anak yang dilahirkannya.

8.)

Hubungan seksual
Hubungan seksual baik secara vaginal, oral, maupun anal dengan
seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 8090% dari total kasus sedunia. Penularan mudah terjadi apabila terdapat lesi
penyalit kelamin dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes
genetalis, sifilis, gonorea, klamidia, kankroid, dan trikomoniasis. Risiko pada
seks anal lebih besar dibandingkan seks vagina, dan risiko lebih besar pada
reseptif daripada insertif.

Kontak Langsung dengan Darah, Produk Darah, atau Jarum Suntik


Transfusi darah atau produk darah yang tercemar mempunyai risiko
sampai >90%, ditemukan 3-5% total kasus sedunia. Pemakaian jarum suntik
tidak steril atau pemakaian bersama jarum suntik dan spuitnya pada pecandu
narkotik berisiko 0,5-1%, ditemukan 5-10% total kasus sedunia. Penularan
melalui kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan mempunyai risiko
0,5%, dan mencakup <0,1% total kasus sedunia.

Lewat Air Susu Ibu (ASI)


Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif,
dan melahirkan lewat vagina, kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (mother-to-child transmission)
berkisar antara 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan ibu HIV positif
kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.
Gejala klinis HIV
1. Kebanyakan penderita yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala
apapun. Pada umumnya penderita merasa sehat dan juga dari luar nampak
sehat-sehat saja. Walaupun tampak sehat, penderita tersebut akan menjadi
pembawa dan penular HIV kepada orang lain.
Kelompok orang-orang tanpa gejala ini dapat dibagi menjadi dua
kelompok; Kelompok pertama yaitu kelompok yang sudah terinfeksi HIV
tetapi tanpa gejala dan tes darahnya negatif. Pada tahap dini
ini antibody terhadap HIV belum terbentuk. Waktu antara masuknya HIV ke
dalam peredaran darah dan terbentuknya antibody terhadap HIV
disebut "Window Period" dan memerlukan waktu antara 15 hari sampai 3
bulan setelah ter- infeksi HIV.
Kelompok kedua yaitu kelompok yang sudah terinfeksi HIV tanpa
gejala, tetapi tes darah positif. Keadaan belum adanya gejala seperti ini dapat
8

ber- jalan lama, yaitu bisa sampai lima tahun atau lebih. Adakalanya orang
terinfeksi HIV/AIDS tidak menunjukkan gejala apapun dan merasa dirinya
sehat. Namun orang yang terinfeksi HIV akan menjadi pembawa penular
HIV kepada orang lain.
Untuk diketahui, infeksi HIV akan tampak pada 2 (dua) tahap, yaitu:
- Pertama, Gejala awal, ditandai dengan kondisi berat badan semakin
menurun, sering demam, rasa Iclah letth berkepanjangan, sering rnencret/
diare tanpa penyebab yang jelas, dan sariawan yang sering timbul dan
lama sembuhnya.
- Kedua, Gejala lanjut, ditandai dengan kondisi radang paru-paru,
sesak napas dan batuk tanpa dahak/batuk kering, mudah terserang TBC
paru-paru, bercak-bercak merah ungu pada kulit terutama kulit tubuh
bawah, bercak-bercak putih di mulut, dan Gangguan syaraf otot, ingatan,
perubahan kepribadian.
2. Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang
memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut
akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya
dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV.
Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. HIV
mempengaruhi hampir semua organtubuh. Penderita AIDS juga berisiko
lebih besar menderita kanker seperti sarkoma kaposi, kanker leher rahim, dan
kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.
Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti
demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar,
kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik
tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan
terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.
9.)

