Anda di halaman 1dari 4
SUPLEMENTASI PROBIOTIK PADA BUDIDAYA IKAN Oleh: Dr. Endang Widyastuti, M.S. PENDAHULUAN Probiotik merupakan pakan tambahan yang berisi bakteri viaber (hidup) dan bersifat tidak pathogen. Menurut Fuller (1987 dalam Irianto, 2003) probiotik adalah produk yang tersusun oleh mikroba atau pakan alami mikroskopis yang bersifat menguntungkan dan memberikan dampak bagi peningkatan keseimbangan mikroba saluran usus hewan inangnya. Probiotik dalam akuakultur berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan, meningkatkan sistem imun dengan perubahan komunitas bakteri intestinalnya, Menurut Syofan et al. (2003) mengkonsumsi probiotik secara teratur dapat meningkatkan kesehatan karena bakteri probiotik dapat hidup dalam usus sehingga flora normal dalam usus menjadi seimbang PENGERTIAN PROBIOTIK ‘Arti kata probiotik mengandung arti “pro” dan “bios” berasal dari bahasa ‘Yunani. Selanjutnya secara luas digunakan definisi menurut Fuller (Gismondo, et al. dalam Yousefian and Amiri, 2009), yaitu suplementasi sel mikroba hidup pada pakan yang menguntungkan inangnya dengan memperbaiki keseimbangan dalam intestinainya. Dalam Irianto (2003) dinyatakan bahwa probiotik selain untuk perbaikan pakan, dimaksudkan juga untuk perbaikan lingkungan hidupnya, Yousefian and Amiri ( 2009) menyatakan bahwa probiotik dalam akuakultur berperan dalam meningkatkan Iaju pertumbuhan, meningkatkan sistem imun dengan perubahan komunitas bakteri intestinalnya. Penggunaan probiotik pada akuakultur adalah antisipasi sebagai strategi yang paling baik untuk pencegahan dari infeksi mikrobia dan untuk mengganti antibiotik dan khemoterapi. Keuntungan dan keamanan yang didapatkan dari industri di luar akuakultur tentang bakteri asam laktat, telah mempercepat diterimanya probiotik dalam bidang akuakultur, (Zizhong Qi et al., 2009). Denev ef al. (2009) menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat budidaya perikanan telah menyokong kebutuhan sektor produksi pangan sehingga membutubkan intensifikasi dan diversifikasi budidaya perikanan. Hagi and Hoshimo (2009) menyatakan bahwa akuakultur dikembangkan sebagai upaya untuk meningkatkan keberlanjutan kebutuhan ikan tangkapan, tetapi seringkali dikutur dengan kepadatan tinggi untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, hingga kematian ikan cenderung mudah terjadi dan menyebar dengan cepat. Metode untuk mencegah infeksi penyakit mikrobial digunakan vaksinasi, pemberian antibiotik ataupun khemoterapi. Meskipun antibiotik dan kemoterapi adalah efektif sebagai proteksi melawan penyakit ikan, namun diharapkan untuk meminimasi disebabkan residu dari antibiotik dan kemoterapi serta resistensi mikroorganisme antibiotik. Penggunaan probiotik pada akuakultur adalah antisipasi sebagai strategi yang paling baik untuk pencegahan dari infeksi mikrobia dan untuk ‘mengganti antibiotik dan khemoterapi. Organisme yang umum dipersiapakan dalam probiotik adalah bakteri asam laktat, dan bakteri tersebut dijumpai di sebagian besar lambung hewan yang sehat. Keuntungan dan keamanan yang didapatkan dari industri di luar akuakultur tentang bakteri asam laktat, telah mempercepat diterimanya probiotik dalam bidang akuakultur. (Zizhong Qi et al., 2009). PROBIOTIK MIKROBA EFEKTIF POSITIF (MEP*) Suatu probiotik yang pernah dicobakan dalam budidaya ikan adalah probiotik MEP". Probiotik mikroba efektif produktif yang positif (MEP*) adalah merupakan produk kultur campur spesies indigenous mikroba non patogen efektif terpilih dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Biologi Unsoed (Sukanto dan Sutardi, 2008). Di dalam probiotik MEP" terdapat beberapa mikroba yang terbukti menghasilkan enzim yang dapat membantu metabolisme pakan seperti amilase, selulase dan protease yang lebih