Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian
Resusitasi cairan adalah pemberian cairan adekwat dalam waktu relative cepat pada
penderita gawat akibat kekurangan cairan.Kekurangan cairan pada penderita gawat umumnya
perdarahan akibat kecelakaan atau kekurangan cairan karena sebab yang lain.Penderita masih
dapat bertahan hidup walaupun kehilangan fungsi 85 % hepar,75 % renal,55 % kapasitas
paru,dan 75 % butir darah merah,tetapi berakibat fatal bila penderita kehilangan cairan tubuh
sebanyak lebih dari sepertiga cairan tubuh.

B. Indikasi pemberian cairan


Pemberian cairan dimulai bila penderita mengalami hipovolemia. Hipovolemi dapat
dilihat dari tanda tanda klinis dan laboratoris.
Tanda klinis:mulut kering,haus,tensi rendah,nadi cepat,respirasi cepat,dingin,produksi urin
kurang dan kesadaran terganggu.
Tanda laboratories dapat dilihat dari tekanan vena sentral,cardiac output,oxygen consumption,pH
darah,mixed venous oxygen saturation dan serum laktat.

C. Jenis cairan
Ada tiga macam cairan yang perlu diberikan pada penderita mengalami kekurangan cairan
mendadak:1.kristaloid 2.koloid 3.whole blood.
1.Kristaloid.
Ada beberapa macam cairan kristaloid :a.NaCl isotonis. b.hartman`s ringer lactate.
c.ringer acetate
Pemberian NaCl isotonis harus hati hati pada penderita dengan gangguan fungsi
ginjal,karena

kalau

kebanyakan

NaCl

isotonis

akan

menyebabkan

asidosis

hiperkloremik.Ringer lactate merupakan cairan yang ideal,sebab komposisinya hampir sama


dengan cairan tubuh.
Ringer asetat dapat digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hepar,karena ringer
acetate dimetabolisir di otot dan jaringan lain.
Dalam keadaan darurat dimana perlu cairan banyak tidak dianjurkan menggunakan cairan
NaCl %,1/4 %,dan glukosa,karena dapat menyebabkan intoksikasi air.Kalau memberikan
infus NaCl isotonis,maka cairan tersebut akan masuk intravaskuler,selanjutnya menuju ke
interstitial.Cairan kristaloid akan didistribusikan ke seluruh ruang ekstrasel,sehingga

kristaloid merupakan indikasi dan sangat efektif mengisi ruang ekstrasel bila ruang tersebut
kehilangan cairan.
2.Koloid
Ada beberapa macam koloid,antara lain:albumin ,gelatine solution,dextrans
solutions,HES solution.
Koloid bila diberikan lewat infus akan mengisi seluruh ruang intravaskuler,dengan
demikian koloid sangat efektif pada penderita yang mengalami hipovolemik.
Dalam praktek sering digunakan koloid sintetik,karena reaksi anakpilaktoidnya sedikit.
Reaksi anapilaktoid yang paling besar adalah gelatin,kemudian disusul dextran dan
selanjutnya albumin dan yang terakhir HES.
Indikasi koloid sintetik.
Absolute : hipovolomi karena perdarahan,kehilangan darah perioperatif.
Relatif
:hipovolemi akibat sepsis atau anestesi,luka bakar, teknik
penyimpanan
darah(penghemat penggunaan darah),priming

of the heart lung

machine.dan plasmaphersis
Keuntungan koloid sintetik.
Keuntungan penggunaan kolod sintetik :harga tidak mahal dan bebas dari
infeksi,mudah didapat dalam jumlah banyak,stabil dalam waktu lama,tekanan
osmotic koloid dan viskositas sama dengan plasma,dieliminasi lewat ginjal secara
lengkap,tidak lama disimpan dalam tubuh,efek volume dan durasi cukup,bebas dari
gangguan koagulasi,tidak toksik, alergi dan reaksi antigenik.
Efek koloid sintetik.
Setelah cairan koloid masuk intravena,tekanan onkotik naik menyebabkan
volume intravena bertambah,sehingga dapat menyebabkan hemodilusi dan juga
menaikkan venous flowback (preload).Hemodilusi mengakibatkan menurunnya
hematokrit dan menaikkan rheology.Akibat dari preload dapat menyebabkan
meningkatnya

cardiac

output,sedangkan

meningkatnya

perbaikan

rheology

menyebabkan menurunnya flow resistance dengan akibat naiknya cardiac output.