Manifestasi oral pada pasien HIV/AIDS


a. Oral Candidiasis
b. Hairy Leukoplakia
c. Kaposis Sarcoma
d. Non-Hodgkins Lymphoma
e. Linear Gingival Erythema
f. Necrotizing Ulcerative Gingivitis
g. Necrotizing Ulcerative Periodontitis

10.) Test penunjang HIV


Untuk menegakkan diagnosis pada penderita perlu diadakan anamnesa,
pemeriksaan fisik dan tes laboratorium. Apabila dengan pemeriksaan
laboratorium terbukti terinfeksi HIV, baik dengan metode pemeriksaan
antibody atau pemeriksaan untuk mengetahui adanya virus dalam tubuh
penderita dinyatakan terinfeksi HIV.
Diagnosis AIDS untuk kepentingan surveilans ditegakkan apabila terdapat
infeksi oportunistik atau limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm3.

Pemeriksaan Laboratorium penting karena pada infeksi HIV gejala


klinisnya baru muncul setelah bertahun tahun. Untuk menegakkan diagnosis
infeksi HIV dengan melakukan pemeriksaan laboratorium kita bagi dalam
dua kelompok yaitu uji imunologi dan uji virology.
1 Uji Imunologi
Uji imunologi bertujuan untuk menemukan adanya respon antibody
terhadap HIV dan juga digunakan sebagai test skrining.
a. ELISA
Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA), merupakan uji penapisan
infeksi HIV yaitu suatu tes untuk mendeteksi adanya antibody yang dibentuk
oleh tubuh terhadap virus HIV.
b. Western Blot
Pemeriksaan Western Blot merupakan uji konfirmasi dari hasil reaktif
ELISA atau hasil serologi rapid tes sebagai hasil yang benar-benar positif.
karena pemeriksaan ini lebih sensitif dan lebih spesifik . Western Blot
mempunyai spesifisitas tinggi yaitu 99,9% apabila dikombinasi dengan
pemeriksaan ELISA. Namun pemeriksaan cukup sulit, mahal membutuhkan
waktu sekitar 24 jam.
2 Uji Virologi
Tes virologi untuk diagnosis infeksi HIV-1 meliputi kultur virus, tes
amplifikasi asam nukleat / nucleic acid amplification test (NAATs) , test untuk
menemukan asam nukleat HIV-1 seperti DNA atau RNA HIV-1 dan test untuk
komponen virus (seperti uji untuk protein kapsid virus (antigen p24), dan PCR
test.
11.) Komplikasi akibat HIV/AIDS
Komplikasi dari HIV
Penyakit ginjal
Sebuah meta-analisis dari 24 studi observasional dan uji klinis
menemukan bahwa koinfeksi HCV dikaitkan dengan peningkatan terkait HIV
risiko penyakit ginjal, termasuk proteinuria dan gagal ginjal akut, dibandingkan
dengan monoinfeksi HIV. Sebuah studi retrospektif besar veteran yang terinfeksi
HIV juga menemukan bahwa koinfeksi HCV dikaitkan dengan tingkat penyakit
ginjal kronis lebih tinggi; prevalensi HCV meningkat dengan memburuknya laju
filtrasi glomerulonefritis-lar (eGFR). Studi terbesar dari penyakit ginjal biopsi
menemukan bahwa / HCV-diasosiasikan-diciptakan nephropathies HIV
berkurang bertahan hidup dibandingkan dengan monoinfeksi HCV.
Penyakit kardiovaskular
Koinfeksi HCV dikaitkan dengan prevalensi yang lebih tinggi dari
penyakit kardiovaskular (CVD) dari HIV monoinfec-tion. Koinfeksi HCV
dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit serebrovaskular dan
kecenderungan peningkatan risiko infark miokard akut di antara pasien terinfeksi
10

