Anda di halaman 1dari 11

Plasenta p

revia adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada


segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh
pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terdapat di bagian
atas uterus. Sejalan dengan bertambah besarnya r
ahim dan meluasnya
segmen bawah rahim ke arah proksimal memungkinkan plasenta
mengikuti perluasan segmen bawah rahim.
Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan
plasenta melalui pembukaan jalan lahir. Disebut plasenta previa komplit
apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta. Plasenta previa
parsialis apabila sebagian permukaan tertutup oleh jaringan. Dan disebut
plasenta previa mar
ginalis apabila pinggir plasenta berada tepat pada
pinggir pembukaan (Decherney, 2007).
d.
Ruptura Uteri
Ruptura uteri baik yang terjadi dalam masa hamil atau dalam proses
persalinan merupakan suatu malapetaka besar bagi wanita dan janin yang
dikandungnya. Dalam kejadian ini boleh dikatakan sejumlah besar janin
atau bahkan hampir tidak ada janin
yang dapat diselamatkan, dan sebagian
besar dari wanita tersebut meninggal akibat perdarahan, infeksi, atau
menderita kecacatan dan tidak mungkin bisa menjadi hamil kembali
karena terpaksa harus menjalani histerektomi. (Prawirohardjo, 2009).
Ruptura uter
i adalah keadaan robekan pada rahim dimana telah
terjadi hubungan langsung antara rongga amnion dengan rongga
peritoneum (Mansjoer, 1999).
Kausa tersering ruptur uteri adalah terpisahnya jaringan parut bekas

sectio caesarea
sebelumnya.
(Lydon,2001).Selain
itu, ruptur uteri juga
dapat disebabkan trauma atau operasi traumatik, serta stimulus berlebihan.
Namun kejadiannya relatif lebih kecil (Cunningham, 2005).
e.
Disfungsi Uterus
Mencakup kerja uterus yang tidak adekuat. Hal ini menyebabkan tidak
adanya kekuatan untuk mendorong bayi keluar dari rahim. Dan ini
membuat kemajuan persalinan terhenti sehingga perlu penanganan dengan
sectio caesarea
(Prawirohardjo, 2009)
f.
Solutio Plasenta
Disebut juga abrupsio plasenta, adalah terlepasnya sebagian atau
seluruh plas
enta sebelum janin lahir. Ketika plasenta terpisah, akan diikuti
pendarahan maternal yang parah. Bahkan dapat menyebabkan kematian
janin. Plasenta yang terlepas seluruhnya disebut solutio plasenta totalis,
bila hanya sebagian disebut solutio plasenta parsi
alis, dan jika hanya
sebagian kecil pinggiran plasenta yang terpisah disebut ruptura sinus
marginalis (Impey, 2008).
Frekuensi terjadinya solutio plasenta di Amerika Serikat sekitar 1%
dan solutio plasenta yang berat mengarah pada kematian janin dengan
angka kejadian sekitar 0,12% kehamilan atau 1:830 (Deering,2008).
Gambar 2.1 Abruptio & Plasenta Previa (Sumber:
Obgyn.net
)

2.3.2
Indikasi Janin
a.
Kelainan Letak
1.
Letak Lintang
Pada letak lintang, biasanya bahu berada di atas pintu atas panggul
sedangkan kepala berada di salah satu fossa iliaka dan bokong pada
sisi yang lain. Pada pemeriksaan inspeksi dan palpasi didapati
abdomen biasanya melebar dan fundus uteri membentang hingga
sedikit di atas umbilikus. Tidak ditemukan bagian bayi di fundus, dan

balotemen kepala teraba pada salah satu fossa iliaka.


Penyebab utama presentasi ini adalah relaksasi berlebihan dinding
abdomen akibat multiparitas yang tinggi. Selain itu bisa juga
disebabkan janin prematur, plasenta previa, uterus abnormal, cairan
amnion berlebih, dan panggul sempit. (Cunningham, 2005).
2.
Presentasi Bokong
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian
terendahnya bokong, kaki, atau kombinasi keduanya. D
engan insidensi
3

4% dari seluruh persalinan aterm. Presentasi bokong adalah


malpresentasi yang paling sering ditemui. Sebelum usia kehamilan 28
minggu, kejadian presentasi bokong berkisar antara 25
30%.
(Decherney,2007).
Faktor resiko terjadinya pres
entasi bokong ini antara lain
prematuritas, abnormalitas uterus, polihidamnion, plasenta previa,
multiparitas, dan riwayat presentasi bokong sebelumnya.
(Fischer,2006).
3.
Presentasi Ganda atau Majemuk
Presentasi ini disebabkan terjadinya prolaps satu atau lebih
ekstremitas pada presentasi kepala ataupun bokong. Kepala memasuki
panggul bersamaan dengan kaki dan atau tangan. Faktor yang
meningkatkan kejadian presentasi ini antara lain prematuritas,
multiparitas, panggul sempit, kehamilan ganda (Prawirohardjo, 2009).
b.
Gawat Janin
Keadaan janin biasanya dinilai dengan menghitung denyut jantung
janin (DJJ) dan memeriksa kemungkinan adanya mekonium di dalam
cairan amnion. Untuk keperluan klinik perlu ditetapkan kriteria yang
termasuk keadaan gawat janin.
Disebut gawat janin, bila ditemukan denyut jantung janin di atas
160/menit atau di bawah 100/menit, denyut jantung tak teratur, atau
keluarnya mekonium yang kental pada awal persalinan. (Prawirohardjo,
2009).
Keadaan gawat janin pada tahap persalinan memu

