Anda di halaman 1dari 6

23

DIARE

PENDAHULUAN
Penyakit diare masih menjadi salh satu masalah kesehatan masyarakat yang
penting karena merupakan penyumbang pertam ketiga angka kesakitan dan
kematian anak di berbagai Negara termasuk Indonesia. Diperkirakan lebih dari 1,3
miliar serangan dan 3,2 juta kematian pertahun pada balita di sebabkan oleh diare.
Setiap anak mengalami episode serangan diare rata-rata 3,3 kali setiap tahun. Lbih
kurang 80% kematian terjadi pada anak berusia kurang dari dua tahun.
Penyebab utama kematian akibat diare adalah dehidrasi akibat kehilangan
cairan dan elektrolit melalui tinja. Penyebab kematian lainnya adalah disentri,
kurang gizi, dan infeksi. Golongan umur yang paling menderita akibat diare adalah
anak-anak karena daya tahan tubuhnya yang masih lemah. Data survey kesehatan
rumah tangga (SKRT) menunjukan angka kematian diare pada anak balita adalah
6,6% per tahun pada tahun 1980, kemudian3,7% (tahun 1985), 2,1% (1992), dsn
1,0 (tahun 1995).
Diare merupakan penyebab kurang gizi yang penting terutama pada anak. Diare
menyebabkan anoreksia (kurangnya nafsu makan) sehingga mengurangi asupan
gizi, dan diare dapat mengurangi daya serap usus terhadap sari makanan. Dalam
keadaan infeksi, kebutuhan sari makanan pada anak yang mengalami diare akan
meningkat, sehingga setiap serangan diare akan menyebabkan kkurangan gizi. Jika
hal ini berlangsung terus-menerus akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan
anak.
Diare dipengaruhi oleh berbagai factor, antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Keadaan lingkungan
Perilaku masyarakat
Pelayanan masyarakat
Gizi
Kependudukan
Pendidikan
Keadaan sosial ekonomi

Penyakit diare dapat di tanggulangi dengan penanganan yang tepat sehingga tidak
sampai menimbulkan kematian terutama balita.

DEFINISI
Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. WHO pada tahun
1984 mendefinisikan diare sebagai berak cair tiga kali atau lebih dalam sehari
nsemalam (24 jam). Para ibu mungkin mempunyai istilah sendiri seperti lembek,
cair, berdarah, berlendir, atau dengan muntah (muntaber). Penting untuk
menanyakan kepada orangtua mengenai frekuensi dan konsistensi tinja anak yang
dianggap sudah tidak normal lagi.
Diare dibedakan menjadi dua berdasarkan waktu serangan (onset) yaitu:
1. Diare akut (<2 minggu)
2. Diare kronik (>2 minggu)
EPIDEMIOLOGI
Sekitar lima juta anak di seluruh dunia meninggal karena diare akut. Di
Indonesia pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi penyakit diare sekitar sekitar
200-400 per 1000 penduduk per tahun. Dari angka prevalensi tersebut, 70-80%
menyerang anak di bawah usia lima tahun (balita). Golongan umur ini mengalami 23 episode diare per tahun. Diperkirakan kematian anak akibat diare sekitar 200-250
ribu setiap tahunnya.
Angka CFR menurun dari tahun ke tahun, pada tahun 1975 CFR sebesar 4050%, tahun 1980-an CFR sebesar 24%. Berdasarkan hasil surveu kesehatan rumah
tangga (SKRT), tahun 1986 CFR sebesar 15%, tahun 1990 CFR sebesar 12% dan
diharafkan pada tahun 1999 akan menurun menjadi 9%.
Di Indonesia, laporan yang masuk ke departemen kesehatan menunjukkan
bahwa setiap anak mengalami serangan diare sebanyak 1,6-2 kali setahun. Angka
kesakitan dan kematian akibat diare mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
ETIOLOGI
Penyebab diare dapat dikelompokkan menjadi
1. Virus: rotavirus (40-60), adenovirus
2. Bakteri: Eschericia coli (20-30%), shigella sp. (1-2%), vibrio cholera, dan lainlain.
3. Parasit: entamoeba histolicita (<1%), giardila lamblia, cryptosporidium (411%). Contoh penularan giardia lamblia dapat dilihat pada gambar 23.1.
4. Keracunan makanan
5. Malabssorpsi: krbohidrat, lemak, dan protein.
6. Alergi: makanan, susu sapi.

7. Imunodefisiensi: AIDS

PENULARAN
Penyakit diare sebagain besar (75). Disebabkan oleh kuman seperti virus dan
bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan mekanisme
berikut ini.
1. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi bila
seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik tercemar
selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar pada saat
disimpan di rumah. Pencemaran dirumah terjadi bila tempat penyimpanan
tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat
mengambil air tempat penyimpanan.
2. Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau
bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang
kemudian binatang tersebut hinggap di makanan, maka makanan itu dapat
menularkan diare ke orang yang memakannya.
3. Factor-faktor yang mengakibatkan risiko diare adalah:
a. Pada usia 4 bulan bayisudah diberi ASI ekslusif lagi. (ASI ekslusif
adalah pemberian ASI saja sewaktu bayi berusia 0-4 bulan) hal ini akan
meningkatkan risiko kesakitan dan kematian karea diare, karena ASI
banyak mengandung zat-zat kekebalan terhadap infeksi.
b. Memberikan susu formula dala botol pada bayi. Pemakaian botol akan
meningkatkan risiko pencemaran kuman, dan susu akan
terkontaminasi oleh kuman dari botol. Kuman akan cepat berkembang
bila susu tidak segera diminum.
c. Menyimoan makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut akan
menyebabkan permukaan makanan mengalami kontak dengan
peralatan makan yang merupakan media yang sangat baik bagi
perkembangan mikroba.
d. Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makn, atau sesudah buang
air besar (BAB) akan memungkinkan kontaminasi langsung.
GEJALA DAN TANDA
Beberapa gejala dan tanda diare antara lain:
1. Gejala umum
a. Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare
b. Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut
c. Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare.
d. Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun, apatis.
2. Gejala spesifik

a. Vibrio cholera: diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan
berbau amis.
b. Disenteriform: tinja berlendir dan berdarah.

