Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

ANATOMI & FISIOLOGI


Ruas-ruas tulang belakang manusia tersusun dari atas ke bawah, diantara ruasruas tersebut dihubungkan dengan tulang rawan yang disebut cakram sehingga tulang
belakang dapat tegak dan membungkuk, disebelah depan dan belakangnya terdapat
kumpulan serabut kenyal yang memperkuat kedudukan ruas tulang belakang. Tulang
belakang terdiri dari 30 tulang yang terdiri atas :

Vertebra servicalis sebanyak 7 ruas dengan badan ruas kecil, rendah dan berbentuk
segi empat dengan lubang ruasnya besar. Foramen vertebra berbentuk segitiga dan
besar. Pada taju sayapnya terdapat lubang saraf yang disebut foramen transversalis
yang dilalui oleh arteri dan vena vertebralis. Pada ujung prosesus tansversus terdapat
2 buah tonjolan yaitu tuberculum anterius dan tuberculum posterius yang dipisahkan
oleh suatu alur yaitu sulcus spinalis tempat berjalannya nervus spinalis. Prosesus
spinosusnya pendek dan bercabang dua. Ruas pertama disebut atlas yang
memungkinkan kepala mengangguk. Ruas kedua disebut prosesus odontoit (aksis)

yang memungkinkan kepala berputar ke kiri dan kekanan.


Vertebra thorakal sebanyak 12 ruas. Badan ruasnya besar dan kuat, taju durinya
panjang dan melengkung. Facies articularis superior menghadap ke belakang dan

lateral dan facies articularis inferior menghadap ke depan dan medial.


Vertebra lumbalis sebanyak 5 ruas. Badan ruasnya tebal, besar dan kuat, bersifat
pasif. Prosesus spinosusnya besar dan pendek. Facies prosesus artikularis superior
menghadap ke medial dan facies articularis inferiornya menghadap ke lateral. Bagian
ruas kelima agak menonjol disebut promontorium.

Vertebra sacralis sebanyak 5 ruas, ruas-ruasnya menjadi satu sehingga berbentuk baji,
yang cekung di anterior. Batas inferior yang sempit berartikulasi dengan kedua os

coxae, membentuk artikulatio sacroiliaca.


Vertebra koksigialis sebanyak 4 ruas. Ruasnya kecil dan membentuk sebuah tulang
segitiga kecil, yang berartikulasi pada basisnya pada ujung bawah sacrum. Dapat
bergerak sedikit karena membentuk persendian dengan sacrum.

Secara umum struktur tulang belakang tersusun atas dua kolom yaitu :

Kolom korpus vertebra beserta semua diskus intervetebra yang berada di antaranya.
Kolom elemen posterior (kompleks ligamentum posterior) yang terdiri atas lamina,
pedikel, prosesus spinosus, prosesus transversus dan pars artikularis, ligamentumligamentum supraspinosum dan intraspinosum, ligamentum flavum, serta kapsul
sendi.

Korpus
Merupakan bagian terbesar dari vertebra, berbentuk silindris yang mempunyai
beberapa facies (dataran) yaitu : facies anterior berbentuk konvek dari arah samping
dan konkaf dari arah cranial ke caudal. Facies superior berbentuk konkaf pada
lumbal 4-5.

Arcus
Merupakan lengkungan simetris di kiri-kanan dan berpangkal pada korpus menuju
dorsal pangkalnya disebut radik arcus vertebra dan ada tonjolan ke arah lateral yang
disebut procesus spinosus.

Foramen vertebra
Merupakan lubang yang besar yang terdapat diantara corpus dan arcus bila dilihat
dari columna vetebralis, foramen vetebra ini membentuk suatu saluran yang disebut
canalis vetebralisalis, yang akan terisi oleh medula spinalis.
Stabilitas pada vertebra ada dua macam yaitu stabilisasi pasif dan stabilisasi aktif.

Untuk stabilisasi pasif adalah ligament yang terdiri dari :

ligament longitudinal anterior yang melekat pada bagian anterior tiap diskus dan

anterior korpus vertebra, ligament ini mengontrol gerakan ekstensi.