Menurunnya hematokrit dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi oksigen
arterial..Kenaikan rheology dapat menyebabkan menurunnya flow resistance,dengan
akibat meningkatnya DO2,dan meningkatnya cardiac output.Venous flowback
(preload ) yang naik juga dapat menaikkan cardiac out put.
Efek koloid pada fungsi ginjal:

Ada beberapa koloid antara lain,gelatine,dextrans dan HES yang berpengaruh


pada fungsi ginjal.

Gelatin
Tidak mempunyai efek negatif,bahkan menaikkan fungsi ginjal.
Dextran
Setelah pemberian dextrans 40, kemungkinan dapat terjadi renal
insufficiency. Di tubulus proksimalis konsentrasi dextran meningkat,
menyebabkan peningkatan viskositas urin yang laten, dan hal ini dapat
mengakibatkan

flow

resistance

bertambah

dan

menyebabkan

berhentinya filtrasi.
HES
Setelah pemberian HES kemungkinan masih dapat terjadi acute renal
failure. Kesemuanya dapat menurunkan glomerular filtration.Terjadi
konsentrasi

HES

di

tubulus

proksimal,dapat

menyebabkan

peningkatan viskositas urin secara menetap,menambah tahanan


aliran,dan menyebabkan berhentinya filtrasi.
Albumin
Efek albumin pada hasil akhir masih kontroversi dan butuh waktu menunggu
hasil penelitian prospektif,multi sentrik dan acak. Keuntungan penggunaan albumin
bila

dibanding

dengan

koloid

sintetik,adalah

bahwa

albumin

dosisnya

berkurang,mengurangi risiko coagulopathy,mengurangi risiko pruritus dari HES,dan


mengurangi risiko anaphylaxis (Groeneveld Crit Care 2000; 4 : S16-S20).
Menurut meta-analisis pro-albumin,pencatatan kejadian serius mulai tahun 1009 1997 dari 100 juta dosis albumin,terjadi 123 kejadian serius,tidak ada kematian akibat
pemberian albumin.Reaksi fatal akibat albumin sekitar 5,2 per 100 juta dosis.(Van
Hoegen.Crit Care Med 2001;29 :994-996 ,Groeneveld .Crit Care 2000;4 : S 16 S
20.).
Penggunaan

koloid

dan

kristaloid

mempunyai

beberapa

keuntungan

dan

kerugiannya,sehingga ada yang pro dan yang kontra pada penggunaan antara koloid
dan kristaloid.
3. Darah (Whole Blood.)
Ditunjang dengan data pemberian darah dapat meningkatkan kapasitas oxygen
transport dan oxygen delivery ke jaringan,tetapi tidak terbukti mengurangi risiko
infeksi,mempercepat penyembuhan infeksi dan meningkatkan general well being..Darah

merupakan bahan penyelamat nyawa namun dapat mengancam nyawa bila diberikan
secara salah. Whole blood merupakan campuran koloid,elektrolid,butir dan darah
merah.Keuntungan penggunaan darah:dapat mengisi ruang intravaskuler,merupakan
oxygen carrying capacity ,dan merupakan pengganti utama bila terjadi syok karena
perdarahan.
Whole

blood

sering

digunakan,tetapi

banyak

permasalahan

sehingga

penggunaannya harus secara tepat,perlu hati hati dan rasional.