HIV . pasien terinfeksi HIV memiliki risiko CVD meningkat karena ART dan
peradangan kronis terkait HIV dapat menyebabkan disfungsi endotel . Beredar
molekul terlarut seluler adhesi (CAM) yang dikeluarkan oleh endotel pembuluh
darah, termasuk larut molekul-1 adhesi antar (sICAM-1) dan pembuluh darah
adhesi molekul-1 (sVCAM-1), lebih tinggi pada pasien koinfeksi stabil diobati
dengan ART dari kontrol sehat . ART dapat menurunkan sICAM-1 dan sVCAM1, menunjukkan ART yang dapat meningkatkan fungsi sel endotel dan
menurunkan risiko CVD dengan mengurangi plasma tingkat HIV-RNA,
meningkatkan jumlah T-sel dan fungsi, dan mengurangi aktivasi kekebalan.
Pasien dengan infeksi HCV maju memiliki tingkat lebih tinggi dari sICAM-1
dan sVCAM-1, menunjukkan bahwa infeksi HCV juga menyebabkan disfungsi
endotel, dan respon terhadap pengobatan HCV mungkin mengurangi risiko
CVD.
Status neurologis
HIV dan HCV bereplikasi dalam otak dan cairan serebrospinal (CSF) dan
terlibat dalam neurokognitif dan sindrom neuropati perifer. subyek koinfeksi
menunjukkan signifikan com-dikupas gangguan kognitif-motor untuk pasien
terinfeksi HIV dan tingkat yang lebih tinggi dari penurunan kognitif global,
terutama dalam belajar dan memori . Baru-baru ini, HCV RNA dan antigen
ditemukan di otak koinfeksi pasien . protein HCV inti mengaktifkan glia
manusia dan memberikan kontribusi untuk neurotoksisitas terkait HIV.
lipopolisakarida Plasma (LPS), indikator translokasi mikroba dari usus,
menginduksi aktivasi monosit pada infeksi HIV dan dapat menyebabkan
demensia terkait HIV (HAD) oleh meningkatnya perdagangan monosit
diaktifkan ke dalam otak. Bahwa tingkat LPS lebih tinggi pada pasien koinfeksi
HCV menunjukkan bahwa HCV dapat mempengaruhi HAD patogenesis.
Berbeda dengan temuan meningkat Merusak-ment neurokognitif pada pasien
koinfeksi, sebuah penelitian retrospektif dari AIDS Clinical Trials Group
Longitudinal Linked Trials Acak (ALLRT) menemukan bahwa infeksi HCV
aktif tidak memperburuk disfungsi neurokognitif klinis signifikan atau neuropati
perifer pada individu dengan infeksi HIV dikontrol.
Karena neuropati sensorik (SN) adalah compli-kation umum infeksi HIV dan
pengobatan HIV tertentu dan berhubungan dengan infeksi HCV, ada
kekhawatiran tentang kemungkinan efek sinergis dari virus ini pada sistem saraf
periph-eral . Namun, sebuah survei di antara pasien yang terinfeksi HIV di enam
situs Web ditemukan seropositif HCV tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko
SN .
Diabetes mellitus
Salah satu studi prospektif terbesar dari orang yang terinfeksi HIV dan kontrol
yang tidak terinfeksi menemukan bahwa sementara infeksi HIV itu sendiri tidak
berhubungan dengan peningkatan diabetes mellitus (DM) berisiko, koinfeksi
11