Ligament longitudinal posterior yang memanjang dan melekat pada bagian posterior
dikcus dan posterior korpus vertebra. Ligament ini berfungsi untuk mengontrol
gerakan fleksi.

ligament flavum terletak di dorsal vertebra di antara lamina yang berfungsi


melindungi medulla spinalis dari posterior.
ligament tranfersum melekat pada tiap procesus tranversus yang berfungsi
mengontrol gerakan fleksi.5,6

Setiap ruas tulang belakang dapat bergerak satu dengan yang lain oleh karena
adanya dua sendi di posterolateral dan diskus intervertebralis di anterior. Bila dilihat
dari samping, pilar tulang belakang membentuk lengkungan atau lordosis di daerah
servikal, torakal dan lumbal. Keseluruhan vertebra maupun masing-masing tulang
vertebra berikut diskus intervertebralisnya bukanlah merupakan satu struktur yang
elastis, melainkan satu kesatuan yang kokoh dengan diskus yang memungkinkan gerakan
bergesek antar korpus ruas tulang belakang. Lingkup gerak sendi pada vertebra servikal
adalah yang terbesar. Vertebra torakal berlingkup gerakan yang sedikit karena adanya
tulang rusuk yang membentuk toraks, sedangkan vertebra lumbal mempunyai ruang
lingkup gerak yang lebih besar dari torakal tetapi makin ke bawah lingkup geraknya
makin kecil.7,8

Kolumna vertebralis tersusun atas seperangkat sendi antar korpus vertebra yang
berdekatan, sendi antar arkus vertebra, sendi kortovertebralis, dan sendi sakroiliaka.
Ligamentum longitudinal dan discus intervertebralis menghubungkan korpus vertebra
yang berdekatan.
Diantara korpus vertebra mulai dari cervikalis kedua sampai vertebra sakralis
terdapat discus intervertebralis. Discus-discus ini membentuk sendi fobrokartilago yang
lentur antara dua vertebra. Discus dipisahkan dari tulang yang diatas dan dibawanya oleh
lempengan tulang rawan yang tipis. Discus intervertebralis menghubungkan korpus
vertebra satu sama lain dari servikal sampai lumbal atau sacral. Diskus ini berfungsi
sebagai penyangga beban dan peredam kejut (shock absorber). Diskus intervertebralis
terdiri dari tiga bagian utama yaitu:
Annulus fibrosus, terbagi menjadi 3 lapis:
Lapisan terluar terdiri dari lamella fibro kolagen yang berjalan menyilang
konsentris mengelilingi nucleus pulposus sehingga bentuknya seakan-akan
menyerupai gulungan per (coiled spring)
Lapisan dalam terdiri dari jaringan fibro kartilagenus
Daerah transisi.
Nucleus pulposus
Nucleus pulposus adalah bagian tengah discus yang bersifat semigetalin, nucleus ini
mengandung berkas-berkas kolagen, sel jaringan penyambung dan sel-sel tulang
rawan. Juga berperan penting dalam pertukaran cairan antar discus dan pembuluhpembuluh kapiler.
Vertebral endplate
Tulang rawan yang membungkus apofisis korpus vertebra, membentuk batas atas
dan bawah dari diskus.
Diskus intervertabralis berfungsi secara hidrodinamik. Tekanan pada nucleus
disebarkan ke semua arah, hal inilah yang menjaga tetap terpisahnya vertebral end plates.
Serabut-serabut annulus fibrosus mempunyai kemampuan cukup untuk bergerak fleksi
dan ekstensi sehingga memungkinkan perubahan bentuk dari nukleus pulposus.
Fleksibilitas dari annulus fibrosus dimungkinkan oleh karena adanya (1) kelenturan, (2)
kemampuan memanjang dan (3) adanya lubrikasi atau pelumasan dari lembaranlemabaran annulus.9

Nucleus Pulposus adalah suatu gel yang viskus terdiri dari proteoglycan
(hyaluronic long chain) mengandung kadar air yang tinggi (80%) dan mempunyai sifat
sangat higroskopis. Nucleus pulposus berfungsi sebagai bantalan dan berperan menahan
tekanan atau beban.
Diskus intervertebralis, baik annulus fibrosus maupun nukleus pulposus adalah
bangunan yang tidak peka nyeri. Bagian yang peka nyeri adalah :

Ligamentum longitudinal anterior


Ligamentum longitudinal posterior
Corpus vertebrae dan periosteumnya
Ligamentum supraspinosum
Fasia dan otot
Medula spinalis merupakan jaringan saraf berbentuk kolum vertical yang

terbentang dari dasar otak, keluar dari rongga kranium melalui foramen occipital
magnum, masuk kekanalis sampai setinggi segmen lumbal-2. medulla spinalis terdiri dari
31 pasang saraf spinalis (kiri dan kanan) yang terdiri atas :

8 pasang saraf servical.


