Anda di halaman 1dari 18

Laporan Studi Kasus ISPA pada Family Folder

Welly Surya
Mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11470
Email: welly.fk2013@civitas.ukrida.ac.id
Pendahuluan
Pusat kesehatan masyrakat (puskesmas) adalah suatu kesatuan organisasi kesatuan fungsional
yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta
masyarakat di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.1
Puskesmas juga dapat didefinisikan sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja. Dengan kata lain, puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas
pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.1
Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada paling dekat ditengah
tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan dengan unit pelayanan kesehatan lainya
(Rumah Sakit Swasta maupun Negeri). Fungsi puskesmas adalah mengembangkan pelayanan
kesehatan yang menyeluruh seiring dengan misinya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat
menyeluruh atau yang disebut dengan Comprehensive Health Care Service yang meliputi aspek
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Prioritas yang harus dikembangkan oleh puskesmas
harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan dasar (basic health care services) yang lebih
mengedepankan upaya promosi dan pencegahan (public health service). Fungsi puskesmas
menurut keputusan menteri kesehatan republik Indonesia No.128/MENKES/SK/II/2004, adalah
sebagai pusat penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan tingkat
pertama.1

Saluran pernapasan atas berfungsi menghangatkan, melembabkan, dan menyarng udara. Bersama
udara, masuk sebagai pathogen, yang dapat tertinggal di hidung, faring (tonsila), laring, atau
trakea, dan dapat berproliferasi, bila daya tahan tubuh tubuh menurun. Penyebaran infeksi (bila
terjadi) tergantung pada pertahanan tubuh pula, dan dari virulensi kuman yang bersangkutan.2
ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas yang benar ISPA merupakan
singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas
dan saluran pernapasan bagian bawah. Penyakit ISPA dibagi dalam 2 golongan yaitu pneumonia
dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia
berat dab pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rhinitis, faringitis, tonsillitis dan
penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia.2,3
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan
balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan
mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan di Puskesmas adalah
oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30 %.
Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari
2 bulan. Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian
seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering
disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi.2,3
ISPA
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah
dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang
salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan
tubuh anak masih rendah. Kejadian psenyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3
sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek
sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran
pernafasan dan akut, dimana pengertiannya sebagai berikut :3
1. Infeksi

Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang
biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernafasan
Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinussinus, rongga telinga tengah dan pleura.
3. Infeksi Akut
Adalah Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. batas 14 hari diambil untuk
menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan
dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian
bawah (termasuk jaringan paru paru) dan organ adneksa saluran pernafasan, dengan batasan
ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). Sebagian besar dari
infeksi saluran pernafasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan
pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi
paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian. Program Pemberantasan
Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu :3
1. ISPA non pneumonia : dikenal masyarakat dengan istilah batuk pilek
2. ISPA pneumonia : apabila batuk pilek disertai gejala lain seperti kesukaran bernapas,
peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat).

Klasifikasi ISPA
Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak
menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan pneumonia mencakup
penyakit-penyakit ISPA lain di luar pneumonia seperti batuk pilek biasa (common cold),
pharyngitis, tonsillitis.3
Pola tatalaksana ISPA yang diterapkan dimaksudkan untuk tatalaksana penderita pneumonia
berat, pneumonia, dan batuk pilek biasa. Hal ini berarti penyakit yang penanggulangannya
dicakup oleh Program P2 ISPA adalah pneumonia berat, pneumonia, dan batuk pilek biasa,

sedangkan penyakit ISPA lain seperti pharyngitis, tonsillitis, dan otitis belum dicakup oleh
program ini. Menurut tingkatannya pneumonia di klasifikasikan sebagai berikut :3
1. Pneumonia berat
a. Ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest
indrawing).
b. Berdasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2
tahun sampai < 5 tahun.
c. Sementara untuk kelompok usia < 2 bulan, klasifikasi pneumonia berat ditandai
dengan adanya napas cepat (fast brething), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60
kali permenit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian
bawah kedalam (severe chest indrawing).
2. Pneumonia
a. Berdasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai adanya nafas
cepat sesuai umur.
b. Batas nafas cepat (fast brething) pada anak usia 2 bulan sampai < 1 tahun adalah 50
kali atau lebih permenit
c. Anak usia 1 sampai < 5 tahun adalah 40 kali atau lebih per menit.
3. Bukan Pneumonia
Mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala
peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian
bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan pneumonia mencakup penyakitpenyakit ISPA lain diluar pneumonia seperti batuk pilek biasa (common cold), phryngitis,
tonsilitas, otitis atau penyakit ISPA non pnumonia lainnya.