Penyimpanan darah mengandung :1.acid citrate dextrose (ACD), atau 2.citrate phosphate
dextrose (CPD).merupakan antikoagulan yang sering dipakai.Citrate berperan sebagai
antikoagulan.
CPD lebih

baik

dari

ACD

karena

CPD

mengandung

fosfat

(buffer ),mempertahankan level ATP sel darah,penyimpanan memanjang,level 2.3 di


phospho glycerate (2.3 DPG )lebih banyak, pH lebih tinggi, kalium lebih rendah. CPD
sering ditambah adenine ( CPD-A ). Darah simpan dapat menyebabkan penurunan 2.3
DPG secara progresif,tetapi penurunannya reversible,kurva disosiasi oksihemoglobin
bergeser kekiri,dan darah simpan yang dingin dapat menyebabkan hipoksi jaringan.
Cara untuk mengurangi risiko hipoksi jaringan akibat pemberian transfusi dingin
yaitu

dengan:menghangatkan

darah,jangan

memberi

natrium

bikarbonat

berlebihan,gunakan darah simpan CPD dan gunakan darah simpan kurang dari 7
hari.Jangan memberikan natrium bikarbonat secara rutin , perlu pemeriksaan analisa gas
darah. Pemberian transfusi dapat menimbulkan risiko,sehingga perlu hati hati karena
dapat menyebabkan:
1.infeksi
2.incompatible blood transfusion.
3.lung injury akibat transfuse masif,
4.alergi
5.alloimunisasi
6.hipotensi akibat terlepasnya bradikinin
7.renal failure akibat hemolisis dan free haemoglobin load
D. Kelebihan koloid dan kristaloid
1. Pro koloid :
a. Koloid diperlukan untuk ekspansi ruang intrvaskuler
b. Koloid mempertahankan TOK (tekanan onkotik) dan meminimalkan akumulasi
cairan interstisial
c. Kristaloid menurunkan TOK ,sehingga memudahkan terjadi edema paru.

d. Penurunan TOK ,dapat menyebabkan laju mortalitas meninggi.


e. Pemberian koloid menyebabkan perbaikan hemodinamik,tanpa ada bukti
meningkatnya air paru atau terperangkapnya albumin.
f. Pemberian kristaloid menyebabkan pertukaran gas di paru lebih buruk,terjadi
penurunan VO2 ,sedangkan perbaikan hemodinamik sedang-sedang saja. .
g. Koloid menyebabkan perbaikan nyata pada semua variable hemodinamik dan
DO2.
h. Kristalloid hanya sedikit perbaikan pada hemodinamik.
i. Dengan kritaloid ruang interstitial sangat membesar dan tidak ada mekanisme
kompensasi untuk mobilisasi dan ekskresi cairan.
j. Pemberian koloid selama pembedahan berhubungan dengan perbaikan profil
penyembuhan dan kenyamanan pasien lebih baik,dibanding dengan pemberian
kristaloid.Perbedaan ini mengakibatkan memperpendek masa rawat inap,sehingga
biaya lebih ringan.
2. Pro kristaloid :
a. Koloid harga lebih mahal,sehingga biaya mahal,dan risiko reaksi anafilaktoid
dapat terjadi.
b. Koloid keluar

ke

interstisium

dan

dapat

terperangkap,sehingga

dapat

menyebabkan edema.
Koloid lebih unggul bila dibanding dengan kristaloid pada waktu digunakan untuk
resusitasi cairan. Pemberian koloid pada variabel hemodinamik menunjukkan keadaan
lebih baik,tanpa ada bukti meningkatnya air paru atau terperangkapnya
albumin.Sedangkan kelompok kristaloid,pertukaran gas lebih buruk,terjadi penurunan
VO2,dan perbaikan hemodinamik sedang saja. Resusitasi cairan pada penderita syok
menunjukkan bahwa koloid sendiri mungkin lebih superior dari kristaloid (volume
plasma,cardiac
output,kinerja
ventrikel
kiri,penyediaan
O2
global
dan
mikrosirkulasi ).Kristaloid berpengaruh tidak baik pada mikrosirkulasi DO2 dan VO2
(sesudah resusitasi ,hipoksi regional dan global,masih terus berlanjut). Pada penderita
kritis mekanisme kompensasi terhadap kelebihan cairan sangat berkurang,terjadi edema
interstitial,sehingga mengalami gagal organ.Untuk penanganan hipovolemi,koloid lebih
baik dibanding dengan kristaloid.
Efek terhadap Volume Intravaskuler
Antara ruang intravaskuler dan interststial dibatasi oleh dinding kapiler yang
permiabel terhadap air dan elektrolit tetapi impermeabel terhadap makro (protein
plasma). Cairan dapat melewati dinding kapiler akibat adanya tekanan hidrostatik. Bila