15 pasang saraf thorakal.
5 pasang saraf lumbal.
5 pasang saraf sacral.
1 pasang saraf cogsigeal.
Penampang melintang medulla spinalis memperlihatkan bagian bagian yaitu

substansia grisea (badan kelabu) dan substansia alba. Substansia grisea mengelilingi
kanalis centralis sehingga membentuk kolumna dorsalis, kolumna lateralis dan kolumna
ventralis. Kolumna ini menyerupai tanduk yang disebut conv. Substansia alba
mengandung saraf myelin (akson).
Sumsum tulang belakang berjalan melalui tiap-tiap vertebra dan membawa saraf
yang menyampaikan sensasi dan gerakan dari dan ke berbagai area tubuh. Semakin
tinggi kerusakan saraf tulang belakang, maka semakin luas trauma yang diakibatkan.
Misal, jika kerusakan saraf tulang belakang di daerah leher, hal ini dapat berpengaruh
pada fungsi di bawahnya dan menyebabkan seseorang lumpuh pada kedua sisi mulai dari
leher ke bawah dan tidak terdapat sensasi di bawah leher. Kerusakan yang lebih rendah
pada tulang sakral mengakibatkan sedikit kehilangan fungsi.8

2.6.

LOW BACK PAIN

2.6.1. Anamnesis3,21

Nyeri pinggang bawah dapat dibagi dalam 6 jenis nyeri, yaitu:


a) Nyeri pinggang lokal
Jenis ini paling sering ditemukan. Biasanya terdapat di garis tengah dengan radiasi ke
kanan dan ke kiri. Nyeri ini dapat berasal dari bagian-bagian di bawahnya seperti
fasia, otot-otot paraspinal, korpus vertebra, sendi dan ligamen.
b) Iritasi pada radiks
Rasa nyeri dapat berganti-ganti dengan parestesi dan dirasakan pada dermatom yang
bersangkutan pada salah satu sisi badan. Kadang-kadang dapat disertai hilangnya
perasaan atau gangguan fungsi motoris. Iritasi dapat disebabkan oleh proses desak
ruang pada foramen vertebra atau di dalam kanalis vertebralis.
c) Nyeri rujukan somatis
Iritasi serabut-serabut sensoris dipermukaan dapat dirasakan lebih dalam pada
dermatom yang bersangkutan. Sebaliknya iritasi di bagian-bagian dalam dapat
dirasakan di bagian lebih superfisial.
d) Nyeri rujukan viserosomatis
Adanya gangguan pada alat-alat retroperitonium, intraabdomen atau dalam ruangan
panggul dapat dirasakan di daerah pinggang.
e) Nyeri karena iskemia
Rasa nyeri ini dirasakan seperti rasa nyeri pada klaudikasio intermitens yang dapat
dirasakan di pinggang bawah, di gluteus atau menjalar ke paha. Dapat disebabkan
oleh penyumbatan pada percabangan aorta atau pada arteri iliaka komunis.
f) Nyeri psikogen

Rasa nyeri yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan distribusi saraf dan dermatom
dengan reaksi wajah yang sering berlebihan.
Penyebab mekanis LBP menyebabkan nyeri mendadak yang timbul setelah posisi
mekanis yang merugikan. Mungkin terjadi robekan otot, peregangan fasia atau iritasi
permukaan sendi. Keluhan karena penyebab lain timbul bertahap.
Harus dibedakan antara LBP dengan nyeri tungkai, mana yang lebih dominan dan
intensitas dari masing-masing nyerinya, yang biasanya merupakan nyeri radikuler. Nyeri
pada tungkai yang lebih banyak dari pada LBP dengan rasio 80-20% menunjukkan
adanya radikulopati dan mungkin memerlukan suatu tindakan operasi. Bila nyeri LBP
lebih banyak daripada nyeri tungkai, biasanya tidak menunjukkan adanya suatu kompresi
radiks dan juga biasanya tidak memerlukan tindakan operatif.
Gejala LBP yang sudah lama dan intermiten, diselingi oleh periode tanpa gejala
merupakan gejala khas dari suatu LBP yang terjadinya secara mekanis. Herniasi diskus
bisa membutuhkan waktu 8 hari sampai resolusinya. Degenerasi diskus dapat
menyebabkan rasa tidak nyaman kronik dengan eksaserbasi selama 2-4 minggu.
Walaupun suatu tindakan atau gerakan yang mendadak dan berat, yang biasanya
berhubungan dengan pekerjaan, bisa menyebabkan suatu LBP, namun sebagian besar
episode herniasi diskus terjadi setelah suatu gerakan yang relatif sepele, seperti
membungkuk atau memungut barang yang enteng.
Harus diketahui pula gerakan-gerakan