HCV dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi, dengan kecenderungan yang
sama pada kelompok yang tidak terinfeksi HIV . Risiko tidak diubah oleh
kehadiran kerusakan hati yang diukur dengan tingkat ALT dan AST [68]. Sebuah
studi prospektif besar perempuan yang terinfeksi HIV dan tidak terinfeksi juga
menemukan bahwa infeksi HCV dan viral load HCV yang lebih tinggi dikaitkan
dengan insiden diabetes, menunjukkan bahwa pasien yang terinfeksi HCV harus
diskrining untuk diabetes.
Komplikasi tulang
Di antara komorbiditas muncul di era ART adalah komplikasi tulang, termasuk
osteonekrosis atau osteoporo-sis, tapi peran HCV dan ART kontroversial
Dalam kohort nasional pasien kombinasi ART, kejadian 10 tahun patah tulang
adalah 3,6 kali lipat lebih tinggi pada pasien koinfeksi HCV mungkin karena
pasien dengan penyakit hati kronis mengalami penurunan massa tulang.
pengawasan aktif dari pasien koinfeksi direkomendasikan untuk pencegahan
patah tulang.
12.) Pencegahan dan Pengobatan
a. Pencegahan HIV & AIDS
1. Menggunakan kondom selama berhubungan seks
Cara terbaik untuk mencegah HIV dan infeksi menular seksual (IMS)
lainnya adalah dengan memakai kondom untuk segala jenis penetrasi seks.
Dan gunakan dental dam untuk melakukan seks oral. Dental dam adalah
selembar kain berbahan lateks. Kain ini berfungsi sebagai penghalang antara
mulut dan vagina atau anus. Hal ini bertujuan untuk menurunkan
penyebaran IMS selama melakukan seks oral.
Kondom adalah bentuk perlindungan paling efektif melawan HIV dan
Infeksi Menular Seksual lainnya. Kondom bisa digunakan untuk hubungan
seks apa pun. Sangat penting untuk memakai kondom sebelum kontak
seksual apa pun yang muncul antara penis, vagina, mulut, atau anus. HIV
bisa ditularkan sebelum terjadi ejakulasi. Ini terjadi ketika keluarnya cairan
awal dari alat kelamin dan dari anus.
Gunakan kondom yang berbahan lateks atau poliuretan (latex and
polyurethane) ketika melakukan hubungan seks. Gunakan kondom begitu
Anda atau pasangan mengalami ereksi, bukan sebelum ejakulasi.
2. Mengonsumsi obat Truvada
Bagi orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV,
mengonsumsi obat emtricitabine-tenofovir (Truvada) bisa mengurangi risiko
infeksi HIV melalui hubungan seksual. Truvada juga digunakan pada
perawatan HIV bersamaan dengan obat-obatan lainnya.
3. Pemakaian pelumas

12

Pelumas digunakan untuk menambah kenyamanan dan keamanan


hubungan seks dengan tujuan menambah kelembapan pada vagina maupun
anus selama seks. Pelumas akan mengurangi risiko terjadinya kulit luka
(sobek) pada vagina atau anus. Pelumas juga mencegah agar kondom tidak
sobek.
Hanya gunakan pelumas yang berbahan dasar air, bukan yang berbahan
minyak. Pelumas yang berbahan minyak bisa melemahkan kekuatan
kondom dan bahkan bisa merobek kondom.
4. Melalui Jarum dan Suntikan
Jika Anda memakai jarum untuk menyuntikkan obat, pastikan jarumnya
steril. Jangan berbagi jarum, suntikan, atau perlengkapan menyuntik lagi
seperti spon dan kain. Berbagi jarum bisa meningkatkan risiko terinfeksi
HIV dan virus lain yang ada di dalam darah, misalnya hepatitis C.
Jika Anda ingin membuat tato atau tindik, pastikan selalu memakai jarum
yang steril dan bersih. Jangan melakukan aktivitas ini di tempat
sembarangan. Pastikan Anda memeriksa jarum yang digunakan.
1. Melakukan sunat bagi pria
Sunat pada pria adalah prosedur pembedahan untuk memotong kulit di
bagian ujung penis. Sunat yang dilakukan pada kelamin pria mampu
mengurangi risiko pria terkena HIV.
b. Pengobatan HIV & AIDS
Obat-obatan Antiretroviral
Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat yang digunakan untuk
mengobati infeksi HIV. Obat-obatan ini tidak membunuh virus, tapi
memperlambat pertumbuhan virus. HIV bisa mudah beradaptasi dan kebal
terhadap satu golongan ARV. Oleh karena itu, kombinasi golongan ARV
akan diberikan pada penderita. Beberapa golongan ARV adalah:
NNRTI (Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors). Jenis ARV ini
akan bekerja dengan menghilangkan protein yang dibutuhkan virus HIV
untuk menggandakan diri.
NRTI (Nucleoside reverse transcriptase inhibitors). Golongan ARV ini
menghambat perkembangan HIV di dalam sel tubuh.
Protease inhibitors. ARV jenis ini akan menghilangkan protease, jenis
protein yang juga dibutuhkan HIV untuk memperbanyak diri.
Entry inhibitors. ARV jenis ini akan menghalangi HIV untuk memasuki selsel CD4.
Integrase inhibitors. Jenis ARV ini akan menghilangkan integrase, protein
yang digunakan HIV untuk memasukkan materi genetik ke dalam sel-sel
CD4.
Pengobatan kombinasi ini lebih dikenal dengan nama terapi antiretroviral
(ART). Biasanya pasien akan diberikan tiga golongan obat ARV. Kombinasi
obat ARV yang diberikan berbeda-beda pada tiap-tiap orang, jadi jenis
pengobatan ini bersifat pribadi atau khusus.

