Anda di halaman 1dari 3

Dispepsia berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys- (buruk) dan peptein (pencernaan).

1
Berdasarkan consensus International of Panel of Clinical Investigator, dyspepsia didefinisikan
sebagai rasa nyeri atau tidak nyaman yang terutama dirasakan di daerah perut bagian atas. 2
Sedangkan menurut Kriteria Roma III terbaru, 3 Dispepsia fungsional didefinisikan sebgai
sindrom yang mencakup satu atau lebih dari gejalan-gejala berikut: perasaan perut penuh setelah
makan, cepat kenyang, atau rasa terbakar di ulu hati, yang berlangsung setidaknya dalam 3 bulan
terakhir, dengan awal mula gejala sedikitnya timbul 6 bulan sebelum diagnosis
Dispepsia fungsional dibagi menjadi 2 kelompok, yakni postprandial distress syndrome
dan epigastric pain syndrome. Postprandial distress snyndrom mewakili kelompok denga
perasaan begah setelah makan dan perasaan cepat kenyang, sedangkan epigastric pain
syndrome merupakan rasa nyeri yang lebih konstan dirasakan dan tidak begitu terkait
dengan makan seperti halnya postprandial distress syndrom
Kriteria diagnostik Roma III untuk dispepsia fungsional1
Dispepsia fungsional
Kriteria diagnostik terpenuhi* bila 2 poin di bawah ini seluruhnya terpenuhi:
1. Salah satu atau lebih dari gejala-gejala di bawah ini:
a. Rasa penuh setelah makan yang mengganggu
b. Perasaan cepat kenyang
c. Nyeri ulu hati
d. Rasa terbakar di daerah ulu hati/epigastrium
2.

Tidak ditemukan bukti adanya kelainan struktural yang menyebabkan timbulnya

gejala (termasuk yang terdeteksi saat endoskopi saluran cerna bagian atas [SCBA])
a. Postprandial distress syndrome
Kriteria diagnostik* terpenuhi bila 2 poin di bawah ini seluruhnya terpenuhi:
1. Rasa penuh setelah makan yang mengganggu, terjadi setelah makan dengan porsi biasa,
sedikitnya terjadi beberapa kali seminggu
2. Perasaan cepat kenyang yang membuat tidak mampu menghabiskan porsi makan biasa,
sedikitnya terjadi beberapa kali seminggu
Kriteria terpenuhi bila gejala-gejala di atas terjadi sedikitnya dalam 3 bulan terakhir, dengan awal
mula gejala timbul sedikitnya 6 bulan sebelum diagnosis.

Kriteria penunjang
1. Adanya rasa kembung di daerah perut bagian atas atau mual setelah makan atau
bersendawa yang berlebihan
2. Dapat timbul bersamaan dengan sindrom nyeri epigastrium.
b. Epigastric pain syndrome
Kriteria diagnostik* terpenuhi bila 5 poin di bawah ini seluruhnya terpenuhi:
1.

Nyeri atau rasa terbakar yang terlokalisasi di daerah epigastrium dengan tingkat

keparahan moderat/sedang,
paling sedikit terjadi sekali dalam seminggu
2. Nyeri timbul berulang
3. Tidak menjalar atau terlokalisasi di daerah perut atau dada selain daerah perut bagian
atas/epigastrium
4. Tidak berkurang dengan BAB atau buang angin
5. Gejala-gejala yang ada tidak memenuhi kriteria diagnosis kelainan kandung empedu dan
sfi ngter Oddi
Kriteria terpenuhi bila gejala-gejala di atas terjadi sedikitnya dalam 3 bulan terakhir, dengan awal
mula gejala timbul sedikitnya 6 bulan sebelum diagnosis.
Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri, sedangkan pada penderita lainnya,
makan bisa mengurangi nyerinya. Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual,
sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung). Jika dispepsia menetap selama lebih dari
beberapa minggu, atau tidak memberi respon terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat
badan atau gejala lain yang tidak biasa seperti adanya alarm symtoms, maka penderita harus
menjalani pemeriksaan

1. Bonner GF. Upper gastrointestinal evaluation related to the pelvic fl oor. In: Davila GW,
Ghoniem GM, Wexner SD, editors. Pelvic Floor Dysfunction. 1st ed. Springer-Verlag London
Limited; 2006. h. 67-8.
2. Talley NJ, Colin-Jones D, Koch KL, Koch M, Nyren O, Stanghellini V. Functional dyspepsia:
a classifi cation with guidelines for diagnosis and management. Gastroenterol Int. 1991;4:145.

3. Talley NJ, Stanghellini V, Heading RC, Koch KL, Malagelada JR, Tytgat GN. Functional
gastroduodenal disorders. Gastroenterology. 2006;130:1466-79.
Tumor Esofagus (Ca Esofagus)
Seperti saluran cerna lainnya, pada esophagus dapat tumbuh tumor baik jinak maupun ganas.
Tumor ganas yang paling sering ditemukan di esofagus adalah karsinoma sel skuamosa.
Penyebab tumor esofagus tidak diketahui, namun faktor resiko yang diduga mempengaruhi
adalah faktor genetic dan iritasi asam yang kronik pada GERD. 1,2 Sekitar 15% kanker esofagus
terdapat pada 1/3 bagian atas, 50% terjadi pada 1/3 bagian tengah, 35% ditemukan pada 1/3
bagian bawah esofagus. Hampir 95% ca esofagus merupakan karsinoma yang berasal dari epitel
berlapis gepeng (squamous cell carcinoma) yang melapisi lumen esofagus.
Manifestasi Klinik
Pada stadium awal umumnya tidak ada keluhan. Keluhan muncul saat sudah terjadi metastasis.
Keluhan yang samar dan tidak progresif mengakibatkan diagnosis sering terlambat.2
Gejala dari ca esofagus:
1. Disfagia terutama saat menelan makanan cair akan lebih sulit
2. Penurunan berat badan
3. Odinofagia(nyeri menelan)
1. Simadibrata M. Penatalaksanaan dan pendekatan tumor jinak dan ganas (kanker)
esofagus. Dalam: Dalam: Rani AA, Simadibrata M, Syam AF. Buku Ajar
Gastroenterologi. Interna Publishing. Jakarta: 2011.h.256-72.
2. Zwischenberger JB, Savage C, Bhutani MS. Esophagus. Dalam: Townsend CM,

Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL. Sabiston Textbook of Surgery. Volum 1. Edisi
17. Saunders. Philadhelpia:2004.h.1100-1