mana

yang

bisa

menyebabkan

bertambahnya nyeri LBP, yaitu duduk dan mengendarai mobil dan nyeri biasanya
berkurang bila tiduran atau berdiri, dan setiap gerakan yang bisa menyebabkan
meningginya tekanan intra-abdominal akan dapat menambah nyeri, juga batuk, bersin
dan mengejan sewaktu defekasi.
Selain nyeri oleh penyebab mekanik ada pula nyeri non-mekanik. Nyeri pada
malam hari bisa merupakan suatu peringatan, karena bisa menunjukkan adanya suatu
kondisi terselubung seperti adanya suatu keganasan ataupun infeksi.
Faktor-faktor lain yang penting adalah gangguan pencernaan atau gangguan
miksi-defekasi, karena bisa merupakan tanda dari suatu lesi di kauda ekuina dimana
harus dicari dengan teliti adanya hipestesi peri-anal, retensio urin, overflow incontinence
dan tidak adanya perasaan ingin miksi dan gejala-gejala ini merupakan suatu keadaan

emergensi yang absolut, yang memerlukan suatu diagnosis segera dan dekompresi
operatif segera, bila ditemukan kausa yang menyebabkan kompresi.
Suatu radikulopati tanpa nyeri menandakan kemungkinan adanya suatu penyakit
metabolik seperti polineuropati diabetik, namun juga harus diingat bahwa hilangnya
nyeri tanpa terapi yang adekuat dapat menandakan adanya suatu penyembuhan, namun
dapat pula berarti bahwa serabut nyeri hancur sehingga perasaan nyeri hilang, walaupun
kompresi radiks masih ada.
Suatu nyeri yang berkepanjangan akan menyebabkan dan

dapat diperberat

dengan adanya depresi sehingga harus diberi pengobatan yang sesuai. Terdapat 5 tanda
depresi yang menyertai nyeri yang hebat, yaitu anergi (tak ada energi), anhedonia (tak
dapat menikmati diri sendiri), gangguan tidur, menangis spontan dan perasaan depresi
secara umum.
2.6.2. Pemeriksaan fisik23,24
Pemeriksaan fisik secara komprehensif pada pasien dengan nyeri punggung
meliputi evaluasi sistem neurologi dan muskuloskeltal. Pemeriksaan neurologi meliputi
evaluasi sensasi tubuh bawah, kekuatan dan refleks-refleks.
a) Inspeksi :
o Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi dan bila pasien tetap berdiri dan
menolak untuk duduk, maka sudah harus dicurigai adanya suatu herniasi diskus.
o Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang membuat
nyeri dan juga bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya lordosis serta adanya
skoliosis. Berkurang sampai hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan oleh
spasme otot paravertebral.
o Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:

Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah.

Ekstensi ke belakang (back extension)

seringkali menyebabkan nyeri

pada tungkai bila ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan

artritis lumbal, karena gerakan ini akan menyebabkan penyempitan


foramen sehingga menyebabkan suatu kompresi pada saraf spinal.

Fleksi ke depan (forward flexion) secara khas akan menyebabkan nyeri


pada tungkai bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang
terinflamasi diatas suatu diskus protusio sehingga meninggikan tekanan
pada saraf spinal tersebut dengan jalan meningkatkan tekanan pada
fragmen yang tertekan di sebelahnya (jackhammer effect).

b) Palpasi :
o Adanya nyeri (tenderness) pada kulit bisa menunjukkan adanya kemungkinan
suatu keadaan psikologis di bawahnya (psychological overlay).
o Kadang-kadang bisa ditentukan letak segmen yang menyebabkan nyeri dengan
menekan pada ruangan intervertebralis.
o Pada spondilolistesis yang berat dapat diraba adanya ketidak-rataan (step-off)
pada palpasi di tempat/level yang terkena.
o Penekanan dengan jari jempol pada prosesus spinalis dilakukan untuk mencari
adanya fraktur pada vertebra.
o Pemeriksaan fisik yang lain memfokuskan pada kelainan neurologis.
o Harus dicari pula refleks patologis seperti babinski, terutama bila ada
hiperefleksia yang menunjukkan adanya suatu gangguan upper motor neuron
(UMN). Dari pemeriksaan refleks ini dapat membedakan akan kelainan yang
berupa UMN atau LMN.
c) Pemeriksaaan Motorik

o Harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan kedua sisi untuk
menemukan abnormalitas motoris.
o Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :

Berjalan dengan menggunakan tumit.