13

Beberapa obat ARV sudah digabungkan menjadi satu pil. Begitu


pengobatan HIV dimulai, mungkin obat ini harus dikonsumsi seumur hidup.
Jika satu kombinasi ARV tidak berhasil, mungkin perlu beralih ke
kombinasi ARV lainnya.
Penggabungan beberapa tipe pengobatan untuk mengatasi infeksi HIV bisa
menimbulkan reaksi dan efek samping yang tidak terduga. Selalu
konsultasikan kepada dokter sebelum mengonsumsi obat yang lain.
Pengobatan HIV Pada Wanita Hamil
Bagi wanita hamil yang positif terinfeksi HIV, ada obat ARV khusus untuk
wanita hamil. Obat ini untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada
bayinya. Tanpa pengobatan, terdapat perbandingan 25 dari 100 bayi akan
terinfeksi HIV. Risiko bisa diturunkan kurang dari satu banding 100 jika
diberi pengobatan sejak awal.
Dengan pengobatan lebih dini, risiko menularkan virus melalui kelahiran
normal tidak meningkat. Tapi bagi beberapa wanita, tetap disarankan untuk
melahirkan dengan operasi caesar.
Bagi wanita yang terinfeksi HIV, disarankan untuk tidak memberi ASI
kepada bayinya. Virus bisa menular melalui proses menyusui. Jika Anda
adalah pasangan yang menderita HIV, bicarakan kepada dokter sebagaimana
ada pilihan untuk tetap hamil tanpa berisiko tertular HIV.
13.) Peran dokter gigi terhadap pasien HIV/AIDS
Kontrol infeksi diantarnya :
1. Penggunaan APD
2. Sterilisasi alat sebelum melakukan pemerikasaan
3. Pastikan alat sudah steril
2.3.4

Menarik kesimpulan dari langkah ke 3


Penyakit Menular Kelamin

Bacteria

Viral

Parasit

HIV

Definisi :

Simptomps :

Penularan :

Virus RNA
yang
menginfeksi
sel-sel sistem
kekebalan
tubuh

Berat badan
turun,
demam,
diare, bercak
putih di
rongga

Hubungan
seksual,
kontak
langsung
dengan
darah, jarum

Preventive &
Treatment :
Obat ARV,
menggunaka
n koondom,
obat truvada.

14

BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus RNA yang
merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia yang dapat menimbulkan
AIDS.
AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan tanda dan

gejala penyakit akibat hilangnya atau menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang.
Orang dengan HIV (penurunan jumlah CD4) rentan menderita infeksi
oral dan lesi oral sebagai manifestasi dari infeksi HIV.

3.2 Daftar Pustaka

Nursalam. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba
Medika.
HIV/HCV Co-infection: Pathogenesis, ClinicalComplications, treatment, and New therapeutic
Technologies ; Eva A. Operskalski& Andrea Kovacs ; Published online: 11 January 2011.
http://lib.unnes.ac.id/18775/1/6450408073.pdf
http://eprints.uny.ac.id/22961/1/BAB%20I.pdf
http://eprints.undip.ac.id/32494/2/11_BAB_I.pdf
www.scribd.com/../makalah-hiv-aids

3.3 Lampiran
1.
2.

Jurnal Manifestasi Oral pada Pasien Terinfeksi Virus HIV/AIDS


Jurnal Peran Dokter Gigi dalam Upaya Pencegahan Penularan HIV melalui Penerapan
Kewaspadaan Universal

15