Faktor Risiko
Berbagai publikasi melaporkan tentang faktor resiko yang meningkatkan morbiditas dan
mortalitas pneumonia. Jika dibuat daftar faktor resiko tersebut adalah sebagai berikut :3,4
1. Faktor resiko yang meningkatkan insiden pneumonia
a. Umur < 2 bulan
b. Laki-laki
c. Gizi kurang

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Berat badan lahir rendah


Tidak mendapat ASI memadai
Polusi udara
Kepadatan tempat tinggal
Imunisasi yang tidak memadai
Membedong anak (menyelimuti berlebihan)
Defisiensi vitamin A
ISPA yang terjadi pada anak kecil terutama apabila anak tersebut mengalami gizi
kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. ISPA

tersebut dapat berlanjut menjadi pneumonia.


l. Risiko terutama meningkat pada anak-anak yang menderita infeksi silang, beban
imunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta
tidak terdedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.
2. Faktor resiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia
a. Umur < 2 bulan
b. Tingkat sosial ekonomi rendah
c. Gizi kurang
d. Berat badan lahir rendah
e. Tingkat pendidikan ibu yang rendah
f. Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah
g. Kepadatan tempat tinggal
h. Imunisasi yang tidak memadai
i. Menderita penyakit kronis
Secara umum terdapat 3 faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor
individu anak, serta faktor perilaku:4
1. Faktor lingkungan
a. Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan
konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan
memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan
ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur,
ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi
dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga dosis
pencemaran tentunya akan lebih tinggi. Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan
antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan resiko bronchitis,

pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi, dimana efek ini
terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6 10 tahun.
b. Ventilasi rumah
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan
baik secara alami maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan
sebagai berikut :
1. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang
optimum bagi pernapasan.
2. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat
pencemar lain dengan cara pengenceran udara.
3. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.
4. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.
5. Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi,
evaporasi ataupun keadaan eksternal.
6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.
c. Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor
829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang
minimal menempati luas rumah 8m. Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat
mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas.
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah
yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan
dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara,
tingkat sosial, dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini.
2. Faktor perilaku
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam
suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah
satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan
berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
Etiologi ISPA
Sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini disebabkan oleh virus dan tidak dibutuhkan
terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita, bila

ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat
antibiotik. 3
Cara Penularan ISPA
Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran mukosa bersilia, udara
yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Partikel debu yang
kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan partikel debu yang
halus akan terjerat dalam lapisan mukosa. Gerakan silia mendorong lapisan mukosa ke posterior
ke rongga hidung dan ke arah superior menuju faring.3
Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan
pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat
membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan pencemar. Produksi lendir akan
meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh
bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas
sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan,
hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.3
Menurut WHO, sekresi lendir atau gejala pilek terjadi juga pada penyakit common cold
disebabkan karena infeksi kelompok virus jenis rhinovirus dan atau coronavirus. Penyakit ini
dapat disertai demam pada anak selama beberapa jam sampai tiga hari. Sedangkan pencemaran
udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran nafas bagian atas. ISPA dapat
ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernafasan yang mengandung kuman yang
terhirup oleh orang sehat kesaluran pernafasannya.3
Pengobatan
1. Pneumonia berat
Dirawat di Rumah Sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan sebagainya.
2. Pneumonia
Diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila pasien tidak mungkin diberikan
kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kotrimoksasol keadaan penderita menetap,

dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin
prokain.
3. Bukan pneumonia
Tidak diberikan antibiotik. Diberikan perawatan dirumah, untuk batuk dapat digunakan
obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan
seperti kodein, dekstrometorfan dan antihistamin. Bila demam dapat diberikan oabat
penurun panas yaitu parasetamol.
4. Untuk penanganan dirumah dapat dilakukan :
a. Kompres air hangat, seka tubuh pasien agar panas badan dapat menguap.
b. Tidak boleh menggunakan selimut atau pakaian tebal dan badan tidak boleh
menggunakan minyak urut dan sebagainya agar panas badan dapat menguap.
c. Beri Asi, makanan dan minuman yang bergizi (makanan yang berlemak).
d. Dapat diberikan obat batuk tradisional : 1 gelas air hangat + 1 sendok madu + sedikit
lemon/jeruk nipis peras.
e. Rajin membersihkan hidung yang tersumbat.

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
a. Menjaga agar keadaan gizi tetap baik
b. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
c. Berhenti merokok atau hindari asap rokok
d. Nutrisi adekuat unuk meningkatkan daya tahan tubuh
e. Tingkatkan akivitas fisik/berolahraga teratur
f. Hindari stress karena dapat menurunkan daya tahan tubuh
g. Istirahat yang cukup.
Peran Dokter Puskesmas
1.

Care Provider Mampu menyediakan perawatan.


Dokter sebagai seorang yang mampu mengobati pasiennya yang merupakan bagian
integral dari keluarga dan masyarakat sekelilingnya dengan kualitas pelayanan
kesehatan yang memadai serta melakukan berbagai pencegahan khusus dalam jangka
waktu yang cukup lama. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain
menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut
penyakitnya serta penggunaan bahasa yang santun, mudah dimengerti dan dipahami

oleh pasien sesuai dengan umur, tingkat pendidikan. Selain itu, seorang dokter harus
mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi psikologis pasien.
Kewajiban yang harus ditangani yaitu pelayanan yang maksimal sesuai kondisi
pasien, menjawab segala pertanyaan pasien maupun keluarga, jujur atau memberi
2.

informasi apa adanya.5


Decision Maker Mampu menjadi penentu keputusan.
Dalam hal ini dokter dituntut untuk mampu memilih teknologi tepat guna untuk
digunakan dalam mempertinggi pelayanan kesehatan yang layak dan berbiaya
terjangkau, dengan kata lain dokter adalah pengambil keputusan, menentukan
teknologi mana yang akan dipakainya dalam pengobatan pasien dengan
memperhatikan cost-effectiveness. Dalam melakukan prosedur klinis, seorang dokter
dalam hubungannya sebagai decision maker melakukan perlakuan sesuai masalah,

3.

kebutuhan pasien, dan sesuai kewenangannya.5


Communicator Mampu menjadi komunikator yang baik.
Sebagai communicator, dokter diharapkan mampu menguasai area komunikasi efektif
yaitu menggali dan bertukar informasi secara verbal atau non verbal dengan pasien
pada semua usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega dan profesi lain. Proses yang
harus diperhatikan baik dalam berkomunikasi dengan pasien maupun keluarganya
yaitu rasa kesinambungan, pengumpulan informasi, mendiagnosa, dan memberi

4.

penjelasan.5
Community Leader Mampu menjadi pemimpin dalam komunitas atau masyarakat.
Dalam hal ini dokter sebagai seorang yang mendapatkan kehormatan dan
kepercayaan masyarakat setempat, mampu mengetahui kebutuhan kesehatan
perorangan maupun kelompok sehingga dapat berperan dalam memotivasi
masyarakat untuk turut berpartisipasi meningkatkan kesehatan umum serta khususnya

5.