Berjalan dengan menggunakan jari atau berjinjit.

Jongkok dan gerakan bertahan ( seperti mendorong tembok )

d) Pemeriksaan Sensorik
o Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena membutuhkan perhatian dari
penderita dan tak jarang keliru
o Nyeri dalam otot.
o Rasa gerak.
e) Refleks
o Refleks yang harus di periksa adalah refleks di daerah Achilles dan Patella, respon
dari pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui lokasi terjadinya lesi
pada saraf spinal.

Special Test

o Tes Lasegue:

Mengangkat tungkai dalam keadaan ekstensi. Positif bila pasien tidak


dapatmengangkat tungkai kurang dari 60 dan nyeri sepanjang nervus
ischiadicus. Rasa nyeri dan terbatasnya gerakan sering menyertai
radikulopati, terutama pada herniasi discus lumbalis / lumbo-sacralis.

o Tes Patrick dan anti-patrick:

Fleksi-abduksi-eksternal rotation-ekstensi sendi panggul. Positif jika


gerakan diluar kemauan terbatas, sering disertai dengan rasa nyeri. Positif
pada penyakit sendi panggul, negative pada ischialgia.

o Tes kernig:

Pasien terlentang, paha difleksikan, kemudian meluruskan tungkai bawah


sejauh mungkin anpa timbul rasa nyeri yang berarti. Positif jika terdapat
spasme involunter otot semimembraneus, semitensinous, biceps femoris
yang membatasi ekstensi lutut dan timbul nyeri.

o Tes Naffziger:

Dengan menekan kedua vena jugularis, maka tekanan LCS akan


meningkat, akan menyebabkan tekanan pada radiks bertambah, timbul
nyeri radikuler. Positif pada spondilitis.

o Tes valsava:

Penderita disuruh mengejan kuat maka tekanan LCS akan meningkat,


hasilnya sama dengan percobaan Naffziger.

o Spasme m. psoas:

Diperiksa pada pasien yang berbaring terlentang dan pelvis ditekan kuat
kuat pada meja oleh sebelah tangan pemeriksa, sementara tangan lain
menggerakkan tungkai ke posisi vertical dengan lutu dalam keadaan fleksi
tegak lurus. Panggulsecara pasif mengadakan hiperekstensi ketika
pergelangan kaki diangkat. Terbatasnya gerakan ditimbulkan oleh spasme
involunter m.psoas.

o Tes Gaenselen:

Terbatasnya fleksi lumbal secara pasif dan rasa nyeri yang diakibatkan
sering menyertai penyakit pada art. Lumbal / lumbo-sacral. Dengan pasien
berbaring terlentang, pemeriksa memegang salah satu ekstremitas bawah
dengan kedua belah tangan dan menggerakkan paha sampai pada posisi
fleksi maksimal. Kemudian pemeriksa menekan kuat kuat ke bawah
kearah meja dan ke atas kearah kepala pasien, yang secara pasif
menimbulkan fleksi columna spinalis lumbalis.

2.6.3. Pemeriksaan Penunjang4,21


a) Laboratorium:

Pada pemeriksaan laboratorium rutin penting untuk melihat; laju endap darah (LED),
kadar Hb, jumlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.
b) Pungsi Lumbal (LP) :
LP akan normal pada fase permulaan prolaps diskus, namun belakangan akan terjadi
transudasi dari low molecular weight albumin sehingga terlihat albumin yang sedikit
meninggi sampai dua kali level normal.
c) Pemeriksaan Radiologis :
Foto rontgen biasa (plain photos) sering terlihat normal atau kadang-kadang
dijumpai

penyempitan

ruangan

intervertebral,

spondilolistesis,

perubahan

degeneratif, dan tumor spinal. Penyempitan ruangan intervertebral kadang-kadang


terlihat bersamaan dengan suatu posisi yang tegang dan melurus dan suatu
skoliosis akibat spasme otot paravertebral.

