Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH KOMBINASI TEPUNG IKAN RUCAH DAN PAKAN BUATAN

DENGAN PERSENTASE YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN


BENIH IKAN PATIN (Pangasius pangasius)
Oleh :
Rio Mardiansyah*Komariyah**M Bahrus Syakirin**
*) Mahasiswa Fakultas Perikanan
**) Dosen Fakultas Perikanan
Abstrak
Ikan patin (Pangasius pangasius) merupakan salah satu jenis ikan dari kelompok catfish yang mudah
dibudidayakan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi serta memiliki rasa daging yang khas. Jumlah
permintaan dengan jumlah produksi ikan patin yang masih kurang seimbang merupakan salah satu hal yang
menjadi peluang bagi petani pembudidaya ikan patin. Ketersediaan pakan maupun pemberian pakan buatan
(pelet) dalam budidaya ikan patin secara intensif mutlak harus diberikan. Untuk itu diperlukan jenis pakan
alternatif yang mampu menunjang pertumbuhan benih ikan patin. Metode penelitian yang digunakan dengan
skala laboratoris dengan rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut meliputi : Perlakuan A : Tepung ikan rucah (limbah
fillet ikan swangi) 0% + pakan buatan (pellet) 100%, Perlakuan B : 25% + 75%, Perlakuan C : 50% + 50%,
Perlakuan D : 75% + 25%, dan Perlakuan E : 100% + 0%. Hasil penelitian menunjukan rerata pertambahan
bobot biomasa mutlak benih ikan patin (Pangasius pangasius) diperoleh pada perlakuan A, B, C, D dan E
berturut-turut 10,4, 8,3, 6,5, 3,8 dan 2,8 g. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian kombinasi
tepung ikan rucah (limbah fillet ikan swangi) dan pakan buatan (pelet) dengan persentase yang berbeda
memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap pertumbuhan benih ikan patin (Pangasius
pangasius). Kualitas air media selama penelitian masih berada pada kisaran yang layak untuk media hidup
benih ikan patin yaitu suhu 28 - 29 C, pH 7 dan DO 3 4 ppm.
Kata kunci : ikan patin, pertumbuhan, pakan buatan, tepung ikan rucah

Abstrak
Patin fish (Pangasius pangasius) is one type of group catfish are easily cultivated and has a high economic
value and has a distinctive flavor of the meat. Total requests to the number of catfish production is still less
balanced is one thing that is an opportunity for farmers catfish . The availability of food and artificial feeding
(pellets) in the intensive farming of catfish absolutely must be given. For that, we need an alternative feed
types capable of supporting the growth of catfish seed. The method used by the laboratory scale experimental
design used is a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications. Treatment
includes: Treatment A: Flour rucah fish (fish fillet swangi waste) 0% + artificial feed (pellets) 100%, Treatment
B: 25% + 75%, Treatment C: 50% + 50%, Treatment D: 75% + 25%, and Treatment E: 100% + 0%. The
results showed a mean weight gain absolute biomass seed patin fish (Pangasius pangasius) obtained on
treatment A, B, C, D and E respectively 10.4, 8.3, 6.5, 3.8 and 2.8 g . Results of analysis of variance showed
that administration of a combination of rucah fish meal (fish fillet swangi waste) and artificial feed (pellets) with
different percentages provide highly significant effect on the growth of the seed patin fish (Pangasius
pangasius). Water quality media for research is still in the range of viable seed for live media catfish that
temperature 28-29 C, pH 7 and DO 3-4 ppm.
Keywords: Patin fish, growth, feed, rucah fish flour