ngkinkan dokter
memutuskan untuk melakukan operasi. Terlebih apabila ditunjang kondisi
ibu yang kurang mendukung. Sebagai contoh, bila ibu menderita
hipertensi atau kejang pada rahim yang dapat mengakibatkan gangguan
pada plasenta dan tali pusar. Sehingga aliran darah dan oksigen kepada
janin menjadi terganggu.
Kondisi ini dapat mengakibatkan janin mengalami gangguan seperti
kerusakan otak. Bila tidak segera ditanggulangi, maka dapat menyebabkan
kematian janin. (Oxorn, 2003)
c.
Ukuran Janin
Berat bayi lahir sekitar 4000 gram atau lebih
(giant baby)
,
menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Umumnya pertumbuhan
janin yang berlebihan disebabkan sang ibu menderita kencing manis
(diabetes mellitus).
Bayi yang lahir dengan ukuran yang besar dapat
mengalami k
emungkinan komplikasi persalinan 4 kali lebih besar
daripada bayi dengan ukuran normal. (Oxorn, 2003).
Menentukan apakah bayi besar atau tidak terkadang sulit. Hal ini dapat
diperkirakan dengan cara :
i.
Adanya riwayat melahirkan bayi dengan ukuran besar, sulit
dilahirkan atau ada riwayat diabetes melitus.
ii.
Kenaikan berat badan yang berlebihan tidak oleh sebab lainnya
(edema, dll).
iii.
Pemeriksaan disproporsi sefalo atau feto
-pelvik.
2.3.3
Indikasi Ibu dan Janin
a.
Gemelli atau Bayi Kembar
Kehamilan kembar atau multipel adalah suatu kehamilan dengan dua
janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda (2
janin), triplet (3 janin), kuadruplet (4 janin), quintuplet (5 janin) dan
seterusnya sesuai dengan hukum Hellin.

Morbiditas dan mortalitas mengalami


peningkatan yang nyata pada
kehamilan dengan janin ganda. Oleh karena itu, mempertimbangkan
kehamilan ganda sebagai
kehamilan dengan komplikasi bukanlah hal yang
berlebihan.
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain anemia pada ibu,
durasi kehamilan yang m
emendek, abortus atau kematian janin baik salah
satu atau keduanya, gawat janin, dan komplikasi lainnya. Demi mencegah
komplikasi
komplikasi tersebut, perlu penanganan persalinan dengan
sectio caesarea
untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi
bayinya.
(Prawirohardjo, 2009).
b.
Riwayat
Sectio Caesarea
Sectio caesarea
ulangan adalah persalinan dengan
sectio caesarea
yang
dilakukan pada seorang pasien yang pernah mengalami
sectio caesarea
pada
persalinan sebelumnya, elektif maupun
emergency.
Hal ini perlu dilakukan jika
ditemui hal
hal seperti :

Indikasi yang menetap pada persalinan sebelumnya seperti kasus


panggul sempit.

Adanya kekhawatiran ruptur uteri pada bekas operasi sebelumnya.


c.
Preeklampsia dan Eklampsia
Preeklampsia adalah
timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau

edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan.


Bila tekanan darah mencapai 160/110 atau lebih, disebut preeklampsia
berat.
Sedangkan eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil,
dalam
persalinan atau masa nifas yang ditandai
dengan timbulnya kejang (bukan
karena kelainan neurologi
) dan atau koma dimana sebelumnya sudah
menunjukkan gejala preeklampsia.
Janin yang dikandung ibu dapat mengalami kekurangan nutrisi dan
oksigen sehingga dapat terjadi gawat janin. Terkadang kasus preeklampsia
dan eklampsia dapat menimbulkan kematian bagi ibu, janin, bahkan
keduanya. (Decherney,2007).
2.3.4
Indikasi Sosial
Menurut Mackenzie et al (1996) dalam Mukherjee (2006), permintaan
ibu merupakan suatu f
aktor yang berperan dalam angka kejadian
sectio
caesarea
yaitu mencapai 23%. Di samping itu, selain untuk menghindari
sakit, alasan untuk melakukan
sectio caesarea
adalah untuk menjaga tonus
otot vagina, dan bayi dapat lahir sesuai dengan waktu yang diingi
nkan.
Walaupun begitu, menurut FIGO (1999) dalam Mukherjee (2006),
pelaksanaan
sectio caesarea
tanpa indikasi medis tidak dibenarkan secara
etik.
2.4
Jenis
Jenis Operasi
Sectio Caesarea
2.4.1
Abdomen (
sectio caesarea
abdominalis)

a.
Sectio cae
sarea
transperitonealis :

Sectio caesarea
klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada
korpus uteri. Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada
korpus uteri kira
kira sepanjang 10 cm.
Kelebihan :

Mengeluarkan janin lebih cepat

Tidak mengakibatkan ko
mplikasi kandung kemih

Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal


Kekurangan :

Infeksi mudah menyebar

Sering mengakibatkan ruptur uteri pada persalinan berikutnya.