Diare yang berkepanjangan dapat menyebabkan:


1.

2.

3.

4.

5.

Dehidrasi (kekurangan cairan)


Tergantung dari presentase cairan tubuh yang hilang, dehidrasi dapat terjadi
ringan, sedang, atau berat.
Gangguan sirkulasi
Pada diare akut, kehilangan cairan dapatterjadi dalam waktu yang singkat.
Bila kehilangan cairan ini lebih dari 10% berat badan, pasien dapat
mengalami syok atau presyok yang di sebabkan oleh berkurangnya volume
darah (hipovolemia)
Gangguan asam-basa (asidosis)
Hal ini terjadi akibat kehilangan cairan elektrolit (bikarbonat) dari dalam
tubuh. Sebagai kompensasinya tubuh akan bernapas cepat untuk membantu
meningkatkan pH arteri.
Hipoglikemia (kadar gula darah rendah)
Hipoglikemia sering terjadi pada anak yang sebelumnya mengalami
malnutrisi (kurang gizi). Hipoglikemia dapat mengakibatkan koma. Penyebab
yang pasti belum diketahui, kemungkinan karena cairan ekstraseluler menjadi
hipotonik dan air masuk ke dalam cairan intraseluler sehingga terjadi edema
otak yang mengakibatkan.
Gangguan gizi
Gangguan ini terjadi karena asupan makanan yang kurang dan output yang
berlebihan. Hal ini akan bertambah berat bila pemberian makanan
dihentikan, serta sebelumnya penderita sudah mengalami kekurangan gizi
(malnutrisi).

Derajat dehidrasi akibat diare dibedakan menjadi tiga, yaitu :


1. Tanpa dehidrasi, biasanya anak meras normal, tidak rewel, masih bisa
bermain seperti biasa, umumnya karena diarenya tidak berat, anak masih
mau makan dan minum seperti biasa.
2. Dehidrasi ringan atau sedang, menyebabkan anak rewel atau gelisah,
mata sedikit cekung, turgor kulit masih kembali dengan cepat jika di cubit.
3. Dehidrasi berat, anak apatis (kesadaran berkabut), mata cekung, pada
cubitan kulit turgor kembali lambat, napas cepat, anak terlihat lemah.
PENGOBATAN
Pengobatan diare berdasarkan derajat dehidrasinya.

1. Tanpa dehidrasi, dengan terapi A


Pada keadaan ini, buang air besar terjadi 3-4 kali sehari atau disebut mulai
mencret. Anak yang mengalami kondisi ini masih lincah dan masih mau
makan dan minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan di rumah oleh
ibu atau anggota keluarga lainnya dengan memberikan makanan dan
minuman yang ada di rumah seperti air kelapa, larutan gula garam (LGG), air
taji, air the, maupun oralit. Istilah pengobatan ini adalah dengan
menggunakan terapi A.
Ada tiga cara pemberian cairan yang dapat dilakukan di rumah.
a. Memberikan anak lebih banyak cairan.
b. Memberikan makanan terus-menerus.
c. Membawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam tiga
hari
2. Dehidrasi ringan atau sedang, dengan terapi B
Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai 5%
dari berat badan, sedagkan pada diare sedang terjadi kehilangan cairan 6105 dari berat badan. Untuk mengobati penyakit diare pada derajat ringan
atau sedang digunakan terapi B, yaitu sebagai berikut:
Pada tiga jam pertama jumlah oralit yang digunakan:
umur
<1 tahun
Jumlah oralit
300 mL
Setelah itu, ditambahkan setiap kali mencret:
umur
Jumlah oralit

<1 tahun
100 mL

1-4 tahun
600 mL
1-4 tahun
200 mL

>5 tahun
1200 mL
>5 tahun
400 mL

3. Dehidrasi berat, dengan terapi C


Diare dengan dihidrasi berat ditandai dengan mencret terus-menerus,
biasanya lebih dari 10 kali di sertai muntah, kehilangan ciaran lebih dari 10%
berat badan. Diare ini diatasi dengan terapi C, yaitu perawatan di puskesmas
atau rumah sakit untuk di infuse RL (ringer laknat).
4. Teruskan pemberian makan, pemeberian makanan seperti semula di berikan
sedini mungkin dan di sesuaikan dengan kebutuhan. Makanan tambahan
diperlukan pada masa penyembuhan untuk bayi,m ASi tetap di berikan bila
sebelumnya mendapatkan ASI, namun bila sebelumnya tidak mendapatkan
ASI dapat diteruskan dengan memberikan susu formula.
5. Antibiotik bila perlu
Sebagian besar penyebab diare adalah rotavirus yang tidak memerlukan
antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaat dan
efek sampingnya bahkan merugikan penderita.
PENCEGAHAN
penyakit diare dapat dicegah melalui promosi kesehatan, antar lain:

1. Menggunakan air bersih, tanda-tanda air bersih adalah 3 tidak, yaitu


tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa
2. Memasak air sampau mendidih sebelum diminum untuk mematikan
sebagian besar kuman penyakit.
3. Mencuci tangan dengan sabun pada waktu sebelum makan, sesudah
makan, dan sesudah buang air besar (BAB).
4. Memberikan ASI pada anak sampai berusia dua tahun.
5. Menggunakan jamban yang sehat.
6. Membuang tinja bayi dan anak dengan benar.