pada masyarakat.5
Manager Mampu dan bisa memiliki skill manajerial yang baik untuk menjalankan
fungsi-fungsi diatas.
Dalam hal ini dokter sebagai seorang yang dapat bekerja secara efektif dan harmonis
dengan orang lain baik di dalam maupun di luar organisasi sistem pelayanan
kesehatan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan pasien dan masyarakat. Dokter
menjadi orang yang memperdalam dan mengembangkan ilmunya untuk mengetahui
berbagai penyakit yang berada di lingkungannya dalam upaya meningkatkan
pelayanan kualitas hidup manusia, dan bukan menjadi seorang yang bisa

menyembuhkan penyakit saja tetapi mereka juga dididik untuk berpikir bagaimana
memerdekakan masyarakat/lingkungannya dari berbagai penyakit.5
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor

utama menurut Blum, keempat faktor

tersebut adalah genetik, pelayanan kesehatan, perilaku manusia,dan lingkungan.6


a) Factor genetik : Paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan ataumasyarakat
dibanding ketiga faktor yang lainnya
b) Faktor pelayanan kesehatan: Ketersediaansarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan,
pelayanan kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat kesehatan
masyarakat.
c) faktor perilaku : di negara berkembang faktor ini paling besar pengaruhnya terhadap
gangguan kesehatan atau masalah kesehatan masyarakat.Perilaku individu / kelompok
masyarakat yang kurang sehat juga akan berpengaruh pada faktor lingkungan yang
memudahkan timbulnya suatu penyakit.
faktor lingkungan: lingkungan yangterkendali akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang
baik akan menekan berkembangnyamasalah kesehatan.Makalah ini dibuat dengan tujuan
mengkaji dan membahas penyakit infeksi saluran pernapasan akut pada masyarakat dan kaedah
tatalaksana terhadap penyakit tersebut dengan berbasiskan pendekatan kedokteran keluarga.6
Laporan kasus
Puskesmas: Tanjung Duren Selatan

Identitas pasien
Nama: Wanda
Umur: 48 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Tukang parker
Pendidikan: SMA (tamat)
Alamat: Jalan Tanjung Duren Timur 17 RT 07/01
Telepon: 083806545655

Anamnesis : (auto-anamnesis)
Keluhan utama: Panas-dingin sejak 1 hari yang lalu
Keluhan tambahan: Batuk, nyeri badan, pegal-pegal
Riwayat penyakit sekarang: Pasien demam sejak 1 hari yang lalu yang disertai batuk dan nyeri
pada sekujur tubuh (pegal-pegal). Batuk yang diderita hilang timbul, kering, tidak berdahak.
Demam yang diderita pasien tidak terlalu tinggi.
Riwayat penyakit dahulu: Nyeri kepala yang sudah dirasakan sejak lebih dari 1 tahun yang lalu,
hilang timbul. Nyeri yang dirasakan seperti ada beban yang sangat berat pada leher pasien.
Pasien minum jamu bintang tujuh dan mengikat kepalanya untuk menghilangkan nyerinya
tersebut. Pasien sudah berobat dan dirujuk untuk rontgen, namun pasien menolak karena takut
jika mengetahui dirinya memiliki penyakit yang berat.
Riwayat penyakit dalam keluarga: Winda (anak ke-2 pasien) sakit lambung, ayah pasien
meninggal di usia 60-an karena kanker hati. Mertua pasien meninggal karena gagal ginjal.
Riwayat kebiasaan sosial: Pasien suka minum kopi kira-kira sebanyak 5x sehari. Dahulu pasien
suka minum bir bersama teman-temannya jika ada lembur kerja. Pasien merokok setiap hari
sebanyak 1-2 bungkus per hari. Rekreasi dilakukan oleh pasien bersama keluarganya kira-kira 1
minggu 1x. Pasien tidak suka minum atau makanan yang dingin yang mengandung es. Pola
makan pasien 3x 1 hari. Pasien sering bergadang karena pekerjaannya sebagai tukang parker
mulai dari malam hari.
Hubungan psikologis dengan keluarga: baik, hampir setiap minggu jalan-jalan keluarga.
Aktivitas sosial: Tidak mengikuti organisasi sosial apapun. Pasien sering ikut gotong royong
dalam membersihkan lingkungan sekitar RT. Pasien sering membantu tetangga yang
membutuhkan pertolongan, contoh saat ada tetangga sakit, pasien mengantarkan tetangganya
tersebut ke puskesmas, klinik, ataupun rumah sakit,
Kegiatan kerohanian: Pasien jarang beribadah, dia akan rajin beribadah saat pikirannya sedang
lurus kepada Tuhan.