PENDAHULUAN
Ikan patin (Pangasius pangasius)
merupakan salah satu jenis ikan dari
kelompok lele-lelean (catfish) yang mudah
dibudidayakan dan merupakan komoditas
unggulan ikan air tawar yang mempunyai
nilai ekonomis yang tinggi (Mahyuddin,
2010). Ikan patin merupakan salah satu
sumber protein hewani yang memiliki
kadar kolesterol yang relatif rendah dari
hewan ternak lainnya. Ikan patin memiliki
rasa daging yang khas. Dari analisi
kandungan gizi, nilai protein danging ikan
patin cukup tinggi dan kolesterol yang
rendah yaitu protein 68,6%; lemak 5,8%;
abu 3,5%; dan air 59,3% (Khairuman dan
Sudenda, 2009).
Jumlah permintaan dengan jumlah
produksi ikan patin yang masih kurang
seimbang merupakan salah satu hal yang
menjadi peluang bagi petani budidaya
ikan patin. Saat ini, jumlah produksi yang
ada masih lebih rendah dari pada jumlah
permintaan. Padahal dari sisi teknologi,
sudah
ditemukan
beberapa
teknik
budidaya ikan patin yang bisa dilakukan
secara intensif di berbagai media
pemeliharaan (Khairuman dan Sudenda,
2009).
Pembudidayaan ikan patin secara
intensif
perlu
dilakukan
untuk
meningkatkan jumlah produksi budidaya
ikan patin, sehingga mampu memenuhi
jumlah permintaan pasar yang terus
meningkat (Khairuman dan Sudenda,
2009). Sedangkan menurut Mahyuddin
(2010), pada budidaya ikan patin yang
dibudidayakan secara intensif, pakan
buatan (pelet) mutlak harus diberikan.
Pakan buatan pabrik atau pelet sangat
baik
untuk
perkembangan
dan
pertumbuhan yang optimal, karena
memiliki kualitas yang terjamin dengan
kandungan nutrisi yang lengkap.
Pakan merupakan faktor penting
yang sangat dibutuhkan dalam menunjang

pertumbuhan dan perkembangan ikan.


Pertumbuhan ikan akan optimal dengan
jumlah pakan dan mutu yang dibutuhkan
ikan tercukupi. Namun, yang menjadi
pertimbangan jika menggunakan pakan
buatan pabrik harganya relatif mahal
(Zonneveld, 1991). Handajani (2008),
mengatakan bahwa pakan memberikan
kontribusi total biaya produksi terbesar
dalam pembelian pakan yaitu 60% 70%
dari biaya operasional.
Efisiensi dalam pemanfaatan pakan
perlu dilakukan untuk menekan biaya
produksi dalam budidaya ikan serta
mencari pakan alternatif yang tersedia
dilingkungan yang harganya lebih murah
dan berkualitas serta mudah diperoleh
dan jumlahnya cukup berlimpah. Salah
satu yang bisa dimanfaatkan sebagai
pakan alternatif yang memiliki kandungan
gizi cukup tinggi adalah ikan rucah (limbah
fillet ikan swangi).

METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada 1
April 28 April 2014 di Laboratorium
Budidaya Perairan Fakultas Perikanan
Universitas Pekalongan. Sedangkan ikan
uji yang digunakan adalah benih ikan patin
(Pangasius pangasius) dengan ukuran
panjang rata-rata 3-4 cm. Benih ikan uji
diperoleh dari Balai Benih Ikan Sojomerto,
Kecamatan Reban Kabupaten Batang.
Padat penebaran 1 ekor/L dengan volume
air 10 liter per akuarium (25x25x40cm)
(Djarijah, 2001).
Penelitian
ini
menggunakan
rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5
perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang
diterapkan adalah Kombinasi Tepung Ikan
Rucah (Limbah Fillet Ikan Swangi) dan
Pakan Buatan (Pelet) dengan Persentase
yang Berbeda yaitu : Perlakuan A :
Tepung ikan rucah (limbah fillet ikan

swangi) 0% + pakan buatan (pellet) 100%,


Perlakuan B : 25% + 75%, Perlakuan C :
50% + 50%, Perlakuan D : 75% + 25%,
dan Perlakuan E : 100% + 0%.
Untuk mengetahui pertumbuhan
pertambahan bobot biomassa multlak
benih ikan patin (Pangasius pangasius),
maka dihitung dengan menggunakan
rumus Effendie (1997) yaitu:
B = Wt Wo
Keterangan :
B
: Pertambahan biomassa mutlak
ikan uji (gram)
Wt : Biomassa ikan uji pada akhir
percobaan (gram)
Wo : Biomassa ikan uji pada awal
percobaan (gram)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A : Tepung Ikan Rucah (limbah fillet


swangi) 0% + Pakan Pelet 100%.
B : Tepung Ikan Rucah (limbah fillet
swangi) 25% + Pakan Pelet 75%.
C : Tepung Ikan Rucah (limbah fillet
swangi) 50% + Pakan Pelet 50%.
D : Tepung Ikan Rucah (limbah fillet
swangi) 75% + Pakan Pelet 25%.
E : Tepung Ikan Rucah (limbah fillet
swangi) 100% + Pakan Pelet 0%.
1, 2 dan 3 : Ulangan