tekanan onkotik menurun maka tekanan hidrostatik lebih besar, sehingga akan
mendorong cairan dari intervaskuler ke interstisial.
Efek kristaloid terhadap volume intravaskuler jauh lebih singkat dibanding koloid.
Ini karena kristaloid dengan mudah didistribusi ke cairan ekstraseluler, hanya sekitar 20%
elektrolit yang diberikan akan tinggal di ruang intravaskuler. Waktu paruh intravaskuler
yang lama sering dianggap sebagai sifat koloid yang menguntungkan. Hal ini akan
merugikan jika terjadi hemodilusi yang berlebihan atau terjadi hipovolemia yang tidak
sengaja, khususnya pada pasien penyakit jantung.
Kristaloid akan menyebabkan terjadinya hipovolemia pasca resusitasi. Resusitasi
dengan kristaloid dan koloid sampai saat ini masih kontroversi. Untuk menentukan
apakah diberikan kristaloid, harus dilihat kasus per kasus.
Efek terhadap Volume Interstitial
Pasca syok hemoragik akan terjadi perubahan cairan interstitial. Pada syok terjadi
defisit cairan interstitial, pendapat lain yang menyatakan volume cairan interstitial
meningkat pasca syok hemoragik. Kedua pendapat yang bertentangan ini mungkin bias
diterima, karena pada syok hemoragik dini dapat terjadi defisit cairan interstitial
sedangkan pada syok hemoragik lanjut atau syok septik akan terjadi perubhan
permeabilitas kapiler sehingga volume cairan interstitial meningkat. Pada keadaan
volume cairan interstitial berkurang maka kristaloid lebih efektif untuk mengantikan
defisit volume dibanding koloid.
Distribusi koloid berbeda antara volume intravaskuler dan interstitial. Jika volume
cairan interstitial bertambah, maka garam hipertonik atau albumin 25% akan lebih
efektif, karena cairan interstitial akan berpindah ke ruang intravaskuler. Pada pemberian
koloid dapat terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperto gangguan hemostasis
yang berhubungan dengan dosis. Pada umumnya pemberian koloid maksimal adalah 33
ml/kg BB.
E. Pemilihan cairan
Di lapangan dapat terjadi berbagai macam kemungkinan,misalnya persediaan salah
satu cairan tidak ada atau kurang dan perlu penanganan kasus per kasus. Pemilihan cairan
pengganti dapat bervariasi
1. Kristaloid.
Kristaloid bila diberikan lewat infus akan mengisi ruang intra vaskuler dan
interstiel(ruang ekstra sel),sehinga bila penderita kehilangan cairan 1000 ml,perlu
penggantian kristaloid sebanyak 3-4 x jumlah cairan yang hilang (jadi kira-kira 3000 ml.)

2. Koloid .
Koloid bila diberikan lewat infus akan mengisi ruang intra vaskuler,sehingga bila
penderita kehilangan cairan 1000 ml,cukup dengan penggantian 1000 ml koloid.
3. Campuran koloid dan kristaloid.
Bila penderita kehilangan cairan 1500 ml,maka yang 1000 ml dapat diganti
dengan 1000 ml koloid,sedang sisa yang 500 ml diganti kristaloid sebanyak 3x 500
ml=1500 ml.
4. Darah.
Hanya diberikan bila ada indikasi perubahan fisiologik jelas.

Leksana E. Terapi cairan dan elektrolit. Smf/bagian anestesi dan terapi intensif FK Undip:
Semarang; 2004: 1-60.