banyak dihasilkan dibandingkan dengan enzim lainnya. Berbagai penelitian dalam skala laboratorium dan di lapangan telah dilakukan terhadap aktivitas dari probiotik ini, Berdasarkan aplikasi probiotik MEP* pada ayam broiler didapatkan ayam yang diberi probiotik tersebut sehat, tidak mudah stres, cita rasa daging yang menyerupai ayam kampung, hati dan usus lebih besar, serta bobot aym yang lebih berat dibandingkan ayam yang tidak diberi probiotik MEP* (Sukanto dan Sutardi, 2008). Percobaan pakan fermentasi yang murah dengan probiotik MEP* telah dilakukan di Waduk Wadaslintang. Didapatkan pakan fermentasi dari bahan baku limbah dengan penambahan probiotik MEP", dapat memberikan pertumbuhan bobot, konversi pakan dan efisiensi pakan yang baik (Widyastuti, dkk. 2009). Percobaan pakan fermentasi dengan probiotik di Waduk PB Soedirman didapatkan efisiensi pakan sebesar 0,16 (Widyastuti, dkic. 2010). Hal ini menggambarkan bahwa dalam pemberian satu ton pakan ikan fermentasi dapat menghemat 116 kg pakan dibandingkan menggunakan pakan komersial. Beberapa syarat probiotik yan baik diantaranya adalah dapat diproduksi dalam skala industri, jika disimpan dalam subu ruang dalam jangka waktu yang lama akan stabil, dapat hidup kembali di saluran pencernaan dan memberikan manfaat bagi hewan yang diberi probiotik. Viabilitas bakteri probiotik penyusun MEP* telah dilakukan. Hasil pengukuran mulai setelah diproduksi, dua bulan kemudian, empat bulan dan enam bulan kemudian temyata viabilitas atau kehidupan bakteri probiotik MEP+ tidak mengalami penurunn yang dratis, cenderung stabil yaitu jumlahnya masih sekitar 10'* cfu/ml. Demikian pula aktivitas dari enzim amilase, selulase dan Protease juga cenderung stabil setelah dilakukan penyimpanan enam_ bulan. Viabilitas bakteri probiotik MEP+ selama penyimpanan didukung oleh jenis bakteri, morfologi koloni ataupun morfologi sel yang masih tetap. PENUTUP Penggunaan probiotik sebagai suplemen dalam budidaya ikan, merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk lebih meningkatkan kualitas pakan. Probiotik yang berisi mikroba pengurai bila ditambahkan ke dalam pakan, dapat membantu roses peningkatkan kecernaan pakan dengan proses penguraian yang dilakukan oleh mikroba tersebut. Aktivitas bakterisidal melawan patogen ikan juga merupakan salah satu faktor yang menentukan atau paling penting pada penggunaan probiotik DAFTAR PUSTAKA Denev, S., Y. Staykov.,, R. Moutafchieva and G. Beev. 2009.Microbial ecology of the gastrointestinal tract of fish and the potential application of probiotics and prebiotics in finfish aquaculture. Jnt Aquat Res 1: 1-29 Hagi. T. and T. Hoshimo. 2009. Screening and characterization of potential probiotic lactic acid bacteria from cultured common carp intestine. Biosci. Biotechnol. Biochem. 73 (70, 1479-1483. Irianto, A. 2003. Probiotik Akuakultur, Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Sukanto dan T.R.Sutardi. 2008. Pengembangan Budidaya Ayam Broiler Secara Nonkonvensional Mclalui Pemberian Probiotik MEP+. Jurnal Pengemb. Penerapan Teknol VI (1):397-409 Widyastuti, E., Sukanto, $.Rukayah. 2009. Biomonitoring dan Strategi Pelestarian Waduk Dengan Penggunaan Pakan Ramah Lingkungan Pada Budidaya Keramba Jaring Apung. Fakultas Biologi Unsoed. Purwokerto + Sukanto, SRukayah. 2010. Upaya Pelestarian Waduk Dengan Budidaya Keramba Jaring Apung Ramah Lingkungan. Seminar Nasiolnal Limnologi V. Di Bogor. Puslit Limnologi-LIPI. 28 Juli 2010 Yousefian, M. & M. S. Amiri, 2009. A Review of the Use of Prebiotic in Aquaculture for Fish and Shrimp. African Journal of Biotechnology Vol. 8 (25), pp. 7313- 7318. Zizhong, Q., Z. Xiao-Hua, N. Boon and P. Bossier. 2009, Probiotics in Aquaculture of China — Current State, Problems and Prospect. Aquaculture 290 : 15-21