CT scan adalah sarana diagnostik yang efektif bila vertebra dan level neurologis telah
jelas dan kemungkinan karena kelainan tulang.
Mielografi berguna untuk melihat kelainan radiks spinal, terutama pada pasien yang
sebelumnya dilakukan operasi vertebra atau dengan alat fiksasi metal. CT mielografi
dilakukan dengan suatu zat kontras berguna untuk melihat dengan lebih jelas ada atau
tidaknya kompresi nervus atau araknoiditis pada pasien yang menjalani operasi

vertebra multipel dan bila akan direncanakan tindakan operasi terhadap stenosis
foraminal dan kanal vertebralis.

MRI (akurasi 73-80%) biasanya sangat sensitif pada HNP dan akan menunjukkan
berbagai prolaps. Namun para ahli bedah saraf dan ahli bedah ortopedi tetap
memerlukan suatu EMG untuk menentukan diskus mana yang paling terkena. MRI
sangat berguna bila:

vertebra dan level neurologis belum jelas

kecurigaan kelainan patologis pada medula spinal atau jaringan lunak

untuk menentukan kemungkinan herniasi diskus post operasi

kecurigaan karena infeksi atau neoplasma


Mielografi atau CT mielografi dan atau MRI adalah alat diagnostik yang sangat

berharga pada diagnosis LBP dan diperlukan oleh ahli bedah saraf atau ortopedi untuk
menentukan lokalisasi lesi pre-operatif dan menentukan adakah adanya sekwester diskus
yang lepas dan mengeksklusi adanya suatu tumor.
Mumenthaler (1983) menyebutkan adanya 25% false negative diskus prolaps
pada mielografi dan 10% false positive dengan akurasi 67%.

Diskografi dapat dilakukan dengan menyuntikkan suatu zat kontras ke dalam nukleus
pulposus untuk menentukan adanya suatu annulus fibrosus yang rusak, dimana kontras
hanya bisa penetrasi/menembus bila ada suatu lesi. Dengan adanya MRI maka
pemeriksaan ini sudah tidak begitu populer lagi karena invasif.
Elektromiografi (EMG) :
Dalam bidang neurologi, maka pemeriksaan elektrofisiologis/neurofisiologis sangat
berguna pada diagnosis sindroma radiks. Pemeriksaan EMG dilakukan untuk :

Menentukan level dari iritasi atau kompresi radiks

Membedakan antara lesi radiks dengan lesi saraf perifer

Membedakan adanya iritasi atau kompresi radiks

Elektroneurografi (ENG)
Pada elektroneurografi dilakukan stimulasi listrik pada suatu saraf perifer tertentu
sehingga kecepatan hantar saraf (KHS) motorik dan sensorik (Nerve Conduction
Velocity/NCV) dapat diukur, juga dapat dilakukan pengukuran dari refleks dengan
masa laten panjang seperti F-wave dan H-reflex. Pada gangguan radiks, biasanya NCV
normal, namun kadang-kadang bisa menurun bila telah ada kerusakan akson dan juga
bila ada neuropati secara bersamaan
Potensial Cetusan Somatosensorik (Somato-Sensory Evoked Potentials/SSEP)
Kadang-kadang pemeriksaan SSEP diperlukan untuk membuat diagnosis lesi-lesi yang
lebih proksimal sepanjang jaras-jaras somatosensorik.
Semua tes mempunyai hasil yang positif palsu dan negatif

palsu serta

penggunaan tes diagnostik lebih dari satu akan mempertajam akurasi diagnostik.
Harus diingat bahwa seluruh pemeriksaan tambahan ini dilakukan dalam
kerangka pemeriksaan klinis neurologis dan harus dievaluasi sebagai suatu kesatuan
yang menyeluruh sehingga sampai pada suatu kesimpulan diagnosis yang akurat sehingga
tindakan pembedahan yang berlebihan dapat dicegah.