Keluarga
Riwayat biologis keluarga: Isteri sedang terkena ISPA juga, Winda (anak ke2) menderita sakit
lambung. Ayahnya meinggal di usia 60-an karena kanker hati dan ibunya meninggal di usia 60an tidak tahu penyebabnya. Mertua pasien meniggal karena gagal ginjal. Cucu pasien menderita
ISPA beberapa hari yang lalu. Anak pasien meninggal 7 bulan dalam kandungan.
Keadaan kesehatan sekarang: sedang, pasien dan isteri sedang menderita ISPA. Pasien tidak
bekerja karena harus beristirahat.
Kebersihan perorangan: baik, pasien dan isteri berpenampilan rapi dan tidak kotor, mandi 2x
dalam 1 hari, dan selalu mengganti pakaian setiap hari.
Penyakit yang sedang diderita: Isteri sedang terkena ISPA.
Penyakit keturunan: Kanker hati
Penyakit kronis.menular: Kanker hati
Kecacatan anggota keluarga: Tidak ada
Pola makan: Baik, pasien makan 3x dalam sehari
Pola istirahat: Kurang, pasien istirahat kurang dari 6 jam dalam 1 hari
Jumlah anggota keluarga: 6 orang terdiri dari pasien, isteri, 2 anak, 1 menantu, 1 cucu

Psikologis keluarga
Kebiasaan buruk: Pasien merokok 1-2 bungkus rokok setiap hari
Pengambilan keputusan: Suami
Ketergantungan obat: Pasien minum puyer bintang tujuh setiap hari.
Tempat mencari pelayanan kesehatan: klinik Hijau Putih dan Puskesmas Tanjung Duren Selatan

Pola rekreasi: baik, setiap 1 minggu pasien dan keluarga berekreasi.

Identifikasi keadaan rumah/lingkungan (berisiko/tidak):


Jenis bangunan: permanen, tembok dari bata dan semen
Lantai rumah: keramik
Luas rumah: 6x5m2
Penerangan: baik, sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah. Terdapat 1 lampu di tiap ruangan
rumah.
Kebersihan: sedang, bagian atas lemari tidak dibersihkan, ventilasi rumah juga berdebu,
sedangkan untuk lantai, kamar mandi, dapur cukup bersih.
Ventilasi: baik, terdapat ventilasi pada pintu masuk, kamar tidur, kamar mandi, dan dapur.
Namun, kawat ventilasi pintu masuk terlihat kotor dan berdebu. Terdapat exhaust fan pada
ventilasi pintu masuk.
Dapur: Ada, terdapat dapur dalam rumah
Jamban keluarga: Ada, jarak ke sumber air minum cukup jauh.
Sumber air minum: Air isi ulang, pasien menggunakn air isi ulang untuk minum dan masak,
untuk mandi dan mencuci menggunakan air tanah.
Sumber pencemaran air: tidak
Pemanfaatan pekarangan: ada, digunakan untuk parkir motor.
Sistem pembuangan air limbah: ada
Tempat pembungan sampah: ada, menggunakan plastik di depan rumah.
Sanitasi lingkungan: baik, pasien bersama tetangga lain gotong royong membersihkan selokan
dan lingkungan sekitar saat ada kerja bakti RT.

Spiritual keluarga:
Ketaatan beribadah: pasien jarang beribadah, isteri rajin beribadah 5x sehari sesuai dengan
agamanya, yaitu Islam.
Keyakinan tentang kesehatan: Keluarga tahu ketika ada gangguan pada tubuhnya unutk mencari
pelayanan kesehatan. Keluarga juga berusaha mencegah untuk tidak sakit. Namun, pasien kurang
begitu mau untuk pergi ke dokter langsung.

Keadaan sosial keluarga


Tingkat pendidikan: sedang, pasien tamat SMA, isteri tamat SMP, 2 anak tamat SMA.
Hubungan antar anggota keluarga: baik
Hubungan dengan orang lain: baik
Kegiatan organisasi lain: kurang
Keadaan ekonomi: sedang, kebutuhan sehari-hari tercukupi tidak kekurangan.