Sectio caesarea
ismika atau profunda atau
low cervical
dengan
insisi pada segmen bawah rahim. Dilakukan dengan membuat
sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira
kira 10
cm.
Kelebihan :

Penjahitan dan penutupan luka lebih mudah

Mencegah isi uterus ke rongga peritoneum

Kemungkinan ruptura uteri le

bih kecil.
Kekurangan :

Luka dapat melebar

Keluhan kandung kemih postoperatif tinggi.


b.
Sectio caesarea
ekstraperitonealis
Sectio caesarea
yang dilakukan tanpa membuka peritoneum parietalis,
dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.
2.4.2
Vagina (
Sectio Caesarea
Vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim,
sectio caesarea
dapat dilakukan
sebagai berikut :
a.
Sayatan memanjang (vertikal) menurut Kronig
b.
Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr
c.
Insisi Klasik
d.
Sayatan huruf T terbalik (
T-incision
).
Gambar 2.2 Skema Insisi Abdomen dan Rahim (Sumber:
Obgyn.net
)

2.5
Melahirkan Janin & Plasenta
Pada presentasi kepala, satu tangan diselipkan ke dalam rongga uterus
diantara simfisis dan kepala janin, lalu kepala diangkat secara hati
-hati
dengan
jari dan telapak tangan melalui lubang insisi dibantu oleh

penekanan sedang transabdominal pada fundus.


Setelah kepala lahir, tarik bahu secara ringan dan hati
-hati. Begitu
juga dengan bagian tubuh lainnya. Bila presentasi bukan kepala, atau bila
janin l
ebih dari satu, atau keadaan
-keadaan lainnya, insisi vertikal segmen
bawah rahim terkadang lebih menguntungkan. Perhatikan juga apakah
terdapat perdarahan.
Bila janin telah lahir, segera keluarkan plasenta. Masase fundus,
yang dimulai segera setelah janin lahir dapat mengurangi perdarahan dan
mempercepat lahirnya plasenta.
2.6
Penjahitan Uterus
Setelah plasenta lahir, uterus dapat diangkat melewati insisi dan
diletakkan di atas dinding abdomen, atau biasa disebut eksteriorisasi
uterus. Keuntungan eksteriori
sasi uterus ini antara lain dapat segera
mengetahui uterus yang atonik dan melemas sehingga cepat melakukan
masase. Selain itu, lokasi perdarahan juga dapat ditentukan dengan jelas.
Insisi uterus ditutup dengan satu atau dua lapisan jahitan kontinu
menggunakan benang yang dapat diserap ukuran 0 atau 1. Penutupan
dengan jahitan jelujur mengunci satu lapis memerlukan waktu lebih
singkat.
2.7
Penjahitan Abdomen
Setelah rahim telah tertutup dan memastikan tidak ada instrumen
yang tertinggal, maka dilakukan penutupan abdomen. Sewaktu melakukan
penutupan lapis demi lapis, titiktitik perdarahan diidentifikasi, diklem dan
diligasi. Otot rektus dikembalikan ke letaknya semula, dan ruang subfasia
secara cermat diperiksa.
Fasia rektus di atasnya situtup deng
an jahitan
interrupted
. Jaringan
subkutan biasanya tidak perlu ditutup secara terpisah apabila ketebalannya
2 cm atau kurang. Dan kulit ditutup dengan jahitan matras vertikal dengan
benang sutera 30 atau 4-

0.
2.8
Penyulit Pascaoperasi
Morbiditas setelah
sect
io caesarea
dipengaruhi oleh keadaankeadaan
ketika prosedur tersebut dilakukan. Penyulit yang dapat terjadi mencakup
histerektomi, cedera operatif pada struktur panggul, serta infeksi dan
perlunya transfusi.
Rajasekar dan Hall (1997) secara spesifik mene
liti laserasi kandung
kemih dan cedera uretra. Insidensi laserasi kandung kemih pada saat
operasi sesarea adalah 1,4 per 1000 prosedur, dan untuk cedera uretra
adalah 0,3 per 1000. Cedera kandung kemih cepat terdiagnosis. Sebaliknya
diagnosis cedera uretra
sering terlambat terdiagnosis. (Cunningham,
2005).
2.9
Komplikasi
a.
Infeksi Puerperal (nifas)

Ringan, kenaikan suhu beberapa hari saja

Sedang, kenaikan suhu disertai dehidrasi dan perut kembung

Berat, dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik.


b.
Perdarahan, karena :

Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka

Atonia Uteri

Perdarahan pada plasenta


c.
Luka kandung kemih, emboli paru dan komplikasi lainnya yang jarang
terjadi.

d.
Kemungkinan ruptura uteri atau terbukanya jahitan pada uterus karena
operasi sebelumnya. (Mochtar,1998).