2.6.4

Diagnosis Banding

Diagnosa banding LPB, diantaranya :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Cedera tendon achilles


Nyeri coccygeal
Kompresi lumbal akibat fraktur
Penyakit degeneratif diskus intervertebralis
Spondylosis lumbal
Spondylolisthesis (Hills et al, 2010)

2.6.5 Penatalaksanaan
Jika penyebab spesifik terjadinya nyeri punggung bawah dapat diketahui, maka
perlu diatasi penyebab tersebut. Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyebab

nyeri

muskuloskeletal.Tetapi

terdapat

beberapa

tindakan

yang

dapat

membantu,biasanya tindakan ini juga dapat digunakan untuk mengatasi nyeri akibat
penekanan tulang belakang tindakan ini meliputi: perbaiki aktifitas,menggunakan obat
pereda nyeri, kompres dingin pada daerah nyeri,dan olahraga.
Untuk nyeri punggung bawah yang baru terjadi,penanganan dimulai dengan
mencegah aktivitas yang memberi stressor pada tulang belakang,misalnya mengangkat
benda berat dan membungkuk.
Penggunaan Acetaminophen terkadang dianjurkan untuk mengatasi nyeri.Jika
terdapat peradangan maka dapat digunakan obat NSAID yang dapat mengatasi nyeri
dan peradangan. Jika keduanya tidak dapatmengatasi nyeri yang ada,maka dapat
digunakan obat golongan Opioid.
Pemakaian

relaksan

otot

seperti

cyclobenzaprine,

diazepam,

atau

methocarbamol, terkadang diperlukan untuk mengatasi spasme otot, tapi kegunaannya


sendiri masih kontroversial. Obat obat ini tidak danjurkan oleh orang tua,karena lebih
sering memberi efek samping.(Cianflocco.,2013)
Excercise dalam penatalaksaan Low Back Pain
Setelah bertahun tahun dilakukan penelitian untuk pengobatan back pan,para klinisi
kembali menetapkan bahwa exercise menjadi pilihan utama dalam tatalaksana. Koes et al
2001 melakukan perbandingan clinical guidelines pada low back pain. Hampir semua
Negara menyarakan orang yang memiliki episode acute back pain untuk tetap aktif tetapi
ada beberapa excercis yang tidak direkomendasikan. Tetapi di Amerika, low-stress
aerobic exercise direkomendasikan untuk episode acute back pain. Seluruh Negara
merekomendasikan exercise sebagai terapi pilihan jika sudah melewati fase akut dari low
back pain
Aerobic training
Aerobic training masih dianggap kurang jelas manfaatnya dalam pengobatan low
back pain. Hal ini dikarenakan disabilitas yang disebabkan dari low back pain
membuat seseorang menjadi terbatas dalam melakukan aorebic training. Mannion
et al.(2001) melakukan controlled trial yang hasilnya didapatkan pasien-pasien

dengan low back pain mengikuti low impact aerobic yang berjalan selama 1 jam,
terdiri dari pemanasan, stretching, low impact aerobic excercises dan 20-30 menit
exercise khusus untuk badan dan kaki sama saja hasilnya dengan fisioterapi aktif
ataupun dengan alat bantu lainnya.
Aerobic training berdasarkan McGill (2001) berfungsi sebagai penatalaksaan low
back pain dan pencegahan low back pain. Tetapi patologi dari penyakit pasien
harus disesuaikan dengan posisi pasien, contoh posisi felksi dari lumbal bisa
membuat memperburuk masalah diskus lumbal makara dari itu olah raga
berenang lebih cocok
Strengthening exercises.
Saat klinisi mendeskirpsikan exercise terapi pada pasien LBP hampir yang sebagian besar
dimaksudkan adalah melatih kekuaran pada otot otot batang tubuh dan otot-otot
abdomen. Latihan kekuatan lebih banyak menggunakan alat bantu seperti beban,
pulleys,elastic bands atau alat-alat rehabilitasi yang lebih sppesifik seperti Swiss ball.
Fisoterapis bangsa Norwegia, Oddva Holten merangkai sistem exercise yang beritngakt
dan progesif. Target dari exercise tersebut adalah membuat kembali normal fungsinya.
Para pasien diberikan program secara individual dengan lama waktu 1jam dengan
pengawasan fisoterapis. Alat-alat yang digunakan adalah wall pulleys, lateral pulleys,
anglenbench dumb belss, dan bar bells. Pasien diberikan 9 macam exercise yang diulagi
sebnayak 20-30 kali

dalam 3 set dengan isitriahat 30 detik antar setnya. Dengan

melakukan ini setiap setnya seorang pasien melakukan 1000 kali gerakn yang repititif
yang secara teori akan berpengaruh pada sirkulasi, ketahan , dan koordinasi.
Flexibility and range of movement exercises
Saat terjadi cidera, splinting dari sendi atau antalgic postur akibat dari rasa nyeri bisa
membuat pemendekan dari jaringan lunak. Hal tersebut dapat berdampak cidera yang
lebih lanjut. Salah satunya metode Mckenzie, Exercise untuk fleksibilitas dan ROM
sering sekali termasuk dalam penatalaksanaan LBP, seperti
Lumbar flexion in supine lying
Lumbar extension in prone lying