Kultural keluarga
Adat yang berengaruh: tidak ada
Lain-lain: tidak ada

Daftar anggota keluarga


Wanda sebagai kepala keluarga
Sri Tuti sebagai isteri
Merry Merlianda sebagai anak pertama
Winda Setiawati sebagai anak kedua

Andri sebagai menantu


Anisa sebagai cucu

Pemeriksaan Fisik
TTV, status gizi, dan pemeriksaan yang relevan
Keadaan umum: tampak sehat
Kesadaran: compos mentis
TD: 110/80 mmHg
Nadi: 82x/menit
Pernafasan: 17x/menit
Sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis
Tonsil: T1 T1
Faring: kemerahan
Leher: tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening
Paru: suara nafas vesikuler, ronki(-), wheezing (-).

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan : tidak ada


Diagnosis
D/Biologi: Infeksi Saluran Pernafasan Akut (faringitis)
D/Psikologi: Tidak memiliki gangguan psikologi
D/Sosial: Tidak memiliki gangguan sosial

Penatalaksanaan penyakit dan edukasi

Health promotion: Memberikan pengertian kepada keluarga untuk mencuci tangan setiap setelah
menggunakan kamar mandi, sebelum dan setelah makan, setelah batuk atau bersin, menutup
mulut saat batuk, menggunakan masker supaya tidak menularkan penyakitnya, memberi tahu
pasien untuk menyapu dan mengepel rumahnya 2x sehari, membersihkan bak mandi 1x
seminggu, tidur menggunakan repellant atau kelambu, membersihkan saluran air di luar rumah,
membersihkan dispenser 1x seminggu, dan membawa cucu ke posyandu tiap bulan untuk
diperiksa tumbuh kembangnya.
Spesific protection: Mengurangi makanan gorengan dan makanan yang pedas, jangan merokok,
istirahat yang cukup, dan tidak minum-minuman yang dingin.
Early diagnosis and prompt treatment: Mengedukasi pasien dan keluarga untuk cek darah rutin,
tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat ke puskesmas. Jika merasa tidak enak badan
atau terasa sakit pada bagian tubuh tertentu segera memeriksakan diri ke puskesmas atau klinik
terdekat.
Disability limitation: Minum obat secara teratur, antibiotik dihabiskan, dan istirahat yang cukup.
Rehabilitation: Minum air perasan jeruk nipis atau madu dengan air hangat.
Prognosis
Penyakit: dubia ad bonam
Keluarga: dubia ad bonam
Masyarakat: dubia ad bonam
Resume
Bapak Wanda dating ke puskesmas dengan keluhan demam 1 hari yang lalu dan batuk serta nyeri
dan pegal sekujur tubuh. Isteri Bapak Wanda juga mengalami hal yang sama, cucu mereka juga
menderita hal yang sama beberapa hari yang lalu. Diduga Bapak Wanda dan isterinya tertular
dari si cucu. Bapak Wanda memiliki kebiasaan buruk yaitu merokok tiap hari dan bergadang
karena kerja. Keluarga Bapak Wanda sehat secara biopsikososial. Keadaan rumah Bapak Wanda
juga terlihat baik, namun kurang bersih pada ventilasi dan atas lemari.

Daftar Pustaka
1. Efendi F dan Makhfudli. Keperawatan kesehatan komunitas teori dan praktik dalam
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. 2009.
2. Tambayong J. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2000.
3. Pedoman pengendalian infeksi saluran pernafasan akut. Jakarta: Kementerian Kesehatan
RI. 2011.
4. Mukono. Pencemaran udara dan pengaruhnya terhadap gangguan pernafasan. Surabaya:
Airlangga University Press. 2003.
5. McKenzie JF, Pinger RR. Kesehatan masyarakat : suatu pengantar. Edisi ke-4. Jakarta :
EGC; 2006.
6. Amin Z. Manifestasi klinik dan pendekatan pada pasien dengan kelainan sistem
pernapasanDalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Stiati S, ed. Ilmu
penyakit dalam.Edisi ke-5(III). Jakarta: Interna Publishing;2009.

Lampiran foto