ikan
ikan
ikan
ikan
ikan

Berdasarkan tabel 1 bahwa rerata


pertambahan bobot biomassa multlak
benih ikan patin tertinggi diperoleh pada
perlakuan A sebesar 10,4 g, kemudian
diikuti dengan perlakuan B sebesar 8,3 g,
perlakuan C sebesar 6,5 g, perlakuan D
sebesar 3,8 g, dan perlakuan E sebesar
2,8 g. Histogram rerata pertambahan
bobot individu hewan uji disajikan pada
gambar 1.

Pertumbuhan
Data pertambahan bobot biomasa
awal dan akhir benih ikan patin selama
penelitian secara lengkap disajikan dalam
Tabel 1.
Tabel 1.Pertumbuhan Bobot Biomassa
Mutlak Benih Ikan Patin.
Perlakuan
Ulangan

Total
A

9,6

9,3

5,4

3,3

2,9

10,8 7,1

6,9

3,6

3,2

4,7

2,5

11

8,6

7,3

Jumlah

31,4

25

19,6 11,6 8,6

96,2

Rerata

10,4 8,3

6,5

6,41

Keterangan :

3,8

2,8

Gambar 1.Histogram Rerata Pertumbuhan


Bobot
Individu
Benih
ikan
patin
(Pangasius pangasius).
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa dari masing-masing perlakuan
secara
garis
besar
memberikan
perbedaan yang sangat nyata terhadap
rerata pertambahan bobot biomassa ikan
patin. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian kombinasi tepung ikan rucah
(limbah fillet) dan pakan buatan (Pelet)

dengan
persentase
yang
berbeda
mempengaruhi
tingkat
rerata
pertambahan bobot biomassa ikan patin
(Pangasius pangasius), karena jenis
pakan maupun persentase kombinasi
pakan yang berbeda memiliki kandungan
nutrisi yang berbeda pula. Menurut
Redjeki (2000) upaya peningkatan nilai
gizi pakan sangat menentukan tingkat
rerata pertambahan bobot biomassa ikan
patin dan pertumbuhannya.
Perlakuan A dengan pemberian
pakan buatan (pelet) 100%. Memberikan
rerata pertambahan bobot paling tinggi
dibandingkan dengan perlakuan yang
lainnya yaitu sebesar 10,4 g. Hal ini
diduga bahwa komposisi nutrisi yang
terdapat dalam pakan buatan (protein 3940%; lemak 5%; Abu 16%; Serat 6%; Air
11%) tersebut telah mencukupi kebutuhan
nutrisi pada benih ikan patin. Sehingga
energi yang diperoleh melalui pakan
buatan tersebut dapat digunakan untuk
kelangsungan hidup dan pertumbuhan
secara maksimal.
Perlakuan B, C dan D yang masing
- masing mengunakan kombinasi pakan
buatan (pelet) dengan kandungan protein
39 - 40%; lemak 5%; Abu 16%; Serat 6%;
Air 11% dan tepung ikan rucah (limbah
fillet) dengan kandungan protein 41%;
lemak 8%; Abu 30%; Serat 10%; Air 14%.
Menghasilkan rerata pertambahan bobot
biomassa mutlak pertumbuhan benih ikan
patin yaitu pada perlakuan B : 8,3 g,
perlakuan C : 6,5 g dan perlakuan D : 3,8
g. Semangkin menurunnya pertambahan
bobot biomassa mutlak benih ikan patin ini
diduga karena kandungan kadar abu dan
kadar serat kasar yang terkandung dalam
tepung ikan rucah (limbah fillet) terlalu
tinggi. Sehingga mempengaruhi daya
cerna dalam penyerapan nutrisi akibatnya
ikan patin tidak dapat bertumbuh dengan
baik. Menurut Setyono (2012), kandungan
abu dalam pakan berpengaruh pada daya