Hamstring stretches
Hip extensor stretches
Hip flexor stretches
Postural correction
Thoracic extension in sitting

Penanganan Low Back Pain Dengan Menggunakan Teknik William Flexion Exercise dan
Mc Kenzie
William Flexion Excercise
Prinsip WFE : -. Untuk merelaksasikan otot punggung dengan penguluran.
-. Penguatan Otot Perut.
Cara : -. Stretching otot-otot abdomen dan gluteus maksimus.
-. Stretching otot-otot extensor punggung.
Gerakan : Flexi Lumbosacral.
Teknik gerakan William Flexi modifikasi :
1. Pelvic tilt. Berbaring terlentang dengan lutut ditekuk, kaki rata dengan
tanah. Sejajarkan punggung anda dengan lantai, tanpa menekan kaki.
Tahan selama 5-10 detik.
2. Single Knee to chest. Berbaring terlentang dengan lutut ditekuk, kaki
rata dengan tanah. Perlahan-lahan tarik lutut kanan anda ke arah pundak
dan tahan selama 5-10 detik. Turunkan lutut dan ulangi dengan lutut
lainnya.

3. Double knee to chest. Awali seperti latihan sebelumnya. Setelah


menarik lutut ke arah dada dan tahan kedua lutut selama 5-10 detik.
Perlahan-lahan turunkan satu kaki pada satu waktu.
4. Partial sit-up. Lakukan latihan angkat pelvis (latihan 1) dan, selagi
menahan gerakan ini, perlahan-lahan tundukkan kepala anda dan bahu ikut
terangkat dari lantai. Tahan sekuatnya. Kembali ke posisi awal secara
perlahan-lahan.
5. Hamstring stretch. Awali dengan posisi duduk selonjor dengan jari-jari
kaki mengarah atau berdiri tegak dan lutut extensi penuh. Perlahan-lahan
turunkan tulang leher melewati kaki, tahan lutut supaya tetap extensi,
lengan juga direntangkan ke depan melewati kaki, dan mata fokus ke
depan.
6. Hip Flexor stretch. Letakkan satu kaki didepan kaki yang lainnya
dengan posisi kaki kiri (didepan) di-flexikan dan kaki kanan (dibelakang)
ditarik lurus ke belakang. Flexikan tulang leher sampai lutut kiri
menyentuh ketiak. Lakukan dengan kaki satunya.
7. Squat. Berdiri dengan kedu kaki berdiri paralel, sejajar dengan bahu.
Dengan tujuan mengatur tulang leher se-perpendikular mungkin dengan
lantai, mata fokus ke depan, dan kaki datar dengan lantai, Pasien
menurunkan posisi berdirinya dengan memflexikan lututnya.
8. Pasien terlentang pada bed yang padat, kedua tangan disilangkan di
depan dada dan lutut semi flexi.
Gerakan : bagian badan diangkat dengan pandangan lurus ke depan (Sit
Up). Dilakukan 5-10 kali tiap sesi.

2.6.7 Pencegahan
Cara yang paling efektif untuk mencegah nyeri punggung bawah adalah dengan
olahraga secara teratur. Latihan aerobik dan olahraga untuk meregangkan dan
mengencangkan otot sangat membantu. Aerobik, berenang, dan berjalan, memperbaiki
kebugaran tubuh secara menyeluruh dan juga memperkuat otot otot. Latihan tertentu
dapat meregangkan dan memperkuat otot-otot perut, bokong, dan punggung sehingga
dapat menstabilkan tulang punggung. Pada beberapa orang, latihan peregangan dapat
menambah nyeri punggung,untuk itu latihan perlu dilakukan secara hatihati. Secara
umum,olahraga yang menimbulkan atau menambah nyeri harus dihentikan.
2.2.11 Prognosis
Prognosis LBP baik pada tipe mekanik. Setelah 1 bulan pengobatan, 35% pasien
dilaporkan membaik, dan 85% pasien membaik setelah 3 bulan. Dilaporkan tingkat

kekumatan LBP mencapai 62% pada tahun pertama. Setelah 2 tahun, 80% pasien
setidaknya mengalami satu kali kekumatan. (Hills et al,2010)