cerna ikan dan pertumbuhan ikan. Kadar


abu yang baik dalam pakan ikan
sebaiknya kurang dari 12%. Cho, et al
(1985) menyatakan serat kasar akan
berpengaruh terhadap nilai kecernaan
protein.
Serat
kasar
yang
tinggi
menyebabkan semakin berkurangnya
masukan protein yang dapat dicerna.
Perlakuan E dengan pemberian
pakan berupa tepung ikan rucah (limbah
fillet) 100% dengan kandungan protein
41%; lemak 8%; Abu 30%; Serat 10%; Air
14%. Memberikan rerata pertambahan
bobot biomassa benih ikan patin paling
rendah yaitu sebesar 2,8 g. Hal ini diduga
karena tinggginya kadar abu dan kadar
serat dalam tepung ikan rucah (limbah
fillet) yang mempengaruhi daya cerna
serta
peneyerapan
sari
makanan.
Sehingga nutrisi yang diserap dalam
pakan tidak optimal akibatnya energi yang
didapat
belum
mencukupi
untuk
kebutuhan benih ikan patin itu sendiri.
Menurut Lovell (1989) mengatakan bahwa
sebelum terjadi pertumbuhan, kebutuhan
energi untuk pemeliharaan tubuh harus
terpenuhi terlebih dahulu.
Kualitas Air
Hasil pengukuran kualitas air
selama penelitian masih dalam kisaran
yang layak untuk kehidupan benih ikan
patin yaitu Suhu 2829 0C, DO 34 ppm
dan pH 7. Keseragaman ini dikarenakan
dilakukannya penyiponan setiap hari
sebelum pemberian pakan di pagi hari.
Sehingga terjadinya penambahan air
media setiap harinya. Pada keadaan ini,
kualitas air masih bisa digunakan untuk
media hidup benih ikan patin sebab
menurut Khairuman dan Sudenda (2002),
bahwa nilai pH yang bisa digunakan untuk
hidup benih ikan patin berkisar 5-9. Rejeki
(2000) mengatakan suhu air merupakan
variabel kualitas air yang penting. Suhu air

yang cocok untuk budidaya ikan patin


bekisaran antara 280C 320C. Cahyono
(2001) mengatakan bahwa kandungan
oksigen terlarut yang cocok untuk
budidaya ikan patin adalah 4,5-6,9 ppm.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan, dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut :
1. Pemberian kombinasi pakan buatan
(pelet) dan tepung ikan rucah (limbah
fillet) memberikan pengaruh berbeda
sangat nyata terhadap pertumbuhan
benih
ikan
patin
(Pangasius
pangasius).
2. Perlakuan A (pelet 100%) memberikan
rerata pertumbuhan yang paling tinggi
sebesar 10,4 g. Pada Perlakuan B
dengan kombinasi antara tepung ikan
rucah (limbah fillet) 25% dan pakan
buatan (pelet) 75% memberikan
kombinasi pakan yang terbaik dengan
rerata pertumbuhan sebesar 8,3 g.
Sedangkan perlakuan E (tepung ikan
rucah 100%) memberikan rerata
pertumbuhan terendah yaitu 2,8 g.
3. Kualitas air media selama penelitian
masih berada pada kisaran yang layak
untuk media hidup benih ikan patin,
dengan kisaran suhu 28 - 29 C, pH 7
dan DO 3 4 ppm.

Daftar Pustaka
Cho, C.Y., C.B. Cowey, and R. Watanabe.
1985. Finfish Nutrition in Asia
:
Methodological
approaches
research Centre. Ottawa.
Cahyono, B. 2001. Budidaya Ikan di
Perairan Umum. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan.
Yayasan
Pustaka
Nusantara.
Yogyakarta.
Handajani, H. 2008. Pengujian Tepung
Azolla
Terfermentasi
Sebagai
Penyusun Pakan Ikan Terhadap
Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan
Nila
Gift.
Skripsi.
Jurusan
Perikanan Fakultas Peternakan
Perikanan.
Universitas
Muhamadiyah Malang. Malang.
Khairuman, dan Sudenda, D. 2002.
Budidaya Patin Secara Intensif.
Agro Media Pustaka. Jakarta.
Khairuman dan Sudenda, D. 2009.
Budidaya Patin Secara Intensif
Revisi.
Agromedia
Pustaka.
Jakarta.
Lovell, R. T. 1989. Nutrition and Feeding
of Fish. Van Nostrand Reinhold.
Auburn University, New York.
Mahyuddin, K. 2010. Panduan Lengkap
Agribisnis Patin. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan
simpulan
di
atas,
maka
peneliti
menyarankan pada pemeliharaan benih
ikan
patin
(Pangasius
pangasius)
menggunakan pakan buatan (pelet).